Cerpen Remaja Rainbow after Rain 07


Kini, Haruskah aku menghilang untuk membuat mu menyadari bahwa Dulu, Sesungguhnya  aku pernah ada? # Rainbow after rain.

“tok tok tok”.
“Masuk” Kata Steven tanpa mengalihkan tatapan dari berkas – berkas yang ada di hadapannya.
“Pak, Ini berkas yang bapak minta tadi” kata Nandita, sekretaris steven sambil menyodorkan map berwarna kuning. Mau tak mau steven menoleh.
“Ya sudah. Kamu boleh keluar” balas Steven kembali mengalihkan tatapannya kearah berkas – berkas yang ada di hadapannya.
“Maaf pak, Saya hanya mengingatkan kalau nanti siang bapak ada janji dengan client kita pukul satu nanti”.
“Oh iya. Hampir saja saya lupa” Kata Steven sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Kalau begitu saya permisi pak” Pamit sang sekretaris. Steven hanya membalas dengan anggukan.
Begitu pintu tertutup tangan Steven terangkat memijit – mijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Begitu banyak kerjaan yang menumpuk yang harus ia pikirkan. Membuatnya sering lupa akan hal – hal lainya. Lagi pula kepalanya juga pusing karena kemaren ia sempat hujan – hujanan.
Seolah baru menyadari sesuatu, Steven melirik jam yang melingkar di tangannya. Pukul sebelas lewat seperempat. Ataga, benar saja. Semalam kan ia sempat terkena gerimis, makanya kepalanya terasa sedikit pusing. Lantas bagaimana dengan naira, bukannya gadis itu justru malah kehujanan. Tanpa pikir panjang segera di raihnya hape yang tergeletak di meja, menekan tombol nomor satu yang entah sejak kapan menjadi tombol panggilan cepat untuk Naira.
Panggilan pertama, kedua dan ketiga masih belum mendapatkan jawaban. Membuat Steven merasa cemas. Pikirannya langsung bergerliya menebak hal – hal buruk yang munkin menimpa gadis itu. Namun saat mendengar nada tunggu terhenti sebagai tanda panggilannya terangkat ia merasa sedikit lega.
“Halo”.
“Halo, Naira?” tanya Steven memastikan. Tiba – tiba rasa cemas kembali melandanya saat mendengar suara lirih dan serak dari seberang.
“Naira kau baik – baik saja kan?” Tanya Steven lagi. Untuk sejenak suasana hening, Samapi kemudian.
“Prang” terdengar suara pecahan gelas atau benda kaca apa pun itu. Dan belum sempat Steven menanyakannya pangilan telfonnya sudah keburu terputus.
“Halo. Naira.... Naira....”.
Dengan cepat steven kembali menekan  tombol yang sama. Namun hasilnya nihil. Hanya terdengar suara operator yang membalas pangilannya. Tanpa banyak pikir Steven segera beranjak. Mengabaikan semua berkas file yang masih harus ia periksa karena rasa cemas sudah terlebih dahulu memenuhi benaknya. Segera di sambarnya kunci mobil yang tegeletak di meja. Setengah berlari ia menuju ke parkiran. Menuju tujuan yang jelas, Kediaman Naira.
 Credit Gambar : Star Night

Rainbow After Rain 07

Begitu menutup pintu rumah Naira segera berlalu menuju kekamar. Ia benar – benar butuh mencapai ranjang saat ini juga. Bahkan ia tak sempat memastikan apakah Steven sudah benar – benar pergi atau belum. Begitu selesai menganti baju basahnya dengan pakaian kering, Naira segera merebahkan diri. Sembunyi di balik selimut. Tubuhnya menggigil kedinginan , sementara nafas  terasa sesak, ditambah kepalanya yang juga terasa cukup berat. Dan yang lebih parah tiada seorang pun yang ada di sampingnya.
Keesokan harinya bukannya malah membaik keadaan Naira justru malah memburuk. Ia sadar dengan sangat kalau sesungguhnya tubuhnya benar – benar lemah terhadap hujan. Dan saat ini ia juga membutuhkan dokter, minimal obat pereda rasa sakit. Namun apa daya bahkan ia sama sekali tak mampu untuk beranjak bangun dari tempat tidurnya.
Berusaha menguatkan diri Naira mencoba beranjak bangun. Tubuhnya makin terasa tak bertenaga. Wajar saja si, jam didinding sudah menujukan hampir pukul dua belas siang tapi perutnya sama sekali belum di isi sejak kemaren terakhir makan bersama Steven. Tapi kali ini tengorokannya benar – benar terasa kering. Makanya ia memaksakan diri untuk meraih air diatas meja.
Tepat saat ia meneguk air, terdengar suara deringan hape yang ia tinggalkan tergeletak diranjang. Secara acak Naira kembali melangkah menghampiri dengan gelas yang tetap berada di tangan karena deringan kembali terdengar saat pangilan pertama dan kedua di acuhkan. Sepertinya itu benar – benar panggilan penting. Munkin juga mama yang menelponnya dari paris.
Sambil memejamkan mata karena saat melihat kesekaliling dunia terasa berputar dan membuatnya semakin merasa pusing Naira Mengangkat pangilan itu. Bahkan ia sama sekali tidak berniat untuk melihat siapa id callernya.
“Halo” Kata naira lirih.
“Halo, Naira?” .
Terdengar balasan dari seberang. Walau keadaannya masih buruk tapi naira masih bisa mengenali suara kalau itu suara Steven.
“Naira kau baik – baik saja kan?” Tanya Steven lagi. Untuk sejenak suasana hening, Samapi kemudian.
“Prang”.
Gelas yang sedari tadi Naira pegang di tangan sontak terlepas. Kali ini Ia benar – benar merasa kalau dunia nya berputar terlalu cepat. Kesadarannya semakin menghilang. Hal terakhir yang ia rasakan adalah tubuhnya yang secara berlahan merosot turun sebelum kemudian terbaring tak sadarkan diri dengan pecahan gelas yang berada tak jauh di dekatnya.

