Cerpen Cinta Rainbow after Rain ~ 10

Apa yang kita butuhkan belum tentu yang kita inginkan...
Apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan...
Tapi percayalah bahwa apa yang kita dapatkan adalah yang kita butuhkan
#Rainbow after rain.

PS: Oh ya, sekedar info ya. Cerpen rainbow after rain ini adalah lanjutan dari cerpen sedih Life must go on yang di post di blog Remaja Xsis. So kalau kalian mau tau bisa langsung baca ke TKP.
Oke, Happy reading...

Cerpen Rainbow after rain 10
Credit Gambar  : Ana Merya

“Hufh,,,,...” Untuk kesekian kalinya Steven menghembuskan nafas berat. Dadanya terasa berdenyut nyeri. Apa yang Naira ucapakan kemaren kembali terulang di kepalanya.
Astaga, apa yang harus ia lakukan?. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan reaksi gadis itu kalau sampai ia tau bahwa jantung yang kini berdetak dalam dirinya adalah jantung yang sama yang pernah di miliki oleh kakaknya?. Orang yang paling ia sayangi?. Seseorang yang kematiannya tidak pernah ia inginkan dalam hidup?.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini?” Gumam Steven lirih.
Sekilas kejadian beberapa tahun yang silam. Saat ia masih SMA dulu. Tentang seorang malaikat penyelamatnya. Nadira, yang ia ketahui namanya justru setelah ia tiada.
“Tok tok tok”.
“Masuk” Sahut Steven tanpa menoleh.
Terdengar suara mendekat. Steven masih terdiam sambil matanya beralih kearah map – map yang berserakan di atas meja. Tangannya tergerak asal membuka satu – persatu file yang ada di hadapannya.
Merasa aneh karena suasana masih hening. Bukankah biasanya sekertarisnya langsung menyerocos tentang file file yang harus ia tanda tangani?. Dengan santai akhirnya Steven menoleh.
Mulutnya terbuka tanpa suara, Kaget saat mendapati sosok yang kini berada di hadapannya. Tidak, kemunculan sekretarisnya tidak akan mampu membuatnya merasa sekaget ini.
“Stela” Walau berat akhirnya satu kata itu berhasil melewati tenggorokannya.
Masih hening tanpa ada jawaban. Hanya saja sebuah senyuman tampak menghiasi bibir gadis yang ada di hadapannya sambil mengangguk membenarkan.
“Keberatan tidak jika harus menemaniku makan siang?. Perutku lapar”.
Kali ini Gantian kepala steven yang mengangguk membenarkan.

Cerpen Cinta Rainbow after Rain ~ 10

“Bagaimana kabarmu sekarang?” Stela terlebih dahulu membuka pembicaraan saat keduanya masih terdiam padahal makan siang yang mereka pesan kini sudah terhidang dihadapan mereka.
“Baik” Sahut Steven menjaga suaranya untuk tetap terdengar santai.
“Bagaimana dengan mu?” Steven balik bertanya sambil mengaduk – aduk jus yang ada di hadapannya.
“Kau ingin aku menjawab apa?”.
Steven menoleh. Menghentikan aktifitasnya.
“Aku baik – baik saja. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya” Stela meralat ucapannya saat menlihat reaksi Steven.
“Kau yakin kau baik – baik saja?” Stela kembali buka bicara.
“Tentu saja” Lirih steven.
“Tapi kenapa wajahmu terlihat kusut begitu?”.
“Bagaimana dengan perjodohanmu?” Tembak Steven langsung tanpa memperdulikan pertanyaan Stela barusan.
“Tidak buruk” Balas Stela sambil mengendikan bahu.
“Apa itu artinya kau menerimanya?” tanya Steven lagi.
Stela tidak langsung menjawab. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya.
“Apa menurutmu setelah apa yang terjadi aku akan menolaknya?”.
“Tidak bisakan kau hanya menjawab pertanyaanku tanpa balik melontarkan pertanyaan?”.
Stela kembali menghela nafas. Menatap lurus kearah Steven yang kini juga sedang menatap tajam kearahnya.
“Ya. Aku menerimanya”.
Hening. Suasana kembali hening.
“Syukurlah”...
“Apa?” Tanya Stela tidak yakin akan apa yang baru saja di dengarnya.
“Syukurlah. Karena Andre adalah orang yang baik. Dia adalah orang yang bertanggung jawab. Dan dia....... Menyukaimu” Balas Steven sambil mengalihakan pandangannya. “Sejak lama” Sambungnya lagi.
“Aku tau” Balas Stela tak kalah lirih. Tangannya terkepal erat. Tidak bisa di pungkiri hatinya sakit mendengar kalimat barusan walau sebenarnya ia sudah memperdiksikan hal itu sebelumnya. Namun tetap saja ini menyakitkan. Bagaimana bisa orang yang kau sukai justru malah menyerahkanmu pada orang lain?. Benar – benar kejam.
Suasana kembali hening. Masing – masing sibuk dengan pikirannya masing – masing.
“Ehem.... Kau bilang tadi lapar. Ayo kita mulai makan” Ajak Steven mencoba untuk mencairkan suasana. Stela mengangguk membenarkan. Dengan berlahan tangannya meraih makanan yang memang sudah terhidang di hadapannya. Kemudian menikmatinya dalam diam.
“Drrrtt... Just don't give up
I'm workin' it out
Please don't give in
I won't let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around Hey,
whataya want from me
Whataya want from me


Lirik lagu whataya want from me miliknya adam lambert mengusik keduanya. Dengan terburu – buru Steven mengelurakan benda elektronik dari dalam Saku nya. Keningnya sedikit berkerut saat membaca id caller yang tertera. Setelah nada berhenti ia terdiam sesaat sebelum kemudian tangannya tergerak menekan tombol merah. Membuat cahaya di layar makin redup sampai kemudian benar – benar menghilang.
Walau bingung juga penasaran Stela tidak berkata apa pun menyaksikan apa yang di lakukan Steven di hadapannya. Sementara Steven sendiri juga bingung apa yang baru saja di lakukannya benar atau salah. Entahlah, begitu banyak yang harus di fikirkannya sehingga membuat otaknya terlihat sedikit tumpul untuk saat ini. Yang ia tau ia tidak ingin memikirkan atau pun menambah masalahnya kali ini. Ya, ia hanya ingin menundanya. Tidak salah bukan?

