Cerpen Kekasih untuk sahabatku end

Cerpen Kekasih untuk sahabatku end

Aku telah memesan tiket kereta api jurusan Surabaya-Yogyakarta. Dua hari lagi aku sudah masuk kuliah, dan hari ini aku akan berangkat ke Jogja meninggalkan kota tercintaku ini.Kulirik jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kiriku,menunjukkan pukul 07.15 WIB. Kereta yang aku tumpamgi akan datang di jam 07.30 WIB. 15 menit lagi aku akan meninggalkan semua yang di Surabaya, termasuk Rama. Dia tidak tau jika hari ini aku berangkat ke Jogja. Karena kami tak pernah lagi berkomunikasi.Aku tersentak kaget ketika seorang bapak bapak menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan. Dia menunjuk kearah kereta, memberitahuku bahwa kereta sudah datang dan dia mengajakku memasuki gerbong.Kulangkahkan kaki memasuki gerbong kereta ini dan mencari tempat duduk yang nyaman.Perlahan, kereta ini mulai melaju meninggalkan stasiun.


Aku sudah sampai di Jogja.Perjalanan yang cukup melelahkan ini membuat seluruh tubuhku terasa pegal pegal.Suasana disini berbeda dengan di kotaku. Udaranya lebih segar. Disini aku akan tinggal bersama bibiku.


Sudah seminggu aku tinggal di Jogja. Aku mulai kerasan, namun tetap saja fikiranku masih melayang kepada masa laluku.Kini kudengar hubungan Rama semakin dekat dengan Dhea.


Suatu ketika Rama dan Dhea akan pergi jalan jalan. Sambil menunggu Rama yang tengah mandi, Dhea membuku buka tumpukan buku yang berada di atas meja Rama. Tangannya terhenti di sebuah buku album yang bertuliskan “Rama Love Fira” . Dhea membuka buka buku itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat semua foto yang berada di dalamnya adalah foto foto Rama bersamaku.

Tiba tiba seseorang menepuk bahu Dhea dari belakang.

“Rama, kamu ngagetin aku aja.” Dhea segera meletakkan buku itu diatas meja.

“kamu tadi lihat album ini ya Dhe?” Tanya Rama dan memegang buku yang baru saja diletakkan oleh Dhea.

“Iya Ram” Jawab Dhea.

“Maafkan aku sayang. Aku tak bisa membuang buku ini. Karena bagaimanapun buku ini adalah kenanganku bersama Fira.”

“Tak apa, Ram. Simpanlah buku itu.”

“kamu nggak marah Dhe?”

“Enggak. Justru aku berterimakasih Karena kamu sudah jujur kepadaku.”

“Trimakasih sayangku” Ucap Rama seraya memeluk tubuh Dhea.

Disini aku merasakan kehidupan yang baru. Mendapat kawan baru. Namun kejadian 3 bulan yang lalu masih sering membuatku bersedih. Aku tak pernah mengira jika perpisahanku akan sepahit ini. Kehilangan dua orang terdekatku. Lelaki yang amat aku cintai, dan juga sahabatku sendiri.

Bukan hanya Rama yang aku rindukan, tapi Dhea juga. Aku rindu ketika bercanda bersama mereka berdua. Aku memang kecewa, sangat sangat kecewa atas perlakuan Rama dan Dhea terhadapku. Tetapi mungkin tak seharusnya aku terus menerus menyimpan rasa benci kepada keduanya. Kebencianku ini yang membuatku semakin sulit untuk melupakan peristiwa menyakitkan itu. Aku teringat dengan pesan Kiai Rais yang ditulis oleh bang Fuadi dalam novelnya yang berjudul “Negeri 5 Menara” . Disitu Beliau berpesan kepada para santrinya “Ikhlaskanlah semua yang terjadi kepadamu, maka hidupmu akan tenang.”

Mungkin ini saatnya aku mengamalkan pesan itu. Mengikhlaskan Rama dan Dhea bersama, maka dengan begitu, kesedihanku akan berkurang dan aku akan tenang dalam menapaki masa depanku nantinya.

“Dan semenjak ada dia..kamu bukan kamu..yang seperti dulu..tiada lagi kisah indah..dan kini kusendiri….” Alunan lagu itu mengagetkanku. Aku mencari sumber suaranya. Ternyata berasal dari dalam saku jaketku. Aku baru ingat, itu adalah nada panggilan ponselku yang baru saja aku ubah beberapa hari yang lalu.

Telfon dari Airin.Dia mengajakku mengikuti Reuni SMA yang akan diadakan minggu depan. Kebetulan di kampusku ada libur 3 hari. Jadi aku bisa pulang ke Surabaya dan menghadiri acara reuni alumni itu.

Akhirnya aku telah sampai kembali di kota kelahiranku. Aku tak sabar untuk pulang dan bertemu ayah,bunda, serta kedua adikku. Di tengah tengah keramaian orang yang berlalu lalang di stasiun, tiba tiba ada seseorang dengan mengenakan jaket hitam tebal mencekal tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Rama, hampir saja aku tak mengenalinya.ya Tuhan, aku sangat merindukannya. Aku tak percaya jika dia orang yang aku jumpai pertama kali sepulang dari Jogja.ternyata dia juga baru pulang dari bandung.Rama mengajakku mengobrol sebentar sebelum kami berdua pulang ke rumah masing masing. Dia mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya.

“Masih ingatkah kamu dengan album ini?” Rama memperlihatkan album itu kepadaku.

“sebelum aku berangkat ke Bandung. Dhea membuka album ini, dan kamu tau, ia tak memarahiku. Justru menyuruhku untuk tetap menyimpannya”

“Serius kamu?” Tanyaku tak percaya

“Aku serius” jawab Rama meyakinkanku

Bagaimana bisa Dhea tidak marah melihat album ini. Padahal semua foto di dalamnya adalah foto fotoku bersama Rama.

“Mengapa kamu masih menyimpannya?”

“Karena Aku tak ingin menghapus kenangan kita. Meskipun kini kita sudah tak lagi bersama”

“Dhea memang tidak marah kepadamu.tetapi sesungguhnya hatinya juga perih melihat foto kita bersama. Jangan kau ulangi lagi hal ini. Dan jaga Dhea baik baik”

“Aku akan jaga sahabatmu, Cinta” Kata Rama memeluk tubuhku erat erat. Dia menyebutku lagi “cinta” , aku sangat rindu dengan sebutan itu. Mungkin ini terkahir kalinya dia memelukku dan memanggilku “cinta” .

Dhea memang telah mengkhianatiku. Namun setidaknya dia masih punya hati. Membiarkan kekasihnya menyimpan kenangannya di masa lalunya. Begitu pula Rama, meski kini aku sudah tak lagi bersamanya, tetapi dia tetap ingin menyimpan kenangannya bersamaku. Mungkin inilah yang banyak orang sebut dengan “cinta segitiga”. Betapa beruntungnya kamu, Rama. Menjadi orang pertama di hati dua orang perempuan, Aku dan Dhea.

Hari reuni akbar itu tiba. Aku tak sabar melepas rindu dengan kawan kawan lamaku. Tampak dari kejauhan aku lihat beberapa anak perempuan sedang berlari menghampiriku. Ternyata mereka adalah Airin dan beberapa kawanku yang lain. Aku peluk tubuh Airin erat erat, aku sangat merindukannya. Satu persatu aku salami kawan kawanku yang lain. Sesekali terselip canda diantara kami.

Tak jauh dari tempatku, kulihat Dhea sedang memandang ke arahku. Namun dia membuang mukanya ke arah lain ketika aku berganti memandangnya. Aku menghamprinya, memisahkan dari kerumunan kawan kawanku yang lain.

“Dhea, maafin aku ya..” , kataku sambil mengulurkan tangan kearah Dhea. “Aku egois, tak bisa mengerti perasaan sahabatku, tak mampu menahan amarahku. Aku sudah mengikhlaskanmu dengan Rama.” Aku lempar senyum ke arahnya, dengan hati yang sebenarnya masih terasa berat mengikhlaskan mereka berdua.

“Aku juga minta maaf.” Dhea menoleh kearahku “Maaf Karena aku telah menjadi orang ketiga di hubungan kalian.”

“Sudahlah.lupakan hal itu”Aku tak menyangka jika ia menyadari bahwa dia telah menjadi orang ketiga di hubungan kami. “namanya juga manusia,tempatnya salah dan lupa.Anggap saja angin lalu”
“Makasih Fir. Aku kangen banget sama kamu” katanya dan langsung merangkul tubuhku.
“aku juga merindukanmu” Berada dalam pelukannya aku merasakan sesuatu yang pernah hilang dari hidupku telah kembali. Ya.. sahabatku…kehilanganmu memang lebih menyakitkan daripada kehilangan kekasih yang aku cintai. Tak sadar aku meneteskan air mata.
Beberapa kawanku melihat adegan kami berpelukan. Begitu juga Rama. Dia menepuk bahuku dan juga Dhea, menyadarkan kami dari pelukan ini.
Rama menatapku dan memegang kedua bahuku. “Maafkan aku juga, Fira. Karena telah membuatmu terluka” Ucapnya dan mendekatkan tangan kanannya ke pipiku, berusaha menghapus air mataku, namun aku menahan pergelangan tangannya dengan tangan kiriku
“jangan kau sentuh air mata ini. Aku bisa menghapusnya sendiri. Lebih baik kau hapus air mata kekasihmu itu” kataku diantara isak tangisku.
Aku melepas pergelangan tangannya, mengambil tangan kirinya yang masih mendarat di bahuku dan menariknya, menyatukannnya dengan tangan kanan Dhea.
“Dhea,sayangi Rama melebihi rasa sayang yang pernah aku berikan kepadanya.” Ucapku menatap Dhea dan berganti menata ke arah Rama “Lupakan tentang kita Rama, sekarang, Dhea adalah kekasihmu.Dia yang menyayangimu.” Aku mengelap sebagian air mataku. “Jaga hati kalian masing masing.Percayalah, jika kalian bahagia. Aku juga bahagia” Aku melempar senyum kepada keduanya. Namun air mata ini justru semakin deras membasahi pipiku.

Perlahan, aku menjauh dari mereka berdua. Mendekat ke arah Airin dan Arya.
“Fir,kamu ini aneh ya. Ingin orang yang kamu sayangi bahagia, tetapi dengan cara menyakiti dirimu sendiri” Arya menggeleng geleng keheranan.
“Iya Fir, aku salut sama kamu” Sahut Airin

Aku hanya tersenyum kea rah Arya dan Airin dan mengabaikan perkataan mereka. Pandanganku masih tertuju kepada dua orang yang aku sayangi, yang kini telah bersatu. Rama Dan Dhea. Tenanglah wahai kamu pujaan hatiku, langit tak akan mendung lagi melihat kita berpisah. Karena dia tau, aku telah merelakanmu dengan pilihan hatimu.

Tuhan punya alasan mengapa memisahkan aku dengan Rama. Dan mengapa Tuhan memisahkan dengan cara yang amat menyakitkan seperti ini.Memang inilah yang terbaik untukku. Aku telah menemukan banyak hikmah di balik semua peristiwa ini.

Cerpen Cinta Tak Harus Memiliki

Baiklah, karena admin beneran nggak punya banyak waktu untuk bersantai, bahkan cerpen kenalkan aku pada cinta karya admin sendiri terancam lanjutannya lama baru bisa di lanjutin, so khusus untuk cerpen kiriman, admin nggak akan ngedit lagi. Waktu beneran nggak ada, and nggak mungkin juga cerpen yang udah di kirim nggak di posting. So harap di maklumi aja ya....

Pada pagi hari Tania berangkat ke sekolah kali ini dia nggak bersama revan yang setiap berangkat dan pulang bareng, karna revan lebih memilih jemput gebetanya ktimbang sahabat nya.


Cinta Tak Harus Memiliki

Oh ya kenalin dia bernama TANIA PUTRI dia adalah siswi smu ma’arif di demak, dia anak yang berprestasi dan nggak suka ngumpul sama temen-temen yang sukanya cuman nge gosipin REVAN SYAHPUTRA dia adalah sahabat Tania yang di kagumi oleh kaum hawa termasuk Tania yang diam-diam mulai suka sama revan…..

“tan” panggil via setelah berada di koridor sekolah

“ eh via” jawab Tania yang sung berhenti berjalan karna namanya di panggil

“tumben nggak bersama revan” Tanya via yang hanya di balas senyum pahit oleh Tania

“oh gw tau, pasti revan jemput resti nya” jawab via asal yang langsung di iyakan oleh Tania

“iya” jawab Tania dengan lesu nya

“ yaudah lah jangan sedih” kata via sambil ngusap pundak Tania, via memang tau kalo Tania mulai suka sama revan

“ mending kita ke kelas yuk” ajak Tania yang berusaha senyum walau hatinya sakit
“ayok, bentar lagi juga kan bell” kata Tania

Belum juga lima langkah teriakan nama Tania kembali ia dengar kali bukan via atau siapapun melainkan revan cowok yang iya suka sekaligus sahabat nya

“Tania” panggil revan

“ ada apa van” jawab Tania sambil tersenyum melihat revan di hadapanya

“ loe udah ngerjain tugas fisika belom” Tanya revan

“ udah” jawab Tania mencoba santai walau hatinya berdetak dua kali dari biasanya

“ gw pinjem ya” kata revan dengan tampang so cool

“ogak ah” jawab Tania sebel “kirain apaan ternyata mau nyontek”gumam Tania dalam hati

“yah kok loe gitu si”kata revan sambil masang tampang sok ngambek

“kapan sih van loe mau berubah, kita tu udah kelas dua,kalo loe gini terus ntar kalo ujian gi mana coba” jawab Tania merasa nggak enak karna melihat tampang revan yang cembrut

“gue janji ini terakhir kali gue nyontek deh”jawab revan dengan jari kelingking nya yang di sodorkan kea rah Tania, dengan berat hati dia membalas jari revan

“janji ya”jawab Tania melepaskan jarinya dari tangan revan dan menyodorkan buku fisika kearah revan

“ thanks y aloe emang sahabat gue yang TOP BGT deh”kata revan sambil berlalu dari hadapan Tania

“andai aja loe tau fan, gue pengen lebih dari sahabat fan” gumam Tania dalam hati yang matanya terus mengikuti pundak revan dari hadapanya

“tan,kok malah ngalamun si”kata via yang melihat Tania bengong, dan ucapan via menyadarkan dari lamunanya

“eh apa, nggak ko’”jawb Tania dengan tampang gugup

“udah lah ke kelas yuk”ajak Tania yang melihat mulut via siap untuk bicara,

“ayo’” jawab via walaupun dia masih pengen debat sama Tania, tapi mau gi mana bel udah bebunyi.