Rainbow After Rain 07

Seperti orang yang kesetanan Steven mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya terpusat pada kondisi Naira seutuhnya. Kali ini ia benar – benar mencemaskan gadis itu. Ia bisa merasakan firasat buruk yang tiba – tiba melanda. Begitu matanya melihat rumah Naira tanpa kata segera ia belokan arah mobil.
“Naira” panggil Steven sambil mengetuk pintu rumahnya. Tapi setelah beberapa saat menunggu pintu itu tetap tertutup. Suasana rumah juga terlihat sepi seperti tiada kehidupan di dalamnya. Membuatnya semakin merasa cemas, ditambah kenyataan Naira sama sekali tidak mengangkat panggilannya.
Berpikir untuk langsung mendobrak atau mungkin masuk melalui jendela, tangan Steven tak sengaja memutar ganggang pintu.
“Ceklek”
“He?” Steven terpaku untuk sejenak. “Tidak di kunci?” pikirnya lagi.
Walau masih sedikit ragu dengan berlahan tapi pasti Steven melangkah masu kedalam rumah. Menatap kesekeliling sambil mulutnya terbuka meneriakan sebuah nama.
“Naia?” Panggil Steven kembali. Pertama ia menuju kearah ruang tengah, tapi nihil. Saat melangkah kedapur ia juga tidak menemukan siapa – siapa. Namun saat matanya mendapati pintu kamar yang diduga kamar Naira dengan berlahan dihampiri.
“tok tok tok” Tangannya terangkat mengetuk pintu.
“Naira, kau di dalam kah?” tanya Steven mencoba memastikan. Masih sunyi tidak ada jawaban.
“Naira” Ulang steven lagi. Dengan ragu – ragu tangannya memutar handel pintu di hadapannya. Lagi – lagi tidak di kunci. Apa memang gadis itu seceroboh itu?. Pikirnya lagi.
Berniat hanya untuk melongok kedalam, memastikan keberadaan Naira. Steven malah langsung berlari masuk kedalam. Asli shock saat mendapati Gadis itu yang terbaring tak sadarkan diri di lantai dengan beberapa pecahan gelas di sampingnnya.
“Ya tuhan. Naira....”
To be Continue…….

Cerpen Rainbow After Rain 06



Seumpama hujan di ibaratkan tangisan,
Dan matahari sebagi senyuman.
Maka kau butuh keduanya untuk mendapatkan pelangi kebahagiaan