Cerpen Cinta Rainbow after Rain ~ 10

Setelah membereskan semua buku – bukunya Naira bangkit berdiri. Sejenak ia edarkan pandangan kesekeliling. Seperti biasa, masing – masing sibuk bergerombol ataupun berpasangan dan hanya dirinya yang sendirian. Tanpa sadar sebuah senyum terukir di bibirnya. Entahlah, ia juga tidak tau senyum itu ia tujukan untuk siapa.
Begitu sampai di pelataran kampus Naira kembali melirik jam yang melingkar di tangannya. Pukul 11:30 Siang. Tumben jam segini ia sudah keluar. Hufh, ini pasti karena dosen ‘sastra’ dengan seenak jidatnya tidak masuk.
Sambil melangkah Naira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Berharap menemukan sosok seorang yang selama ini sering mengajaknya makan siang bareng atau pun hanya sekedar menghabiskan waktu untuk jalan – jalan tidak jelas.
Merasa tidak mungkin menemukan sosok yang ia cari, Naira mengeluarkan Handphon dari dalam tasnya. Merasa ragu sejenak akhirnya dimantapkan hatinya untuk menekan tombol hijau pada id caller “Steven”. Terdengar nada sambung dari seberang. Sambil menunggu di angkat Naira melangkah menuju kearah bawah pohon beringin yang tumbuh di halaman. Sekedar menghindari terik panas matahari yang melanda.
Begitu nada tunggu terhenti Naira melirik hanphondnya. Tumben tidak di angkat. Apa terjadi sesuatu mengingat terakhir kali mereka bertemu setelah ia keluar dari rumah sakit kemaren sikap Steven memang terlihat aneh. Ia lebih banyak diam dari pada bicaranya.
Namun mencoba untuk tetap berfikir positif Naira kembali menekan tombol hijau. Setelah menunggu beberapa saat justru malah layanan operator ya ia tangkap. Membuatnya makin bingung.
“Kok jadi mati?” gumamnya lirih.
Merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari sebatang pohon beringin (???) Naira memutuskan untuk berjalan kearah halte bus. Membatalkan niatnya untuk mengajak Steven makan siang bareng. Sepertinya hari ini ia makan di rumah saja. Telur dadar berserta tumis kankung sepertinya masih bisa ia kerjakan.

Oke deh, segitu dulu. Mianhe, Terpaksa "To Be Continue" dulu. Secara "Waktu luang "ku udah abis. Kapan - kapan di lanjutin lagi ya Cerpen cinta Rainbow after rainnya. Moga aja kalian gak kesel karena harus menunggu lagi.

Cerpen cinta remaja "Kalau Cinta Katakan Saja ~ 01/6

 Oke deh All, Kayaknya makin ari makin 'males' aja penulis buat terus nulis cerpen. Abis 'rintangan'nya banyak banget. ck ck ck.
Nah untung saja masih ada Mia Mulyani, adek penulis yang juga demen nulis. Untuk itu berikut karyanya dia yang monggo, silahkan langsung di baca. Kalau ada yang kurang silahkan langsung di koment. Ntar Penulis tambahin (???).

Akhir kata, Happy Reading ya......

