Cerpen cinta "Ketika Cinta Harus Rela ~ 02"

Maap ya al, Lanjutannya lama. Karena bagaimana pun aku harus lebih mengutamakan dunia nyata. So, baru bisa muncul deh lanjutan Cerpen cinta "Ketika Cinta Harus Rela.

Untuk part sebelumnya silahkan baca

-} Ketika Cinta Harus Rela ~ 01

Udah hampir 3 bulan aku di Jakarta,syukurlah aku mempunyai teman – teman yang menyenangkan yang membuatku tak kesusahan dalam beradaptasi,mereka selalu membuatku nyaman.
“ Eh eh liat tu gerombolannya kak Aldi,duuh mang dia seperti pangeran ya.”kata anya,sambil memasang muka tertarik kepada kak aldi.

Temen satu bangkuku ini memang sangat mengagumi kak aldi,bahkan dia mengaku motivasi dia untuk sekolah disini hanya agar bisa ketemu sama kak aldi setiap hari yang udah ditaksirnya sejak sd .
Anya memang mengenal dekat sosok kak aldi,karena dia adalah adik kak andre,temen deket kak aldi sehingga membuatnya mudah untuk dekat dengan kak aldi,namun sayangnya kak aldi nda pernah membalas cintanya,jangankan membalas untuk lebih mengenal anya lebih dekat pun tak ia lakukan. Ku pikir cinta anya bertepuk sebelah tangan,namun gadis itu tetap saja tak menyerah dan masih berharap suatu saat kak aldi bisa membalas cintanya
. Sedangkan aku,tak ada satu pun temenku yang tau bahwa aku adalah adik kak aldi,karena kami jarang bersama,dan aku juga tak ingin temen – temen tau kalau aku adik dari kak aldi yang notabene idola para cewek di sekolah. Aku tak mau dideketin sama anak –anak hanya karena mereka ingin deket ma kak aldi. Istilahnya memanfaatin gitu lah. Makanya aku menutupi hal ini,selagi aku bisa menutupi. Sedangkan hubunganku ma kak aldi bisa dibilang acuh tak acuh ,kami jarang bersama,jangankan tuk mengobrol,duduk berdua pun sama sekali belum pernah. Jika dirumah hanya saling tatap dan sapa aja,duduk bersama Cuma dimeja makan dan ketika kumpul keluarga saja. Bagiku masih ada rasa canggung terhadapnya,meski kita sudah tinggal bersama selama 3 bulan ini.
“pagi ma pa” kataku sambil duduk dimeja makan untuk sarapan bersama.
“pagi juga sayang”jawab mama yang sambil menyerahkan nasi goreng kepadaku,”oiya tar,ntar temenin mama ke mall ya??Lanjut mama. “ngapain ma?bukannya seminggu yang lalu baru ke mall ya??Jawabku.
“mama mu itu kalau seminggu belum ke mall tu,bisa – bisa rumah ini diobrak abrik olehnya ,suka banget ke mall.”Kata papa menggoda mama,
”papa ini apa – apaan tie,masa mama dibilang gitu……….”kata mama saat kak aldi duduk disamping mama.
“Pada ngomongin apa tie ma pa”Tanya kak aldi dengan wajah penasarannya. “pagi – pagi ko’ udah ngrumpi”Lanjutnya. “ada deh,kamu mau tau aja,”jawab mama sambil berdiri menuju dapur,”paling ngomongin soal ke mall ma tari,dasar mama maniak belanja”gumam kak aldi. Papa dan aku tertawa dibuatnya karena pada saat bersamaan mama yang mendengar gumaman menjewer telinga kak aldi. Kak aldi ampun – ampunan minta maaf sambil melirik papa dan papa hanya angkat bahu saja.
Sesampainya di sekolahaku lalu pamit kepada papa. “ntar pulangnya dijemput mama sama pak Supri ya”Kata papa setelah aku turun dari mobilnya,aku hanya mengangguk saja. Ea setiap berangakat ke sekolah aku menebeng papa,sedangkan pulang selalu dijemput pak Supri,tak pernah bersama kak aldi,sehingga tak ada yang curiga bahwa aku bersaudara sama kak aldi.
Aku pun berjalan menuju halaman sekolah,pada saat yang bersamaan,motor kak aldi dan teman – temannya melewati gerbang. Aku dianggap sama seperti yang lain oleh kak aldi,tak pernah dianggap istimewa olehnya,tak pernah ia sengaja tersenyum atau sekedar melirikku,tak pernah menganggap aku ada sebagai adiknya setiap di sekolah. Namun ku anggap semua itu,dengan biasa saja,karena aku merasa nyaman dengan sikap kak aldi yang seperti itu.
“Door” sebuah dorongan mengagetkanku,”Ea ni anak pagi – pagi udah bengong”ayo ke kelas,ajak anya, tia.dan tiwi bersama. Aku pun mengukuti ajakan mereka,kami pun berjalan menuju kelas bersama-sama.
Bel berbunyi tanda jam istirahat,”Eh ke kantin yuk,”ajak Anya,”duuh nya,aku harus ke perpus dulu ni, mbalikin buku yang kemaren aku pinjem”jawabku sambil menunjukkan setumpuk buku. “Oke deh gue ke kantin duluan,ntar loe nyusul ya!”Perintah Anya
Secara bersamaan terdengar suara cempreng dari si kembar tia dan tiwi yang memanggil namaku dan anya secara bersamaan. Tia dan tiwi beda kelas denganku dan anya,mereka berdua sahabatku yang kembar,meski nama mereka tak terlalu mirip namun mereka adalah kembar identik yang sulit dibedakan.
Kami jalan bersama berempat,dengan canda tawa,disepanjang jalan menuju ke kantin,”ea kita berpisah deh.”Kata Tia” nda usah lebay,orang Cuma berpisah bentar aja dah lebay gitu,”jawabku sambil meninggalkan mereka dan membelok, sedang mereka jalan lurus sambil menyengir…………
karena tujuanku perpus jadi aku berbelok,sedangkan tujuan mereka ke kantin sehingga mereka lurus.aku meletakkan buku – buku yang ku bawa didepan petugas perpus sambil menunjukkan kartu perpusku. Setelah mengecek buku – buku yang ku bawa, petugas menyuruhku menaruh kembali buku yang ku pinjem ke tempatnya dengan alasan dia sedang sibuk.


