Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending



jika memang kerena takdir, kenapa kita di pertemukan kalo hanya untuk di pisahkan # rainbow after rain

****

Untuk sejenak naira menarik nafas dalam. Setelah berhasil meyakin kan dirinya dengan mantab ia melangkah menuju tempat tujuan pastinya. Menemui Steven. Dan Dia juga sudah memutuskan akan megatakan yang sejujurnya tentang perasaannya. Bahwa sesungguh nya ia mencintainya. Ralat, sangat mencintainya.

Begitu sampai di depan rumah megah itu, sebuah senyum tanpa sadar terukir di bibirnya. Nekat menemui seksertaris steven hanya untuk mengetahui rumahnya. Hal yang sungguh sangat sulit di percaya telah ia lakukan.

Pagar depan tidak terkunci. Sedikit ceroboh memang tapi itu justru memudahkannya untuk langsung masuk.Dan tepat saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu matanya sudah terlebih dahulu menangkap pemandangan dari balik jendela kaca. Pemandangan yang sumpah mati sanggat tidak ingin ia lihat seumur hidupnya. Sangat menyesakan. Dengan mati - matian ia mencoba menahan diri untuk tidak menangis walau pun hasilnya tetap percuma karena dengan kurang ajarnya air mata itu telah merembes melewati matanya. Apakah ia sudah terlambat?. Satu demi satu namun pasti, kakinya terus melangkah mundur.


Credit Gambar : Ana Merya

Steven segera sadar dari lamunannya ketika telinganya mendengar suara ketukan pintu depan rumah. Dengan ogah - ogahan ia bangkit berdiri. Suasana hatinya benar - benar sedang buruk. Ia masih bingung tentang apa yang harus ia lakukan. Apakah benar melepaskan Naira adalah pilihan yang tepat. Sepertinya tidak, karena hatinya benar - benar tidak bisa menerimanya. Lantas ia harus bagaimana?.

"Stela?"

Sebuah senyum manis tersunging di sudut bibir gadis manis yang kini berdiri didepan pintu rumahnya.

"Maaf, apa aku mengganggu?"

"Oh tidak. Ayo masuk?" ajak Steven sedikit salah tingkah.

"Kau sedang apa?" tanya Stela sambil duduk di sofa sementara Steven berdiri tak jauh darinya.

"Tidak ada, hanya sedang bersantai saja".

"Tidak kerja?"

Kali ini Steven hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

"Apa kau berniat untuk melepaskanya?"

Steven menoleh, keningnya sedikit berkerut bingung.

"Kau tau maksut ku. Tentang Naira. Apa kau berniat untuk melepaskannya seperti dulu kau melepaskan ku?" terang Stela langsung.

Steven terdiam. Dari mana gadis itu bisa tau?.

"Kau tidak perlu tau dari mana aku mengetahuinya" Kata Naira seolah mengerti arti kebisuan Steven. "Yang perlu kau lakukan adalah menjawabnya" Sambung Stela lagi.

"Aku...... Tidak tau..." Akhirnya Steven menjawab jujur.

"Tidak tau?... Apa maksutmu?" tanya Stela terlihat marah.

"Dia.... Maksutku aku. Jika dia melihat ku maka itu akan menyakitinya. Kau tau, Kenyataan itu juga menyakitkan untukku" kata Steven terdengar lelah.

"Tapi aku yakin tidak melihatmu itu justru lebih meyakitkan untuknya".

Lagi - lagi Steven menoleh mendengarnya. Benarkah?.

"Lantas aku harus bagaimana?" tanya Steven kearah Stela walau sebenarnya pertanyaan itu sudah berjuta kali terlontar untuk dirinya sendiri. Hanya saja ia masih belum menemukan jawabannya.

"Kau tau, seseorang pernah mengatakan pada ku, daun jatuh karena kerasnya angin bertiup, atau memang karena pohon yang tidak pernah memintanya untuk tinggal. Masalahnya yang jadi Daun itu kau atau dia?".

"Maksut mu?"

Stela beranjak dari duduknya. Segera melangkah kearah Steven. Tangan nya terulur menyentuh pundak Steven yang kini berada tepat di depannya.

"Kejar dia. Jangan biarkan ia pergi" Kata Stela terdengar tegas sekalikus menyemangatinya. "Seperti kau dulu melepaskanku" Sambung Stela dalam hati.
Steven menatap lurus kearah mata Stela. Sebuah senyum terukir di sana saat melihat anggukan kepalanya.

Ya, Ia harus mengejar Naira. Peduli setan kalau ia seperti hujan baginya. Karena ia akan meyakinkan bahwa masih ada pelangi setelahnya. Tanpa sadar tubuhnya mendekat. Merengkuh sosok yang ada di hadapannya. Sebuah pelukan. Bukan seperti pelukan seorang kekasih. Tapi kali ini adalah pelukan tulus dari seorang sahabat. Sahabat yang telah menyemangatinya.

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

Sudah lebih sepuluh menit berlalu keduanya masih terdiam tanpa kata. Naira tampak hanya mengaduk - aduk Capucinonya tanpa sedikit pun menyesapnya. Sementara dihadapannya, Steven juga masih terdiam sambil terus menatap gadis yang ada di hadapannya. Sosok yang sangat ia rindukan. Dan ia benar - benar harus menahan diri untuk tidak langsung memeluknya saat tadi untuk pertama kali matanya mendapati Naira sudah menunggu di kaffe setelah terlebih dahulu ia memintanya untuk bertemu.

"Ehem..... Bagaimana keadaan mu?" Akhirnya Steven kalah dan memilih untuk memulai pembicaraanya.

"Tidak lebih buruk dari kemaren" Balas Naira tanpa menoleh.

"Naira...".

"Ada yang ingin ku katakan padamu" Potong Naira sebelum Steven sempat menyelesaikan ucapannya.

"Apa?".

"Aku mau minta maaf?".

Kening Steven terangkat. Maaf?. Kenapa Naira harus meminta maaf padanya.

"Iya" Kali ini Naira mengankat wajahnya. Tapi ia masih tidak berani menatap Steven yang ia yakini pasti saat ini sedang menatap nya.

Ia hanya Berusaha untuk menahan diri. Dan ia tidak yakin kalau air matanya tidak akan menetes jika berani menatap sosok yang ada di hadapannya. Karena jika boleh jujur, sosok itu adalah orang yang sangat di rindukannya.

Steven terdiam. Tak ada niatan sedikit pun untuk menyelanya. Ia yakin Naira pasti akan melanjutkan ucapannya.

"Aku mau minta maaf. Karena tidak seharusnya aku menyalahkan mu atas kepergian Nadira. Seharusnya Aku tau kalau itu semua bukan salah mu".

Refleks Tangan Steven terangkat untuk mengenggam tangan Naira untuk memberinya sedikit kekuatan. Tapi sebelum Niatnya sempat terwujud, Tangan itu sudah terlebih dahulu terangkat untuk mengusap wajahnya yang entah sejak kapan mulai basah oleh air mata. Hati Steven Mencelos. Hatinya terasa sangat sakit saat mendapati betapa rapuhnya Gadis itu walau selalu berusaha untuk terlihat tegar.

"Tidak, Kau tidak salah. Memang sewajarnya jika kau menyalah kan ku. Tapi aku mohon, tolong jangan menangis lagi".

Karena melihat mu menangis seperti ini benar - benar menyakitkan untuk ku, sambung Steven dalam hati.

"Ehem... Oh ya, Katanya ada yang ingin kau katakan pada ku" Kata Naira berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Untuk sejenak Steven menarik nafas dalam - dalam dan mengehembuskanya secara berlahan sebelum mulutnya terbuka kembali.

"Apa menurutmu pertemuan kita hanya sebuah kebetulan?".

"YA...." Balas Naira tegas tanpa perlu berfikir lagi.

"Kenapa?"

"Apa kau berniat memanggilku hanya untuk menanyakan itu?" bukanya menjawab Naira justru malah balik bertanya.

"Tidak" Balas Steven cepat. "Aku memanggilmu untuk mengatakan sesuatu".

Entah mengapa untuk sesaat yang terasa begitu lama, Naira merasa kesulitan untuk bernapas. Oksigen terasa begitu mahal untuknya. Apakah, Sudah saatnya Steven mengucapkan selamat tinggal untuknya?.

Aku mencintaimu....!!!!. Steven tampak bingung. Kenapa sulit sekali mengatakan hal itu. Apakah ia benar - benar takut untuk di tolak?. Atau karena ia belum siap jika harus menerima penolakan?. Entahlah. Karena sepertinya ia memang tidak akan pernah siap.

"Apa....?" Pertanyaan Naira membuyarkan lamunannya.

"Aku......".

Drrrrrttttt......

Nada Getar dari hape menginterupsi. Naira juga ikut melirik benda elektonik yang berkedap kedip di meja. Id caller atas nama Stela tertera disana. Dan saat Naira mengangkat wajanya, Tatapannya bertubrukan pada Steven yang kini sedang menatapnya lurus.

"Anggkat saja dulu. Siapa tau itu penting".

"Maaf"....Kata Steven sebelum kemudian beranjak bangun dan sedikit menjauh dari Naira.

Sementara Naira sendiri justru terlihat tidak tertarik pada ucapannya dan lebih memilih berkonsentrasi pada minumannya.

"Halo.........APA?...... Baiklah, Aku kesana sekarang juga. Terima kasih" Dengan segera Steven menutup telponya. Wajahnya juga terlihat panik. Walaupun heran, Naira sama sekali tidak berniat sedikitpun untuk menanyakannya.

"Apa kau harus pergi sekarang?" tanya Naira.

"Maaf, tapi barusan...".

"Pergilah. Sepertinya itu benar - benar penting" Potong Naira cepat saat melihat wajah Steven yang terlihat ragu."Kau kan bisa mengataknnya lain kali" sambung Naira lagi.

"Baikah. Maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Tapi percayalah, aku pasti akan mengatakannya langsung padamu"

Selesai berkata Steven dengan segera melesat keluar kaffe itu, memandu mobil nya dengan sangat cepat tanpa sempat mendengarkan gumaman Naira saat melihat kepergiannya.

"Aku juga ingin minta maaf, Karena sepertinya aku juga tidak ingin mendengarnya, Dan kau, juga tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengataknnya langsung".

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

Dengan kekuatan penuh, Steven terus berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Tak di pungkiri Wajahnya terlihat sedikit lega ketika mendapati sosok seseorang yang terbaring di sebuah ranjang dengan perban yang melilit di kepala dan kakinya. Tapi paling tidak, sebuah senyuman terukir di bibir saat mendapati keberadaannya yang baru muncul dari balik pintu.

"Stela,.. Kau kenapa?. Bagaimana keadaan mu?. Kenapa sampai bisa ketabrak?" tanya Steven beberapa saat kemudian.

"Maaf. Tapi aku baik - baik saja. Tadi juga hanya terserempet mobil".

"Sejak kapan hanya terserempet sampai separah ini"

Stela hanya tersenyum kaku, Tapi jauh didalam lubuk hatinya ia juga merasa bahagia. karena walau terlihat marah - marah ia tau kalau Steven sebenernya sangat menghawatirkannya.

"Ya sudah aku telpon ibumu dulu".

"Jangan, tidak perlu. Aku baik - baik saja. Lagi pula ibuku sedang ada di london. Jadi aku tidak mau nanti dia malah khawatir".

"Ya sudahlah. Terserah kau saja. Oh ya, apa kau sudah makan?" tanya Steven mengalalah.

"he he he, Belum".

"Sudah ku bilang kau harus menjaga kesehatan mu. Ya sudah aku pergi keluar dulu mencari makan siang untuk mu. Tunggu di sini dan jangan ke mana" Perintah steven sebelum pergi.

"Kau pikir Dengan kaki di perban seperti ini aku bisa kemana ha?" Gerut Stela yang masih mampu Steven tangkap sebelum benar - benar hilang dari pandangan.

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

"Jadi kau sudah boleh pulang hari ini?" tanya Steven sambil duduk di samping ranjang Selvia keesokan harinya.

"Ia aku sudah boleh pulang. Kau sudah mengurus semua administrasinya kan. lagipula aku kan sudah bilang kalau aku baik - baik saja".
Steven hanya membalas dengan anggukan.

"Oh ya, Apa kau sudah mengatakannya pada naira?" tanya Stela tiba - tiba.

Dan saat mendapati tatapan lesu dari Steven sepertinya ia sudah tau jawabannya.

"Kenapa?" tanya Selvi lagi ketika melihat Steven mengelengkan kepalanya.

"Sebenarnya aku sudah ingin mengatakannya kemaren. Tapi tiba - tiba aku mendapat telpon dari rumah sakit yang mengabarkan kalau kau ketabrak".

"Apa?. jadi?".

"Ya... Tentu saja aku langsung kesini?".

"Dan kau meninggalkannya sendirian?".

"Saat itu aku panik. Ku pikir kau kenapa - napa".

"Kalau begitu cepat telpon dia sekarang. Jangan sampai dia salah paham".

"Memangnya harus sekarang?" tanya Steven ragu.

"Ia" Balas Selvia tegas.

"Hufh... Baiklah" Steven akhirnya ngalah dan segera mengeluarkan hanphond. Sementar Stela hanya memperhatikan dari samping.
Setelah menunggu beberapa saat barulah terdengar nada sambung. Sambil menunggu di angkat Steven terus memutar otaknya. Berpikir apa yang harus ia katakan.

"Hallo".

Deg. Baru mendengar suaranya saja dengan tiba - tiba jantungnya langsung berdetak dua kali lebih cepat. Ya tuhan, Apa ia sudah benar - benar jatuh cinta terlalu dalam pada gadis itu?.

"Ehem... Naira, ini aku".

