Cerita Motivasi "Tak sebiru langit" ~ 01 of 2

Tara, ada cerpen kiriman dari reader ni. Ceritanya bagus, N aku suka. Pengambarannya ceritanya juga keren. Good deh pokoknya. Cuma karena_menurut aku_ cara penulisannya masih sedikit berantakan, so ku edit - edit sedikit. Nggak papa kan?.
Nah, buat reader yang lain. Yang ingin karyanya juga di posting di blog ini juga bisa ikutan kok. Caranya gampang banget. Cukup kirimkan karya kalian ke alamat email atas nama anamerya17@gmail.com. Ntar pasti ana posting.
Nah, bagaimana soal ceritanya, ayo kita baca bareng bareng.

Cerita Motivasi Tak Sebiru Langit

Akhirnya ku biasa menyelesaikan lukisanku yang akan dipamerkan pada pameran besok,tak sabar rasanya tuk memamerkan lukisan tersebut. Tak terasa waktu telah menunjukkan jam 10 malam, aku pun berkemas tuk menyiapkan semua sebelum pergi tidur.
“ku rasa dah siap semua,lukisan yang akan ku pamerkan besok……..”kataku sambil merapikan kanvas.
“bener mas mau lukisan ini yang mas pamerkan besok”Tanya pak Asto,asistenku. ”saya rasa besok pasti banyak yang akan membeli lukisan mas.” Sambungnya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya”bapak ini selalu saja berharap seperti itu,”kataku.
“lho apa salahnya kalau kita berharap lebih,kan bagus buat do’a mas”jawab pak Asto.
“ Iya ya, Ya udah semua dah siap lebih baik kita bergegas tuk istirahat buat acara besok,oke Pak” kataku sambil memegang bahu pak Asto kemudian pergi ke kamar.
Jam beker berbunyi membangunkanku dari mimpi-mimpiku. “Huuh padahal masih ngantuk banget”kataku dalam hati.
“Astaga sudah siang ternyata.” Kata setelah melihat jam beker yang terpampang di meja. Waktu sudah menunjukkan pukul 8,padahal lukisan-lukisan ku akan dibawa ke pameran jam 7,. Aku langsung mengambil langkah seribu tuk mandi dan langsung bergegas ke sanggar. Setelah disana sudah tak ada lukisan-lukisanku.
“Hem…….mas bangun telat y pagi ini”Tanya Pak Asto yang mengagetkanku.
“Iya ni pak,huuh semuanya dah diangkut y??”tanyaku.
“Ia udah diangkut tadi jam 7an, Tumben sekali hari ini mbak Laila yang mengambil langsung padahal biasanya kurir - kurirnya” Kata Pak Asto.
“Aku pun tak tau mengenai itu, Dia tidak bilang apa apa sebelumnya” kataku sambil duduk dan meraih minum yang disuguhkan oleh pak Asto.
“Ya udah mending mas sarapan dulu,terus ke pameran itu. Sapa tau ada yang ingin dibicarakan oleh mbak Laela sama mas”kata Pak Asto.
Aku hanya mengangguk saja,sambil menyantap sarapan.
Dengan penasaran kenapa Laela langsung datang ke sanggarku,aku akhirnya pergi ke pameran,dimana Laela yang menghandle acara itu. Tak biasa memang aku ke pameran . Biasanya aku hanya menunggu kabar dari Laela atas penjualan lukisan-lukisanku di rumah dengan santai.
“Hem aku penasaran kenapa Laela datang ke rumah perasaan dia tak pernah datang langsung ke tempatku,acara pameran dimulai jam sepuluh,ini udah menunjukkan jam 11,tak apalah sekalian aku ingin liat gimana pameran berlangsung”kataku dalam hati sambil meluncur ke tempat dimana pameran diselenggarakan.
Sesampainya ditempat yang ku tuju,ternyata masih banyak orang disana. Berbagai orang berkumpul,tapi tak ada yang aku kenal. Aku melihat-lihat lukisan yang ada didalam sambil mencari Laela,ternyata bukan lukisanku saja yang dipamerkan disini.
“Mbak, aku mencari mba Laela dimana dia”tanyaku pada seorang petugas disitu.
”Owh mba Laela sedang ada urusan didalam,sebentar saya panggilkan mas. Maaf sebelumnya, kalau boleh tau, ini dengan mas siapa ya?”jawab petugas itu.
”mas Fian” jawabku singkat. Petugas itupun pergi dari hadapanku.
Memang susah bertemu Laela karena dia termasuk orang yang sibuk. Ku edarkan pandanganku ke sekitar tempat ini sambil menunggu Laela.
”Hem,sungguh bagus-bagus lukisannya,dekorasi ruangan pun bagus sehingga membuat lukisan jadi cocok berada di tempatnya” Pikirku.
Pandanganku berhenti dan tertuju pada seseorang yang memegang sebuah lukisan dengan penuh perasaan, ya itu lukisanku. Aku pun mendekat ke gadis itu. Gadis yang menggunakan kursi roda.
“Maaf nona,kenapa kau memandangi lukisan ini dengan penuh perasaan??”tanyaku.
Gadis itu menoleh,ternyata suaraku mengagetkannya. Gadis itu hanya diam tersenyum,tak ada sebuah kata yang terucap darinya. Dia juga kembali memandangi lukisanku,dan tak menghiraukanku yang berada disampingnya, cukup lama ku mengamatinya dengan penasaran.
“Naela” terdengar suara yang memanggil.
Kami pun menoleh secara bersama ke arah suara. Ternyata suara itu datang dari Laela.
“Kalian disni rupanya,hay yan” kata Laela sambil melangkah ke gadis tersebut.
“Aku tadi mencarimu keliling ruangan ternyata kau disini bersama Naela?” kata Laela.
“Ya aku juga mencarimu tuk menanyakan kenapa tadi pagi kau ke rumahku, tidak bisanaya itu terjadi” Jawabku.
“Dan tak seperti biasa juga kau kesini kan??”kata Laela sambil tersenyum,gadis itu pun ikut tersenyum.
“Oh ya aku sampai lupa,kenalkan ini adikku Naela,dia penggemarmu lho.” Lanjut Laela.
”kakak” kata Naela sambil mencubit punggung kakaknya.
”ternyata kau bisa bicara juga”kataku,dia hanya nenunduk malu.
”aku ke rumahmu tuk mengenalkan kau dengan adikku,tapi ternyata kau malah udah bertemu dengannya. Liat dek idolamu dah ada disampingmu.” Kata Laela menggoda Naela.
Aku hanya tersenyum mendengarnya,Laela pergi meninggalkan kami karena ada urusan., aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Laela bahwa gadis dengan penampilan sederhana yang berada dihadapanku ini adalah penggemarku,dan dia sangat misterius.