"Busyet, tuch cowok keren banget...." batin ku saat melihat seorang cowok yang duduk di parkiran bareng temen-temennya.
Sumpah ya aku nggax nyangka kalau aku bakal ketemu lagi seorang cowok yang keren. Bahkan lebih keren dari pada cowok yang aku lihat saat MOS kemaren, kira-kira siapa ya tuch cowok?, kayak-kayaknya sich kakak kelas. Ah, aku ini emang bener-bener ga bisa lihat cowok keren dikit ya he he he.... -______-
0h ya kita belum kenalan, kenalan dulu ya.... Nama aku Devila Indri Chelsy Indah Ayu Lestari _Jangan bayangin kalo pas akad nikah ya? ^_^
Aku biasa di panggil Chelsy, hari ini adalah hari pertama aku di sekolah baru, karena dua minggu yang lalu aku telah terdaftar sebagai siswa baru di SMU ini, kemaren saat MOS aku ada sempat melihat seorang cowok yang keren di antara murid baru lainnya, aku penasaran banget ama tuch cowok, kira-kira bisa nggax ya aku jadi temen deketnya.
Nah, kalau aku lihat ada yang keren, pasti juga ada yang cantik, ia kaan, menurut aku, ada dua orang cewek yang cantik, kelihatannya enak di lihat, pendiem, rapi pokoknya perfect deh, itu saat hari pertama, dan hari keduanya, aku juga melihat ada cewek yang cantik. dia pakek kacamata dan gayanya feminim banget, pokoknya beda jauh deh dari aku...
Menurut aku siapa pun yang mendapat kannya pasti bakal beruntung banget, uuuh andai aja aku kayak mereka... eh tapi bukankah menjadi diri sendiri itu lebih baik? ah ia aku jadi diri aku sendiri aja deh, emmm tapi beneran deh tuh cewek perfect banget. Apa bisa ya aku nyaingin dia... kayak nya nggax deh. Eh tapi mungkin suatu saat nanti aku bakal lebih dari pada mereka berdua, ia nggax? emmm siapa yea nama tuh cewek, cari tau ahhh
"Chel, kok bengong sich?" tiba-tiba ada yang menepuk bahu ku, refleks aku melihat ke samping, lamunan ku langsung terbuyar.
"eh, e apa? enggak kok" balas ku, saat mengetahu kalau cewek itu adalah 'Nay' sahabat terbaik ku. Aduh kok aku bisa lupa ya kalau aku tadi bareng sama Nay. Keasyikan ngelihatin cowok keren sih....
"0, eh kesana yuk. Ke papan pengumuman itu . Lihat kita di ruang nomor berapa" ajak Nay.
Aku hanya mengangguk, dan mengikuti Nay menuju papan pengumuman, ya semoga aja aku bisa ketemu cowok yang keren lagi he he he, eh sorry, sorry, sorry, aduuuuuh aku ini kan ke sini mau belajar, kok jadi cowok sich. Ah kacau-kacau. E... tapi cowok tadi anak kelas mana ya? manusia apa pangeran ya,,,, abis keren banget. eh kok Aku jadi lebay gini sih... ah makin kacau nih....
"Chel loe ruang mana?" tanya Nay begitu selesai membaca pengumuman yang ada di depan kelas.
"Gue masuk ruang A. Kalau loe?" balas ku setelah membaca pengumuman nya sekali lagi untuk memastikan.
"Gue bingung... nama gue ada di A, tapi di B juga ada, gue mau milih yang mana ya...." balas Nay.
"Udah loe masuk ruang A aja, bareng gue, santai aja, ada nama loe ini" kataku dan menarik tangan Nay untuk masuk ke kelas A.
Begitu tiba di kelas Aku langsung menghentikan langkah ku, ini mimpi apa bukan ya... Aku sekelas sama cowok keren kemaren? uuuh asyiiiik.
"Chel loe duduk di mana?" tanya Nay.
"gue di sini aja deh" balas ku sambil duduk di kursi baris tengah-tengah nomor dua.
"0, loe di situ, gue di depan loe deh" balas Nay.
Setelah banyak yang masuk, juga memilih kursinya masing-masing akhirnya ada juga guru yang masuk kelas. Tapi aku duduk sendiri, ada yang bilang yang duduk bareng aku 'wiena' tapi aku nggax kenal anaknya yang mana. Ah udah lah biar aja, besok kan aku tau, abis sekarang dia nggax datang, katanya sih sakit, Kasiaaaaaaaaaaaaaaan.
Begitu guru itu masuk beliau langsung meminta anak-anak baru untuk memperkanalkan diri satu per satu dan semuanya pun memperkenalkan diri, dan berkat itu aku jadi tau nama cowok keren kemaren, namanya itu 'Steven' waaaah bakal makin seru nih, kayaknya keberuntungan lagi berpihak ke aku deh he he he....
Dan tentu saja aku juga tau nama cewek yang aku kagumi itu, dan kebetulan dua-duanya itu sekelas sama aku, yang pertama namanya 'chintya' dan yang ke dua, yang pake kacamata itu namanya 'imel'. Nama yang bagus ea... nggax nyangka Aku, ternyata aku bener-bener beruntung. Kalau begitu aku harus belajar dari mereka, ia nggax???
Tapi apa aku bener-bener bisa nyaingin mereka?. Kayaknya nggax deh, mereka itu bener-bener jauh . Jauuuuh banget bedanya sama aku... Kalau aku itu pinter, berarti mereka itu bener- beneeeeer pinter, atau bahkan super pinter, dan kelebihan mereka pasti bakal lebih dari pada aku. Ah kita lihat aja ntar apa aku bisa nayaingin dia, atau aku selalu kalah.... tapi semoga aja keberuntungan kembali berada di pihak padaku. Ya semoga...

cerpen cinta remaja kalau cinta katakan saja
Credit Gambar : Ana Merya

Cerpen Cinta remaja “ Kalau Cinta Katakan Saja”