Setelah membereskan buku – bukunya, Naira segera beranjak meninggalkan kampus. Namun belum sampai langkahnya mencapai  gerbang getaran  di saku terlebih dahulu menghentikan langkahnya. Tanpa pikir panjang segera di pencetnya tombol tersebut ketika mendapati sebuah pesan masuk .
“Aku menunggu mu di depan kampus”
Naria Segera mengedarkan padangan ke sekeliling begitu selesai membaca pesan yang tertera. Arah pandangannya terhenti kearah sebuah mobil yang terpakir tak jauh dari kampus . Tanpa pikir panjang Naira segera berjalan kearah mobil tersebut yang telah ia kenal sebagai  milik Steven. Tak terasa sudah hampir Satu bulan mereka saling mengenal. Dan sepertinya dari hari kehari hubungan mereka semakin akrab. Naira sendiri juga sama sekali tidak keberatan. Justru ia malah merasa nyaman.
“Tumben kau menjemput ku. Ada apa ni?” tanya Naria langsung setelah ia sukses mendaratkan tubuhnya disamping Steven yang terlihat menyetir dengan santai.
“Kau sudah makan siang belum?” tanya Steven tanpa menjawab pertanyaan Naira. Kali ini Naria hanya membalas dengan gelengan. Kening Steven terlihat mengernyit heran, diliriknya jam yang melingkar di tangan. Pukul 13:35. Tanpa pikir panjang  segera di belokannya mobil kearah sebuah rumah makan.
“Kita mau ngapain di sini?”.
“Kalau seandainya aku berkata aku mau mengajakmu camping disini apa kau percaya?” tanya Steven dengan tampang serius. Tapi Justru malah membuat Naria tersenyum cangung. Tanpa banyak kata ia segara mengikuti langkah Steven masuk kedalam kaffe itu. Segera duduk dihadapan Steven yang telah terlebih dahulu memilih mejanya.
Credit Gambar : Star Night
“Kau mau makan apa?” tanya Steven sambil membolak balik buku menu yang ada di tangannya.
“Aku pesan mie so aja” Sahit Naira tanpa pikir panjang. Steven menoleh, menatap ke arah Naira yang sama sekali tidak menatapnya karena perhatiannya sedang terarah kearah handphond yang ada di tangan.
“Kau sama sekali belum makan siang dan kali ini hanya memesan mie so?. Tidak. Kau harus makan nasi”.
“He?” Naria menoleh. Baru menyadari kalau Steven menatap kearahnya sebelum kemudian beralih kearah pelayan dan menyebutkan aneka makanan yang membuat kening Naira berkerut.
“Kalau kau sudah menentukan pilihannya kenapa tadi kau menawariku untuk memilih” Gerut Naira.
“Kau tidak suka?” tanya Steven hati – hati. Naira terdiam.
“Maaf. Aku hanya tidak ingin kau sakit nantinya” Sambung Steven lagi. Kedua matanya menatap lurus kearah Naira yang kini juga sedang menatapnya. Merasa tak mampu menyaingin tatapan mata setajam elang Naira mengalah. Mengalihkan tatapannya kesekeling.
“Oh ya, setelah ini kau mau kemana?” tanya steven memecah keheningan.
“Tidak ada” balas Naira Sambil menggeleng. “Sepertinya aku mau langsung pulang saja”.
“Keberatan tidak jika aku minta bantuan?”.
“Tergantung. Kalau memang aku bisa kenapa enggak?. Memangnya kau mau minta tolong apa?” tanya Naria lagi.
Untuk sejenak Steven terdiam sebelum kemudian mulutnya berujar “Hari ini pikiran ku benar – benar sedang kusut. Kerjaan menumpuk, belum lagi masalah lain nya?”.
“Jadi?” Tegas Naira yang masih belum mengerti arah  permbicaraan mereka.
“Ehem, kau mau menemaniku jalan – jalan sebentar?”.
Naira mengernyit. Menatap kearah steven yang kini juga sedang menatap penuh harap kearahnya. Tanpa sadar bibir Naira tersenyum dan mengangguk pelan saat mendapati tatapan sosok yang ada di hadapannya.
“Oke... Kalau begitu ayo segera kita nikmati dulu makan siang nya” Ajak Steven karena kebetulan pesanan mereka memang sudah terhidang. Naira tidak berkomentar apa – apa walau tak urung mengikuti ajakan Steven barusan.
Selesai makan, sesuai rencana mereka jalan – jalan di taman kota. Pilihan terakhir setelah Berulang kali Naria menyebutkan aneka tempat yang mungkin bisa mereka datangi.  Tak terasa mereka sampai di kursi taman. Steven menghentikan langkahnya. Mengajak Naira untuk duduk sejenak sambil bercerita santai.
“Naira, Kau sering jalan kesini?” tanya Steven sambil menatap ke sekeliling. Udara yang segar benar – benar membuatnya merasa nyaman.
“Tidak juga” Naira Menggeleng. “Hanya kadang – kadang jika aku merasa suntuk” Sambung Naria lagi. Steven tampak mengangguk mendengarnya.
“Bunga apa yang paling kau sukai?” tanya Steven kemudian. “Mawar, melati, Lili atau...”.
“Kembang sepatu” Potong Naira.
“Mawar terlalu angkuh. Melati, terlalu lemah. Lilly, terlalu anggun. Aku lebih menyukai kembang sepatu. Bisa tumbuh dan hidup di manapun. Mekar dan layunya juga tidak banyak menarik perhatian orang. Sederhana namun memiliki kelima sarat kesempurnaan bungga” Sambung Naria sambil menatap kesekaliling dimana memang tampak begitu banyak aneka tanaman bunga.
“Hei, kenapa kau malah terdiam dan menatap ku seperti itu?” tanya Naira saat mendapati tatapan steven yang ternyata sedari tadi terjurus padanya.
Steven mengeleng sambil tersenyum. “Tidak, aku hanya merasa sepertinya kau benar. Kau lebih mirip kembang sepatu dari pada bunga lainnya”.
“He?” Kening Naria berkerut bingung. “Maksutmu?”.
Lagi – lagi steven tersenyum. Menatap kearah langit yang terlihat mendung.
“Sepertinya hari akan hujan”.
Naira mencibir. Pertanyaannya di kacangin. Namun tak urung ia mengangguk membenarkan saat melihat awan yang berarak. Bahkan tak selang beberapa saat kemudian ia juga merasakan titik – titik air yang mulai mentetes. Hujan?. Sekarng?. Oh tidak. Tanpa isarat dan aba – aba ia segera berlari kearah pohon yang tumbuh di taman. Untung hanya gerimis sehingga kerimbunan pohon mampu sedikit melindunginya. Namun yang ia cemaskan adalah bahwa tidak menutup kemungkinan kalau gerimis akan segera berubah menjadi hujan lebat. Apalagi langit memang terlihat gelap.
“Naira, pakai ini”.
Naira menoleh. Mendapati Steven yang tampak menyodorkan Kemeja yang ia pakai tadi semtara ia sendiri tampak hanya mengenakan kaus oblogong yang memang di jadikan dalaman. Naira tersenyum, baru menyadari kalau ia tidak sedang sendiri.
“Baiklah, kau tunggu di sini. Biar aku mengambil mobilnya duluan” Sambung Steven lagi.
“Tidak, aku langsung ikut saja” Potong Naira.
“Kau di sini saja. Aku janji akan segera datang sebelum benar – benar hujan. Kau Berteduh di sini saja” Potong Steven.
Kali ini naira membalas dengan anggukan walau tak urung ia merasa cemas. Tanpa banyak kata Steven segera berlari menuju kearah mobilnya di parkir.
Sambil menunggu Steven muncul, Naira merapatkan tubuhnya kearah bawah pohon. Mejadikan kemeja Steven sebagai payung karena Gerimis sepertinya sudah mulai berubah menjadi hujan. Matanya menatap kearah Jalanan, namun Steven belum juga menampakan wujudnya.
Sementara Steven sendiri tampak sedang berusaha menyalakan mesin mobilnya yang tidak tau kenapa tidak mau menyala. Ditambah lagi hujan juga semakin deras membuatnya merasa cemas akan Naira. Bodoh, harusnya tadi ia tidak perlu meninggalkan gadis itu sendirian rutuknya sendiri. Untunglah  Setelah beberapa saat mencoba akhirnya mobil itu menyala juga. Dengan cepat ia melesat menuju kearah Naria.
“Naira, ayo masuk” Kata Steven sambil membuka kan pintu untuk Naira yang terlihat setengah berlari menuju kearahnya. Begitu naira masuk segera ia beralik ke balik kemudian.
“Naira , kau tidak papa kan?” tanya steven saat melihat raut pucat Naira yang kini duduk di sampingnya.
Mencoba untuk tetap tersenyum Naira mengangguk berlahan. Meyakinkan Steven bahwa ia baik – baik saja.
“Maaf, Tapi kau bisa langsung mengantar ku pulang kan?” tanya Naira. Gantian Steven yang mengangguk. Dengan cepat di nyalakan mobilnya melaju kearah rumah naira. Sepanjang jalan Steven telah berulang kali menanyakan keadaan Naira yang terlihat makin pucat.
“Aku baik – baik saja. Kau tidak perlu cemas. Hanya saja memang sedikit pusing. Tapi setelah sampai rumah nanti aku akan langsung minum obat dan istirahat. Mudah – mudahan tidak kenapa – napa” Kata Naira mencoba menenangkan saat menyadari kalau Steven jelas menghawatirkannya.
Steven mengangguk sambil membelokan mobilnya kearah rumah bercat kuning. Rumah yang ia ketahui sebagai tempat Naira bernaung.
Begitu menyadari ia sudah mencapai pekarangan rumah, Naira bersiap bangkit berdiri.
“Naira, tunggu dulu” Tahan Steven sebelum naira sempat keluar dari mobil.
“Ada apa?” tanya Naira.
Mulut Steven terbuka. Melihat Raut Naira yang jelas pucat membuatnya merasa cemas. Apalagi Ia tau Naira tinggal sendirian. Tapi ia juga ragu untuk menawarkan diri menemani. Ia takut Naira akan salah paham nantinya.
“Kalau sampai ada apa – apa, kau janji akan mengabariku kan?”.
Naira tersenyum sambil mengangguk. Mulutnya terasa kelu, kepalanya juga mulai nyut – nyutan. Tapi ia juga tak ingin membuat Steven cemas, makanya ia mencoba untuk menguatkan diri dan berusaha meyakinkan kalau ia baik – baik saja.
“Kau juga hati – hati. Jalanan licin, jangan mengebut. Oke”.
Mendengar Kata yang Naira ucapkan membuat Steven tanpa sadar tersenyum. Kepalanya mengangguk meyakinkan. Naira sendiri segera beranjak bangun. Setengah belari menuju kerumah. Tanpa menoleh lagi ia segera masuk kedalam. Ia benar – benar ingin mencapai kamarnya saat itu juga.
Setelah melihat Naira yang masuk kedalam rumah barulah Steven memutar arah mobilnya. Ia juga sepertinya langsung pulang saja. Tidak mungkin ia kekantor hanya dengan kaos oblong karena kemejanya tadi sudah terlanjur terbawa Naira. Lagipula ini juga sudah sore.

Cerita Remaja "Rainbow After Rain" 05


Bukan tentang berapa lama waktu yang di habiskan,
Tapi betapa berartinya sebuah kebersamaan.