Dengan berat hati,aku berjalan ke deretan rak buku. “huuh,nda tau apa aku sudah ditunggu temen – temen di kantin”gumamku lirih sambil menaruh buku dengan asal,tanpa melihat ke arah rak buku yang sudah penuh,buku tersebuut tidak bisa masuk,sehingga membuatnya jatuh,bruuuk “makanya kalau mau naruh buku tu,liat – liat dulu tempatnya,muat apa nggak .”terdengar suara dari samping.
Aku pun menoleh dan mendapati sesosok cowok yang wajahnya cukup familiar,namun ku tak tau namanya. “Seperti ku kenal “bisikku dalam hati sambil dan menunduk mencoba mengambil buku,namun cowok tersebut lebih dulu memungutnya. “sini gue bantu biar cepet,bukannya loe dah ditunggu ma temen – temen loe??”katanya sambil memasukan buku tadi dengan sempurna,dengan refleks aku menunjuk ke arahnya,belum sempet aku ngomong,cowok itu berkata”telingaku masih tajam untuk mendengar ucapanmu” sambil tersenyum dan berlalu yang membuatku bengong “ko’ dia bisa tau ya?? Perasaan tadi aku ngomongnya dengan suara pelan”gumamku lirih,”bahkan aku tak melihat dia ada disampingku”Lanjutku,sambil bergidik dan pergi meninggalkan perpus.
“Eh kemana aja tie tar,ke perpus aja lama banget” Kata tiwi,tepat saat ku duduk disampingnya. Aku tak menjawab namun pandanganku tertuju kepada seseorang,ya orang yang tadi ketemu diperpus yang mengagetkanku dan juga membantuku. Sekarang dia duduk tak jauh dari tempat kami berempat.
“Woooy”terdengar suara anya yang berat sambil menggoncangkan tanganku,”Ni anak kerjaannya nglamun mulu,tuh makan mie ayam baksonya.”Lanjut anya sambil menyodorkan pesananku. “loe tadi liat siapa tie,?? Sampai nggak mendengarkan tiwi ngomong”Nimbrung Tia. “bukan siapa – siapa ko’ aku tadi Cuma”jawabku menggantungkan perkataanku karena sedang menikmati mie ayam yang ada didepanku,ntah kenapa melihat makanan kesukaanku ini,tiba – tiba aku menjadi sangat laper,dan tak ingin berhenti memakannya.
“Owh loe lagi ngeliatin kak andre ya?”Tanya tiwi,sontak membuatku tersedak dan mereka hanya bengong,ku cepat – cepat mencari minum setelah menemukannya tanpa berpikir panjang aku langsung meminumnya. Membuat semua sahabatku tertawa terbahak – bahak. Menarik perhatian seisi kantin,termasuk juga gerombolan kak aldi,yang melihatku,dan cowok yang membantuku di perpustakaan tersenyum saat mata kami saling pandang.
“ Tari – tari loe itu kenapa masa aku Cuma ngasal nebak aja loe langsung tersedak gitu.”lanjut tiwi dengan masih memegang perutnya. “ach kalian seneng banget kayaknya,nda tau apa tersedak itu bisa membunhu orang?? Malah diketawain”jawabku ketus sambil mengambil tisu“Ea sory sory,habisnya tadi loe lucu banget tau tar”kata anya yang tak bisa menahan tawanya. “Ni lagi,mau ngomong apa kamu”kataku sebel sambil menatap tia yang siap – siap membuka mulut untuk berbicara,namun sudah terlebih dahulu ku potong. Aku hanya diam “kenapa tiwi bisa tau ya?low aku ngeliatin cowok itu,eh tunggu kata tiwi cwo itu namanya andre?? Berarti dia kakaknya anya donk??”bisikku dalam hati sambil melirik anya yang masih saja tertawa. “hiiiiiisssstt kalian ini” kataku lalu menyantap pesananku kembali,tak kapok aku meski baru saja tersedak.
Setelah bel pulang berbunyi,kami berjalan berniat meninggalkan sekolah,sebuah mobil avanza tepat berada depan gerbang dengan seorang wanita cantik yang ada didalamnya. Wanita tersebut mencoba keluar saat melihatku berjalan keluar gerbang sekolah,dan menghampiriku.
“Ko’ mama udah dateng,biasanya aku nunggu pak Supri dulu”kataku setelah menyalami tangan mama.”hehehe nda apa –apa lah,mama juga baru aja nyampe ko’”jawab mama” Oiya ma kenalin,ini temen – temen tari,”Kataku sambil menunjuk kepada ketiga sahabatku,mereka pun menyalami tangan mama sambil menyebutkan nama mereka masing – masing, mama hanya tersenyum “Ea udah ayo kita pergi tar,kita jalan duluan ya”Kata mama berpamitan kepda teman – temanku sambil menarik tanganku menuju mobil.
Mama membawaku ke sebuah pusat perbelanjaan,menuju marketnya,mengunjungi berbagai stan baju dan aksesoriesnya. “Mama mau beli baju lagi??”tanyaku ketika kami memasuki sebuah stan baju. “Ea,ni buat kado temen mama yang melahirkan,sekalian mama juga pengen beli baju”jawab mama tersenyum,sambil memilih milih baju,aku hanya duduk disebuah bangku yang disediain stand tersebut.
”Huuh mama itu,suka banget buang – buang uang,beda banget ma ibu.”gumamku lirih sambil mengamati mama yang dengan asyik memilih milih baju. “biasalah namanya juga ibu – ibu,”terdengar suara yang menyahutku,”Tapikan lebih baik ditabung atau disedekahin gitu”Kataku,aku pun tersadar bahwa ada yang menjawab perkataanku tadi. Sejenak aku terdiam dan menoleh……..
“huuuaaahhhh”tanpa basa – basi aku tersontak kaget dan langsung berdiri dan menabrak orang yang sedang lewat,aku pun minta maaf kepada orang yang tak sengaja ku tabrak,namun cwo yang yang membuatku kaget hanya tersenyum saja.
“ lo ko’ kamu ada disini se.. sejak kapan??”Tanyaku terbata – bata saking shoknya. “Sejak kamu baru masuk ke stan ini,gue udah duduk dibangku ini,sebelum kamu duduk. Mengerti??”jawab cwo itu yang tak salah dan tak lain adalah kak andre,dan dia juga yang mengagetkanku saat diperpus. Aku hanya bengong dan tersenyum sambil kembaki duduk disampingnya. “kenapa mukanya masih shok gitu?? Aku kesini nemenin mamaku juga.”kata kak andre seakan tau kalau aku ingin bertanya sedang apa ia disini,namun tak bisa ku ungkapin karena aku yang masih shok.
Aku pun menghelas napas dalam,dan mencoba menenangkan dirikku sendiri “oke tari,dia udah dari tadi duduk disini jadi dia bukan hantu.”kataku dalam hati mencoba menenangkan.….. setelah menhela napas dan tenang aku pun mencoba melirik kak andre,kak andre pun tersenyum. “Memang wajahku menakutkan ya sehingga kau pikir aku itu hantu”katanya sambil terus memandangku.
Sumpah jantung ini hampir copot karena lagi – lagi dikagetkan olehnya. Karena dia bisa menebak dengan tepat isi hatiku. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kaku. “kamu,tari kan?? Temennya anya?”kata kak andre memulai percakapan setelah aku terlihat tenang.
”He.em ko’ tau ??jawabku mengikuti gaya bicara anak – anak remaja masa kini. Ets……….aku Tersadar gaya bicara kak andre berubah yang tadinya loe- gue,loe –gue sekarang menjadi aku kamu.. “Anya,sering cerita tentang teman – temannya. Nggak nyangka kita ketemu lagi disini,”Lanjutnya. “kamu udah makan??”aku hanya menggeleng. “sepertinya mama kamu dan mamaku masih lama gimana kalau kita makan distand sebelah,aku udah laper”ajak kak andre sambil berdiri. “Tapi kak,nanti kalau mama nyariin gimana??”tanyaku kepada kak andre. “gampang aja,kita tinggal pamit dulu kepada mereka,dan menyuruh mereka untuk menyusul kita kalau mereka sudah selesai,gampangkan”jawab kak andre sambil tersenyum simpul. “owh iya ya,kenapa tak terpikir olehku”kataku senang,”ea udah aku pamit dulu sama mama ya kak”kataku sebelum berlalu meninggalkan kak andre untuk menghampiri mama.
Tak ada satupun dari kami yang berbicara selama menunggu pesanan datang,aku yang bingung mau bicara apa, sedangkan kak andre hanya sibuk dengan buku yang ia baca. Karena jenuh ku keluarkan hpku dan membuka email berharap ada pesan dari Vandi.
Ternyata tepat dugaanku ,Vandi mengirimkan email untukku. “ hallo bear,gimana hari ini di sekolah??”pesan dari Vandi,dia selalu memanggilku bear,panggilan sayang darinya untukku,kulihat waktu kiriman emailnya,ternyata udah setengah jam yang lalu,”kalau tentang pelajaran seperti biasa,tapi tadi ada kejadian memalukan di sekolah karena kecerobohanku,bird”balasku memanggilnya bird,panggilan sayangku untuknya.
“nanti aja ceritanya ya,aku masih di mall bareng mama,ntar kalau aku udah pulang pasti aku langsung cerita ma kamu.”. tanpa menunggu jawaban dari Vandi,ku tutup emailku.
Ea Vandi udah menjadi pacarku selama hampir 4 bulan ini,meski hanya di dunia maya namun aku sangat percaya akan cinta kami,meski kami belum bertemu satu sama lain,tetap saja tak mengendurkan rasa cintaku padanya,begitupun sebaliknya. Sebenarnya mudah buat kami bertemu,secara kami sudah berada di kota yang sama,namun karena janji kita bersama,bertemu jika dia udah lulus dan umurku 17 tahun,baru kami akan bertemu.
“kenapa senyum – senyum begitu??”jawab kak andre yang tanpa ku sadari sedang menatapku,”eh nda ko” kata- kataku terpotong karena pesanan kami udah datang”oya makan,pesanannya udah datang ni kak”Lanjut ku memalingkan pembicaraan sebelum kak andre bertanya kembali. Kak andre hanya mengangguk saja.
“Tari,kamu disini,tadi mama cari kemana- mana”Kata mama yang tiba – tiba muncul dengan membawa kantong besar yang kuyakini hasil kerja kerasnya memilih- milih baju distand tadi. ‘Lha tadi kan tari udah ijin sama mama,”jawabku, “Tante ayo makan bareng kami,”kata kak andre yang berdiri dan mempersilahkan mama untuk duduk,mama terlihat sedang berpikir sesuatu,”kamu andre temennya aldi kan??”Tanya mama yang ditanya hanya mengangguk sambil tersenyum. “duuh gawat bisa – bisa kak andre tau kalau aku ini adiknya kak aldi,gimana kalau dia cerita ma temen- temen satu sekolah bisa gawat ni.” Kataku dalam hati sambil menatap kak andre yang sudah duduk kembali,yang ku tatap hanya tersenyum penuh makna.
“owh iya ndre,kenalin ini anak perempuan tante adiknya aldi”kata mama memperkenalkanku,aku tersenyum dengan paksa “duuh mati aku,”kataku dalam hati. “andre udah kenal tante”jawab kak andre sambil tersenyum memandangku yang justru memasang muka takut,”Owh iya?,waah berarti tante nggak usah ngenalin tari ke kamu donk,”Jawab Mama.” Kan kita satu sekolah jadi andre kenal tante” Kata Kak andre. Aku hanya bisa diam mendengarnya,”kenal? Perasaan baru hari ini dia mengenalku”bisikku dalam hati.
“Andre”terdengar suara yang memanggil kak andre,kami pun menoleh ke sumber suara dan ternyata dia mama kak andre,ketakutanku bertambah ketika mama dan mama kak andre saling menyapa,”gimana ni kalau mereka berdua bilang kepada anya kalau aku adik kak aldi,dia pasti marah ma aku,aduh gaswat”kataku dalam hati sambil memegang kepala yang tiba – tiba saja terasa pusing.
Setelah selesai makan kami pun berjalan menuju parkiran dan berpisah untuk pulang ke rumah masing – masing. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamar berniat untuk mandi. Setelah selesai ku rebahkan tubuhku ditempat tidur,”duuh lelah sekali hari ini,” Gumam ku. Angan menerawang memikirkan kejadian tadi dan bagaiman pendapat anya,jika dia tau yang sebenarnya apa dia akan menyebutku sebagai pembohong?? Tak ingin memikirkan yang tidak – tidak aku meraih laptopku untuk kirim email ke Vandi.
Aku bangun dan meraih laptop,membuka email lalu ngirim email kepada Vandi,ku ceritakan semua kejadian yang ku alami tadi siang. Kami saling berchatting ria saling sharing kejadian pada hari ini,membuatku sedikit tenang dan tak memikirkan tenteng anya lagi.
Meski jam udah menunjukkan pukul 06.00 wib,namun aku masih terdiam di tempat tidur,seperti tak ada niat bangun,padahal hari – hari biasa jam segini udah bersiap untuk turun. “rasanya males banget pergi ke sekolah, huuh”gumamku,namun tak urung aku bangkit dan berjalan kearah kamar mandi dengan tak bersemangat. Setelah terlihat rapi, aku pun membuka pintu kamar padasaat bi inah akan mengetuknya,
Bi inah tersenyum “tak kira non belum bangun,udah ditunggu di meja makan non,”kata bi inah,aku hanya mengangguk saja dan mengikutinya turun ke ruang makan.
mama,papa dan kak aldi udah ada di meja makan.
“kamu kenapa sayang? Ko’ tumben bangunnya siang?”kata mama,akuhanya menggeleng saja. “kamu sakit?”kata papa sambil memegang keningku,memeriksa suhu tubuhku. “nda ko’ tari nda apa- apa pah”jawabku, sambil tersenyum terpaksa dan menggigit roti jatah makan pagiku,kak aldi hanya memandangku saja.
Sesampainya di sekolah aku melangkahkan kaki dengan tak bersemangat. Memikirkan bagaimana reaksi anya,kalau mamanya menceritakan kejadian kemaren,karena aku belum pernah bercerita bahwa aku adalah adik kak aldi kepada anya,membuatku merasa pusing. Ku hembuskan napas dengan berat,”Ea aku harus menghadapi anya,bagaimanapun dia adalah sahabatku,jadi dia akan menerima alasanku” ku mantapkan langkah menuju kelas. Namun orang yang sejak semalem aku pikirkan belum berangkat,aku pun duduk dengan lesu. “tumben anya belum berangkat”gumamku.
“Anya kenapa nggak berangkat ya?? Nggak kasih kabar lagi”kata Tia,saat kami berada di kantin. “gue juga nggak tau,udah ku hubungi handphonenya tapi nggak ada sautan” Timpal tiwi,aku hanya mengaduk – ngaduk minumku. “Tar,loe kenapa tie,hari ini ko’ aneh banget?” Tanya Tiwi, aku hanya menggelengkan kepala tanpa berniat menjawab. “Ea,low ko’ aneh banget kaya gitu,kaya orang kesurupan tau,” Timpal tia.
Namun aku masih tetap saja diam tanpa berkata apa – apa, mataku tertuju pada gerombolan kak aldi yang baru saja memasuki kantin,aku berniat ingin bertemu dengan kak andre,namun orang yang aku cari tidak bersama mereka. “duuh kemana ya kak andre,”bisikku dalam hati,dan langsung beranjak dari tempat dudukku tanpa memperdulikan ocehan tia dan tiwi,aku langsung pergi meninggalkan kantin begitu aja.
“kira – kira dimana ya kak andre?” tanyaku dalam hati sambil memikirkan dimana aku bisa bertemu dengan kak andre. Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi ke perpus,”mungkin dia ada disana”namun perkiraanku melesaet,dia tak ada disana,ditaman juga tak ada,sudah ku cari – cari bahkan ke kelasnya,namun tetap saja tidak ketemu. Mencarinya membuatku lelah,dan duduk di tempat duduk samping lapangan.

