Cerpen cinta love is mocca part 2


Nah buat yang udah pada nungguin lanjutan cerpen cinta Love Is Mocca, Berikut lanjutannya udah muncul.
Happy reading ya....


Credit Gambar : Ana Merya


#ANDRE#
Ternyata dia nggak langsung pulang ke rumah, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu denganya agar ia juga bisa belajar mengenali aku sebagai Andre. Tapi apakah aku sanggup menunggu, bagaimana dengan cowok itu nanti?? Ya ampun Cha, aku bener-bener kangen banget sama kamu, dulu kamu masih imut banget sekarang kamu udah cantik.
Sejenak ku pandangi foto kami waktu kami masih kecil dulu.
“Ozy, makan dulu nak?”panggil mamanya.
“iya Ma sebentar!” aku pun beranjak ke ruang makan. Ku lihat mama nyaman menempati rumah baru kami ini, wow masakan kesukaan ku ni.
“Mama betah disini ma?”tanyaku sambil duduk.
“Betah kok. Kamu sendiri?, Sekolah kamu gimana???Menyenangkan???”Tanya mama beruntun. Aku Cuma tersenyum dan pasti mama akan lebih terkejut lagi kalo mendengar kabar tentang Ocha.
“Seneng banget ma, apalagi bisa ketemu Ocha lagi!!”ucapku bahagia.
“Ocha yang kecil dulu itu? Yang paling benci mocca???”seru mama tercengang.
“Iya ma, dia sekarang cantik banget ma??
“Mama jadi pengen ketemu dia,nak. Rumahnya masih di tempat yang dulu? Tanya mama sambil mengambilkan nasi untukku.
“Masih ma, tapi dia ga mengenali aku lagi ma. Dia bahkan ga ingat nama lengkapku?. Mungkin juga dia udah nglupain aku ma!”ucapku sendu.
“Hey kok anak mama jadi patah semangat sih, katanya mau ngejar cinta sejati???”ucap mama sambil tersenyum.
“Makasih banyak ma. Mungkin nanti malam aku kesana lagi ma!”jawabku kemudian
“Nah gitu donk semangat, Ntar mama buatin kue ya buat kamu bawa?” mama menawarkan.
“Iya deh ma, Ozy sama Nathan kan juga paling suka kue buatan mama!!”

*** Cerpen Cinta Love Is Mocca ***

“Ma kuenya udah jadi belum?”tanyaku begitu menginjakan kaki di dapur.
“Udah dong, ganteng banget anak mama yang satu ini, yang katanya mau ketemu pujaan hati!!”goda mama.
“Ahh mama godain mulu ne” jawabku sambil mengambil kue dari tangan mama.
”aku berangkat dulu ya ma?” Pamitku kemudian menuju parkiran dan menuju red jaguarku.
Langsung melesat ke rumah Ocha. Butuh waktu 15 menit untuk sampai dirumahnya. Begitu aku sampai depan gerbang Pak Parman langsung membukakan gerbang.
“Octanya ada pak?” tanya sopan kearah pak parman.
“Ada den. Mari silahkan langsung ke dalam aja!” ucap Pak Parman
“Iya Makasih ya Pak!”jawabku.
Halaman ini masih sama sepeerti yang dulu. Hanya saja kali ini tampak lebih banyak bunga nya. Maklum rada gelap udah malam. Lalu ku tekan bel tak berapa lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat.
”Maaf mencari siapa ya mas?”Ternyata sosok yang berdiri di hadapanku adalah Nathan.
“Kamu banyak berubah bang? aku pangling!!”sahutku tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Kamu kenal aku?”tanyanya heran sambil mengerutkan kening mengingat-ingat, masih tak berubah caranya membuatku tergelak.
“Aku Ozy Bang?”jawabku sambil tersenyum. Mendengar itu betapa terkejutnya dia.
“Kamu serius Ozy??”Tanya Bang Nathan.
“Iya, ngomong - ngomong aku nggak disuruh masuk bang?”godaku kemudian.
“Eh iya yuk masuk-masuk, Sampe lupa!”sahutnya kemudian.
Sambil berjalan ke dalam dan dengan gerakan tangannya menyuruhku duduk.
“Oh ya ini Bang ada kue dari mama!”
“OH ya Tante Alida gimana kabarnya?”tanyanya.
“Baik kok bang. Mama tadi juga nitip salam, Ocha kemana Bang??”tanyaku karna tak melihat batang hidungnya.
“Ada kok lagi mandi, tunggu aja sebentar. Oh ya kamu mau minum apa?”Tanya Bang Nathan.
“Apa ajalah Bang!”jawabku.
Bang Nathan pun langsung ke belakang. Disusul dengan langkah kaki menuruni tangga, yahhh Ocha My princess,dia melangkah santai menuruni tangga tanpa menyadari kehadiranku sambil mengotak-atik hpnya. Memakai kaos oblong hijau besar dan celana pendek membuat wajahnya makin fresh, cute banget dan ternyata dia masih memakai kalung itu. Benar-benar membuat kakiku ingin berlari dan memeluknya erat.
“Baru selesai Cha?”Tanya bang Nathan memecah keheningan.
“Iya Mas, udah mendingan dari yang..”ucapannya terputus ketika ekor matanya menangkap kehadiran orang lain di ruangan itu dan membuatnya langsung mengarahkan pandanganya kepadaku dan langsung ku sambut dengan tersenyum.
“Malam cha?”sapaku.
“Andre? Dari mana kamu tau rumah ku?”tanyanya setengah terkejut.
“Andre? No no no Cha, dia Ozy bukan Andre.”Jelas Bang Nathan.
Ocha terdiam terpaku ditempatnya. Matanya terlihat berkaca-kaca dan semakin membuatku tak bisa menahan diri lagi, untuk berlari memeluknya. Kudekap erat tubuhnya, kerinduan itu memenuhi setiap relung hatiku.
“Aku kangen banget sama kamu cha, waktu sepuluh tahun tak bisa membuat aku melupakanmu, Cha!”ucapku sedangkan dia tetap tak bergerak, hanya terasa guncangan tubuhnya karna tangisannya. Lalu kutarik tubuhku melepaskan pelukan itu, kupandang wajahnya yang tampak sembab.
“Apa kamu nggak kangen sama aku, Cha?”tanyaku kemudian sambil memegang pundaknya ketika dia hanya diam.
“Apa kamu juga udah lupa sama aku?”tanyaku lagi ketika dia tidak bereaksi sama sekali.
Tapi nihil dia tetap diam, membuatku ragu dan kulangkah kan kakiku mundur menjauh darinya untuk kembali duduk. Sikap dinginnya membuatku yakin bahwa dia mungkin memang sudah melupakanku apalagi dia juga sudah punya cowok itu. Langkahku terhenti ketika kurasakan sebuah pelukan menahanku
“kamu selalu pergi dan datang sesuka hati tanpa mikirin perasaan orang lain!”kudengar suaranya terisak. Menahan gejolak hatinya.
“Maafin aku Cha!”jawabku kemudian.
“Udah dong main telenovelanya pegel ne yang nonton!”celetuk Bang Nathan membuat Ocha melepaskan pelukannya dan langsung menatap Bang Nathan kaget, sedangkan yang diliat Cuma nyengir. Tapi langsung kutarik tangannya untuk duduk.
“Udah berenti meweknya Cha dari tadi siang mewek mulu kaga berenti-berenti! Udah di depan mata tu orangnya!”Sahut Bang Nathan membuatku heran.
“Maksudnya Bang?”tanyaku kemudian
“Iya dari tadi siang dia tu udah nangis-nangis gara kamu dateng tapi langsung pergi!” jelasnya kemudian, dan membuatku tersenyum.
“Ihh Mas Nathan rese banget sihh,!”ucapnya sambil setengah malu. Aku Cuma mengacak rambutnya pelan dengan gemas.
“Udah makan belum, makan diluar yuk,?”ajakku kemudian. Sambil melihat kearahnya.
“Kalian berdua aja gih. Aku udah makan tadi, si Ocha tu dari siang ga makan gara mikirin kamu terus!”sambut Nathan sambil menggoda adeknya.
Terang saja langsung membuat wajahnya semerah tomat dan langsung membuatku tertawa lucu sekali melihatnya. Melihatku tertawa dia malah makin cemberut begitu pula Bang Nathan. Ocha langsung bangkit berdiri dan menarik tanganku sambil berlari keluar. Tentu saja membuat Bang Nathan makin ketawa ngakak. Setelah keluar dari rumah dia langsung berhenti dan memandangku kesal.
“Udahan sih ketawanya!” ucapnya kemudian. Aku pun berhenti tertawa dan akhirnya aku tersenyum dan mengacak rambutny.
“Abisnya muka kamu lucu Cha merah banget kaya tomat.!”membuatnya makin manyun.
Dan langsung menyembunyikan wajahnya di dadaku dengan memelukku. Membuatku tersenyum masih seperti dulu, kalo dia malu pasti dia akan memeluk orang yang di dekatnya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.
“Ya udah yuk jalan!”ajakku sambil menarik tubuhku dan menggandengnya ke mobilku.
“Mama papa masih sibuk ngurusin bisnis?”tanyaku memecah keheningan setelah sampai di jalanan.
“Masih tapi sekarang udah menetap tinggal di Aussi, jadi kesini kalo nengokin kita aja. Kalau gak ya kalo pas liburan kita yang kesana!”jelasnya kemudian.
“Kok gak tinggal di Aussie ikut mereka?”tanyaku kemudian sambil menoleh padanya.
“Aku kan udah gede jadi aku boleh tinggal disini dengan catatan Mas Nathan juga!” tapi aku seperti melihat alasan lain yang ia simpan dibalik matanya itu. Aku pun Cuma mengangguk-angguk saja.
“Trus alasan kamu balik lagi kesini apa?”tanyanya lagi, karna tak didengarnya jawaban dariku.
“Kamu?”hanya itulah alasan utama aku kembali ke Jakarta dari Surabaya. Dia terkejut dan memandangku tak mengerti.
”Iya alasanku kembali ya kamu Zeefhanya Moccha Ardana!” aku langsung turun dan membukakan pintu untuknya karna kita sudah sampai di Youth’s Café.
Aku memilih duduk di luar dekat kolam air. Sedangkan Ocha duduk dihadapanku, kupandangi wajahnya lekat-lekat mengamati setiap mili wajahnya, banyak yang telah berubah. Tentu saja membuatnya salting.
“ Apaan sih Zy ngliatin aku mulu? Ada yang salah ya sama muka ku?” tanynya sambil menunduk.
“Semuanya udah berubah ya? kamu sekarang cantik banget!”mukanya kembali bersemu merah.
“Kamu yang berubah,sekarang udah tinggi banget kaya Mas Nathan!”sanggahnya kemudian.
“Hanya fisik aku yang berubah hati dan perasaanku masih sama. Dan selalu berusaha nepatin janjiku buat ga nglupain kamu.”seketika itu juga mukanya berubah keruh dan merasa bersalah. “Yah walaupun ketika aku datang aku harus ngeliat kamu dengan cowo lain. Tapi makasih kamu masih pakai liontin itu!”