"Aku tahu. Ada apa?" tanya naira lagi.

"Ada yang ingin ku katakan pada mu" Untuk sejenak Steven terdiam baru kemudian ia melanjutkan ucapannya "Apa hari ini kita bisa ketemu?".

"Maaf tapi sepertinya aku tidak bisa".

"Oh.... Kenapa?" Kata Steven terdengar kecewa.

"Apakah semua harus ada alasannya?".

Hati Steven merasa tertohok mendengar suara Dingin Naira. Ia akui ini salahnya karena telah meninggalkan gadis itu kemaren. Untuk sejenak Keduanya terdiam.

"Sekarang kau ada di mana?. Kenapa berisik sekali" Tanya Steven berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Apa kau harus tau?".

Steven terdiam, Astaga.. Gadis itu benar - benar. Tidak bisa kah ia hanya menjawab tanpa perlu kembali melontarkan pertanyaan?.

"Apakah aku tidak boleh tau?" Akhirnya Steven balik bertanya. Dan ia mendengar helaan nafas dari seberang.

"Stev, Sebenernya ada sesuatu yang ingin ku katakan pada mu".

"Apa?" Tanya Steven. Nggak tau kenapa tiba - tiba ia merasa seperti ada firasat buruk.

"Aku akan pulang keparis"

"APA???!!!" Tanya Steven setengah berteriak.

Bahkan Stela yang sedari tadi memperhatikannya saja sampai terlonjak kaget. Sepertinya ia baru saja salah dengar. Kenapa sepertinya barusan ia mendengar kata 'pulang'?.

"Aku akan ikut ibuku ke paris" ulang Naira. Dan Steven kali ini sadar kalau ia memang tidak bermasalah sama yang namanya THT.

"Kenapa?" tanya Steven lirih.Tenaganya benar - benar sudah terkuras habis mendengar kabar barusan.

"Tentu saja karena aku memang harus pulang. Kau kan tau kalau aku disini hanya untuk menyelesaikan pendidikan ku".

"Dan itu masih tersisa 6 bulan lagi" Potong Steven cepet.

"O... itu... e .... ia si. Tapi sepertinya aku sudah kangen pada keluargaku. Jadi.....".

"Kau, ada di mana sekarang?" tanya Steven memotong ucapan Naira.

Tidak, Ia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi. Ia harus bisa meyakin kan gadis itu untuk tetap tinggal. Bagaimanpun caranya.

"kau tidak perlu tau ".

"Aku tanya kau ada di mana sekarang?!" Kali ini Steven mengucapkan nya dengan nada yang lebih tepat jika di sebut sebagai bentakan.

"Bandara".

Hanya satu kata sebagai jawaban. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jantung Steven terasa seperti berhenti berdetak.

"Kau........ Jangan kemana - mana. Tunggu sampai aku datang".

"Maaf...".

"Aku tidak mau mendengar kata maaf mu. Dengar, kau harus menunggu sampai aku datang!!!".

"Aku tidak bisa. Sepuluh menit lagi penerbangan. Aku harus mematikan telponnya sekarang".

"APA?!".

"Jaga dirimu. Selamat Tinggal".

Itulah kalimat terakhir yang mampu Steven tangkap sebelum pangilannya benar - benar terputus. Dengan cepat di tekannya tombol nomer 1. Panggilan cepat untuk Naira. Tapi percuma karena hanya suara mesin operator yang menjawabnya.

"Sepuluh menit lagi penerbangan..."

Kata - kata itu terus berniang di kepalanya. Bahkan Stela yang bertanya dengan nada panik saat melihatnya jatuh terduduk sama sekali tidak ia indahkan. Hal yang mampu ia tangkap adalah mustahil untuk mencegah Naira pergi hanya dalam waktu sepuluh menit sementara jarak dari rumah sakit kebandara memerlukan waktu tidak kurang dari satu setengah jam?. Tanpa mampu ia cegah air matanya nya menetes. Inikah akhir dari kisah ku?.

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

Untuk sejenak Naira menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan nya secara berlahan. Setelah terlebih dahulu mematikan handphond nya ia kembali melanjutkan langkahnya. Menuju tujuan yang pasti. Paris. Bersiap meninggalkan semua yang ada di sini.

Tidak, Ia tidak boleh dan tidak akan menangis lagi. Airmatanya terlalu berharga untuk di buang percuma. Bukankah pertemunya dengan Steven memang hanya sebuah kebetulan?. Sebabjika memang karena takdir, lantas kenapa mereka di pertemukan kalau hanya untuk di pisahkan?. Jadi sudah jelas bukan?. bahwa itu semua hanya sebuah kebetulan, Sebuah kebetulan yang kebetulan berlanjut....

End......

PERINGATAN!!!!!.. Dilarang Protes Kenapa Endingnya gini. Yang jelas, sejak awal idenya memang begini endingnya. Dan aku juga sama sekali tidak berniat untuk mengubahnya. Yang penting cerpen Rinbow after rain udah ending. Titik.


Cerpen Rainbow After Rain ~ 12

Berdamailah dengan rasa sakit dan kamu akan tau rasanya bahagia..... #rainbow after rain

#Flasback
"kak, aku sangat benci menulis".
"lho, kenapa?".
"Karena tulisan ku jelek. Bahkan aku sama sekali tidak bisa membuat karya tulis. Berbeda dengan mu. Sejak dulu tulisanmu bagus. Hasil karyamu juga selalu mendapat pujian dari semua orang".
"Itu karena aku selalu melakukan apa yang aku sukai" balas Nadira sambil tersenyum. " Tapi.... hei, apa kau benar - benar benci menulis?".
Lama naira terdiam. Sampai kemudian menggeleng mantab.
"Aku selalu membaca dan mengagumi karyamu, jadi bagaimana mungkin aku membencinya".

***

"yah kok malah hujan si?" gerut Naira sambil menatap sebel kearah langit berbanding balik dengan sosok yang berdiri di sampingnya yang jelas terlihat tersenyum bahagia menyambut rintik - rintik air yang jatuh kebumi.
"kak,apa kau benar - benar menyukai hujan?" tanya naira kemudian.
Dengan cepat Nadira mengangguk mantap.
"Emm. Aku sangat menyukainya. Aku suka melihat rintiknya yang jatuh beraturan. Aku suka mencium bau wanginya tanah yang basah. Aku suka menghirup segarnya udara. Dan aku juga suka melihat indahnya pelangi setelahnya".
"Tapi hujan itu musuh terbesar dalam hidupku. Kau kan tau sedikit rintik saja cukup untuk membuat ku terbaring tak berdaya selama berhari - hari" Protes Naira.

 "Karena itu apakah kau akan membenci hujan?" tanya Nadira terlihat sedih.
Untuk sejenak Naira terdiam sebelum kemudian tersenyum tulus "Karena kau menyukainya, tidak ada alasan untuk ku membencinya bukan?".
Mendengar itu Nadira juga tersenyum.
"Terima kasih.Baiklah, mulai sekarang Aku tidak akan lagi menyukai sesuatu yang harusnya kau benci. Aku berjanji" Ujar Nadira mantap sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang dengan cepat di sambut oleh Naira.
"Aku juga berjanji aku tidak akan membenci apa yang kau sukai kak. Karena aku menyayangi mu. Sanggat" Balas Naira sambil menautkan jarinya.

#Flasback and

rainbow after Rain
Credit Gambar : Ana Merya


"Apakah sekarang kau benar - benar membenciku?".
Pertanyaan lirih Steven kembali menyadarkan Naira dari lamunan masa lalunya.
"Aku minta maaf, aku benar - benar......".
"Pergilah" Potong Naira lirih.
"Aku....".
"Aku bilang pergi!!!" Kata Naira setengah berteriak sambil berbalik menatap steven.
Hati steven mencelos saat mendapati air mata yang entah sejak kapan telah membasahi wajah wanita yang ada di hadapannya.
"Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku".
Selesai berkata Naira langsung berbalik. Berlari meninggalkan steven sendirian tanpa menoleh sama sekali.

***

Kosong, Itu yang ia rasakan. Kembali menjalani hari - hari yang menyebalkan. Melewati semuanya sendirian. Apa benar ini yang ia inginkan?.

"Hufh" untuk kesekian kalinya Naira menghembuskan nafas berat. Sudah lebih dari seminggu ini ia benar - benar loss kontak dari Steven.

Walau sebenarnya tidak bisa di bilang tanpa kontak sekalipun si, karena nyatanya Steven masih sering menghubunginya hanya saja terus menghindari.

Berurusan dengan seseorang yang telah memisahkannya dengan orang yang paling ia sayangi ternyata menyakitkan. Ditatapnya air yang terus menetes dari langit. Tanpa sadar tangannya terulur, menikmati basahnya air.

"Hujan" Gumamnya lirih. Seulas senyum pahit terukir di wajahnya.

"Naira?"

Refleks Naira menoleh, Kaget saat mendapati Steven yang berdiri tak jauh darinya sedang menatapnya intens.

Naira Tidak menjawab. Entah kenapa lidahnya tiba - tiba terasa kelu. Ia segera mendunduk saat mendapati tatapan tajam Steven yang terus terjurus kepadanya. Tanpa melihat ia tau kalau sosok peria itu sedang berjalan kearahnya.

"Tolong, Jangan menangis lagi".

Lagi - lagi Naira kembali menoleh, Tapi kali ini Steven tidak sedang menatapnya. Seolah menyadari sesuatu ia segera mengusap wajahnya. Basah. Sejak kapan air mata itu menitik?.

"Disini, untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang mengangis saat melihat hujan. Dan aku tidak pernah berfikir bagaimana mungkin hujan bisa begitu menyakitkan. Dan menurutku orang itu pasti orang yang aneh".

Untuk sejenak Steven terdiam. Ia tau Naira mendengarkan ucapanya walaupun gadis itu tetap menunduk tanpa menoleh kearahnya.

"Sampai kemudian aku bertemu dengan gadis itu. Di sebuah toko buku. Sebuah pertemuan yang menurutnya hanya lah kebetulan".

Kali ini Naira kembali menoleh dan pada saat bersamaan Steven juga sedang menatapnya.

"Aku?".

Steven membalas dengan anggukan sebelum kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Dan pertemuan - pertemuan selanjutnya juga kembali terjadi. Lagi - lagi kau menganggap itu sebuah kebetulan. Lantas, Kebetulan seperti apa yang membuat jantung kakak mu kini berdetak dalam tubuh ku?".

"Deg".

Nyesek, itu yang Naira rasakan saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Steven barusan. Lama ia terdiam sebelum kemudian sebuah senyuman pahit terukir di bibirnya.

"Itu bukan kebetulan, Tapi takdir".

Gantian Kening Steven yang berkerut bingung.

"Bukannya kau tidak percaya pada takdir?".

"heh" Naira mencibir sejenak "Aku tidak pernah mengatakan kalau aku tidak percaya takdir. Aku hanya bilang kalau 'takdir' itu selalu membawa hal yang buruk".

Mulut Steven sudah terbuka untuk berujar tapi lagi - lagi Naira mendahuluinya.

"Termasuk kemunculan dirimu".

Steven menatap kosong kearah Naira. Seburuk itu kah dirinya di mata gadis itu?.

"Maaf" Akhirnya hanya satu kata itu yang mampu meluncur dari tengorokannya.

"Untuk apa?. Untuk takdir yang tak bisa kau ubah?" Tanya Naira dengan tatapan terluka.

"Untuk semuanya" Balas Steven lirih. "Dan jika kau mau aku menebusnya. Aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk mengabdi padamu".

Naira menatap tak percaya atas apa yang Steven ucapakan barusan. Lama ia terdiam sampai kemudian mulutnya kembali berujar.

"Jadi karena itu. Selama ini kau baik pada ku hanya untuk menebus apa yang kakakku lakukan padamu?".

Tidak, Bukan itu maksutku. Kau salah paham. Ingin sekali Steven meneriakan kata itu. Namun entah kenapa mulutnya terkunci rapat.

Naira sendiri juga kembali terdiam saat mendapati tiada bantahan dari sosok yang berada tak jauh darinya. Astaga, Sungguh kenyataan ini bahkan lebih menyakitkan dari pada saat ia tau siapa Steven sebenarnya.

"Kau tau, Bagiku kau benar - benar seperti hujan" Gumam Naira lirih.

Steven menoleh. Mencoba mencerna maksut dari apa yang Naira ucapkan barusan.

"Kau mengerti maksut bukan?".

Selesai berkata Naira langsung bangkit berdiri. Hujan telah reda. Bus yang sedari ia tunggu juga sudah muncul di hadapan. Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Meninggalkan Steven Dengan keterpakuannya.

Oke, TBC Dulu... E... Next part mungkin ending. Kalo gak da perubahan rencana si,,,,

Akhir kata bye bye.....

Cerpen Cinta Rainbow After Rain ~ 11



Setiap orang mengharapkan yang terbaik.
Tapi jangan lupa, Memikirkan yang terburuk juga penting. ^_^
#Rainbow after rain


"Baiklah, tunggu sebentar ya mbak".
Kepala Naira mengangguk sambil tak lupa sebuah senyum bertengger di bibirnya sebagai tanggapan ucapan dari pelayan yang ada dihadapannya.
Berhubung perutnya sudah terlalu lapar ia membatalkan niatnya untuk makan di rumah. Sehingga beginilah jadinya. Ia terdampar di sebuah kaffe langganannya baru - baru ini. Terhitung sejak ia mengenal...