“Kemana lagi aku harus mencari kak andre?,sudah mengelilingi sekolah namun tetap saja nda ketemu,padahal aku ingin bertanya dan memastikan apakah dia cerita sama anya,tentang hal yang sebenarnya? Bagaiman kalau dia cerita ke anak satu sekolah bahwa aku adalah adik kak aldi,pasti satu sekolah ini,akan memanfaatkanku deh……….”gumamku dengan wajah yang putus asa dan kecewa.
“Ehem” terdengar orang berdehem,aku pun menoleh,betapa terkejutnya aku,mendapati seseorang yang kini berada ada disampingku. “ ka……..kak.sejak..ka…….pan ada disina?”tanyaku terbata – bata. “dari tadi” jawab kak andre sambil berdiri dan hendak beranjak pergi,ku cepat – cepat melangkah dan kini berada dihadapannya. “ada apa lagi?”Tanya kak andre. “kamu ingin tau apakah anya udah tau bahwa kamu adik aldi?,kamu ingin memastikan kalau aku cerita ke teman- teman tentang kamu? Ya anya udah tau bahwa kamu adik aldi,dia tau dari mama,dan sepertinya dia shok,dan tentang aku cerita sama temen- temen,jawabannya tidak,itu bukan urusanku, jadi buat apa aku cerita kemana – mana dan lagi pula aku tak punya wajah tukang gossip dan tak berniat jadi tukang gosip,permisi” lanjutnya.
Sejenak aku hanya bisa bengong,seraya mencoba mencerna semua perkataan kak andre,dan ketika sadar kak andre sudah berlalu pergi,ingin rasanya mengejar kak andre dan meminta maaf atas prasangkaku terhadapnya,namun ku urungkan niat,karena bel tanda msuk sudah berbunyi,membuatku melangkah berlawanan arah sama kak andre menuju ke kelas.