Bell istirahat pun berbunyi menandakan saatnya ngasih jatah pada caqcing di perut yang udah nggak bisa di toleransi lagi

Setelah sampai di kantin dia melihat revan yang asyik bercanda dengan rasti, karna melihat pemandangan yang bikin hatinya sakit ia pun memutuskan untuk ke taman balakang sekolah karna rasa lapar nya berganti dengan rasa sakit di hatinya,karna via tau apa yang sedang di rasakan oleh sahabatnya iya pun ngekor di belakang Tania dan mencoba menjajar kan langkanya dengan Tania yang berjalan dengan cepat karna ia nggak mau teman-temanya melihat dia nangis.

Setelah tiba di taman Tania pun nggak bisa menahan air mata nya untuk jatuh

“udah donk tan jangan nagis” kata via mencoba menenangkan sahabat nya

“cup cup, jangan nangis lagi donk, loe tau nggak si kalo loe nangis kecantikan loe ilang”kata via mengusap-usap pundak Tania yang masih terus menangis

“loe tau nggak si, hati gua tu sakit banget, setiap gua liat revan bermesraan dengan cewek lain”terang Tania di sela tangisnya

“gua tau, tapi loe harus kuat donk,di mana Tania yang dulu, Tania yang ceria, Tania yang nggak cengeng, gua tau apa yang sedang loe rasain karna gua juga pernah ngrasain tan, tapi loe pasti masih ingat kana pa yang loe omongin dulu, loe bilang, kita nggak boleh cengeng, kita juga nggak boleh lemah karna cowok,cowok di dunia ini nggak cuman satu , loe ingat kan”terang via panjang lebar

“ iya gua tau, tapi gua bener-bener nggak bisa nahan air mata gua via, rasanya sakit banget”jawab Tania yang berderai air mata

“udah.. udah jangan nangis lagi nya, gua tau loe orang kuat jadi loe pasti bisa menjalani ini semua, sekarang senyum donk”terang via yang di balas anggukan oleh Tania dan ia pun mencoba tersenyum walaupun hatinya sakit,

“nah gitu donk, loe tau nggak sih kalo loe senyum itu lebih cantik dari siapapun”terang via menggoda

“apaan sih loe jangan lebay deh” jawab Tania walupun dia tersipu malu

Dan setiap hari dia melihat hal yang sama yang membuat hatinya teriris tapi iya mencoba tersenyum dan bersikap se wajar mungkin, tiba suatu hari yang membuat ia tak bisa mehan airmata nya yaitu saat dia dengar kalo revan dan riska telah resmi jadian dan saat yang sama pula ia harus sendirian ngadepin ini karna via nggak masuk katanya dia sakit, dan setiap hari ia melihat revan bermesraan dengan cewek nya ya walaupun nggak cuman dia yang ngrasain tapi air mata nya nggak bisa di ajak kompromi lagi-lagi ia harus nangis karna cowok yang sama tapi ia mencoba tegar untuk hadapin ini karna ia nggak ingin melihat via cemas dan selalu menghiburnya, tapi suatu hari revan tau apa yang di rasakan oleh Tania lewat buku dairy yang ada di dalam tas Tania, tanpa sengaja di membaca halaman yang berisi tentang perasaan Tania ke pada revan.

Dear dairy hari ini adalah hari yang sama, hari yang penuh dengan rasa sakit hati saat melihat revan dengan riska bermesraan, andai revan tau apa yang ku rasa, tapi aku sadar cinta nggak harus memiliki, tapi aku sudah mencoba untuk melupakanya tapi bayanganya selalu ada dalam pikiran ku, tuhan tolong hapus dia dari pikiranku dan tolong hapus rasa cinta ku untuk nya, tuhan apa salah ku hingga aku harus melihat orang yang aku sayang dan cinta harus bersama dengan gadis lain,

“revan”panggil via nggak percaya sekaligus kaget apa yang ia lihat

“suruh siapa loe baca dairy nya Tania”Tanya via dengan tampang nggak terima

“gua mau nanya ma loe apa bener yang di tulis Tania di sini”bukanya menjawab revan malah balik nanya

“iya itu memang bener, walaupun gw nggak tau apa yang di tulis Tania di situ, tapi gua tau dengan tampang loe yang kayak gitu pasti yang di tulis Tania adalah curahan hatinya ke loe”tutur via

“jadi maksut loe bener kalo Tania suka sama gua”Tanya revan dengan tampang nggak percaya, via nggak ngejawab hanya menganggukkan kepala

“itu nggak mungkin”gumam revan

“itu memang benar, dia diam-diam suka sama loe”terang via

“via”panggil Tania yang ada di ambang pintu kelas, Tania dan revan pun dengan spontan menatap kea rah Tania

“Tania”gumam via

“loe”Tania nggak ngelanjutanya ucapanya karna melihat dairy nya ada di tangan revan

“loe, baca dairy gua van” Tanya Tania lebih tepat nya bentakan

“gua mau nanya ma loe” bukanya menjawab malah balik nanya

“balikin buku gua”bentak Tania pada revan dan di tonton oleh siswa dan siswi yang ada di sekitar itu

“apa bener yang loe tulis dalam dairy loe ini”Tanya revan yang nggak menjawab bentakan Tania

“balikin buku gua revan” pinta Tania sambil menitih kan airmata nya ntah karna malu di liat banyak orang atau dia malu karna revan tau isi hatinya

Revan yang meliat Tania menangis akhirnya nggak mau nanya lagi “ ini” kata revan menyodorkan buku Tania sambil berlalu dalam keramaian, orang-orang yang ada di situ hanya bengong nggak ngerti apa yang terjadi, dan via yang melihat Tania terisak tangis pun menghampirinya walaupun rasa bersalah ada dalam benak nya

“tan, maafin gua” pinta via setelah berada di depan Tania yang berlutut

“tan, maafin gua”pinta via lagi karna nggak ada respon dari Tania

“tan, gua tau gua salah taoi gua mohon maafin gua”pinta Tania memelas

“loe nggak salah kok, mungkin sudah saatnya revan tau”jawab Tania di sela tangisnya

“gua minta maaf banget sama loe”kata via sambil memeluk sahabatnya itu

“gua kan udah ngomong nggak ada yang harus di maafin dan nggak ada yang minta maaf” jawab Tania membalas pelukan sahabatnya

Dan hari demi hari Tania lalui tapi persahabatan nya dengan revan nggak sedekat dulu, walaupun mereka sering bertemu tapi nggak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka, Dan sampai ahirnya revan pun jengah akan kondisi yang mereka alami, Dan revan pun berniat untuk mulai bicara pada Tania nanti sepulang sekolah di parkiran
Setelah bell pun berbunyi dan revan pun sudah ada di parkiran untuk berbicara empat mata pada Tania,dan orang yang di tunggu revan pun muncul

“Tania”panggil revan, Tania menoleh kea rah yang memanggil namnya, betapa kaget nya dia saat yang manggil adalah revan cowok yang ia rindukan

“udah sana samperin revan, kalian selesaiin masalah kalian sendiri, gua tunggu di gerbang ok” terang via sambil menepuk pundak Tania, Tania hanya membalas senyuman dan anggukan, dan ia pun menghampiri orang yang memanggilnya

“tan, gua mau,minta maaf sama loe”kata revan terbata-bata

“maaf”kata Tania heran sekaligus nggak percaya yang ia dengar

“iya gua mau minta maaf”kata revan menundukkan kepala

“minta maaf untuk” masih heran “minta maaf untuk apa, yang harus nya minta maaf kan gua, karna gua kemaren udah bentak dia”gumam Tania dalam hati

“ gua mau minta maaf, karna gua nggak bisa nerima cinta loe”terang revan lirih terdengar seperti gumaman, Tania hanya tersenyum denger omongan revan

“kenapa loe tersenyum”kata revan heran melihat Tania tersenyum

“kenapa loe harus minta maaf”jawab Tania, dan kali ini membuat revan bingung
Melihat reaksi revan yang kebingungan karna omonganya Tania pun meralat omonganya tadi

“maksut gua, kenapa loe harus minta maaf, kan cinta itu datang dengan sendiri nya,
loe nggak salah apa-apa kok,lagian gua bahagia dengan prasaan gua, dan gua mencinta loe bukan untuk nerima balasan karna gua mencintai tulus tanpa pamrih”terang Tania panjang lebar yang di sertai dengan senyuman

“loe nggak marah sama gua”Tanya revan

“nggak, kenapa gua harus marah sama loe, bukanya cinta itu nggak harus memiliki, loe mau jadi sahabat gua aja itu udah cukup kok van, karna kataka ku tadi cinta nggak harus miliki” terang Tania walaupun hatinya mersa sakit atas ucapanyatadi

“makasih tan, loe emang sahabat sejati gua” ucap revan memeluk Tania

Tania pun membalas pelukanya revan

“iya gua tau tapi nggak acara main peluk juga kan, ntar kalo cewek loe tau gi mana” ucap Tania melepas pelukanya revan walau dalam hati dia seneng banget di peluk sama revan

“loe mau pulang”kata revan nggak jawab menjawab pertanyaan nya Tania

“nggak, gua pengen bunuh diri” kata Tania sambil tersenyum

“loe tu ya, di Tanya baik-baik juga” kata revan sok ngambek

“ya habis lo nanya gitu si” kata Tania dengan senyum tersungging di bibirnya melihat raut wajah revan

“gua antar pulang nya” kata revan akhirnya

“nggak deh, makasih van, tapi gua udah janji mau pulang sama via lain kali aja ya” terang Tania, yang di balas anggukan oleh revan

“yaudah gua pulang duluanya van” pamit Tania pada berlalu dari revan menghampiri via yang udah nunggu dia di gerbang sekolah

“gi mana udah selesai masalah nya”kata via setelah Tania sampai di depan mata nya

“udah”jawab Tania cengengesan

“syukur deh kalian bisa kayak dulu lagi”kata via ikut tersenyum

“makasih ya vi” kata Tania memeluk via, dan via pun membalas pelukanya Tania

“sama – sama”kata via melepas pelukanny dengan Tania “itu kan gunanya sahabt”sambung via

“loe emang sahabat terbaik guwe” kata Tania

“iya donk via” membanggakan diri “pulang yuk”ajak via yang langsung di iyakan oleh Tania
END
Penulis : ida ajha
Email : idhaajha16@gmail.com

Cerpen Kekasih Untuk Sahabatku ~ 02

Hari yang sangat membosankan.Membiarkan diriku hanya berdiam diri di rumah.Akupun memutuskan keluar dengan mengajak Dhea ke toko buku.

Aku menelusuri setiap nuku yang tertata di rak rak buku kumpulan novel.Aku mencari novel ketiga dari trilogi “negeri 5 Menara” yang baru saja diterbitkan beberapa minggu lalu.

“Jujurlah sayang,aku tak mengapa, biar semua jelas tak berbeda..” , Tiba tiba aku mendengar sepenggal lirik lagu milik band Repvblik.Ternyata itu nada telepon dari ponselnya Dhea.

“Bentar ya, aku jawab telfon dulu.” Ucap Dhea dan menjauh dariku.

Setahuku Dhea memang sangat menyukai lagu Repvblik itu, sampai sampai dia menggunakannnya sebagai nada dering.


Kekasih untuk sahabatku

“Ngapain sih telfon!” Dhea berbisik. Seperti takut jika aku mendengar pembicaraannya.

kamu Dimana?” , Tanya suara itu.

“aku lagi di toko buku sama pacar kamu.”

“yaudah,aku kesana sekarang ya” ucap suara itu lagi.

Belum sempat Dhea menjawab, Rama telah menutup panggilannya.

“Telfon dari siapa, Dhe?” , Tanyaku menghampirinya.

“Eng…enggak dari siapa siapa” Jawabnya segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. “itu tadi temen, katanmya ntar sore mau maen ke rumah” ucapnya terlihat gugup, seperti ada yang ia sembunyikan.

Aku sengaja mengajak Dhea ke toko buku bukan hanya umtuk mememaniku membeli buku,tetapi aku juga ingin mengutarakan masalahku tentang pertengkaranku dengan Rama.

Baru sekitar 15 menitan kami mengobrol, Tiba tiba Rama datang menghampri kami.

