SongFic | Aku Masih Mencintamu

Tuing tuing tuing, eh songfic lagi. Tau nie napa sama imagi ku, baru denger lagu aja nie jari langsung ‘menari’ diatas keyboard. Ha ha ha. Nah kalau yang kemaren kan “SongFic aku masih menunggumu” kali ini “Songficaku masih mencintamu”. Nyambung ya?. Ia dunk, kan kisah ku #plaks…..
Ehem, gimana ceritanya?, langsung baca aja yuk. Oh ya, setelah di baca jangan lupa ninggalin jejaknya ya. Ya minimal di ‘like’ lah.
& than , Happy reading!!!.
Rasa takut kehilangan mu
Kini menjelma menjadi nyata
Ku tak bisa menghindar
Mungkin cinta ku tlah usai


Songfic Aku masih mencintamu
 Credit Gambar : Star Night

“Mbak, mie so satu, es Rumpu lautnya dua sama baksonya satu. Tapi baksonya jangan di kasi bawang goreng sama mie nya ya mbak” Kata Andra menyebutkan persanannya kearah pelayan kantin kampus.
“Loe tau aja selera gue” kata Ira sambil tersenyum.
“Iya donk. Gue kan tau banget kalau loe suka sama mie so dan es rumput laut” balas Andra sambil tersenyum. Ira hanya mengangguk membenarkan.
Tak berapa lama Pesanan mereka datang. Keduanya segera menikmati dengan sesekali di selingi canda tawa seperti biasanya. 

  
“Ira, loe tau nggak si?. Andra itu deket sama selvina”.
“Gue nggak percaya” Bantah Ira untuk kesekian kalinya setelah Ardi kembali mengatakan kalimat dengan maksud yang sama. Yah walau pun gosip itu selama ini sudah menyebar , tapi ia memang sengaja menutup telingannya rapat – rapat. Toh ia tidak pernah melihatnya langsung. Jadi bisa saja itu hanya kabar burung semata.
“Kalau gitu, sekarang coba loe liat itu”.
Ira menoleh. Menatap lurus kearah telunjuk Ardi. Hatinya mencelos. Sakit saat pandangannya mendapati Andra dan Selvina yang kini tampak sedang duduk berdua di salah satu bangku di depan kampus dengan tetawa bahagia. Tiba – tiba matanya terasa memanas. Jadi gosip itu bener?. Dengan lemah ia berbalik pergi. Menjauh dari apa pun yang ada di hadapannya. Tapi sebuah tangan telah terlebih dahulu mencekalnya.
“Itu bukan Cuma gosip semata bukan?. Sekarang loe taukan, kalau Andra tidak benar – benar mencintaimu. Baiklah, mungkin di memang mencintaimu, tapi itu dulu. Sebelum selvina muncul dan merubah semuanya” tambah Ardi berusaha menyadarkannya.
Untuk sejenak Ira menghela nafas. Di tepisnya tangan Ardi sebelum kemudian melesat pergi. Terserah kemanapun.

Kata maaf tak bisa menebus
Atas satu khilafku padamu
Kau merasa di hianati
Kau putuskan untuk pergi