Next to Cerpen cinta ketika cinta harus rela ~03

cerpen remaja terbaru "Kalau Cinta Katakan saja ~03/6

"wien, loe tau nggax, ternyata Steven suka sama cintya?" tanyaku kearah wiena ke esokan harinya, gue nggax bisa melewati ini sendiri, gue harus curhat sama sahabat gue, karena walau gimana pun juga cuma wiena seorang yang tau kalau gue suka sama Steven.
"gue udah tau" jawab wiena.
"what!? loe udah tau? sejak kapan?" tanyaku kaget, wiena udah tau? kok bisa gue nggax. apa cuma gue yang ke tinggalan informasi. kasihan banget gue... uuuh makin sedih aja.
"udah lama" jawab wiena.
"kok loe nggax kasi tau gue?" tanya ku.
"sorry ea, bukan apa, gue itu cuma nggax mau buat loe makin sedih aja"

"apa menurut loe, kalau gue tau sekarang gue bakal bahagia?"
"ya enggax sih, loe lebih kelihatan sedih. tapi kemaren gue nggax tega ngasi tau loe, karena kemaren loe terlihat sangat bahagia saat deket Steven, dan gue nggax mau ngerusak kebahagiaan loe"
"tapi nggax gini caranya, loe pernah berfikir nggax, gimana kalau saat gue makin suka sama Steven, gue baru tau siapa yang di sukainya, apa loe merasa itu yang terbaik buat gue?"
"ya maaf chel, gue cuma nggax mau loe kecewa"
"dan harusnya loe tau kalau gue lebih kecewa saat loe nggax ngasi tau gue" kata ku, udah gue bingung mau ngomong apa, mau marah atau gimana.
"ya seenggaknya loe nggax sedih gara-gara gue, gue emang ada niat ngasi tau loe, tapi gue nggax tega, dan gue berharap suatu saat nanti loe bakal tau sendiri, mungkin itu lebih baik"
"sayangnya bukan itu yang terbaik, gue bakal sangat menghargai kejujuran loe kalau loe ngasi tau gue yang sebenernya..."
"ya gue minta maaf, kalau gue tau bakal kayak gini, gue pasti bakal ngasi tau loe..." kata wiena, iiih gue bingung mau ngejawab apa, apa pun itu wiena nggax salah, dia terlalu perhatian sama gue, tapi... ah gue nggax boleh menyalahkan nya.
"chel" teriak seseorang dari luar, gue langsung menoleh. ternyata Aurel.
"ya..." balas ku, ada apa ea...
"ada yang nyariiin elo tuh" kata Aurel.
"0h ea? siapa?" tanya ku.
"itu anak kelas XII"
"anak kelas XII?" tanyaku bingung, siapa ea?
"eh salah, anak kelas XI maksud gue"
"siapa sich?" tanya ku sambil melangkah keluar setelah minta izin sama wiena dulu.
"e siapa tu ea... emmm ha Ferly" jawab Aurel.
"haaa seriuz loe?" tanya ku, Ferly nyariin gue? waaah mimpi apa gue semalam, bisa di cariin my idola...
"ya seriuz lah, cepetan deh, kasihan tuh di tungguin"
"ea bentar, lagi berjalanlah nie..." kataku dan keluar dari kelas. gue langsung melangkah mendekati Ferly yang telah menuggu gue, tapi belum sampai gue di dekat Ferly, tiba-tiba bel masuk berbunyi, gue langsung menghentikan langkah gue.
"eh bel..." kataku, bingung mau meneruskan langkah, atau balik ke kelas.
"ya bentar aja..." kata Ferly.
"emang ada apa kak?" tanyaku, ya gue harus manggil dia kak, selain karena dia kakak kelas gue, gue juga nggax bisa menyebut namanya karena itu membuat jantung gue berdetak dengan cepat. ah lebay kaleee.
"ntar pulang gue antar ea?" katanya, heee?! nie orang langsung to the point aja ea, nggax pake basa-basi dulu, aduh mau ngejawab apa nie.
"e enggax deh, gue sama anggi aja" jawab ku, wah gila, kalau sempet gue pulang bareng nie cowok bisa-bisa gue pingsan sangkin senengnya.
"yaaah sama gue aja deh" kata Ferly, tapi tiba-tiba gue melihat guru matematika gue yang berjalan di koridor, pasti mau masuk kelas gue.
"e sorry ea gue nggax bisa, eh gue masuk ke kelas gue dulu ea, tuh guru gue udah datang" kataku dan melangkah meninggal kan Ferly, tanpak dia mau nahan gue, tapi nggax jadi. ih gila ea nie orang, gue kenal banget juga nggax. pernah ngobrol juga baru kale nie, kok udah mau ngajakin pulang bareng. uuuh aneh.
Sepulang sekolah, gue pulang bareng anggi, saat di perjalanan tiba-tiba ada yang mengendarai motor di samping gue, setelah gue menoleh, gue langsung kaget, hampir aja gue nggax percaya kalau nggax dengan bantuan cubitan tangan gue, eh ini beneran? di sebelah gue ada Ferly dan kedua temennya dengan satu motor, wah apa nggax ancur tu motor, masa' double eh triple.
"hei..." kata temen nya "nggi, Ferly mau kenal sama temen loe nie, boleh nggax?" tanyanya.
"silahkan aja" jawab anggi.
"udah fer, loe kanalan lah" katanya ke arah Ferly.
"e hei, kenalin nama gue Ferly, kalau loe?" tanyanya sambil mengulurkan tangan. gue pun membalas uluran tangannya.
"Chelsy" kataku, busyet tangannya halus bener, nie cowok kerjanya apa ea? udah keren, rapi, bersihan, putih, tangan nya halus lagi, uuuh kurang apa coba. gila, beruntung banget siapa yang bisa mendapatkannya.
"e besok jalan yuk" ajaknya.
"kemana?" tanya ku.
"terserah, kemana aja, gue yang jemput deh. mau?" tanyanya.
"emm, besok? sorry ea, gue nggax bisa..." tolak ku, gila ea, gue belum bisa mengatur perasaan gue kale, ntar kan malu-maluin kalau gue terlihat nora'.
"000h e... loe... ee... udah punya pacar?" tanyanya tampak agak ragu. gue hanya menggeleng, karena nggax tau mau ngomong apa.
"beneran?!" tanyanya kaget.
"ea. kenapa? ada yang salah?" tanya ku, karena nie orang kagetnya aneh kale.. emang salah apa kalau kita belom punya pacar.
"tapi, cowok yang biasa deket loe itu..."
"Steven maksud nya?" potong ku, abis pertanyaan itu pasti bakal keluar, gila ea... gosipnya nyebar cepet kale... Ferly langsung mengagguk, wah salah faham nih "dia bukan pacar gue kale... kita emang deket, tapi nggax pacaran kok, cuma temenan aja..." jawabku.
"seriuz???" tanyanya.
"ea seriuz lah, emang kenapa sih?" tanyaku, jangan sampai dia bilang gue aneh juga, udah bosen gue di katain aneh sama orang-orang, masa' sama idolanya juga... oooh noooo....
"e enggax, cuma aneh aja, masa' cewek secantik loe nggax punya pacar" katanya, gue hanya mengangkat alis gue tanda bingung, nie orang 'gombal' kalee lah ea, ya biasalah namanya juga cowok.
abis itu gue dan Ferly pun saling bertukar tanggal lahir, dan mengetahui beberapa hal yang nggax di ketahui sebelumnya, dan katanya ia juga nggax punya pacar, eh belum punya pacar maksudnya. he he he ya itu sich katanya nggax tau deh bener atau nggax, tapi nggax tau kenapa mengetahui itu semua membuat gue seneng banget.