Huuuuuffffhhhh..... nggak kerasa ya ternyata aku udah dua minggu di sekolah baru ku. Tapi baru dua minggu aku sudah banyak dapat temen baru ada wiena, mawar, chintya, imel, juga Aurel trus banyak lagi deh. dan Steven salah satunya. Ia juga jadi temen aku, walau nggax terlalu akrab tapi aku bisa ngobrol sekali-kali sama dia, ya sedikit banyak aku tau lah dia itu orangnya kayak apa.
"Chel, menurut loe, mana yang lebih keren antara mike atau aldy?" tanya Nay saat istirahat pertama. Aku bingung juga, selain aku nggax seberapa kenal sama mereka, aku juga emang nggax tau mana yang lebih keren.
"Eeemmmm, mike itu yang temennya Steven ea?" tanya ku memastikan,
"Ia. Menurut loe mana yang lebih keren?" tanya Nay lagi.
"Eee mana ya? gue bingung. Abis selain gue nggax seberapa kenal sama dia, gue juga nggax tau, emang kenapa? dia nembak loe?" tanya ku ngasal.
"Ia. Gue bingung mau milih yang mana, makanya gue tanya sama loe"
"oh yea?" tanya ku kaget.
He he he padahal kan tadi aku cuma ngasal aja ngomongnya, eh ternyata bener. Aku itu emang bener-bener hebat yea? eh muji sendiri dech aku. Abis nggax ada yang mau muji sich, (uuuuh kasihan....)
"eh sorry, maksud aku.... emmm sorry ya, aku juga bingung, mending loe tanya sama orang laen aja. Loe kan tau sendiri gue itu nggax berpengalaman sama yang begituan" tolak ku. Ya abis kan aku emang belum pernah pacaran, jadi mana aku tau yang mana yang lebih baik.
"0h ia gue lupa, loe kan nggax suka pacaran"
"He he he tau tak apeeee..."
"Ea lah tuuuu..."
"Chel. kekantine yuk" ajak wiena dari luar kelas.
"0key, bentar ya..." balasku "e Nay, sorry ya, gue ke kantine dulu, mending kalau loe mau tau jawabannya, loe tanya aja ama yang udah berpengalaman, gue bener-bener nggax bisa bantuin..." kata ku kearah Nay, wah jadi serba salah nih, abis mau gimana lah, aku emang nggax tau. setelah Nay mengagguk aku langsung cabut, menghampiri wiena dan kekantin.
Setelah dari kantin aku mau kembali kekelas, nggax sengaja aku berpapasan sama cowok keren kemaren, aku rasa pernah ngelihat nih cowok deh. Tapi di mana ya? wajahnya tu udah nggax asing lagi, bukan berarti dia pasaran ya... emmm tapi di mana ya??? rasa-rasanya sich nie cowok mirip 'joy' pemain sinetron itu,. Nama lengkapnya aku nggax tau pasti, yang penting namanya adalah joy, joy nya gitu, kalau nggax salah... tapi, kalau di lihat bener-bener malah lebih miripan sama JB alias Justin Bieber yang lagi naik daun itu, sumpah deh. #Ana beneran nyungsep baca nie cerita ^_^

"0000 Ferly, kalau lihat cewek dikit, langsung nggax kedip matanya..." kata seorang temen tu cowok keren, yang tentu saja menyadarkan aku kalau dari tadi tu cowok yang ternyata bernama Ferly terus ngelihatin aku sampai muter kepalanya.
"e nggax lah, bukan gitu... ini ha... apa... cuma ini tu cewek cantik banget" kata Ferly bingung mau bilang apa.
Temen-temennya langsung tertawa sambil mendorong-dorongnya, tanda nggax percaya. Tentu saja itu langsung buat aku kaget, nggax kebayang deh gimana perasaan aku saat itu, rasanya tu kayak melayang di angkasa gitu, ya iyalah gimana nggax, di puji sama cowok idolanya, wuaaah nggax bakal bisa tidur semalaman.
Takut ketahuan kalau aku itu seneng, langsung aja aku ngajak wiena untuk masuk ke kelas, begitu di kelas aku langsung ngelamun, ternyata tu cowok emang bener-bener keren ya.... dan e siapa namanya tadi, 'Ferly'??? nama yang bagus ya.... he he he...
Begitu tiba di rumah, fikiran ku sudah melayang entah kemana, udah nggax bisa di balikin lagi, rasanya tuch seneng banget. Tiba-tiba langsung terdengar lagu dari radio yang cocok banget sama perasaan aku, kalau nggax salah yang nyanyi 'Nikita Willy', tapi kalau salah nggax tau deh, judul nya 'Cinta Pertama' yang liriknya kayak gini nich....

'CINTA PERTAMA'

Ku tak tau... mengapa ku malu...
Disetiap aku tau dia di dekat ku...
Aku sesal bila dia tak ada
Tak ingin jauh ku darinya....
Ada rasa yang tak biasa...
Yang mulai ku rasa, yang entah mengapa...
Mungkin kah ini pertanda, aku jatuh cinta...
Cinta ku yang pertama....
Tuhan tolong berikan lah isyarat
Semoga ne jawaban atas do'a ku....
Perkisahan ku mengenang cinta...
Yang indah tanpa air mata.,...
Ada rasa yang tak biasa...
Yang mulai ku rasa, yang entah mengapa...
Mungkin kah ini pertanda, aku jatuh cinta...
Cinta ku yang pertaaamaaaa......

Cerpen cinta remaja "Kalau cinta katakan saja"