Cerpen Tak Sebiru Langit

“Apa mas punya penggemar?”Tanya pak Asto dengan ekspresi kaget.
“Nda usah kaget gitu pak”jawabku.
”saya heran aja mas, kebanyakan yang datang ke pameran tersebut kan orang tua-tua,jadi penggemar mas orang tua donk. Hahhahaha”lanjut Pak Asto.
”sembarangan ni pak Asto,dia bukan orang tua,dia masih muda dan cantik,tapi sayang dia memakai kursi roda”kataku.
”Namanya siapa mas?”Tanya pak Asto.
“Namanya Naela dia adik dari Laela”.
Kami bercakap-cakap setelah kepulanganku dari pameran,sampai saat ini aku masih terbayang-bayang wajah Naela. Ingin rasanya aku mendekati dia. Ku baringkan badan diatas tempat tidur,selama ini aku melukis tapi tak pernah ada yang memandangi lukisanku dengan penuh perasaan seperti itu, hem aku akan mencoba menghubungi Naela,siapa tau dia mau ku ajak bertemu kembali. Kupencet tombol dari hp ku untuk menghubunginya.
“ haloo” dia pun menjawab. Kami saling bertanya sana sini. Saling mengobrol ternyata dia gadis yang menyenangkan.
Tak butuh waktu yang lama tuk akrab dengannya karena hobi kami yang sama yaitu melukis. Aku pun diajak ke sanggar lukisnya.
“aku suka melukis disini’kata Naela.
“Hem tempat yang menyenangkan,membuat kita jadi bisa melukis dengan bebas.”kataku.
”oh ya kau kan suka melukis?, terus kakakmu juga organizer sebuah pameran,kenapa lukisanmu tak kau pamerkan?” tanyaku.
Naela hanya tersenyum sambil memindahkan peralatannya “aku kurang pede dengan lukisanku karena lukisanku tak seperti kebanyakan orang”jawabnya datar.
Dia yang memegang sebuah kotak kuas yang cukup ringan seperti seorang dewi bagiku,tiba-tiba kotak itu terlepas dari tangannya,dan jatuh berantakan membuatku tersadar dari lamunanku.
“kau tak apa- apa Naela?”tanyaku.
Naela hanya menggeleng, menurutku Naela aneh,kadang-kadang dia seperti orang struk,yang tak bisa menggerakkan anggota badannya sendiri.
Berkali-kali ku bertanya pada Naela,tapi dia tak pernah menjawab kalau dia sakit,dia bilang dia duduk dikursi roda karena sebuah kecelakaan. Membuatku berniat untuk mencari taunya melalui Laela.
“hay fian,tumben mencariku. Ada apa?”Tanya Laela,
”aku menemuimu karena aku ingin Tanya,siapa yang membeli lukisanku yang ku beri judul harapanku?”tanyaku kepada Laela.
“ada ko’ Cuma orangnya nggak mau bilang identitasnya,kenpa kamu Tanya soal itu??”Tanya Laela lagi.
”Aku hanya penasaraan aja, Orang yang membeli lukisanku sebelum-sebelumnya kau begitu tau tentang identitas mereka tapi kenapa yang ini kau tak tau? Itu anehkan?. Apa mungkin kau tau tapi tak ingin mengatakannya padaku?”.
Laela hanya tersenyum,tapi tetap saja tak mau mengatakan siapa yang membelinya.
“Oh ya Laela, aku ingin bertanya sebenarnya Naela itu sakit apa??tanyaku.
“kenapa kau bertanya seperti itu?” Lalila balik bertanya.
“Ma’af bukannya aku menyinggung perasaanmu aku hanya penasaran kenapa dia selalu membawa obat??”lanjutku.
“Kalau begitu aku juga minta maaf, karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu”.
“Oh ya aku ada urusan. Bukankah kau juga ada janji sama Naela”jawab Laela mengingatkanku pada janji yang ku buat bersama Naela bahwa kami akan saling belajar tentang melukis. Aku mengangguk membenarkan sebelum kemudian berlalu.

Biodata penulis : Novi
Facebook : DevilOpi DhiM-dHim
Next to Cerita Motivasi Tak Sebiru langit part End.

SongFic | Aku Masih Mencintamu

Tuing tuing tuing, eh songfic lagi. Tau nie napa sama imagi ku, baru denger lagu aja nie jari langsung ‘menari’ diatas keyboard. Ha ha ha. Nah kalau yang kemaren kan “SongFic aku masih menunggumu” kali ini “Songficaku masih mencintamu”. Nyambung ya?. Ia dunk, kan kisah ku #plaks…..
Ehem, gimana ceritanya?, langsung baca aja yuk. Oh ya, setelah di baca jangan lupa ninggalin jejaknya ya. Ya minimal di ‘like’ lah.
& than , Happy reading!!!.
Rasa takut kehilangan mu
Kini menjelma menjadi nyata
Ku tak bisa menghindar
Mungkin cinta ku tlah usai


Songfic Aku masih mencintamu
 Credit Gambar : Star Night

“Mbak, mie so satu, es Rumpu lautnya dua sama baksonya satu. Tapi baksonya jangan di kasi bawang goreng sama mie nya ya mbak” Kata Andra menyebutkan persanannya kearah pelayan kantin kampus.
“Loe tau aja selera gue” kata Ira sambil tersenyum.
“Iya donk. Gue kan tau banget kalau loe suka sama mie so dan es rumput laut” balas Andra sambil tersenyum. Ira hanya mengangguk membenarkan.
Tak berapa lama Pesanan mereka datang. Keduanya segera menikmati dengan sesekali di selingi canda tawa seperti biasanya. 

