Cerpen Terbaru "Semua Kan Berlalu"


Oh ya sekedar info, Cerpen Semua kan berlalu ini sudah pernah Di post di Fp Cerpen sebagai latihan menulis cerpen yang diadakan di Fp tersebut dengan tema ‘Aku Sekuat Karang”. Dimana saat cobaan datang bertubi – tibu kita tetap di beri ketabahan untuk tetap tegar. Nan, Gimana jalan ceritanya?. Silahkan di baca…
“Pagi ma, pa” sapa nadia sambil duduk dikursinya
“Pagi” balas papa. Sementara mama hanya tersenyum sambil tangannya dengan telaten mengoleskan selai di atas roti tawar . Menu sarapan pagi mereka.
“Tumben sepagi ini kamu sudah rapi. Memangnya mau kemana. Bukannya hari ini kamu libur kuliah?” tanya mama sambil menyodorkan roti yang sudah di olesi selai kearah Nadia.
 “Iya, Nadia mau ketemu temen. Kemaren nggak sengaja dia baca cerpen yang Nadia posting diblog. Nah kebetulan pamannya seorang penerbit, makanya dia nawarin Nadia bagaimana kalau cerpen yang nadia buat dibukukan saja. Biar sekalian mendapatkan hak cipta, jadi tidak sembarangan orang bisa mengcopy paste dan mengakui itu sebagai hasil jerih payahnya hanya untuk mendapatkan pujian yang tidak seharusnya ia dapatkan. Selain itu, siapa tau nadia juga bisa jadi penulis beneran seperti yang dicita – citakan selama ini” terang nadia.
“Oh, benarkah?” papa terlihat takjub.
Kali ini Nadia hanya membalas dengan anggukan.
“Syukurlah jika memang begitu. Mama selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu anakku. Semoga tuhan selalu memberkahi hidupmu dan memudahkan jalan hidup untuk mengejar impianmu”.
“Amin. Makasih atas doanya ma” Sahut Nadia cepat saat mendengarkan doa sekaligus harapan yang diucapkan ibunya barusan.
“Tapi ingat Jadi apapun kamu nantinya, jangan pernah berlaku sombong. Karena kesombongan tidak akan pernah menguntungkan bahkan justru akan merugikanmu” Tambah papa lagi.
“Insya Allah pa. Nadia akan selalu mengingat nasehat papa” balas Nadia sebelum kemudian bangkit berdiri. Pamit pada kedua orang tuanya untuk segera belalu pergi.