Nggak kerasa ya udah enam bulan aku di sekolah baru ini, dan tentu saja makin lama aku makin akrab sama Steven, anaknya makin lama makin baik. Tapi sayang anaknya lumayan pendiam, dulu waktu pertama kali kita temenan juga aku dulu yang ngajakin ngobrol. Aku itu aneh ya kalau orang lain yang ngedeketin pasti aku jutek and cuek, tapi sebaliknya kalau orang itu yang diem eh malah aku yang ngedeketin dia.
Malahan dulu mawar pernah bilang, katanya saat aku MOS kemaren. Aku itu kayak patung hidup, diaaaaaam aja, nggax mau kenal-kenalan sama orang lain, malahan dia sempet bilang kalau aku itu pendiem bin sombong, re-se banget kan? tapi ya maklum lah. Aku kan emang gitu orangnya, rada-rada aneh dikit. Kita kan harus jadi diri sendiri, jadi aku nggax papa donk gini, kan nggax ikut-ikutan yang lain, he he he ia nggax sih.
"Chel, ntar loe kerumah gue ea..." kata seorang cewek dari arah samping, aku langsung menoleh ternyata Nay.
"emang mau ngapain sich?" tanya ku bingung. tumben nie orang ngajakin aku kerumahnya, biasanya juga kalau nggax kerja kelompok aku nggax pernah di ajak kerumahnya. jangan-jangan mau membagi-bagi ampau lagi he he he
"ntar mike ama Steven mau kerumah gue"
"0h yea????" tanya ku kaget, Steven? mau ngapain? trus ngapain ngajak-ngajak aku, emangnya Nay tau kalau aku suka sama Steven? nggax mungkin kan? ya nggax lah, karena aku nggax pernah ngasi tau he he he
"ia, pokoknya ntar loe kerumah gue, gue nggax ada temennya di rumah"
"emang mau ngapain sich...."
"udah lah, loe jangan banyak tanya, ntar loe datang aja, Steven bilang dia mau nemenin mike ke rumah gue asal gue juga bawa temen cewek ke rumah gue, jadi loe harus datang"
"what?! maksud loe apaan? gila loe, maksud Steven itu kan cewek laen, bukan gue, kalau gue ma udah kenal" tolak ku.
"yaaaah ayo donk, gue nggax tau mau ngajak siapa lagi, pleaseeeee bantuin gue napa, ayo laaaaah..." rayu Nay. emmm gimana ya, gue bingung nih, gimana ntar kalau Steven kecewa karena cewek yang di bawa itu aku. Eahh itu kan namanya bikin malu , emmm tapi kasihan juga si Nay ini... aduh gimana ya....
"ayo donk Chel... loe nggax kasihan sama gue apa?" tanya Nay.
"emmm 0key, baiklah gue mau" kata ku akhirnya.
"he he he nah gitu donk, dari tadi kek..." kata Nay seneng, huu'uuuh nggax ada pilihan laen.
sepulang sekolah gue langsung melakukan aktiVitas seperti biasanya, tapi waktu saat nya istirahat aku ganti dengan siap-siap ke rumah Nay, walau masih agak lumayan malu juga sih tapi aku tetap melangkah menuju rumah Nay, iiiih gimana ini....
"eh Nay, mike itu pacar loe ea?" tanya ku begitu tiba di rumah Nay.
"ea..."
"0h... eh itu mereka.,.." tunjuk ku kearah dua orang cowok yang baru melewati jalan di depan rumah Nay menggunakan motornya, jangan-jangan tu orang nggax tau lagi rumah Nay, aku langsung melangkah keluar dan melihat Steven dan mike yang tampak lagi kebingungan.
"woooy, sini..." teriak ku kepada dua orang yang lagi kebingungan, Steven langsung menoleh dan balik arah menuju rumah Nay.
"eh Chel, loe ladenin bentar ea, gue mau bikin minum" kata Nay dan langsung ke dapur, aku hanya balas mengangguk.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam. yuk masuk" ajak ku kearah Steven dan mike, setelah mereka duduk di kursi aku langsung bingung, iiiih mau ngomong apa ya,,, Nay kemana lagi nie, aduuuh masa tamunya di cuekin sih... ehem-ehem tes tes satu dua tiga... ehem-ehem.... basa basi ah...
"ini dari rumah atau kemana dulu tadi?" tanya ku sekedar basa-basi, dari pada di diemin ya nggax.,..
"e dari rumah" jawab Steven, sementara mike diam saja, secara gue nggax seberapa kenal sama dia, atau bahkan sebaliknya, di tambah lagi Steven yang lebih deket dari gue.
"langsung tau tadi rumahnya disini?" tanya ku.
"e, enggak, tadi sempet bingung juga, setelah lihat loe di sini, baru deh tau" jawab Steven.
"000h, emang nggax nanya sama orang?" tanya ku lagi, e gue mirip wartawan nggax sich? bayak tanya, tapi dari pada diem-dieman.
"bingung mau nanya sama siapa" jawab Steven.
"he?!" gantian aku yang bingung, prasan banyak orang, kok bisa bingung mau nanya sama siapa "aneh-aneh aja..." balas ku.
"rumah loe di mana Chel?" tanya Steven.
"Alhamdulillah, gue belum punya rumah" jawab ku cepat.
"sesuatu ya..." balas Steven
"he? maksudnya?" gue jadi bingung, sesuatu apaan?
"Alhamdulillah ya, sesuatuuuu he he he"
"syahrini???! ck ck ck macam tau-tau zae..."
"tau lah, eh mana lah rumahnya"
"udah di bilang gue nggax punya rumah juga, nggax percayaan banget"
"ya abis gimana lah?" tanya Steven bingung.
"gimana apanya?" tanya ku.
"ya gimana? loe tinggalnya?"
"ya gue tinggal sama, my parent lah, emang mau sama siapa lagi" jawab ku sambil menahan tawa. lucu juga menyaksikan kebingungan Steven dan mike.
"yeeee sama aja lah tuuu..." kata Steven setelah beberapa saat bengong.
"ya beda lah, gue itu belum punya rumah kaleee..."
"ya udah, mana rumah mama loe?" tanya Steven.
"loe ngapain nanya-nanya, bokap gue masih ada lho, lagian gue nggax berminat tuch punya bokap tiri kayak loe..." balas ku santai.
"he??? loe...."
"apa? aneh, gue udah tau, banyak yang udah bilang gue kayak gitu, padahal kan gue ngomong apa adanya" balas ku.
"gue seriuz ne..."
"gue dua riuz malah"
"ya udah kalau gitu, gue tiga riuz deh" kata Steven.
"haaa dariuz??! dia itu,.... cowok pemain lawak yang tubuhnya kayak anak kecil itu kan???" tanya ku, sengaja mau ngerjain Steven, karena ngerjain temen-temen yang nggax bisa jawab pertanyaan dari aku yang kelihatan konyol tapi kenyataan kan salah satu hobby aku, he he he aneh nggax sich.
"Chelsy...." tampak Steven yang udah sebel banget karena di kerjain mulu, aku langsung aja tertawa, uuuuh serunya...."mana sich rumah nya?"
"ya udah deh, loe nanya rumah kan? e rumahnya itu tuh?" tunjuk ku kearah rumah yang tak jauh dari rumah Nay.
"jadi itu rumah loe?" tanya Steven.
"bukan"
"rumah nyokap bokap loe?"
"emmm bukan juga"
"truzzzz???" Steven tampak makin bingung,