“Pantai?, ternyata bukan ide yang buruk”.
Naira menoleh, sebuah senyum terukir di bibirnya saat mendapati wajah Steven yang berjalan di sampingnya terlihat menyukai tempat pilihannya.
“Ku harap kalimat itu tulus. Bukan hanya karena merasa tak enak padaku”.
“Ha ha ha, tentu saja tulus. Lagi pula tidak ada alasan yang mengharuskan ku  berbohong hanya untuk menyenangkan hatimu” balas Steven sambil tertawa.
Langkah Naira terhenti. Pandangannya terarah lurus kearah Steven.
“Ehem, Maksutku aku benar – benar menyukainya” Ralat Steven cepat seolah baru menyadari kalimat yang baru saja di ucapkan.
Kali ini Naira juga hanya membalas dengan anggukan sebelum kemudian kembali melangkah. Berjalan menyusuri pantai. 
Cerita Remaja Rainbow after rain cipta karya cerpen
 Credit Gambar : Star Night
“Oh ya, Bagaimana denganmu?” tanya Naira setelah beberapa saat keduanya hanya terdiam.
“He?” Kening Steven tampak sedikit berkerut. Tak mengerti arah pertanyaan yang Naria ucapkan.
“Aku kan sudah bercerita tentang diriku sendiri. Sekarang bagaimana dengan mu. Kau pergi jalan bersama ku , tidak kah ada yang akan marah nantinya?” terang Naira.
“Marah?, siapa?” Steven malah balik bertanya.
Naira angkat bahu walau tak urung mulutnya berucap “Pacar mungkin”.
Steven tidak langsung menjawab. Untuk sejenak dia terdiam.
“Kalau seandainya aku punya pacar, apa mungkin aku mengajakmu jalan bareng?” tanya Steven berumpama.
“O” Naira mengangguk – anggukkan kepala “Apa itu artinya kau tidak punya pacar sekarang”.
“Ha ha ha, Hei bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan begitu cepat” Kata Steven terdengar memprotes.
“Lho, jadi salah?” Gantian Kening Naira yang berkerut bingung. “Maksutnya kau sudah punya pacar?” sambungnya lagi.
“Nggak gitu juga si”.
“Ah, kau membuat ku bingung. Jadi sebenarnya kau punya pacar atau tidak?” tanya Naira menegaskan.
Lagi – lagi steven terdiam. Tetap melangkah dengan pandangan terarah ke depan. Tangannya sengaja ia masukan kedalam saku. Untuk sejenak di helanya nafas dalam – dalam. Menghirup udara pantai yang terasa segar. Mencium wanginya air laut.
“Pacar memang tidak. Tapi kalau gadis yang kusukai sepertinya ada”.
Naira kembali menghentikan langkahnya. Sebelah alisnya sedikit terangkat menatap kearah Steven yang berdiri di hadapannya sambil angkat bahu. Sampai kemudian Naira mengalihkan tatapannya kearah sekeliling. Hari sudah sore. Langit juga terlihat tidak terlalu cerah walau tiada tanda – tanda akan turun hujan. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia melepaskan kedua sandalnya. Menjejerkannya untuk dijadikan alas duduk sebelum kemudian memberi isarat kearah Steven untuk melakukan hal yang sama.
“Kalau memang sudah ada gadis yang kau sukai kenapa tidak kau ajak jalan bersama, kenapa kau malah mengajak ku?” Naira kembali buka mulut.
“Gadis yang ku sukai bukan berarti menyukaiku”.
“O... Jadi maksutnya Cintamu bertepuk sebelah tangan. Cek cek cek, kasian sekali dirimu” Kata Naira setengah meledek sambil menatap kearah Steven dengan tatapan sok prihatin.
“Ha ha ha. Kau tipe orang yang benar – benar suka menyimpulkan sesuatu dengan cara instan ternyata”.
“Apa aku salah lagi?”.
“Tidak sepenuhnya. Hanya saja ada sedikit bagian yang harus di ralat. Gadis yang ku suka bukan tidak menyukai ku. Tapi aku tidak tau bagaimana perasaannya yang sesungguhnya pada ku”.
Naira terdiam sambil mengangguk – anggukan kepala. Kali ini gantian Steven yang menatapnya heran.
“Kenapa kau hanya diam saja?”.
“Aku takut salah dalam menyimpulkan”.
Mendengar alasan yang keluar dari mulut Naira sontak membuat Steven tertawa lepas. Apalagi saat mendapati Naira mengucapkannya dengan raut wajah serius.
“Kau menyindirku ya?” Tanya Steven yang hanya di balas cengiran polos Naira.
“Jadi?”.
“Jadi?” ulang Steven tak mengerti.
“Ya jadi kesimpulannya gadis itu bagaimana?. kau tidak berniat untuk mengutarakan perasaanmu supaya kau bisa tau perasaannya?”.
“Tidak” balas Steven singkat.
“Kenapa?” tanya Naira penasaran.
Steven tampak menghela nafas sebelum mulutnya berujar. “Aku tidak bisa mengutarakannya karena aku tidak punya kesempatan. Tidak, maksutku bukan tidak punya tapi kesempatan itu sudah tidak ada. Selama ini telah begitu banyak waktu yang kami habiskan untuk bersama. Aku pikir semua itu sudah cukup untuk membuatnya mengerti tentang perasaan ku tanpa perlu aku mengatakannya. Ternyata aku salah, beberapa hari yang lalu ia mengatakan bahwa orang tuanya telah mengaturkan perjodohan untuknya. Dan orang itu adalah sahabat aku sendiri yang ku tahu memang telah lama menyukainya”.
“Dan dia menerimanya?” tanya Naira karena Steven tidak melanjutkan ucapannya walau tak urung mengangguk membenarkan.
“Kau tidak berusaha untuk menahannya?” tanya Naira lagi. Lagi - lagi Steven mengangguk.
“Kenapa?”.
“Dia menerima perjodohan itu tanpa bantahan sama sekali. Seandainya dia menyukaiku pasti dia akan menolaknya bukan?” Balas Steven.
Naira tersenyum “Kalau seandainya dia menyukaimu mungkin dia harus menolak?. Kalau gitu bagaiman jika pertanyaannya di balik. Kalau seandainya kau menyukainya bukan kah kau seharusnya menahannya?”.
“Maksutmu?” Tanya Steven bingung.
“Kau tau, aku pernah membaca sebuah cerita. Cerita yang menyentuh perasaanku. Aku lupa apa judul dan siapa pengarangya. Hanya saja, dia berkata. Walau sudah bertahun – tahun daun bersama pohon pada akhirnya dia akan tetap jatuh dan terbang tertiup angin. Yang jadi pertanyaan, apa benar Daun itu jatuh karena kerasnya angin bertiup, atau memang karena pohon yang tidak pernah memintanya untuk tinggal?. Tapi mungkin juga memang karena keduanya”.
Steven langsung menoleh mendengar apa yang Naira ucapkan.
“Sebelum dia menerima perjodohan itu Aku yakin dia meminta pendapatmu?” tanya Naira yang lagi – lagi membuat Steven mengangguk.
“Tidakkah kau merasa mungkin dia juga memiliki pendapat sama sepertimu. Dia mungkin juga butuh kepastian. Mungkin dia ingin menguji perasaan mu padanya. Mungkin jika kau memang menyukainya kau akan menahannya. Bukan malah melepaskan dengan begitu mudahnya. Yah seperti yang telah di ketahui bersama, dalam hidup ini memang selalu terdapat banyak kemungkinan” tambah Naira lagi yang sukses membuat Steven terdiam. Sama sekali tidak mampu untuk berkata lagi. Astaga, benarkan apa yang Naira katakan?. Jika memang begitu bukankah berarti ia yang bodoh.
“Jadi, Menurutmu sekarang apa yang harus aku lakukan?” tanya Steven setelah berhasil mencerna semuanya.
Naira terdiam. Pandangannya untuk sejenak menerawang jauh. “Aku juga tidak tau karena tidak semua orang beruntung bisa memiliki kesempatan kedua. Tapi ada  satu yang bisa ku katakan pada mu. ‘pastikan kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama’. Kau mengerti maksut ku kan?”.
Steven masih terdiam terpaku. Sama sekali tidak menjawab. Naira juga tidak tertarik untuk mendesaknya. Biarlah, munkin Steven memang butuh waktu untuk menyadari semuanya.

