Cerpen Cinta | Rainbow After Rain 03

Dalam hidup ini Kadang kita memang di haruskan untuk memilih,
Namun tetap saja tiada jaminan bahwa apa yang kita pilih akan menjadikan kita sebagai pilihannya.
#Rainbow After Rain
 Credit Gambar : Star Night
Naira segera mengemasi buku – bukunya. Bersiap untuk pulang. Untuk sejenak ia menoleh, menatap kearah sekeliling. Sedikit tersenyum simpul saat mendapati masing – masing teman – temannya melangkah keluar secara bersamaan atau pun berpasangan. Di helanya nafas secara berlahan sebelum kemudian bangkit berdiri. Sepertinya hanya ia yang melangkah keluar sendirian. Ia juga bingung, apa ia yang terlalu tertutup atau memang orang – orang di sekelilingnya tidak peka akan keberadaannya. Entah lah. Apapun itu intinya tetap sama. She’s Alone. Always....
Dari kampus Naira tidak langsung kerumah, langkahnya terhenti di sebuah kaffe. Tiba – tiba ia merasa begitu ingin menikmati Es cream. Sesuatu yang paling ia sukai saat ia merasa begitu jenuh.
Ditatapnya Es cream yang ada di hadapannya.
“Apa Kau masih akan menganggap ini sebuah kebetulan”.
Naira segera menoleh. Merasa heran sekaligus tak percaya saat mendapati Steven yang kini berdiri di hadapannya.
“Steven? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Naira tanpa menjawab pertanyaan steven justu ia malah balik bertanya.
“Aku boleh ikutan duduk di sini?” tanya Steven lagi.
Kali ini Naira hanya mengangguk sambil tersenyum mempersilahkan.
“Oh ya, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Naira mengulangi pertanyaannya beberapa saat kemudian.
“Tadi aku sedang makan di sana” tunjuk Steven kearah meja yang tak jauh di belakang Naira. “ Tak sengaja aku melihat mu yang masuk kesini. Ya sudah langsung saja ku hampiri. Aku tidak menganggu mu kan?”.
“Tentu saja tidak” balas Naira masih tetap melemparkan senyuman di bibirnya.
“Jadi bagaimana, apa kau masih menganggap ini sebuah kebetulan?” tanya Steven lagi.
Naira terdiam. Terlihat sedang berpikir, beberapa saat kemudian ia menganggukan kepalanya.
“Yups. Sebuah kebetulan. Kebetulan yang kebetulan terus belanjut”.
Mendengar kalimat yang di ucapkan Naira barusan membuat Steven tak mampu menahan tawa nya.
“Kebetulan yang terus belanjut?” ulang Steven. “Bukannya lebih mudah jika ini di sebut sebagai takdir?” sambungnnya.
“Tentu saja tidak” Balas Naira cepat. “Dalam hidup ini aku jarang mengunakan istilah yang tidak ku sukai”.
“Maksutnya?. Kau membenci takdir?” tanya Steven langsung.
Sebelum menjawab tampak sebuah senyuman terukir di wajah Naira.
“Apa menurutmu setiap kata ‘tidak suka’ itu sama artinya dengan benci?”.
“Mungkin tidak, tapi biasanya begitu”.
“Jadi kalau seandainya aku berkata bahwa aku tidak menyukaimu, kau akan langsung menganggap bahwa aku membencimu?”.
“Kau membenciku?” tanya Steven langsung membuat Naira menghela nafas untuk sejenak.
“Aku bilang seandainya”.
Steven tersenyum sekaligus mengangguk membenarkan. “Baiklah, kalau seandainya kau berkata bahwa kau tidak menyukaiku mungkin aku akan langsung mengira bahwa kau membenciku. Memangnya aku bisa menebak kemungkinan apa lagi” Terang Steven sambil menyerupus Capucino cincau pesanannya.
“Ya bisa saja. Misalnya, aku berkata aku tidak menyukaimu namun bukan berarti aku membencimu melainkan justru aku malah mencintaimu”.
“Uhuk uhuk uhuk” Steven langsung tersedak mendengarnya. Sementara Naira sendiri hanya mampu tersenyum canggung seolah baru menyadari kalimat yang baru saja di ucapkannya. Dalam hati ia terus merutuki diri sendiri yang kadang begitu ceplas ceplos.
“Ehem... Maksud aku. Itu kan hanya seandainya” Kata Naira sedikit salah tingkah.
“Oh iya, aku juga tau” Balas Steven tersenyum maklum. “Oh ya, kalau begitu apa aku  boleh tau apa yang tidak kau sukai?” Tanya Steven mencoba mencairkan kembali suasana yang terasa jangal.