"rumah tetangga gue" jawab ku cepat ha ha ha ha... langsung aja tawa ku meledak melihat tampang sebel terlintas di wajah Steven dan mike.
"yang seriuz lah, rumah loe yang di mana?"
"emmm baik lah, kalian tadi pada lihat mushala nggax?" tanyaku.
"lihat. rumah loe di balakangnya?" tanya Steven.
"he? emang di belakang mushala ada rumah? prasan...."
"kuburan kan" potong Steven sambil senyum-senyum. he?! emang apa sich maksudnya, bukannya kuburan itu buat orang yang udah mati ya... tapi...
"kurang ajar!!! enak aja, loe fikir gue itu kuntilanak apa" kata ku setelah tau maksud Steven apa, balas dendam nih ceritanya... iiiih re-se banget. Bego kok bisa sich aku nggax nyadar tadi.
"he he he gantian donk, tadi kan loe yang ngerjain gue, sekarang kita satu sama, lagian loe itu beda tipis kok sama kuntilanak, bahkan lebih tepatnya malah kalian berdua itu mirib" balas Steven dan makin ngakak.
"ia. gue hantuin baru tau rasa loe..." balas ku sewot, masa di bilang sama kayak kuntilanak sich, tega banget, kenapa nggax kuntilemak aja sekalian.
"he?!!!!!! hiiiiiiiii takuuuuuuuuut...." balas Steven "ha ha ha..."
"re-se loe" balas ku makin sewot, tiba-tiba Nay masuk ke ruang tengah sambil membawa nampan berisi minuman.
"eh, nggax usah repot-repot Nay..." kata mike.
"ah nggax, cuma air minum doank"
"ah ya udah nih, di minum ya..." kata ku sambil menyodorkan minuman itu ke arah mike dan Steven. dan di balas anggukan sama Steven juga mike.
"Chel, rumah loe yang benernya itu di mana sich?" tanya Steven yang udah ke sekian kalinya.
"rumah gue, di ini ha... e tadi loe kan ada lihat mushala, nah rumah gue itu nggax jauh dari sana, loe dari mushala belok ke kiri, trus luruuuus aja, ada belokan pertama loe belok ke kanan, trus ke kiri, ke kiri lagi, abis itu baru ke kanan, nah langsung loe luruuuuus aja lagi, saat lihat simpang empat loe belok ke kanan, loe nggax usah perduliin meski di sana banyak simpang tiga maupun dua, yang loe harus perhatiin hanya simpang empatnya okey, nah loe bakal nemuin rumah warna hijau" jelas ku dengan cepat, tanpa memperhatikan titik dan komanya, luruuuus aja kayak kereta api, tanpak mike, Steven dan Nay juga langsung bengong mendengarkan.
"jadi itu rumah loe?" tanya Steven setelah beberapa saat terbengong.
"e sebenernya sich bukan, itu rumah pak RT" jawab ku.
"jadi rumah loe...?"
"di depan rumah itu ada rumah lagi, nah baru deh itu rumah...."
"rumah loe?"
"bukan"
"truz???!" Steven tampak makin bingung,
"rumah mama sama papa gue" jawab ku sambil menahan tawa agar nggax kelihatan kalau aku mau ngerjain dia, gantian ea,..
"ia, itulah maksud gue..."
"nah sekarang udah tau kan???"
"e sebenernya sich gue masih rada-rada gimana gitu yaa, elo sich njelasin nya muter-muter nggax jelas gue jadi bingung, bahkan sekarang jadi makin bingung"
"enggak kok. orang gue duduk aja dari tadi nggax muter-muter, seriuz deh" jawab ku pasang wajah nggax tau bener-bener seriuz.
"iiiiih loe tu ya..."
"he he he...."
"jelasin sekali lagi donk"
"capek kali, njelasin kayak gitu, apalagi yang di kasi tau pada nggax nyambung kayak kalian. waaah bisa mati berdiri gue ngejelsainnya"
"ya udah kalau gitu intinya aja"
"emang di kira kociiii apa ada intinya, lagian gue nggax ngerti ama yang begituan, intinya apaan"
"ya yang penting nya aja"
"tapi menurut gue semuanya itu penting"
"ya udah, kalau gitu di persingkat aja"
"gini ya... nah dari mushala loe belok ke kiri, trus belok ke kanan, ke kiri, kiri lagi, abis itu belok kanan, setelah jumpa simpang empat loe berhenti belok kanan dikit, ada jumpa rumah cet warna hijau loe lihat di depannya, nah di situ lah rumah my parent" jelasku kembali tanpa memperhatikan titik dan komanya, sengaja agar Steven dan yang lainnya makin bingung, aku ngomongnya dengan super cepat, dan untuk ke dua kalinya mereka terbengong, pantesan ayam tetangga banyak yang mati (tempat aku donk, tetangganya Nay kan aku. Ehhh nggax jadi ayam tetangga deh, kan sayang ayam aku, he he he ehem-ehem abaikan...) "nah, sekarang udah faham?" tanya ku, yang sempet pusing juga, aku ngejelasinnya kemana aja sich ne... setelah terdiam beberapa saat, mencarna ucapan aku, Steven dan mike langsung geleng-geleng dan herannya Nay juga ikut-ikut an.
"gue pusing..." kata Steven.
"ha?! masa' sih? gue udah capek-capek ngejelasinnya, e tapi di fikir-fikir gue juga makin bingung, gue juga ikutan pusing deh kayaknya..." balas ku sambil mikir, kira-kira tadi yang aku jelasin itu bener nggax ya??? #JELAS AJA SALAH DODOL. Yang bener itu dari mushala belok kiri. Jalan terus aja sampe ketemu simapang empat terus belok kanan. Nah abis belok kanan baru belok kiri. Ketemu rumah cat ijo milik pak RT. Nah, rumah lu pas didepannya >>> Ana ikutan koment.
"yeeee gimana sih??" balas Steven yang udah sewot banget.
"e nggax tau. bingung gue..."
"0 ia lah tu...."
"ya ampun, gitu aja kok repot. rumah Chelsy itu, no di simpang empat sebelum rumah gue, kalau dari rumah gue rumah pertama sebelah kiri" jelas Nay yang mungkin udah bosen topiknya itu-itu terus.
"0 jadi itu... bilang dari tadi kek"
"lho kan tadi udah gue jelasin, masa nggax ngerti juga"
"tapi prasan kalau dari mushala nggax ada belok-belokan lagi selain simpang empat yang di sana" fikir Steven sambil mengingat-ingat.
"ada kok"
"tapi barusan kita lurus aja, emang belokannya di mana?"
"eeemmm belokannya itu ya kerumah orang" jawab ku santai.
"ha?! jadi..."
"ya kan tadi gue bilang setelah ke kanan, ke kiri, kiri lagi, baru kekanan, jadi ya balik ke jalan lurus yang tadi. benerkan?"
"0 pantesana aja gue bingung"
"he he he sengaja" jawab ku sambil tersenyum bangga, seneng rasanya bisa ngerjain Steven.
"sudah lah jangan mempersulit keadaan" kata Steven, be-te kaleee, abis dari tadi kalah terus sich, he he he...aku gitu lho, mana bisa di lawan. abis itu kita ngobrol ngalor-ngidul, nggax tau ujung pangkalnya, dan sesekali tertawa. hingga akhirnya Steven dan mike pamit pulang.