“Fira,Dhea, kebetulan kita betemu disini.” Katanya

Aku rasa ini bukan sebuah kebetulan, sepertinya Rama telah mengetahui jika hari ini aku berada di toko buku bersama Dhea.

Aku mendapati banyak keganjilan, tadi ketika Dhea nampak gugup ketika aku bertanya siapa orang yang menelfonnya.Dan tiba tiba Rama datang menemuiku dan Dhea di toko buku,padahal setahuku dia jarang sekali pergi ke toko buku. Kecuali jika aku yang mengajaknya. Kulihat juga raut wajah Dhea yang terlihat kaget ketika Rama datang menemui kami.

Aku meminta izin kepada Rama dan Dhea untuk kembali memilih milih buku dan membiarkan mereka berdua duduk di tempat baca buku yang disewakan.Aku bukan ingin memilih buku, hanya saja ingin mencari tau sebenarnya ada hubungan apa antara Rama dan Dhea.

“Ngapain sih pake kesini segala” Ucap Dhea dengan raut mukanya yang kesal.
“kamu jangan marah gitu dong. Aku tuh Cuma kangen aja sama kamu” Ucap Rama dengan mudahnya mengatakn kangen kepada perempuan lain
“Tadi Fira bilang sama aku,katanya sekarang kamu jarang perhatiin dia”

“Iya, aku capek.Fira tu kerjaannya ngomel ngomel mulu. Daripada ngedengerin omelannya yang nggak jelas itu, mending berduaan sama kamu kayak gini,Dhe” Kata Rama memegang tangan Dhea

Di bali deretan rak rak buku, aku tak mendengar percakapan merka, tetapi aku melihat dengan jelas ketika lelaki yang masih berstatus sebagai pacar aku berpegangan tangan dengan perempuan lain , dan itu adalah sahabatku sendiri.

Pertengkaran yang selama ini terjadi antara aku dan Rama adalah karena sejak beberapa bulan yang lalu aku telah mencurigai kedekatan Rama dan Dhea.Tetapi Rama selalu meyakinkanku, jika dia hanya mencintaiku dan selalu mengatakn bahwa Dhea tak mungkin mencintainya. Hal itu yang selalu membuatku menghilangkam kecurigaanku terhadap Dhea. Teapi melihat kejadian barusan, kecurigaan itu kembali menghantuiku.

“Dhea memang sahabatmu, sama sepertiku.Tapi apa yang tidak mungkin di dunia ini, meskipun itu sahabatmu sendiri. Mendingan kamu Tanya langsung aja kepada keduanya. Agar kamu mendapatkan kepastian yang jelas” kata Airin memberi saran kepadaku.

Airin ada benarnya juga. Lebih baik aku menanyakan hal ini kepada Rama dan Dhea secara langsung.

Aku merencanakn sesuatu.Mengajak Rama dan juga Dhea menemuiku di sebuah taman.Dengan sedikit berbasa basi, sebelum akhirnya aku mengutarakn sebuah pertanyaan kepada Dhea.

“mungkin tak semestinya aku menaynyakan hal ini. Mungkin juga akan menyinggung perasaanmu jika jawaban dari pertanyaanku ini tidak seperti yang aku fikirkan.Aku menanyakannya padamu, hanya untuk meinta kepastian. Dan aku harap kau akan menjawab dengan sejujur jujurnya.”

“Insya Allah,Fir. Aku akan menjawabnya dengan jujur” Dhea menatapku serius.

“Dhea, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Rama, dan ada hubungan apa diantara kalian?’

Dhea terdiam sejenak, mungkin sedikit kaget dengan pertanyaanku. Aku menunggu jawaban darinya, apapun jawaban itu, akan aku dengarkan.

“maafkan aku, Fira. Aku mencintai Rama. Tapi sungguh, tak ada hubungan lebih diantara kami kecuali teman. Aku tau kamu pasti sakit mendengarnya.Namun inilah kenyataannya, aku mencintai kekasihmu.”

Seperti tertusuk ribuan jarum yang menembus dadaku ketika aku mendengar jawaban dari Dhea. Jawaban yang amat sangat jujur bagiku.Ternyata, dugaanku selama ini benar, Dhea mencintai Rama, kekasihku. Aku menghela nafas, mencoba menguatkan hatiku, karena aku harus menemui Rama. Aku meminta Dhea untuk menungguku, sebelum akhirnya aku menemui Rama yang tak cukup jauh dari tempatku bertemu dengan Dhea.

“Maaf,jika telah membuatmu menunggu” Ucapku yang kini telah berdiri di belakang Rama.

“Fira” katanya berbalik arah mengahadapku. “tak apa, aku belum lama menunggumu. Ada apa kau memintaku untuk datang kesini?”

“Jika aku bertanya padamu, apakah kau akan menjawabnya dengan jujur?” Aku menatap matanya dengan serius.

“Pasti, aku akan menjawabnya dengan jujur” Ujarnya dengan mantap.

“baiklah. Pertikaian yang terjadi diantara kita selama ini adalah karena aku menaruh kecurigaan terhadapmu. Siapa yang sebenarnya ada di dalam hatimu, aku… atau Dhea?

“Apa maksdumu bertanya seperti itu padaku ?”

“Aku mengetahui semuanya.Aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku, bukan untuk bertanya apa maksudku menanyakan hal ini.

Suasana berubah menjadi hening. Hanya terdengar suara angina yang berlalu.Lelaki yang berdiri di hadapanku ini masih tertunduk. Mungkin mencari jawaban dari pertanyaanku ini.Menunggunya menjawab pertanyaan yang telah aku lontarkan, seperti aku merasakan waktu telah berhenti berputar.

“Maafkan aku, Fira.Aku memilih Dhea “ Rama memegang kedua tanganku dan menciumnya. Meneteskan sebutir kristal suci di punggung tangan kananku.

Satu tetes, dua tetes air mata mengalir di pipiku.Tak menyangka jika Rama akan mengatakan hal sepahit ini di hadapanku. Aku juga tak mengerti, jika dia memilih Dhea, apa maksud airmatanya yang jatuh di punggung tangan kananku ini.

Tangannya yang semula menggengam tanganku, kuubah menjadi aku yang mengenggam tangannya dan menariknya mengampiri Dhea yang masih menungguku.

“mengapa kalian tidak jujur dari awal? Mengapa harus menunggu aku yang bertanya terlebih dahulu kepada kalian? Mengapa menyembunyikan perasaan kalian di belakangku? Rama, aku tak tau kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga kau meninggalkanku dengan cara seperti ini. Mencintai sahabatku sendiri. Dan kamu Dhea, mengapa menutupi kebusukanmu dengan memeperlihatkan semua kebaikanmu terhadapku. Sahabat macam apa yang tega menusuk sahabatnya sendiri. Mencintai orang yang telah dimiliki sahabatnya. Kalian kemanakan akal dan pikiran kalian? Memang hubungan kalian tak lebih dari sebatas teman, tapi perasaan saling suka yang terdapat pada diri kalian membuat kalian menciptakan kemesraan di belakangku, yang tak pernah aku ketahui sampai detik ini.”

Aku tak mampu membendung air mata ini dan berlari sejauh mungkin dari hadapan mereka berdua yang telah mengkhianatiku.

“Maafkan aku,Fir. Aku memang memilih Dhea. Namun mengapa aku juga merasa begitu kehilanganmu , Fira” Ujar rama dalam hatinya, yang masih melirik ke arahku yang berlari semakin menjauh dari tempatnya dan Dhea berdiri.

Suda 1 bulan aku tak pernah bertemu dengan Rama maupun Dhea. Bahkan aku sempat mengurung diri beberapa hari di kamar karena frustasi berat. Aku benar benar belum bisa menerima kenyataan ini. Berkali kali Rama datang ke rumahku,tapi aku tak pernah menemuinya. Berkali kali pula dia mengajakku bertemu di luar. Tapi aku selalu mengabaikannya.

“Bukan maksud menduakanmu..aku tak ingin mendustai hati..aku juga mencintaimu..ku menjauh hanya unutk berfikir….” Lirik lagu “Robinhood” itu telah berulang ulang kali berbunyi. aku sama sekali tak menghiraukannya. Namun terus menerus mendengarnya juga membuatku kesal, akhirnya aku ambil juga ponsel yang telah berulang kali menerima panggilan masuk itu. Jika sebelumnya aku membiarkan atau merejectnya, kali ini aku menjawabnya. Suara Rama di seberang sana terus membujukku, mengajakku bertemu. Aku pun terpaksa menuruti permintaannya kali ini.

“Aku bingung sama kamu, sudah memilih Dhea tetapi masih saja mencariku. Apa maumu? Apakah kamu belim puas menyakitiku?” Kataku menggerutu di depan Rama.

“Fira , aku Cuma kangen sama kamu.” Rama memegang tanganku, wajahnya tak terlihat salah menyebut kata “kangen” di depanku.

“Ngapain kangen sama aku” jawabku ketus dan melepaskan tanganku dari pegangannya.

“Cinta, kamu ingat nggak malam perpisahan itu.Ketika aku mengajakmu bertemu di tempat ini, namun Tuhan tak mempertemukan kita. Saat itu aku ingin memberikan buku ini kepadamu. Kamu pernah bilang bahwa kamu sangat menginginkan buku ini. Aku sengaja membelikannnya untukmu” , Rama menyodorkan buku bersampul hijau itu di hadapanku.

Aku melirik buku itu.ya, aku dulu memang sangat ingin memilikinya. Buku karya Keiko Nagita yang dialih bahasakan oleh Vita Erniyati ini berjudul “Fuko and The Ghosts - Ghost Train”. Buku ini mengisahkan seorang gadis bernama Fuko yang setia kepada kekasih hantunya yang bernama Kazuo. Meski kini Kazuo telah meninggal dan menjadi hantu, Fuko tetap mencintainya. Dia tak peduli jika berhubungan dengan makhluk berbeda alam itu sangat

berbahaya.Fuko tetap berpegang teguh pada kesetiannya mencintai Kazuo.Aku sangat salut pada Fuko. Namun aku dan Rama tak seperti Fuko dan Kazuo.Kami tak mampu menjaga kesetiaaan. Semua karena rama.Dia yang yang berpaling pergi meninggalkanku.

“Aku sudah membacanya, sebaiknya kau berikan saja pada Dhea” Ucapku menyodorkan bukuitu kembali kepada Rama.

“Tapi…..” “maaf, sepertinya aku harus pergi” ucapku yang memotong perkataan Rama dan segera beranjak dari tempat duduk , mengabaikan panggilan Rama.

Biodata penulis :
Judul cerpen : Kekasih untuk Sahabatku
Penulis : ihda mufida
Email : ihdamufida31@gmail.com

Cerpen I hate you but i love you

Ngak terasa aku sama Gilang udah 2 tahun pacaran , dia yang selama ni melengkapi hari-hari ku dan dia juga melengkapi hati ku. Aku juga punya sahabat namanya Bela, aku udah anggap dia sebagai saudara ku sendiri.

Hari ini aku mau beliin kado buat Gilang karna besok adalah hari jadi aku sama Gilang sekaligus hari ultahnya Gilang. Aku sengaja engak ajak Bela karna dia sibuk ngurusin sepupunya yang lagi sakit. Rencananya aku mau beliin dia kue ultah berbentuk hati dan jam tangan buat ultahnya. Karena aku pernh ngejatuhin jam tangannya dia ke air. Dan rusak.


I hate you but i love you

“Emm.. itu dia kue yang aku cari."

“Mbak, aku mau kue ini 1 ya?”

“Iya, segera.”

“Kue udah dapet, terus aku mau beliin dia jam tangannya kira-kira kayak gimana ya?” gumam ku sendiri.

Tiba -tiba langkah ku terhenti. Jantung ku berdetak kencang. Tepat di depan mata ku sendiri Gilang dan Bela berda di kafe ice cream dan mereka suap-suapan. Kue yang tadi ku pegang langsung jatuh ke tanah. Aku berlari menjauh. Tapi Bela melihat ku dan dia mengejar ku..

“Sya.... Tasya.... aku..... sya....”

Aku terus berlari. Bahkan aku tidak menyadari Gilang yang kini tiba – tiba sudah berdiri di hadapanku.

“Sya, aku… aku…”

“Udah, aku udah tau kok, engak usah kamu jelasin lagi lang..”

“Sya, aku sama Gilang.. cuma.....”

“Cuma apa? Hianatin aku? Menusuk aku dari belakang? Iya?”

“Sya, aku memang pacaran diam – diam sama Gilang beberapa bulan ini. Aku mau jelasin. Tapi.”

"Uudah, aku muak liat kalian. Jangan perlihatkan muka kalian di depan ku lagi!”

“Sya, aku…”

“Tega kamu ngehianatin aku. Emang jahat kalian berdua.”

Air mata ku berjatuhan. Aku menyetir mobil ku dengan kecepatan tinggi. Entah ke arah mana, sampai tau tau aku tiba di pantai. Sekedar untuk menenangkan diri aku sengaja berteriak sekencang – kencangnya.

“Kenapa kamu melakukan ini sama aku Lang?! Kenapa?! Kamu jahat…!!!”

Disaat emosiku yang benar benar melonjak tanpa sadar mata ini menangkap kaleng disamping. Entah dapat pemikiran dari mana langsung saja aku lempar seolah-olah aku melemparkan semua beban hidupku selama ini.

“Awwww. Sial. Siapa ni yang ngelempar kepala aku?!”

“Aduh. Mati aku. Kok aku nggak tau ya disitu ada orang.”

“Ehhh loe. Sini nggak loe. Loe kan yang ngelempar kaleng ini ke gue?”