Cerpen Terbaru "Semua Kan Berlalu"


Oh ya sekedar info, Cerpen Semua kan berlalu ini sudah pernah Di post di Fp Cerpen sebagai latihan menulis cerpen yang diadakan di Fp tersebut dengan tema ‘Aku Sekuat Karang”. Dimana saat cobaan datang bertubi – tibu kita tetap di beri ketabahan untuk tetap tegar. Nan, Gimana jalan ceritanya?. Silahkan di baca…
“Pagi ma, pa” sapa nadia sambil duduk dikursinya
“Pagi” balas papa. Sementara mama hanya tersenyum sambil tangannya dengan telaten mengoleskan selai di atas roti tawar . Menu sarapan pagi mereka.
“Tumben sepagi ini kamu sudah rapi. Memangnya mau kemana. Bukannya hari ini kamu libur kuliah?” tanya mama sambil menyodorkan roti yang sudah di olesi selai kearah Nadia.
 “Iya, Nadia mau ketemu temen. Kemaren nggak sengaja dia baca cerpen yang Nadia posting diblog. Nah kebetulan pamannya seorang penerbit, makanya dia nawarin Nadia bagaimana kalau cerpen yang nadia buat dibukukan saja. Biar sekalian mendapatkan hak cipta, jadi tidak sembarangan orang bisa mengcopy paste dan mengakui itu sebagai hasil jerih payahnya hanya untuk mendapatkan pujian yang tidak seharusnya ia dapatkan. Selain itu, siapa tau nadia juga bisa jadi penulis beneran seperti yang dicita – citakan selama ini” terang nadia.
“Oh, benarkah?” papa terlihat takjub.
Kali ini Nadia hanya membalas dengan anggukan.
“Syukurlah jika memang begitu. Mama selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu anakku. Semoga tuhan selalu memberkahi hidupmu dan memudahkan jalan hidup untuk mengejar impianmu”.
“Amin. Makasih atas doanya ma” Sahut Nadia cepat saat mendengarkan doa sekaligus harapan yang diucapkan ibunya barusan.
“Tapi ingat Jadi apapun kamu nantinya, jangan pernah berlaku sombong. Karena kesombongan tidak akan pernah menguntungkan bahkan justru akan merugikanmu” Tambah papa lagi.
“Insya Allah pa. Nadia akan selalu mengingat nasehat papa” balas Nadia sebelum kemudian bangkit berdiri. Pamit pada kedua orang tuanya untuk segera belalu pergi.

 Credit Gambar : Star Night

Selesai menemui penerbit yang ditemani sahabatnya Nadia tidak langsung pulang. Kebetulan libur kuliah ia memilih berjalan – jalan dulu. Sepertinya Ke-mall juga bukan ide yang buruk. Sebenarnya tadi malam ia sudah menelpon dimas, pacarnya. Tapi dimas menolak dengan alasan  ia harus menemani mamanya keacara pernikahan sepupunya. Ya sudahlah, Nadia juga tidak berniat untuk mendesaknya. Toh, besok dikampus  mereka sudah ketemu lagi.
Saat sedang asik berjalan-jalan ia menemui siluet tubuh seseorang yang sepertinya ia kenal lewat tak jauh dihadapannya. Keningnya sedikit berkerut heran. Niatnya untuk mencari mainan hape segera ia batalkan dan lebih memilih mengikuti rasa pernasannya. Mencari tau sosok tersebut.
“Dimas?” gumam Nadia sendiri. Ternyata dugaannya benar. Sosok yang ia kenal itu memang Dimas. Pacarnya yang kini tampak duduk sendiri  sambil membolak – balik buku menu.
Tak ingin larut dalam tebakan tentang kehadiran pacar yang seharunya sedang berada ditempat pesta sang sepupu bukannya malah berkeliaran di-mall, Nadia segera melangkah menghampiri.
“Dimas?”
Merasa namanya disebut, Dimas sontak menoleh. Raut kaget jelas tergambar di wajahnya saat mendapati siapa yang kini berdiri di hadapannya.
“Nadia?. Kamu ngapain disini?” Tanya Dimas heran.
“Justru aku yang mau nanya, kamu sendiri disini ngapain?” Tanya Nadia balik bertanya.
Dimas terdiam. Merasa gelisah dengan apa yang harus ia katakan. Dan berlum sempat ia menemukan jawaban seseorang yang baru muncul dihadapannya memperburuk keadaan.
“Dimas, maaf ya aku tadi ketoilet lama. Oh ya, kamu lagi ngobrol sama sia..... Nadia?”
Mendengar suara yang tak asing di belakangnya Nadia sontak berbalik. Merasa sama – sama kaget saat mendapati Riani, sahabat karibnya kini berdiri dibelakangnya.
Untuk sejenak suasana hening dan sepi. Masing – masing sibuk dengan tebakan dan pikirannya sendiri. Sampai kemudian Nadia mengalah dan lebih memilih mulai membuka pembicaraan.
“Ehem... oh ya. Aku mau nanya kalian berdua kenapa bisa bareng disini?”.
Dimas dan Riani tampak saling pandang untuk sejenak.
“Jangan bilang ini sebuah kebetulan karena aku sama sekali tidak percaya kecuali kebetulan aku memergoki kalian jalan bareng” tambah Nadia lagi yang langsung mendapat lirikan tajam dari Dimas. Tapi Nadia sama sekali tidak perduli. Ia lebih perduli akan jawaban yang akan ia dapatkan walau ia tidak yakin apa yang ia dengar adalah apa yang ia inginkan.
“Maaf” Suara Lirih Dimas.
“Untuk?” tanya Nadia singkat.
“Semuanya”.
Nadia kembali terdiam. Sengaja menunggu kalimat lanjutan dari mulut Dimas.
“Kamu benar. Kita berdua memang bertemu  bukan karena kebetulan tapi karena kita memang sudah janjian”.
“Apa?” Kata Nadia berusaha memastikan dirinya sendiri kalau ia memang tidak salah dengar. Astaga, pacarnya dan sahabatnya sendiri sengaja janjian untuk jalan bareng bersama di belakangnya. Maksutnya apa?.
“Sebenarnya sudah lama aku ingin jujur padamu. Tapi Riani mencegahnya” tambah Dimas lagi.
“Soal?” Tanya Nadia lagi. Masih berusaha untuk tetap terlihat tenang.
“Kita berdua pacaran”.
Kali ini Nadia Terdiam. Pandangan tak percaya secara bergantian menatap kearah Dimas dan Riani yang tampak hanya menunduk merasa bersalah. Ia sama sekali tidak tau harus berkata apa. Mulutnya benar – benar seperti terkunci walau sebenarnya hatinya sangat ingin berteriak dan mencaci maki kedua orang itu saat itu juga. Sampai akhirnya Nadia lebih memilih bangkit berdiri.
“Kamu mau kemana?” Untuk pertama kali Riani buka mulut.
Nadia tidak menjawab. Hanya menatap sinis keduanya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Saat keluar dari mall Nadia mati – matian menahan diri untuk tidak menangis saat itu juga. Ya tuhan, apa salahnya. Baru saja tadi pagi ia gembira karena ada perkembangan yang baik tentang tulisannya tapi kenapa sekarang ia harus membayarnya dengan kejadi buruk seperti ini. Pacarnya sendiri ternyata pacaran dengan sahabatnya. Benar – benar gila.
Sama sekali tidak meyadari langkahnya  tau – tau saat ini Nadia  mendapati dirinya telah memasuki halaman rumah. Keningnya berkerut heran saat mendapai rumahnya di penuhi banyak orang.   Tiba – tiba ia merasakan firasaat buruk. Dengan cepat ia melangkah memasuki rumah. Makin heran saat mendapai omanya yang kini sedang duduk dilantai sambil menangis.
“Oma, ada apa?. Kenapa oma bisa ada disini. Dan oma kenapa menangis?” tanya Nadia cemas sekaligus panik. Pikirannya benar – benar kalut.
 “Nadia cucuku. Yang sabar nak” bukannya menjawab, oma malah memeluk Nadia kedalam dekapannya masih tetap sambil menangis. Membuat Nadia bingung, dan sebelum mulutnya kembali terbuka untuk bertanya matanya sudah terlebih dahulu mendapati sosok yang terbaring kaku di ruang tengah dengan kain yang menutupi keseluruahnya.
“Oma...” gumam Nadia lirih sekaligus takut untuk meneruskan apa yang ingin ia tanyakan. Kali ini ia benar – benar yakin bahwa kejutan yang akan ia dapatkan adalah apa yang benar – benar tidak pernah ia inginkan.
“Oma, papa sama mama mana?” tanya Nadia lagi. Sama sekali tidak menyadari entah sejak kapan ia telah ikut menangis.
“Yang sabar cucuku. Kedua orang mu telah tiada nak”.
Nadia mematung kaku. Seumur hidup bahkan dalam mimpi sekalipun ia tidak pernah membayangkan bahwa sebuah bisikan bisa lebih mengetkan dari pada sebuah petir yang terdengar di saat hari yang cerah – cerahnya. Pandangannya mengabur. Hal terakhir yang ia ingat adalah suara  omanya yang terdengar panik memanggil   namanya sebelum kemudian semuanya  gelap.


