Cerpen Rainbow After Rain ~ 12

Berdamailah dengan rasa sakit dan kamu akan tau rasanya bahagia..... #rainbow after rain

#Flasback
"kak, aku sangat benci menulis".
"lho, kenapa?".
"Karena tulisan ku jelek. Bahkan aku sama sekali tidak bisa membuat karya tulis. Berbeda dengan mu. Sejak dulu tulisanmu bagus. Hasil karyamu juga selalu mendapat pujian dari semua orang".
"Itu karena aku selalu melakukan apa yang aku sukai" balas Nadira sambil tersenyum. " Tapi.... hei, apa kau benar - benar benci menulis?".
Lama naira terdiam. Sampai kemudian menggeleng mantab.
"Aku selalu membaca dan mengagumi karyamu, jadi bagaimana mungkin aku membencinya".

***

"yah kok malah hujan si?" gerut Naira sambil menatap sebel kearah langit berbanding balik dengan sosok yang berdiri di sampingnya yang jelas terlihat tersenyum bahagia menyambut rintik - rintik air yang jatuh kebumi.
"kak,apa kau benar - benar menyukai hujan?" tanya naira kemudian.
Dengan cepat Nadira mengangguk mantap.
"Emm. Aku sangat menyukainya. Aku suka melihat rintiknya yang jatuh beraturan. Aku suka mencium bau wanginya tanah yang basah. Aku suka menghirup segarnya udara. Dan aku juga suka melihat indahnya pelangi setelahnya".
"Tapi hujan itu musuh terbesar dalam hidupku. Kau kan tau sedikit rintik saja cukup untuk membuat ku terbaring tak berdaya selama berhari - hari" Protes Naira.

 "Karena itu apakah kau akan membenci hujan?" tanya Nadira terlihat sedih.
Untuk sejenak Naira terdiam sebelum kemudian tersenyum tulus "Karena kau menyukainya, tidak ada alasan untuk ku membencinya bukan?".
Mendengar itu Nadira juga tersenyum.
"Terima kasih.Baiklah, mulai sekarang Aku tidak akan lagi menyukai sesuatu yang harusnya kau benci. Aku berjanji" Ujar Nadira mantap sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang dengan cepat di sambut oleh Naira.
"Aku juga berjanji aku tidak akan membenci apa yang kau sukai kak. Karena aku menyayangi mu. Sanggat" Balas Naira sambil menautkan jarinya.

#Flasback and

rainbow after Rain
Credit Gambar : Ana Merya


"Apakah sekarang kau benar - benar membenciku?".
Pertanyaan lirih Steven kembali menyadarkan Naira dari lamunan masa lalunya.
"Aku minta maaf, aku benar - benar......".
"Pergilah" Potong Naira lirih.
"Aku....".
"Aku bilang pergi!!!" Kata Naira setengah berteriak sambil berbalik menatap steven.
Hati steven mencelos saat mendapati air mata yang entah sejak kapan telah membasahi wajah wanita yang ada di hadapannya.
"Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku".
Selesai berkata Naira langsung berbalik. Berlari meninggalkan steven sendirian tanpa menoleh sama sekali.

***

Kosong, Itu yang ia rasakan. Kembali menjalani hari - hari yang menyebalkan. Melewati semuanya sendirian. Apa benar ini yang ia inginkan?.

"Hufh" untuk kesekian kalinya Naira menghembuskan nafas berat. Sudah lebih dari seminggu ini ia benar - benar loss kontak dari Steven.

Walau sebenarnya tidak bisa di bilang tanpa kontak sekalipun si, karena nyatanya Steven masih sering menghubunginya hanya saja terus menghindari.

Berurusan dengan seseorang yang telah memisahkannya dengan orang yang paling ia sayangi ternyata menyakitkan. Ditatapnya air yang terus menetes dari langit. Tanpa sadar tangannya terulur, menikmati basahnya air.

"Hujan" Gumamnya lirih. Seulas senyum pahit terukir di wajahnya.

"Naira?"

Refleks Naira menoleh, Kaget saat mendapati Steven yang berdiri tak jauh darinya sedang menatapnya intens.

