Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending



jika memang kerena takdir, kenapa kita di pertemukan kalo hanya untuk di pisahkan # rainbow after rain

****

Untuk sejenak naira menarik nafas dalam. Setelah berhasil meyakin kan dirinya dengan mantab ia melangkah menuju tempat tujuan pastinya. Menemui Steven. Dan Dia juga sudah memutuskan akan megatakan yang sejujurnya tentang perasaannya. Bahwa sesungguh nya ia mencintainya. Ralat, sangat mencintainya.

Begitu sampai di depan rumah megah itu, sebuah senyum tanpa sadar terukir di bibirnya. Nekat menemui seksertaris steven hanya untuk mengetahui rumahnya. Hal yang sungguh sangat sulit di percaya telah ia lakukan.

Pagar depan tidak terkunci. Sedikit ceroboh memang tapi itu justru memudahkannya untuk langsung masuk.Dan tepat saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu matanya sudah terlebih dahulu menangkap pemandangan dari balik jendela kaca. Pemandangan yang sumpah mati sanggat tidak ingin ia lihat seumur hidupnya. Sangat menyesakan. Dengan mati - matian ia mencoba menahan diri untuk tidak menangis walau pun hasilnya tetap percuma karena dengan kurang ajarnya air mata itu telah merembes melewati matanya. Apakah ia sudah terlambat?. Satu demi satu namun pasti, kakinya terus melangkah mundur.


Credit Gambar : Ana Merya

Steven segera sadar dari lamunannya ketika telinganya mendengar suara ketukan pintu depan rumah. Dengan ogah - ogahan ia bangkit berdiri. Suasana hatinya benar - benar sedang buruk. Ia masih bingung tentang apa yang harus ia lakukan. Apakah benar melepaskan Naira adalah pilihan yang tepat. Sepertinya tidak, karena hatinya benar - benar tidak bisa menerimanya. Lantas ia harus bagaimana?.

"Stela?"

Sebuah senyum manis tersunging di sudut bibir gadis manis yang kini berdiri didepan pintu rumahnya.

"Maaf, apa aku mengganggu?"

"Oh tidak. Ayo masuk?" ajak Steven sedikit salah tingkah.

"Kau sedang apa?" tanya Stela sambil duduk di sofa sementara Steven berdiri tak jauh darinya.

"Tidak ada, hanya sedang bersantai saja".

"Tidak kerja?"

Kali ini Steven hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

"Apa kau berniat untuk melepaskanya?"

Steven menoleh, keningnya sedikit berkerut bingung.

"Kau tau maksut ku. Tentang Naira. Apa kau berniat untuk melepaskannya seperti dulu kau melepaskan ku?" terang Stela langsung.

Steven terdiam. Dari mana gadis itu bisa tau?.

"Kau tidak perlu tau dari mana aku mengetahuinya" Kata Naira seolah mengerti arti kebisuan Steven. "Yang perlu kau lakukan adalah menjawabnya" Sambung Stela lagi.

"Aku...... Tidak tau..." Akhirnya Steven menjawab jujur.

"Tidak tau?... Apa maksutmu?" tanya Stela terlihat marah.

"Dia.... Maksutku aku. Jika dia melihat ku maka itu akan menyakitinya. Kau tau, Kenyataan itu juga menyakitkan untukku" kata Steven terdengar lelah.

"Tapi aku yakin tidak melihatmu itu justru lebih meyakitkan untuknya".

Lagi - lagi Steven menoleh mendengarnya. Benarkah?.

"Lantas aku harus bagaimana?" tanya Steven kearah Stela walau sebenarnya pertanyaan itu sudah berjuta kali terlontar untuk dirinya sendiri. Hanya saja ia masih belum menemukan jawabannya.

"Kau tau, seseorang pernah mengatakan pada ku, daun jatuh karena kerasnya angin bertiup, atau memang karena pohon yang tidak pernah memintanya untuk tinggal. Masalahnya yang jadi Daun itu kau atau dia?".

"Maksut mu?"

Stela beranjak dari duduknya. Segera melangkah kearah Steven. Tangan nya terulur menyentuh pundak Steven yang kini berada tepat di depannya.

"Kejar dia. Jangan biarkan ia pergi" Kata Stela terdengar tegas sekalikus menyemangatinya. "Seperti kau dulu melepaskanku" Sambung Stela dalam hati.
Steven menatap lurus kearah mata Stela. Sebuah senyum terukir di sana saat melihat anggukan kepalanya.