Makin hari makin akrab aja gue sama Steven, nggax tau kenapa, walau Steven udah menolak beberapa kali gue masih tetap memintanya untuk mendekati chintya, gue nggax tau apa yang membuat gue menjadi seperti ini, tapi yang jelas, gue mau mereka jadian. tapi apakan daya, ternyata chintya beneran udah punya pacar, dan gue bingung mau ngelakuin apa.
Tapi sepertinya ada sedikit ke salah fahaman, karena denger-denger, dulunya chintya suka sama Steven, tapi karena Steven nggax ngomong-ngomong kalau dia suka sama chintya, jadi dia putus asa dan menganggap Steven nggax menyukainya, dan di tambah lagi Steven deket sama gue, jadi secara nggax langsung chintya menganggap gue sama Steven pacaran.
Dan berkat itu, chintya sukses patah hati, di saat yang sama anak kelas XII yang udah naksir chintya nembak dia, karena saat itu chintya sedang patah hati jadi ia terima, dan sampai sekarang mereka masih pacaran. tapi awalnya cowok itu hanya untuk pelampiasan aja, tapi itu membuat chintya menjauh dari gue.
Gue nggax tau, apa yang menyebabkan chintya menjauh dari gue, dia cemburu, marah, atau apa? andai aja dia tau, apa yang gue lakuin... gue nggax bermaksud merebut Steven dari nya, bahkan sebaliknya gue malah ingin menyatukannya, tapi gue nggax tau apa yang harus gue lakuin kalau kejadiannya kayak gini.
kalau gue nyatuin Steven sama chintya pasti pacarnya bakal kecewa, dan mungkin gue juga. tapi kalau gue diemin aja, mungkin selamanya chintya nggax tau kalau Steven menyukainya, dan tetap mengaggap gue sebagai perebut orang yang ia sukai. tapi beneran gue sama sekali nggaax bermaksud kayak gitu... gue bingung apa yang harus gue lakuin.
Gue emang suka sama Steven. tapi nggax ada niat sedikit pun dalam diri gue buat mendapat kannya setelah gue tau Steven cinta sama chintya begitu juga sebaliknya, tapi bagaimana cara gue menjelaskannya, kalau gue menjauhi Steven, gue pasti bakal sedih banget. udah nggax bisa memilikinya sebagai pacar, masa' temen pun nggax bisa, dan lebih lagi kasihan juga Steven. saat ini lagi sedih dan butuh dorongan untuk bangit kembali. dan salah satu temennya saat ini cuma gue.
Mungkin cuma gue yang tau pasti kalau Steven masih suka sama chintya dan mungkin juga cuma gue yang mau susah-susah menyatukan mereka, tapi gue bingung kalau udah begini. apa yang harus gue lakuiiin... gue tau kalau gue sedih tapi gue lebih nggax bisa lagi kalau melihat Steven sedih, gue nggax perduli kalau gue harus kalah dan kalah lagi dari chintya, asal gue bisa melihat Steven dan orang yang di sayanginya itu udah cukup buat gue.
Dan karena men comblangkan mereka gue sukses berat untuk mengabaikan Ferly, gue sama sekali nggax menghiraukannya, padahal bisa di bilang kalau setiap hari Ferly meminta gue untuk menemuinya di luar karena ia mau ngomong (nggax tau apa yang mau di omongin, karena gue nggax pernah mau). karena saat ini gue lagi di sibukkan sama tugas gue yang gue juga nggax tau apa itu penting untuk gue dan yang lain. atau hanya menghabis kan waktu gue aja. gue udah nggax tau apa-apa lagi.
Nggak kerasa gue ugah tiga bulan melakukan tugas yang nggax ada ujungnya, dan itu berati udah tiba bulan juga gue mengabaikan Ferly, gue nggax tau perasaan gue sekarang, kata temen-temen Ferly suka sama gue, gue juga nggax tau apa yang harus gue lakuin. gue harus seneng atau gimana, tapi saat ini gue sama sekali nggax ada fikiran untuk jadian sama Ferly.
Jujur saja, saat ini gue bingung siapa sebenernya yang gue suka, Steven atau Ferly. gue nggax tau apa gue suka sama Ferlynya, bener-bener suka atau cuma sekadar kagum, begitu juga sama Steven. tapi yang jelas saat ini gue nggax ada fikiran untuk pacaran baik itu sama Steven maupun sama Ferly.

Next To Cerpen remaja "Kalau cinta katakan saja part 4"

Cerpen Ketika Cinta Harus Rela ~ 01

“Jadi mulai besok kamu mau pindah ke jakarta niz??” Tanya Vandi.
“Ia ni van,aq harus manut sama keputusan ibu ku” jawab Vaniz dalam obrolan chat yang dia lakukan bersama Vandi.
Sudah dua tahun ini mereka saling berkomunikasi lewat fasilitas yahoo messenger, tanpa pernah ada pertemuan.
“Enak donk,jadi kita bisa ketemu… heheheheh”kata Vandi merasa senang jika Vaniz pindah ke Jakarta sehingga ada kemungkinan mereka bisa saling bertemu. Hal yang sama di rasakan oleh vanis yang juga sudah sangat ingin bertemu Vandi, Pangeran dunia mayanya.

“Iya. Aku juga seneng pindah ke sana,tapi sedikit ada rasa takut dan khawatir”kata Vaniz.
“Kamu takut ketemu kakak kamu yang dulu sering jahat ma kamu?. Kamu takut nggak diterima mama papa kamu di Jakarta?. Kamu khawatir ma ibu kamu yang sendirian di semarang, kalau kamu pindah ke jakarata?” Kata Vandi panjang lebar seakan dia tahu akan isi hati Vaniz.
Vaniz hanya mengirimkan smile yang bergambar anggukan seakan dia juga tak percaya bahwa isi hatinya bisa dibaca dengan Vandi yang hanya lewat email tapi Vandilah yang selalu mengerti kondisi Vaniz,perasaan dan isi hatinya Vaniz.
“Kamu jangan takut Vaniz, mama papa kamu pasti bisa menerima kamu. Kamu kan anak mereka juga. Soal kakak kamu, dia pasti udah berubah kejadiannya kan dah lama banget,dan sekarang paling dia sudah besar dan ngerti mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan ibu kamu, dia pasti memikirkan yang terbaik buat kamu sehingga dia mengirimkan kamu ke Jakarta. Percayalah semua akan baik- baik saja. “ lanjut Vandi.
“Iya. Sku harus yakin kalau semuanya akan baik- baik saja”kata Vaniz meyakini diri sendiri.
”Kamu emang paling ngerti perasaannya aku van” lanjutnya.
“Siapa dulu Vandi gitu……..heheheheheeh”kata Vandi membuat Vaniz tersenyum sebal.
Vaniz adalah nama samaran dalam YM ku. Nama asliku adalah Lestari Vanizia Putri. Aku tinggal bersama nenekku di semarang, yang ku panggil dengan sebutan ibu karena sejak umur 3 tahun aku bersama beliau. Tidak bersama orang tua kandungku. Eitss aku masih punya orang tua lengkap dan satu kakak laki- laki lho. Mereka semua tinggal di Jakarta, kota yang padat penduduknya. Ya mereka mengirimkanku ke kota semarang Karena pernah ada incident yang dilakukan kakak kepadaku,sehingga mama terpaksa menitipkanku kepada nenek untuk di asuh. Itu dulu,sekarang aku sudah beranjak remaja,dan harus melanjutkan sekolahku ke jenjang SMA.
Mama,papa dan ibu menginginkanku tuk sekolah di Jakarta saja dari pada di semarang, dengan alasan sekolah di Jakarta lebih maju. Itu artinya aku harus tinggal bersama mama dan papaku. Hal yang belum pernah aku rasain sebelumnya,karena aku memang tak pernah ke sana dan jarang bertemu mereka.