#OCHA#

“Hanya fisik aku yang berubah, tapi hati dan perasaan aku masih sama. Dan selalu berusaha nepatin janjiku buat ga nglupain kamu”.
Dia diam “Yah walaupun ketika aku datang aku harus ngeliat kamu dengan cowo lain. Tapi makasih kamu masih pakai liontin itu!” lanjutnya kemudian.
Dan itu terasa sangat menusuk ulu hatiku. Aku sangat merasa bersalah karena mengecewakannya. Melupakan janji-janji kecil kami dulu bahkan mengingkarinya.
Yah Kak Vhiand lah yang dimaksud Ozy, Kak Vhiand datang ke dalam hidupku ketika aku merasa sangat letih untuk menunggu Ozy. Dan dialah orang pertama yang sanggup mengalihkan fikiranku tentang Ozzy dan membuatku selalu tersenyum sendiri ketika mengingatnya. Butuh waktu 1 tahun bagiku untuk benar-benar menerima dia dalam hatiku dan mencoba mencintainya. Kehadirannya dalam hidupku membawa warna tersendiri dalam hidupku. Dan ketika perasaan itu mulai tumbuh dan bersemi, kedatangannya seketika melayukan kuncup itu dan mungkin akan mematikannya juga.
Dan kini orang yang sekian tahun lalu menghiasi hatiku dengan semua kenangan masa kecil yang indah itu hadir kembali dan duduk dihadapanku mengungkapkan kekecewaanya. Membuatku benar-benar merasa bersalah dengan keduanya. Bahkan untuk memandang wajahnya pun aku ga sanggup, mata bening itu sangat kurindukan.
“Maafin aku Zy, aku ga bermaksud buat ngecewain kamu!”ucapku sambil menatapnya dan tanpa terasa ada tetes air mata yang terjatuh tanpa kusadari.
“Hei kamu ga salah kok, aku yang salah karna aku terlalu lama pergi dan membiarkanmu menunggu terlalu lama. Maaf yaa!”ungkapnya tulus sambil tersenyum dan menghapus air mataku.
“Bisa ketemu kamu aja itu dah cukup banget buat aku, aku udah seneng banget” lanjutnya kemudian.
“Makasih yaa!”tak ada kata lain yang dapat kuungkapkan saat ini selain kata itu.
Tak berapa lama kemudian pesanan kami pun datang. Bisa bertemu dengannya membuat aku melupakan semuanya, yeahh kebahagian yang tak ternilai bisa bertemu dengannya.
“Cha aku pengen ke rumah pohon sambil melihat bintang, kamu mau temenin aku ga?” tanyanya disela-sela kami makan.
“Mau banget Zy aku udah lama ga kesana juga, Zy. Pasti nyenengin banget ya bisa bermain disana lagi! Berangkat sekarang yuk?”ajakku segera aku sangat bersemangat sekali.
Kulihat dia hanya tersenyum, dan mengakhiri makannya. Dan kami pun langsung meluncur tak lupa genggaman tangannya yang tak pernah lepas dariku. Hanya dalam waktu 15 menit kami sudah sampai, di rumah pohon tempat kami biasa bermain dulu. Aku berlari duluan dan langit memang sudah sangat cerah banyak bintang yang terlihat. Kulihat dia langsung duduk di rerumputan dan menatap langit. Aku menyusul di sampingnya, aku benar-benar tak ingin jauh-jauh darinya.
“Aku kangen banget sama kamu, Cha. Izinkanku sejenak memelukmu, melepaskan semua kerinduan yang tersimpan!”ucapnya sambil memandang wajahku.
Aku terdiam dalam pelukannya, pelukan yang penuh cinta tapi dari orang yang berbeda. Rasanya hangat dan nyaman, membuatku enggan melepasnya. Dan pelukan ini merengkuhku hingga sampai kedalaman hati, cinta yang lama tersembunyi menguak lebar menyambut cinta yang terhilang. Tak terasa airmata ini terjatuh dalam rengkuhannya, sesaat sebelum ia melepaskan pelukannya.
“Kamu kenapa nangis Cha?”tanyanya sambil menghapus air mataku.
Aku Cuma bisa menggelengkan kepala dan menenggelamkan mukaku di dadanya yang bidang dan hangat, membuatku semakin terisak.
“Cha, kamu baik-baik aja kan?”tanyanya lagi sambil mengusap rambutku..dan memelukku.
“Aku kangen banget, kamu pergi terlalu lama. Aku takut kehilangan kamu lagi,?”ucapku penuh tangis.
“Iya Ocha aku akan slalu disampingmu, meski bukan sebagai cowo kamu tapi aku gak akan pergi ninggalin kamu lagi. I’m promised for you!!”ucapnya.
Kata-katanya membuat air mataku semakin deras dan semakin erat aku memeluknya. Dia menarikku dari pelukannya dan menunduk menatapku.
“Udah jangan nangis lagi yaa!” aku Cuma mengangguk dan dia pun mengecup dahiku dengan lembut.
“Yuk pulang udah malam ni, ntar kemaleman lagi!” ajaknya dan dia menggandeng tanganku menuju mobilnya.

#ANDRE#

“Kak aku berangkat duluan yaa..bareng OZy!” teriak Ocha dari dalam rumah, aku Cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah polosnya. Dia menggerai rambutnya yang panjang tampak basah karna habis keramas. Membuat wajahnya makin fresh dan lucu.
“Yuukk cap cusss,!” ajaknya begitu dia duduk disampingku.
“Pasti sekolah gempar dan heboh dehh Zy!!” ucapnya seperti menggerutu kesel. Langsung kucubit pipinya dan membuatnya makin cemberut masam.
“Hahaha lagian kamu Cha pagi-pagi udah ngedumel aja . Ga jelas!” Jawabku sambil mengacakk rambutnya.
“Ahhhh Ozzyy berantakan!!” teriaknya manja.
Aku terkekeh melihatnya. Dan langsung kulajukan mobil menuju sekolah.
“Cha, nanti pulangnya kerumah aku dulu yaa, mama pengen ketemu kamu!” ujarku, dia kemudian menoleh terkejut ke arahku.
“Bunda? Ikut kesini juga?”tanyanya lagi.
Aku pun mengangguk Mama emang selalu nyuruh Ocha buat manggil mama dengan sebutan Bunda. Karena mama selalu ingin punya anak perempuan yang memanggilnya Bunda makanya Ocha jadi korban utamanya.
“Aku kangen cup cake sama rainbow cake buatan Bunda! Kita dulu selalu rebutan makan itu ya Zy? Ya deh ntar aku ikut ketemu Bunda kangen banget!!!”ucapnya sambil berseri-seri.
Gerbang sekolah pun sudah terlihat di depan mata, perlahan ketika red jaguarku memasuki gerbang banyak anak-anak yang langsung mengarahkan tatap matanya ke arahku, selain karna red jaguarku tetapi juga penghuni mobilnya. Ocha dan Andre si murid baru. Aku langsung parkir dan mengajak Ocha masuk ke kelas. Tiba-tiba Ocha mengambil hp di saku bajunya dan melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi begini. Dan kulihat mendadak wajahnya menjadi pucat dan gugup, sepertinya aku tau dari siapa.
“Aku duluan ya Cha!”karna aku tau dia butuh privasi, aku meninggalkannya dan langsung menuju kelas.