“E, Aku tidak menyukai  sesuatu yang tidak bisa ku pilih” Balas Naira setelah berpikir untuk sejenak.
“Misalnya?” Tanya Steven lagi.
Tiba – tiba ia merasa sangat begitu menginginkan untuk mengenal sosok yang ada di hadapannya. Padahal selama ini ia termasuk kedalam kategori manusia yang tertutup. Tapi saat berhadapan dengan Naira, entah mengapa semuanya jadi begitu berbeda. Ada dorongan yang memaksanya untuk lebih mengenali gadis itu.
“Takdir”.
“Kau tidak mempercayai takdir?” tanya Steven lagi.
 “Tidak, bukan. Maksud ku bukan aku tidak mempercayainya. Hanya aku tidak suka pengunaan kalimatnya. Karena menurut ku takdir adalah suatu hal yang tidak bisa di hindari. Berbeda dengan kebetulan. Lagi pula, masih menurut ku, takdir itu pasti selalu berkaitan dengan hal – hal yang buruk. Karenannya aku tidak mau mengunakannya secara sembarangan”  Terang Naira.
“Buruk?. Maksudnya?”.
Untuk sejenak Naira menghela nafas sebelum menghembuskannya dengan berlahan. “Kau pernah kehilangan seseorang yang kau sayangi?” tanya Naria.
Walau bingung Steven mengangguk.
“Kau akan menganggap itu takdir atau kebetulan?”.
“Tentu saja takdir”.
“Sama. Aku juga menganggapnya takdir. Dulu aku pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang kepergiannya sangat tidak pernah ku ingin kan dalam hidup. Aku tidak bisa memaksanya untuk tetap tinggal ,  karena takdir tidak bisa kita pilih bukan?. Justru ia yang telah menetapkan pilihannya. Berbeda dengan kebetulan. Misalnya tadi saat kau melihat ku dan datang menghampiri, Kalau aku mau aku bisa saja menolakmu atau aku yang pergi. Hei, itu masih bisa di pilih bukan?”.
Steven tampak mengangguk – angguk paham. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan?.
“Oh ya, Selain takdir apa lagi?”
Naira terdiam. Tidak langsung menjawab. Ditatapnya wajah Steven yang kini juga sedang menatapnya.
Cinta”.
Steven mengernyit heran. Merasa sedikit tidak yakin akan apa yang baru saja di dengarnya.
“ Sama seperti takdir, cinta juga tidak bisa untuk kita tentukan bukan. Kita tidak bisa menentukan siapa orang yang harus kita cintai. Semuanya terjadi dengan sendirinya”.
“Apa kau juga menganggap cinta selalu berkaitan dengan hal buruk dalam hidup mu?” tebak Steven lagi.
Walau bingung Naira tetap mengangguk. Sementara Steven justru terlihat menghela nafas berat. Entah kenapa ia tiba – tiba merasakan perasaan kecewa.
“Cinta sangat sulit untuk di pahami bukan?. Misalnya, Demi orang yang di cintainya, kakak rela mengorbankan hidupnya sendiri. Namun justru karena ‘Cinta’ Hubungan mama sama papa malah berantakan. Aneh bukan?”.
“Berantakan?. Maksudnya?”.
Naira menunduk sejenak baru kemudian kembali menoleh kearah Steven. Melemparkan sebuah senyuman di bibir sebagai jawaban. Steven kembali terdiam. Menyadari gadis itu tidak berniat untuk menerangkan lebih jauh. Walau bagaimana pun mereka baru saling mengenal. Dan sepertinya itu masalah pribadi gadis itu, walau jujur Steven benar – benar ingin mengetahuinya. Dari nada bicara Naira ia menyadari ada begitu banyak luka di dalam nya. Dan kesadaran baru timbul, saat ini dan mungkin untuk selanjutnya ia begitu ingin melindungi gadis itu yang bahkan baru di kenalnya belum mencapai seminggu yang lalu.
“Oh ya, Besok kebetulan hari minggu. Apa kau ada acara?” tanya Steven mengalihkan pembicaraan.
“E... besok ya. Sepertinya tidak.  Kuliah juga libur. Kenapa?”.
“Kau mau menemaniku jalan?”.
“Ha?” Naira mengernyit heran.
“Apa kau sedang mengajak ku untuk kencan?” Sambung Naira setengah bercanda. Matanya langsung membulat saat melihat Steven mengangguk kan kepala mantab.
“Itu pun jika kau tidak keberatan. Jadi kau mau kencan dengan ku kan?”.
Naira Terdiam. Tidak tau harus berkata apa. Untuk sejenak suasana hening. Dan.....
Bersambung……….


EmoticonEmoticon