“Gue? Bukan. Enak aja main tuduh sembarangan” elak ku berusaha membela diri.

“Disini cuma ada loe sama gue doank. Mana mungkin ada orang lain lagi. Lagian loe kan yang dari tadi teriak teriak kayak orang stress.”

Busyet, aku di bilang stress.

“Enak aja. Gue di bilang stress. Loe itu yang stress, main tuduh sembarangan lagi.”

“Nggak usah nyolot. Buruan minta maaf.”

“Nggak mau. Wueek.”

Dan tanpa ba bi bu, aku langsung kabur. Masuk kedalam mobil dan langsung berlalu pulang. Sudah tau suasana hatiku buruk, kenapa masih harus di tambah dengan ketemu orang yang malah memperburuk keadaan. Menyebalkan.

Saat tiba di rumah aku segera menuju kekamar mandi. Hari juga sudah hampir malam. Berharap suasana hatiku bisa lebih baik, ternyata masih sama. Air mata ini kembali menetes mengingat kejadian tadi. Tanpa sadar aku tertidur.

Suara deringan alaram yang memekakan terlinga membuatku terjaga. Mata ini masih terasa berat. Sepertinya efek karena terlalu banyak menangis sebelumnya. Namun saat mata ini melihat jarum yang tertera, rasa mengantuk itu pun langsung sirna. Astaga, mampus. Aku pasti telat.

Cerpen I hate you but i love you


“Untung cuma telat 3 menit,” gumamku saat pertama kali menginjakan kaki di kelas.
“Pagi anak-anak. Kita hari ini kedatangan murid baru pindahan dari Bandung. Silahkan perkenalkan nama kamu.”

“Pagi semuanya. Nama ku gue Rendi. Aku siswa pindahan dari Bandung.”

“Rendi.. kamu silakan duduk sama shila.”

Sekilas aku kembali melirik kearah anak baru itu. Ingatan ku segera bekerja. Aku yakin aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?

“Ketemu lagi kita.”

“Ya?” aku menoleh. Dan saat itu aku langsung yakin. Dia kan cowok nyebelin korban lemparan kaleng kemaren. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini.

Rendy tidak membalas, hanya matanya yang sedikit menyipit kearahku. Tatapan mata permusuhan. Bodo amat. Aku lebih memilih untuk mengabaikannya. Bahkan sampai tiba giliran pulang sekolah.

“Sya, mau pulang bareng nggak.”

Aku menoleh sambil menatapnya sinis. Setelah dengan kurang ajarnya dia merampas pacar aku kini dengan tanpa dosanya, Bela menghampiri.

“Pergi aja deh loe. Jauh jauh dari hidup gue” Aku sama sekali tidak perlu menahan diri untuk menjaga bicara.

Bela tidak menjawab. Kepalanya sedikit mendunduk. Sepertinya merasa sedikit bersalah, tapi aku sama sekali tidak perduli.

“Bela, ayo kita pulang.”

Tanpa menoleh, aku tau itu suara Gilang. Dasar cowok brengsek.

“Sya, gue duluan ya.”

Aku hanya membuang muka, barulah setelah keduanya menghilang aku kembali menangis. Aku baru tau kalau di hianatin itu rasanya sesakit ini.

“Kenapa loe? Iri ya temen loe punya pacar sementara loe nggak?”

Aku menongak, mendapati wajah Rendi langsung menyambutku.

“Diem dech loe kalau engak tau apa-apa soal gue.”

“Dasar aneh” gumam Rendi lirih namun masih mampu ku tangkap.

“Loe yang aneh, rese.”

Selesai berkata aku segera bangkit berdiri. Berlalu tanpa kata lagi. Namun bukannya pulang, langkah kaki ini malah membawaku kearah taman sekolah. Apalagi yang bisa kulakukan disini selain kembali menangis meratapi nasip yang menimpaku.

Dan hal itu tidak hanya terjadi sekali. Sejak aku belum bisa move on dari Gilang dan Bela aku selalu ke taman untuk menangis. Bukan hanya taman sekolah tapi juga taman kota. Dan itu lah yang aku lakukan saat ini.

“Tuhan memang nggak adil” keluh ku disela sela isak tangis.

“Siapa bilang?”

Aku menoleh. Ah lagi – lagi dia. Dengan cepat aku membuang muka sembari berujar. “Mau ngapain lagi si loe Ren?”

“Loe yang ngapain disini perasaan gue udah dari tadi.”

“Loe ngikutin gue ya? Iya kan?” tuduh ku langsung.

“Ngapain juga gue ngikutin elo. Dasar cewek aneh.”

Aku terdiam. Percuma juga menghadapi anak yang satu ini. Sehingga aku memilih mengabaikannya dan menganggap dia tidak ada.

“Sya, loe kenapa nangis. Gue kan tadi cuma bercanda.”

Aku terdiam, tapi air mata ini masih terus menetes.

“Apa karena Gilang dan Bela?”

Aku menoleh kaget. Pertanyaan dari Rendi sama sekali tidak pernah ku duga.
“Nggak usah mengelak. Gue ngerasa kok. Ada yang aneh sama kalian. Gue ngerasa loe benci banget sama mereka.”

“Bukan urusan loe,” ujar ku ketus.

“Memang bukan urusan gue, tapi loe tau nggak si katanya kalau kita cerita tentang masalah kita sama orang lain, beban kita akan berkurang.”

Kali ini aku mendunduk. Sepertinya ucapan Rendi ada benarnya. Dan sebelum aku menyadari apa yang aku lakukan, cerita itu pun meluncur mulus dari mulutku.

Cerpen I hate you but i love you

“Woi, ngelamun aja. Kesambet entar.”

Merasa kaget aku langsung menoleh. Lagi lagi wajah Rendi yang ku temui. Heran juga kenapa beberapa hari ini tu orang selalu berkeliaran di sekitar aku ya. Bahkan saat aku di tepi pantai sendirian begini.

“Eh… Enggak kok” elak ku sambil mencoba tersenyum. Rendi ikut tersenyum. Tanpa kata ia segera duduk di sampingku.

“Loe sering kesini? Atau jangan jangan loe ngikutin gue. Kok kayaknya dimana mana gue selalu ketemu loe terus.”

“Geer banget si. Gue kesini itu mau liat matahari terbenam tau.”

“O” aku hanya beroh ria sambil mengangguk membenarkan.

Untuk sejenak kami berdua terdiam. Suasana senyap yang menyenangkan.

“Bagus ya.”

Keningku sedikit berkerut saat menoleh kearah Rendi. Tapi dia hanya memberi isarat untuk menatap kedepan. Dimana tampak bola keemasan yang mulai kembali balik keperaduannya. Menatap matahari terbenam di tepi pantai benar benar keindahan tersendiri yang tidak pernah aku bayangkan.

“Iya. Bagus banget.”

Tanpa sadar bibir ini tersenyum. Bahkan aku juga tidak menyadari kala tatapan Rendi yang beralih tak berkedip kearahku. Yang aku tau aku merasa damai.


Cerpen I hate you but i love you

“Sya, gue minta maaf. Gue.”

Nggak tau kesambet apa, pagi ini Gilang menemui ku dan tiba tiba mengatakan maaf. Memangnya dia pikir sesederhana itu.

“Please ya. Jangan ganggu hidup gue lagi.” Kataku sebelum kemudian berlalu. Sialnya aku malah kesandung dan jatuh. Ya Tuhan.

“Eh cewek rese udah datang. Kenapa loe nangkep kodok?”

Rendi? Lagi? Astaga. Menambah buruk suadana hati aku saja. Dengan cepat aku berlalu.
Saat isitrahat tanpa sengaja aku melihat Gilang sama Bela lagi mesra-mesraan di samping sekolah. Hatiku sakit banget. Kenapa aku harus ngeliat mereka coba, aku berlari meninggalkan mereka dan menangis di Belakang sekolah.

“Nangis mulu, nggak cape ya?”

“Hei, loe itu hantu ya? Gentayangan dimana mana. Kenapa si gue harus ketemu sama loe terus,” geram ku saat melihat Rendi yang kini ada disamping.

“Jangan salahin gue, salahin loe sendiri kenapa selalu nangis sambil menghampiri gue.”

Merasa kesal aku segera bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Rendi sendirian.

“Eh, Cewek rese. Mau pulang bareng engak? Mumpung gue lagi baik hati ni sama lo.”

“Engak gue bawa mobil sendiri kok.”

“Awas kalo lo ikut gue lagi.”

“Siapa yang ngikutin elo si. Aneh banget.”

Aku terus menyetir. Namun bukannya kerumah gue malah kembali kepantai. Lama aku berdiri disini. Meratapi nasip yang aku alami. Jujur saja aku sama sekali tidak belum bisa melupakan Gilang. Pikiranku benar benar di penuhi dengannya. Bahkan aku sama sekali tidak menyadari kaki ini yang terus melangkah.

“Apa bener ini jalan gue. Kenapa gue yang harus ngalamin ini semua. Cobaan ini terlalu berat. Mereka bohongin gue 2 tahun.”

“Eh cewek rese. Gila loe ya. Loe mau mati.”

Suara itu lagi. Apa aku berhalusinasi. Kenapa sepertinya ada suara Rendi. Dan saat aku menoleh.

“Apaan sih Ren, lepasin gue.”

“Loe gila ya, Loe mau bunuh diri?. Hei, loe masih punya nyokap sama bokap. Loeengak sayang apa sama mereka?!”

“Mereka aja engak sayang sama gue Ketemu aja sebulan sekali. Mereka tuh ngurusin urusan kerjanya masing. Engak mikirin anaknya gimana.”

“Sya, mereka itu kan kerja juga buat loe. Kalo mereka ngak kerja loe ngak mungkin bisa di sekolah elit kayak gitu. Loe jangan mikirin diri sendiri aja donk. Pikirin org yang ada di skitar loe juga. Masih ada orang yang sayang sama loe.”

“Siapa?”

“Gue!”

“Hh…”

“Maksut gue temen…”

“Loe…”

“Lepasin gue ren. Kenapa sih loe?”

“Jalan loe ini salah sya. Uudah dengerin gue.. sini.”

“Eeehhhh... loe kenapa gendong gue.”

“Abisnya lo ngak denger kata gue sich.”

“Sya.... gue....gue... jujur... gue ngax mau kehilangan loe... gue... sayang sama loe...”

“Iya, gue tau sebagai teman.”

“Bukan gitu. Sebagai lebih dari teman.”

“Maksud loe?” tanya ku bingung.

“Gue suka sama loe semenjak gue pertama kali ngeliat loe ngelemparin gue pakai kaleng itu.”

“Gue kan engak sengaja. Loe sich maen tuduh aja.”

“Jujur, gue saying sama loe, Loe mau nggak jadi pujaan hati gue, maksut gue jadi pendamping hidup gue, jadi pacar gue, jadi….”

“Bebelit banget sich lo ngomong nya,” gerutku. “Tapi gimana ya ren, gue engak mau kehilangan lagi orang yang gue syang.”

“Tapipi sya, gue bukan Gilang. Gue benci kalo loe samain gue kayak Gilang. Gue beda kayak dia. Sumpah, gue bakal jagain loe sama kayak gue jagaain gue sendiri.”

Rendi belutut di hadapan ku sambil megang tangan ku.

“Gue mohon terima gue sya. Gue mohon. Gue sayang sama loe.”

“Sori ren.. gue... ngax bisa...”

“Gitu ya? Gue ngerti kok. Loe masih ngak bisa ngelupain Gilang kan?”

“Gue bakal berusaha ren... buat loe.. Makasih buat selamanya. Udah bikin gue semangat hidup lagi.”

“Apa?”

“Loe ngak budeg kan? Gue mau jadi pacar loe sekaligus jadi pedamping hidup loe.”

“Beneran?. Ah, gue seneng banget Tasya.” Kata Rendi sambil mengandeng tangan ku sembari berlarian di pantai.

Kali ini aku tersenyum. Berharap ini merupakan langkah awal dari hari bahagiaku. Rendi memang bukan Gilang, dan aku berharap di tidak menjadi seperti Gilang. Biarlah Gilang menjadi masa lalu dan Rendi menjadi masa depanku.


_THE END_

Biodata penulis :
Nama: Margareta
email: rolen_qiw@yahoo.com

Cerbung Cintaku Bersemi di Desa ~ 05


Dan setiap hari mereka selalu jalan bersama dan selalu ada kejutan buat Dinda dari boneka, dairy, novel dll dan pda saat yang tidak di inginkan oleh mereka datang yaitu Dinda harus pulang ke Jakarta karna masa liburan sudah habis, tapi pada hari itu tidak semua buram karna mama ikut ke Jakarta, di mana hari itu hari yang menyedihkan sekaligus bahagia entah Dinda harus seneng karna yokap udah nggak marahan lagi sama bokap atau Dinda harus sedih karna dia harus ninggalin cowk yang dia sayang


Cintaku Bersemi di Desa
“Din jangan lupain kita ya” kata Mili, Sri N intan dengan serempak.

