Cerpen "Rainbow after Rain ~08"


Masa depan itu memang PENTING, Tapi  hari ini juga BERHARGA!!!. #  Rainbow After Rain

Dengan berlahan Naira membuka matanya. Merasa sedikit silau mata itu kembali terpejam sebelum kembali di buka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit – langit yang berwarna putih, namun ketika menoleh kesamping matanya langsung bertubrukan dengan tatapan lega sekaligus cemas dari... steven?.
“Naira? Syukurlah, akhirnya kau sadar juga”.
“Aku dimana?” tanya Naira sambil mencoba untuk bangkit, tapi Steven sudah terlebih dahulu menahannya.
“Sebaiknya kau istriahat dulu. Sebentar lagi dokter kesini”.
Dan sebelum naira sempat berucap pintu kamar sudah terlebih dahulu terbuka diiringi dokter berseragam putih yang masuk kedalam.
“Syukurlah, masa kritisnya sudah lewat” Kata dokter itu setelah memeriksa keadaan Naira. Mendengar itu barulah Steven mampu menghembuskan nafas lega. Setelah berbicara beberapa saat Dokter itu kembali berlalu pergi , meninggalkan Steven dan Naira sendirian.
Suasana sepi dan hening. Steven juga sama sekali tidak berkata  apa – apa selain duduk diam di samping tempat tidur Naira. Naira sendiri juga tidak tau harus berkata apa. Entah mengapa ia merasa sangat kikuk.
“Huhf” terdengar Steven menghembuskan nafas berat.
Lelah, sungguh ia merasa sangat lelah. Tapi harus di akui olehnya bahwa pada saat bersamaan ia juga merasa lega. Lega karena akhirnya masa kiritis yang di alamai Naira beralu setelah sebelumnya selama tiga hari gadis itu sama sekali tidak sadarkan diri.
“Kenapa?”.
“He?” Kening Naira berkerut bingung. Sama sekali tidak mengerti arah dan tujuan pertanyaan yang Steven lontarkan untuknya.
“Kenapa kau tidak bilang kalau tubuhmu rentan terhadap hujan?”.
“Oh” Naira mengangguk paham. Sambil tersenyum ia menjawab “Maaf, sepertinya aku lupa”.
“Lupa?. Kau bilang lupa?. Bagaimana bisa kau melupakan hal sepenting itu?. Bagaimana bisa kau melupakan sesuatu yang jelas jelas bisa merengut nyawamu?. Apa kau tau bagaimana khawatirnya aku saat melihat mu terbaring kemaren?.  Bagaimana cemasnya aku saat tau kondisimu yang kritis dan tidak tau kapan kau akan sadar?. Dan...”.
Steven tidak melanjutkan ucapannya saat menyadari kalau ia terlalu antusias dalam mengucapkannya. Tapi entahlah, sepertinya saat itu ia memang sulit untuk mengontrol emosinya sendiri. Apalagi mengingat kondisi Naira kemaren.
“Maaf” Gumam Naira lirih. Steven masih terdiam sambil menunduk. Mencoba untuk meredam emosinya.
“Kau tidak perlu merasa bersalah. Kemaren itu sama sekali bukan salahmu” Sambung Naira lagi.
Steven mengangakat kepalanya. Menatap lurus kearah Naira yang kini juga sedang menatapnya.
“Bersalah?” ulang Steven.
“E...” Naira mengangguk membenarkan. “Kau sama sekali tidak perlu merasa bersalah karena kejadian kemaren. Karena aku sama sekali tidak menyalahkanmu”.
“Jadi menurutmu aku disini hanya karena merasa bersalah?” Tanya Steven lagi membuat Naira melemparkan tatapan bingung padanya.
“Jadi?” Naira masih tidak mengerti.
“Sudahlah lupakan....” Potong Steven. “Sepertinya aku terlalu lelah sehingga tidak bisa berfikir jernih. Jadi karena sepertinya kau juga sudah sadar dan tidak ada yang perlu di cemaskan lagi, aku pamit”.
Tanpa menunggu kalimat jawaban dari Mulut Naira, Steven telah terlebih dahulu bangkit berdiri dan berlalu pergi. Meninggal kan Naira yang tidak hanya bingung akan sikapnya tapi juga sekaligus kecewa mendengarnya. Tapi tetap, Naira sama sekali tidak mencegahnya. Ia merasa ia tidak memiliki alasan untuk itu.

Lama Steven terdiam di hadapan kamar rawat nomon 07. Ruang rawat dimana Naira di berada. Sekali dua terlihat ia menghela nafas. Entah mengapa ia merasa ragu untuk masuk sejak kejadian kemaren.
Ia sendiri juga bingung kenapa kemaren itu merasa sangat emosi saat mendengar tangapan Naira soal keberadaanya. Ayolah,.... kalau memang ia hanya merasa bersalah untuk apa ia berada di rumah sakit hanya untuk menunggui gadis itu sadar, bahkan ia sampai harus meninggalkan seluruh tugas kantornya. Tapi kalau di pikir – pikir lagi, kalau bukan karena merasa bersalah lantas alasan apa yang bisa ia pakai?.
“Hufh...” Untuk kesekian kalinya Steven kembali menghela nafas. Setelah meyakinkan dirinya diraihnya ganggang pintu. Siap untuk memutar knopnya ketika sebuah suara yang menyapa menyangagetkannya.
“Steven?”.
“Naira?. Apa yang kau lakukan di sini. Bukannya kau harus istirahat. Kau kan masih sakit?”.
“Aku baik baik saja” Potong Naira cepat. “Justru aku malah heran, apa yang kau lakukan dari tadi. Kenapa hanya berdiri disana?” Tambah Naira sebelum Steven sempat membuka mulut.
Steven tidak menjawab. Tapi matanya memperhatikan Naira dengan seksama. Sepertinya kondisi gadis itu memang sudah terlihat baik. Syukurlah, Perasaan lega menghampirinya.
“Sepertinya kau memang sudah terlihat lebih baik. Tapi tetap saja kau harus beristirahat, bukannya malah keluyuran” Sahut Steven sambil membukakan pintu untuk Naira.
“He” Naira terlihat tersenyum simpul sambil mengeleng. Membuat Steven mengerutkan kening heran.
“Justru tadi itu aku sudah mau langsung pulang kalau saja tidak sengaja melihat mu yang berdiri terpaku di sini”.
“Pulang?”.
Naira membalas anggukan membenarkan.
“Bukannya kau masih sakit. Bagaimana bisa dokter membiarkan mu pergi begitu saja?”.
“Ha ha ha, Kan aku udah bilang. Aku baik – baik saja”.
“Tapi kan....”.
“Kau bisa tanyakan langsung pada dokter kalau tidak percaya. Tapi selama kau bertanya, sebaiknya ku pergi saja. Jujur saja aku tidak betah berlama – lama di sini” Potong Naira Sambil bersiap berlalu.
“Tunggu dulu” tahan Steven sambil meraih tangan Naira.
“Kenapa lagi?” tanya Naira.
Untuk sejenak Steven terdiam. Matanya kembali memperhatikan Naira dengan seksama. Memastikan kondisi gadis itu sudah benar – benar membaik.
“Aku antar kau pulang”.
“Tapi...”.
Naira tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan yang Steven lontarkan. Entah mengapa melihat tatapan tajam itu membuat hati Naira luruh. Tanpa kata ia segera mengikuti langkah Steven yang membimbingnya menuju ke plataran parkir. Dimana sebuah mobil silver terparkir di sana.


EmoticonEmoticon