"Steven?" gumam Naira lirih saat matanya tanpa sengaja mendapati sosok yang duduk sendirian sambil.menatap kosong kearah luar di salah satu meja pojok di kaffe itu.
"Ah sepertinya kebetulan ini masih terus berlanjut"sambungnya lagi.
Berniat untuk langsung menghampiri, Naira justru malah dibuat terpaku saat mendapati ada sosok lain yang sudah terlebih dahulu menghampiri steven. Senyum di bibir Naira juga berlahan memudar saat melihat sebuah senyum di wajah steven yang selama ini paling ia sukai tapi tidak tau sejak kapan menjadi hal yang paling ia benci ketika ia tau kalau senyum itu ditujukan untuk wanita lain. Bukan dirinya.
"Maaf ya Steven. Aku kelamaan ya?. Sory, aku nggak nyangka kalau ditoilet juga bisa antri" kata Stela dengan tampang bersalah karena telah membuat pria itu duduk menunggunya sendirian.
"Nggak papa kok. Nyantai aja lagi" ujar steven tulus sambil tersenyum menenangkan.
"Ya udah kalau gitu kita pergi sekarang yuk. Yah aku tau si kalau kamu itu direktur. Tapi kalau menghabiskan jam makan siang kelamaan itu bukan hal yang baik. Apalagi kalau sampai ditiru oleh bawahan".
"Ah, kamu bisa aja. Kalau begitu,ayo ku antar kau pulang".
"Tidak perlu. Aku pulang naik taxi aja. Kau bisa langsung pulang kekantor. Dan terima kasih untuk traktiran makan siangnya".
"Aku akan kekantor setelah memastikan bahwa kau menginjakan kaki dirumahmu dengan selamat. Lagi pula tidak ada sejarahnya seorang wanita yang jalan dengan ku harus pulang sendirian".
"Wow,benar benar terdengar gentelman. Ah pantas saja kau bisa membuatku jatuh cinta" puji stela setengah bercanda. Sementara steven hanya tersenyum simpul menanggapinya. Setelah terlebih dahulu membayar pesanan mereka keduanya segera berlalu tanpa menyadari keterpakuan Nadira yang masih belum mengalihkan pandangan sampai keduanya benar benar menghilang dari pandangan.
"Maaf mbak karena harus menunggu, ini pesanannya. Selamat menikmati".
Sapaan pelayan kaffe menyadarkan Naira dari lamunannya.
"Oh,iya mbak. Ma kasih" balas Naira masih mencoba tersenyum sopan.
Di tatapnya makanan yang kini berada dihadapannya. Mendadak ia merasa sama sekali tidak bernapsu. Rasa lapar yang sedari tadi ia rasa telah menguap begitu saja di gantikan rasa nyesek ia diam - diam merayapi hatinya.

 Cerpen Cinta Rainbow after rain 11
Credit Gambar : Ana Merya

Dengan sebuah headset yang terpasang di kedua telinganya Naira menatap kosong jalanan. Sudah lebih dari seminggu ia tidak melihat wajah Steven terhitung saat ia melihat Steven makan di kaffe langganan mereka. Yang membuatnya bingung adalah pria itu sama sekali tidak menghubunginya. Membuatnya bertanya -tanya kesalahan apa yang telah ia buat.
"Kenapa duduk sendirian?".
"Eh".
Dengan segera Naira melepaskan headset dari telinganya. Merasa sedikit tidak percaya saat mendapati Steven ada di sampingnnya. Hei, ia tidak sedang berhalusinasi kan?.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Steven lagi saat Naira masih tidak mengelurakan jawaban.
"Baik" Balas Naira singkat.
Mendadak ia merasa canggung atau mungkin..... Marah????.
"Ngomong - ngomong sudah lama aku tidak melihatmu"
"Hmm" Naira mengangguk membenarkan. Masih tanpa menoleh. Matanya masih menatap lurus kedepan.
"Apa aku melakukan salah padamu?".
Refleks, Naira menoleh.
"Kenapa?".
"Sikapmu aneh?".
Untuk sejenak Naira mentatap lurus kearah Mata Steven yang kini juga sedang menatapnya. Sebelum kemudian ia menunduk dan tersenyum sinis.
"Nggak kebalik?" Gumam Naira lirih.
"Apa?" Kening Steven Tampak berkerut heran. Disaat bersamaan sebuah bus berhenti di hadapan mereka.
"Tapi sebenarnya sedari tadi aku duduk di sini menunggu bus. Jadi berhubung busnya sudah datang, Maaf aku harus pergi duluan".
Naira segera beranjak menuju pintu bus, namun belum sempat ia melangkah sebuah tangan sudah terlebih dahulu mencekal tangannya.
"Aku bisa mengantarmu pulang".
"Nggak perlu. Ma kasih" Tolak Naira Namun Steven sama sekali tidak melepasakan gengamannya.
"Tapi aku...".
"Kalau kau pikir dengan tidak mengantarku pulang itu bukan gayamu saat mengajak wanita manapun untuk jalan bersama harusnya tidak perlu kau fikirkan. Karena saat ini kau tidak sedang mengajakku. Kita hanya 'Kebetulan' bertemu. Jadi kau tidak berkewajiban untuk itu".
Mendengar kalimat dingin yang Naira lontarkan sontak Gengamannya terlepas. Dan sebelum mulutnya sempat terbukan untuk menanyakan kejelasan maksutnya Naira sudah terlebih dahulu berlalu. Masuk kedalam bus bersama penumpang lainnya. Meninggalkan sejuta tanya di kepala Steven.


Turun dari halte Naira segera melangkah menuju kerumahnya. Pikirannya melayang memikirkan kejadian tadi. Sedikit perasaan menyesal terbersit di hatinya. Ia juga bingung sendiri kenapa tadi ia bisa bersikap seperti itu. Secara kalau di pikir - pikir lagi memangnya dia kenapa?. Bahkan sejujurnya ia sendiri juga tidak memiliki alasan untuk marah bukan?.
Apa karena Steven memperlakukan orang lain sama sepertinya?. Atau justru karena Dirinya di perlakukan oleh Steven sama seperti yang lainnya?. Ntahlah, ia juga tidak tau apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Memangnya siapa dia sehingga harus mendapatkan perlakuan istimewa.
Pikiran itu membuatnya diam - diam menyadari suatu hal, Mejadi bukan siapa - siapa ternyata menyakitkan *Ungkapan Ati!!! XD
"Hufh... Cape.." Gumam Naira lirih sambil membuka kunci pintu pagar rumahnya.
"Kalau memang cape kenapa tadi menolak untuk diantar oleh ku?".
Refleks Naira menoleh, Keningnya berkerut samar sambil menatap kaget sosok yang berdiri tak jauh di sampingnya sambil bersandar di mobil dengan kedua tangan berada dalam saku celananya.
"Kau mengikutiku?!" Tembak Naira langsung.
"Tidak".
"Lantas kenapa kau bisa berada disini?".
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau pulang dengan selamat".
Naira mencibir sinis saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Steven barusan. Bagaimana tidak, ucapan itu kan justru malah mengingatkannya pada kejadian di kaffe kemaren. huuuuuu.
"Hei, apa kau benenan marah padaku?" tanya Steven saat mendapati Naira mengabaikannya dan justru malah dengan santai masuk kedalam rumahnya.
"Memangnya aku punya alasan apa untuk marah padamu?" Tanya Naira balik.
"Justru itu yang ingin ku tau" Balas Steven cepat. "Atau kau memang sudah mengetahuinya?" Sambung Steven Lirih nyaris tidak mendengar.
"Maksutmu?" Tanya Naira sambil berbalik.
Tapi steven justru terdiam. Mulutnya seakan terkunci rapat. Membuat Naira merasa jengah dan kembali berbalik kerumah.
"Maaf. Aku benar - benar minta maaf".
Suara lirih Steven menghentikan langkahnya.
"Untuk?" tanya Naira tanpa berbalik.
"Semuanya...".
Naira masih terdiam tanpa berbalik, menanti kelanjutan ucapan Steven yang masih belum ia ketahui arah dan maksutnya. Maaf?. Memangnya untuk apa?.
"Dan yang paling terpenting, Maaf, karena telah membiarkan jantung kakakmu. Seseorang yang paling kau sayangi, Seseorang yang kepergiannya paling tidak kau inginkan dalam hidup, untuk berdetak didalam tubuhku".
Dan detik itu juga Naira merasakan bahwa dunianya ...... Gelap!....
"As always" Gumamnya lirih. Sangat lirih....

To be continue lagi ya...
May be, tinggal dua atau tiga part lagi ending deh. Secara Part Endingnya cuma tinggal ngepos doank.....
Si irma aja juga udah baca no.... Bener gak oma.... Xi xi xi...
Akhir kata, see you in next part ya.....
Bye bye

Cerpen Cinta Rainbow after Rain ~ 10

Apa yang kita butuhkan belum tentu yang kita inginkan...
Apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan...
Tapi percayalah bahwa apa yang kita dapatkan adalah yang kita butuhkan
#Rainbow after rain.

PS: Oh ya, sekedar info ya. Cerpen rainbow after rain ini adalah lanjutan dari cerpen sedih Life must go on yang di post di blog Remaja Xsis. So kalau kalian mau tau bisa langsung baca ke TKP.
Oke, Happy reading...

Cerpen Rainbow after rain 10
Credit Gambar  : Ana Merya

“Hufh,,,,...” Untuk kesekian kalinya Steven menghembuskan nafas berat. Dadanya terasa berdenyut nyeri. Apa yang Naira ucapakan kemaren kembali terulang di kepalanya.
Astaga, apa yang harus ia lakukan?. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan reaksi gadis itu kalau sampai ia tau bahwa jantung yang kini berdetak dalam dirinya adalah jantung yang sama yang pernah di miliki oleh kakaknya?. Orang yang paling ia sayangi?. Seseorang yang kematiannya tidak pernah ia inginkan dalam hidup?.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini?” Gumam Steven lirih.
Sekilas kejadian beberapa tahun yang silam. Saat ia masih SMA dulu. Tentang seorang malaikat penyelamatnya. Nadira, yang ia ketahui namanya justru setelah ia tiada.
“Tok tok tok”.
“Masuk” Sahut Steven tanpa menoleh.
Terdengar suara mendekat. Steven masih terdiam sambil matanya beralih kearah map – map yang berserakan di atas meja. Tangannya tergerak asal membuka satu – persatu file yang ada di hadapannya.
Merasa aneh karena suasana masih hening. Bukankah biasanya sekertarisnya langsung menyerocos tentang file file yang harus ia tanda tangani?. Dengan santai akhirnya Steven menoleh.
Mulutnya terbuka tanpa suara, Kaget saat mendapati sosok yang kini berada di hadapannya. Tidak, kemunculan sekretarisnya tidak akan mampu membuatnya merasa sekaget ini.
“Stela” Walau berat akhirnya satu kata itu berhasil melewati tenggorokannya.
Masih hening tanpa ada jawaban. Hanya saja sebuah senyuman tampak menghiasi bibir gadis yang ada di hadapannya sambil mengangguk membenarkan.
“Keberatan tidak jika harus menemaniku makan siang?. Perutku lapar”.
Kali ini Gantian kepala steven yang mengangguk membenarkan.

Cerpen Cinta Rainbow after Rain ~ 10

“Bagaimana kabarmu sekarang?” Stela terlebih dahulu membuka pembicaraan saat keduanya masih terdiam padahal makan siang yang mereka pesan kini sudah terhidang dihadapan mereka.
“Baik” Sahut Steven menjaga suaranya untuk tetap terdengar santai.
“Bagaimana dengan mu?” Steven balik bertanya sambil mengaduk – aduk jus yang ada di hadapannya.
“Kau ingin aku menjawab apa?”.
Steven menoleh. Menghentikan aktifitasnya.
“Aku baik – baik saja. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya” Stela meralat ucapannya saat menlihat reaksi Steven.
“Kau yakin kau baik – baik saja?” Stela kembali buka bicara.
“Tentu saja” Lirih steven.
“Tapi kenapa wajahmu terlihat kusut begitu?”.
“Bagaimana dengan perjodohanmu?” Tembak Steven langsung tanpa memperdulikan pertanyaan Stela barusan.
“Tidak buruk” Balas Stela sambil mengendikan bahu.
“Apa itu artinya kau menerimanya?” tanya Steven lagi.
Stela tidak langsung menjawab. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya.
“Apa menurutmu setelah apa yang terjadi aku akan menolaknya?”.
“Tidak bisakan kau hanya menjawab pertanyaanku tanpa balik melontarkan pertanyaan?”.
Stela kembali menghela nafas. Menatap lurus kearah Steven yang kini juga sedang menatap tajam kearahnya.
“Ya. Aku menerimanya”.
Hening. Suasana kembali hening.
“Syukurlah”...
“Apa?” Tanya Stela tidak yakin akan apa yang baru saja di dengarnya.
“Syukurlah. Karena Andre adalah orang yang baik. Dia adalah orang yang bertanggung jawab. Dan dia....... Menyukaimu” Balas Steven sambil mengalihakan pandangannya. “Sejak lama” Sambungnya lagi.
“Aku tau” Balas Stela tak kalah lirih. Tangannya terkepal erat. Tidak bisa di pungkiri hatinya sakit mendengar kalimat barusan walau sebenarnya ia sudah memperdiksikan hal itu sebelumnya. Namun tetap saja ini menyakitkan. Bagaimana bisa orang yang kau sukai justru malah menyerahkanmu pada orang lain?. Benar – benar kejam.
Suasana kembali hening. Masing – masing sibuk dengan pikirannya masing – masing.
“Ehem.... Kau bilang tadi lapar. Ayo kita mulai makan” Ajak Steven mencoba untuk mencairkan suasana. Stela mengangguk membenarkan. Dengan berlahan tangannya meraih makanan yang memang sudah terhidang di hadapannya. Kemudian menikmatinya dalam diam.
“Drrrtt... Just don't give up
I'm workin' it out
Please don't give in
I won't let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around Hey,
whataya want from me
Whataya want from me


Lirik lagu whataya want from me miliknya adam lambert mengusik keduanya. Dengan terburu – buru Steven mengelurakan benda elektronik dari dalam Saku nya. Keningnya sedikit berkerut saat membaca id caller yang tertera. Setelah nada berhenti ia terdiam sesaat sebelum kemudian tangannya tergerak menekan tombol merah. Membuat cahaya di layar makin redup sampai kemudian benar – benar menghilang.
Walau bingung juga penasaran Stela tidak berkata apa pun menyaksikan apa yang di lakukan Steven di hadapannya. Sementara Steven sendiri juga bingung apa yang baru saja di lakukannya benar atau salah. Entahlah, begitu banyak yang harus di fikirkannya sehingga membuat otaknya terlihat sedikit tumpul untuk saat ini. Yang ia tau ia tidak ingin memikirkan atau pun menambah masalahnya kali ini. Ya, ia hanya ingin menundanya. Tidak salah bukan?