“Kriiiiiiiiiiiingggg kriiiiiiinggggg”.
Telfon rumah tiba – tiba berbunyi saat kami sedang makan malam.
“Tari tolong angkat tefonnya”perintah Ibu tanpa kata aku langsung berjalan menuju benda satu itu.
“Paling yang nelfon mama,”gerutuku dalam hati.
“Hallo,assalamu alaikum” kataku membuka pembicaran telfon.
“Waalaikum salam,sayang lagi ngapain??? Udah siap buat besok???”Tanya suara diseberang yang tak lain adalah mamaku,mengingatkan bahwa besok aku harus ke Jakarta. Memulai kehidupan bersamanya.
“Iya ma,tari inget ko’ ni tari lagi makan ma ibu. Mama udah makan??”Kataku.
”udah sayang,besok kamu naik kereta pagi kan? Ntar mama yang jeput kamu di stasiun ok” kata mama. Aku hanya mengangguk. Kemudian telfon tertutup.
“Siapa tar??”Tanya ibu.
”Mama bu,dia mengingatkanku tuk siap- siap besok” kataku lirih sambil duduk kembali di meja makan.
“owh,kamu pasti udah nda sabar buat ketemu ma mama ya??”Tanya ibu. Aku hanya bisa tersenyum terpaksa.
Entah apa yang harus aku rasakan,senangkah,atau aku merasa sedih karena harus meninggalkan orang yang selalu ada untukku,yang seperti ibu kandungku sendiri?? Ibu tiba-tiba berdiri dan menghampiriku,lalu dia memelukku,seakan dia tau akan kebingunganku.
“Percayalah nak,ibu lakukan ini untuk kebaikanmu,untuk masa depanmu. Harusnya kamu merasa senang”kata ibu dalam pelukannya.
Aku hanya bisa diam dan tanpa sadar meneteskan air mataku.
“Eh anak ibu udah gede gini masih nangis si?? Cengeng……”ledek ibu setelah melepaskan pelukannya.
“Ah ibu. Tari nda cengeng tau”elakku sambil cepet – cepet mengusap air mata ku.
“Lalu ni air apa??” Tanya ibu yang menggodaku.
Aku pun tersipu malu atas ledekan beliau,meski sudah lanjut usia,beliau tetap memiliki rasa humor yang tinggi. Akhirnya kami pun tertawa bersama.
I Dream High nan kkumeul kkujyo Hindeul ttaemyeon nan nuneul gamgoKkumi irweojineun geu sunganeul Gyesok tteoollimyeo ireonajyo.
Lagu soundrak dream high pertanda alarm ku berbunyi. Ku gapai alarm cepat-cepat bangun dan langsung kekamar mandi tanpa dikomando.
“Huuh gara-gara semalem nda bisa tidur jadi bangun telat” kataku sambil berdandan di cermin.
“Tari, Ayo turun” kata ibu.
Membuatku makin gugup,setelah siap aku turun,sambil membawa tas ransel yang akan aku bawa kejakarta.
“Maaf Bu, semalan tari nda bisa tidur jadi telat bangun deh” Kataku sambil menyalami tangan ibu,kegiatanku tiap bangun tidur.
“Kamu itu,gimana. Hari ini kan mau perjalanan jauh,ko’ malah nda bisa tidur”kata ibu,sambil mengusap rambutku. Aku hanya nyengir.
” Ayo makan dulu,sebelum kamu berangkat”lanjutnya.
Kami pun makan bersama dalam hening,setelah selesai aku bersiap-siap tuk menuju mobil bersama ibu,dalam mobil tak banyak pembicaraan,ibu hanya menggenggam tanganku erat sambil sesekali memendangku,
“Owh ibu,meski kau bukan ibu kandungku matamu selalu meneduhkanku,aku sangat senang melihat matamu yang penuh kedamaian,mata yang memancarkan rasa sayang yang begitu dalam yang terlihat hanya untukku.tak lma kami sudah sampai distasiun.
“Nanti kalau udah sampai disana kamu kabari ibu ya, jaga kesehatan kamu,maaf ibu nda bisa nganter kamu nyampe Jakarta.” Kata ibu,setelah melepaskan pelukannya. Aku hanya menggangguk lalu menyalami beliau kemudian berjalan memasuki gerbong kereta. Lambat laut kereta berangkat,ku lambaikan tangan kepada ibu.
Dengan berat ku hembuskan napas……….
”Jakarta I am coming…………” gumam ku lirih sambil mengumbar senyum semangat.

Perjalanan cukup jauh,dan melelahkan. akhirnya aku sampai juga distasiun kota Jakarta. Sempat bingung,aku mau ngapain dan harus kemana? Secara ini pertama kalinya aku ke Jakarta. Sekilas aku melihat papan yang bertuliskan namaku dibawa oleh seorang laki-laki paruh baya
Aku pun menghampirinya.
“Neng non lestari?”Tanya bapak itu seakan mengerti aku yang sedang kebingungan.
“Iya bapak ko’ tau nama saya??”jawabku sekaligus bertanya.
“saya pak Supri non,supir pribadi dari mama enon”jawab pak supri. ”saya disuruh nyonya untuk menjemput enon, karena nyonya ada urusan mendadak”Lanjutnya,sambil memberikan sebuah kertas yang berisi surat. ( seperti barang aja harus diberi surat segala).
Namun aku tak percaya begitu saja dengan pak Supri,karena aku memang belum pernah bertemu dengan beliau.
“Huuh aku ini anak mama apa bukan si. Kenapa nama supir mama aja aku nda tau…….huuh menyebalkan”kataku dalam hati sambil mencoba menghubungi mama untuk memastikannya. Telfon pun terhubung dan terdengar suara disebrang.
“Hallo, sayang?? Udah nyampe Jakarta??”kata mama yang langsung nerocos aja
“Udah ma,ko’ mama nda jemput tari,katanya mama sendiri yang mau jemput tari,lha ko’ yang ada pak supri yang njemput tari??? Ini beneran suruhannya mama??”kataku tak kalah nerocos.
“Maaf sayang mama nda bisa njemput karena ada keperluan mendadak makanya mama menyuruh pak supri untuk njemput kamu. Iya bener dia supir mama. Kamu ikut dia ya…….” Kata mama,lalu menutup telfon sambil menggerutu kesal.
”Gimana non udah percaya??”Tanya pak Supri,aku hanya mengangguk dan mengikuti beliau menuju mobil.
Beberapa saat kami hanya terdiam tanpa ada yang membuka percakapan.
“huuh dasar mama, selalu aja nda nepati janji,kemaren bilang mau njemput sekarang mlah ada keperluan. Huuh lebih penting keperluannya apa dari pada nyambut kedatanganku”bisikku dalam hati.
Hahhahahaha tiba – tiba saja aku dikagetkan oleh suara tawa pak Supri sehingga aku sadar kalau aku tak sendirian.
“enon nglamunin siapa?. Ko’ bibirnya muncis – muncis gitu” Tanya pak Supri, aku yang membuatku malu dan risih atas perkataannya.
“Maaf non, bukannya bapak kurang ajar tapi tadi pas bapak liat enon, enon lagi muncis – muncis gitu non lucu banget. Bapak nda bisa nahan tawa jadi keluar deh tawa bapak dengan sendirinya.”lanjut pak Supri disusul dengan cengirannya yang membuatku tersenyum.
“Ea nda apa – apa ko’ pak,”jawabku sambil mnyeringai menutupi muka Malu ku.
Mobil berjalan dengan nyaman,sepertinya pak supri udah berpengalaman soal supir menyupir,(tapi bukan nyupir alias nyupi prirng heheheh ).
“owh ea gimana dengan nenek enon” Tanya pak Supri memulai pembicaraan
“Beliau sehat pak. Bapak mengenal ibu saya??”Jawabku dengan nada bertanya.
” Owh ya kenal donk,dulu bapak yang nganter enon pertama kali ke semarang bareng mama enon,sekarang yang njemput bapak juga,tapi dulu masih anak kecil,sekarang udah gede dan cantik lagi”tambah pak Supri memulai cerita,aku hanya tersenyum simpul malu mendengarnya.
”Owh ea, non pasti udah lupa ma den aldi kakak non,dulu kalian kan masih kecil – kecil,dan belum bertemu lagi kan??aku hanya menganggukkan kepala. Memang sih udah lama sekali aku nda bertemu kak Aldi,ntah berapa tahun aku pun lupa.
” Sekarang den Aldi itu dah gede cakep lagi,dia mirip ma tuan,bahkan saking miripnya dikira mereka kembar.”lanjut Pak Supri,
Angan ku membayangkan muka papa yang ku akui emang tampan, meski aku tinggal sama nenek, tapi mama dan papa jarang ke semarang, bahkan tak setiap lebaran mereka pulang,kak Aldi juga bisa dikatakan nda pernah pergi ke semarang. Alasan mereka sama saja seperti dulu – . sibbuuuuuuuuuuuuuk.
“Lalu enon tu mirip ma sapa ya ?”kata pak supri membuyarkan lamunanku, membuatku penasaran
“Mirip siapa pak” Tanyaku.
“Yang pasti mirip nyonyalah” Jawab pak Supri pada saat mobil berhenti didepan sebuah rumah berlantai dua dengan mempunyai halaman yang lumayan luas dengan ditanami berbagai bunga yang aku yakin ini semua koleksi mama. Emang mama mirip sama ibu.
“Ayo turun non,pasti semua udah menunggu” kata pak supri yang lagi – lagi menyadarkanku dari lamunan. Hem hari ini aku banyak melamun.