 Credit Gambar : Star Night

Selesai menemui penerbit yang ditemani sahabatnya Nadia tidak langsung pulang. Kebetulan libur kuliah ia memilih berjalan – jalan dulu. Sepertinya Ke-mall juga bukan ide yang buruk. Sebenarnya tadi malam ia sudah menelpon dimas, pacarnya. Tapi dimas menolak dengan alasan  ia harus menemani mamanya keacara pernikahan sepupunya. Ya sudahlah, Nadia juga tidak berniat untuk mendesaknya. Toh, besok dikampus  mereka sudah ketemu lagi.
Saat sedang asik berjalan-jalan ia menemui siluet tubuh seseorang yang sepertinya ia kenal lewat tak jauh dihadapannya. Keningnya sedikit berkerut heran. Niatnya untuk mencari mainan hape segera ia batalkan dan lebih memilih mengikuti rasa pernasannya. Mencari tau sosok tersebut.
“Dimas?” gumam Nadia sendiri. Ternyata dugaannya benar. Sosok yang ia kenal itu memang Dimas. Pacarnya yang kini tampak duduk sendiri  sambil membolak – balik buku menu.
Tak ingin larut dalam tebakan tentang kehadiran pacar yang seharunya sedang berada ditempat pesta sang sepupu bukannya malah berkeliaran di-mall, Nadia segera melangkah menghampiri.
“Dimas?”
Merasa namanya disebut, Dimas sontak menoleh. Raut kaget jelas tergambar di wajahnya saat mendapati siapa yang kini berdiri di hadapannya.
“Nadia?. Kamu ngapain disini?” Tanya Dimas heran.
“Justru aku yang mau nanya, kamu sendiri disini ngapain?” Tanya Nadia balik bertanya.
Dimas terdiam. Merasa gelisah dengan apa yang harus ia katakan. Dan berlum sempat ia menemukan jawaban seseorang yang baru muncul dihadapannya memperburuk keadaan.
“Dimas, maaf ya aku tadi ketoilet lama. Oh ya, kamu lagi ngobrol sama sia..... Nadia?”
Mendengar suara yang tak asing di belakangnya Nadia sontak berbalik. Merasa sama – sama kaget saat mendapati Riani, sahabat karibnya kini berdiri dibelakangnya.
Untuk sejenak suasana hening dan sepi. Masing – masing sibuk dengan tebakan dan pikirannya sendiri. Sampai kemudian Nadia mengalah dan lebih memilih mulai membuka pembicaraan.
“Ehem... oh ya. Aku mau nanya kalian berdua kenapa bisa bareng disini?”.
Dimas dan Riani tampak saling pandang untuk sejenak.
“Jangan bilang ini sebuah kebetulan karena aku sama sekali tidak percaya kecuali kebetulan aku memergoki kalian jalan bareng” tambah Nadia lagi yang langsung mendapat lirikan tajam dari Dimas. Tapi Nadia sama sekali tidak perduli. Ia lebih perduli akan jawaban yang akan ia dapatkan walau ia tidak yakin apa yang ia dengar adalah apa yang ia inginkan.
“Maaf” Suara Lirih Dimas.
“Untuk?” tanya Nadia singkat.
“Semuanya”.
Nadia kembali terdiam. Sengaja menunggu kalimat lanjutan dari mulut Dimas.
“Kamu benar. Kita berdua memang bertemu  bukan karena kebetulan tapi karena kita memang sudah janjian”.
“Apa?” Kata Nadia berusaha memastikan dirinya sendiri kalau ia memang tidak salah dengar. Astaga, pacarnya dan sahabatnya sendiri sengaja janjian untuk jalan bareng bersama di belakangnya. Maksutnya apa?.
“Sebenarnya sudah lama aku ingin jujur padamu. Tapi Riani mencegahnya” tambah Dimas lagi.
“Soal?” Tanya Nadia lagi. Masih berusaha untuk tetap terlihat tenang.
“Kita berdua pacaran”.
Kali ini Nadia Terdiam. Pandangan tak percaya secara bergantian menatap kearah Dimas dan Riani yang tampak hanya menunduk merasa bersalah. Ia sama sekali tidak tau harus berkata apa. Mulutnya benar – benar seperti terkunci walau sebenarnya hatinya sangat ingin berteriak dan mencaci maki kedua orang itu saat itu juga. Sampai akhirnya Nadia lebih memilih bangkit berdiri.
“Kamu mau kemana?” Untuk pertama kali Riani buka mulut.
Nadia tidak menjawab. Hanya menatap sinis keduanya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Saat keluar dari mall Nadia mati – matian menahan diri untuk tidak menangis saat itu juga. Ya tuhan, apa salahnya. Baru saja tadi pagi ia gembira karena ada perkembangan yang baik tentang tulisannya tapi kenapa sekarang ia harus membayarnya dengan kejadi buruk seperti ini. Pacarnya sendiri ternyata pacaran dengan sahabatnya. Benar – benar gila.
Sama sekali tidak meyadari langkahnya  tau – tau saat ini Nadia  mendapati dirinya telah memasuki halaman rumah. Keningnya berkerut heran saat mendapai rumahnya di penuhi banyak orang.   Tiba – tiba ia merasakan firasaat buruk. Dengan cepat ia melangkah memasuki rumah. Makin heran saat mendapai omanya yang kini sedang duduk dilantai sambil menangis.
“Oma, ada apa?. Kenapa oma bisa ada disini. Dan oma kenapa menangis?” tanya Nadia cemas sekaligus panik. Pikirannya benar – benar kalut.
 “Nadia cucuku. Yang sabar nak” bukannya menjawab, oma malah memeluk Nadia kedalam dekapannya masih tetap sambil menangis. Membuat Nadia bingung, dan sebelum mulutnya kembali terbuka untuk bertanya matanya sudah terlebih dahulu mendapati sosok yang terbaring kaku di ruang tengah dengan kain yang menutupi keseluruahnya.
“Oma...” gumam Nadia lirih sekaligus takut untuk meneruskan apa yang ingin ia tanyakan. Kali ini ia benar – benar yakin bahwa kejutan yang akan ia dapatkan adalah apa yang benar – benar tidak pernah ia inginkan.
“Oma, papa sama mama mana?” tanya Nadia lagi. Sama sekali tidak menyadari entah sejak kapan ia telah ikut menangis.
“Yang sabar cucuku. Kedua orang mu telah tiada nak”.
Nadia mematung kaku. Seumur hidup bahkan dalam mimpi sekalipun ia tidak pernah membayangkan bahwa sebuah bisikan bisa lebih mengetkan dari pada sebuah petir yang terdengar di saat hari yang cerah – cerahnya. Pandangannya mengabur. Hal terakhir yang ia ingat adalah suara  omanya yang terdengar panik memanggil   namanya sebelum kemudian semuanya  gelap.


