Cerpen Remaja "Rainbow after rain 04"


“Menulis, Hal yang paling ku sukai dalam hidup.
Kau Ingin tau kenapa?.
Karena  dengan menulis ,  mungkin aku masih bisa hidup sedikit lebih lama”
#Rainbow After Rain

Apa ia gila?. Sepertinya tidak. Hanya saja apa ada alasan yang masuk diakal untuk menerima ajakan kencan dari seseorang yang bahkan baru ia kenal selama tidak kurang dari tiga hari yang lalu?. Tapi entahlah, sepertinya Naira juga tidak terlalu memfikirkannya. Lagi pula tiada jaminan bahwa orang yang telah lama kita kenal bisa di percaya bukan?.
Setelah terlebih dahulu mengunci pintu rumahnya Naira segera melangkah keluar dimana tampak di depan rumah mobil Steven telah terparkir di sana. Senyum di wajah Naira mengembang saat melihat Steven yang kali ini, kalau ia boleh memuji terlihat lebih keren dengan setelan yang di kenakannya.
“Sudah siap?” tanya Steven memastikan. Kali ini Naira hanya membalas dengan anggukan. Tak lupa sebuah senyuman masih tetap bertenger manis di bibirnya.
“Memangnya kita akan kemana?” tanya Naira setelah mobil berjalan.
“Kau ingin aku yang menentukan tempatnya atau kau sendiri yang akan memilih?” Steven memberikan penawaran.
“Karena kau yang mengajak, seharusnya kau sudah punya rencana bukan?” Naira membalas pertanyaan.
“Baiklah jika begitu. Kuharap Kau tidak akan merasa bosan nantinya” .
“Memangnya kita mau kemana?” tanya Naira lagi.
Steven tidak menjawab, hanya senyuman yang terukir di bibir sebagai jawaban.