***
Aku berjalan perlahan menuju rumah tersebut. Mengedarkan pandanganku kesekeliling halaman yang penuh dengan tanaman hias milik mama, yangtertata rapi dan indah.” Apa ini rumah mamaku? begitu nyaman meski tak terlalu besar namunaku bisa merasakan rasa nyman saat berada disini.” Gumamku dalam hati.
Tiba – tiba saja pak Supri mengagetkanku dengan menggiringku untuk mengetuk pintu,sebelum ku ketuk pintu,tiba- tiba pintu itu terbuka,berdirilah seorang wanita yang masih keliatan muda dan cantik meski sudah memiliki 2 anak yang beranjak dewasa.
“Alhamdulillah,kamu akhirnya sampai juga,tari”Kata wanita tersebut sambil melepas pelukanku.
Iya dia mamaku, mama yang menitipkanku kepada nenek, mama yang selalu mengingkari janjinya namun aku selalu bisa memaafkannya,mama yang masih cantik meski udah punya anak 2 yang beranjak dewasa.
“Aduh sayang mama kangen banget sama kamu.”lanjutnya sambil memegang pundakku.”ayo masuk sekarang kamu udah gede dan cantik,sekarang kita nggak akan terpisah lagi.”katanya sambil menyuruhku duduk disofa sedangkan aku hanya tersenyum.
“Eh princess papa udah datang,gimana perjalanan hari ini nak”kata seorang laki – laki yang tak bisa dibilang muda lagi,namun masih memiliki wajah yang tampan dan aura kewibawaan.
“Duuh sekarang princess kecil papa udah gede gini,tambah cantik juga.”lanjutnya sambil melepas pelukannya,aku hanya bisa terdiam dan tersipu malu,mendengar perkataan papa dan mama.
”Owh jadi ini, adikku yang dulu sering aku pukuli??”kata seseorang yang berada ditangga kini berjalan ke arahku. Wajahnya tampan,memiliki kharismatik yang kuat,tubuh yang ideal sehingga membuatku tertegun dan aku yakin dia pasti banyak cewek yang naksir.
“hem jadi nyesel dulu sering mukulin”lanjutnya yang sekarang udah ada dihadapanku sambil siap melayangkan tinjunya. Dengan sigap ku siap menampisnya. Tak sia – sia aku belajar bela diri. Tapi bukan pukulan yang ku dapatkan namun pelukan,dia memelukku membuat jantungku berdebar kaget.
”Heheheheh,tadi Cuma bercanda dek,”katanya sambil melepaskanku.
“Aldi kamu itu, kasian tarinya” kata mama.
Kak Aldi hanya tersenyum, ya dia adalah kakaku…….. aku hanya tertegun dan tersenyum.

Cerpen Cinta Sedih "Tak Sebiru Langit ~ 02"

Sesampainya disanggar Naela,aku melihat Naela sedang meminum sesuatu.
“Kau minum obat lagi”tanyaku,”hei kau sudah datang,ko’aku tak tau kau datang??”jwb Naela.
“Barusan ajah, kamu itu sakit apa si?, Ko’ minum obat banyak sekali?”tamyaku.
”Pasca kecelakaan aku emang harus meminum obat-obat ini, biar aku sembuh. Itu juga kalau aku bisa sembuh”jwb Naela.
“Kau pasti bisa sembuh Nae”kataku.
Naela hanya mengangguk saja.