  
“Ira, loe tau nggak si?. Andra itu deket sama selvina”.
“Gue nggak percaya” Bantah Ira untuk kesekian kalinya setelah Ardi kembali mengatakan kalimat dengan maksud yang sama. Yah walau pun gosip itu selama ini sudah menyebar , tapi ia memang sengaja menutup telingannya rapat – rapat. Toh ia tidak pernah melihatnya langsung. Jadi bisa saja itu hanya kabar burung semata.
“Kalau gitu, sekarang coba loe liat itu”.
Ira menoleh. Menatap lurus kearah telunjuk Ardi. Hatinya mencelos. Sakit saat pandangannya mendapati Andra dan Selvina yang kini tampak sedang duduk berdua di salah satu bangku di depan kampus dengan tetawa bahagia. Tiba – tiba matanya terasa memanas. Jadi gosip itu bener?. Dengan lemah ia berbalik pergi. Menjauh dari apa pun yang ada di hadapannya. Tapi sebuah tangan telah terlebih dahulu mencekalnya.
“Itu bukan Cuma gosip semata bukan?. Sekarang loe taukan, kalau Andra tidak benar – benar mencintaimu. Baiklah, mungkin di memang mencintaimu, tapi itu dulu. Sebelum selvina muncul dan merubah semuanya” tambah Ardi berusaha menyadarkannya.
Untuk sejenak Ira menghela nafas. Di tepisnya tangan Ardi sebelum kemudian melesat pergi. Terserah kemanapun.

Kata maaf tak bisa menebus
Atas satu khilafku padamu
Kau merasa di hianati
Kau putuskan untuk pergi

Tanpa menoleh kekiri dan kanan Ira terus melangkah. Mengabaikan semua hal yang ada di sekelilingnya. Bahkan mengabaikan teriakan Andra yang kini tampak berlari mengejarnya yang memang sudah melangkah duluan.
“Hei, loe kenapa si?. Masa gue di tinggal. Hu...” tanya Andra setelah berhasil mensejajarkan langkahnya.
“Ira, loe baik – baik aja kan?” tambah Andra.
Kali ini dengan raut wajah serius saat mendapati tiada reaksi yang berarti dari ira. Gadis itu tetap melangkah dengan tatapan kosongnya. Tak ingin terlalu larut dalam kebingungan, Andra segera mencekal tangannya. Memaksa gadis itu untuk menoleh kearahnya.
Walau berusah untuk melepaskan diri pada awalnya namun akhirnya Ira lebih memilih menyerah. Tidak munkin ia bisa melepaskan cekalan kekar sosok yang di hadapannya.
“Kenapa?” tanya Ira dengan pandangan lelah.
“Justru gue yang mau nanya. Loe kenapa?” Andra balik bertanya. Merasa  khawatir sekaligus bingung  . Membuat ira merasa ragu untuk melanjutkan rencana yang sudah ia pikirkan sejak dua jam yang lalu setelah ia memergoki ke akraban Andra yang notebene nya adalah kekasihnya dengan Si selvina. Mahasiswi transferan di kampus mereka sejak dua bulan yang lalu.
“Gue cape. Gue merasa sangat lelah”.
“Cape?. Oke ya sudah kalau gitu. Sekarang juga ayo kita pulang. Gue langsung anterin loe pulang” Kata Andra cepat.
Tanpa melepaskan gengaman tanggannya ia segera melangkah menuju ke parkiran. Tapi saat mendapati Ira yang sama sekali tidak beranjak membuatnya kembali menghentikan langkahnya.
“Maksut gue, gue merasa lelah sama hubungan kita”.
“Apa?. Maksut loe?” tanya Andra makin bingung.
“Gue mau kita putus”.
Gengaman Andra langsung terlepas. Mulutnya terbuka tanpa suara. Ia benar – benar tidak yakin akan apa yang di dengarnya barusan. Ira, gadis yang sudah menyandang status ‘pacar’ nya sejak tiga tahun yang lalu tiba – tiba mengatakan hal yang sangat di luar pikiran.
“Leo bercanda kan?” tanya andra kemudian. Mengharap kan kata tidak dari gadis itu, namun justru anggukan yang ia dapatkan sebagai jawaban.
“Tapi kenapa?” tanya Andra lagi.
Mulut Ira terbuka, tapi tiada suara yang keluar dari sana. Lidahnya tiba – tiba terasa kelu. Ia sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan. Putus?. Bodoh, itu bunuh diri sebenernya. Tapi  mengingat apa yang ia lihat tadi sepertinya ini memang keputusan yang terbaik. Dari pada ia merasakan lebih sakit lagi saat Andra yang memutuskannya untuk pergi kepelukan gadis lain. Lebih baik ia yang memutuskannya. Toh pada akhirnya semua akan tetap sama. Lagipula Bukan kah pepatah bilang. Lebih cepat lebih baik?.
“Gue harus tau alasannya” kata Andra tegas. Tak ingin melepaskan apa yang menjadi haknya dengan begitu saja. Apalagi melepaskan satu – satunya gadis yang ia cintai.
“gue...”.
“Ira” sebuah teriakan menginterupsi keduanya. Refleks Andra menoleh. Merasa heran saat mendapati  Ardi yang kini tampak melangkah menghampiri.
“Ira, kok loe di sini. Tadi katanya loe mau pulang bareng sama gue. La gue jemput kekelas loe eh malah udah kosong. Gimana si?” cerocos Ardi langsung. Tak menyadari tanggan Andra yang terkepal erat sambil menatap tajam kearahnya.
“Jadi kok. Sory tadi gue lupa” balas Ira sambil berusaha menyungingkan senyum di wajahnya.
 Melihat hal itu membuat Hati Andra mencelos. Merasakan rasa sakit yang berkali lipat dari kata ‘putus’ yang ia dengar beberapa saat yang lalu. Kini sebuah Pemahaman baru terlintas di kepalannya. Jadi ini alasan gadis itu.
“Andra, maaf gue...”.
“Oke, kalau memang itu mau loe. Gue setuju, mulai sekarang. Detik ini juga kita putus” potong Andra cepat
Selesai berkata Andra segera berbalik. Sama sekali tak ingin menoleh lagi. Ia tidak yakin jika ia menoleh ia akan rela melepaskan semuanya.