#OCHA#

Siapa sih pagi-pagi gini udah nelpon aku, ganggu moment aja, langsung ku ambil BB yang ada disaku bajuku, kulihat Kak NathanQ calling. Deg!!! Kenapa aku bisa melupakannya begitu saja, kenapa aku lupa sama Kak Nathan ya ampun aku bodoh banget sih, panggilan itu masih berkedip-kedip beserta getarnya. Aku ragu-ragu tapi kemudian kudengar suara Ozy.
“Aku duluan ya Cha!” sambil berjalan mendahuluiku, aku tak bisa melepaskan pandanganku dari punggungnya yang semakin menjauh. Aku tau dia memberiku privasi, pasti perubahan rona wajahku pun tak lepas dari perhatiannya.
“Ha-halo Kak, met pagi!”ucapku sambil memaksakan diriku menjawabnya sambil tersenyum hambar. Aku benar-benar melupakannya dan tak mengabarinya dari terakhir dia nganterin aku pulang, sejumput rasa bersalah menyusup dihatiku.
“Kamu marah ya sama aku? Kok kamu gak ngasih kabar ke q?atau kamu lagi sakit?kok suara parau Cha?” tanyanya terdengar alunan suara kekawatiran dan kegelisahan disana.
“Engg ga kok kak, aku ga marah. Maaf kemarin aku kecapekan ga sempet ngabarin kakak. Aku lagi di sekolah kak sekarang!” jawabku gugup tapi di penuhi rasa bersalah,”aku masuk kelas dulu ya kak, aku belum ngerjain PR soalnya!” hufftt aku gak sanggup ngomong ama Kak Nathan.
“Ya udah kamu belajar ya,nanti siang aku jemput ya!!” serunya, dia mau jemput tapi aku kan mau pergi kerumah Bunda.
“Gak usah kak ntar aku mau pergi sama temen soalnya! Ya udah kak aku duluan ya!!”klik langsung kumatikan telp darinya itu.
Maafkan aku kak Nathan, aku kembali menyusuri koridor sekolah untuk ke kelas. Ku berhenti sebentar di depan kelas, kulihat Ozy sibuk membaca buku, entah buku apa yang dibacanya. Langsung kuhampirinya, dan aku gak bisa bohongin diri aku kalau aku memang jatuh cinta lagi sama cowo ini. Ahhh aku kembali terbayang wajah ka Nathan dalam raut kecewa, huffttt aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Kamu kenapa Cha? Pusing?”tiba-tiba Ozy bertanya padaku, ternyata tanpa aku sadari dia memperhatikan tingkahku dari tadi.
“Gak kok, hehhehe!”jawabku sambil terkekeh malu.
“Tapi tadi wajahmu pucat Cha, kamu belum sarapan ya?”ucapnya penuh perhatian.
“Udah kok!Ihhh Ozy aku gapapa kali!! Kamu tu terlalu perhatian sama aku ntar yang lain pada iri lho sama aku?”celotehku, karna aku udah ngeliat tampang-tampang mupeng dikelasku.
Ya iyalah memang harus aku akui kalau dia emang keren banget, aku aja yang biasanya kebal pesona cowo-cowo idola sekolah yang hilir mudik mendekatiku bisa kebal, tapi untuk dia yang ada di depanku aku luluh. Hua dia Cuma mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Aku Cuma bisa tergelak tertawa melihat tampangnya yang bener-bener lucu banget.
TETTTT TETTTT TEETTTT!!! Bel masuklah yang menghentikan tawaku kemudian.


*** Cerpen Cinta Love Is Mocca ***

“Bundaaaaa!” jerit kecilku begitu melihat Tante Alida membuka pintu untukku dan langsung memelukku hangat.
“Kamu Ocha???”Tanya Tante Alida penuh perhatian sambil meneliti setiap lekuk wajahku.
“Iya Bunda ini Ocha yang ga doyan mocca!!” dia tersenyum dan menarikku dalam pelukannya. Seperti memeluk anaknya sendiri.”Kangen banget sama bunda!!”
“Ini anak mama Ocha apa Ozy sihh ma???”celetuk Ozy sambil cemberut, melihat keakrabanku dengan Tante Alida.
“Aduh Ozy sayang, kalian berdua itu anak mama kok!” jawab mama menenangkannya.
“Lagian kan aku udah ga ketemu bunda 10 tahun, kamu kok malah cemburu gitu?”ucapku sebel sambil memberengut. Biarin tau rasa dia aku kerjain.
“Udah ahh Bun aku pulang aj! Lain kali aku kesini lagi!!” ucapku sambil mencium pipi Tante Alida. Ozzy tampak belingsatan kawatir, raut mukanya tampak terkejut dan merasa bersalah. Sorot matanya mulai meredup.
“Jangan pulang Cha aku Cuma bercanda kok, Cuma aku juga pengen di peluk kamu juga!”jawaban yang polos tapi membuat mukaku dipenuhi semburat merah.
Terdengar tawa Tante Alida tergelak mendengar sahutan Ozzy membuatku makin malu. Sedangkan Ozzy Cuma mengernyit heran sambil memperlihatkan kerutan didahinya tanda heran, kenapa mamanya tertawa begitu bahagia. Tiba-tiba seditik kemudian mukanya merah dan menyadari apa yang baru saja dikatakannya tadi, wajahnya tegang. Aku Cuma bisa menahan tawaku agar tidak meledak karna melihat mukanya yang memerah.
“ Ah mama udah donk!” ucapnya sambil ngibrit masuk duluan dan langsung duduk disofa.
“Ayo masuk Cha Bunda udah bikinin rainbow cake kesukaan kamu sama cupcake juga tuh, tapi mending makan siang dulu kamu belum makan kan??”aku Cuma mengangguk membenarkan ucapan tante Alida dan dia menuntunku ke ruang makan.
“Kamu mau ikut makan siang ga Zy?” Tanya Tante Alida pada Ozy.
“Ikutlah ma ga tau apa kalo Ozy udah kelaparan dari tadi!” sambil memasang muka memelas. Wahhhh yummy ini semua makanan kesukaan aku semua. Bunda memang hebat, aku takkan menyia-nyiakan makan siang hari ini.