Ya, Ia harus mengejar Naira. Peduli setan kalau ia seperti hujan baginya. Karena ia akan meyakinkan bahwa masih ada pelangi setelahnya. Tanpa sadar tubuhnya mendekat. Merengkuh sosok yang ada di hadapannya. Sebuah pelukan. Bukan seperti pelukan seorang kekasih. Tapi kali ini adalah pelukan tulus dari seorang sahabat. Sahabat yang telah menyemangatinya.

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

Sudah lebih sepuluh menit berlalu keduanya masih terdiam tanpa kata. Naira tampak hanya mengaduk - aduk Capucinonya tanpa sedikit pun menyesapnya. Sementara dihadapannya, Steven juga masih terdiam sambil terus menatap gadis yang ada di hadapannya. Sosok yang sangat ia rindukan. Dan ia benar - benar harus menahan diri untuk tidak langsung memeluknya saat tadi untuk pertama kali matanya mendapati Naira sudah menunggu di kaffe setelah terlebih dahulu ia memintanya untuk bertemu.

"Ehem..... Bagaimana keadaan mu?" Akhirnya Steven kalah dan memilih untuk memulai pembicaraanya.

"Tidak lebih buruk dari kemaren" Balas Naira tanpa menoleh.

"Naira...".

"Ada yang ingin ku katakan padamu" Potong Naira sebelum Steven sempat menyelesaikan ucapannya.

"Apa?".

"Aku mau minta maaf?".

Kening Steven terangkat. Maaf?. Kenapa Naira harus meminta maaf padanya.

"Iya" Kali ini Naira mengankat wajahnya. Tapi ia masih tidak berani menatap Steven yang ia yakini pasti saat ini sedang menatap nya.

Ia hanya Berusaha untuk menahan diri. Dan ia tidak yakin kalau air matanya tidak akan menetes jika berani menatap sosok yang ada di hadapannya. Karena jika boleh jujur, sosok itu adalah orang yang sangat di rindukannya.

Steven terdiam. Tak ada niatan sedikit pun untuk menyelanya. Ia yakin Naira pasti akan melanjutkan ucapannya.

"Aku mau minta maaf. Karena tidak seharusnya aku menyalahkan mu atas kepergian Nadira. Seharusnya Aku tau kalau itu semua bukan salah mu".

Refleks Tangan Steven terangkat untuk mengenggam tangan Naira untuk memberinya sedikit kekuatan. Tapi sebelum Niatnya sempat terwujud, Tangan itu sudah terlebih dahulu terangkat untuk mengusap wajahnya yang entah sejak kapan mulai basah oleh air mata. Hati Steven Mencelos. Hatinya terasa sangat sakit saat mendapati betapa rapuhnya Gadis itu walau selalu berusaha untuk terlihat tegar.

"Tidak, Kau tidak salah. Memang sewajarnya jika kau menyalah kan ku. Tapi aku mohon, tolong jangan menangis lagi".

Karena melihat mu menangis seperti ini benar - benar menyakitkan untuk ku, sambung Steven dalam hati.

"Ehem... Oh ya, Katanya ada yang ingin kau katakan pada ku" Kata Naira berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Untuk sejenak Steven menarik nafas dalam - dalam dan mengehembuskanya secara berlahan sebelum mulutnya terbuka kembali.

"Apa menurutmu pertemuan kita hanya sebuah kebetulan?".

"YA...." Balas Naira tegas tanpa perlu berfikir lagi.

"Kenapa?"

"Apa kau berniat memanggilku hanya untuk menanyakan itu?" bukanya menjawab Naira justru malah balik bertanya.

"Tidak" Balas Steven cepat. "Aku memanggilmu untuk mengatakan sesuatu".

Entah mengapa untuk sesaat yang terasa begitu lama, Naira merasa kesulitan untuk bernapas. Oksigen terasa begitu mahal untuknya. Apakah, Sudah saatnya Steven mengucapkan selamat tinggal untuknya?.

Aku mencintaimu....!!!!. Steven tampak bingung. Kenapa sulit sekali mengatakan hal itu. Apakah ia benar - benar takut untuk di tolak?. Atau karena ia belum siap jika harus menerima penolakan?. Entahlah. Karena sepertinya ia memang tidak akan pernah siap.

"Apa....?" Pertanyaan Naira membuyarkan lamunannya.

"Aku......".

Drrrrrttttt......

Nada Getar dari hape menginterupsi. Naira juga ikut melirik benda elektonik yang berkedap kedip di meja. Id caller atas nama Stela tertera disana. Dan saat Naira mengangkat wajanya, Tatapannya bertubrukan pada Steven yang kini sedang menatapnya lurus.

"Anggkat saja dulu. Siapa tau itu penting".