 Credit Gambar : Star Night
Cerpen Remaja : Rainbow After Rain
Sesekali Naira melilirik kearah Steven atau pun Genangan air yang ada di hadapannya. Bosan?. SANGAT!. Ia sama sekali tidak habis fikir. Orang seperti apa yang berani mengajak ‘kencan’ namun kenyataannya hanya duduk terdiam menanti ikan – ikan bodoh yang akan memakan umpan di kailnya.
“Sepertinya  kau merasa bosan?”.
Mendengar kata tanya dari sosok yang duduk disampingnya Naira menoleh.
“Baiklah, karena aku bukan tipe orang yang suka berbohong bahkan hanya untuk menyenangkan hati orang lain maka aku akan menjawab ia. Aku memang merasa sedikit bosan” balas Naira mencoba tetap tersenyum.
“Maaf, ku pikir kau suka. Soalnya bila aku merasa Jenuh biasanya aku akan menghabiskan waktu dengan memancing. Menurutku ini benar – benar menghibur”.
Naira benar – benar harus menahan diri untuk tidak memutar mata mendengar alasan yang Steven lontarkan. Sambil tetap menjaga sikapnya Naira kembali berujar.
“Tapi saat ini kau kan tidak sedang merasa jenuh kan”.
“He?” sebelah alis Steven terangkat.
“Kalau kau memang sedang merasa bosan, mana mungkin kau mengajak ku” Balas Naira meralat. Seolah mengerti maksud raut bingung yang tergambar di wajah Steven.
“O kau benar. Sebenarnya tadinya aku hanya berniat untuk membuat mu merasa apa yang kurasaakan saat memancing. Karena menurutku ini merupakan keasikan tersendiri”.
“Kalau begitu aku minta maaf. Karena sejujurnya menurutku ini memang benar – benar membosankan” Sahut Naira jujur walau tak urung merasa sedikit bersalah. Mungkin saja Steven kecewa atas jawabannya.
“Kau tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku menanyakan pendapatmu dulu tadi. Tapi ya sudah lah, tidak perlu di permasalahkan lagi. Kalau begitu mending sekarang kita ganti tempat saja. Kali ini kau yang menentukan”.
“He?” Naira bingung, Steven justru hanya angkat bahu.
“Tapi sebelum itu, bagaimana  kalau kita makan dulu. Sepertinya ini juga sudah siang” Tambah Steven sambil melirik jam yang melingkar di tanganya. Pukul 11 lewat 15. Menyadari hal yang sama, Naira membalas dengan anggukan setuju. Keduanya segera beranjak bangun.
Begitu mendatangi salah satu rumah makan yang terlihat enak mereka segera memesan makanan masing- masing. Sambil menikmati hidangan keduanya tetap mengobrol.
“Jadi kamu masih kuliah dan ini sudah masuk ke smester akhir?”
Naira mengangguk membenarkan. “Yah mungkin masih sekitar 5 bulanan”.
“Ehem, Naira maaf jika kamu nantinya malah menanggap aku ini orang aneh. tapi sejujurnya entah mengapa saat ini aku benar – benar ingin mengenal mu lebih jauh”.
“Ha?” Naira mendongak, menatap heran kearah Steven yang kini juga sedang menatapnya. Dan naira sama sekali tidak menemukan aura kebohongan dari sepasang mata tajam itu.
“Ehem, Memenuhi ajakan kencan yang bahkan baru di kenal dalam waktu tiga hari tidak kah membuat mu berpikir aku ini wanita aneh?” Naira balik membalas dengan pertanyaan. Mendengar hal itu, mau tak mau membuat steven tersenyum.
“Kalau begitu kau tidak keberatan kan sekiranya aku bertanya sedikit banyak tentang mu?”.
“Tergantung pertanyaannya. Selama itu masih hal yang wajar, aku akan dengan senang hati menjawabnya. Tapi yah jika tidak....” Naira tidak melanjutkan ucapannya. Hanya kedua bahunya yang terangkat cukup untuk mengantikan.
“Kau ingin bertanya apa, munkin sekiranya kau tidak keberatan kita bisa saling mengenal. Maksut ku bukan hanya kau yang ingin mengetahu tentang diriku” Tambah Naira lagi.
“Aku suka memancing, tapi kau malah menganggapnya sebagai hal yang membosankan. Kalau begitu hal apa yang paling kau sukai untuk di lakukan?”.
“Menulis” Balas Naira cepat sekaligus penuh keyakinan.
“Oh ya, kenapa?”.
Karena dengan menulis mungkin aku bisa hidup sedikit lebih lama”.
Naira mengernyit heran saat telingannya menangkap dentingan sendok yang beradu dengan piring. Begitu ia menoleh kearah Steven rasa herannya naik satu tingkat. Tatapan pria itu terarah lurus kearahnya. Membuatnya tiba – tiba merasa ganjil.
“Kenapa?” tanya Naira lagi.
“Apa maksut ucapan mu barusan?” tanya Steven tajam.
“Ha?. Kenapa?” tanya Naira lagi.
“Kau berkata seolah – olah kau akan pergi saja”
Naira terdiam, mencerna apa yang steven katakan barusan.
“Jadi itu maksutnya?. Kenapa kau bisa menebaknya dengan tepat sementara aku tidak. Apa mungkin aku memang sebodoh itu” Gumam Naira lirih dengan kepala menunduk dalam.
“Apa?. Maksut mu kau benar – benar akan pergi?” tanya Steven terlihat kaget.
Segera di arahkannya pandangannya kearah Naira yang tampak sedang memandang ke arah kejauhan. Tanpa perlu di beri tahu steven dapat merasakan ada kepedihan dalam tatapannya. Tiba – tiba saja ia merasa tak bernapsu lagi untuk menikmati pesanannya. Ayolah, ini bukan sebuah kisah sinetron di mana tokoh utamanya sakit kemudian pergi meninggalkan pasangannya sendirian. Namun, bukannya ini juga dunia cerpen. Setiap hal selalu ada kemungkinan di dalamnya bukan?... ^_^
To be continue....

2 komentar

ini komentar pertama sebelum menyimak dan membacanya.
SEBELUMNYA salam kenal dulu
TERAKHIRNYA entaran ya. hehe

Tunggu komentarku yah ttg ttulisanmu ehehe
saran dan kritik yg mmbgun kok :D

bagus ceritanya :)

oya numpang share ya, dan kunjungi jg http://venti-sayang.blogspot.com/2013/05/galau-bikin-manusia-tidak-jelas.html
mohon bantuanya untuk ninggalin komentar jg terima kasih


EmoticonEmoticon