#Andre#

Ocha terlihat lahap sekali makan siangnya, membuat selera makanku juga ikut bertambah. Dia memang luar biasa, kulihat masih ada 1 paha ayam bumbu rica kesukaannya, kulihat pandangannya juga mengarah ke hal yang sama. Dan tanpa babibu lagi langsung kucomot, dia langsung terperangah kaget.
“AAhhhhh Bunda ayamku dicuri Ozzy!”teriaknya merengut sambil menatap mama. Sedangkan aku Cuma bisa terkekeh.
“Ozy jangan digodain melulu donk!”bela mama untuk Ocha.
“Iya-iya Ma, nih Cha aku balikin ayam kamu.!”sambil menaruh ayam itu dipiringnya tampak wajahnya kembali berbinar, matanya bersinar bahagia. Benar-benar gadis kecilku. Lalu dilanjutkannya kembali menyantap makan siangnya. Mungkin ngerasa di perhatikan dia tiba-tiba mendongak dan menatapku,
“Kamu mau?”tanyanya polos, aku Cuma menjawabnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dia menyuapiku dengan tangannya aku pun menerima suapannya. Ternyata enak banget kalo makan dari tangan orang lain, dengan sedikit usil aku gigit ujung jarinya.
“Adddduuuhhhh, ihh Ozy nakal banget sih masa jariku digigit!”sungutnya lagi, dia benar membuatku gemas.
“Tau gitu aku gak suapin kamu tadi?”lanjutnya sambil memasang wajah kesal.
“Lagi donk Cha?” jawabku kemudian sambil tersenyum.
“Ga mau ahh, ntar kamu gigit tangan aku lagi!”rengeknya kemudian, sambil menggelengkan kepalanya.
“Janji deh, gak aku gigit!!” sambil mengacungkan kelingkingku tanda janji padanya. Kulihat mama Cuma geleng2 kepala lalu bangkit berdiri menuju kea rah kulkas dan mengeluarkan rainbow cake dan cupcake dari kulkas.
“Kamu itu kok jadi manja banget sih Zy?” goda mama sambil tersenyum. Ocha menoleh kea rah mama dan wajahnya langsung sumringah menatap 2 cake kesukaannya.
“Wah Bunda, hmmm baunya wangi banget, kelihatannya juga yummy banget. Aku mau Bunda!” sahutnya kemudian.
Kring kringg kringg!!! Tiba-tiba telepon rumah bordering.
“Bunda angkat telpon dulu ya, Cha. Minta suapin sama Ozy aja itu yang tangannya bersih!”aduh Mama ni bikin aku malu, masa ngegodain begitu.
“Zy suapin rainbow cakenya!”terdengar suara Ocha mengejutkanku.
“Yaudah kamu cuci tangan dulu, ntar kita lanjutin ditaman belakang!” dia langsung mengangguk dan berlari kecil menuju arah wastafel dapur, saat dia kembali dia langsung menggandeng tanganku. Mengajakku ketaman belakang. Dia langsung berjalan menuju ayunan duduk. Aku mengikutinya dan duduk disampingnya.
“Emangnya perut kamu masih muat?”tanyaku geli melihatnya menatap rainbow cake dengan muka lapar.
“Masih donk, Zy!”aku tersenyum dan menyuapinya sepotong kecil cake. “Aku udah lama banget nunggu moment-moment ini Zy, kita bisa bareng-bareng kaya gini. Dan aku bahagia banget sekarang!!” lanjutnya kemudian dan bersandar di bahuku. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Dan tanpa dikomando tanganku beralih ke kepalanya dan mengusapnya perlahan.
“Aku juga Cha!” kuletakkan cake itu di meja samping ayunan. Dan kurengkuh dia dalam pelukanku dan kekecup puncak kepalanya dengan segenap perasaanku. Dan kurenggangkan sedikit pelukanku dan dia mendongak menatap wajahku kukecup lagi keningnya.
“Kamu malaikat yang selalu hadiri dalam mimpi-mimpi indahku selama ini. Kamu yang selalu membuatku ga pernah bisa merduliin cewe lain selain kamu. Kamu yang selalu membuatku berfikir bahwa kamu satu-satunya wanita yang Tuhan kasih buat aku. Terima kasih Ochiku….!” Matanya berkaca-kaca menatapku.
“Dan kamu tau sampai detik ini aku gak bisa nahan diri aku buat milikin kamu. Aku merasa aku terlambat datang buat jagain hati kamu, biar ga berpaling sama yang lain. Keterlambatan ini membuatku merasa kehilangan kamu, Cha.” Lanjutku kemudian.

Oke Deh, Bersambung dulu ya... Seperti yang sudah di kasi tau sebelumnya di part satu Cerpen cinta terbaru Love Is Mocca, Cerpen ini adalah cerpen kiriman salah satu reader Blog Star Night. Thanks ya
Biodata penulis :
Nama : Veronicha WH
Fb : JL Vheo Nicha
Twitter : @vheo_nicha

Cerpen cinta Love is mocca part 1 {Repost}

Haloo All Reader Star Night.Lagi – lagi ada cerpen baru, Tapi kali ini cerpen kiriman dari salah satu Reader Star Night. Jucul nya “Cerpen Cinta Love Is Mocca”.

Sebelum ke cerpen Penulis mau cuap cuap dulu soal “Cerpen Cinta Love Is mocca”. Ternyata cepen ini mengunakan pengambilan sudut pandang dari masing – masing tokoh. Ehem, ana pribadi si belum pernah bikin cerpen yang model beginian. Bikin cerpen yang di ambil dari sudut pandang satu tokoh aja ribet n jadi gak ending – ending kayak cerpen the prince… Wukakkaka….

Oke deh, segitu doank cuap – cuapnya. Sekarang bisa langsung di baca Cerpen love Is Mocca karya Veronicha WH



#OCHA#

Pagi yang sangat cerah untuk hari ini. Tampak anak-anak sebayaku berjalan beriringan ke sekolah.

“Ocha!! Tunggu!!” hmmm pasti ini Lisa dengan suara cemprengnya. Aku pun berhenti sejenak untuk menunggunya. Dia berlari kecil menghampiriku. Namanya Elisya Saputri, sesuai namanya dia emang cantik banget layaknya putri. Sedangkan namaku sendiri adalah Zeefhanya Moccha Ardana atau sering dipanggil Ocha. Tapi walaupun namaku Moccha ku sama sekali gak suka dengan makanan ataupun minuman rasa moca.

“Cha, tau ga’ tadi malam Ervan nelfon gue!!!”ucap Lisa dengan ceria.

“Oh ya, pantesan Ervan tadi malam gak nelpon gue!!hehe!!”godaku.

“Ahh, ocha gue serius tauk, nyebelin banget cieh!!”jawabnya sambil cemberut.

“Iya-iya, sori. Trus dia bilang apa ma lo? Dia ngajak lo ngedate ya???”lanjutku kemudian.

“iya Cha!!” jawabnya malu-malu. Lisa ini emang ngebet banget ma yang namanya Ervan, jadinya ya kaya ketiban bulan dia senengnya minta ampun. Aku sendiri dah punya cowo namanya Kak Viand dia temen kuliah kakakku.

Drrt drrt!!! Hp di sakuku bergetar, siapa ya pagi-pagi gini dah rajin nelponin aku. Ah ternyata Kak Viand baru juga diomongin.

“Iya Kak ada apa?”

“Dek ntar pulang skul kakak jemput ea!!”

“Mang Mas Nathan kemana??”tanyaku heran.

“Nathan ada dia gak kemana-mana, mang gak mau ya ketemu ma kakak?”ups dia ngambek ne.

“Bukannya gitu Kak Adek pikir Mas Nathan minta kakak buat jemput adek, lo dijemput kakak ma adek mau bangetlah hehehe!!”jelasku sambil tertawa.

“Ea udah mpe ntar ea, luv u adek!!”jawabnya kemudian.

“Luv u to kakak!!!”

”Cie-cie pagi-pagi dah dikasih vitamin ni cha!!!” gentian Lisa yang kini menggodaku.

“Ya udah masuk yuk dah mau bell ni!!!”ajakku sambil mengalihkan pembicaraan.

“Yuk!!”

Tetttttt Tettttt!!!!

Wah aku duduk sendirian lagi Nanda kemana lagi sieh???

“Selamat pagi anak-anak!!!”

“Pagi Pak!”jawab siswa-siswi kompak.

“Anak-anak kalian punya teman baru hari ini!!” Langsung ramai deh kelas lo begini.

“Tenang anak-anak dia namanya Andre!! Andri kamu duduk disamping Zifa ya!!” Jelas Pak Tony. Kok sama aku sieh terus Nanda gimana donk. Ah Pak Tony bikin kacau. Cowo itu pun langsung duduk disampingku.

“Zifa kamu tolong bantu Andre ya baik untuk pelajaran maupun pengenalan sekolah ya!!”Lanjut Pak Tony, buseet, tega bener.

“Tapi Pak kan ada ketua kelas Pak!!”bantahku kemudian.

“Baik kita lanjutkan pada halaman 78 kumpulkan tugas kalian!!!”wah omonganku gak digubris lagi. Aku pun langsung berjalan ke depan untuk mengumpulkan tugas!!!”

“Hei gue Andre pindahan dari SMU Palapa!” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

“OCHA!!” jawabku singkat. Sambil menyambut uluran tangannya.

“Kok Ocha, bukannya tadi Pak Tony tadi bilang nama kamu Zifa???”tanyanya heran.

“Iya tapi aku biasa dipanggil Ocha!”jawabku sambil menarik tanganku.

Tetttt !!!!

Akhirnya istirahat juga, makan dulu ah ke kantin. Dengan segera ku berjalan ke kantin. Hmmm jauhnya tu kantin. Kok perasaan ada yang ngikutin aku ea, dan ternyata ketika kulihat ada Andre.

“Lo ngapain ngikutin gue!!”tanyaku kesal.

“Lha kan Pak Tony nyuruh gue buat sama lo, dan elo juga disuruh bantuin gue kan!!!”

“Oh ya! So what gitu lho, gue mo makan!”

“Cha cowok baru lo ya?? Kenalin dunk!!!” sapa seorang cewek sambil cengar-cengir.

“Kenalan aja ndiri!!” dan aku pun langsung beranjak ke kantin tanpa memperdulikan tu cowok lagi.