"Maaf"....Kata Steven sebelum kemudian beranjak bangun dan sedikit menjauh dari Naira.

Sementara Naira sendiri justru terlihat tidak tertarik pada ucapannya dan lebih memilih berkonsentrasi pada minumannya.

"Halo.........APA?...... Baiklah, Aku kesana sekarang juga. Terima kasih" Dengan segera Steven menutup telponya. Wajahnya juga terlihat panik. Walaupun heran, Naira sama sekali tidak berniat sedikitpun untuk menanyakannya.

"Apa kau harus pergi sekarang?" tanya Naira.

"Maaf, tapi barusan...".

"Pergilah. Sepertinya itu benar - benar penting" Potong Naira cepat saat melihat wajah Steven yang terlihat ragu."Kau kan bisa mengataknnya lain kali" sambung Naira lagi.

"Baikah. Maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Tapi percayalah, aku pasti akan mengatakannya langsung padamu"

Selesai berkata Steven dengan segera melesat keluar kaffe itu, memandu mobil nya dengan sangat cepat tanpa sempat mendengarkan gumaman Naira saat melihat kepergiannya.

"Aku juga ingin minta maaf, Karena sepertinya aku juga tidak ingin mendengarnya, Dan kau, juga tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengataknnya langsung".

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

Dengan kekuatan penuh, Steven terus berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Tak di pungkiri Wajahnya terlihat sedikit lega ketika mendapati sosok seseorang yang terbaring di sebuah ranjang dengan perban yang melilit di kepala dan kakinya. Tapi paling tidak, sebuah senyuman terukir di bibir saat mendapati keberadaannya yang baru muncul dari balik pintu.

"Stela,.. Kau kenapa?. Bagaimana keadaan mu?. Kenapa sampai bisa ketabrak?" tanya Steven beberapa saat kemudian.

"Maaf. Tapi aku baik - baik saja. Tadi juga hanya terserempet mobil".

"Sejak kapan hanya terserempet sampai separah ini"

Stela hanya tersenyum kaku, Tapi jauh didalam lubuk hatinya ia juga merasa bahagia. karena walau terlihat marah - marah ia tau kalau Steven sebenernya sangat menghawatirkannya.

"Ya sudah aku telpon ibumu dulu".

"Jangan, tidak perlu. Aku baik - baik saja. Lagi pula ibuku sedang ada di london. Jadi aku tidak mau nanti dia malah khawatir".

"Ya sudahlah. Terserah kau saja. Oh ya, apa kau sudah makan?" tanya Steven mengalalah.

"he he he, Belum".

"Sudah ku bilang kau harus menjaga kesehatan mu. Ya sudah aku pergi keluar dulu mencari makan siang untuk mu. Tunggu di sini dan jangan ke mana" Perintah steven sebelum pergi.

"Kau pikir Dengan kaki di perban seperti ini aku bisa kemana ha?" Gerut Stela yang masih mampu Steven tangkap sebelum benar - benar hilang dari pandangan.

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

"Jadi kau sudah boleh pulang hari ini?" tanya Steven sambil duduk di samping ranjang Selvia keesokan harinya.

"Ia aku sudah boleh pulang. Kau sudah mengurus semua administrasinya kan. lagipula aku kan sudah bilang kalau aku baik - baik saja".
Steven hanya membalas dengan anggukan.

"Oh ya, Apa kau sudah mengatakannya pada naira?" tanya Stela tiba - tiba.

Dan saat mendapati tatapan lesu dari Steven sepertinya ia sudah tau jawabannya.

"Kenapa?" tanya Selvi lagi ketika melihat Steven mengelengkan kepalanya.

"Sebenarnya aku sudah ingin mengatakannya kemaren. Tapi tiba - tiba aku mendapat telpon dari rumah sakit yang mengabarkan kalau kau ketabrak".

"Apa?. jadi?".

"Ya... Tentu saja aku langsung kesini?".

"Dan kau meninggalkannya sendirian?".

"Saat itu aku panik. Ku pikir kau kenapa - napa".

"Kalau begitu cepat telpon dia sekarang. Jangan sampai dia salah paham".

"Memangnya harus sekarang?" tanya Steven ragu.

"Ia" Balas Selvia tegas.

"Hufh... Baiklah" Steven akhirnya ngalah dan segera mengeluarkan hanphond. Sementar Stela hanya memperhatikan dari samping.
Setelah menunggu beberapa saat barulah terdengar nada sambung. Sambil menunggu di angkat Steven terus memutar otaknya. Berpikir apa yang harus ia katakan.

"Hallo".

