Cerpen Take my heart ~ 01 {Repost}

Sebelum baca, Ana selaku penulis mau cuap cuap dulu gak papa kan?.

Gini lho, Ehem. Waktu buat aktif di dunia maya ataupun dunia tulis menulis sekarang udah beneran minim banget. Tapi tetep, ana berusaha untuk terus menulis. Jadi paling nggak buat yang udah baca, Tinggalin lah sedikit jejaknya.

Bukan, bukan karena minta di hargai, cuma buat mastiin aja kalau apa yang lakukan bukanlah hal yang sia - sia.

Oke, segitu doank. Silahkan langsung di baca bagi yang mau baca. ^_^

Orang bilang cinta itu sederhana....

Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton.

Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan.

Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan.... #Take My Heart



Cerpen remaja 2013 " Take My Heart" ~ 01

"Ah, Mereka benar - benar pasangan yang serasi ya?".

"Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess".

"Sulit di percaya, Kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan".

Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan di sampingnya. Menuruti tawaran Menjadi Pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian.

"Sayang, Kita ke Kekantin dulu yuk. Gue laper nih" Ajak Laura terdengar manja membuat Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.

Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya.

"Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan.

"Oh, Itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" Tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman - temannya.

"Oh ya?" Wajah Laura tampak bercahaya.

"Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi".

"Apa?" apa tanyanya sedikit mengernyikan dahi.

"Gue mau kita putus" Kata Ivan singkat, padat dan jelas.

"Apa?" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura.

"He he he, loe bercanda kan?" Kata Laura setelah berfikir sejenak.

"Jadi menurut loe ini lucu?" Bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan.

"Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. Na hubungan kita juga baik - baik aja. Seenggaknya sebelum..." Laura melirik jam tangannya " 20 detik yang lalu".

"Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?".

"Apa?".

"Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen - temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" Kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lemaran uang ratusan sudah tertera di sana.

"Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".

Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu mencekalnya.

"Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" Kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, Image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue" sambung Ivan lagi.

"Sialan loe. Dasar brengsek" Geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas.

"Terima kasih atas pujiannya" Balas Ivan santai.

"Denger ya, Gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue" Ancam Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka.

"Kita liat aja nanti" Ivan cuek.

Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya.

"Wow, Sulit di percaya. Loe benar - benar melakukannya" Komentar Renold sambil mengelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya.

"Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil" sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri.

"Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.

Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur.

"Jika kalian siap untuk kalah lagi".

"Wow, Pe-De sekali" Komentar Renold.

"Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.

Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya.

"Kita liat aja nanti".


Cerpen remaja 2013 " Take My Heart" ~ 01

"Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus.

"Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita" Terang Andra.

"Makstu loe?" tanya Ivan.

"Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, Loe siap untuk ber'Main?" Tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan.

Ivan hanya mengangguk.

"Apapun?".

"Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" Balas Ivan membuat temannya mencibir menedengarnya.

"Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi.

"Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan.

"Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen.

"Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung.

"Itu permainannya".

"Maksut loe?" Tanya Aldy bingung sambil membenarkan letak kaca matanya.

"Loe" tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu".

"Apa?!" secara koor ke Tiga orang yang itu berujar tak percaya.

"Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" Celetuk Aldy.

Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, Pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas - jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri.

"Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada .... bapak - bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan senyum saat melihat tampang kecut Ivan.

"Ke laut aja loe" Damprat Ivan kesel.

"Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan?. Bagaimana?" tawar Andra lagi.

"Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" Gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar.

"Ya itu resiko" Andra cuek bebek.

"Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang" Potong Ivan terlihat frustasi.

"Wukakkaka.... Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita - wanita setia pada suaminya?" Tanya Andra balik.

"Lagian, ayolah. Kalikankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.

Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, Dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya.

"Deal. Gue setuju" kata Ivan akhirnya.

"Loe serius?" Renold terlihat tak percaya.

"Ah ini beneran gila. Bermain - main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara.

"Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono" Cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel.

"Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju.

"Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung" Sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.

Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda - tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.

Semuanya langsung pasang mata baik - baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya....

"wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing.

"Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, Beneran belum beruntung namanya" Komentar Andra setelah tawannya mereda.

"Tampang loe jangan pucet gitu donk van, loe kan nggak harus pacaran sama dia" Tambah Renold berusaha menghibur.

"Iya nih. Kayak di kerupuk - kerupuk (??) kan masih ada istilah "Coba Lagi" Aldy menimpali.

Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana Hening, Sepi, Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti...

Sosok itu..............

Oke, Bersambung dulu ya.....

Wukakakkakkaka, Syukur deh punya waktu buat nulis diantara waktu kerja yang... Ah, No coment deh. Yang jelas Ide ini sudah lebih dari cukup untuk membuat penulis membatalkan niat ngetik The princes #Ditendang.

Over All, Thanks udah mau baca. N masalah lanjutannya, bantuin doa ya semoga penulis punya waktu buat ngetik. Secara, Asal kalian tau aja 'Dunia nyata' ternyata menyeramkan. ho ho ho.

Akhir kata, See You In Next Part.......


EmoticonEmoticon