Cerpen Cinta Rainbow after Rain ~ 10

Setelah membereskan semua buku – bukunya Naira bangkit berdiri. Sejenak ia edarkan pandangan kesekeliling. Seperti biasa, masing – masing sibuk bergerombol ataupun berpasangan dan hanya dirinya yang sendirian. Tanpa sadar sebuah senyum terukir di bibirnya. Entahlah, ia juga tidak tau senyum itu ia tujukan untuk siapa.
Begitu sampai di pelataran kampus Naira kembali melirik jam yang melingkar di tangannya. Pukul 11:30 Siang. Tumben jam segini ia sudah keluar. Hufh, ini pasti karena dosen ‘sastra’ dengan seenak jidatnya tidak masuk.
Sambil melangkah Naira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Berharap menemukan sosok seorang yang selama ini sering mengajaknya makan siang bareng atau pun hanya sekedar menghabiskan waktu untuk jalan – jalan tidak jelas.
Merasa tidak mungkin menemukan sosok yang ia cari, Naira mengeluarkan Handphon dari dalam tasnya. Merasa ragu sejenak akhirnya dimantapkan hatinya untuk menekan tombol hijau pada id caller “Steven”. Terdengar nada sambung dari seberang. Sambil menunggu di angkat Naira melangkah menuju kearah bawah pohon beringin yang tumbuh di halaman. Sekedar menghindari terik panas matahari yang melanda.
Begitu nada tunggu terhenti Naira melirik hanphondnya. Tumben tidak di angkat. Apa terjadi sesuatu mengingat terakhir kali mereka bertemu setelah ia keluar dari rumah sakit kemaren sikap Steven memang terlihat aneh. Ia lebih banyak diam dari pada bicaranya.
Namun mencoba untuk tetap berfikir positif Naira kembali menekan tombol hijau. Setelah menunggu beberapa saat justru malah layanan operator ya ia tangkap. Membuatnya makin bingung.
“Kok jadi mati?” gumamnya lirih.
Merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari sebatang pohon beringin (???) Naira memutuskan untuk berjalan kearah halte bus. Membatalkan niatnya untuk mengajak Steven makan siang bareng. Sepertinya hari ini ia makan di rumah saja. Telur dadar berserta tumis kankung sepertinya masih bisa ia kerjakan.

Oke deh, segitu dulu. Mianhe, Terpaksa "To Be Continue" dulu. Secara "Waktu luang "ku udah abis. Kapan - kapan di lanjutin lagi ya Cerpen cinta Rainbow after rainnya. Moga aja kalian gak kesel karena harus menunggu lagi.

Cerpen cinta remaja "Kalau Cinta Katakan Saja ~ 01/6

 Oke deh All, Kayaknya makin ari makin 'males' aja penulis buat terus nulis cerpen. Abis 'rintangan'nya banyak banget. ck ck ck.
Nah untung saja masih ada Mia Mulyani, adek penulis yang juga demen nulis. Untuk itu berikut karyanya dia yang monggo, silahkan langsung di baca. Kalau ada yang kurang silahkan langsung di koment. Ntar Penulis tambahin (???).

Akhir kata, Happy Reading ya......

"Busyet, tuch cowok keren banget...." batin ku saat melihat seorang cowok yang duduk di parkiran bareng temen-temennya.
Sumpah ya aku nggax nyangka kalau aku bakal ketemu lagi seorang cowok yang keren. Bahkan lebih keren dari pada cowok yang aku lihat saat MOS kemaren, kira-kira siapa ya tuch cowok?, kayak-kayaknya sich kakak kelas. Ah, aku ini emang bener-bener ga bisa lihat cowok keren dikit ya he he he.... -______-
0h ya kita belum kenalan, kenalan dulu ya.... Nama aku Devila Indri Chelsy Indah Ayu Lestari _Jangan bayangin kalo pas akad nikah ya? ^_^
Aku biasa di panggil Chelsy, hari ini adalah hari pertama aku di sekolah baru, karena dua minggu yang lalu aku telah terdaftar sebagai siswa baru di SMU ini, kemaren saat MOS aku ada sempat melihat seorang cowok yang keren di antara murid baru lainnya, aku penasaran banget ama tuch cowok, kira-kira bisa nggax ya aku jadi temen deketnya.
Nah, kalau aku lihat ada yang keren, pasti juga ada yang cantik, ia kaan, menurut aku, ada dua orang cewek yang cantik, kelihatannya enak di lihat, pendiem, rapi pokoknya perfect deh, itu saat hari pertama, dan hari keduanya, aku juga melihat ada cewek yang cantik. dia pakek kacamata dan gayanya feminim banget, pokoknya beda jauh deh dari aku...
Menurut aku siapa pun yang mendapat kannya pasti bakal beruntung banget, uuuh andai aja aku kayak mereka... eh tapi bukankah menjadi diri sendiri itu lebih baik? ah ia aku jadi diri aku sendiri aja deh, emmm tapi beneran deh tuh cewek perfect banget. Apa bisa ya aku nyaingin dia... kayak nya nggax deh. Eh tapi mungkin suatu saat nanti aku bakal lebih dari pada mereka berdua, ia nggax? emmm siapa yea nama tuh cewek, cari tau ahhh
"Chel, kok bengong sich?" tiba-tiba ada yang menepuk bahu ku, refleks aku melihat ke samping, lamunan ku langsung terbuyar.
"eh, e apa? enggak kok" balas ku, saat mengetahu kalau cewek itu adalah 'Nay' sahabat terbaik ku. Aduh kok aku bisa lupa ya kalau aku tadi bareng sama Nay. Keasyikan ngelihatin cowok keren sih....
"0, eh kesana yuk. Ke papan pengumuman itu . Lihat kita di ruang nomor berapa" ajak Nay.
Aku hanya mengangguk, dan mengikuti Nay menuju papan pengumuman, ya semoga aja aku bisa ketemu cowok yang keren lagi he he he, eh sorry, sorry, sorry, aduuuuuh aku ini kan ke sini mau belajar, kok jadi cowok sich. Ah kacau-kacau. E... tapi cowok tadi anak kelas mana ya? manusia apa pangeran ya,,,, abis keren banget. eh kok Aku jadi lebay gini sih... ah makin kacau nih....
"Chel loe ruang mana?" tanya Nay begitu selesai membaca pengumuman yang ada di depan kelas.
"Gue masuk ruang A. Kalau loe?" balas ku setelah membaca pengumuman nya sekali lagi untuk memastikan.
"Gue bingung... nama gue ada di A, tapi di B juga ada, gue mau milih yang mana ya...." balas Nay.
"Udah loe masuk ruang A aja, bareng gue, santai aja, ada nama loe ini" kataku dan menarik tangan Nay untuk masuk ke kelas A.
Begitu tiba di kelas Aku langsung menghentikan langkah ku, ini mimpi apa bukan ya... Aku sekelas sama cowok keren kemaren? uuuh asyiiiik.
"Chel loe duduk di mana?" tanya Nay.
"gue di sini aja deh" balas ku sambil duduk di kursi baris tengah-tengah nomor dua.
"0, loe di situ, gue di depan loe deh" balas Nay.
Setelah banyak yang masuk, juga memilih kursinya masing-masing akhirnya ada juga guru yang masuk kelas. Tapi aku duduk sendiri, ada yang bilang yang duduk bareng aku 'wiena' tapi aku nggax kenal anaknya yang mana. Ah udah lah biar aja, besok kan aku tau, abis sekarang dia nggax datang, katanya sih sakit, Kasiaaaaaaaaaaaaaaan.
Begitu guru itu masuk beliau langsung meminta anak-anak baru untuk memperkanalkan diri satu per satu dan semuanya pun memperkenalkan diri, dan berkat itu aku jadi tau nama cowok keren kemaren, namanya itu 'Steven' waaaah bakal makin seru nih, kayaknya keberuntungan lagi berpihak ke aku deh he he he....
Dan tentu saja aku juga tau nama cewek yang aku kagumi itu, dan kebetulan dua-duanya itu sekelas sama aku, yang pertama namanya 'chintya' dan yang ke dua, yang pake kacamata itu namanya 'imel'. Nama yang bagus ea... nggax nyangka Aku, ternyata aku bener-bener beruntung. Kalau begitu aku harus belajar dari mereka, ia nggax???
Tapi apa aku bener-bener bisa nyaingin mereka?. Kayaknya nggax deh, mereka itu bener-bener jauh . Jauuuuh banget bedanya sama aku... Kalau aku itu pinter, berarti mereka itu bener- beneeeeer pinter, atau bahkan super pinter, dan kelebihan mereka pasti bakal lebih dari pada aku. Ah kita lihat aja ntar apa aku bisa nayaingin dia, atau aku selalu kalah.... tapi semoga aja keberuntungan kembali berada di pihak padaku. Ya semoga...

cerpen cinta remaja kalau cinta katakan saja
Credit Gambar : Ana Merya

Cerpen Cinta remaja “ Kalau Cinta Katakan Saja”

Huuuuuffffhhhh..... nggak kerasa ya ternyata aku udah dua minggu di sekolah baru ku. Tapi baru dua minggu aku sudah banyak dapat temen baru ada wiena, mawar, chintya, imel, juga Aurel trus banyak lagi deh. dan Steven salah satunya. Ia juga jadi temen aku, walau nggax terlalu akrab tapi aku bisa ngobrol sekali-kali sama dia, ya sedikit banyak aku tau lah dia itu orangnya kayak apa.
"Chel, menurut loe, mana yang lebih keren antara mike atau aldy?" tanya Nay saat istirahat pertama. Aku bingung juga, selain aku nggax seberapa kenal sama mereka, aku juga emang nggax tau mana yang lebih keren.
"Eeemmmm, mike itu yang temennya Steven ea?" tanya ku memastikan,
"Ia. Menurut loe mana yang lebih keren?" tanya Nay lagi.
"Eee mana ya? gue bingung. Abis selain gue nggax seberapa kenal sama dia, gue juga nggax tau, emang kenapa? dia nembak loe?" tanya ku ngasal.
"Ia. Gue bingung mau milih yang mana, makanya gue tanya sama loe"
"oh yea?" tanya ku kaget.
He he he padahal kan tadi aku cuma ngasal aja ngomongnya, eh ternyata bener. Aku itu emang bener-bener hebat yea? eh muji sendiri dech aku. Abis nggax ada yang mau muji sich, (uuuuh kasihan....)
"eh sorry, maksud aku.... emmm sorry ya, aku juga bingung, mending loe tanya sama orang laen aja. Loe kan tau sendiri gue itu nggax berpengalaman sama yang begituan" tolak ku. Ya abis kan aku emang belum pernah pacaran, jadi mana aku tau yang mana yang lebih baik.
"0h ia gue lupa, loe kan nggax suka pacaran"
"He he he tau tak apeeee..."
"Ea lah tuuuu..."
"Chel. kekantine yuk" ajak wiena dari luar kelas.
"0key, bentar ya..." balasku "e Nay, sorry ya, gue ke kantine dulu, mending kalau loe mau tau jawabannya, loe tanya aja ama yang udah berpengalaman, gue bener-bener nggax bisa bantuin..." kata ku kearah Nay, wah jadi serba salah nih, abis mau gimana lah, aku emang nggax tau. setelah Nay mengagguk aku langsung cabut, menghampiri wiena dan kekantin.
Setelah dari kantin aku mau kembali kekelas, nggax sengaja aku berpapasan sama cowok keren kemaren, aku rasa pernah ngelihat nih cowok deh. Tapi di mana ya? wajahnya tu udah nggax asing lagi, bukan berarti dia pasaran ya... emmm tapi di mana ya??? rasa-rasanya sich nie cowok mirip 'joy' pemain sinetron itu,. Nama lengkapnya aku nggax tau pasti, yang penting namanya adalah joy, joy nya gitu, kalau nggax salah... tapi, kalau di lihat bener-bener malah lebih miripan sama JB alias Justin Bieber yang lagi naik daun itu, sumpah deh. #Ana beneran nyungsep baca nie cerita ^_^

"0000 Ferly, kalau lihat cewek dikit, langsung nggax kedip matanya..." kata seorang temen tu cowok keren, yang tentu saja menyadarkan aku kalau dari tadi tu cowok yang ternyata bernama Ferly terus ngelihatin aku sampai muter kepalanya.
"e nggax lah, bukan gitu... ini ha... apa... cuma ini tu cewek cantik banget" kata Ferly bingung mau bilang apa.
Temen-temennya langsung tertawa sambil mendorong-dorongnya, tanda nggax percaya. Tentu saja itu langsung buat aku kaget, nggax kebayang deh gimana perasaan aku saat itu, rasanya tu kayak melayang di angkasa gitu, ya iyalah gimana nggax, di puji sama cowok idolanya, wuaaah nggax bakal bisa tidur semalaman.
Takut ketahuan kalau aku itu seneng, langsung aja aku ngajak wiena untuk masuk ke kelas, begitu di kelas aku langsung ngelamun, ternyata tu cowok emang bener-bener keren ya.... dan e siapa namanya tadi, 'Ferly'??? nama yang bagus ya.... he he he...
Begitu tiba di rumah, fikiran ku sudah melayang entah kemana, udah nggax bisa di balikin lagi, rasanya tuch seneng banget. Tiba-tiba langsung terdengar lagu dari radio yang cocok banget sama perasaan aku, kalau nggax salah yang nyanyi 'Nikita Willy', tapi kalau salah nggax tau deh, judul nya 'Cinta Pertama' yang liriknya kayak gini nich....