“Ohya kau bilang ingin menunjukkan sesuatu padaku”tanyaku penasaran.
“Owh iya, aku sampai lupa”kata Naela, diapun mendorong kursi rodanya ke sebuah lemari,aku melihatnya sambil mempersiapkan kanvasku.
“Taraaaaaaaaaaa”kata Naela sambil menunjukkan botol-botol berisi sebuah cairan.
“Ini adalah pewarna alami kak”kata Naela bersemangat.
“Aku sering menggunakannya untuk lukisanku,karena dengan warna ini aku bisa melihat lukisan seperti hidup” lanjutnya.
“Kau menggunakan ini untuk mewarnai lukisanmu?, kalau aku selalu menggunakan cat air biasa” Kataku.
“Tapi meskipun begitu kau bisa membuat lukisannya seperti hidup”kata Naela,
“Bagiku kau hebat kak, bisa membuat seperti itu, Sedangkan aku tak bisa, mungkin karena aku tak suka menggunakan cat buatan” Lanjutnya,
“Tapi bagaimana kau mendapatkan warna alami seperti ini??”tanyaku
“Warna ini tak bisa dicari ditoko manapun, aku memperolehnya dengan membuatnya sendiri” jawab Naela.
“Membuat sendiri??” tanyaku penasaran.
“Yaps, aku mengambil warna-warna ini dari bunga yang ku keringkan, Dan hasilnya seperti ini” jawab Naela.
“Tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama tuk membuat hasil yang baik” kataku.
“Emang tapi itu akan membuat hasil yang mengagumkan bagiku” lanjut Naela.
“Itu sebabnya lukisanmu tak bisa kau selesaikan untuk dipamerkan?” tanyaku.
“Iya karena aku harus membuat warna dulu,jadi susah tuk menyelesaikannya, Lagipula aku tak bisa………..”kata Naela terpotong.
Aku sangat penasaran dengan Naela. “lagipula apa? Kau tak bisa karena apa?”.
Ekspresi Naela sangat mencurigakan.
“lagi pula aku tak bisa mencari warna biru yang alamikan??”kata Naela sambil menyeringai.
“kau tak mungkin mengambil langit untuk kau jadikan sebagai warna biru alamimu”lanjutnya sambil tersenyum.
Aku berlutut mendekatinya “jika kau menyuruhku mengambil langit yang biru itu untukmu, aku pasti akan melakukannya”kataku.
“karena seberat apapun permintaanmu, aku sangat ingin mengabulkannya”lanjutku sambil memegang tangannya dan memandang matanya, mata yang selalu membawa kesejukan bagiku, tapi mata itu penuh dengan rahasia, tak ku sangka bibirku menyentuh bibirnya sangat hangat, lembut dan damai…. Tak ku sangka Kami berciuman.
Bruuuk suara Sesuatu mengangetkan kami, kupun kembali berdiri. Perasaan canggung pun muncul terhadapku.
“ok sekarang kita mulai melukis”kataku mencairkan suasana.
Naela hanya tersenyum dan mengangguk, lalu kami bersiap-siap melukis.
“ohya kak, hari ini kau ingin melukis apa?”Tanya Naela saat dia memulai membuka kanvasnya.
“Aku ingin melukiskan wajah seseorang yang saat ini ada dihatiku,dan aku akan memberikan lukisan itu padanya”jawabku sambil malu-malu.
“Owh jadi kau sudah punya pacar y?”Tanya Naela kembali.
“bukan pacar, tapi orang yang kusayang dan kucintai saat ini,tapi aku belum mengungkapkan perasaanku kepadanya”jawabku singkat sambil memulai membuat sketsa.
“kenapa kau tak ungkapkan perasaanmu?, Jangan kelamaan nanti dia diambil orang lho. Heheheheh” kata Naela menggodaku.
Aku hanya tersenyum “kurasa dia takkan kemana-mana, dan akan ku pastikan tidak ada orang yang akan mengambilnya dariku” jawab ku.
“ohya” kata Naela dengan nada menggoda.
“Udah ach jangan kau goda terus aku ini” kataku dia hanya tertawa
“kau sendiri apa yang ingin kau lukis saat ini??”tanyaku kepada Naela.
“owh itu bukan suatu yang besar, tapi ini adalah harapan terakhirku. Aku sangat ingin menyelesaikannya, dan bisa memperlihatkannya pada semua orang” Jawab Naela.
“kau pasti bisa menyelesaikannya”jawabku menyemangati Naela.
“ohya apa aku boleh tau siapa gadis yang ada dihatimu kak”Tanya Naela kembali.
”hem…. Kasih tau nggak ya……..”jawabku menggodanya.
“ih…….kau ini”kata Naela dengan nada manja.
Kami pun tertawa bersama,dan melanjutkan melukis bersama. “kau pasti tau, karena gadis itu adalah dirimu”kataku dalam hati.


Begitulah kami selalu bersama,menghabiskan hari-hari bersama-sama dengan melukis,hingga kini tiba saatnya untuk mengungkapkan perasaanku padanya,perasaan yang membuatku selalu ingin bersamanya dan yang ku pendam selama ini, dan ku rasa inilah waktu yang pas untuk mengungkapkannya. Kamipun membuat janji makan malam bersama,ku siapkan segala mentalku,untuk malam ini.
”waah-waah mas keliatan sangat keren malam ini,apa mas mau kencan ya??”Tanya pak Asto menggoda.
“ach bapak ini,aku hanya akan makan malam bersama Naela pak.”jwbku seringai.
“owh jadi gadis itu mba Naela, bapak kira mba Laela, gadis yang mas lukiskan?” kata Pak Asto.
“Iya pak, dia yang ku lukis, bukan hanya di kanvas, tetapi juga dihatiku” kataku.
“Tapi menurut bapak mereka mirip ya, walau bapak nggak pernah ketemu sama mba Naela”lanjut pak Asto.
“mereka memang mirip tapi mereka beda pak,udah ach aku mau pergi, ntar telat lagi” kataku sambil jalan menuju mobil.
Setiba ku dirumah Naela, ku ketuk pintu rumahnya dengan hati yang dagdigdug. Pintupun terbuka.
“Maaf mas cari siapa ya??”Tanya seorang ibu dia adalah pembantu Naela.
“Maaf bi, non Naelanya ada??tanyaku.
“Non Naelanya tidak ada dirumah mas,”jawab bibi tersebut.
“Kemana bi, aku udah ada janji sama dia”kataku penasaran.
Mana mungkin dia lupa janji ku sama dia dalam hatiku bertanya.
“siapa bi?” suara orang dari dalam.
Diapun mendekat, ternyata suara itu dari Laela.
”Hai fian, ada apa kau kesini?” Tanya Laela.
“Hei juga aku ingin bertemu Naela, apa Naelanya ada??”tanyaku.
Laela hanya diam dan melewatiku, aku mengikutinya dia menuju bagasi dan seperti ingin pergi. Ku cegah dia, kupegang tangannya saat dia membuka pintu mobil.
“kau mau kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku, dimana Naela?” tanyaku penasaran.
Laela menghempaskan tanganku.
“kau ingin tau dimana adikku berada?”.
Aku hanya mengangguk.
“Maka dari itu ikut aku dan jangan banyak Tanya” lanjutnya, akupun mengikuti apa katanya, masuk ke mobil tanpa banyak Tanya.
di mobil kami hanya diam, tak ada kata yang keluar dari Laela, begitupun denganku, tak ada kata yang keluar, meski sangat banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepadanya. Kulihat ekspresi Laela yang sangat sedih, bahkan hampir menangis. Akhirnya kami tiba ditempat tujuan,yaitu rumah sakit.
Begitu banyak pertanyaan yang ada dihatikku yang sangat ingin aku tanyakan ke Laela.
“Aku ingin bertemu Naela, kenapa kau membawaku kemari??”itulah pertanyaan yang paling utama yang sangat ingin aku tanyakan. Namun tetap saja aku hanya diam dan mengikuti kemana Laela membawaku. Langkah Laela,berhenti pada sebuah kamar VIP dari rumah sakit tersebut.
”kau bilang kau ingin bertemu Naela” Tanya Laela yang kini berbalik ke arahku. Aku hanya diam dan mengangguk kebingungan.
“Dia ada diruangan ini,berbaring lemah dan tak berdaya”lanjut Laela sambil meneteskan air mata. Tak ku sangka,jantungku seperti melemah,Laela benar, Naela ada disana berpaling lemah,dengan begitu banyak peralatan pernapasan.
“Naela divonis dokter menderita attacksia, lima tahun yang lalu. Penyakit itu perlahan-lahan membuat seluruh tubuhnya lumpuh, kondisi badan Naela yang lemahlah, yang membuat penyakit itu cepat menyebar”kata Laela. Sepertinya dia tahu apa yang ada dipikirkanku.
“dia memakai kursi roda bukan karena dia mengalami kecelakaan,tapi karena dia sudah lumpuh satu tahun yang lalu” Lanjut Laela sambil menitihkan air mata.
Ku tau betapa sangat berat baginya kenyataan ini, tak terasa air mataku jatuh,tanpa seijinku dia mengalir membasahi pipiku.
“Dan kau tau kata dokter mungkin dia takkan bertahan lama”.
Aku tak kuat mendengarnya, ku peluk Laela yang menangis, hatikupun menangis. Baru saja aku ingin mengungkapkan perasaanku.
“Ya Tuhan sembuhkanlah dia. Sembuhkanlah gadis yang sangat aku cintai ini, biarkan aku bahagia bersamanya” do’aku yang ku panjatkan disaat air mata ini mengalir.
END???!!!...
Apa – apaan ini. Gantung amat yak, Kalo emang sad ending harusnya di matiin aja #Mendadak kejam. Ha ha
Over all, thanks ya Novi atas cerpen kirimannya. Terus lah berkarya.
Oke?...
SYIP!!!!!..
N buat yang mau ngirim karyanya terus di post di blog ini kaya si Novi boleh kok. Kirim aja langsung ke email anamerya17@gmail.com. Tapi dalam bentuk attacement ya. Cape ngeditnya. Suwer deh.
Biodata penulis :
Nama : Novi
Facebook : DevilOpi DhiM-dHim