Oke segitu dulu. Kita bersambung dulu ya.... bye bye,,.... ^_^

Cerbung "Rainbow After Rain ~ 9

Biarkan segala yang pahit berlalu , kerena bagaimanapun kau masih punya harapan di masa depan.


“Ayo masuk” ajak Naira Sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.
Untuk sejenak Steven masih merasa Ragu. Walau ia sudah sering mengantar, jemput Gadis itu untuk jalan bersama nya tapi tetap saja ini untuk pertama kalinya ia masuk kedalam rumah gadis itu yang ia tau pasti kalau hanya ada gadis itu yang mendiami rumah itu.
“Silahkan duduk dulu” Tawar Naira Lagi.
Steven membalas dengan anggukan sementara Naira menuju kearah dapurnya.
“Oh ya, kau mau minum apa?” terdengar suara bernada tanya.
“Tidak perlu repot – repot”.
Tidak terdengar jawaban, tapi lima menit kemudian Naira telah muncul dengan napan berisi dua buah cangkir.
“Maaf, Cuma Air doank. Sepertinya kemaren aku lupa mengisi kulkas di dapur”.
“Tidak masalah. Harusnya kau tidak perlu repot – repot. Justru sebaiknya kau banyak beristirahat. Walaupun kau sudah lebih baik namun tetap saja kau baru sembuh dari sakit” Steven mengingatkan.
Kali Ini Naira mengangguk sambil tersenyum. Untuk sejenak suasana sepi karena masing – masing berdiam diri. Entah kenapa sepertinya aura cangung masih meliputi keduanya.
“Oh ya, Ku ingin bicara”.
Susana kembali hening, Naira dan steven saling menatap saat menyadari kalau mereka mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan.
“Baiklah, Silahkan duluan”.
Untuk kedua kalinya mereka mengucapkan kalimat yang sama secara berbarengan.
“Soal kemaren aku minta maaf”.
“Soal kemaren Ku ucapkan terima kasih”.
Kali ini keduanya serentak tertawa karena lagi – lagi mengucapkan kalimat disaat bersamaan.
“Ehem, Soal kemaren aku mau bilang ma kasih karena kau sudah menyelamatkan aku. Yah menurut cerita suster katanya kau yang membawa ku kerumah sakit” Akhinya Naira kembali buka bicara setelah beberapa saat yang lalu mereka berdiam diri. Sengaja memberi kesempatan pada masing – masing untuk memulai bicaranya.
“Kau tidak perlu berterima kasih. Karena sejujurnya aku merasa lega karena akhirnya kau baik - baik saja” Balas Steven sambil tersenyum.
“Oh ya, Soal kejadian di rumah sakit aku minta maaf. Tidak seharusnya aku bertidak seperti itu” Sambung Steven lagi.
“Nevermind” Balas Naira lagi – lagi tersenyum.
“Tapi aku berharap untuk kedepannya kau tidak lagi menyembunyikan hal sepenting itu dari ku. Kau tidak tau kan bertapa khawatirnya aku saat melihatmu tak sadarkan diri selama beberapa hari”.
“He?” Naira menoleh, Menatap lurus kearah Steven yang juga sedang menatapnya.
“Dan jangan berfikir itu karena rasa bersalah”.
“Jadi?”.
“Tidak tau kenapa aku hanya mengkhawatirkanmu, Aku takut kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku takut untuk membayangkan kalau sampai ...” Steven tidak melanjutkan ucapannya karena ia merasa dadanya sendiri terasa sesak saat mengingat bayangan - bayangan yang menghantuinya selama beberapa hari yang lalu saat melihat Naira terbaring tidak berdaya.
“Kenapa?” Tanya Naira lirih.
“Kenapa kau terlihat Begitu mengkhwatirkan ku?” Tanya Naira lagi karena Steven masih tetap terdiam.
“Apa aku tidak boleh mengkhawtirkanmu?” tanya Steven balik sambil menatap Naira.
Gantian Naira yang terdiam tanpa kata. Lebih tepatnya tidak tau harus berkata apa.