“iya “ jawab Dinda sambil meluk sahabat nya

Tapi dia melihat Anto dengan wajah yang sedih tapi di tutupi dengan senyuman

“ Anto ku janji aku akan selalu setia sama kamu” kata Dinda sambil meluk Anto

“ iya din aku percaya kok, ya udah masuk gih jangan nangis ya din kamu kalo nangis tu jelek tau” ledek Anto

“ ihh apan si orang lagi sedih juga” kata Dinda sambil memukul tangan kiri Anto “ yaudah semua aku pamit…., dah” sambung Dinda ber pamitan pada semua sebelum masuk mobil

Setelah agak jauh dari desa Dinda hanya melihat kearah kaca nggak terasa air mata nya berjatuhan

“ cieileh gitu aja kok nangis “ ledek Doni

“ katanya anak papa udah besar kok masih nangis”ledek papa ikut-ikutan

“ apaan si orang nggak nangis juga” elak Dinda

“ terus kalo nggak nangis itu apa yang keluar dari mata basahi pipi”

“ oh ini emmm….. ini tu tadi malam Dinda kurang tidur jadi ngantuk terus keluar deh” sambil memaksakan untuk senyum

“ yaiyalah kurang tidur orang semaleman suntuk nangis teruss gi mana nggak kurang tidur” ledek Doni… Dinda hanya senyum sinis

“ oh tadi malam anak papa nangis toh…, masak masih nangis emang belom puass nangis nya sayang” ledek papa

“ udah udah kalian kok jadi ngeledekin Dinda si” kata mama menengahi

“ iya tau, mending papa konsentrasi yupir deh Dinda mau tidur” jawab tidur dan langsung makai air phone agar nggak denger ledekan dari papa dan Doni lagi
Setelah sampai di rumah emang sengaja nggak pake pesawat karna papa yang yetir katanya biar lama berduaan sama mama

“ din…… bangun nak udah yampek” kata mama membangunkan Dinda

“ huah “ ……….“ masak anak perempuan nguapnya gitu amat” ledek mama “ udah yampek ya ma” Tanya Dinda tanpa menghiraukan pertanyaan mama

“ udah turun yuk” ajak mama……. Dinda hanya mengangguk kan kepala
Tanpa basa basi Dinda langsung ngiprit ke kamar nya

Hari ini adalah hari senin hari dimana melakukan aktifitas lama
Saat di sekolah

“ huayoooo……… pagi pagi udah ngalamun” ledek fitri yang mengagetkan Dinda

“ eh Dinda tu nggak ngalamun” jawab Doni

“terus “ desak Indri karna Doni sengaja berhenti ngomong nya

“ dia tu lagi galau” terang Doni yang sontak buat temen-temen nya kaget

“ udah deh nggak usah lebay…” kata Dinda ketus

“ loe lagi galau.., galau kenapa din” Tanya Indri

Dinda hanya menatap tajam Indri dan berlalu meninggal kan sahabat-sahabat nya kebingungan

Dan bel sekolah berbunyi tapi Dinda bukanya masuk malah bolos ketaman

“ Anto gue kangen ma loe……. Coba aja ada loe disin pasti hidup gue makin bahagia” gumam Dinda

“ yaloe sabar aja din……. Ntar kalo liburan pasti ketemu kok sama Anto” terang Doni yang datang nya tiba-tiba dan di ikuti oleh ke tiga sahabat nya

“ iya din loe sabar aja cuman kurang setahun ini” terang fitri

“ eh menurut loe setahun nggak lama apa…….., lama tau” kata Dinda sinis

“ ya udah mau gimana lagi…… menunggu itu kan jalan satu – satu nya din”terang fitri

“sabar aja” sambung Doni dan temen gue menganggukkan perkataan Doni

“terus kenapa kalian nggak masuk kelas” Tanya Dinda setelah hening beberapa saat

“ ya kita kan nemenin loe…….. loe kan sahabat kita iya nggak guys” terang Indri

“ yup” di balas serempak oleh Doni dan fitri

“ makasih nya…… kalian emang sahabat yang terbaik” kata Dinda sambil meluk ke empat sahabat nya

Seminggu telah berlalu tapi Dinda masih sedih dan malah makin sedih

“ cie elah din kenapa situ muka kusut mulu bosen tau liat nya” kata fitri

“ eh kayak loe nggak pernah aja” jawab Doni tiba-tiba “ din ntar ada kabar gembira buat loe” terang Doni

“ mau kabar dapat uang segambreng juga Dinda nggak bakal urusin tu kabar” kata Indri

“ oh iya loe kan galau karna Anto……., iya kan…. Gue jadi penasaran se tampan sih dia sampe bikin loe klepek – kelepk kayak gini” Tanya fitri

“ pastinya kayak aku donk “ jawab seseorang yang ada di belakang yang sedang di krumuni banyak cewk

“ Anto” gumam Dinda nggak percaya

“ Anto “ gumam fitri N Indri bersamaan sedang kan Doni senyum nggak jelas

“ kamu nggak mau meluk pacar kamu nih din “ terang Anto yang langsung di peluk oleh Dinda dan di balas pelukan oleh Anto

“ kok kamu ada di sini..” Tanya Dinda setelah melepas kan pelukanya “ kamu nggak sekolah “ sambung Dinda

“ aku sekolah kok “ jawab Anto

“ teruss… kok ada di sini?” Tanya bingung Dinda

“ yaiyalah dia kan murid baru di sekolah kita” terang Doni sambil menepuk pundak Dinda

“ kata Doni kamu sering nggak masuk kelas ya din” Tanya Anto Dinda hanya senyum tipis dan nelen ludah sendiri

“ cie elah loe toh yang namanya Anto….. pantes aja Dinda kayak orang gila cowok nya ganteng gitu” ledek fitri

“ Anto……. Kalo udah bosen pacaran sama Dinda sama gue juga boleh kok “ kataNiken
Pletak…… sebuah jitakan mulus kena kepala Niken

“ Dinda sakit tau” kata andri meringis kesakitan “ tu tangan nggak pernah di sekolahinya” sambung Niken

“ mending juga tangan Dinda yang nggak di sekolahin dari pada tu mulut nggak pernah di sekolahin “ terang fitri sewoot

“ iya bener tu, lagian jadi cewek centil banget si” terang Doni

“ yeee biarin gue kan cuman melamar…… kalo dia nya mau gue nggak kan nolak” senyum narsis

“ udah kale orang Dinda nya aja nggak marah masak kalian marah” menengahi

“ din aku kan murid baru disini jadi kamu mau kan antar aku keliling sekolah “ pita Anton

“ ayok……, dengan senang hati” jawab Dinda

Setelah agak jauh dari keramaian

“ din kata Doni kamu sering ngalamun N jarang bergaul sama temen – temen kamu” Tanya Anton

Dinda cuman balas dengan senyuman N anggukan

“ begitu cintanya kamu sama aku……………. Sampe kayak gitu” ledek Anto

“ nah kalo udah tau nggak boleh pergi – pergi dari ku” todopoint

“ siapa sih yang mau pergi orang aku akan selalu disini sama kamu”

“ serius”

“dua riuss malahan” jawab Anto

“ entah udah berapa kale aku bilang ini ke kamu tapi yang jelas aku nggak bakalan bosen kalo aku cinta ma kamu din” menatap Dinda

“ aku juga cinta sama kamu Anton” jawab Dinda malu
END…….

Cerpen Kekasih Untuk Sahabatku ~ 01

Kekasih Untuk Sahabatku _ Cerpen kali ini kiriman dari ihda mufida, yang tentu saja masih merupakan reader di blog ini.

Untuk lanjutan cerbung Cintaku bersemi di desa belum bisa di post part endingnya karena aku belum punya waktu buat ngedit. Jadi kita tampilkan dulu karya ihda mufida, yang emang nggak perlu ku edit lagi. So saran buat yang masih berniat untuk mengirim cerpennya kesini, langsung di atur EYD nya. Jadi nggak kelamaan di draf,

Baiklah, kebanyakan bacod sepertinya?. Yuks mending kita simak bareng - bareng. Cekidots....


Kekasih Untuk Sahabatku

Aku menyandarkan kepalaku di bahu lelaki yang duduk di sampingku ini. Melepas lelah setelah seharian mengelilingi Kota Surabaya.

Pikiranku melayang ke masa 1 tahun yang lalu. Saat itu aku sedang duduk di halte sambil membaca buku, menunggu bus yang akan membawaku pulang ke rumah.Belum lama aku duduk, datang seorang lelaki yang memakai seragam sama denganku.Dia duduk di sebelahku.Aku baru menghabiskan 2 lembar dari buku yang aku baca. Tiba tiba lelaki di sebelahku itu menepuk bahuku. Dia melempar senyum kepadaku,mengajakku berkenalan.Kami mengobrol kesana kemari.Ternyata dia satu angkatan denganku,hanya saja kami berbeda kelas.Sudah 2 tahun aku menuntut ilmu di SMA Cenderawasih, tetapi sepertinya baru hari ini aku mendapati lelaki ini di sekolahku.

“Rama, nggak terasa ya,sebentar lagi kita akan berpisah.Apakah kelak kau akan lupa denganku?” , Kataku yang baru saja tersadar dari lamunan masa laluku.

“Fira sayang,tak mungkin aku melupakanmu,aku masih mencintaimu” , Ujarnya sembari merangkul tubuhku.

“Cinta,coba kamu lihat keluar sana.Hari ini langitnya mendung ya,kamu tau nggak kenapa?” , Katanya lagi dan menunjuk ke luar ruangan.

“Enggak,emang kenapa?”

“Karena langit bersedih jika melihat kita berpisah.Hehehe ”

Dia mulai lagi dengan gombalan gombalannya yang selalu membutaku semakin jatuh hati padanya.Lelaki yang aku temui di halte satu tahun yang lalu itu bernama Rama.Dan Rama itu adalah lelaki yang sekarang duduk di sebelahku,dia adalah kekasihku.

Hari ini, Rama bersama Arya pergi ke kantin, teman sekelasnya.Saat membawa sebuah nampan yang berisi 2 gelas minuman,tak sengaja Rama menabrak seorang perempuan.

“Aduh,maaf” , Ucap Rama dan segera menaruh nampan yang dibawanya di atas meja.

“Gak apa apa,aku juga yang salah.Jalan gak lihat lihat.” , Perempuan itu sibuk mengelapi seragamnya yang basah dengan tisu.

Dalam sekejap, mereka berkenalan. Ternyata perempuan itu adalah Dhea. Dia adalah teman sekelasku. Bisa dibilang aku dan Dhea cukup dekat, karena kami sering mengobrol dan sesekali bertukar masalah satu sama lain.

Semenjak Rama mengenal Dhea, kami lebih sering ngobrol bertiga.Aku pun juga menjadi lebih sering menceritakan tentang Rama kepada Dhea.

“Fir. Kok kayaknya temen kamu yang namanya Dhea itu makin deket aja sama Rama,kamu nggak curiga?” Kata Airin, kawan dekatku sejak di SMP.

“Ah,kamu ini bicara apa.Mana mungkin mereka ada apa apa.Dhea kan temen aku” , Ucapku membela Dhea.

Memang terkadang, aku merasa cemburu ketika melihat Rama dan juga Dhea Nampak semakin akrab.Dan sesekali aku merasakan ketidaknyamanan jika Dhea terlalu sering mengikutku saat sedang pergi bersama Rama. Namun aku berusaha menghilangkan kecemburuanku,karena aku tidak mau berfikiran negatif terhadap sahabatku sendiri.

Setelah dipusingkan dengan ujian akhir beberapa waktu lalu,kini aku kembali dipusingkan lagi dengan beberapa tes untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya aku dinyatakan diterima.

Aku sangat gembira, karena akhirnya mimpiku terwujud. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Semua berkat Rama,karena selama ini dia yang selalu mengajariku jika ada mata pelajaran yang aku tak mengerti.Kegembiraan tak hanya berpihak kepadaku,tetapi juga terhadap Rama,dia juga diterima di pergurun tinggi di Bandung.aku tau,memang sejak dulu dia menginginkan bersekolah disana.

Aku yang masih sangat ingin bersama sama dengan Rama, atau memang waktu yang berjalan begitu cepat.Entahlah. Aku tak tau. Yang aku ketahui saat ini, ujian akhir telah usai,dan esok adalah hari perpisahan sekolah.

Malam sebelum hari perpisahan tiba, Rama sengaja mempersiapkan surprise untukku.Dia berharap, aku akan senang menerima pemberiannya.

“Cinta, datang ke taman ya malam ini” , Isi pesan yang dikirim oleh Rama ke ponselku.

Tanpa basa basi, ia segera mengambil sepeda motornya dan bergegas menuju tempat yang telah ia persiapkan.

Sesampainya disana, dia dapati aku tak membalas pesannya.Rama mengirim pesan kepadaku berulang kali, sesekali dia memiscallku. Namun sama sekali tak ada respon dariku.

Mataku terpejam di atas kasur dengan sebuah novel tergeletak di sampingku, dan sebuah ponsel yang layarnya mulai buram berada di genggaman tangan kiriku.Berulang kali layar itu berkedip kedip, tanda ada pesan dan panggilan masuk.Namun aku sama sekali tak menyadari karena ponselku aku silent dan aku telah tertidur pulas.

Sedangkan seorang lelaki dengan jumper berwarna hijau muda yang melindungi tubuhnya dari dinginnya malam sedang menungguku di sebuah kursi panjang berwarna putih, dibawah gemerlapnyua lampu yang mengelilingi taman.

“Cinta, kamu kemana? Aku rindu sama kamu. Aku pengen ketemu kamu malam ini. Aku yakin, kamu pasti datang. Kamu gak akan ninggalin aku sendiri disini. Datanglah cintaku. Aku sayang sama kamu,d an aku tau, kau juga sangat menyayangiku,” Ucap Rama yang masih memegang kotak kado yang telah terbungkus oleh sebuah kertas berwarna biru tua.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam.Hampir 3 jam Rama menungguku. Belum juga ada balasan dariku. Akhirnya,dengan raut muka yang amat sangat kecewa,dia memutuskan untuk pulang. Pulang dengan tangan hampa.