Seminggu telah berlalu, Nadia masih belum sepenuhnya menerima semuanya. ia masih merasa bahwa ini semua hanya lah mimpi. Mimpi buruknya.
“Nadia, ayo makan dulu nak”.
Nadia menoleh. Tampak sang oma yang kini berdiri didepan pintu. Memang sejak kepergian orang tuanya sang oma tetap tinggal di rumahnya. Wanita itu sepertinya sama sekali tidak tega meninggalkan cucunya menanggung beban seberat itu sendirian.
“Nadia, kamu tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Kamu harus bangkit sayang” kata sang oma sambil duduk disamping Nadia.
“Kenapa oma. Kenapa semua ini terjadi sama nadia. Kenapa harus nadia yang mengalami semua ini” Tanya Nadia kembali meneteskan air matanya. Sudah seminggu ini ia merenung sendirian, mencoba mencari jawabnnya tapi ia sama sekali masih belum menemukan jawaban kenapa cobaan yang begitu berat menimpanya.
“Mungkin karena tuhan sangat menyayangimu nak”
Nadia terdiam. Tidak membenarkan tapi juga tidak protes. Ia masih mencoba mencerna ucapan oma barusan. Tuhan melakukan cobaan sebesar ini karena menyanginya. Apa itu masuk akal?.
“Dengar lah cucuku. Setiap kejadian dalam dunia ini sudah ada yang mengaturnya. Semua yang baik maupun buruk sudah di gariskan. Tuhan tidak akan memerikan cobaan di luar batas kemampuan. Dan kenapa oma bilang tuhan melakukan ini karena ia menyanigmu?. Karena mungkin dengan diberikan cobaan seperti ini Tuhann ingin kau bisa belajar sabar. Belajar untuk mengiklaskan semuanya”.
“Tapi kenapa harus secepet ini oma?” tanya Nadia terdengar memperotes.
“Supaya kau bisa belajar bersukur lebih cepat. Kau bisa mensukuri karena  diberi kesempatan untuk mengenang mereka. Kau tau ada begitu banyak manusia di luar sana yang justru sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengenali kedua orang tuanya. Tapi bukankan tuhan justru telah memerbikan kesempatan untukmu merasakan kasih sayang yang melimpah dari mereka”.
 “Karena itu kau harus kuat cucuku. Oma yakin kamu pasti bisa” tambah sang oma lagi sambil menatap kearah cucunya dengan penuh kasih sayang.
Nadia masih terdiam mencoba untuk mencerna semua naseha untuknya. Disekanya ari mata yang mengalir dipipinya. Kemudain menoleh kearah oma yang kini juga senang manatapnya.
“Oma benar, nadia harus kuat, nadia pasti bisa melewati semua ini. Tidak , maksut nadia. Nadia Harus bisa!” tekad Nadia mantab.
Oma mengangguk membenarkan. Kemudain meraih tubuh rapuh cucunya, memeluk dengan erat. Meyakin kan bahwa semua pasti berlalu

Cerpen Pendek ' I Like You'