Ku coba tersenyum saat kau pergi
Meski lara hati menagis melepasmu
Andaikan kau tau
Betapa aku masih mencintamu

Ardi berdiri kakau saat melihat adegan yang terjadi di hadapannya. Mulutnya terbuka tanpa suara. Ditatapnya punggung Andra yang semakin menjauh. Dan saat perhatiannya teralih kearah ira, ia hanya mampu menghela nafasn . Tangannya secara refleks terangkat. Menarik gadis itu kedalam pelukannya. Membiarkan air mata tumpah membasahi bahunya. Hatinya juga ikut merasakan sedih saat menyadari seseorang yang sudah di anggapnya seperti adik kandungnya sendiri terluka seperti itu.
“Ira, loe baik – baik saja kan?” tanya Ardi beberapa saat kemudian saat Ira melepaskan pelukannya.
Mencoba tersenyum walau pahit mulut ira terbuka “Mungkin belum. Tapi gue pasti akan baik – baik saja”.
Ardi terdiam. Tidak membantah namun juga tidak membenarkan. Sekali lagi di perhatikannya gadis yang kini berada di hadapannya. sementara yang di tatap justru sama sekali tidak menyadari. Matanya terus terarah lurus kearah sosok yang semakin menjauh dari pandangan. Sosok yang beberapa menit yang lalu masih berstatus sebagai ‘pacar’.
Jika menurutkan hatinya, ingin sekali ia berlari memeluk pria itu. Mengatakan bahwa ia sangat ingin sekali menarik kembali ucapannya. Mengatakan bahwa ia masih sangat mencintainya. Tapi sepertinya itu mustahil. Sebagian hatinya menahannya. Mengatakan padanya bahwa ini adalah yang terbaik. Terbaik untuk semuanya.....

Ingin rasa nya aku memelukmu
Untuk terakhir kali sebelum engkau pergi
Namun ku takut tak mampu
Menahan air mataku.

Cerpen sedih "Pupus" {Repost}

Huwahahahahha, Hasil mengalau di angkot di temani samsung di tangan, So biarin deh jari ini menari di atas keyboard (???). Dan hasilnya,Beginilah..... Cerita Pendek yang asli, Beneran Gak jelas.

PS: sebelumnya sudah pernah di post di blog "Star Night". Tapi karena ada trouble something terpaksa di pindah kesini. "V"

Aku mencintaimu,
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.
Aku mencintaimu,
Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku.
Aku mencintaimu,
Aku mencintaimu dengan kata yang tak mampu untuk ku ungkapkan.
Sampai kini,
Aku membencimu...
SANGGAT!!!...


Cerpen Pendek "Pupus"
Sebuah senyum terukir manis di sudut bibir vionica saat menatap langit sore di taman tak jauh dari tempat tinggalnya. Kegiatan rutin yang ia lakukan setiap sore. Tidak pernah sekalipun ia alpa mengunjungi taman itu kecuali cuaca tidak bersahabat.

Melihat awan yang berarak di sekeliling langit biru benar - benar menenangkan hatinya. Rasanya semua rasa lelah serta berat beban yang ia tanggung menguap begitu saja.

Di liriknya jam yang melingkar di tangan, pukul 17:00 kurang seperempat. Sepertinya tanpa sadar ia sudah menghabiskan waktu hampir 15 menit duduk santai di sana. Hanya diam menatap langit, sama sekali tidak memperdulikan sekeliling yang kadang masih saja ada yang heran menatap ulah nya. Walau sebagian lainnya sudah menganggap itu hal biasa.

Terlebih dahulu menarik napas dalam - dalam akhirnya Vionica bangkit berdiri. Melangkahkan kaki kearah rumah tingkat bercat kuning di kawasan cendana. Yang sudah sejak Empat bulan terakhir ditetapkan sebagai tempat tinggalnya.

"Baru pulang vio?".

Merasa ada yang memanggil namanya Refleks vio menoleh. Kepalanya langsung mengangguk di sertai sebuah senyuman yang tak luput dari wajahnya saat mendapati Fandi yang berjalan dengan nafas sedikit terengah dibelakangnya.

"Tumben nggak mampir ketaman?" tanya Fandi lagi sambil berjalan beriringan.

"Barusan aku dari sana".

"Masa si?. Kok tadi aku nggak liat?"

Dan vio hanya angkat bahu membalasnya.

"Ngomong - ngomong kamu habis dari mana?" tanya vio mengalikan permbicaraan.

"Main bola di lapangan".

"O" Mulut Vio membulat. Sepertinya ia sudah paham sekarang kenapa Fandi terlihat ngos ngosan.

"Vio?".

"Kenapa?" Tanya Vio saat mendapati tatapan Ragu di wajah Fandi.

"Sudahlah.. Lupakan".

Walau bingung Vio tidak berkomentar apa - apa lagi. Lagi pula sepertinya ia juga sudah sampai tepat di depan kostannya. Dengan sedikit basa - basi Vio pamit masuk kerumah.


Setelah mengemasi barang barangnya vio bersiap siap untuk pulang. Sesekali matanya melirik sekilas kearah seseorang yang duduk selang dua meja darinya. Seseorang yang kali ini mengenakan kemeja putih dengan garis garis hitam yang makin terlihat keren benar benar telah menarik perhatian vio.

"Dari pada cuma lirik lirik pandang kenapa nggak coba samperin aja langsung".

Suara bisikan yang mampir di telinganya sukses membuat vio menoleh. Merasa kesel saat mendapati senyum janggal di bibir vieta, sahabat terbaiknya.

"Apaan sih" gerut vio sambil kembali mengalihkan perhatian nya kearah buku catatan yang masih tergeletak di meja.

"Nggak usah ngeles. Orang bego juga pasti akan langsung tau kalau kamu suka sama Harry cuma melihat dari cara mu menatapnya" tambah vieta lagi.

Kali ini vio kembali menoleh. Menatap tajam kearah vieta. Orang bego juga akan tau?. Maksutnya harry bego karena sepertinya orang itu tidak tau?. Ehem, atau pura - pura nggak tau ya?.

"kau akan tau jawabannya kalau kau berani bertanya langsung padanya".

Kali ini kening vio berkerut bingung, emang sahabatnya bisa membaca pikirannya ya?.

"nggak usah heran aku bisa tau apa yang kau pikirkan. Soalnya itu jelas -jelas terukir di jidat mu".

Mendengar kalimat yang vieta lontarkan barusan sontak membuat vio memberengut sebel. Apa apa an itu?. Tadi tatapan mata, sekarang terukir di jidat. Memangnya mulut udah nggak perlu di pake lagi ya?.

Sayangnya belum sempat mulut vio mengeluarkan bantahan, suara lain sudah terlebih dahulu menginterupsi.

"vio kamu nggak pulang?".

"Eh, em. Pulang kok. Ni lagi beres - beres" balas vio sedikit tergagap. Tidak menyangka, Harry, orang yang sedari tadi ia gosipkan akan menyapanya duluan.