Deg. Baru mendengar suaranya saja dengan tiba - tiba jantungnya langsung berdetak dua kali lebih cepat. Ya tuhan, Apa ia sudah benar - benar jatuh cinta terlalu dalam pada gadis itu?.

"Ehem... Naira, ini aku".

"Aku tahu. Ada apa?" tanya naira lagi.

"Ada yang ingin ku katakan pada mu" Untuk sejenak Steven terdiam baru kemudian ia melanjutkan ucapannya "Apa hari ini kita bisa ketemu?".

"Maaf tapi sepertinya aku tidak bisa".

"Oh.... Kenapa?" Kata Steven terdengar kecewa.

"Apakah semua harus ada alasannya?".

Hati Steven merasa tertohok mendengar suara Dingin Naira. Ia akui ini salahnya karena telah meninggalkan gadis itu kemaren. Untuk sejenak Keduanya terdiam.

"Sekarang kau ada di mana?. Kenapa berisik sekali" Tanya Steven berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Apa kau harus tau?".

Steven terdiam, Astaga.. Gadis itu benar - benar. Tidak bisa kah ia hanya menjawab tanpa perlu kembali melontarkan pertanyaan?.

"Apakah aku tidak boleh tau?" Akhirnya Steven balik bertanya. Dan ia mendengar helaan nafas dari seberang.

"Stev, Sebenernya ada sesuatu yang ingin ku katakan pada mu".

"Apa?" Tanya Steven. Nggak tau kenapa tiba - tiba ia merasa seperti ada firasat buruk.

"Aku akan pulang keparis"

"APA???!!!" Tanya Steven setengah berteriak.

Bahkan Stela yang sedari tadi memperhatikannya saja sampai terlonjak kaget. Sepertinya ia baru saja salah dengar. Kenapa sepertinya barusan ia mendengar kata 'pulang'?.

"Aku akan ikut ibuku ke paris" ulang Naira. Dan Steven kali ini sadar kalau ia memang tidak bermasalah sama yang namanya THT.

"Kenapa?" tanya Steven lirih.Tenaganya benar - benar sudah terkuras habis mendengar kabar barusan.

"Tentu saja karena aku memang harus pulang. Kau kan tau kalau aku disini hanya untuk menyelesaikan pendidikan ku".

"Dan itu masih tersisa 6 bulan lagi" Potong Steven cepet.

"O... itu... e .... ia si. Tapi sepertinya aku sudah kangen pada keluargaku. Jadi.....".

"Kau, ada di mana sekarang?" tanya Steven memotong ucapan Naira.

Tidak, Ia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi. Ia harus bisa meyakin kan gadis itu untuk tetap tinggal. Bagaimanpun caranya.

"kau tidak perlu tau ".

"Aku tanya kau ada di mana sekarang?!" Kali ini Steven mengucapkan nya dengan nada yang lebih tepat jika di sebut sebagai bentakan.

"Bandara".

Hanya satu kata sebagai jawaban. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jantung Steven terasa seperti berhenti berdetak.

"Kau........ Jangan kemana - mana. Tunggu sampai aku datang".

"Maaf...".

"Aku tidak mau mendengar kata maaf mu. Dengar, kau harus menunggu sampai aku datang!!!".

"Aku tidak bisa. Sepuluh menit lagi penerbangan. Aku harus mematikan telponnya sekarang".

"APA?!".

"Jaga dirimu. Selamat Tinggal".

Itulah kalimat terakhir yang mampu Steven tangkap sebelum pangilannya benar - benar terputus. Dengan cepat di tekannya tombol nomer 1. Panggilan cepat untuk Naira. Tapi percuma karena hanya suara mesin operator yang menjawabnya.

"Sepuluh menit lagi penerbangan..."

Kata - kata itu terus berniang di kepalanya. Bahkan Stela yang bertanya dengan nada panik saat melihatnya jatuh terduduk sama sekali tidak ia indahkan. Hal yang mampu ia tangkap adalah mustahil untuk mencegah Naira pergi hanya dalam waktu sepuluh menit sementara jarak dari rumah sakit kebandara memerlukan waktu tidak kurang dari satu setengah jam?. Tanpa mampu ia cegah air matanya nya menetes. Inikah akhir dari kisah ku?.

Cerpen Cinta Rainbow After Rain Ending

Untuk sejenak Naira menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan nya secara berlahan. Setelah terlebih dahulu mematikan handphond nya ia kembali melanjutkan langkahnya. Menuju tujuan yang pasti. Paris. Bersiap meninggalkan semua yang ada di sini.