Tu cowok sebenernya cakep juga, Cuma dia tu agak rese. Makanya bikin males banget, apalagi di cerewetnya minta ampun banget.

#ANDRE#

Akhirnya aku bisa pindah ke sekolah ini juga, beruntung banget aku bisa sekelas ma ocha, semeja lagi. Ternyata keberuntungan berpihak padaku. Apa dia dah lupa ma aku ya, kok dia sama sekali gak respon ketika Pak Tony nyebut namaku. Malah kelihatan sebel banget ketika aku duduk disampingnya. Ocha-Ocha kamu tetap cantik dan lucu seperti dulu. Aku kangen banget ma kamu Cha.

Oh ya kenalin namaku Andrevia Ryozi Astara, atau lebih sering dipanggil Andre. Tujuanku pindah ke skul ini adalah untuk mengejar kembali putri kecilku yang pernah aku tinggalin karna harus pindah ke luar kota. Cha sekarang aku kembali buat kamu aku Ozy pangeran kecil kamu, aku tepatin janjiku aku kembali setelah 10 tahun.

Apa Ocha masih gak suka ma rasa moca ya? Hmmm masih banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku sehingga aku sama sekali tak bisa konsentrasi pada pelajaran pertama hari ini. Dia disampingku ingin rasanya aku memeluknya erat-erat dan tak ingin melepaskannya lagi.

Wah udah istirahat Ocha mau kemana ya, ah aku ikutin aja deh.

Hmmm dia marah-marah tu ma aku gara-gara aku ikuti.

#OCHA#

Akhirnya pulang juga, bisa bebas juga dari si cowok tengil itu. Hmmm Kak Viand mana ya? Kok belum keliatan? Mana panas banget lagi. Batinku sambil celingukan mencari Kak Viand.

“Ni Dek minum dulu biar seger!!”tiba-tiba ada sebotol minuman dingin di depan, langsung ku cari yang punya suara itu. Ah ternyata Kak Viand.

“Kakak bikin kaget aja! Kirain setan dari mana?”kataku sambil cemberut.

“Ieh masa Kakak dibilang setan?”jawabnya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku dengan lembut.

“Abisnya muncul tiba-tiba, kaya jin aj!!”sanggahku kemudian.

“Iya-iya, yuk jalan!!”ajaknya sambil menggandengku untuk naik ke mobil.

“Kak emang kita mau kemana?” tanyaku setelah Kak Viand masuk.

“Emm ada aja!!!hehehe!”godanya kembali.

“ieh kakak gak seru masa main rahasian ma adek!”kataku sambil cemberut.

“Tenang aja kali ini adek gak bakal kecewa kok!”katanya sambil mengacak-cak rambutku.

#kenapa aku seperti pernah mengenalnya ya!#bisikku dalam hati, gak tau kenapa pikiranku mendadak melayang ke Andre. Dia siapa kenapa wajahnya familiar banget buat aku.

“Kok bengong dek?? Adek marah ya ma kakak!!” pertanyaan Kak Viand membuyarkan lamunanku.

“Hah, gak kok kak. Masa cuma gitu aja adek mau marah ma kakak. Ntar malah dikira adek gak sayang lagi ma kakak!!” jawabku asal nyerocos aja, hmmm kenapa pikiranku dipenuhi oleh Andre. Hmmz aku harus bisa buang jauh-jauh pikiranku tentang Andre.

“Dek kita dah nyampe nich!!” ucap kak Viand. Aku segera mengedarkan pandanganku melihat sekitarku.

DEG! Jantungku berdetak kencang sepertinya aku pernah ke tempat ini. Lalu kulihat ada sebuah taman bermain kecil.

“Ozy!!” ucapku pelan. Tempat ini tempat bermain aku dan Ozy dulu. Hmmms perasaan ini kembali muncul. Aku kangen banget ma kamu Zy, batinku.

“Dek kamu baik-baik aja kan? Kakak perhatiin dari tadi kamu bengong melulu, kamu lagi ada masalah??” Tanya Kak Viand.

“Iya kak, aku baik-baik aja kok, Cuma agak pusing aja!”jawabku singkat, tangannya langsung menyentuh keningku.

“Iya benar kamu agak demam!”lanjutnya. Kak Viand langsung melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada badanku, “Yuk kita pulang aja!” lanjutnya kemudian.

“Kok pulang kan baru nyampe kak?”tanyaku heran.

“Kamu kan lagi sakit ntar tambah sakit gimana?Kakak gak mau kamu sakit!!”jelasnya sambil menggandengku ke mobil. Dan langsung menyuruhku masuk.

“Dek Kakak ngerasa ada yang kamu sembunyiin dari Kakak!!” tanyanya begitu ia masuk mobil. Kenapa dia bisa tau?

“Mang aku nyembuyiin apa sich Kak? Aku cuma jadi inget waktu aku masih kecil aku sering banget main di taman ini ma Mas Nathan!!” jawabku kemudian. Tapi aku yakin dia gak mungkin percaya segampang itu. Aku langsung mengalihkan pandanganku ketika tatap matanya masih menunjukan kecurigaanya padaku.

“Ya dah Kak aku pulang sendiri aja, gak usah dianterin!!” lanjutku sambil membuka pintu mobil. Perasaanku bener-bener campur aduk, aku gak tau harus bersikap kaya gimana. Tiba-tiba Kak Viand menarik tanganku sebelum aku keluar dari mobil, dan langsung menarikku dalam pelukannya.

“Gak dek, maafin kakak dah gak percaya ma adek. Kakak Cuma takut kehilangan kamu, kakak udah terlalu sayang ma kamu! Maafin kakak ya!” dalam pelukannya aku Cuma diam dan merasa bersalah. Hufftt pusing banget dech. Ne gara-gara Andre si cowok tengil itu nie aku jadi kaya gini.

“Kak pulang yuk, tapi kakak temenin aku dirumah ya!” kataku sambil melepaskan pelukannya. Dia pun mengangguk sambil tersenyum, tak lupa kecupan dikening pula. Time to go home.

#ANDRE#

Huffftttt cepet banget sich jalannya tu anak, baru keluar dah gak keliatan batang hidungnya. Nah itu dia keliatan. DEGGG! Jantungku seakan berhenti mendadak ngeliat mereka, keakraban mereka. Hemmm sepertinya aku cemburu hufftttt ternyata aku masih tetap mencintainya setelah sekian tahun aku pergi. Meski kulihat ada keceriaan di wajahnya namun aku akui aku memang iri dan merindukan kebersamaanku dengannya. Apa dia masih ingat denganku?? Aku kembali terimat terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Ocha?? Ozy mau ikut mama sama papa pergi ke Surabaya, ocha jangan lupain Ozy yaa!!!”kataku waktu itu.

“Ozy jangan jangan tinggalin ocha!!”terlihat mata kecilnya dulu berkaca-kaca.

Oh God aku merrindukannya. Gantungan kunci berbentuk bola masih ku genggam, apa dia masih nyimpen liontin hati itu.

Ahh mending aku ke rumahnya aja lah masih yang dulu mungkin. Aku kembali ke parkiran dan mengambil red jaguarku menuju rumah my little angel. Ternyata jalanan menuju rumahhnya masih sama, ku tatap rumah mewah bercat hijau muda itu, terbayang semua kenanganku dengannya, kulangkahkan kaki masuk. Kulihat Pak Parman satpam yang dulu menjaga kami yang membukakan gerbang,

“ Maaf dek ingin bertemu siapa???tanyanya.

“Ochanya udah pulang pak????” tanyaku pada Pak Parman.

“Ohhh Neng Ocha belum pulang, mau nunggu atau gimana dek???”jawab Pak Parman.

“Gak usah Pak sampein aja tadi Ozy kesini gitu aja pak!!!”jawabku ramah.

“Kamu Ozy kecil yang dulu sering main ma neng Ocha???tanyanya setengah kaget. Aku mengangguk pasti, “Nak-nak Neng Ocha itu selalu mikirin kamu, nungguin kamu selama bertahun-tahun, dan sekarang kamu sudah dewasa hmm Bapak jadi ingat waktu kalian kecil.” Lanjut Pak Parman.

“Iya pak, ya sudah saya permisi dulu ya Pak!!”ucapku seraya pamit.

“Cha aku juga kangen banget ma kamu!!!!”batinku.

#OCHA#

Akhirnya nyampe rumah juga. Tak berapa lama kemudian pak Parman menghampiriku yang baru turun dari mobil ka Viand.

“Kenapa Pak???”

“Neng tadi dicariin ma temen neng!!” sahut pak Parman.

“Siapa Pak????”gak biasanya jam segini ada orang nyariin aku.

“Den Ozy neng.!” DUAARRR kepalaku seakan tersambar petir mendengar nama itu.

“Ozy pak trus mana orangnya Pak???”tanyaku penuh selidik.