"Oh gitu . Duluan ya" pamit Harry sambil tersenyum.

Senyuman yang paling vio sukai sekaligus paling ia benci. Suka, karena itu adalah senyuman paling manis yang pernah ia temui. Benci, karena ia sadar kalau senyum itu bukan hanya untuknya.

"Ehem, Ck ck ck".

Vio sama sekali tidak memperdulikan decakan mengejek yang keluar dari mulut Vieta. Matanya masih terus menatap sosok Harry yang terus melangkah menjauh. Samar sebuah senyuman terukir di bibirnya. Sebuah senyum penuh harapan. Ya, ia masih boleh berharapkan. Selama ia tau masih belum ada seseorang yang menjadi pasangan pemilik senyum faforitnya.

Cerpen Pendek "Pupus"

"Oh ya, Tadi katanya ada yang ingin kamu katakan. Apa?".

Pertanyaan yang Harry lontarkan sontak menyadarkan Vio dari lamunannya. Jantungnya berdetak Dag Dig Dug nggak karuan. Hari ini, Di taman ini, Ia berdiri. Berhadapan langsung dengan Harry yang kini berada tepat di hadapannya.

Menuruti saran Vieta, Ia nekat menemui Harry. Mengajaknya ketemuan di taman belakang kamus. Berniat untuk mengungkapkan langsung tentang perasaannya.

"Harry..." Ujar Vio dengan Suara sedikit bergetar. Astaga, Jantungnya. Masihkan ada di dalam dadanya ataukah sudah melompat keluar.

"Aku suka sama kamu" Sambung Vio akhirnya.

Sunyi, Hening dan sepi. Vio masih menatap lurus kearah Harry yang juga kini menatapnya. Sedikit perasaan lega tergambar di wajah vio saat ia menyadari kalau ia berhasil mengucapkan kata yang sudah sejak kemaren - kemaren ia praktekan sendiri. Namun, disaat bersamaan rasa cemas juga menghantuinya. Rasa cemas menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Harry.

"Aku juga menyukaimu...".

Kalimat yang keluar dari mulut Harry benar - benar mengantar Vio terbang keawang - awang. Merasakan bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan sebelum sebuah senyuman terukir di bibirnya sebagai luapan rasa bahagiannya ia sudah terlebih dahulu menyadari kalau ia telah dihempaskan jatuh kedasar jurang yang paling dalam saat mendengar kalimat lanjutan Harry.

"Tapi sebagai sahabat".

Dan yang terjadi selanjutnya vio sama sekali tidak menyadarinya. Ia tidak menyadari saat kepalanya mengangguk, ia tidak menyadari saat harry mengucapkan kata maaf padanya. Bahkan ia juga tak menyadari kata kata yang keluar dari bibirnya. Ia juga tak menyadari saat Harry melangkah meninggalkannya. Dan untuk pertama kalinya perasaannya tak menyadari sebuah senyum yang tetap Harry lontarkan untuknya.

Satu satunya hal yang mampu ia sadari adalah rasa sakit. Rasa sakit yang mendera kedalam hatinya, yang mengalir didalam darahnya. Dan ia menyadari kalau ini bukan mimpi.

End

Cerpen cinta terbaru "Kalau Cinta Katakan saja ~ 02/6

Oke, all. Penulis belum sempet nih buat ngarang akan bikin cerpen baru. Nah untuk itu berikut ada kiriman cerpen dari adek Mia Mulyani. Judulnya "Kalau cinta Katakan Saja".
Untuk part satunya bisa langsung di baca di :

-} Kalau cinta katakan saja ~01


Saat pulang sekolah, gue menunggu kakak gue menjemput, karena tadi pagi gue perginya di antar. So, pulangnya juga mesti kudu di jemput, banyak anak-anak yang udah pada pulang, tinggal gue lah yang sendirian. aduuuuh di mana sich, jadi njemput apa nggax. uuuuh capek, mana tadi gue udah nolak di antar sama Ferly lagi, padahal kalau nggax kan....
"chel. sendirian aja?" tanya anggi yang baru datang.
"enggax" jawab ku cepat.
"emang ama siapa lagi?" tanya anggi sambil mencari-cari orang yang mungkin bisa jadi temen ngobrol gue.
"ya ama loe lah, nggax lihat apa nie..." balas ku.
"iiiih loe tu ya, hobby banget buat gue sebel"
"he he he sengaja. eh ada apa nih, kok loe belum pulang"
"ada yang pengen gue omongin sama loe nih"
"0h yea? apaan tuch?"
"ada yang kirim salam sama loe"
"kirim salam? yaaahh..." jawab ku lemes.
"kenapa?" tanya anggi tampak bingung.
"cuma salam doank?" tanya ku tanpa menjawab pertanyaan anggi.
"ea... emang kanapa sich, ada yang marah yea...."
"bukan itu...."
"0h, trus kalau bukan itu apa?"
"masa kirim salam aja, sekali-kali kirim ampau kek, kalau nggax makanan gitu, kan enak dikit, ini nggax salaaaaam aja, buat apa lah"
"salam itu kan sunnah, jadi selain bisa makin kenal sama loe, juga makin tambah pahala, ia nggax sich"
"ia juga sich"
"e ya udah salamnya di terima nggax?" tanya anggi.
"yah mau gimana lagi, kalau mengucap salam itu sunnah, berarti ngejawab salam itu wajib kan, jadi mau terpaksa atau pun nggax, gue terima kok, dari pada dosa ia nggax. ya udah Wa'alaikum salam. emmm kirim salam balik ea.."
"tenang aja"
"e tapi by the way loe mau banget jadi tukang pos"
"kan pahala chel"
"eh ia, mantap-mantap-mantap... gue suka gaya loe..."
"pastinya...."
"e tapi, emang siapa sich pengagum rahasia gue?"
"pengagum rahasia?"
"ia. siapa lagi kalau bukan pengagum rahasia, tiba-tiba kirim salam, padahal gue nggax kenal"
"0h e itu si Ferly"
"what?! Ferly???? seriuz loe?" tanya ku kaget. seriuz nih, my idola kirim salam sama gue??? eh gue nggax mimpi kan, aduh lebay kaleee.
"ya seriuz lah. kenapa? mau di tarik lagi jawaban salamnya?"
"he?! emang bisa?"
"enggax"
"jadi..."
"ya kali aja loe mau, gue bakal kasi tiga kata buat loe"
"apa an tuch"
"nggax akan bisa.... he he he"
"ah re-se loe"
"he he he... e tapi menurut loe, mana yang paling keren di antara semua cowok kelas gue..."
"kalau kelas loe gue nggax tau. abis gue nggax seberapa kenal sama temen-temen kelas loe, tapi kalau dari semua yang ada di SMU ini gue tau"
"oh yea? siapa tuch??"
"e kalau menurut gue sich, itu si Ferly. tapi nggax tau deh menurut orang laen..."
"Ferly?!" tanya anggi memastikan.
"ea. abis gue nggax seberapa kenal sama anak yang sekelas sama loe itu"
"ya salah satunya Ferly itu"
"0h ea? jadi Ferly itu sekelas sama loe?" tanyaku kaget, pantesan aja Ferly minta tolong sama anggi, lah wong sekelas, gimana nggax....
"iya, kenapa? loe baru tau?"
"he he he sebenernya sich ia"
"uuuh ketinggalan informasi loe...."
"ya abis loe nggax kasi tau gue"
"ya mau gimana, orang loe nggax nanya"
"ya tapi kan...." kata-kata ku terhenti melihat seorang yang mengendarai motor mendekati gue "eh itu kakak gue, gue pulang bareng kakak gue dulu ya, sampai ketemu besok. inget salam gue jangan sampai lupa" balas ku dan melangkah mendekati kakak gue.
"tenang aja. asal ntar ada honor nya..."
"he he he... ambil aja di bank, loe ambil pake ATM loe sendiri, pasti dapat, kalau nggax semuanya buat loe deh" balas ku.
"yeee itu sich sama aja"
"he he he...." balas ku. sementara anggi makin sewot. saat di perjalanan pulang, nggax sengaja gue ketemu sama Ferly, dan ia tersenyum ke arah gue, gue balas tersenyum, ia terus ngelihatin gue sampai udah jauh, lalu tertawa bareng temennya yang di belakangnya. tau deh ngetawain apa. bikin penasaran aja. asal nggax nertawain gue sudah lah.