Aku tertidur sebelum pesan dari Rama masuk ke ponselku. Jadi aku sama sekali tak mengetahui jika malam itu dia memintaku untuk menemuinya. Aku baru menegtahui semua pesan Rama ketika aku terbangun di pagi hari. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah.

“Aku minta maaf sayang.aku semalam tertidur sebelum kamu berkirim pesan kepadaku.maafkan aku.” Ucapku ketika menemuinya di sekolah sebelum acara perpisahan dimulai.

“Tak apa Cinta, sudahlah, malam itu sudah berlalu” Dia tak marah padaku,tapi kulihat wajahnya, dia nampak sangat kecewa padaku.

Bebrapa hari ini, aku sering bertengkar dengan Rama. Hanya karena sebuah permasalahan kecil.Mungkin aku yang terlalu sensitif.Tetapi aku merasa dia tak menaruh perhatian lagi kepadaku. Apakah hanya karena malam sebelum perpisahan itu aku tak bisa menemuinya,sehingga membuatnya perlahan menjauh dariku?

Rama pergi ke bioskop, kali ini tak bersamaku. Mungkin dia ingin mendinginkan kepalanya karena pertengkaran kami yang tak kunjung usai. Sebuah tiket untuk menonton film buatan Amerika yang berjudul “Star Trek Into Darkness” yang baru saja dilincurklan beberapa hari yang lalu itu telah berada di genggaman Rama.

Rama segera mengambil tempat duduk di barisan depan,di sebelah kiri seorang perempuan yang mengenakan kaos berwarna merah kecoklatan. Ternyata perempuan itu adalah Dhea. Akhirnya pun mereka nonton bareng.
Tak ada aku, Dhea pun jadi. Mungkin begitu ujar Rama dalam hatinya.Sehabis nonton, mereka jalan seharian tanpa sepengetahuanku.

“Rama, makasih ya sudah mengajakku jalan jalan hari ini.”

Dhea nampaknya sangat gembira dan menikamati kebersamaannya dengan Rama.bahkan dia tak menghiraukan lagi jika lelaki yang sekarang bersamanya adalah kekasih sahabatbnya sendiri.

Aku menengok ke luar jendela.Langit mulai gelap. Namun belum juga kudapati pesan masuk dari Rama. Fikiran negatif mulai muncul satu persatu dari kepalaku. Kebiasaannnya meninggalkanku tanpa pamit ketika kami sedang betengkar.

Aku merasa dia benar benar telah berubah.sikapnya dingin,tak memperhatikanku lagi.Dan kini,dia lebih sering menolak ketika aku mengajaknya untuk bertemu.Dia selalu punya seribu alasan untuk menolak ajakanku.

Apa gerangan yang membuat dia berubah. Apakah telah ada perempuan lain di hatinya. Jika ia,siapakah perempuan itu?

To be continue

Komentar Admin : Perasaan aku aja atau emang ini kisah nyata. Jujur aja, sekilas aku ngerasa ini lebih kepada curhatan dari pada cerpen. Baik melalui pengambaran ataupun kosa kata yang di pakai. Just that…

Biodata penulis :
Judul cerpen : Kekasih untuk Sahabatku
Penulis : ihda mufida
Email : ihdamufida31@gmail.com

Cerpen Pendek The Tuesday’s Rain

The Tuesday’s Rain Cerpen kiriman dari reader yang masuk ke email anamerya17@gmail.com. Ceritanya tentang penantian panjang sebuah kisah cinta masa lalu (???). Bingung yak?. he he he . Soalnya adminnya mau belajar ngimbangin gaya penulis cerpen The Tuesday’s Rain #ditabok.

Gimana ceritanya?. Mending langsung baca bareng aja yuks. Cekidot


The Tuesday’s Rain

Hujan terus mengguyur salah satu sudut Jakarta malam itu. Tepatnya hari itu hari selasa. Selasa yang selalu turun hujan. Petir-petir itu terus menyuarakan suara alam, memecahkan keheningan di saat malam seperti ini. Ara, wanita muda itu bolak-balik melirik jam tangannya, gelisah dan mulai galau. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, waktunya bekerja. Tapi hujan tak kunjung reda. Ia memencet tombol ponselnya lalu mengetik pesan

To : Abang Radith

“ Bang, maaf.. mungkin gw agak telat hari ini.. hujannya deras “

Sekali lagi Ara menatap tetesan hujan yang menderas di hadapannya. Menghela nafas, lalu memperbaiki letak ransel gitarnya. Menunggu.

The Tuesday’s Rain

“ Wine nya lagi “ Seorang pria muda dengan gayanya yang mewakili eksekutif muda sukses zaman sekarang tampak frustasi dengan menggerak-gerakkan pelan gelas wine nya. “ yah, loe tahu mempertahankan kesuksesan di saat seperti ini itu sangat sulit “ pria muda itu mulai meracau tampaknya ia sudah mulai mabuk. Pelayan café wine hanya menatapnya dengan pandangan “kasihan” pada pria muda itu.

I want a little something more
Don’t want the middle or the one before
I don’t desire a complicated past..
I want a love that will last….
I don’t want just a memory, give me forever..
Don’t even think about saying goodbye..
Cuz I jus want one love to be enough
And remain in my heart till I die….


Dentingan gitar dan suara itu sontak membangunkan pria muda itu dari mimpi buruknya barusan, mimpi buruk yang setiap hari mengusiknya, yang selalu membuatnya susah tidur. Ia menatap sekeliling mencoba mencari dimana sumber suara. Tapi tempat itu sudah sepi. Tak ada siapa-siapa, hanya tersisa seorang cleaning service.

“ Heiii… “ Pria itu mencoba memanggil si Cleaning service tersebut.

“ ya Bang ? “ ia mendekat.

“Apa café ini sudah tutup? “ Tanya pria itu.

“ iya Bang, sedari tadi abang dibangunin tetapi Abang engga juga bangun “ jawab CS tersebut.

“ Oh.. hmm.. gw denger tadi ada suara cewe nyanyi dalam tidur gw, gw mau memastikan apa memang ada yang nyanyi tadi ? karena terdengar jelas sekali di telinga gw“ Pria itu merasa heran dengan mimpinya. CS tersebut menggeleng.

“ Saya kurang tahu bang, karena saya datang kalau semua orang sudah pulang “ Jawabnya.

Pria itu beranjak, memberi tips pada CS tersebut lalu berjalan limbung tanpa berkata-kata lagi.

The Tuesday’s Rain

Hari Selasa… dan hujan lagi hari itu. Ara melangkah dengan payung yang di letakkan di tangan kanannya. Hujan di hari selasa. Memori yang tersisa dari perjalanan masa lalunya.

“ Ara… kalau kita besar nanti kamu mau menikah dengan ku? “ anak laki-laki itu menatap dalam mata Ara dan menggenggam erat jari tangannya. Ara tersenyum dan mengangguk. “ Aku janji akan melamarmu di hari Selasa pada saat hujan turun “… anak laki-laki itu tersenyum.

Petir membuyarkan lamunan Ara. Ia menjitak kepalanya sendiri

“ Ara apa loe bodoh??.. itu sudah 10 tahun yang lalu. Dia juga mungkin ga ingat “ Ara merutuk dirinya sendiri. Menghembuskan nafasnya panjang

“ Tezza.. Loe dimana sekarang ? “

The Tuesday’s Rain

“ Bicara tentang hujan di hari selasa.. tiba-tiba jadi teringat tentang cinta monyet gw ketika gw masih SMP.. dan lagu ini gw persembahin buat dia dimana pun dia berada sekarang … “ Ara duduk manis di depan panggung dengan gitar di tangannya. Menarik nafasnya lalu mulai menggerakkan jari-jarinya di atas senar gitar.


If i had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
You i see forever oh so clearly
I might have been in love before
But i've never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They take us where we want to go
Hold me now touch me now
I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much i love you
One thing you can be sure of
I never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much i love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you


Melodi yang dimainkan oleh Ara sungguh berbeda dengan kebanyakan orang. Ia memang mengambil jalur musik Jazz. Terdengar elegan dan sendu.

‘brakk’ sebuah gelas pecah di sudut yang lain. Seorang pria kembali terbangun dari mimpi buruknya. Ia seperti selalu diselamatkan oleh suara jazzy yang sendu itu. Kali ini ia berhasil terbangun, di saat si penyanyi bersuara sendu itu masih di atas panggung kecil di Café tersebut. Ia berjalan limbung mendekati panggung. Pandangannya tampak kabur. Ia hanya ingin memperjelas siapa yang menyanyi di atas panggung itu. Ara yang masih asyik dengan gitarnya sontak terkaget menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya. Membahayakannya.

‘Braaakkkkk’ hal yang ditakutkannya pun terjadinya. Belum sempat menghindar pria itu menubruknya. Gitarnya terjatuh, dan kini posisi pria tersebut ada di atasnya. ‘ Sial ‘ rutuknya. Belum sempat mendorong pria itu agar menjauh. Pria itu muntah di pakaiannya. ‘ Sial Sial ‘ rutuknya sekali lagi.

The Tuesday’s Rain

“ Hei.. loe tinggal dimana? “ Ara menyentuhkan satu jarinya pada pipi pria itu. Café sudah tutup tapi ia tak tega meninggalkan pria itu. Seperti ada sesuatu yang membuatnya harus tinggal. Ara mengambil gitarnya dan mulai memetiknya. Memainkan sebuah melodi dengan sangat-sangat sendu. Seraya memandangi pria yang sedang tertidur di hadapannya. Tampak familiar, tapi dia lupa pernah bertemu dimana.

Mata pria itu terbuka sedikit demi sedikit. Na Yong menghentikan melodinya.

“ Loe sudah bangun? “ Tanya Ara.

Pria itu masih setengah sadar dan berusaha untuk kembali ke dunia nyata.

“ gw dimana? “ Pria itu dingin.

“ Loe? Di Café “ jawab Ara.

“ gw masih pusing.. hmmm loe yang nyanyi tadi? “ Pria itu bertanya dengan wajah yang sangat-sangat kaku.

Ara mengangguk, dan tersenyum kecil “ loe aneh.. deketin gw trus loe nubruk gw.. loe pikir badan loe itu sekecil apa “ Sindir Ara.

Pria itu tersenyum sinis. Ara menatap pria itu heran.

“ Loe ga merasa bersalah ke gw? “ Tanya Ara.

Pria itu hanya menatapnya, ia juga seperti familiar dengan wanita muda di hadapannya itu, tapi ia lupa pernah bertemu dimana.

“ Thanks… “ ucapnya dingin, berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar.

“ Heiiii.. “ Ara berseru pada Pria itu tapi tak ada jawaban.

Menghembuskan nafasnya kesal “Pria aneh!!!” umpatnya.

^ SREEK ^ Ara sedikit terkejut, sepertinya ia menendang sesuatu. Sebuah dompet. Milik pria itu. Ara berlari ke pintu keluar. Terlambat pria itu sudah melaju dengan mobil sportnya. Ara kembali ke dalam Café, lalu duduk di Sofa. Memberanikan diri membuka dompet pria itu.

“Dompetnya tebal juga” Gumam Ara. Tampak sebuah foto terpajang di bagian depan dompet tersebut. Foto keluarga pria itu. ‘Ternyata ia sayang keluarga juga’ pikir Ara. Dompet hitam itu penuh sekali ada beberapa golden card dan platinum card. Pria yang kaya rupanya. Ara tertarik untuk melihat bagian lainnya. Sampai akhirnya ia tertegun pada satu bagian yang terdapat satu foto yang membuatnya terkejut. Itu fotonya 10 tahun yang lalu yang sedang asyik makan es krim, dan seorang anak laki-laki seumurannya yang sedang membaca buku di sampingnya. Ara ingat sekali bagaimana, dimana dan kapan foto itu diambil. Juga dengan siapa. Ara segera membongkar semua isi dompet itu. Mencoba mencari kepastian. Ia menemukan sebuah kartu identitas. Membacanya. “ Aditya Mortezza “. Lemah sudah genggamannya hingga dompet dan isinya jatuh ke lantai, Ara menyenderkan dirinya di ujung meja di belakangnya. Jantungnya berdegup dengan kencang.

The Tuesday’s Rain

Selasa.. Hujan lagi.. Ara menatap dengan teliti tetesan hujan di hadapannya. Teringat-ingat lagi kejadian selasa yang lalu. Akhirnya ia bertemu lagi dengan Tezzanya. Pria yang ditunggunya selama 10 tahun. Pria yang janji akan melamarnya pada saat hujan di hari selasa.

The Tuesday’s Rain

“ Mau minum? gw yang traktir “ Ara duduk di sebelah Pria yang bernama Tezza itu. Tezza menoleh padanya, tampak heran. “ Wine nya 2 “ Ara mengisyaratkan pada Pelayan Café. Tezza masih memperhatikan wanita di sampingnya. Ara tersenyum padanya dan Tezza tetap tak membalas, ia kembali meneguk wine nya. “ sudah 10 tahun ya, loe pasti ga ingat gw “ Ara menatap Tezza. Pernyataan Tezza membuatnya penasaran, hingga ia berbalik menatap Ara. “ aku Aranandita, ini dompet loe “ sahut Ara tanpa basa-basi dan menyerahkan dompet itu pada Tezza. Tezza berpikir sejenak seraya menatap dompetnya lalu beralih pada Ara. Aranandita, Sepertinya nama itu tak asing lagi di telinganya.