'CINTA PERTAMA'

Ku tak tau... mengapa ku malu...
Disetiap aku tau dia di dekat ku...
Aku sesal bila dia tak ada
Tak ingin jauh ku darinya....
Ada rasa yang tak biasa...
Yang mulai ku rasa, yang entah mengapa...
Mungkin kah ini pertanda, aku jatuh cinta...
Cinta ku yang pertama....
Tuhan tolong berikan lah isyarat
Semoga ne jawaban atas do'a ku....
Perkisahan ku mengenang cinta...
Yang indah tanpa air mata.,...
Ada rasa yang tak biasa...
Yang mulai ku rasa, yang entah mengapa...
Mungkin kah ini pertanda, aku jatuh cinta...
Cinta ku yang pertaaamaaaa......

Cerpen cinta remaja "Kalau cinta katakan saja"

Nggak kerasa ya udah enam bulan aku di sekolah baru ini, dan tentu saja makin lama aku makin akrab sama Steven, anaknya makin lama makin baik. Tapi sayang anaknya lumayan pendiam, dulu waktu pertama kali kita temenan juga aku dulu yang ngajakin ngobrol. Aku itu aneh ya kalau orang lain yang ngedeketin pasti aku jutek and cuek, tapi sebaliknya kalau orang itu yang diem eh malah aku yang ngedeketin dia.
Malahan dulu mawar pernah bilang, katanya saat aku MOS kemaren. Aku itu kayak patung hidup, diaaaaaam aja, nggax mau kenal-kenalan sama orang lain, malahan dia sempet bilang kalau aku itu pendiem bin sombong, re-se banget kan? tapi ya maklum lah. Aku kan emang gitu orangnya, rada-rada aneh dikit. Kita kan harus jadi diri sendiri, jadi aku nggax papa donk gini, kan nggax ikut-ikutan yang lain, he he he ia nggax sih.
"Chel, ntar loe kerumah gue ea..." kata seorang cewek dari arah samping, aku langsung menoleh ternyata Nay.
"emang mau ngapain sich?" tanya ku bingung. tumben nie orang ngajakin aku kerumahnya, biasanya juga kalau nggax kerja kelompok aku nggax pernah di ajak kerumahnya. jangan-jangan mau membagi-bagi ampau lagi he he he
"ntar mike ama Steven mau kerumah gue"
"0h yea????" tanya ku kaget, Steven? mau ngapain? trus ngapain ngajak-ngajak aku, emangnya Nay tau kalau aku suka sama Steven? nggax mungkin kan? ya nggax lah, karena aku nggax pernah ngasi tau he he he
"ia, pokoknya ntar loe kerumah gue, gue nggax ada temennya di rumah"
"emang mau ngapain sich...."
"udah lah, loe jangan banyak tanya, ntar loe datang aja, Steven bilang dia mau nemenin mike ke rumah gue asal gue juga bawa temen cewek ke rumah gue, jadi loe harus datang"
"what?! maksud loe apaan? gila loe, maksud Steven itu kan cewek laen, bukan gue, kalau gue ma udah kenal" tolak ku.
"yaaaah ayo donk, gue nggax tau mau ngajak siapa lagi, pleaseeeee bantuin gue napa, ayo laaaaah..." rayu Nay. emmm gimana ya, gue bingung nih, gimana ntar kalau Steven kecewa karena cewek yang di bawa itu aku. Eahh itu kan namanya bikin malu , emmm tapi kasihan juga si Nay ini... aduh gimana ya....
"ayo donk Chel... loe nggax kasihan sama gue apa?" tanya Nay.
"emmm 0key, baiklah gue mau" kata ku akhirnya.
"he he he nah gitu donk, dari tadi kek..." kata Nay seneng, huu'uuuh nggax ada pilihan laen.
sepulang sekolah gue langsung melakukan aktiVitas seperti biasanya, tapi waktu saat nya istirahat aku ganti dengan siap-siap ke rumah Nay, walau masih agak lumayan malu juga sih tapi aku tetap melangkah menuju rumah Nay, iiiih gimana ini....
"eh Nay, mike itu pacar loe ea?" tanya ku begitu tiba di rumah Nay.
"ea..."
"0h... eh itu mereka.,.." tunjuk ku kearah dua orang cowok yang baru melewati jalan di depan rumah Nay menggunakan motornya, jangan-jangan tu orang nggax tau lagi rumah Nay, aku langsung melangkah keluar dan melihat Steven dan mike yang tampak lagi kebingungan.
"woooy, sini..." teriak ku kepada dua orang yang lagi kebingungan, Steven langsung menoleh dan balik arah menuju rumah Nay.
"eh Chel, loe ladenin bentar ea, gue mau bikin minum" kata Nay dan langsung ke dapur, aku hanya balas mengangguk.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam. yuk masuk" ajak ku kearah Steven dan mike, setelah mereka duduk di kursi aku langsung bingung, iiiih mau ngomong apa ya,,, Nay kemana lagi nie, aduuuh masa tamunya di cuekin sih... ehem-ehem tes tes satu dua tiga... ehem-ehem.... basa basi ah...
"ini dari rumah atau kemana dulu tadi?" tanya ku sekedar basa-basi, dari pada di diemin ya nggax.,..
"e dari rumah" jawab Steven, sementara mike diam saja, secara gue nggax seberapa kenal sama dia, atau bahkan sebaliknya, di tambah lagi Steven yang lebih deket dari gue.
"langsung tau tadi rumahnya disini?" tanya ku.
"e, enggak, tadi sempet bingung juga, setelah lihat loe di sini, baru deh tau" jawab Steven.
"000h, emang nggax nanya sama orang?" tanya ku lagi, e gue mirip wartawan nggax sich? bayak tanya, tapi dari pada diem-dieman.
"bingung mau nanya sama siapa" jawab Steven.
"he?!" gantian aku yang bingung, prasan banyak orang, kok bisa bingung mau nanya sama siapa "aneh-aneh aja..." balas ku.
"rumah loe di mana Chel?" tanya Steven.
"Alhamdulillah, gue belum punya rumah" jawab ku cepat.
"sesuatu ya..." balas Steven
"he? maksudnya?" gue jadi bingung, sesuatu apaan?
"Alhamdulillah ya, sesuatuuuu he he he"
"syahrini???! ck ck ck macam tau-tau zae..."
"tau lah, eh mana lah rumahnya"
"udah di bilang gue nggax punya rumah juga, nggax percayaan banget"
"ya abis gimana lah?" tanya Steven bingung.
"gimana apanya?" tanya ku.
"ya gimana? loe tinggalnya?"
"ya gue tinggal sama, my parent lah, emang mau sama siapa lagi" jawab ku sambil menahan tawa. lucu juga menyaksikan kebingungan Steven dan mike.
"yeeee sama aja lah tuuu..." kata Steven setelah beberapa saat bengong.
"ya beda lah, gue itu belum punya rumah kaleee..."
"ya udah, mana rumah mama loe?" tanya Steven.
"loe ngapain nanya-nanya, bokap gue masih ada lho, lagian gue nggax berminat tuch punya bokap tiri kayak loe..." balas ku santai.
"he??? loe...."
"apa? aneh, gue udah tau, banyak yang udah bilang gue kayak gitu, padahal kan gue ngomong apa adanya" balas ku.
"gue seriuz ne..."
"gue dua riuz malah"
"ya udah kalau gitu, gue tiga riuz deh" kata Steven.
"haaa dariuz??! dia itu,.... cowok pemain lawak yang tubuhnya kayak anak kecil itu kan???" tanya ku, sengaja mau ngerjain Steven, karena ngerjain temen-temen yang nggax bisa jawab pertanyaan dari aku yang kelihatan konyol tapi kenyataan kan salah satu hobby aku, he he he aneh nggax sich.
"Chelsy...." tampak Steven yang udah sebel banget karena di kerjain mulu, aku langsung aja tertawa, uuuuh serunya...."mana sich rumah nya?"
"ya udah deh, loe nanya rumah kan? e rumahnya itu tuh?" tunjuk ku kearah rumah yang tak jauh dari rumah Nay.
"jadi itu rumah loe?" tanya Steven.
"bukan"
"rumah nyokap bokap loe?"
"emmm bukan juga"
"truzzzz???" Steven tampak makin bingung,
"rumah tetangga gue" jawab ku cepat ha ha ha ha... langsung aja tawa ku meledak melihat tampang sebel terlintas di wajah Steven dan mike.
"yang seriuz lah, rumah loe yang di mana?"
"emmm baik lah, kalian tadi pada lihat mushala nggax?" tanyaku.
"lihat. rumah loe di balakangnya?" tanya Steven.
"he? emang di belakang mushala ada rumah? prasan...."
"kuburan kan" potong Steven sambil senyum-senyum. he?! emang apa sich maksudnya, bukannya kuburan itu buat orang yang udah mati ya... tapi...
"kurang ajar!!! enak aja, loe fikir gue itu kuntilanak apa" kata ku setelah tau maksud Steven apa, balas dendam nih ceritanya... iiiih re-se banget. Bego kok bisa sich aku nggax nyadar tadi.
"he he he gantian donk, tadi kan loe yang ngerjain gue, sekarang kita satu sama, lagian loe itu beda tipis kok sama kuntilanak, bahkan lebih tepatnya malah kalian berdua itu mirib" balas Steven dan makin ngakak.
"ia. gue hantuin baru tau rasa loe..." balas ku sewot, masa di bilang sama kayak kuntilanak sich, tega banget, kenapa nggax kuntilemak aja sekalian.
"he?!!!!!! hiiiiiiiii takuuuuuuuuut...." balas Steven "ha ha ha..."
"re-se loe" balas ku makin sewot, tiba-tiba Nay masuk ke ruang tengah sambil membawa nampan berisi minuman.
"eh, nggax usah repot-repot Nay..." kata mike.
"ah nggax, cuma air minum doank"
"ah ya udah nih, di minum ya..." kata ku sambil menyodorkan minuman itu ke arah mike dan Steven. dan di balas anggukan sama Steven juga mike.
"Chel, rumah loe yang benernya itu di mana sich?" tanya Steven yang udah ke sekian kalinya.
"rumah gue, di ini ha... e tadi loe kan ada lihat mushala, nah rumah gue itu nggax jauh dari sana, loe dari mushala belok ke kiri, trus luruuuus aja, ada belokan pertama loe belok ke kanan, trus ke kiri, ke kiri lagi, abis itu baru ke kanan, nah langsung loe luruuuuus aja lagi, saat lihat simpang empat loe belok ke kanan, loe nggax usah perduliin meski di sana banyak simpang tiga maupun dua, yang loe harus perhatiin hanya simpang empatnya okey, nah loe bakal nemuin rumah warna hijau" jelas ku dengan cepat, tanpa memperhatikan titik dan komanya, luruuuus aja kayak kereta api, tanpak mike, Steven dan Nay juga langsung bengong mendengarkan.
"jadi itu rumah loe?" tanya Steven setelah beberapa saat terbengong.
"e sebenernya sich bukan, itu rumah pak RT" jawab ku.
"jadi rumah loe...?"
"di depan rumah itu ada rumah lagi, nah baru deh itu rumah...."
"rumah loe?"
"bukan"
"truz???!" Steven tampak makin bingung,
"rumah mama sama papa gue" jawab ku sambil menahan tawa agar nggax kelihatan kalau aku mau ngerjain dia, gantian ea,..
"ia, itulah maksud gue..."
"nah sekarang udah tau kan???"
"e sebenernya sich gue masih rada-rada gimana gitu yaa, elo sich njelasin nya muter-muter nggax jelas gue jadi bingung, bahkan sekarang jadi makin bingung"
"enggak kok. orang gue duduk aja dari tadi nggax muter-muter, seriuz deh" jawab ku pasang wajah nggax tau bener-bener seriuz.
"iiiiih loe tu ya..."
"he he he...."
"jelasin sekali lagi donk"
"capek kali, njelasin kayak gitu, apalagi yang di kasi tau pada nggax nyambung kayak kalian. waaah bisa mati berdiri gue ngejelsainnya"
"ya udah kalau gitu intinya aja"
"emang di kira kociiii apa ada intinya, lagian gue nggax ngerti ama yang begituan, intinya apaan"
"ya yang penting nya aja"
"tapi menurut gue semuanya itu penting"
"ya udah, kalau gitu di persingkat aja"
"gini ya... nah dari mushala loe belok ke kiri, trus belok ke kanan, ke kiri, kiri lagi, abis itu belok kanan, setelah jumpa simpang empat loe berhenti belok kanan dikit, ada jumpa rumah cet warna hijau loe lihat di depannya, nah di situ lah rumah my parent" jelasku kembali tanpa memperhatikan titik dan komanya, sengaja agar Steven dan yang lainnya makin bingung, aku ngomongnya dengan super cepat, dan untuk ke dua kalinya mereka terbengong, pantesan ayam tetangga banyak yang mati (tempat aku donk, tetangganya Nay kan aku. Ehhh nggax jadi ayam tetangga deh, kan sayang ayam aku, he he he ehem-ehem abaikan...) "nah, sekarang udah faham?" tanya ku, yang sempet pusing juga, aku ngejelasinnya kemana aja sich ne... setelah terdiam beberapa saat, mencarna ucapan aku, Steven dan mike langsung geleng-geleng dan herannya Nay juga ikut-ikut an.
"gue pusing..." kata Steven.
"ha?! masa' sih? gue udah capek-capek ngejelasinnya, e tapi di fikir-fikir gue juga makin bingung, gue juga ikutan pusing deh kayaknya..." balas ku sambil mikir, kira-kira tadi yang aku jelasin itu bener nggax ya??? #JELAS AJA SALAH DODOL. Yang bener itu dari mushala belok kiri. Jalan terus aja sampe ketemu simapang empat terus belok kanan. Nah abis belok kanan baru belok kiri. Ketemu rumah cat ijo milik pak RT. Nah, rumah lu pas didepannya >>> Ana ikutan koment.
"yeeee gimana sih??" balas Steven yang udah sewot banget.
"e nggax tau. bingung gue..."
"0 ia lah tu...."
"ya ampun, gitu aja kok repot. rumah Chelsy itu, no di simpang empat sebelum rumah gue, kalau dari rumah gue rumah pertama sebelah kiri" jelas Nay yang mungkin udah bosen topiknya itu-itu terus.
"0 jadi itu... bilang dari tadi kek"
"lho kan tadi udah gue jelasin, masa nggax ngerti juga"
"tapi prasan kalau dari mushala nggax ada belok-belokan lagi selain simpang empat yang di sana" fikir Steven sambil mengingat-ingat.
"ada kok"
"tapi barusan kita lurus aja, emang belokannya di mana?"
"eeemmm belokannya itu ya kerumah orang" jawab ku santai.
"ha?! jadi..."
"ya kan tadi gue bilang setelah ke kanan, ke kiri, kiri lagi, baru kekanan, jadi ya balik ke jalan lurus yang tadi. benerkan?"
"0 pantesana aja gue bingung"
"he he he sengaja" jawab ku sambil tersenyum bangga, seneng rasanya bisa ngerjain Steven.
"sudah lah jangan mempersulit keadaan" kata Steven, be-te kaleee, abis dari tadi kalah terus sich, he he he...aku gitu lho, mana bisa di lawan. abis itu kita ngobrol ngalor-ngidul, nggax tau ujung pangkalnya, dan sesekali tertawa. hingga akhirnya Steven dan mike pamit pulang.