Beberapa hari kemudian, gosip tentang Steven dan mike jalan ke rumah nay, telah menyebar dengan cepat, ya biasalah namanya juga gosip TST aja lah yea... eh tau kan apa itu TST? tau donk, nggax mungkin nggax tau, itu lho, lagunya 'Norman' TST (Tau Sama Tau.. he he he... ) Tapi yang lebih parahnya lagi, gosipnya itu Steven jadian sama gue, aneh kan??? padahal kan nggax sama sekali.
Tapi tampak Steven tenang-tenang aja, cuma gue aja yang merasa nggax enak, ya iya lah, kalau ia ma nggax apa-apa, ini masalahnya tu nggax. gue nggax sama Steven. jadi gue merasa terganggu sama gosip ne... tapi untung lah ini nggax merusak hubungan persahabatan gue sama Steven. dan makin hari gue sama Steven makin akrab. jujur saja sejak Steven nggax merasa terganggu gue jadi mulai bisa bersikap biasa, dan nggax perduli dengan ini semua, bodo' amet, yang penting gue masih bisa bersahabat deket sama Steven itu udah cukup kok.
siang ini gue lagi di perjalanan bareng nay. ceritanya sich mau kerumah mike, tapi nggax tau lah, abis kata nay dia juga nggax tau rumah nya yang mana, tapi menurut informasi sich di daerah ini, tapi rumahnya yang mana ea. gue terus mengendarai motor sementara nay yang memandu perjalanan,
"chel, loe suka sama Steven ea?" tanya nay tiba-tiba.
"what?! maksud loe???" gue kaget, nie orang tau dari mana?
"ya... loe suka sama Steven kan?" tanya nay sekali lagi.
"haaaa??? ha ha ha ya nggax lah, ada-ada aja loe. mana mungkin. gue emang deket sama Steven. tapi kita cuma sekadar temen aja kok, nggax lebih, lagian mana mungkin gue sama Steven. jangan ngawur deh"
"lho kenapa? emang ada yang salah, menurut gue Steven itu anaknya baik kok, jadi cocok lah sama loe, dan loe juga bisa ngobatin sakit hatinya"
"maksud loe???"
"Steven itu kan sekarang lagi CBST" kata nay, CBST??? Cinta Bertepuk Sebelah Tangan maksudnya???! sama siapa? kok gue bisa nggax tau. jadi selama ini Steven...
"0h ea? sama siapa?" tanyaku sewajar mungkin, agar nggax terlihat gue terlalu kaget, nggax asyik donk kalau ketahuan gue nggax tau sama sekali tentang cewek yang di suka cobatz gue sendiri.
"emang loe nggax tau? dia kan anak kelas kita" kata nay lagi, what? jadi selama ini Steven suka sama anak kelas gue? tapi siapa? kok gue bisa nggax tau sich, tiba-tiba saja perasaan gue sedih. nggax tau kenapa.
"he?? e gue... gue tau kok siapa"
"0h ea? loe udah tau siapa?"
"ia. gue udah tau, siapa ceweknya, gue fikir itu cuma gosip. jadi beneran ea?" tanyaku sok tau, padahal saat ini gue bener-bener nggax tau, ya gue ngelakuin ini agar nggax terlihat gue sedih aja, ntar kalau nay ngira gue baru tau sekarang, dia fikir gue patah hati, trus ketahuan gue suka Steven, wah bisa gawat, ntar jadi gue yang CBST donk. ooooh kasihan sekali gue.
"ea, e loe tau dari mana?"
"yeeee masalah itu udah menyebar kaleee, udah banyak anak-anak yang ngebicarain itu, jadi gue udah tau. e tapi loe tau dari mana?"
"Steven yang cerita ke gue, tapi dia bilang jangan kasi tau siapa-siapa" jawab nay, haaaa jadi... Steven beneran suka sama anak kelas gue? waaah bener-bener CBST nih gue.... tapi kok gue bisa nggax tau ya... e kira-kira siapa ya cewek yang di suka sama Steven???
"000h eee ini rumah nya yang mana?" tanya ku mengalih kan pembicaraan, wah bisa gawat kalau ketahuan kalau gue bohong. gue kan nggax tau cewek yang di sukai Steven. cuma ya gengsi aja ngakuinnya he he.
"e di perempatan itu belok ke kiri, rumahnya kata mike nggax jauh dari sekolah" jawab nay. gue pun mempercepat motornya, begitu tiba di depan sekolah gue menghentikan motornya, menurut informasi rumahnya nggax jauh dari sini.
"mana nay?" tanya ku sambil melihat keliling, kali aja ada yang gue kenal.
"e enggax tau, tapi bentar deh gue tanya mike bentar" balas nay sambil memencet-mencet ha-pe nya siap mau nelpone mike, tapi belum sempat nay menelpone terdenar sebuah suara yang amat gue kenal.
"woooy sini.,." gue langsung menoleh ke asal suara, tampak di sana Steven yang sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah sambil melambaikan tangannya.
"nah itu dia, sana yuk" ajak nay,
"e tapi nay, kita mau ke rumah mike atau Steven sih?" tanyaku.
"ya mike lah" jawab nay.
"tapi kok, itu...."
"sssttt... udah loe diem aja, yuk..." ajak nay sambil menarik tangan gue menuju ke rumah, yang katanya milik mike.
"Assalamu'alaikum..." kata ku.
"Wa'alaikum salam. yuk masuk..." ajak Steven, sementara mike ke dapur, bikin minum kale, gue dan nay pun duduk di ruang tengah. tak lama setelahnya mike keluar sambil bawa nampan berisi air minum. tuh kan bener.
"kok bisa tau rumahnya disini?" tanya Steven.