“ Gw Aranandita, nama loe? “

Tiba-tiba ingatan 10 tahun yang lalu itu memenuhi pikiran Ara. “ Aranandita? Ara? “ Tezza mengulangi berkali-kali tak percaya. Ara mengangguk.

Seketika Tezza memeluknya.. tangisnya pecah di antara hingar-bingar Café.. “Aku kangen...” Ara tak menyangka respon Tezza sebegininya. Ia menghela nafasnya, lalu menyambut pelukan Tezza, ia juga sangat rindu pria yang memeluknya ini.

The Tuesday’s Rain

“ Maaf sudah membuatmu menunggu selama 10 tahun “ Tezza membuka pembicaraan.

Ara memperhatikan pria itu dengan serius. Tak menyangka pria nya ini begitu keren dan tampannya sekarang.

“ Hidupku selalu dipenuhi oleh mimpi buruk sejak 5 tahun yang lalu. Ayah dan ibuku meninggal dalam kecelakaan pesawat saat perjalanan pulang ke Jakarta dari California. Aku lah pewaris satu-satunya perusahaan ayahku.. sejak saat itu hidupku penuh dengan mimpi buruk “ cerita Tezza singkat, tatapan matanya itu tampak menderita sekali.

“ jadi karena itu kamu suka minum-minum sekarang? “ Tanya Ara.

Tezza mengangguk, lalu tersenyum. “ tapi setelah bertemu denganmu lagi.. Sepertinya mimpi burukku akan hilang perlahan lahan.. Aku merindukanmu Ara “ Tatapan mata itu dalam sekali menatap Ara.

Ara mendekatkan wajahnya ke wajah Tezza. Lalu menatapnya detail. “ Aku senang pacarku ini masih ingat denganku, masih sama seperti dia 10 tahun yang lalu, bad boy, dan perasaannya itu…. masih sama terhadapku.. I Love u “ Ucap Ara lalu bibirnya mengecup sejenak bibir Tezza.

Tezza tersenyum. “ aku mencarimu.. dan kau sudah pindah.. aku pikir aku tak akan pernah bertemu kau lagi.. ternyata lagumu, suara indahmu, dan petikan gitar sendumu yang membawaku ke tempat ini.. Love u too “

Tezza memeluk Ara. “ Mau kah kau menikah dengan ku… wanita ku? “…

Hujan di hari Selasa.. ternyata dia menepatinya…

-FIN -

Comentar admin : Suka sama gaya bahasa yang digunakan. Kosa katanya bukan 'kalimat sederhana' soalnya. Sekilas aku mikirnya, pasti udah sering nulis. Tapi cuma pendapat ya, aslinya nggak tau.

Cuma kalau boleh ngsih kritikan, skip skip jangan kebanyakan donk, jadi rada bingung bacanya. Over All, ceritanya bagus, berakhir happy ending Dan aku suka...

Cerbung Cintaku Bersemi di Desa ~ 04

Cinta ku Bersemi di Desa _ part ~ 04. Udah pada nggak sabar pastinya ya kan buat nyari tau kelanjutan kisah cintanya Dinda. Itu lho, yang terjebak di antara Anto sama Doni. he he he...

Oke lah, dari pada terus penasaran kayaknya lebih baik langsung lanjut baca aja deh. Ya nggak?. Sekedar info, Next adalah the last part. Happy reading.....

Eh, hampir aja lupa. Cebung Cintaku Bersemi di Desa adalah cerpen kiriman dari reader. Sekedar mengingatkan, buat yang pengen cerpennya nangkring di sini juga boleh kok. Caranya gampang tinggal kirim aja ke Anamerya17@gmail.com . Di tunggu karya nya ya...


cinta ku bersemi di desa

Namanya juga jatuh, pasti sakit. Lain ceritanya jika jatuh cinta. Apa lagi kalau jatuh cinta karena terjatuh. Baiklah, kalimatnya cukup belibet sepertinya. Intinya sejak kejadian Dinda yang jatuh akibat terserempet motor kemaren, ternyata mampu mendekatkan hubungan antara ia dan Anto.

“Din kita mau jalan kemana nih?” Tanya Anto.

“E...” Dinda tidak langsung menjawab.“Gimana kalo kita ke pantai?"

“Ogah ah” tolak Anto.

“Lho kenapa?”

“Masak kita ke pantai jalan kaki, jauh tau.”

“Loe tu cowok pa cewek si?"

“Ya cowok lah.”

“Cowok jadi-jadian maksud loe huahahahaha” ledek Dinda.

Sedangkan yang di ledek hanya menatap Dinda dengan intens

“Eh… loe kenapa si, gue tau gue cantik tapi nggak usah liat nya kayak gtu…. Gue jadi takut."

“Ciah….. siapa juga yang liatin kamu” elak Anto.

“Eh…. Orang buta juga tahu kalii kalo loe tadi liatin gue, emang nya gue begok apa bisa loe kibullin” Dinda tampak sewot.

“Baru tahu kamu kalo kamu itu emang begok”

“Enak aja”

Dan jitakan pun mendarat di kepala Anto.

“Aduh… sakit tau” gerut Anto sambil mengusap – usap kepala karna terasa berdenyut-denyut.

“Makanya...” belom selesai Dinda ngomong udah di potong sama Laura yang entah sejak kapan ada di sebelah kiri tangan Anto.

“Anto, Kok kamu malah sering jalan berdua sama dia sih” kata Laura manja.

Dinda pun memajukan mulut dua centi ketika melihat Laura menggandeng tangan Anto.

“Laura apaan si malu tau di liatin orang” kata Anto sambil mencoba melepaskan diri dari Laura.

“Eh Laura…. Loe tu punya muka nggak si” Kata Dinda yang tak mampu menahan diri melihat ulah kegenitan Laura di hadapannya.

“Punya, emang loe nggak liat, oh iya gue lupa loe kan buta mana bisa liat” balas Laura sinis.

“Eh siapa yang buta perasaan loe deh yang buta, masak orang buta teriak buta nggak malu loe” Dinda nggak kalah sinis.

“Eh yang buta tu loe.”

“Nah tu loe nyadar kalo yang buta tu loe.”

“Ihh loe tu ya yebellin banget jadi cewek” tangan Laura sudah terangkat, namun kali ini Anto ternyata lebih cekat menahannya.

“Laura loe tu bisa nggak si nggak usah pake kekerasan kalo berantem."

“Anto kok loe malah belain dia si.”

“Emang kenapa kalo Anto belain gue, masalah buat loe” kata Dinda.

“Awas ya loe” berlalu meninggalkan Dinda dan Anto karna kepergian Laura Anto N Dinda malah tertawa nggak jelas.

“Ya udah mending kita pulang saja…… dari pada ketemu sama Laura ntar malah ribut lagi” memegang tangan Dinda biar mengikuti nya, Dinda hanya mengangguk ria.

Tak perlu berjam-jam buat sampai rumah karna tadi belum terlalu jauh

“Ya udah din sudah yampe kalo gitu loe kedalem gi”

“Loe serius pengen gue kedalem?”

“Ya iayalah masak loe mau kerumah gue.”

“Ya bukan gitu maksud gue.”

“Terust?”

“Tangan gue masih loe pegang juga” jawab Dinda sambil memandangi tangan mereka.

“Oh.Iya…. Maaf” Anto tampak salah tingkah

“Yaa udah kalo gtu gue kedalem dulu nya da Anto” kata Dinda pamitan,Anto hanya mengangguk

“Baru pulang din” kata seorang cowok yang sangat familiar di telinganya.

“DONI” raut kaget Jelas terpancar di wajah Dinda.

“Yup ni gue Doni” jawab Doni sambil melangkah menghampiri Dinda.

“Kok bisa?? Terust loe kesini bareng siapa??”

“ Doni kesini ikut papa” kata seorang cowok yang sangat iya rindukan . Sejenak Dinda masih menelaah apa ini beneran atau cuma mimpi.

“Itu papa kamu, katanya dia kangen sama anak nya” kata mama yang baru muncul dari dapur.

“Tunggu-tunggu maksud nya apa?? Dinda di sini kan baru satu minggu lebih dua hari???”
Doni hanya angkat bahu N papa nya malah senyum-senyum nggak jelas.

“Papa…. Nggak ngajak Dinda untuk pulang sekarang kan??”

“Kamu tenang aja sayang….. papa cuman mau jenguk mama sama nenek kamu kok” terang papa dan nggak tau kenapa Dinda yang mendengar nya jadi lega.

“Syukur deh kalo gtu” kata Dinda sambil mengeluarkan nafas lega.

“Ya udah din sana mandi bau tau” kata Doni meledek.

“ emang baru tau loe” kata Dinda ketus papa N mamanya hanya menggeleng

Setelah mandi Dinda ngajak Doni jalan-jalan katanya dia ingin melihat pandangan sorte hari karna setiap Dinda smsn sma Doni dia selalu bilang pemandangan disini kalo sore sangat indahN karna itu Doni penasaran, nggak jauh mereka jalan Dinda melihat Anto lagi jalan-jalan juga

“ANTO” kata Dinda ….. karna Anto merasa kalo namanya di panggil ia menoleh.

“Eh Dinda” melihat Doni ” dia”

“Oh… dia Doni, sahabat sekaligus kakak buat gue” terang Dinda.

“Doni” mengulurkan tangan.

“Anto” menyambut tangan Doni

“Oh iya nto loe yang ngajak dia jalan-jalan aja ya” memecah kan keheninga.

“Yau dah kalo gitu, mending loe pulang cuci tangan cuci kaki plus cuci mata” ledek Doni

Pletak sebuah jitakan mulus di kepala Doni.

“Aww skit dodol” Doni mengusap kepala.

“Bodo’" balas Dinda cuek. “Eh don katanya loe penasaran sama yang namanya Laura” kata Dinda tiba-tiba.

“He’eh…. Emang orang nya mana” kata Doni celingukan.

“Itu “ kata Dinda sambil menunjuk kearah Laura.

“Itu kembang desa di sini” Doni nggak percaya “ Anto… emang bener tu cewek kembang desa disini” kata Doni yang menunjuk kea rah Laura

“Iya.. dia kembang desa di sini, emang kenapa loe naksir sama dia” kata Anto yang behasil membuat Doni ngakak nggk berhenti - henti.

“Loe yakin dia kembang desa di sini” kata Doni di sela-sela ketawa nya
Dan di balas anggukan mantap oleh Anto.

“Gila… pada buta apa” kata Dino di sela tawanya.

“Maksut nya” Anto masih nngak ngerti.

“Eh gue nggak habis fikir orang-orang disin pada rabun kale ya” kata Doni, tapi Anto malah makin nggak ngerti apa yang di maksut Doni.

“Maksutnya kok aku makin nggak ngerti”.

“Gini-gini, dia itu kan jelek masak kembang desa sih, ya gayanya si ok lah tapi make up nya huahahaha”.

Sebelum Doni selesai ngomong udah ketawa duluan sedangkan Dinda udah dari tadi ilang nggak tau ke mana.

“O“ Anto hanya ber O ria.

“Yaudah deh tadi kan loe di amanti oleh Dinda buat ngajak gue jalan-jalan?”

“Oh iya, ayok”

“Kita mau kemana” Tanya Doni

“Ya jalan-jalan aja, kalo kamu mau kita ke tempat yang sering di kunjungi Dinda, gimana” ajak Anto.

“Boleh” Doni tampak mengiyakan.

Tak butuh waktu lama buat mereka ke sana, dan disana sudah ada Dinda yang sedang asyik mendengarkan lagu dan memejamkan matanya.

“Huayoooo” Doni langsung mengagetkan Dinda “Katanya loe ada urusan kok disini” Tanya Doni tanpa memperdulikan reaksi dari Dinda.

“Eh dodol, Loe mau bunuh gue” geram Dinda saat sudah bisa mengatasi jantung nya.

“Yeee emangnya loe punya penyakit jantung? Lagian loe kan masih muda” jawab Doni dengan tampang soo cool andalanya .

Pleetak sebuah jitakan mulus ke kepala Doni dua kali dan itu juga berhasil membuat Anto tertawa nagakak

“Makanya itu kan gue belom tua jadi gue belom siap” balas Dinda santai.

“Eh dodol sakit tau……, lagian loe lagi ngetawain emang ada yang lucu” kta Doni terdengar ketus.

“Maaf-maaf , ya habis kamu masak bisa kena dua kali…. Orang keledai aja nggak yampe dua kali ” kata Anto di sela-sela ketawa.

Doni hanya menatap tajam ke Anto

“Eh din loe kenapa sih, apa loe nggak suka gue kesini” kata Doni .

Dinda hanya menggeleng kepalanya pelan .

“Terust kalo nggak napa tuh muka kusut” Doni masih heran.

“Gue nggak kenapa-kenapa, lagian loe jadi cowok kepo”.

“Eh udah hamper hujan ni, apa kalian mau hujan-hujanan” kata Anto saat melihat langit mendung.

“Mending kalian pulang duluan deh” jawab Dinda sambil memasang airphone ya lagi.

“Nggak ada, pulang” kata Doni sambil megang tangan Dinda biar dia ngikut.

Setelah sampai di rumah Dinda hanya bengong melihat hujan turun.

“Din loe kenapa si” kata Doni hawatir.

“Loe pernah nggak rasa takut kehilangan” kata Dinda dan hanya di balas anggukan oleh Doni.

“Terusst loe pernah nggak ngerasa marah pada seseorang karna dia deketin orang lain” sambung Dinda.