 “Marsya, tau nggak loe. Di kampus kita ada mahasiswa baru. Mana sekelas lagi sama kita. Ya ampun, Keren gila bo’. Wajahnya itu lho, suwer deh nggak bakal malu – maluin buat di bawa kondangan” cerocos Angela antusias.
“Oh ya?” tanya Marsya terlihat sama sekali tidak tertarik. Komentar barusan juga hanya sekedar formalitas, membuat Angela memberengut sebel.
“Ih, gue serius juga” kata Anjela ngambek.
“Iya deh. Kalau dia memang sekeren itu terus kerenan  mana sama si galang?” tanya Marsya kemudian. Sengaja memberikan perbandingan sang pacar sahabatnya dengan harapan mulut gadis itu bisa segera tertutup.
“Nah justru itu keren nya sama. Baik wajah maupun style. Ya iya lah secara mereka kembar gitu lho” terang Angela.
Langkah Marsya terhenti. Menatap kearah Angela dengan tampang serius. Yang di tatap juga balik menatapnya.
“Loe serius?” tanya Marsa kemudian. “Jadi galang punya kembaran?” sambung Marsa lagi.
“Tentu saja bohong” balas Angela membuat Mulut marsa maju dua senti. Kesel karena di kerjain oleh sahabatnya yang satu itu.
“Lagian salah loe sendiri si. Gue ngomong panjang lebar sedari tadi di cuekin mulu”.
“Please deh, Angela. Loe kan udah punya pacar, la terus kenapa masih harus ngurusin cowok laen si. Pake muji – muji segala lagi. Kalau sampe Galang tau kan bisa gaswat”.
“Justru karena gue udah punya pacarlah makanya gue cerita in ke elo”.
“Maksutnya?” Tanya Marsya dengan kening berkerut saat mendapati senyum misterius di bibir sahabatnya.
“Gue pengen jodohin sama loe” todong angela langsung.
“Uhuk – uhuk” Marsya yang kebetulan sedari tadi mengulum permen kiss kontan tersedak. Bukan,  bukan karena omongan anjela barusan. Tapi karena matanya tiba – tiba menemukan objek pandangan yang benar – benar menarik.
“Loe kenapa si?. Kalau makan hati – hati donk” kata Angela sambil mengusap – usapa punggung Marsya.
“Angela, loe tau nggak dia siapa?”.
“Ha?” tanya Angela. Matanya segera mengikuti arah terlunjuk Marsya. Begitu mendapati sosok yang di maksut ia terdiam. Untuk sejenak berfikir.
“Dah dia itu lah orang yang sedari tadi gue maksut. Gimana ?. keren kan?” tanya Angela lagi.
“Jadi dia?” tanya Marsya. Walau bingung melihat mata Sahabatnya yang tiba – tiba terlihat berbinar – binar tak urung Angela mengangguk membenarkan.
“Oke, kalau begitu gue setuju. Loe bisa jodohin gue sama dia”.
“Ha?” mulut Angela terbuka. Asli kaget.
“La tadi loe kan bilang loe mau jodohin dia sama gue. Ya sekarang gue bilang gue setuju” kata Marsya lagi.
“He he he, tunggu dulu. Loe nggak serius kan?” tanya Angela terlihat horor.
“Tentu saja serius. La kan tadi loe sendiri yang nawarin”.
“Ampun deh marsya, gue tadi Cuma bercanda aja kale. Kenal juga belum. Ketemu juga baru kemaren. Tau namanya juga baru tadi. Yang benar saja lah”.
“Ya sudah kalau gitu. Biar gue usaha sendiri”.
“Maksutnya?” tanya Angela bingung.
Marsya hanya angkat bahu sambil tersenyum penuh makna membuat mulut Angela makin terbuka lebar tanpa suara yang keluar sama sekali. Ayolah, ini sama sekali nggak lucu. Semua orang juga tau kalau sahabatnya yang satu itu belum pernah terlihat jalan bareng cowok dalam arti yang sesungguhnya atau dengan katalain biasa disebut pacar. tapi kenapa sekarang.... Angela sama sekali tidak berani melanjutkan pemikiran liarnya. Kepalanya hanya mampu mengeleng – geleng tak percaya.

***Cerpen Pendek ' I Like You'***

“  Devan kenalin gue marsya”.
Sosok yang sedari tadi tampak membaca buku   di perpustakaan kampus sontak mendongak. Kening nya sedikit berkerut sebagai tanda kalau ia sedang bingung. Tapi Marsya tetap cuek. Tangannya masih terulur mengajak berjabatan.
“Kita sekelas. Kebetulan tadi kita kan belum kenalan” sambung Marsya sambil tersenyum manis.
“O”.
Marsya berdiri terpaku. Jangan kan memabalas uluran tangannya bahkan kalimat yang keluar dari mulutnya hanya satu huruf ‘o’. Untuk si sebut sebagai sepatah kata  saja tak cukup apalagi sebagai kalimat.
“Apa ada lagi” tanya Devan tanpa menoleh sedikitpun. Matanya masih asik membaca buku yang ada di tangannya. Hanya saja ia juga masih bisa menyadari kalau marsya masih ada di sampingnya. Belum beranjak sedikitpun.
“Kenapa ?. Apa masih ada lagi yang ingin loe bicarain sama gue?” tanya Devan lagi. Kali ini ia menutup buku nya dan menatap lurus kearah Marsya.
“Loe kan belum menyebutkan nama loe?”.
“Bukanya tadi loe juga sudah manggil nama gue?” Devan balik bertanya. Membuat Marsya mati gaya dan hanya mampu menganggukan kepala membenarkan.
“Ya sudah kalau gitu. Harusnya gue nggak perlu mengulanginya lagi kan. Lagi pula gue sekarang lagi pengen konsentrasi membaca”.
Mendengar itu membuat marsya hanya tersenyum kecut. Hey, bukannya itu sebuah kalimat sindiran untuk mengusir orang ya?.
“Ya udah kalau gitu, gue permisi dulu. Maaf kalau udah ganggu loe. Kalau gitu silahkan di lanjutkan bacaannya” kata Marsya sebelum kemudian pamit berlalu.

Credit Gambar : Star Night

***Cerpen Pendek ' I Like You'***

“Astaga marsya, loe serius tadi dia secuek itu?” tanya Angela tak percaya saat mendengar cerita yang keluar dari mulut Marsya saat ia menyamperin Devan keperpustakaan kampus beberapa saat yang lalu.
“Ya serius lah, masa ia gue bohong” kata Marsya sambil menikmati mie so pesanannya. Sedikit mencicipi rasa kuahnya yang terasa sedikit hambar tangannya terankat menyambar botol kecap yang ada di hadapannya.
“Ih, loe kok santai gitu si?. Gue yang Cuma denger aja kesel”.
“Lho memangnya gue harus gimana?” tanya Marsya heran.
“Loe nggak kesel sama tu orang?”.
Marsya hanya membalas dengan gelengan kepala sambil tangannya terus memasukan suapan demi suapan kedalam mulut.
“Bukannya dia keterlaluan ya?”.
“Ya enggak lah. Yang dia omongin tadi kan bener”.
“Jadi?”.
“Jadi?” ulang Marsya bingung. Sama sekali tak mengerti maksut ucapan sahabatnya.
“Ya jadi gimana. Loe masih tetap tertarik sama tu orang?” tanya Angela lagi.
“Tentu saja” balas Marsya. “Jujur saja dia itu orang pertama yang bisa membuat gue merasa tertarik. Jadi gue nggak akan melepaskannya dengan begitu saja”.
“Tapi kan....”.
Angela tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendapati Marsya terlihat keasikan menikmati makannya.
“Gue nggak akan pernah melepaskan sesuatu yang gue inginkan tanpa terlebih dahulu melakukan perjuangan” tekad Marsya membuat Angela yang melihat nya merasa horor  dan memilih menyuapkan pesanan nya kedalam mulut.