Tanpa menoleh kekiri dan kanan Ira terus melangkah. Mengabaikan semua hal yang ada di sekelilingnya. Bahkan mengabaikan teriakan Andra yang kini tampak berlari mengejarnya yang memang sudah melangkah duluan.
“Hei, loe kenapa si?. Masa gue di tinggal. Hu...” tanya Andra setelah berhasil mensejajarkan langkahnya.
“Ira, loe baik – baik aja kan?” tambah Andra.
Kali ini dengan raut wajah serius saat mendapati tiada reaksi yang berarti dari ira. Gadis itu tetap melangkah dengan tatapan kosongnya. Tak ingin terlalu larut dalam kebingungan, Andra segera mencekal tangannya. Memaksa gadis itu untuk menoleh kearahnya.
Walau berusah untuk melepaskan diri pada awalnya namun akhirnya Ira lebih memilih menyerah. Tidak munkin ia bisa melepaskan cekalan kekar sosok yang di hadapannya.
“Kenapa?” tanya Ira dengan pandangan lelah.
“Justru gue yang mau nanya. Loe kenapa?” Andra balik bertanya. Merasa  khawatir sekaligus bingung  . Membuat ira merasa ragu untuk melanjutkan rencana yang sudah ia pikirkan sejak dua jam yang lalu setelah ia memergoki ke akraban Andra yang notebene nya adalah kekasihnya dengan Si selvina. Mahasiswi transferan di kampus mereka sejak dua bulan yang lalu.
“Gue cape. Gue merasa sangat lelah”.
“Cape?. Oke ya sudah kalau gitu. Sekarang juga ayo kita pulang. Gue langsung anterin loe pulang” Kata Andra cepat.
Tanpa melepaskan gengaman tanggannya ia segera melangkah menuju ke parkiran. Tapi saat mendapati Ira yang sama sekali tidak beranjak membuatnya kembali menghentikan langkahnya.
“Maksut gue, gue merasa lelah sama hubungan kita”.
“Apa?. Maksut loe?” tanya Andra makin bingung.
“Gue mau kita putus”.
Gengaman Andra langsung terlepas. Mulutnya terbuka tanpa suara. Ia benar – benar tidak yakin akan apa yang di dengarnya barusan. Ira, gadis yang sudah menyandang status ‘pacar’ nya sejak tiga tahun yang lalu tiba – tiba mengatakan hal yang sangat di luar pikiran.
“Leo bercanda kan?” tanya andra kemudian. Mengharap kan kata tidak dari gadis itu, namun justru anggukan yang ia dapatkan sebagai jawaban.
“Tapi kenapa?” tanya Andra lagi.
Mulut Ira terbuka, tapi tiada suara yang keluar dari sana. Lidahnya tiba – tiba terasa kelu. Ia sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan. Putus?. Bodoh, itu bunuh diri sebenernya. Tapi  mengingat apa yang ia lihat tadi sepertinya ini memang keputusan yang terbaik. Dari pada ia merasakan lebih sakit lagi saat Andra yang memutuskannya untuk pergi kepelukan gadis lain. Lebih baik ia yang memutuskannya. Toh pada akhirnya semua akan tetap sama. Lagipula Bukan kah pepatah bilang. Lebih cepat lebih baik?.
“Gue harus tau alasannya” kata Andra tegas. Tak ingin melepaskan apa yang menjadi haknya dengan begitu saja. Apalagi melepaskan satu – satunya gadis yang ia cintai.
“gue...”.
“Ira” sebuah teriakan menginterupsi keduanya. Refleks Andra menoleh. Merasa heran saat mendapati  Ardi yang kini tampak melangkah menghampiri.
“Ira, kok loe di sini. Tadi katanya loe mau pulang bareng sama gue. La gue jemput kekelas loe eh malah udah kosong. Gimana si?” cerocos Ardi langsung. Tak menyadari tanggan Andra yang terkepal erat sambil menatap tajam kearahnya.
“Jadi kok. Sory tadi gue lupa” balas Ira sambil berusaha menyungingkan senyum di wajahnya.
 Melihat hal itu membuat Hati Andra mencelos. Merasakan rasa sakit yang berkali lipat dari kata ‘putus’ yang ia dengar beberapa saat yang lalu. Kini sebuah Pemahaman baru terlintas di kepalannya. Jadi ini alasan gadis itu.
“Andra, maaf gue...”.
“Oke, kalau memang itu mau loe. Gue setuju, mulai sekarang. Detik ini juga kita putus” potong Andra cepat
Selesai berkata Andra segera berbalik. Sama sekali tak ingin menoleh lagi. Ia tidak yakin jika ia menoleh ia akan rela melepaskan semuanya.

Ku coba tersenyum saat kau pergi
Meski lara hati menagis melepasmu
Andaikan kau tau
Betapa aku masih mencintamu

Ardi berdiri kakau saat melihat adegan yang terjadi di hadapannya. Mulutnya terbuka tanpa suara. Ditatapnya punggung Andra yang semakin menjauh. Dan saat perhatiannya teralih kearah ira, ia hanya mampu menghela nafasn . Tangannya secara refleks terangkat. Menarik gadis itu kedalam pelukannya. Membiarkan air mata tumpah membasahi bahunya. Hatinya juga ikut merasakan sedih saat menyadari seseorang yang sudah di anggapnya seperti adik kandungnya sendiri terluka seperti itu.
“Ira, loe baik – baik saja kan?” tanya Ardi beberapa saat kemudian saat Ira melepaskan pelukannya.
Mencoba tersenyum walau pahit mulut ira terbuka “Mungkin belum. Tapi gue pasti akan baik – baik saja”.
Ardi terdiam. Tidak membantah namun juga tidak membenarkan. Sekali lagi di perhatikannya gadis yang kini berada di hadapannya. sementara yang di tatap justru sama sekali tidak menyadari. Matanya terus terarah lurus kearah sosok yang semakin menjauh dari pandangan. Sosok yang beberapa menit yang lalu masih berstatus sebagai ‘pacar’.
Jika menurutkan hatinya, ingin sekali ia berlari memeluk pria itu. Mengatakan bahwa ia sangat ingin sekali menarik kembali ucapannya. Mengatakan bahwa ia masih sangat mencintainya. Tapi sepertinya itu mustahil. Sebagian hatinya menahannya. Mengatakan padanya bahwa ini adalah yang terbaik. Terbaik untuk semuanya.....

Ingin rasa nya aku memelukmu
Untuk terakhir kali sebelum engkau pergi
Namun ku takut tak mampu
Menahan air mataku.


EmoticonEmoticon