“Ya pernah lah” jawab Doni “Ngomong-ngomong kok loe tumben nanya kayak gtu” Tanya Doni curiga.

“Gue nggak tau don, tiba-tiba aja perasaan takut kehilangan Anto hinggap di kepala gue” Dinda tak bersemangat.

Doni hanya mengangguk-angguk “Itu namanya loe jatuh cinta” kata Doni

“Loe bener mungkin saat ini gue sedang jatuh cinta."

“Udahlah din, lagian kan masih satu minngu kurang….., loe manfatin sebaik-baik nya ok” kali ini Doni berusaha menasehati.

“Ok don, loe emang T-O-P B-G-T deh hehehe."

“Iya donk, Doni” balas Doni memebanggakan dirinya.

“Pantang di puji “ gantian Dinda yang meledek.

Dan di susul ketawa bersamaan.

“Gue tidur duluan ya don” pamit Dinda.

“Iya…. Yang yenyak, jangan lupa mimpiin Anto ok din."

“Sialan loe” gerut Dinda mencibir sinis.

Pagi harinya, tidak seperti biasanya, Dinda sengaja merubah penampilannya. Membiarkan rambutnya tergerai dengan bando merah di kepalanya. Membuat nya terlihat imut, bahkan begitu melihat Doni langsung memberikan komentarnya.

“Ckckckck mau kemana sih..cantik bener gue boleh nggak ngelamar jadi penjaga hati” ledek Doni

Dinda tidak membalas, tapi tatapan tajam yan ia lemparkan sudah lebih dari cukup mengantikannya.

“Don udah lah jangan di ledekin terus ntar nangis lagi” ledek papa.

“Ih Dinda udah gede tau masa’ nangis” elak Dinda.

“Udah udah, kalian ini,” mama menengahi

Dinda hanya tersenyum

“Ya udah ma, pa, don, Dinda pamit nya” pamit Dinda.

Setelah berjalan mereka hanya diem nggak seperti biasanya yang di kelilingi oleh pecandaan.

Sesampainya di tempat tujuan.

“Eh din kalo boleh jujur hari ini kamu cantik banget” kata Anto membuyarkan keheningan
Dinda hanya tersenyum simpul.

“Din, Aku boleh ngomong nggak sama kamu?” tanya Anto terbata-bata.

“Boleh, ngomong aja”.

“Din……. Aku……aku…… aku.... suka …..sama …kamu” kata Anto.

Dan Dinda hanya menunduk dan tersenyum sebelum ia menghadap Anto.

“Gimana din, Kamu mau nggak jadi pacarku? Aku tahu sebentar lagi kamu akan pulang tapiii…., stidak nya aku bisa miliki mu jadi pacarku bukan jadi sahabat ku….. “ terang Anto.

“Iya nto aku mau kok jadi pacar mu” kata Dinda masih dengan menunduk.

“Kamu serius din” kata Anto memastikan.

“Iya” jawab Dinda tegas dan yakin “ tapi Anto masa’ kita putus saat aku pulang ke Jakarta si” sambung Dinda.

“Ya mau gi mana" jawab Anto kurang semangat “Udahlah din yang terpenting selama kamu disini aku akan selalu ada di dekat mu N saat liburan nanti kan kita bisa ketemu lagi” sambung nya.

“Anto pasti nanti aku akan kangen sama kamu” kata Dinda, tak tersa air mata yang kini mengalir dengan sendirinya .

“Jangan nangis donk din, kita kan baru jadian masak nangis-nangisan sih din” kata Anto yang mengusap air mata di pipi nya Dinda.

“I LOVE YOU DIN.”

“LOVE YOU TOO ANTO.”

“Nah gitu donk senyum kan keliatan lebih cantik” goda Anto.

“Apaan si” kata Dinda malu.

“Din kamu tau nggak kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu” Tanya Anto.

“Nggak” kata Dinda sambil menatap Anto yang kini sedang menatap nya.

“Karna kamu adalah orang yang bisa bikin seneng, yaman,N selalu ketawa, makasih ya din” kata Anto sambil mencium kening Dinda.

“Din misalkan nanti kamu ke Jakarta jangan lupakan aku ya walaupun kita nggak bisa smsn maupun telponan kan kamu tau sendiri kalo disini signal nya kan susah” terang Anto dan Dinda hanya mengangguk.

“Tapi kamu juga jangan ngelupain aku ya nto” kata Dinda.

“Pasti din aku janji” menunjukkan kelingking sebagai tanda janji.

“Anto misalkan ada cewek yang lebih dari aku apa kamu akan ngelupain aku”.

“Nggak din, mau ada 1000 orang baik kayak apa juga aku akan selalu setia sama kamu din” jawab Anto simpel namun terdengar tegas.

“Maakasih nto aku percaya sama kamu” kata Dinda sambil memeluk Anto.

To Be continue..

Detail cerpen :

Judul cerpen : Cintaku bersemi di desa
Penulis : Ida Ajha
Email : idhaajha16@gmail.com

Seikit komentar untuk penulisnya. Ya ela, ini cerpen apa kumpulan dialog si?. Masa dari awala sampe akhir percakapan semua. Hadeeeee

Biar makin banyak yang baca, sekiranya bermanfaat silahkan di share ya....

Cerita Pendek "Cinta Sejatiku"

Masih cerpen kiriman dari reader. Kurny love, thanks ya atas kiriman cerpennya and ayo terus nulis.... ^_^ Buat yang lain bisa ikutan. Tinggal kirim ke Anamerya17@gmail.com

Info untuk yang ikutan ngirim, sory ya kalau rada lamaan untuk di post. Soalnya aku juga harus membagi waktu sama jam kerja di tambah cerpen yang masuk juga banyak and harus admin baca satu satu dengan pengeditan seperlunya.

Baiklah, nggak usah kebanyakan bacod, mending langsung baca yuk berikut Cerita pendek Cinta Sejatiku.


Cinta Sejatiku

Pagi itu pagi yang cerah bagiku karna hari itu adalah hari pertama aku menjalani MOS di SMA, namun kecerahan itu hilang seketika ketika aku menyadari bahwa hari sudah menjelang siang. Dengan langkah buru-buru aku membenahi rambutku sambil sesekali memakan sarapan pagiku. Setelah itu aku keluar untuk segera berangkat ke sekolah. Sesampainya disekolah keberuntungan masih berpihak padaku.

Tanpa kusadari tali sepatuku belum ku tali sehingga ketika aku berlari buru-buru aku tersandung dan jatuh,sontak semua yg ada disitu tertawa terbahak-bahak. Aku hanya tertunduk malu dan berusaha berdiri. Seorang senior bernama Nicky datang menolongku.

“Nggak papa dek.?” tanya Nicky.

Lalu aku berdiri dan memandang kak Nicky yang berniat menolongku. Wuihh, cakep banget.

“Eeng.enggak kak” jawab ku salting. Habisnya kakak senior yg satu ini cakepnya nggak ketulungan.lebay deh.

“Kayaknya tangan kamu lecet” ucap kak Nicky.aku melihat ke siku tanganku dan ternyata memang lecet.

“Nggak usah kak. Acaranya udah mau mulai nanti aku dihukum lagi” tolak ku. Sebenernya sih mau banget. Apalagi yg ngobatin kamu.

“Kamu jangan paksa’in luka kamu.nanti infeksi lagi” paksa kak Nicky.

“Si kakak maksa banget sih. Kayak pengen deket-deket sama aku aja” ucapku dengan tak sadar.sehingga kak Nicky terbelalak.

“Maksud kamu apa?” tanya kak Nicky mendengar perkataanku.

“Ehh itu kak. Aku mau ke UKS.” Aduh, kenapa jadi salting gini sih,.?!

“Ya udah ayo, nanti kakak izin ke pengurus OSIS lainnya.”

@UKS.

“Kok kamu bisa lupa tali sepatu kamu sih?!” tanya kak Nicky.

“Kakak ngeledek deh.”

“Nggak kalik, kakak cuma nanya,”

“Tapi ‘kan bikin aku malu.”

“Ya udah deh kalo’ kamu malu kakak nggak maksa, nama kamu siapa?”

“Namaku Gita kak, kakak siap?”pura-pura nggak tau padahal tau.

“Masa’ kamu nggak tau siapa kakak?! Nama kakak Nicky.”

“Emt, kak Nicky. Kapan ngobatin tangan aku?”

“Oh iya sampe’ lupa. Maaf ya” kak Nicky mengobati tangan aku. Aduh seneng banget bisa di obatin kak Nicky yg superrr gantenngg !

“Sekarang gimana?” tanya kak Nicky.

“Sama aja sih kak,” jawabku.

“Jujur banget sih kamu. Jangan jujur-jujur donk. Bikin nyesel aja.”

“Maaf deh kak.”

Aurora sahabatku datang.

“Cie. Gita. . Berduaan sama kak Nicky nggak ajak-ajak,” ledeknya

“Kalo gue ngajak lo kesini berarti bukan berduaan, tapi ber-tigaan” jawabku sedikit meladeni Aurora. Ganggu orang aja.

“Jangan marah donk git, gue kesini ‘kan disuruh sama kakak kelas buat nemenin lo.”

“Nemenin gue?!. Tapi kan…” Kak Nicky memotong kata-kataku.

“Sekarang ‘kan udah ada temen kamu, jadi kakak balik ke aula dulu ya. Nanti pas istirahat kakak kesini lagi buat nengok kamu,” pamit kak Nicky lalu pergi. Uuh, nggak ada yg ganteng lagi deh,

“Ngapain sih lo kesini? Ganggu aja.” omelku.

“Ya sorry. Gue nggak tau kalo disini udah ada kak Nicky. Gue kan Cuma disuruh kak Nima, pacarnya kak Nicky.”jawab Aurora.

“Kak Nicky udah punya cewek.?!”

“Kayaknya sih gitu. Soalnya kak Nima kelihatan marah gitu waktu tau kak Nicky di UKS sama loe. Kenapa? jealous?”

“Jealous?? Ya nggak lah. Udahlah nggak usah ngomongin dia, mendingan lo beli’in gue minum aja. Haus nih.”

“Jahat lu. Sahabat sendiri di gitu’in.”

Habisnya elo, udah tau aku jealous masih aja nanya pake bilang-bilang lagi kalo’ kak nima itu ceweknya kak Nicky. Ngomong-ngomong kak nima itu kaya’ gimana ya sampe’-sampe’ kak Nicky mau pacaran sama kak nima.?!Perlu dicari tau nih.

“Malah diem,” omel Aurora.

Aku hanya terseyum.Tak terasa jam istirahat tiba dan kak Nicky menepati janjinya untuk menjengukku. Setelah saat itu aku dan kak Nicky jadi deket dan juga Aurora yang sekarang mulai deket sama Bowo’ cowok yg sudah dia taksir sejak lama. Suatu hari aku berangkat bersama Aurora dan kita saling bercerita tentang kedekatan kita dengan cowok yg kita taksir.

“Gimana kabar lo sama kak Nicky.?”Tanya Aurora dengan penasaran.

“Ya gitu deh. Makin akrab dan makin deket, ya kaya’ setiap hari kontek-kontekan. Kalo lo apa kabar sama bowo’.?”

“Karna saran dari lo dulu. Gue bisa deket sama Bowo’ malahan kita sering jalan bareng, makasih ya. Gue nggak tau gimana hubungan gue sama Bowo’ kalo’ lo nggak ngasih saran ke gue.”

“Biasa aja kalik. Gue bakal bantu apa ‘pun yang gue bisa because you my best friend forever.”

“So sweet. Tapi kaya’nya bakal so sweet banget kalo’ Bowo bilang ke gue because you my everything.”

Bowo datang menghampiri Aurora.

“Because you my everything.” ucap Bowo dengan gembira. Aurora menengok ke arah Bowo dengan muka merah.

“Ciee, Aurora.” ledekku sedikit ngiri. Mau donk ada yang bilang gitu ke gue.

“Apa’an sih git. Bowo ‘kan Cuma bercanda,” ucap Aurora.

“Gue serius kalik. Kamu mau bantu aku nggak.?”sergah Bowo.

“Bantu apa.??”

“Mau nggak jadi my girlfriend?”

“Whaatt.?!!!! Lo pasti bercanda ‘kan? Nggak mungkin lo nembak gue.”

“Gue serius. Tapi kalo’ lo nggak mau juga nggak papa.”

“MAU. Mau banget.”

Akhirnya mereka jadian juga. Kapan ya aku bisa jadian sama kak Nicky?
Dua bulan kemudian kak Nicky datang kerumahku tiba-tiba dengan keadaan yang sangat nggak biasa. Dia seperti orang yg sedang mendapat masalah. Aku ikut prihatin mendengar curhat-an kak Nicky. Dia bilang kak Nima pacarnya minta putus karna dia tau kalo’ kak Nicky mulai deket sama aku. Dan kak Nicky minta bantuan aku untuk menjauhi kak Nicky karna kak Nicky sangat sayang sama kak Nima.

Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaan kak Nicky demi kebahagiaan dia. Meskipun aku tau aku sangat menyanyangi dia,
Tapi aku yakin tuhan telah menunjukkan takdirku. Dan tuhan telah menyimpan seorang pangeran untukku. Sekalipun aku masih sayang kak Nicky, dari semua ini aku bisa mengambil kesimpulan bahwa kak Nicky bukan cinta sejatiku.

End.

Biodata penulis :
Judul : Cinta Sejatiku
Penulis : Kurny Love
Email : kurni_love@yahoo.com