Songfic | Aku Masih Menunggumu

Songfict
Aku Masih Menunggumu
Ehem, bukannya melanjutkan ke’Tiga’ cerpen yang di targetkan eh malah bikin cerpen baru yang benar – benar ancur atau apa lah. Terserah pendapat kalian yang mo membacanya. Nggak ada ledekan udah termasuk untung lah tu. Satu lagi, ini songfic pertama ku lho #promosi.
Oh ya, ini cerpen khusus di buat untuk seseorang yang yakin seribu persen mungkin tidak akan membacanya maka dari itu Aku berani untuk menuliskannya. Lagian kerajinan banget orang kayak kamu mo baca cerpen.  Wkwkwkwk
Terakhir, Silahkan di baca bagi yang tidak mengharapkan cerita bagus. He he he



Credit Gambar : Star Night

Disini aku masih sendiri, Merenungi hari – hari sepi
Aku tanpa mu masih tanpamu. Bila esok hari datang lagi
Ku coba tuk hadapi semua ini, Meski tanpamu meski tanpamu

Sepulang Kuliah, Naya segera masuk kedalam kamar , begitu ganti baju dengan setelan rumah ia segera keluar, menyantap makan siang yang sudah di siap kan bik inah. Pembantu di rumah nya. Suasana rumah sepi, sepertinya Bik inah juga tidak ada dirumah. Mungkin menjemput anak nya disekolah. Entahlah, Naya juga tidak tertarik untuk memikirkannya.
Selesai makan naya segera kembali masuk kekamar sambil tiduran diatas ranjang. Angannya melayang mengingat pembicaraannya dengan kedua sahabat kembar beda emak beda bapak , si Desta dan Desti tadi di kampus #tadinya mo ku bikin si Jenny sama si octa, tapi gak jadi. Kalo dari namanya entar jadi bingung mana yang cewek mana yang cowok. Hi hi hi *peace
“Naya, kenapa si sampe sekarang loe nggak pernah mau pacaran?” tanya Desta sambi menikmati es sirup Pesanannya.
“Iya, gue juga heran. Sudah hampir tiga tahun kita saling mengenal, Yah terhitung sejak pertama kita masuk kampus ini. Tapi sampe sekarang gue nggak pernah lihat loe jalan bareng cowok” Desti Menimpali.
 “Tau, tanya kan saja sama rumput yang bergoyang” Ujarnya cuek.
“Ish, dia malah sok puitis” Desti mencibir sinis.
Naya hanya angkat bahu sambil mengaduk – aduk capucino cincau pesanannya. Sementara Desta Geleng – geleng kepala. Tidak berniat untuk melanjutkan Pertanyaannya walau tak urung ia masih merasa heran.
Tak ingin terlalu larut memikirkannya, Naya lebih memilih memejamkan mata. Menikmati tidur siang.

Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersama ku disini
Kudapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan

Dengan santai Naya terus melangkah menuju kekelasnya. Mengabaikan kenyataan kalau beberapa menit yang lalu untuk kesekian kalinya ia lagi – lagi menolak tawaran menjadi ‘pacar’ dari sekian banyak orang – orang yang menyatakan cinta padanya. Sementara di samping kiri dan kanan tampak Desta dan Desti yang berjalan mengiringi. Sesekali Desta dan Desti saling melirik bingung.
“Kalian berdua kenapa?” tanya Naya beberapa saat kemudian setelah sebelumnya berhasil menangkap basah ulah kedua sahabatnya.
“Kita kenapa?. Justru kita yang mo nanya, loe kenapa?. Kemaren dulu, di ody loe tolak. Terus si Dion juga bernasip sama. Aldi juga nggak kalah beda. La barusan Si Risky. Padahal dia termasuk cowok inceran anak kampus kita lho. Ck ck ck, loe masih normal kan?. Maksut gue, loe masih suka sama cowok kan?” Tanya Desti sambil menatap Naya.
“Sialan loe. Ya iya lah gue masih suka sama cowok. Enak aja. Lagian mana ada sejarahnya nggak pacaran = nggak suka sama cowok. Ada – ada aja loe ini” Gerut Naya sebel.
“Ya, kalau gitu kasi kita alasan yang jelas kenapa loe nolak mereka terus?” kejar Desta menimpali.
Untuk sejenak Naya menarik nafas sebelum kemudian menjawab.
“Mungkin gue belum ketemu orang yang pas aja kali. Yang bener – bener membuat gue merasa sreg”.
“Tapi emangnya loe nggak merasa risih sama gosip yang selama ini beredar. Jangan pura – pura nggak tau kalau selama ini banyak anak – anak yang bilang kalau loe itu cewek sombong. Kuping gue aja udah panas waktu denger cerita yang enggak – enggak soal loe” Kejar Desta disusul anggukan membenarkan dari Desti.
Bukannya kesel Naya malah tersenyum mendengarnya. Setelah terlebih dahulu menghela nafas untuk sejenak mulutnya berucap.
“Kenapa gue harus risih. Setiap orang punya hak nya masing – masing untuk berpendapat. Tak terkecuali mereka. Lagi pula gue kan masih punya Kalian. Sahabat terbaik gue. Yang selalu ada disamping gue layaknya bintang dan selalu menerangi layaknya mentari”.
“Jiah, dia sok puitis lagi. Capcus aja deh” Kata Desta sambil melangkah cepat, diikut Desti yang ngekor di belakang. Gantian Naya yang mengeleng kepala, heran dengan ulah keduanya. Tanpa banyak kata atau berfikir lebih lanjut segera di susul keduanya. Kembali melangkah menuju kekelas yang sepertinya sudah di mulai 15 menit yang lalu.

Suara dengarkanlah aku ,Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya, Masih berharap didalam hatinya
Suara dengarkanlah aku ,Apakah aku selalu di hatinya
Aku disini menunggunya, Masih berharap didalam hatinya

“Sejarah bangsa ini di mulai dari... bla bla bla”.
Naya sama sekali tidak mendengar penjelasan panjang lebar Bu Talita di depan. Angannya melayang entah kemana. Terutama tentang hidupnya.
Soal gosip tentangnya. Bohong banget kalau ia tidak menyadari atau pun merasa risih dengan kabar – kabar negatif yang beredar tentangnya. Tapi soal kedua sahabatnya yang selalu ada untuk nya memang benar. Dan mengenai masalah ‘pacar’ , Ehem, sepertiny ia punya alasan tersendiri untuk itu.
Apakah karena hatinya belum terbuka untuk cowok – cowok yang selama ini menembaknya. Ho  ho ho, ternyata bukan. Justru hatinya telah tertutup rapat karena seseorang yang telah terlebih dahulu memasukinya. Seseorang yang dulu selalu mengisi hari – harinya. Yang menjadi pujaan hatinya. Yang jujur saja, ia masih menunggunya.
Tapi tentu saja kedua sahabatnya tidak mengetahui. Cukup membiarkan mereka dengan pendapatnya sendiri sepertinya lebih aman. Hi hi hi.

Dan aku masih tetap disini,Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggu mu, Ho ho  ho.
Aku menunggumu

For someone in my Heart. T1311’08


EmoticonEmoticon