Tidak, Ia tidak boleh dan tidak akan menangis lagi. Airmatanya terlalu berharga untuk di buang percuma. Bukankah pertemunya dengan Steven memang hanya sebuah kebetulan?. Sebabjika memang karena takdir, lantas kenapa mereka di pertemukan kalau hanya untuk di pisahkan?. Jadi sudah jelas bukan?. bahwa itu semua hanya sebuah kebetulan, Sebuah kebetulan yang kebetulan berlanjut....

End......

PERINGATAN!!!!!.. Dilarang Protes Kenapa Endingnya gini. Yang jelas, sejak awal idenya memang begini endingnya. Dan aku juga sama sekali tidak berniat untuk mengubahnya. Yang penting cerpen Rinbow after rain udah ending. Titik.


Cerpen Rainbow After Rain ~ 12

Berdamailah dengan rasa sakit dan kamu akan tau rasanya bahagia..... #rainbow after rain

#Flasback
"kak, aku sangat benci menulis".
"lho, kenapa?".
"Karena tulisan ku jelek. Bahkan aku sama sekali tidak bisa membuat karya tulis. Berbeda dengan mu. Sejak dulu tulisanmu bagus. Hasil karyamu juga selalu mendapat pujian dari semua orang".
"Itu karena aku selalu melakukan apa yang aku sukai" balas Nadira sambil tersenyum. " Tapi.... hei, apa kau benar - benar benci menulis?".
Lama naira terdiam. Sampai kemudian menggeleng mantab.
"Aku selalu membaca dan mengagumi karyamu, jadi bagaimana mungkin aku membencinya".

***

"yah kok malah hujan si?" gerut Naira sambil menatap sebel kearah langit berbanding balik dengan sosok yang berdiri di sampingnya yang jelas terlihat tersenyum bahagia menyambut rintik - rintik air yang jatuh kebumi.
"kak,apa kau benar - benar menyukai hujan?" tanya naira kemudian.
Dengan cepat Nadira mengangguk mantap.
"Emm. Aku sangat menyukainya. Aku suka melihat rintiknya yang jatuh beraturan. Aku suka mencium bau wanginya tanah yang basah. Aku suka menghirup segarnya udara. Dan aku juga suka melihat indahnya pelangi setelahnya".
"Tapi hujan itu musuh terbesar dalam hidupku. Kau kan tau sedikit rintik saja cukup untuk membuat ku terbaring tak berdaya selama berhari - hari" Protes Naira.

 "Karena itu apakah kau akan membenci hujan?" tanya Nadira terlihat sedih.
Untuk sejenak Naira terdiam sebelum kemudian tersenyum tulus "Karena kau menyukainya, tidak ada alasan untuk ku membencinya bukan?".
Mendengar itu Nadira juga tersenyum.
"Terima kasih.Baiklah, mulai sekarang Aku tidak akan lagi menyukai sesuatu yang harusnya kau benci. Aku berjanji" Ujar Nadira mantap sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang dengan cepat di sambut oleh Naira.
"Aku juga berjanji aku tidak akan membenci apa yang kau sukai kak. Karena aku menyayangi mu. Sanggat" Balas Naira sambil menautkan jarinya.

#Flasback and

rainbow after Rain
Credit Gambar : Ana Merya


"Apakah sekarang kau benar - benar membenciku?".
Pertanyaan lirih Steven kembali menyadarkan Naira dari lamunan masa lalunya.
"Aku minta maaf, aku benar - benar......".
"Pergilah" Potong Naira lirih.
"Aku....".
"Aku bilang pergi!!!" Kata Naira setengah berteriak sambil berbalik menatap steven.
Hati steven mencelos saat mendapati air mata yang entah sejak kapan telah membasahi wajah wanita yang ada di hadapannya.
"Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku".
Selesai berkata Naira langsung berbalik. Berlari meninggalkan steven sendirian tanpa menoleh sama sekali.

***

Kosong, Itu yang ia rasakan. Kembali menjalani hari - hari yang menyebalkan. Melewati semuanya sendirian. Apa benar ini yang ia inginkan?.

"Hufh" untuk kesekian kalinya Naira menghembuskan nafas berat. Sudah lebih dari seminggu ini ia benar - benar loss kontak dari Steven.

Walau sebenarnya tidak bisa di bilang tanpa kontak sekalipun si, karena nyatanya Steven masih sering menghubunginya hanya saja terus menghindari.

Berurusan dengan seseorang yang telah memisahkannya dengan orang yang paling ia sayangi ternyata menyakitkan. Ditatapnya air yang terus menetes dari langit. Tanpa sadar tangannya terulur, menikmati basahnya air.

