Cerpen Remaja "Ajari Aku Bahagia" ~ 01

Guys, sudah lama admin nggak update disini. Berhubung udah com, Star night yang ganti nama jadi blog anamerya.com khusus admin jadikan blog pribadi. Nah, so untuk cerpen kiriman dari reader admin posting disini. Untuk kali ini cerpen remaja Ajari aku bahagia karya Rachma para walii. Ceritanya bagus, ada romantisnya gitu. Penasaran? Mendingan langsung baca aja ya guys. Check this out...

Ajari aku bahagia
Ajari aku bahagia

"Bagas, kok malah ngelamun? Berarti dari tadi kamu gak dengerin aku ngomong ya?" Suara itu menyadarkanku dari lamunan.

Namaku Bagas Septiano, aku anak keempat dari Empat saudara. Aku memang anak terakhir atau bisa di bilang dengan anak Bungsu. Namun, bukan berarti aku selalu dimanja. Tapi justru sebaliknya, aku lah yang menanggung semua hidup keluargaku. Ayah meninggal saat umurku 7 tahun, dan setelahnya Ibu merantau ke Negara orang. Ketiga saudaraku entah kemana. Mereka berpencar mencari sesuap nasi untuk menyambng hidup, dan sampai saat ini pun aku tidak tahu keberadaan mereka. Hidupku semakin tak terarah, dan ketika usiaku menginjak dewasa dan Lulus dari SMA aku memutuskan untuk Merantau ke kota Jakarta. Menjauh dari sanak saudar Ibu dan Ayah yang memang sejak dulu enggan mengurusiku. Jika aku ingat kepedihan itu masih terasa hingga saat ini.

" Tuh kan ngelamun lagi ". Ujarnya dengan nada kesal. Ku toleh wajahnya yang di tekuk, mungkin kesal karena aku tak mendengarkan ucapannya.

Namanya Vera Santika. Aku menjalin hubungan dengannya sudah menginjak 6 bulan. Aku bekerja sebagai Mekanik di salah satu Dealer mitsubishi di jakarta, dan dia bekerja sebagai Waittres di tempt yang sama denganku. Entah kenapa, hanya padanya aku mampu menyembuhkan luka yang dulu selalu menganga dan membuka hatiku dari rasa sakit. Seolah aku selalu mendapat angin sejuk ketika bersamanya.

"Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun, dan sering tak mendengarkanku. Ada apa sebenarnya? Kamu ada masalah?" Tanyanya lembut dan menatapku. Aku tak bisa menceritakan apapun padanya, aku tak ingin membebani fikirannya. Ku tatap matanya yang teduh dan tersenyum.

"Gak ada apa - apa kok sayang". Ucapku berbohong tapi tetap berusaha untuk terlihat tenang. Vera memang tipekal orang yang tidak mudah percaya. Ia memutar bola matanya seolah sedang berfikir, terdiam sejenak dan menatapku lekat.

"Kamu yakin sayang tidak ada apa-apa?" Tanyanya sekali lagi kali ini penuh penekanan. Aku masih berusaha untuk tetap tenang, di tatap sedekat itu olehnya jelas saja tak'kan mampu untukku berbohong. Namun tak urung aku menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia kembali terdiam dan memegang kedua pipiku dengan lembut.

"Tapi ingat ya, kalau kamu ada masalah kamu harus cerita sama aku. Sekecil apapun masalah itu". Tegasnya namun dengan nada lembut.

"Pasti sayang. Yasudah, ini sudah malam sebaikanya kita pulang saja ya". Ajakku. Vera pun mengangguk dan kamipun pulang.

***

Aku berjalan dalam keheningan malam. Sunyi, itu yang kurasa dikala aku sendiri. Kehadiran Vera memang sangat berarti, ia tak hanya mencerahkan hari-hariku tapi juga selalu membuat aku tersenyum. Tiba-tiba benda mungil yang ku simpan di saku celanaku bergetar. Bergegas ku ambil dan kulihat. Seolah seperti sebuah ikatan batin, baru saja aku memikirkannya dia menelfon. Segera ku angkat telfonnya.

"Hallo sayang. Kamu sudah di mana? Pulang ke kontrakanmu di Bintaro atau kembali ke Kantor? terus bagaimana dengan kak Fandi? Dia sudah pulang belum?" Tanyanya tanpa sabar. Lagi-lagi aku dibuat tersenyum olehnya.

Aku menghela nafas sejenak. Aku sendiri bingung akan ke mana. Kontrakanku di Bintaro Jakarta selatan sangat jauh dari tempatku berdiri sekarang. Untuk naik angkutan umum sepertinya tidak mungkin. Karena tidak satupun yang melewati jalur ke sana. Biasanya aku ikut fandi, Aku melirik pada arloji yang melingkar di tanganku. "Sepertinya ia sudah pulang". Gumamku dalam batin.

"Sayang, kamu masih di sana kan?". Ucapan vera langsung menyadarkanku.

"Eh iya sayang. Aku tidur di kantor saja sayang. Kayanya kak fandinya juga udah pulang". Jawabku dengan cepat. Aku tak mau vera berfikir macam-macam. Terdengar hembusan nafas berat darinya.

"Maafin aku ya Bagas. Aku selalu membuatmh susah" ucapnya lirih. "Gak boleh ngomong gitu sayang. Kamu itu gak pernah nyusahin aku, justru kamu itu selalu buat aku bahagia"jawabku lembut

"Tapi kan..."

"Udah ah jangan di fkirin lagi ya, aku gak apa-apa kok. Mending sekarang kamu makan gih kan dari tadi belum makan apa-apa". Potongku cepat.

"Iya. Sayang juga makan yah. Kalau nanti sudah sampai kantor kabari ya".

"Siap bu komandan". Balasku sedikit menggoda.

"Ih apaan sih, lebai tau". Ujarnya tak suka. Aku hanya terkekeh.

"Ya udah sampai ketemu besok sayang. Good night. Love you"ucapku lembut.

"Love you too sayang". Balas vera dan mengakhiri telfonnya. Akupun kembali melanjutkan perjalanan ke Kantor.

***

"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau..."

Segera aku tekan tombol akhiri. Sudah kali kelima aku menghubunginya tapi nomernya masih saja tidak aktif. "Kemana dia sebenarnya?" Gumamku dalam batin.

Kulirik jam yang bertengger manis di dinding kamarku, pukul 07.15 WIB. Akupun bergegas untuk berangkat ke kantor. Biarlah urusan vera nanti sore aku selesaikan. Dan sesampainya di kantor ku lirik vera yang sedang sibuk membersihkan area kerjanya. Hanya saja membuatku bingung. Kenapa raut wajahnya terlihat murung? Ada apa sama dia? Ah semoga saja tidak ada apa-apa. Dan akupun mulai fokus bekerja.

To Be Continue

Detail Cerpen


EmoticonEmoticon