Oke segitu dulu. Kita bersambung dulu ya.... bye bye,,.... ^_^

Cerbung "Rainbow After Rain ~ 9

Biarkan segala yang pahit berlalu , kerena bagaimanapun kau masih punya harapan di masa depan.


“Ayo masuk” ajak Naira Sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.
Untuk sejenak Steven masih merasa Ragu. Walau ia sudah sering mengantar, jemput Gadis itu untuk jalan bersama nya tapi tetap saja ini untuk pertama kalinya ia masuk kedalam rumah gadis itu yang ia tau pasti kalau hanya ada gadis itu yang mendiami rumah itu.
“Silahkan duduk dulu” Tawar Naira Lagi.
Steven membalas dengan anggukan sementara Naira menuju kearah dapurnya.
“Oh ya, kau mau minum apa?” terdengar suara bernada tanya.
“Tidak perlu repot – repot”.
Tidak terdengar jawaban, tapi lima menit kemudian Naira telah muncul dengan napan berisi dua buah cangkir.
“Maaf, Cuma Air doank. Sepertinya kemaren aku lupa mengisi kulkas di dapur”.
“Tidak masalah. Harusnya kau tidak perlu repot – repot. Justru sebaiknya kau banyak beristirahat. Walaupun kau sudah lebih baik namun tetap saja kau baru sembuh dari sakit” Steven mengingatkan.
Kali Ini Naira mengangguk sambil tersenyum. Untuk sejenak suasana sepi karena masing – masing berdiam diri. Entah kenapa sepertinya aura cangung masih meliputi keduanya.
“Oh ya, Ku ingin bicara”.
Susana kembali hening, Naira dan steven saling menatap saat menyadari kalau mereka mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan.
“Baiklah, Silahkan duluan”.
Untuk kedua kalinya mereka mengucapkan kalimat yang sama secara berbarengan.
“Soal kemaren aku minta maaf”.
“Soal kemaren Ku ucapkan terima kasih”.
Kali ini keduanya serentak tertawa karena lagi – lagi mengucapkan kalimat disaat bersamaan.
“Ehem, Soal kemaren aku mau bilang ma kasih karena kau sudah menyelamatkan aku. Yah menurut cerita suster katanya kau yang membawa ku kerumah sakit” Akhinya Naira kembali buka bicara setelah beberapa saat yang lalu mereka berdiam diri. Sengaja memberi kesempatan pada masing – masing untuk memulai bicaranya.
“Kau tidak perlu berterima kasih. Karena sejujurnya aku merasa lega karena akhirnya kau baik - baik saja” Balas Steven sambil tersenyum.
“Oh ya, Soal kejadian di rumah sakit aku minta maaf. Tidak seharusnya aku bertidak seperti itu” Sambung Steven lagi.
“Nevermind” Balas Naira lagi – lagi tersenyum.
“Tapi aku berharap untuk kedepannya kau tidak lagi menyembunyikan hal sepenting itu dari ku. Kau tidak tau kan bertapa khawatirnya aku saat melihatmu tak sadarkan diri selama beberapa hari”.
“He?” Naira menoleh, Menatap lurus kearah Steven yang juga sedang menatapnya.
“Dan jangan berfikir itu karena rasa bersalah”.
“Jadi?”.
“Tidak tau kenapa aku hanya mengkhawatirkanmu, Aku takut kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku takut untuk membayangkan kalau sampai ...” Steven tidak melanjutkan ucapannya karena ia merasa dadanya sendiri terasa sesak saat mengingat bayangan - bayangan yang menghantuinya selama beberapa hari yang lalu saat melihat Naira terbaring tidak berdaya.
“Kenapa?” Tanya Naira lirih.
“Kenapa kau terlihat Begitu mengkhwatirkan ku?” Tanya Naira lagi karena Steven masih tetap terdiam.
“Apa aku tidak boleh mengkhawtirkanmu?” tanya Steven balik sambil menatap Naira.
Gantian Naira yang terdiam tanpa kata. Lebih tepatnya tidak tau harus berkata apa.

cerpen rainbow after rain 9
Credit Gambar : Ana Merya

“Naira, kau bisa menemani ku tidak?”
“Kemana?” Tanya Naira sambil mebenahi buku – bukunya dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain digunakan untuk menempelkan handphon di telinganya.
“E..... Jalan – jalan”.
“Jalan jalan?” Tanya Naira lagi. “Nggak salah?” sambung nya saat matanya melirik jam yang melingkar di tangan. Hampir pukul dua. Lho, bukannya itu masih jam kantor ya?, pikirnya.
“Kenapa?” Steven balik bertanya.
“Bukannya kau masih harus kekantor ya?”.
“Ha ha ha, Kapan lagi aku bisa memanfaatkan statusku sebagai atasan”.
“Ck ck ck” Naira berdecak sambil mengeleng – geleng sendiri.
“Tapi kau mau kan?” Steven memastikan.
“Mau nggak ya?” Naira berusah mengodanya.
“Harus”...
“Ih kok gitu?”.
“Aku sudah ada di depan kampusmu ni”.
“Ha?. Jangan becanda”.
“Sampai bertemu”.
Dan naira belum sempat untuk membalasnya Steven sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telpon mereka. Mau tak mau Naira mempercepat langkahnya. Dan ia hanya mampu mengeleng tak percaya saat mendapati sosok berkaca mata hitam dengan kemeja kotak – kotak yang kini sedang berdiri bersandar di sebuah mobil silver dengan senyum di wajahnya. Membuat beberapa pasang mata kaum hawa menatap kagum padanya.
“Hay,,,...”
“Hay juga” Balas naira sambil melangkah mendekat sementar steven sendiri tampak membukakan pintu untuknya.
“Kita mau kemana?” tanya Steven kemudian.
“lho, bukannya kau yang berniat untuk jalan – jalan, kenapa malah balik bertanya”.
“Aku takut aku salah menentukan tempat”.
“Huwhahhahaha, maksutnya kau berniat untuk mengajaku memancing lagi?”.
“Hahahhaha, tentu saja tidak” steven ikut tertawa mengingat kejadian beberapa waktu silam.
“Ya sudah kalau begitu bagamana kalau kita nonton”.
“Ide bagus, oke deh kalau begitu” Balas Steven cepat tanpa perlu berfikir lagi.
Selesai menonton seperti biasa steven kembali mengantarkan Naira kerumahnya.
“Kau mau minum teh dulu?” Tanya Naira menawarkan.
“Jika kau tidak keberatan”.
Seulas senyum tersunging di sudut bibir naira sebagai jawaban.
“Oh ya, duduk dulu ya. Gue bikin air dulu”.
Steven hanya menangguk sambil melangkah kearah bangku. Matanya memperhatikan sekeliling. Saat mendapati album yang tergeletak diatas meja tangannya terger untuk meraihnya.
Tanpa sadar bibir Steven tergerak saat mendapati foto foto yang tertera di sana. Dimuali dari dua orang anak kecil yang terlihat lucu. Sepertinya itu foto naira dan kakaknya yang ia ceritakan dulu saat mereka berdua masih kecil. Foto berlanjut sampai mereka mulai tumbuh dewasa. Dan senyum di wajah Steven langsung berubah kaget sekaligus tak percaya saat mendapati sosok berseragam SMA yang ada di hadapannya. merasa masih ragu tangannya kembali tergerak untuk membuka lebar demi lembar berikutnya.
“Itu foto kak Nadira. Yang dulu pernah aku ceritain”.
Steven menoleh kaget saat mendapati Naira yang kini ada di sampingnya sambil meletakan napan diatas meja.
“Nadira?” Ulang Steven tercegat.
Naira mengangguk membenarkan.
“Tapi seperti yang sudah aku ceritakan, Bahwa dia sudah meninggal”.
Naira terdiam untuk sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya tanpa di tanya.
“Kangker. Sakit yang telah di fonis oleh dokter untuknya. Tapi aku justru tau setelah ia tiada. Setelah ia benar – benar pergi. Ia pergi dengan mengorbakan dirinya sendiri demi menyelamatkan orang yang ia cintai”.
“Maksutmu?”.
“Ia memberikan jantungnya untuk orang lain. Kau tau, memangnya di dunia ini siapa yang bisa hidup tanpa jantung?” Naira balik bertanya. Tapi steven tau pertanyaan itu tidak butuh jawaban.
“Kau tau orang itu?” tanya Steven setelah keduanya lama terdiam.
“Siapa?”.
“Orang yang kini memiliki jantungnya?”.
“Tidak dan aku tidak ingin tau”.
“Kenapa?” tanya Steven dengan nafas tercegat.
“Karena aku tidak mau membencinya walaupun jujur aku sangat ingin. Bisakah kau bayangkan, bagaimana mungkin Aku bisa membenci sesuatu yang begitu berarti bagi orang yang paling ku sayangi. Seseorang yang kematiannya paling tidak pernah ku inginkan dalam hidup?”.

Kisah Cinta Sederhana Part 2 Of 2

PS: Sebelumnya jangan lupa baca Part satunya ya?. Di Kisah cinta sederhana "aku mencintaimu" part 1 of 2

Kisah Cinta Sejati "Aku Mencintaimu"

"Disini aku masih sendiri
Merenungi hari - hari sepi
Aku tanpa mu
Masih tanpamu

Bila esok hari datang lagi
Ku coba tu hadapi semua ini
Meski tanpa mu, masih tanpamu"

"la la la la la la"
Sesekali mulut Fanya ikut bersenandung mengikuti lagu yang mengalun dari handset yang terpasang di telinganya sementara tangannya sendiri dengan terampil mencabuti rumput - rumput liar yang tumbuh diantara tanaman hias yang tumbuh di pelataran rumahnya.
Sebuah senyuman terukir manis di bibirnya setelah usahanya menyingkirkan tumbuhan perusak pemandangan, apalagi saat melihat bunga - bunga yang selama ini ia rawat mulai bermekaran. Mumpung libur ia memang sengaja berniat untuk membersihkan halamannya yang telah terlantar selama seminggu. Setelah dirasa beres ia segera bangkit berdiri namun hampir saja ia jatuh saking terkejutnya saat mendapati Sosok Ivang yang berdiri tepat di belakangnya.
"Astaga ivang. Loe pengen bikin gue mati muda ya?" Geram Fanya sambil mengusap dada.
"Ha ha ha, Jangan lebay. Sejak kapan loe menderita sakit jantung" balas Ivang sambil tertawa.
"Loe ngapain disini?" tanya Fanya dengan kening berkerut sambil mengamati penampilan Ivang dari ujung kepala samapai keujung kaki. "Mana rapi gila lagi, Keren" Sambung Fanya sambil menghirup udara disekelilingnya "Ah sama wangi juga".
"Hufh..." Bukannya menjawab Ivang justru malah menghembuskan nafas berat. Tanpa berkata ia segera bebalik menuju kearah bangku di bawah pohon mangga yang memang tumbuh di perkarangan rumah Fanya. Melihat ulah sahabatnya itu mau tak mau Fanya juga mengikutinya.
"Loe kenapa?" Tanya Fanya beberapa saat kemudian.
"Kencan gue batal".
"HA?".
"Bisa nggak si loe membuat ekspresi yang laen?" tanya Ivang tak bersemangat.
"Maksut gue kok bisa kencan loe batal?"  Tanya Fanya meralat.
Ivang Terdiam. Sama sekali tidak menjawab. Justru malah di keluarkannya Tiket nonton dari dalam saku celananya. Fanya ikutan terdiam sambil melirik ulah sahabatnya itu yang menurutnya terlihat menyedihkan.
"Padahal gue udah nyusun rencana untuk seharian ini" Ivang bergumam lirih.
"Ya udah dari pada mubazir gimana kalau loe ngajak gue aja?" tanyaFanya langsung.
"Sama loe?" ulang Ivang terlihat berfikir sambil menatap kearah Fanya. Kali ini fanya hanya membalas dengan anggukan.
"Boleh juga, Kalau begitu ayo kita pergi sekarang" Sahut Ivang terlihat bersemangat sambil bangkit berdiri.
"Ya ela, gak langsung sekarang juga kali. Gue ganti baju dulu. Masa loe keren gitu gue nya cuma pake kaos gak jelas gini" Ujar fanya mengingatkan. Gantian Ivang yang mengangguk sambil tersenyum membenarkan.
Dan tiga puluh menit kemudian keduanya sudah duduk bersantai di dalam mobil. Siap mejalankan acara kencan dadakan.