"Hujan" Gumamnya lirih. Seulas senyum pahit terukir di wajahnya.

"Naira?"

Refleks Naira menoleh, Kaget saat mendapati Steven yang berdiri tak jauh darinya sedang menatapnya intens.

Naira Tidak menjawab. Entah kenapa lidahnya tiba - tiba terasa kelu. Ia segera mendunduk saat mendapati tatapan tajam Steven yang terus terjurus kepadanya. Tanpa melihat ia tau kalau sosok peria itu sedang berjalan kearahnya.

"Tolong, Jangan menangis lagi".

Lagi - lagi Naira kembali menoleh, Tapi kali ini Steven tidak sedang menatapnya. Seolah menyadari sesuatu ia segera mengusap wajahnya. Basah. Sejak kapan air mata itu menitik?.

"Disini, untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang mengangis saat melihat hujan. Dan aku tidak pernah berfikir bagaimana mungkin hujan bisa begitu menyakitkan. Dan menurutku orang itu pasti orang yang aneh".

Untuk sejenak Steven terdiam. Ia tau Naira mendengarkan ucapanya walaupun gadis itu tetap menunduk tanpa menoleh kearahnya.

"Sampai kemudian aku bertemu dengan gadis itu. Di sebuah toko buku. Sebuah pertemuan yang menurutnya hanya lah kebetulan".

Kali ini Naira kembali menoleh dan pada saat bersamaan Steven juga sedang menatapnya.

"Aku?".

Steven membalas dengan anggukan sebelum kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Dan pertemuan - pertemuan selanjutnya juga kembali terjadi. Lagi - lagi kau menganggap itu sebuah kebetulan. Lantas, Kebetulan seperti apa yang membuat jantung kakak mu kini berdetak dalam tubuh ku?".

"Deg".

Nyesek, itu yang Naira rasakan saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Steven barusan. Lama ia terdiam sebelum kemudian sebuah senyuman pahit terukir di bibirnya.

"Itu bukan kebetulan, Tapi takdir".

Gantian Kening Steven yang berkerut bingung.

"Bukannya kau tidak percaya pada takdir?".

"heh" Naira mencibir sejenak "Aku tidak pernah mengatakan kalau aku tidak percaya takdir. Aku hanya bilang kalau 'takdir' itu selalu membawa hal yang buruk".

Mulut Steven sudah terbuka untuk berujar tapi lagi - lagi Naira mendahuluinya.

"Termasuk kemunculan dirimu".

Steven menatap kosong kearah Naira. Seburuk itu kah dirinya di mata gadis itu?.

"Maaf" Akhirnya hanya satu kata itu yang mampu meluncur dari tengorokannya.

"Untuk apa?. Untuk takdir yang tak bisa kau ubah?" Tanya Naira dengan tatapan terluka.

"Untuk semuanya" Balas Steven lirih. "Dan jika kau mau aku menebusnya. Aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk mengabdi padamu".

Naira menatap tak percaya atas apa yang Steven ucapakan barusan. Lama ia terdiam sampai kemudian mulutnya kembali berujar.

"Jadi karena itu. Selama ini kau baik pada ku hanya untuk menebus apa yang kakakku lakukan padamu?".

Tidak, Bukan itu maksutku. Kau salah paham. Ingin sekali Steven meneriakan kata itu. Namun entah kenapa mulutnya terkunci rapat.

Naira sendiri juga kembali terdiam saat mendapati tiada bantahan dari sosok yang berada tak jauh darinya. Astaga, Sungguh kenyataan ini bahkan lebih menyakitkan dari pada saat ia tau siapa Steven sebenarnya.

"Kau tau, Bagiku kau benar - benar seperti hujan" Gumam Naira lirih.

Steven menoleh. Mencoba mencerna maksut dari apa yang Naira ucapkan barusan.

"Kau mengerti maksut bukan?".

Selesai berkata Naira langsung bangkit berdiri. Hujan telah reda. Bus yang sedari ia tunggu juga sudah muncul di hadapan. Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Meninggalkan Steven Dengan keterpakuannya.

Oke, TBC Dulu... E... Next part mungkin ending. Kalo gak da perubahan rencana si,,,,

Akhir kata bye bye.....

Cerpen Cinta Rainbow After Rain ~ 11



Setiap orang mengharapkan yang terbaik.
Tapi jangan lupa, Memikirkan yang terburuk juga penting. ^_^
#Rainbow after rain


"Baiklah, tunggu sebentar ya mbak".
Kepala Naira mengangguk sambil tak lupa sebuah senyum bertengger di bibirnya sebagai tanggapan ucapan dari pelayan yang ada dihadapannya.
Berhubung perutnya sudah terlalu lapar ia membatalkan niatnya untuk makan di rumah. Sehingga beginilah jadinya. Ia terdampar di sebuah kaffe langganannya baru - baru ini. Terhitung sejak ia mengenal...