“Udah pergi Non, belum ada 10 menit!” aku langsung berlari ke gerbang nyari dia. Huh nihil jalanan lengang, ga ada siapapun. Aku berjalan lunglai kembali ke tempat Pak Parman.

“Dia ga ninggalin No telp atau alamat gitu pak.????tanyaku sendu.

“Ga neng, ya sudah saya permisi!” aku mengangguk pelan. Bahkan aku tidak mempedulikan keberadaan Ka Viand, Ka Viand Cuma terdiam ngeliat tingkahku.

“Dek! Ozy siapa??”Aku terkejut mendengar pertanyaan itu, kenapa aku bisa ga sadar ada Ka Viand disini.

“Temen adek waktu kecil Kak!”jawabku ragu, aku langsung melangkahkan kaki masuk ke rumah dan duduk di sofa memejamkan mata, kepalaku serasa berputar dan berdenyut-denyut.

“Dek makan dulu yaa, trus minum obat!! Byar agak enakan badannya!!”Nama Ozy kembali berputar dalam otakku nama itu memenuhi otakku. Dengan perlahan air mataku jatuh tanpa kusadari. Tentu saja hal ini membuat kak Vhiand makin kawatir dan dia menarikku dalam pelukannya. Kerinduan yang kini semakin menyesakkan hatiku, kenangan yang telah lama tersingkir dari otakku kembali muncul membayang, kenangan bersama Ozy semakin membuat air mataku mengalir deras.

“Dek apanya yang sakit bilang sama Kakak, kamu kenapa nangis kaya gini!! Kaka ambilkan makan yaa, kamu minum obat ya!!!”tanyanya bertubi-tubi dengan penuh kekawatiran.

“Aku ga papa kok Ka, aku Cuma pusing aja pengin bobo!!! Mungkin ntar udah baikan. Kaka pulang aja gapapa!!” keadaan seperti ini membuatku ingin menyendiri. Ka Vhiand pun mengerti dan meninggalkanku dengan tatapan tak tega. Kulihat Mas Nathan berjalan menuruni tangga, aku pun langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat karna hanya Mas Nathan yang bisa tenangin aku, tentu saja Mas Nathan heran dengan tingkahku yang tiba-tiba menangis di pelukannya.

“Kenapa Cha???lagi berantem sama Vhiand???” aku langsung menggelengkan kepalaku sambil tetap mengisak. “ Trus kenapa sayang, Mas ga pernah liat kamu nangis kaya gini!!””lanjut Nathan,

“Aku kangen Ozy kak, dia tadi kesini. Aku kangen banget ma Ozy!!” Nathan terkejut mendengar kata Ozy, feelingnya benar hanya Ozy yang bisa ngebuat aku nangis .

“Ozy kesini???kata siapa tadi gada orang kesini kok???”jawab Nathan.

“Kata Pak Parman Mas, tapi begitu tau Ocha ga dirumah dia langsung pergi!!!Aku kangen kak ma dia!!!”jawabku sambil melepaskan pelukannku.

“Percaya deh sama Mas dia pasti kesini lagi! Udah jangan nangis ya jelek!!”aku pun cemberut mendengar ucapannya yang meledekku. “Sini deh, Mas mau ngomong!”lanjutnya sambil menarikku ke sofa.

”Kalau benar yang tadi datang itu Ozy, gimana dengan Vhiand???”pertanyaan itu sangat menusuk ulu hatiku, dan langsung membuatku tertunduk. Aku sendiri bingung harus bersikap bagaimana.

“ A- aku gak tau Mas?”jawabku sambil menetesken airmata dan langsung memeluk Mas Nathan,” aku gak tau Mas aku harus bersikap bagaimana, sama Mas Nathan tapi cepat atau lambat aku bakal jelasin masalah ini ke dia Mas.”jawabku kemudian.

“Ya udah ntar kakak bantu jelasin ke dya, udah jangan nangis lagi ya???”ucapnya sambil menghapus airmataku. Dan aku kembalik memeluknya karna dengan memeluknya merupakan ketenangan tersendiri buatku. “Dih ko jadi manja banget nee sama Mas???” ledeknya yang tentu saja membuatku langsung cemberut.

“Ahhhh mas ini!!” jawabku langsung bangkit berdiri menuju ke kamar tapi tanganku langsung ditarik lagi sama Mas Nathan sampai aku terduduk lagi, tapi kemudian dia memelukku lebih erat, membuatku merasa aneh, karna ga biasanya Mas Nathan kaya gini.

“Mas baik-baik aja kan?” tanyaku kawatir.

“Gak Mas Cuma kangen meluk kamu kaya gini, ga terasa kamu sekarang udah segede ini, dulu kamu terasa kecil sekarang kaya beruang???!’’’’ucap Mas Nathan membuatku menarik diri dari pelukannya.

“Enak aja beruang,!”sungutku kesal. CUP! Tiba-tiba Mas Nathan mencium keningku,”Udah ganti baju dulu ntar abis itu baru makan bareng, oke???”lanjutnya kemudian, benar-benar Mas Nathan aneh, deh. Aku pun langsung berangjak ke kamar.

Biodata penulis : Veronicha WH

Facebook : JL Vheo Nicha

Twitter : @vheo_nicha

Cerpen Take my heart ~ 02 {Repost}

All, udah baca cerpen pupus belom?. Kalau belom baca dulu gih di cerita pendek "Pupus". Bukan apa cuma sebagai pengingat aja, Vionica disini adalah orang yang sama. Bukan Vio di Best Batam (???) ya walaupun namannya sama. XD,

Oh sama satu lagi, part satu Cerpen Take my heart part 1 juga udah baca belom. Takutnya kalau belom baca entar nggak nyambung lagi. Hi h hi

Oke deh, gak mau ngebacod langsung nulis. Secara mumpung ada waktu juga... #bukan sok sibuk, tapi beneran sibuk lho.


"Hufh...".

Untuk kesekian kalinya Vio menarik nafas dan menghembuskannya secara berlahan. Menatap gedung yang menjulang di hadapannya dengan tatapan gamang. Merasa dirinya benar - benar pengecut. Demi menjauhi dan menghilangkan rasa pada Harry, ia nekat pindah kampus. Konyol.

Tapi memangnya siapa yang bisa mendustai hati?. Berpura - pura tegar atau sok tertawa padahal hati terluka?. Dia tidak sekuat itu!. Menurutnya menghindar bukan hal yang buruk untuk di lakukan.

Setelah memantapkan hati ia segera melangkah masuk halaman kampus. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia sampai di ruangan dosen. Ya biasalah, harus menjalani prosedur sebagai formalitas mahasiswi baru. Begitu selesai ia segera melangkah keluar. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ternyata semuanya tidak sesulit yang ia bayangkan. Mulai besok ia sudah bisa melakukan kegiatan belajar mengajar di fakultas itu.

Begitu keluar Ruangan dosen, Langkah Vio terhenti. Matanya terpaku pada keempat mahasiswa yang tak jauh darinya yang kini juga sedang menatapnya. Ayolah, memangnya penampilannya aneh ya?. Atau terdapat jerawat di wajahnya?. Kenapa mereka sampai menatapnya seintens itu?.

"Ehem".

Sedikit berdehem, Vio segera melangkah melewati mereka. Makin salting saat tau pria yang tidak ia ketahui namanya masih terus menatapnya tanpa berkedip. Astaga, keluhnya dalam hati.

"Hai..".

"He?" Kening Vio berkerut, Sama sekali tidak menyangka akan di sapa mereka.

"Kali ini loe benar - benar beruntung Van, tapi kita liat aja ntar, apa keberuntungan itu akan terus berpihak sama loe".

Walau lirih, Namun Vio masih mampu menangkap suara bisikan oleh seseorang yang tidak ia ketahui namanya pada seseorang lagi yang juga masih tidak ia ketahui namanya.

"Boleh kenalan nggak?. Gue Ivan" kata cowok yang katanya bernama Ivan itu sambil menyodorkan tangannya. Vio hanya melirik sekilas. Mendadak merasa takut. Ayolah, secara di tv - tv kan banyak tuh kabar heboh soal berandalan di kampus.

"Kalau Gue Renold".

"Gue Andra".

"Aldy".

Vio hanya mengedipkan mata bingung. Sementara Ivan melirik kesel kearah teman - temannya. Uluran tangannya aja belum di sambut kenapa mereka ikut - ikutan. Lagi pula, yang mau taruhan siapa si?, Gerutnya sebel.

"Loe mahasiswi baru ya?" tanya Ivan lagi sambil menarik kembali uluran tangannya karena vio hanya menatap tanpa terlihat tanda tanda akan menyambutnya.

"O.. Jadi loe mahasiswa lama" Balas Vio lirih.