Credit Gambar : Ana Merya


Mengikuti rencana kencan yang sudah Ivang siapkan mereka langsung menuju ketaman hiburan. Fanya si setuju saja. Secara itu juga idenya dia kemaren saat ivang menanyakan tempat yang tepat. Ia juga menjawabnya secara refleks berdasarkan Drama - drama korea yang ia tonton. Dan kemaren juga ivang langsung menyetujui sarannya tanpa protes. Hanya saja yang tidak ia duga justru Ivang malah kencan bersamanya saat ini.
Selama di taman hiburan Fanya tak henti tertawa. Ia benar - benar baru menyadari kalau ivang adalah orang yang sangat menyenangkan. Bahkan setelah hampir sepuluh tahun ia mengenalnya. Hampir seluruh wahana permain di taman itu telah ia mainkan.
"Cape ya?" tanya Ivang saat keduanya duduk di salah satu bangku.
"Lumayan, Tapi ini benar - benar hari yang menyenangkan" Balas Fanya jujur.
"Tunggu disini sebentar".
"Eh loe mau kemana?" Tanya Fanya saat mendapati Ivang bangkit berdiri meninggalkannya. Namun ivang tidak menjawab ia hanya memberi isarat agar fanya menuruti apa yang ia katakan. Melihat itu fanya hanya angkat bahu.Lagi pula ia benar - benar lelah setelah tadi sempat berterik terika nggak jalas.
"Loe haus kan?. Ini buat loe".
Fanya menoleh kaget. Ia baru menyadari kalau ivang kini sudah berada di sampingnya sambil menyodorkan minuman dingin tepat di hadapannya.
"Ma kasih" Balas Fanya sambil meraih minuman itu dan langsung meneguknya karena kebetulan Ivang juga sudah membukakan untuknya.
 "Ah gue baru tau kalau ternyata loe itu baik juga. pengertian lagi" Kata Fanya setengah bercanda.
"Loe kan emang selalu terlambat menyadarinya".
"Ha?".
"Oh ya, abis ini kita mau kemana lagi" Ivang balik bertanya sambil mengalihkan topik pembicaraan.
"Kemana aja boleh. Gue si ngikut aja".
"Ya udah kalau gitu gimana kalau kita makan dulu, Gue baru nyadar kalau kita belum makan siang".
"Ah bener juga, Perut gue juga laper nie. Tadi pagi juga cuma sarapan nasi goreng".
"Ya udah kalo gitu. ayo kita cari makanan" Ajak Ivang sambil bangkit berdiri Dikuti Fanya disampingnya.
Selesai makan keduanya kembali melanjutkan acara kencan mereka. Setelah mengunjungi taman hiburan mereka jalan - jalan ke mall. Dilanjutkan dengan menonton.
Barulah saat hari sudah malam Ivang mengantarnya pulang.
"Loe tau, Seumur hidup mungkin ini adalah hari  yang paling menyenangkan" Kata Fanya saat Ivang mengantarnya pulang. "Ma kasih ya" Sambung Fanya tulus.
"Loe seneng?" tanya Ivang mengangapi.
"SANGAT" Fanya meyakinkan.
Ivang terdiam membuat Fanya ikut terdiam beberapa saat sebelum kemudian ia menyadari sesuatu.
"Oh, gue lupa. Maaf ya".
"Maaf?. Untuk?" tanya Ivang heran.
"Gue harusnya nggak boleh seseneng ini saat tau kalau loe justru lagi sedih karena kencan loe bersama gadis yang loe sukai gagal tapi loe malah terpaksa jalan sama gue".
"Gimana kalau gue bilang kencan gue berhasil".
"Ha?".
"Gimana kalau gue bilang hari ini gue berhasil mengajak orang yang selama ini gue suka jalan?. Gimana kalau gue bilang bahwa orang yang gue suka itu loe?".
Kali ini mulut Fanya terbuka tapi tanpa suara. Bahkan kata "Ha" sekalipun tidak mampu melewati kerongkongannya.
"Fanya, Gue Suka Sama loe" Tambah ivang lagi. Kali ini lebih terdengar tegas dan mantap.
"Kenapa harus gue?" tanya Fanya setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali.
"Karena cinta bukan Pilihan".
"Gue nggak bisa memilih sama siapa gue harus jatuh cinta. Semua itu terjadi dengan sendirinya. Hanya saja selama ini gue takut untuk mengungkapkannya. Karena gue tau kalau loe sama sekali tidak percaya akan cinta. Tapi kalau gue boleh berharap, Untuk kali ini aja loe mau mencobanya. Loe mau mencobanya bareng gue".
Lama Fanya terdiam sebelum kemudian Kepalanya mengangguk berlahan tak lupa sebuah senyum menghiasi bibirnya.
Hei, Walaupun cinta itu belum ada namun tiada salahnya untuk mencoba bukan ???....

End....

OKE, FINISH!!!!.... Wukakakka, gaje banget ya?... ha ha ha, maklum ini ide dadakan waktu dengerin lagunya Ayusita feat Raffi ahmad "Jangan bilang tidak". Nah sebenernya ku khusus ambil bagian Reff nya doank. yang pas bagian "Jangan bilang tidak bila kita belum mencoba, siapa tau akan sama hatiku dan juga hatimu".... huwahahaha #sarap....

Oke deh, biar afdhol, sekalian aja ku kasi lirik lagunya versy full...
Lirik lagu "Jangan bilang tidak"
By, Ayusita feat Raffi Ahmad

Ku pernah punya cinta, namun kini ku sedang suka kamu
Cinta ku dulu, tlah ku buang jauh. Kini ku ingin kamu

Ku pernah menyendiri, disini ku akan terasa sepi
Walaupun bibir penuh gelak tawa namun hatiku sepi

Jangan bilang tidak bila kita belum mencoba
Siapa tau akan sama hatiku dan juga hatimu
Banyak yang bercinta bertahun - tahun putus juga
Kuharapkan dengan dirimu walaupun singkat pendekatan
Cinta kita kan abadi

Ku pernah punya cinta namun kini ku sedang suka kamu
cintaku dulu tlah ku buang jauh kini ku ingin kau

jangan bilang tidak bila kita belum mencoba
siapa tau akan sama hatiku dan juga hatimu
Banyak yang bercinta bertahun - tahun putus juga
Kuharapkan dengan dirimu walaupun singkat pendekatan

Jangan bilang tidak waktu di cium aku bingung
Namun dada ini bergetar
Makanya sungguh aku mohon
Jangan bilang tidak....

Kisah cinta sederhana Part 1 of 2


Kisah cinta sederhana "Aku Mencintaimu"

 Selama ini aku tidak pernah percaya akan cinta
Menurutku cinta itu hanya lah omong kosong belaka.
Sebuah dongeng pengantar tidur anak kecil.
Sampai suatu ketika, aku merasakannya.
Sebuah kisah yang sangat sederhana...........



aku Mencintaimu
Credit Gambar : Ana merya

"Fanya!!!" Kata ivang setengah berteriak kearah Fanya, sahabatnya.
Ada apa?" tanya Fanya dengan raut kesel secara ivang Telah menganggu aktivitas nya menikmati kisah cinta antara "Mia dan Alex" di sunshinee becomes you.
"Lagi ngapain nie?" Tanya Ivang sambil duduk di samping Fanya. Sementara tanganya dengan santai meraih buku berkover warna Pink dari tangan gadis itu tanpa memperdulikan sedikit pun tatapan sebel yang di lempakan atas tindakan seenak jidatnya itu.
"Huwahahahha..... Loe baca novel cinta?. Gak salah?. Bukannya loe bilang loe nggak percaya sama yang namanya cinta ya?" tanya Ivang atau mungkin lebih disebut sebagai ledekan kali ya.
"Diem loe" Balas Fanya sewot sambil mengambil kembali buku miliknya.
"Mau ngapain loe kesini?" tanya Fanya sambil memasukan novel yang ia baca kedalam tas. Terpaksa ia harus menunda untuk menamatkan novel itu nanti malam.
 "Gara - gara gue sahabatan sama loe sepertinya gue ikut kena getahnya".
"HA?" Kening Fanya berkerut bingung. "Maksut loe?".
"Gue jatuh cinta".
"APA?, LOE JATUH CINTA SAMA GUE?".
"Pletak".
Sebuah jitakan mendarat di kepala Fanya.
"Jangan ngomong sembarangan" gerut Ivan sewot.
"JANGAN JITAK SEMBARANGAN" Balas Fanya tak kalah sewot.
"Makanya loe kalau orang ngomong tu di dengerin"
"Dasar loe nya aja kalau ngomong nggak jelas".
"Eh...".
"Udah lanjut, katanya loe jatuh cinta?. Sama siapa?. Terus apa hubungannya sama gue" Potong Fanya Cepat.
"E... Gue jatuh cinta sama cewek yang nggak percaya sama yang namanya 'Cinta" Terang Ivang lirih.
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik.....
"Wuakakakkakakka" Tawa Fanya meledak mengabaikan raut Ivang yang jelas - jelas kesel.
"Please deh Fan, Nggak ada yang lucu di sini. Lagian ini nggak akan terjadi kalau bukan karena gue deket - deket sama loe".
"Siapa bilang?. Justru ini tu lucu banget kali, masa loe jatuh cinta Gue yang di salahin. Hu".
"Lho gue beneran kan, karena loe nggak percaya sama cinta jadi gue yang kena imbasnya".
"ho ho ho, eits tunggu dulu. Ini maksunya, hubunganya dari mana?".
"Ya karena gue kenal sama loe, terus kita sahabatan, dan elo nggak...".
"Maksut gue, gue yang nggak percaya kenapa loe yang kena getahnya?" potong Fanya cepat.
"Nah itu dia kenapa gue kesini".
"Maksutnya?" tanya fanya heran.
"Loe harus bantuin gue dapatin tu cewek".
"Ha?".
"Iya, selama gue masih belum jadian sama 'Dia' loe harus bertanggung jawab!".
"HA?".
"Ish, dari tadi 'HA' mulu. Pokoknya loe harus bantuin gue. Titik".
"Sebelum titik adak komanya" Protes Fanya.
"Kalo titik pake koma jadinya titik koma.....".
"Hufh......... Oke, jadi intinya?".
"Intinya ada di tengah - tengah donat"Balas Ivang nggak nyambung, membuat Fanya memutar mata melihatnya.
"Donat apa yang pake inti?".
"Donat salah bikin".
"Jadi sekarang kita mo ngomongin donat nie?" tanya Fanya ngambek.
"Oh tentu saja bukan. Kita sedang ngomongin masalah pertanggung jawaban loe. Bahwa loe harus bantuin gue sampe gue bisa jadian sama cewek yang gue taksir itu".
"Kalo gue nggak mau?" tanya Fanya pura - pura menantang.
"Loe yang gue pacarin" balas Ivang santai.
"HA?".
"Ck, gue udah bilang nggak usah pake HA segala".
"Baiklah, jadi sekarang gue harus ngapain?" tanya Fanya ngalah.
"Ya elah dari tadi gue ngomong masa cuma muter - muter doank. Kan gue udah bilang loe harus bantuin gue".
"Iya tapi gue harus ngapain?".
"Itu dia yang gue bingung".
"Peletak".
Kali ini gantian sebuah jitakan yang mendarat di kepala Ivang.
"Membalas itu lebih baik dari pada tidak ada balasannya" Ujar Fanya cepat sebelum mulut ivang sempat terbuka untuk protes.
"Dan jangan temui gue apalagi sampe bilang gue harus bertanggung jawab kalo loe sendiri belum bisa menjawab pertanyaan tentang apa yang harus gue lakuin buat ngebantu loe" Sambung Fanya lagi. Tapi kali ini sambil bangkit berdiri.
"Gue mau kekekelas, kalau itu yang pengen loe tanyain" tambah Fanya saat melihat mulut Ivang yang terbuka untuk bertanya. "kalau loe mau ikut, silahkan. Kalau nggak juga terserah. Yang jelas " Fanya terdiam untuk sejenak sambil melirik jam yang melingkar di tangan "Sepertinya lima menit lagi kelas kita bakal di mulai deh".
Selesai berkata Fanya benar - benar berlalu. Untuk sejenak Ivang terdiam, merasa kagum akan sahabatnya yang tidak memberiknya sedikitpun kesempatan untuk berbicara. Namun pada detik berikutnya ia segera tersadar akan kalimat terakhir yang gadis itu ucapkan.
"Fanya, Gue jangan di tinggal" terik Ivang sambil berlari mengikuti jejak Fanya yang telah hilang dari pandangan.