"ya iya lah, kita kan pinter, ia nggax nay..." kata ku membanggakan diri.
"yo'a..." balas nay.
"ia lah tuuu. nih di minum dulu, kalian pasti haus kan..." kata mike sambil menyodorkan aer minum kearah ku dan nay, iiih nie orang tau aja. he he he... setelah basa-basi sebentar kita pun menerus kan ngobrol dan nggax tau deh apa yang di obrolin, tapi gue selalu berusaha menyembunyikan wajah gue karena Steven terus mencoba meng camera gue, iiih nggax tau apa kalau gue itu nggax pe-de.
"chel, lihat sini donk" kata Steven sambil mengarahkan camera ke wajah gue.
"iiih apa an sich, ogah gue..."
"emang kenapa sich..."
"loe itu ngapain meng camera-camera gue segala, nggax tau apa kalau jadinya jelek, kalau loe tetap nekat, ntar yang ada bukan wajah gue yang dapat, e ha-pe loe yang heng alias eror, wajah gue kan nggax masuk lensa"
"masa sich... ya udah deh, gue nggax..." kata Steven dan menurunkan ha-pe nya, setelah memastikan Steven nggax meng camera gue, gue pun duduk seperti biasanya. tapi tiba-tiba...
"haaa dapet" kata Steven sambil mengarahkan cameranya ke wajah gue.
"alah bohong" balas ku, nggax mungkin secepat itu kan...
"loe itu nggax percayaan banget sich, kalau loe nggax percaya nih lihat deh" kata Steven sambil memperlihatkan fhoto gue yang baru di ambilnya, what?! kok dapat sich.
"eh apus nggax, loe itu apa-apa an sich, fhoto jelek kayak gitu juga, sini in ha-penya..." kata ku sambil berusaha mengambil ha-pe yang di tangan Steven.
"bentar ea..." kata Steven sambil memencet-mencet ha-pe nya, dan tak berapa lama kemudian ia menyerahkan ha-pe nya ke gue, dengan cepat gue memencet-mencet ha-pe Steven, mencari fhoto gue, tapi kok nggax ketemu-ketemu ea... dan saat gue lagi kebingungan tampak Steven yang tertawa melihat kebingungan gue, iiih sial!!!
"gimana? bisa nggax? kalau nggax bisa bilang aja... sampai kapan pun loe nggax bakal bisa dapat nyari deh..." kata Steven sambil tersenyum-senyum.
"oh yea? siapa bilang, gue pasti dapat kok, awas aja..." kata ku, sambil terus mencari,,, iiih di mana sich...
"chel, coba sini deh, gue bantu..." kata mike tiba-tiba, dengan cepat gue langsung memberikan ha-pe nya ke pada mike, dan kemudian mike kembali memberikannya ke gue, setelah mencarinya beberapa saat, gue langsung mengambilnya.
Deg. jantung gue seperti berhenti berdetak dan untuk sepersekian detik gue kaget banget, gimana nggax. tampak di sana ada beberapa fhoto cewek yang di bingkai, dan ini pasti cewek-cewek yang pernah jadi pacarnya Steven, banyak yang gue nggax kenal, fhotonya cantik-cantik, tapi sebenernya bukan itu yang membuat gue kaget, tampak di sana salah satu fhoto yang sangat gue kenal, dia adalah seorang cewek kelas gue, yang dari dulu gue telah mengaguminya, dan kali ini. untuk yang udah entah ke berapa kalinya gue kalah lagi sama dia.
cewek itu yang tak lain dan tak bukan adalah chinty. tampak tersenyum manis di ha-pe Steven. gue nggax nyangka banget, ternyata Steven suka sama chintya??? jangan-jangan ini cewek yang di maksud nay tadi. oooh nooo apa emang seumur hidup gue, gue harus kalah sama chintya? dari awal juga chintya yang terbaik dari gue, dari pelajaran sampai kerapian, dan sekarang... tentang cowok juga gue tetap kalah??? ya ampuuuun....
"Chelsy!!!"
"eh ea...." kataku sambil mengalihkan pandangan gue dari fhoto chintya ke arah Steven, sampai budek nih kuping gue, karena Steven teriaknya tepat di telinga gue, heran ya, tega banget nih anak. nggax tau gue lagi sedih apa.
"loe kenapa sich? gue panggil dari tadi diem aja. emang loe lagi lihat apa?" tanya Steven, dan siap ngintip, gue langsung buru-buru menutupnya, Steven nggax boleh tau gue lagi ngelihat apa, kalau ia sampai tau, ntar juga ketahuan donk kalau gue pasti sedih melihat fhoto itu dan bisa-bisa dia tau gue suka sama dia. ahhh itu nggax boleh terjadi gue nggax mau ada yang tau kalau cinta gue bertepuk sebelah tangan apalagi sama orangnya.
"gue nggax lihat apa-apa kok... he he he..." gue berusaha sewajar mungkin, walau hati gue terasa sakit gue nggax boleh lemah di depan cowok, nggax. itu nggax akan pernah. gue harus bisa menyembunyikannya bagaimana pun caranya. Tuhan... tolong bantu gue....
"dapat fhotonya?" tanya Steven.
"e eh loe suka sama chintya ea?" tanya ku tiba-tiba, dan tampak Steven kaget mendengarnya, aduh. bego kok gue nanya langsung kayak gini sich, aaahhh bego... mana mungkin lah Steven mau ngaku, iiih pasti ketahuan barusan gue udah lihat fhotonya. Dan bener saja, sebelum gue sempet menghalangi, Steven udah merampok ha-pe di tangan gue.
"ini..." Steven tampak nggax bisa ngomong "fhoto kayak gini udah nggax penting" lanjut nya dan siap menghapus fhoto chintya dengan cepat gue merebut ha-pe nya.