"Bhuahaummm... .." Andre cepat - cepat menoleh kearah lain. Mencoba menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat. Mahasiswa lama?. Kenapa kedengarannya janggal sekali ya?.

"Ehem.." Ivan sedikit berdehem. Mendadak mati gaya.

"Oh ya, Loe belom nyebutin nama loe" Ivan mengingatkan.

"Dan gue sama sekali tidak tertarik untuk menyebutkannya. Maaf, kalau gitu gue permisi dulu" Balas Vio ringan sebelum kemudian berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Untuk sejenak Ivan bengong. Seumur hidupnya ini untuk pertama kali ia di cuekin. Seumur - umur baru kali ini ada orang yang menolak untuk di ajak kenalan dengannya. Dan begitu menoleh.

"Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Ivan heran saat mendapati tatapan aneh ketiga temannya.

"Gue mendadak ragu kalau loe beneran playboy" Kata Renold.

"Dan gue nggak yakin kalau loe bisa naklukin dia" tambah Aldy.

"Kali ini gue optimis kita bakal menang dan loe pasti kalah" Andre menimpali.

"Eits, tunggu dulu. Ini terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Kita liat saja nanti. Yang jelas belum ada sejarahnya seorang Ivan kalah taruhan" Tandas Ivan penuh penekanan. Kali ini ketiga temannya hanya angkat bahu.

Cerpen Remaja Terbaru " Take My Heart ~ 02"

"Dasar Ivan Brengsek".

Langkah Vio mendadak terhenti mendengar teriakan yang baru saja hinggap di telinganya. Ivan?, Kenapa nama itu seperti tidak asing ya. Tidak bermaksud menguping hanya saja merasa mendadak penasaran Vio menoleh. Berjalan kearah asal suara. Mengintip dari balik tembok yang menghadap ke pekarangan kampus dimana tampak tiga orang cewek yang tidak ia ketahui siapa sedang duduk disana.

"Sudah lah Laura, Lupakan saja makhluk tak bertanggung jawab itu".

Cewek yang di panggil Laura menoleh. Sekilas Vio melihat raut sembab di wajahnya.

"Lupakan?. Tidak akan semudah itu".

"Terus loe mau ngapain?".

"Gue nggak akan membiarkan diri gue di permainkan seperti ini. Kalian bayangin. Gue, Idola di kampus kita di jadikan bahan taruhan oleh si playboy brengsek itu. Dipermalukan didepan semua anak - anak. Loe pikir gue akan diam aja?. Nggak!. Gue akan pastikan dia terima akibatnya" Dendam Laura.

"Maksut loe?".

Dan kalimat yang meluncur dari mulut Gadis yang di pangil Laura selanjutnya benar - benar membuat Vio terlonjak kaget. Mendadak menyesal telah mencuri dengar pembicaraan yang bukan menjadi urusannya. Dengan hati - hati takut kehadirannya di ketahui oleh ketiga makhluk itu selangkah demi selangkah Vio bergerak mundur.

Cerpen Remaja Terbaru " Take My Heart ~ 02"

Begitu kelas berakhir, dengan angkuhnya Ivan melangkah keluar kelas diikuti ketiga sahabat karibnya. Tatapan dan decakan kagum serta tatapan penuh minat dari lawan jenis masih saja ia temui mengikuti jejak kakinya melangkah. Walau imagenya benar - benar buruk. Terkenal sebagai playboy kelas kakap namun tetap saja fansnya bejibun. Tak heran si, dengan ketampanan serta kekayaan diatas rata - rata yang di miliknya sepertinya sudah lebih dari cukup untuk menutupi sejuta kekurangannya.

Sampai di pelataran parkir Ivan segera mengenakan helm di kepalanya. Tak lupa bertos ria bersama sahabatnya sebelum kemudian melesat pergi mengendarai motor kesayangannya. Melaju pulang kerumah.

Tepat di tikungan yang kebetulan sepi, secara mendadak Ivan mengerem motornya. Tepat di hadapannya tampak beberapa orang bertampang sangar yang sepertinya sengaja menghadangnya. Tanpa sempat memikirkan bahaya yang mengancam jiwanya Ivan sudah terlebih dahulu menyadari sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya. Membuatnya jatuh terlempar sementara motornya juga langsung ambruk ditengah jalan.

"Mau apa kalian".

Sebuah pukulan kembali mendarat secara bertubi - tubi kearah tubuh Ivan sebagai jawaban. Walau sebenarnya Ivan juga sedikit jago bela diri, Namun saat di haruskan berhadapan langsung dengan serangan mendadak dari lawan yang tidak sedikit jelas mampu membuat Ivan tak berdaya.

Disaat yang benar - benar kritis itulah Ivan mendengar tepuk tangan disusul suara tawa seorang wanita yang berjalan kearahnya.

"Wow, kasian sekali loe".

Para preman itu serentak berhenti melakukan aktifitasnya memukuli Ivan dan menoleh kesumber suara. Walau setengah sadar Ivan masih mampu mengenali sosok itu. Dia kan.... Gadis sepuluh jutanya?. Apa yang di lakukan dia disini?.

"Hei, Siapa Kau. Apa yang Kau lakukan disini?" tanya salah satu Preman itu terdengar sangar yang membuat Vio, sosok gadis yang baru muncul itu sedikit bergidik ngeri. Mendadak merasa ragu dengan apa yang telah ia rencanakan.

"Ehem" Ditariknya napas dalam - dalam sebelum mulutnya menjawab "Bukan siapa - siapa kok pak. Cuma orang yang kebetulan lewat disini terus melihat orang yang lagi berantem. Kayaknya seru nih buat dijadiin tontonan"

Bukan hanya para preman itu yang heran, tapi mata Ivan juga melotot kaget. Sama sekali tak percaya saat menatap wajah polos dan santai Vio. Apa gadis itu sudah gila, Fikirnya.

"Udah pak, Silahkan di lanjutkan. Anggap aja saya nggak ada. Lagian saya disini cuma sebentar kok. Cuma nungguin orang, palingan juga bentar lagi dia datang" Tambah Vio lagi.

"Menunggu seseorang?" tanya salah satu preman itu.

"Iya pak. Saya lagi nungguin Pak Polisi. Tadi si sudah saya telpon. Saya bilang disini ada orang yang lagi di pukulin preman. Terus Pak Polisinya bilang mau langsung kesini" terang Vio Yang kontan membuat para Preman itu terlonjak kaget.

"Yah paling juga bentar lagi nyampe" tambah Vio sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. "Em mungkin sekitar satu atau dua menit lagi lah paling lama. Soalnya...".

Sepertinya para preman itu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut Vio. Terbukti dengan cepatnya mereka berlari tunggang langgang menuju kearah motor mereka yang memang di parkir tak jauh dari tempat kejadian. Sambil mengumpat tak jelas mereka segera berlalu meninggalkan Vio dan Ivan sendirian.

Setelah mengetahui tiada lagi bayangan para preman itu barulah Vio bisa menghembuskan nafas lega. Tangannya sudah terasa panas dingin. Ia benar - benar tidak mempercayai kalau ia bisa beracting semeyakinkan ini.

"Mau apa loe?".

Refleks Vio menoleh. Baru menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. Dengan segera di hampirinya tubuh Ivan yang masih tergeletak di jalan. Berlahan di bantunya untuk bangkit berdiri dan duduk di pinggiran.

"Loe kenapa bisa ada di sini?. Dan apa yang sudah loe lakuin?" tanya Ivan lagi.

Sejenak Vio terdiam. Mulutnya sedikit maju kedepan tanda cemberut. Lagipula sudah di bantuin juga bukannya bilang terima kasih malah ngebawel.

"Masih nanya lagi, Jelas - jelas gue disini bantuin loe. Bilang ma kasih dulu kek" Balas Vio sewot.

"Bantuin gue?" Kening Ivan berkerut bingung.

"Terus loe pikir tu para preman Kabur tunggang langang karena keinginan suka rela?".

"Mereka kabur karena mereka takut sama polisi" Balas Ivan sewot.

"Polisi mana memangnya yang mau nyasar kesini. La wong jelas - jelas sepi gini juga?" tanya Vio.

"Tunggu dulu, Bukannya loe bilang loe sudah nelpon polisi untuk datang kesini ya?" tanya Ivan lagi. Kali ini raut bingung jelas tergambar di wajahnya.

Bukannya langsung menjawab Vio justru malah tertawa lepas. Tanpa beban. Dan sungguh, Sumpah demi apapun. Ini untuk pertama kalinya Ivan melihat tawa yang seindah itu. Sebuah tawa yang mampu membuat rasa sakit yang beberapa saat lalu menguasai hatinya mendadak menguap begitu saja. Ya Tuhan, Ini benar - benar tidak masuk di akal baginya.