Seminggu telah berlalu, Nadia masih belum sepenuhnya menerima semuanya. ia masih merasa bahwa ini semua hanya lah mimpi. Mimpi buruknya.
“Nadia, ayo makan dulu nak”.
Nadia menoleh. Tampak sang oma yang kini berdiri didepan pintu. Memang sejak kepergian orang tuanya sang oma tetap tinggal di rumahnya. Wanita itu sepertinya sama sekali tidak tega meninggalkan cucunya menanggung beban seberat itu sendirian.
“Nadia, kamu tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Kamu harus bangkit sayang” kata sang oma sambil duduk disamping Nadia.
“Kenapa oma. Kenapa semua ini terjadi sama nadia. Kenapa harus nadia yang mengalami semua ini” Tanya Nadia kembali meneteskan air matanya. Sudah seminggu ini ia merenung sendirian, mencoba mencari jawabnnya tapi ia sama sekali masih belum menemukan jawaban kenapa cobaan yang begitu berat menimpanya.
“Mungkin karena tuhan sangat menyayangimu nak”
Nadia terdiam. Tidak membenarkan tapi juga tidak protes. Ia masih mencoba mencerna ucapan oma barusan. Tuhan melakukan cobaan sebesar ini karena menyanginya. Apa itu masuk akal?.
“Dengar lah cucuku. Setiap kejadian dalam dunia ini sudah ada yang mengaturnya. Semua yang baik maupun buruk sudah di gariskan. Tuhan tidak akan memerikan cobaan di luar batas kemampuan. Dan kenapa oma bilang tuhan melakukan ini karena ia menyanigmu?. Karena mungkin dengan diberikan cobaan seperti ini Tuhann ingin kau bisa belajar sabar. Belajar untuk mengiklaskan semuanya”.
“Tapi kenapa harus secepet ini oma?” tanya Nadia terdengar memperotes.
“Supaya kau bisa belajar bersukur lebih cepat. Kau bisa mensukuri karena  diberi kesempatan untuk mengenang mereka. Kau tau ada begitu banyak manusia di luar sana yang justru sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengenali kedua orang tuanya. Tapi bukankan tuhan justru telah memerbikan kesempatan untukmu merasakan kasih sayang yang melimpah dari mereka”.
 “Karena itu kau harus kuat cucuku. Oma yakin kamu pasti bisa” tambah sang oma lagi sambil menatap kearah cucunya dengan penuh kasih sayang.
Nadia masih terdiam mencoba untuk mencerna semua naseha untuknya. Disekanya ari mata yang mengalir dipipinya. Kemudain menoleh kearah oma yang kini juga senang manatapnya.
“Oma benar, nadia harus kuat, nadia pasti bisa melewati semua ini. Tidak , maksut nadia. Nadia Harus bisa!” tekad Nadia mantab.
Oma mengangguk membenarkan. Kemudain meraih tubuh rapuh cucunya, memeluk dengan erat. Meyakin kan bahwa semua pasti berlalu

1 komentar:

Cerpen yang bagus, jalan ceritanya sederhana, mudah dimengerti. Namun kurang greget sedikit hehe. Oya aku pingin juga dong diberi saran dan kripik.. eh kritik untuk beberapa cerpenku.
Singgah Ya! http://kumbinobayu.blogspot.com


EmoticonEmoticon