"Steven?" gumam Naira lirih saat matanya tanpa sengaja mendapati sosok yang duduk sendirian sambil.menatap kosong kearah luar di salah satu meja pojok di kaffe itu.
"Ah sepertinya kebetulan ini masih terus berlanjut"sambungnya lagi.
Berniat untuk langsung menghampiri, Naira justru malah dibuat terpaku saat mendapati ada sosok lain yang sudah terlebih dahulu menghampiri steven. Senyum di bibir Naira juga berlahan memudar saat melihat sebuah senyum di wajah steven yang selama ini paling ia sukai tapi tidak tau sejak kapan menjadi hal yang paling ia benci ketika ia tau kalau senyum itu ditujukan untuk wanita lain. Bukan dirinya.
"Maaf ya Steven. Aku kelamaan ya?. Sory, aku nggak nyangka kalau ditoilet juga bisa antri" kata Stela dengan tampang bersalah karena telah membuat pria itu duduk menunggunya sendirian.
"Nggak papa kok. Nyantai aja lagi" ujar steven tulus sambil tersenyum menenangkan.
"Ya udah kalau gitu kita pergi sekarang yuk. Yah aku tau si kalau kamu itu direktur. Tapi kalau menghabiskan jam makan siang kelamaan itu bukan hal yang baik. Apalagi kalau sampai ditiru oleh bawahan".
"Ah, kamu bisa aja. Kalau begitu,ayo ku antar kau pulang".
"Tidak perlu. Aku pulang naik taxi aja. Kau bisa langsung pulang kekantor. Dan terima kasih untuk traktiran makan siangnya".
"Aku akan kekantor setelah memastikan bahwa kau menginjakan kaki dirumahmu dengan selamat. Lagi pula tidak ada sejarahnya seorang wanita yang jalan dengan ku harus pulang sendirian".
"Wow,benar benar terdengar gentelman. Ah pantas saja kau bisa membuatku jatuh cinta" puji stela setengah bercanda. Sementara steven hanya tersenyum simpul menanggapinya. Setelah terlebih dahulu membayar pesanan mereka keduanya segera berlalu tanpa menyadari keterpakuan Nadira yang masih belum mengalihkan pandangan sampai keduanya benar benar menghilang dari pandangan.
"Maaf mbak karena harus menunggu, ini pesanannya. Selamat menikmati".
Sapaan pelayan kaffe menyadarkan Naira dari lamunannya.
"Oh,iya mbak. Ma kasih" balas Naira masih mencoba tersenyum sopan.
Di tatapnya makanan yang kini berada dihadapannya. Mendadak ia merasa sama sekali tidak bernapsu. Rasa lapar yang sedari tadi ia rasa telah menguap begitu saja di gantikan rasa nyesek ia diam - diam merayapi hatinya.

 Cerpen Cinta Rainbow after rain 11
Credit Gambar : Ana Merya

Dengan sebuah headset yang terpasang di kedua telinganya Naira menatap kosong jalanan. Sudah lebih dari seminggu ia tidak melihat wajah Steven terhitung saat ia melihat Steven makan di kaffe langganan mereka. Yang membuatnya bingung adalah pria itu sama sekali tidak menghubunginya. Membuatnya bertanya -tanya kesalahan apa yang telah ia buat.
"Kenapa duduk sendirian?".
"Eh".
Dengan segera Naira melepaskan headset dari telinganya. Merasa sedikit tidak percaya saat mendapati Steven ada di sampingnnya. Hei, ia tidak sedang berhalusinasi kan?.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Steven lagi saat Naira masih tidak mengelurakan jawaban.
"Baik" Balas Naira singkat.
Mendadak ia merasa canggung atau mungkin..... Marah????.
"Ngomong - ngomong sudah lama aku tidak melihatmu"
"Hmm" Naira mengangguk membenarkan. Masih tanpa menoleh. Matanya masih menatap lurus kedepan.
"Apa aku melakukan salah padamu?".
Refleks, Naira menoleh.
"Kenapa?".
"Sikapmu aneh?".
Untuk sejenak Naira mentatap lurus kearah Mata Steven yang kini juga sedang menatapnya. Sebelum kemudian ia menunduk dan tersenyum sinis.
"Nggak kebalik?" Gumam Naira lirih.
"Apa?" Kening Steven Tampak berkerut heran. Disaat bersamaan sebuah bus berhenti di hadapan mereka.
"Tapi sebenarnya sedari tadi aku duduk di sini menunggu bus. Jadi berhubung busnya sudah datang, Maaf aku harus pergi duluan".
Naira segera beranjak menuju pintu bus, namun belum sempat ia melangkah sebuah tangan sudah terlebih dahulu mencekal tangannya.
"Aku bisa mengantarmu pulang".
"Nggak perlu. Ma kasih" Tolak Naira Namun Steven sama sekali tidak melepasakan gengamannya.
"Tapi aku...".
"Kalau kau pikir dengan tidak mengantarku pulang itu bukan gayamu saat mengajak wanita manapun untuk jalan bersama harusnya tidak perlu kau fikirkan. Karena saat ini kau tidak sedang mengajakku. Kita hanya 'Kebetulan' bertemu. Jadi kau tidak berkewajiban untuk itu".
Mendengar kalimat dingin yang Naira lontarkan sontak Gengamannya terlepas. Dan sebelum mulutnya sempat terbukan untuk menanyakan kejelasan maksutnya Naira sudah terlebih dahulu berlalu. Masuk kedalam bus bersama penumpang lainnya. Meninggalkan sejuta tanya di kepala Steven.