Naira Tidak menjawab. Entah kenapa lidahnya tiba - tiba terasa kelu. Ia segera mendunduk saat mendapati tatapan tajam Steven yang terus terjurus kepadanya. Tanpa melihat ia tau kalau sosok peria itu sedang berjalan kearahnya.

"Tolong, Jangan menangis lagi".

Lagi - lagi Naira kembali menoleh, Tapi kali ini Steven tidak sedang menatapnya. Seolah menyadari sesuatu ia segera mengusap wajahnya. Basah. Sejak kapan air mata itu menitik?.

"Disini, untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang mengangis saat melihat hujan. Dan aku tidak pernah berfikir bagaimana mungkin hujan bisa begitu menyakitkan. Dan menurutku orang itu pasti orang yang aneh".

Untuk sejenak Steven terdiam. Ia tau Naira mendengarkan ucapanya walaupun gadis itu tetap menunduk tanpa menoleh kearahnya.

"Sampai kemudian aku bertemu dengan gadis itu. Di sebuah toko buku. Sebuah pertemuan yang menurutnya hanya lah kebetulan".

Kali ini Naira kembali menoleh dan pada saat bersamaan Steven juga sedang menatapnya.

"Aku?".

Steven membalas dengan anggukan sebelum kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Dan pertemuan - pertemuan selanjutnya juga kembali terjadi. Lagi - lagi kau menganggap itu sebuah kebetulan. Lantas, Kebetulan seperti apa yang membuat jantung kakak mu kini berdetak dalam tubuh ku?".

"Deg".

Nyesek, itu yang Naira rasakan saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Steven barusan. Lama ia terdiam sebelum kemudian sebuah senyuman pahit terukir di bibirnya.

"Itu bukan kebetulan, Tapi takdir".

Gantian Kening Steven yang berkerut bingung.

"Bukannya kau tidak percaya pada takdir?".

"heh" Naira mencibir sejenak "Aku tidak pernah mengatakan kalau aku tidak percaya takdir. Aku hanya bilang kalau 'takdir' itu selalu membawa hal yang buruk".

Mulut Steven sudah terbuka untuk berujar tapi lagi - lagi Naira mendahuluinya.

"Termasuk kemunculan dirimu".

Steven menatap kosong kearah Naira. Seburuk itu kah dirinya di mata gadis itu?.

"Maaf" Akhirnya hanya satu kata itu yang mampu meluncur dari tengorokannya.

"Untuk apa?. Untuk takdir yang tak bisa kau ubah?" Tanya Naira dengan tatapan terluka.

"Untuk semuanya" Balas Steven lirih. "Dan jika kau mau aku menebusnya. Aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk mengabdi padamu".

Naira menatap tak percaya atas apa yang Steven ucapakan barusan. Lama ia terdiam sampai kemudian mulutnya kembali berujar.

"Jadi karena itu. Selama ini kau baik pada ku hanya untuk menebus apa yang kakakku lakukan padamu?".

Tidak, Bukan itu maksutku. Kau salah paham. Ingin sekali Steven meneriakan kata itu. Namun entah kenapa mulutnya terkunci rapat.

Naira sendiri juga kembali terdiam saat mendapati tiada bantahan dari sosok yang berada tak jauh darinya. Astaga, Sungguh kenyataan ini bahkan lebih menyakitkan dari pada saat ia tau siapa Steven sebenarnya.

"Kau tau, Bagiku kau benar - benar seperti hujan" Gumam Naira lirih.

Steven menoleh. Mencoba mencerna maksut dari apa yang Naira ucapkan barusan.

"Kau mengerti maksut bukan?".

Selesai berkata Naira langsung bangkit berdiri. Hujan telah reda. Bus yang sedari ia tunggu juga sudah muncul di hadapan. Tanpa kata lagi ia segera berlalu. Meninggalkan Steven Dengan keterpakuannya.

Oke, TBC Dulu... E... Next part mungkin ending. Kalo gak da perubahan rencana si,,,,

Akhir kata bye bye.....

1 komentar:


EmoticonEmoticon