"Ke..ke... Kenapa loe menatap gue seperti itu?" Tanya Vio mendadak horor saat mendapati raut perubahan di wajah Ivan yang seolah baru tersadar dari lamunannya segera mengalihkan tatapannya.

"Ehem, Terus polisinya mana?" tanya Ivan mengalihkan perhatian.

"Ha ha ha..... Sebenernya loe itu memang bego atau stupid si?. Mau aja di kibulin kaya tu preman. Ya ela, Emang gue bisa punya nomor telpon polisi dari mana?".

"Maksutnya?" Ivan kembali bingung.

"Tentu saja yang tadi itu bo'ong. Nggak ada polisi yang akan kesini. Tadi itu cuma akal - akalan gue buat ngusir tu perman. Nggak nyangka tu orang - orang pada gampang banget di kibulin" terang Vio lagi.

Untuk sejenak Ivan terdiam. Mencoba mencerna kembali apa yang telah terjadi. Tunggu dulu, jadi....

"Jadi loe nekat boongin para preman itu tadi?" tanya Ivan langsung. Vio hanya membalas dengan anggukan.

"Terus kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana?".

Vio terdiam. Mendadak cemas sekaligus kaget. Benar juga, kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana?. Ah, kenapa tadi ia sampai lupa memikirkan resiko itu ya?.

"Inget, Jangan pernah sekalipun loe mengulangi hal seperti ini Nona manis. Tindakan ini benar - benar berbahaya loe tau" Tandas Ivan penuh penekanan.

Lagi - lagi Vio terdiam mendengarnya. Tapi beberapa detik kemudian.

"Nona manis?. Siapa yang loe maksut nona manis. Enak aja, Gue punya nama. Nama gue Vio tau" Geram Vio sewot.

Melihat raut cemberut Vio dengan mulut yang sedikit maju kedepan tak mampu membuat Ivan menahan senyumnya. Raut wajah gadis itu kali ini benar - benar terlihat imut menurutnya. Hal yang aneh untuk diakui.

"O, Jadi nama loe vio. Tapi Kalau gue nggak salah inget, Bukannya tadi siang ada yang bilang untuk tidak tertarik mengucapakan namanya ya?".

Pertanyaan yang jelas - jelas menyindir itu kontan membuat Vio mengangkat tangannya secara refleks dan mendaratkannya di kepala Ivan. Bukannya marah karena di jitak secara mendadak, Ivan justru malah tertawa ngakak.

"Baiklah, Karena sepertinya loe udah bisa ketawa , gue udah bisa pergi sekarang. Bye bye" Vio bangkit berdiri, bersiap untuk berlalu tapi cekalan di tangan menghentikan langkahnya.

"Tunggu dulu. Loe belom menjelaskan kenapa loe bisa berada disini pada saat dan waktu yang tepat?".

"Oh, Itu karena gue sepertinya sedang sial. Kenapa juga gue harus ketemu sama orang yang berniat untuk bales dendam pada seorang playboy kelas kakap seperti loe yang emang pantesnya itu di buang kelaut" balas Vio cuek.

"Playboy?, Balas dendam?, Dibuang kelaut?" Ulang Ivan mendadak pusing.

"Iya!. Puas loe?" Balas Vio. "Ah satu lagi, Keliatannya loe juga cuma lebam - lebam doank. Dan berhubung loe nggak pake rok alias cowok, so gue nggak perlu nganterin juga kali ya?. Loe bisa pulang sendirikan?. Oke, bye bye".

Selesai berkata Vio segera belalu. Menyetop taxsi yang kebetulan lewat. Segera berlalu meninggalkan Ivan dengan kebisuannya.

To Be Continue dulu ya...

Untuk lanjutannya bisa kalian baca di blog "Star Night".
Oh ya, kebetulan part 3 nya udah muncul. silahkan klik "Cerpen Take my heart part 3".

Cerpen Take my heart ~ 01 {Repost}

Sebelum baca, Ana selaku penulis mau cuap cuap dulu gak papa kan?.

Gini lho, Ehem. Waktu buat aktif di dunia maya ataupun dunia tulis menulis sekarang udah beneran minim banget. Tapi tetep, ana berusaha untuk terus menulis. Jadi paling nggak buat yang udah baca, Tinggalin lah sedikit jejaknya.

Bukan, bukan karena minta di hargai, cuma buat mastiin aja kalau apa yang lakukan bukanlah hal yang sia - sia.

Oke, segitu doank. Silahkan langsung di baca bagi yang mau baca. ^_^

Orang bilang cinta itu sederhana....

Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton.

Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan.

Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan.... #Take My Heart



Cerpen remaja 2013 " Take My Heart" ~ 01

"Ah, Mereka benar - benar pasangan yang serasi ya?".

"Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess".

"Sulit di percaya, Kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan".

Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan di sampingnya. Menuruti tawaran Menjadi Pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian.

"Sayang, Kita ke Kekantin dulu yuk. Gue laper nih" Ajak Laura terdengar manja membuat Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.

Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya.

"Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan.

"Oh, Itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" Tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman - temannya.

"Oh ya?" Wajah Laura tampak bercahaya.

"Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi".

"Apa?" apa tanyanya sedikit mengernyikan dahi.

"Gue mau kita putus" Kata Ivan singkat, padat dan jelas.

"Apa?" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura.

"He he he, loe bercanda kan?" Kata Laura setelah berfikir sejenak.

"Jadi menurut loe ini lucu?" Bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan.

"Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. Na hubungan kita juga baik - baik aja. Seenggaknya sebelum..." Laura melirik jam tangannya " 20 detik yang lalu".

"Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?".

"Apa?".

"Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen - temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" Kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lemaran uang ratusan sudah tertera di sana.

"Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".

Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu mencekalnya.

"Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" Kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, Image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue" sambung Ivan lagi.

"Sialan loe. Dasar brengsek" Geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas.

"Terima kasih atas pujiannya" Balas Ivan santai.

"Denger ya, Gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue" Ancam Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka.

"Kita liat aja nanti" Ivan cuek.

Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya.

"Wow, Sulit di percaya. Loe benar - benar melakukannya" Komentar Renold sambil mengelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya.

"Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil" sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri.

"Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.

Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur.

"Jika kalian siap untuk kalah lagi".

"Wow, Pe-De sekali" Komentar Renold.

"Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.

Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya.

"Kita liat aja nanti".


Cerpen remaja 2013 " Take My Heart" ~ 01

"Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus.

"Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita" Terang Andra.

"Makstu loe?" tanya Ivan.

"Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, Loe siap untuk ber'Main?" Tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan.

Ivan hanya mengangguk.

"Apapun?".

"Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" Balas Ivan membuat temannya mencibir menedengarnya.

"Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi.

"Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan.

"Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen.

"Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung.

"Itu permainannya".

"Maksut loe?" Tanya Aldy bingung sambil membenarkan letak kaca matanya.

"Loe" tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu".

"Apa?!" secara koor ke Tiga orang yang itu berujar tak percaya.

"Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" Celetuk Aldy.

Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, Pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas - jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri.

"Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada .... bapak - bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan senyum saat melihat tampang kecut Ivan.

"Ke laut aja loe" Damprat Ivan kesel.

"Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan?. Bagaimana?" tawar Andra lagi.

"Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" Gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar.

"Ya itu resiko" Andra cuek bebek.

"Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang" Potong Ivan terlihat frustasi.

"Wukakkaka.... Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita - wanita setia pada suaminya?" Tanya Andra balik.

"Lagian, ayolah. Kalikankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.

Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, Dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya.

"Deal. Gue setuju" kata Ivan akhirnya.

"Loe serius?" Renold terlihat tak percaya.

"Ah ini beneran gila. Bermain - main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara.

"Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono" Cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel.

"Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju.

"Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung" Sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.

Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda - tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.

Semuanya langsung pasang mata baik - baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya....

"wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing.

"Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, Beneran belum beruntung namanya" Komentar Andra setelah tawannya mereda.

"Tampang loe jangan pucet gitu donk van, loe kan nggak harus pacaran sama dia" Tambah Renold berusaha menghibur.

"Iya nih. Kayak di kerupuk - kerupuk (??) kan masih ada istilah "Coba Lagi" Aldy menimpali.

Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana Hening, Sepi, Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti...

Sosok itu..............

Oke, Bersambung dulu ya.....

Wukakakkakkaka, Syukur deh punya waktu buat nulis diantara waktu kerja yang... Ah, No coment deh. Yang jelas Ide ini sudah lebih dari cukup untuk membuat penulis membatalkan niat ngetik The princes #Ditendang.

Over All, Thanks udah mau baca. N masalah lanjutannya, bantuin doa ya semoga penulis punya waktu buat ngetik. Secara, Asal kalian tau aja 'Dunia nyata' ternyata menyeramkan. ho ho ho.

Akhir kata, See You In Next Part.......