***Cerpen Pendek ' I Like You'***

Ternyata Tekad Marsya benar – benar bukan sekedar isapan jempol belaka.  Sudah lebih dari dua minggu ini ia dengan gencar melakukan pendekatan ke arah Devan walaupun tanggapannya selalu dingin. Tu orang terus nyuekin dia. Bahkan Angela sudah berkali – kali menasehatinya untuk menghentikan usahanya sama sekali tak di gubris.
Namun sepertinya hari ini lain ceritanya. Saat kebetulan marsya dan angela jalan beriringan menuju ke kelas berpapasan dengan Devan, marsya sama sekali tidak menyapanya. Bahkan bersikap seperti tak melihatnya sama sekali. Membuat Kening angela berkerut melihatnya.
“Marsya, bukannya barusan itu devan ya?” bisik Angela lirih.
“Kayaknya si. Memangnya kenapa?” tanya Marsya heran.
“Kok loe nyantai aja?”.
“Memangnya gue harus ngapain?” lagi – lagi Marsya membalas pertanyaan dengan balik bertanya membuat Angela menghela nafas. Sama sekali tidak berniat melajutkan pertanyaanya.
“Sudah lah, lupain aja. Kekelas aja langsung yuk” 

***Cerpen Pendek ' I Like You'***

Marsya masih terus menikmati makanan pesanannya sambil sesekali menatap kedepan. Kaffe memang sedang rame sore itu. Sementara Angela yang ada di hadapannya masih terdiam. Tidak tau mau berkata apa karena selang dua meja dari mereka tampak Devan yang juga sedang menikmati makanannya. Dan Angela sempat menangkap basah arah pandangan Devan yang jelas – jelas sedang memperhatikan gerak – gerik Marsya yang terlihat cuwek. Sama sekali tidak terpengaruh dengan kehadiarnya. Padahal biasanya gadis itu sangat angresif mendekatinya. Tak perduli di manapun dan kapanpun.
Angela masih belum menemukan topik pembicaraan yang pas saat mendapati Marsya yang tiba – tiba bangkit dari duduknya. Dan Angela makin kaget begitu mengetahui arah tujuan marsya yang jelas – jelas sedang melangkah ke arah Devan berada.
“Mau apa lagi loe?” akhirnya devan mengalah dan memilih menyapa duluan ketika melihat marsya yang sedari tadi hanya berdiri di depannya tanpa berkata apa pun membuat perhatian seisi kaffe terarah kemerka.
“Kenapa loe sedari tadi merhatiin gue?” Todong Marsya langsung.
“apa?” Tanya Devan tak percaya.
“Gue nanya kenapa loe sedari tadi memperhatiin gue. Loe naksir ya sama gue?” ulang Marsya lagi.
“Nggak salah. Kenapa gue harus memperhatikan elo?. Nggak penting banget si”.
“Nah justru karena gue nggak tau lah makanya gue nanya kenapa elo mem...”.
“Gue nggak memperhatikan loe tuh” potong Devan cepat.
“Menatap gue tanpa berkedip. Kalau bukan memperhatikan lantas apa donk namanya?”.
“Memang nya siapa yang bilang gue mandangin elo?” bantah Devan. “Dia?” tunjuknya kearah Angela dengan nada meledek.
“Hanya karena gue kebetulan bersitatap sama dia loe langsung keGeEran. Mengira kalau gue memperhatikan elo. Eh denger ya, gue tadi Cuma....”.
“Angela nggak ngomong apa – apa. Tapi gue tau karena gue ngelihat sediri”.
“Jangan ngarang. Sedari tadi gue perhatiin loe sama sekali nggak pernah menoleh kearah gue” bantah Devan cepat membuat Marsya tersenyum.  Sedangkan Angela sendiri justru malah tidak mampu menahan tawanya. Sementara devan sendiri hanya mempu merutuki dalam hati. Ini si bukan membantah, tapi jelas – jelas dia ngaku.
“Gue memang nggak mandang elo langsung. Tapi gue liat nya dari sana” tunjuk Marsya kearah depan.  Kening Devan berkerut melihatnya namun beberpa saat kemudian barulah ia menyadari maksut ucapan Marsya. Dasar bodoh, Kaffe itu kan memang di kelilingi kaca dan dari tempat Marsya tadi duduk kebetulan memang tempat yang paling strategis untuk memperhatikannya tanpa di ketahui.
“Ehem, kalau gitu sudah jelaskan kalau sebenernya yang sibuk mencuri pandang diam – diam itu elo?” Serang Devan balik. Membuat mulut angela manggap sambil menatap devan sinis.
“Gue akuin” balas Marsya cuek.
“terus maksutnya apa?” tanya Devan lagi.
“Gue suka sama loe?”
“Ha?” bukan Cuma Devan yang kaget, tapi juga Angela dan seluruh pengunjung kaffe yang ikut menyaksikan.
“Dan kerena itu, yuk kita jadian” Ajak Marsya melanjutkan ucapannya.
Untuk sejenak suasana hening, sepi. Devan masih terdiam. Sementara pengunjung yang lain juga ikut terdiam menunggu jawaban yang keluar dari mulut devan. Namun beberapa saat kemudian yang terdengar hanyalah suara Melly goeslow yang menembangkan lagu “Yuk kita jadian” yang sepertinya sengaja dimainkan oleh sang pemilik kaffe. ^)(^

Yuk kita jadian
Anak kecil main mobil, mobil mobilan
Maen motor juga paling motor – motoran
Jatuh cinta juga paling cinta – cintaan
Belum beneran
Kita yang sudah besar harusnya serius
Jatuh cinta juga harus cinta beneran
Kau pernah tertangkap basah sedang menatapku
Tanpa berkedip.

Kalau cinta sebaiknya di ucap
Belum tentu kau masih punya hari esok
Banyak gengsi banyak mikir kelamaan
Yuk kita jadian

Didepan ku kau pura – pura dingin
Namun matamu tak mungkin bisa berdusta
Sampai nanti kau mungkin tak kan mengaku
Yuk kita jadian.....

Mobil ku bukan mobil mobilan
Motor ku bukan motoran
Cintaku bukan cinta cintaan
Tiada yang palsu
Yuk kita jadian.
Oh ya, ada sedikit info nie. Maap kalo merepotkan. Ada yang ngerasa gak kalau hari ini Star Night nggak bisa di buka?. Eror mulu?. He he he, sebenernya bukan eror tapi ganti alamat. Sudah bukan http://www.starnight-cerpen.com  tapi kembali seperti semula yaitu http://anna-ajja.blogspot.com . Jadi kalau kalian ingin membacanya harus dengan mengunakan Alamat itu. Nggak tau deh kapan bisa normal lagi… hufh…..