Kisah cinta sederhana "Aku Mencintaimu"

Begitu Pak Rudi, Dosen sastra nya meninggalkan kelas, Fanya segera membereskan buku - bukunya. Begitu ia bangkit berdiri Ivang sudah berdiri di sampingnya.
"Gue udah tau caranya" Kata ivang langsung.
"Ha?" Tanya Fanya dengan tampang blo'onnya.
"Gue udah tau gimana caranya loe bantuin gue" terang Ivang lagi.
"O, emangnya gue pernah bilang kalau gue mau bantuin loe?".
"Jadi maksutnya loe mau jadi pacar gue. Ah, itu sudah lebih dari cukup dari sekedar membantu".
"Pletak"
Lagi - lagi sebuah jitakan mendarat di kepala Ivang....
"Astaga Fanya, sekarang gue tau kenapa sampe sekarang loe nggak pernah pacaran. Ternyata loe cewek jadi - jadian ya. Untung aja gue....".
"Loe barusan bilang apa?. Cewek jadi - jadian?".
"ehem... apa?. Nggak kok. Gue nggak bilang apa - apa " Ivang tersenyum kecut.
"Jadi?".
"Jadi?" ulang Ivang bingung.
"Astaga Ivang. Otak lu pentium berapa si?. Tadi katanya loe udah punya ide gue harus ngapain buat bantuin loe. Ya sudah, sekarang apa?" tanya Fanya setelah menghela nafas untuk sejanak.
"Oh iya. Hampir aja gue lupa. Jadi gini Gue ceritanya mau pedekate sama tu cewek. Tapi ya, gue kan belum berpengalaman. Jadi ya ah loe tau sendirilah".
"Gue nggak tau tuh" Balas Fanya santai.
"Iya deh, oke lanjut" Kata Fanya saat melihat tatapan tajam terjurus kearahnya.
"Gue jadi lupa. Sudahlah, lupain aja. Lagian sepertinya loe juga nggak tertarik. Pulang aja yuk" Kata Ivang sambil berjalan kearah pintu keluar. Mendahului Fanya yang masih berdiri terpaku.
"Eits tunggu dulu. Kok jadi loe yang ngambek si?. 
"Ivang, Udah deh. Loe nggak cocok ngambek" Kata Fanya sambil mengiringi langkah Ivang yang terlihat berjalan lebih cepat dari biasanya. Tapi ivang masih terdiam.
"Ivang..." Ulang Fanya setengah merengek.
"HAri ini loe buru - buru mau pulang nggak?".
"he?.. kenapa?".
"Temenin gue makan es cream yuk".
Ayuk" Balas Fanya cepat dan bersemangat begitu mendengar kata "ice Cream". Ivang hanya mengeleng - geleng kepala sambil tersenyum sipul. Ia tau, "Ice Cream" adalah kesuakaan gadis yang ada di hadapannya.

Kisah cinta sederhana "Aku Mencintaimu"

"Nyam.... Ice cream disini enak ya. Ah loe emang tau banget selera gue" kata Fanya sambil menikmati ice cream yang ada di hadapannya. Ivang hanya tersenyum menangapinya.
"Oh ya Fan, gue boleh nanya sesuatu gak?".
"Nanya apa?" tanya Fanya santai.
"Kenapa loe nggak percaya sama yang namanya cinta?".
Untuk sejenak Fanya terdiam "Mungkin karena sampe saat  ini gue belum pernah jatuh cinta _dalam arti yang sesungguhnya_ kali ya?".
Ivang mengangguk - angguk paham.
"Oh ya, kalau nggak salah denger tadi loe bilang cewek yang loe taksir itu juga nggak percaya sama cinta. Iya kan?".
Lagi - lagi ivang mengangguk.
"Kenapa?".
"Gue juga nggak tau" Ivang angkat bahu. "Munkin dia punya sejarah masa lalu atau munkin juga dia punya alasan yang sama kayak loe. Dia belum pernah merasakan jatuh cinta dalam arti yang sesungguhnya".
"O... gitu ya?". Gantian Fanya yang mengangguk.
"Jadi sekarang rencana loe apa?".
"Gue akan ngenalin dia akan apa yang namanya "Cinta".
"Ide bagus. Tapi Caranya?"
" Nah, besok kan kuliah libur. Jadi rencananya gue pengen ngajak dia jalan. Terus nonton. Kita makan. Yah intinya besok gue pengen ngajak dia kencan".
"Itu pinter. ya sudah, terus maslahnya apa?".
"Masalahnya gue nggak yakin dia mau".
"Ha ha ha... ayolah. Kita itu udah kenal berapa lama ha?. Sudah sepuluh tahun lebih kali. Dan gue tau banget kalau loe bukan type orang yang akan menyerah semudah itu. Jadi gue yakin kali ini loe pasti bisa".
"Loe yakin dia mau?" tanya Ivang ragu.
"Kalau loe yang ngajak 100%. Gue tau kok kalau biar jelek gini kan loe idola kampus kita" kata Fanya sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya. "Tapi ... e, 90% aja deh" Ralat Fanya sambil tertawa saat melihat tampang cemberut Ivang.
"huuuu".
"Eh, tapi ngomong - ngomong siapa si tu cewek. Perasaan gue nggak pernah liat loe deket sama cewek".
"Ada deh....".
"Ya, masa sama temen loe maen rahasia - rahasian. nggak seru banget si".
"Tenang aja, kalau sampe gue jadian sama dia, loe orang pertama yang akan gue kasi tau".
"Bener ya?".
Ivang tidak menjawab, Tapi jarinya terangkat membentu huruf "V".
"terus tadi kan loe bilang kalau seandainya loe jadian sama dia gue akan jadi orang pertama yang loe kasi tau, tapi kalau sampe loe nggak jadian sama dia loe bakal ngasi tau gue nggak?".
"Kalau soal itu kita liat aja entar".
"yah...........".

Kisah cinta sederhana "Aku Mencintaimu"

Bersambung dulu ya...... ha ha ha ha. secara nie cerita ngetiknya aja nyolong - nyolong waktu di tengah padatnya kerjaan yang numpuk.... Huwaaaaaaaaaaaaa# nangis kejer - kejer.
Yah, gak seperti biasanya si emang. Biasanya kan kalau ide dadakan pasti langsung ending tuh, nah ini juga harusnya gitu. Cuma sayangnya waktu buat ngetiknya beneran gak ada. Jadi lanjut entar ya. Tenang, ini cerita pendek kok. Kalau ide gak berubah cuma jadi dua part doank..... Doain ya, moga ada waktu buat ngetik... he he he..........
Oke, see you next part....

Cerpen "Rainbow after Rain ~08"


Masa depan itu memang PENTING, Tapi  hari ini juga BERHARGA!!!. #  Rainbow After Rain

Dengan berlahan Naira membuka matanya. Merasa sedikit silau mata itu kembali terpejam sebelum kembali di buka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit – langit yang berwarna putih, namun ketika menoleh kesamping matanya langsung bertubrukan dengan tatapan lega sekaligus cemas dari... steven?.
“Naira? Syukurlah, akhirnya kau sadar juga”.
“Aku dimana?” tanya Naira sambil mencoba untuk bangkit, tapi Steven sudah terlebih dahulu menahannya.
“Sebaiknya kau istriahat dulu. Sebentar lagi dokter kesini”.
Dan sebelum naira sempat berucap pintu kamar sudah terlebih dahulu terbuka diiringi dokter berseragam putih yang masuk kedalam.
“Syukurlah, masa kritisnya sudah lewat” Kata dokter itu setelah memeriksa keadaan Naira. Mendengar itu barulah Steven mampu menghembuskan nafas lega. Setelah berbicara beberapa saat Dokter itu kembali berlalu pergi , meninggalkan Steven dan Naira sendirian.
Suasana sepi dan hening. Steven juga sama sekali tidak berkata  apa – apa selain duduk diam di samping tempat tidur Naira. Naira sendiri juga tidak tau harus berkata apa. Entah mengapa ia merasa sangat kikuk.
“Huhf” terdengar Steven menghembuskan nafas berat.
Lelah, sungguh ia merasa sangat lelah. Tapi harus di akui olehnya bahwa pada saat bersamaan ia juga merasa lega. Lega karena akhirnya masa kiritis yang di alamai Naira beralu setelah sebelumnya selama tiga hari gadis itu sama sekali tidak sadarkan diri.
“Kenapa?”.
“He?” Kening Naira berkerut bingung. Sama sekali tidak mengerti arah dan tujuan pertanyaan yang Steven lontarkan untuknya.
“Kenapa kau tidak bilang kalau tubuhmu rentan terhadap hujan?”.
“Oh” Naira mengangguk paham. Sambil tersenyum ia menjawab “Maaf, sepertinya aku lupa”.
“Lupa?. Kau bilang lupa?. Bagaimana bisa kau melupakan hal sepenting itu?. Bagaimana bisa kau melupakan sesuatu yang jelas jelas bisa merengut nyawamu?. Apa kau tau bagaimana khawatirnya aku saat melihat mu terbaring kemaren?.  Bagaimana cemasnya aku saat tau kondisimu yang kritis dan tidak tau kapan kau akan sadar?. Dan...”.
Steven tidak melanjutkan ucapannya saat menyadari kalau ia terlalu antusias dalam mengucapkannya. Tapi entahlah, sepertinya saat itu ia memang sulit untuk mengontrol emosinya sendiri. Apalagi mengingat kondisi Naira kemaren.
“Maaf” Gumam Naira lirih. Steven masih terdiam sambil menunduk. Mencoba untuk meredam emosinya.
“Kau tidak perlu merasa bersalah. Kemaren itu sama sekali bukan salahmu” Sambung Naira lagi.
Steven mengangakat kepalanya. Menatap lurus kearah Naira yang kini juga sedang menatapnya.
“Bersalah?” ulang Steven.
“E...” Naira mengangguk membenarkan. “Kau sama sekali tidak perlu merasa bersalah karena kejadian kemaren. Karena aku sama sekali tidak menyalahkanmu”.
“Jadi menurutmu aku disini hanya karena merasa bersalah?” Tanya Steven lagi membuat Naira melemparkan tatapan bingung padanya.
“Jadi?” Naira masih tidak mengerti.
“Sudahlah lupakan....” Potong Steven. “Sepertinya aku terlalu lelah sehingga tidak bisa berfikir jernih. Jadi karena sepertinya kau juga sudah sadar dan tidak ada yang perlu di cemaskan lagi, aku pamit”.
Tanpa menunggu kalimat jawaban dari Mulut Naira, Steven telah terlebih dahulu bangkit berdiri dan berlalu pergi. Meninggal kan Naira yang tidak hanya bingung akan sikapnya tapi juga sekaligus kecewa mendengarnya. Tapi tetap, Naira sama sekali tidak mencegahnya. Ia merasa ia tidak memiliki alasan untuk itu.

Lama Steven terdiam di hadapan kamar rawat nomon 07. Ruang rawat dimana Naira di berada. Sekali dua terlihat ia menghela nafas. Entah mengapa ia merasa ragu untuk masuk sejak kejadian kemaren.
Ia sendiri juga bingung kenapa kemaren itu merasa sangat emosi saat mendengar tangapan Naira soal keberadaanya. Ayolah,.... kalau memang ia hanya merasa bersalah untuk apa ia berada di rumah sakit hanya untuk menunggui gadis itu sadar, bahkan ia sampai harus meninggalkan seluruh tugas kantornya. Tapi kalau di pikir – pikir lagi, kalau bukan karena merasa bersalah lantas alasan apa yang bisa ia pakai?.
“Hufh...” Untuk kesekian kalinya Steven kembali menghela nafas. Setelah meyakinkan dirinya diraihnya ganggang pintu. Siap untuk memutar knopnya ketika sebuah suara yang menyapa menyangagetkannya.
“Steven?”.
“Naira?. Apa yang kau lakukan di sini. Bukannya kau harus istirahat. Kau kan masih sakit?”.
“Aku baik baik saja” Potong Naira cepat. “Justru aku malah heran, apa yang kau lakukan dari tadi. Kenapa hanya berdiri disana?” Tambah Naira sebelum Steven sempat membuka mulut.
Steven tidak menjawab. Tapi matanya memperhatikan Naira dengan seksama. Sepertinya kondisi gadis itu memang sudah terlihat baik. Syukurlah, Perasaan lega menghampirinya.
“Sepertinya kau memang sudah terlihat lebih baik. Tapi tetap saja kau harus beristirahat, bukannya malah keluyuran” Sahut Steven sambil membukakan pintu untuk Naira.
“He” Naira terlihat tersenyum simpul sambil mengeleng. Membuat Steven mengerutkan kening heran.
“Justru tadi itu aku sudah mau langsung pulang kalau saja tidak sengaja melihat mu yang berdiri terpaku di sini”.
“Pulang?”.
Naira membalas anggukan membenarkan.
“Bukannya kau masih sakit. Bagaimana bisa dokter membiarkan mu pergi begitu saja?”.
“Ha ha ha, Kan aku udah bilang. Aku baik – baik saja”.
“Tapi kan....”.
“Kau bisa tanyakan langsung pada dokter kalau tidak percaya. Tapi selama kau bertanya, sebaiknya ku pergi saja. Jujur saja aku tidak betah berlama – lama di sini” Potong Naira Sambil bersiap berlalu.
“Tunggu dulu” tahan Steven sambil meraih tangan Naira.
“Kenapa lagi?” tanya Naira.
Untuk sejenak Steven terdiam. Matanya kembali memperhatikan Naira dengan seksama. Memastikan kondisi gadis itu sudah benar – benar membaik.
“Aku antar kau pulang”.
“Tapi...”.
Naira tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan yang Steven lontarkan. Entah mengapa melihat tatapan tajam itu membuat hati Naira luruh. Tanpa kata ia segera mengikuti langkah Steven yang membimbingnya menuju ke plataran parkir. Dimana sebuah mobil silver terparkir di sana.