Turun dari halte Naira segera melangkah menuju kerumahnya. Pikirannya melayang memikirkan kejadian tadi. Sedikit perasaan menyesal terbersit di hatinya. Ia juga bingung sendiri kenapa tadi ia bisa bersikap seperti itu. Secara kalau di pikir - pikir lagi memangnya dia kenapa?. Bahkan sejujurnya ia sendiri juga tidak memiliki alasan untuk marah bukan?.
Apa karena Steven memperlakukan orang lain sama sepertinya?. Atau justru karena Dirinya di perlakukan oleh Steven sama seperti yang lainnya?. Ntahlah, ia juga tidak tau apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Memangnya siapa dia sehingga harus mendapatkan perlakuan istimewa.
Pikiran itu membuatnya diam - diam menyadari suatu hal, Mejadi bukan siapa - siapa ternyata menyakitkan *Ungkapan Ati!!! XD
"Hufh... Cape.." Gumam Naira lirih sambil membuka kunci pintu pagar rumahnya.
"Kalau memang cape kenapa tadi menolak untuk diantar oleh ku?".
Refleks Naira menoleh, Keningnya berkerut samar sambil menatap kaget sosok yang berdiri tak jauh di sampingnya sambil bersandar di mobil dengan kedua tangan berada dalam saku celananya.
"Kau mengikutiku?!" Tembak Naira langsung.
"Tidak".
"Lantas kenapa kau bisa berada disini?".
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau pulang dengan selamat".
Naira mencibir sinis saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Steven barusan. Bagaimana tidak, ucapan itu kan justru malah mengingatkannya pada kejadian di kaffe kemaren. huuuuuu.
"Hei, apa kau benenan marah padaku?" tanya Steven saat mendapati Naira mengabaikannya dan justru malah dengan santai masuk kedalam rumahnya.
"Memangnya aku punya alasan apa untuk marah padamu?" Tanya Naira balik.
"Justru itu yang ingin ku tau" Balas Steven cepat. "Atau kau memang sudah mengetahuinya?" Sambung Steven Lirih nyaris tidak mendengar.
"Maksutmu?" Tanya Naira sambil berbalik.
Tapi steven justru terdiam. Mulutnya seakan terkunci rapat. Membuat Naira merasa jengah dan kembali berbalik kerumah.
"Maaf. Aku benar - benar minta maaf".
Suara lirih Steven menghentikan langkahnya.
"Untuk?" tanya Naira tanpa berbalik.
"Semuanya...".
Naira masih terdiam tanpa berbalik, menanti kelanjutan ucapan Steven yang masih belum ia ketahui arah dan maksutnya. Maaf?. Memangnya untuk apa?.
"Dan yang paling terpenting, Maaf, karena telah membiarkan jantung kakakmu. Seseorang yang paling kau sayangi, Seseorang yang kepergiannya paling tidak kau inginkan dalam hidup, untuk berdetak didalam tubuhku".
Dan detik itu juga Naira merasakan bahwa dunianya ...... Gelap!....
"As always" Gumamnya lirih. Sangat lirih....

To be continue lagi ya...
May be, tinggal dua atau tiga part lagi ending deh. Secara Part Endingnya cuma tinggal ngepos doank.....
Si irma aja juga udah baca no.... Bener gak oma.... Xi xi xi...
Akhir kata, see you in next part ya.....
Bye bye