"ih loe itu apa-apa an sich, fhoto segini bagusnya masa mau di hapus gitu aja, ngedapetinnya susah tau" kata ku. Steven langsung terdiam, nggax bisa ngomong apa-apa, jangan-jangan bener lagi,.. ahh gue jadi makin sedih nie... dan untuk beberapa saat suasana hening.
"chel, kesana yuk" bisik Steven ke arah kursi tengah.
"mau ngapain?" tanya ku.
"ya masa kita di sini, ngeganggu orang yang lagi pacaran aja. udah yuk"
"e nggax usah deh, sini aja napa, gue nggax ngeganggu kok" kata ku, iih gila loe, bisa-bisa ntar ke tahuan kalau gue suka sama loe, mana pe-de gue deket sama loe tanpa ada yang lain, iiih apa yang harus gue lakuiiin.
"ya udah kalau loe mau jadi obat nyamuk di sini"
"yaaah stev, di sini aja napa. gue..."
"gue nggax mau. udah deh, selamat sendirian aja ea, gue kesana dulu" kata Steven dan melangkah pergi, aduh gimana nih, mau ikut apa nggax ea, kalau gue ikut ntar gue nggax bisa menjaga perasaan gue, kalau nggax... gue melirik ke arah mike dan nay yang sedang asyik ngobrol, eee gimana ea. ah tau deh, gue nggax ada pilihan laen. akhirnya gue melangkah mengikuti Steven,  semoga aja gue bisa menahan perasaan gue.
"duduk sini..." kata Steven.
"ah ia..." balas ku, dan gue bingung mau gimana, gue pun berdiri aja di tepi dinding sambil pura-pura melihat- lihat fhoto yang berada di dinding.
"sini..."
"ea bentar, gue e ini, apa.. e lihat ini dulu..." kata ku cari alasan. dan setelah semuanya udah gue lihat, sekarang nggax ada alasan lagi, aduh gimana ini... apa yang harus gue lakukan.
"loe beneran nggax mau duduk ea... atau loe mau jadi penjaga dinding?" tanya Steven, dan mau nggax mau gue duduk di kursi yang sangat berjauhan dari Steven. wah gila jangan sampai Steven mendengar detak jantung gue yang berdetak dengan cepat ini. kalau sampai Steven tau kan bikin malu namanya. mau ngobrolin apa ea, masa gue diem-dieman kayak gini.
"e, loe udah lama suka sama chintya?" tanya ku, abis bingung mau nanya apa, e bodo' ah, yang penting nggax diem-dieman.
"gue nggax suka sama chintya kok" kata Steven. tapi gue tau kalau dia pasti bohong.
"loe fikir bisa bohongin gue? udah lah ngaku aja, kalau loe emang suka sama chintya, loe nggax salah kok, pilihan loe tepat, kanapa nggax loe pacarin aja?" tanyaku, aduh kenapa gue ngomong kayak gini? seharusnya gue nggax bilang kayak gini, gimana kalau Steven jadi makin suka sama chintya?
"gue nggax mau"
"stev, cinta itu butuh pengorbanan, jadi loe harus berusaha dapatin nya, loe harus berusaha. jangan kayak gini? emang loe udah pernah nembak dia?" tanyaku, gue nggax perduli perasaan gue sakit kayak apa, tapi yang jelas gue harus buat Steven bahagia walau hati gue udah nggax bisa di compromi lagi.
"chintya udah punya pacar" kata Steven dan tampak sedih.
"kata siapa?" tanyaku sewajar mungkin agar nggax ketahuan.
"udah banyak gosipnya kan... chintya sama anak kelas XII"
"dan loe percaya?" tanyaku.
"ia gue percaya, lagian firasat gue mengatakan kalau itu semua bener"
"stev, nggax selamanya firasat kita itu bener, dan nggax semua gosip itu bisa loe percaya, jadi loe jangan nyerah kayak gini donk. loe itu cowok, loe harus berani mengakuinya apapun jawabannya chintya itu urusan belakangan, yang penting loe berani mengakuinya"
"udah lah. gue itu udah nggax berminat untuk mendapatkan nya lagi"
"loe kok jadi lemah kayak gini sich, loe harus coba, jangan kalah sebelum perang kayak gini. ayo lah stev, loe harus yakin kalau loe bisa. gue ngerasa kalian itu cocok kok, dan loe pasti beruntung banget kalau bisa dapatin chintya, stev, kesempatan yang sama nggax bakal datang dua kali. loe tau kan... kalau loe nggax bilang sekarang mungkin selama nya loe nggax bakal bisa dapatin dia" nasehat ku.
Dan hari itu gue sedih banget, tapi nggax tau kenapa gue nggax bisa memanfaatkan keadaan ini, sebenernya bisa aja gue gunakan kesempatan ini buat menarik perhatian Steven, pasti gue bakal dapatin dia karena dia lagi patah hati sekarang, tapi kenapa hati gue nggax mau. sepertinya gue nggax bisa dapatin Steven, cinta nya hanya untuk chintya bukan gue, dan gue harus bisa melupakannya. tapi sebelum gue bener-bener melupakan Steven, gue mau melihat dia bersama orang yang dia sayang. gue harus menyatukan nya, gue pasti bisa, mungkin emang Steven bukan jodoh gue.
walau sedih tapi pasti. gue bertekad untuk melepaskan Steven dan merelakan nya untuk orang lain, meski rasanya tu beraaaat banget. tapi gue harus mencobanya, bukan kah cinta itu butuh pengorbanan. Tuhan, bantu gue untuk melewati ini semua, gue nggax sanggup kalau harus melewati semua ini sendirian....