cerpen rainbow after rain 9
Credit Gambar : Ana Merya

“Naira, kau bisa menemani ku tidak?”
“Kemana?” Tanya Naira sambil mebenahi buku – bukunya dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain digunakan untuk menempelkan handphon di telinganya.
“E..... Jalan – jalan”.
“Jalan jalan?” Tanya Naira lagi. “Nggak salah?” sambung nya saat matanya melirik jam yang melingkar di tangan. Hampir pukul dua. Lho, bukannya itu masih jam kantor ya?, pikirnya.
“Kenapa?” Steven balik bertanya.
“Bukannya kau masih harus kekantor ya?”.
“Ha ha ha, Kapan lagi aku bisa memanfaatkan statusku sebagai atasan”.
“Ck ck ck” Naira berdecak sambil mengeleng – geleng sendiri.
“Tapi kau mau kan?” Steven memastikan.
“Mau nggak ya?” Naira berusah mengodanya.
“Harus”...
“Ih kok gitu?”.
“Aku sudah ada di depan kampusmu ni”.
“Ha?. Jangan becanda”.
“Sampai bertemu”.
Dan naira belum sempat untuk membalasnya Steven sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telpon mereka. Mau tak mau Naira mempercepat langkahnya. Dan ia hanya mampu mengeleng tak percaya saat mendapati sosok berkaca mata hitam dengan kemeja kotak – kotak yang kini sedang berdiri bersandar di sebuah mobil silver dengan senyum di wajahnya. Membuat beberapa pasang mata kaum hawa menatap kagum padanya.
“Hay,,,...”
“Hay juga” Balas naira sambil melangkah mendekat sementar steven sendiri tampak membukakan pintu untuknya.
“Kita mau kemana?” tanya Steven kemudian.
“lho, bukannya kau yang berniat untuk jalan – jalan, kenapa malah balik bertanya”.
“Aku takut aku salah menentukan tempat”.
“Huwhahhahaha, maksutnya kau berniat untuk mengajaku memancing lagi?”.
“Hahahhaha, tentu saja tidak” steven ikut tertawa mengingat kejadian beberapa waktu silam.
“Ya sudah kalau begitu bagamana kalau kita nonton”.
“Ide bagus, oke deh kalau begitu” Balas Steven cepat tanpa perlu berfikir lagi.
Selesai menonton seperti biasa steven kembali mengantarkan Naira kerumahnya.
“Kau mau minum teh dulu?” Tanya Naira menawarkan.
“Jika kau tidak keberatan”.
Seulas senyum tersunging di sudut bibir naira sebagai jawaban.
“Oh ya, duduk dulu ya. Gue bikin air dulu”.
Steven hanya menangguk sambil melangkah kearah bangku. Matanya memperhatikan sekeliling. Saat mendapati album yang tergeletak diatas meja tangannya terger untuk meraihnya.
Tanpa sadar bibir Steven tergerak saat mendapati foto foto yang tertera di sana. Dimuali dari dua orang anak kecil yang terlihat lucu. Sepertinya itu foto naira dan kakaknya yang ia ceritakan dulu saat mereka berdua masih kecil. Foto berlanjut sampai mereka mulai tumbuh dewasa. Dan senyum di wajah Steven langsung berubah kaget sekaligus tak percaya saat mendapati sosok berseragam SMA yang ada di hadapannya. merasa masih ragu tangannya kembali tergerak untuk membuka lebar demi lembar berikutnya.
“Itu foto kak Nadira. Yang dulu pernah aku ceritain”.
Steven menoleh kaget saat mendapati Naira yang kini ada di sampingnya sambil meletakan napan diatas meja.
“Nadira?” Ulang Steven tercegat.
Naira mengangguk membenarkan.
“Tapi seperti yang sudah aku ceritakan, Bahwa dia sudah meninggal”.
Naira terdiam untuk sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya tanpa di tanya.
“Kangker. Sakit yang telah di fonis oleh dokter untuknya. Tapi aku justru tau setelah ia tiada. Setelah ia benar – benar pergi. Ia pergi dengan mengorbakan dirinya sendiri demi menyelamatkan orang yang ia cintai”.
“Maksutmu?”.
“Ia memberikan jantungnya untuk orang lain. Kau tau, memangnya di dunia ini siapa yang bisa hidup tanpa jantung?” Naira balik bertanya. Tapi steven tau pertanyaan itu tidak butuh jawaban.
“Kau tau orang itu?” tanya Steven setelah keduanya lama terdiam.
“Siapa?”.
“Orang yang kini memiliki jantungnya?”.
“Tidak dan aku tidak ingin tau”.
“Kenapa?” tanya Steven dengan nafas tercegat.
“Karena aku tidak mau membencinya walaupun jujur aku sangat ingin. Bisakah kau bayangkan, bagaimana mungkin Aku bisa membenci sesuatu yang begitu berarti bagi orang yang paling ku sayangi. Seseorang yang kematiannya paling tidak pernah ku inginkan dalam hidup?”.