Cerpen Ketika Cinta Harus Rela ~ 01

“Jadi mulai besok kamu mau pindah ke jakarta niz??” Tanya Vandi.
“Ia ni van,aq harus manut sama keputusan ibu ku” jawab Vaniz dalam obrolan chat yang dia lakukan bersama Vandi.
Sudah dua tahun ini mereka saling berkomunikasi lewat fasilitas yahoo messenger, tanpa pernah ada pertemuan.
“Enak donk,jadi kita bisa ketemu… heheheheh”kata Vandi merasa senang jika Vaniz pindah ke Jakarta sehingga ada kemungkinan mereka bisa saling bertemu. Hal yang sama di rasakan oleh vanis yang juga sudah sangat ingin bertemu Vandi, Pangeran dunia mayanya.

“Iya. Aku juga seneng pindah ke sana,tapi sedikit ada rasa takut dan khawatir”kata Vaniz.
“Kamu takut ketemu kakak kamu yang dulu sering jahat ma kamu?. Kamu takut nggak diterima mama papa kamu di Jakarta?. Kamu khawatir ma ibu kamu yang sendirian di semarang, kalau kamu pindah ke jakarata?” Kata Vandi panjang lebar seakan dia tahu akan isi hati Vaniz.
Vaniz hanya mengirimkan smile yang bergambar anggukan seakan dia juga tak percaya bahwa isi hatinya bisa dibaca dengan Vandi yang hanya lewat email tapi Vandilah yang selalu mengerti kondisi Vaniz,perasaan dan isi hatinya Vaniz.
“Kamu jangan takut Vaniz, mama papa kamu pasti bisa menerima kamu. Kamu kan anak mereka juga. Soal kakak kamu, dia pasti udah berubah kejadiannya kan dah lama banget,dan sekarang paling dia sudah besar dan ngerti mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan ibu kamu, dia pasti memikirkan yang terbaik buat kamu sehingga dia mengirimkan kamu ke Jakarta. Percayalah semua akan baik- baik saja. “ lanjut Vandi.
“Iya. Sku harus yakin kalau semuanya akan baik- baik saja”kata Vaniz meyakini diri sendiri.
”Kamu emang paling ngerti perasaannya aku van” lanjutnya.
“Siapa dulu Vandi gitu……..heheheheheeh”kata Vandi membuat Vaniz tersenyum sebal.
Vaniz adalah nama samaran dalam YM ku. Nama asliku adalah Lestari Vanizia Putri. Aku tinggal bersama nenekku di semarang, yang ku panggil dengan sebutan ibu karena sejak umur 3 tahun aku bersama beliau. Tidak bersama orang tua kandungku. Eitss aku masih punya orang tua lengkap dan satu kakak laki- laki lho. Mereka semua tinggal di Jakarta, kota yang padat penduduknya. Ya mereka mengirimkanku ke kota semarang Karena pernah ada incident yang dilakukan kakak kepadaku,sehingga mama terpaksa menitipkanku kepada nenek untuk di asuh. Itu dulu,sekarang aku sudah beranjak remaja,dan harus melanjutkan sekolahku ke jenjang SMA.
Mama,papa dan ibu menginginkanku tuk sekolah di Jakarta saja dari pada di semarang, dengan alasan sekolah di Jakarta lebih maju. Itu artinya aku harus tinggal bersama mama dan papaku. Hal yang belum pernah aku rasain sebelumnya,karena aku memang tak pernah ke sana dan jarang bertemu mereka.



“Kriiiiiiiiiiiingggg kriiiiiiinggggg”.
Telfon rumah tiba – tiba berbunyi saat kami sedang makan malam.
“Tari tolong angkat tefonnya”perintah Ibu tanpa kata aku langsung berjalan menuju benda satu itu.
“Paling yang nelfon mama,”gerutuku dalam hati.
“Hallo,assalamu alaikum” kataku membuka pembicaran telfon.
“Waalaikum salam,sayang lagi ngapain??? Udah siap buat besok???”Tanya suara diseberang yang tak lain adalah mamaku,mengingatkan bahwa besok aku harus ke Jakarta. Memulai kehidupan bersamanya.
“Iya ma,tari inget ko’ ni tari lagi makan ma ibu. Mama udah makan??”Kataku.
”udah sayang,besok kamu naik kereta pagi kan? Ntar mama yang jeput kamu di stasiun ok” kata mama. Aku hanya mengangguk. Kemudian telfon tertutup.
“Siapa tar??”Tanya ibu.
”Mama bu,dia mengingatkanku tuk siap- siap besok” kataku lirih sambil duduk kembali di meja makan.
“owh,kamu pasti udah nda sabar buat ketemu ma mama ya??”Tanya ibu. Aku hanya bisa tersenyum terpaksa.
Entah apa yang harus aku rasakan,senangkah,atau aku merasa sedih karena harus meninggalkan orang yang selalu ada untukku,yang seperti ibu kandungku sendiri?? Ibu tiba-tiba berdiri dan menghampiriku,lalu dia memelukku,seakan dia tau akan kebingunganku.
“Percayalah nak,ibu lakukan ini untuk kebaikanmu,untuk masa depanmu. Harusnya kamu merasa senang”kata ibu dalam pelukannya.
Aku hanya bisa diam dan tanpa sadar meneteskan air mataku.
“Eh anak ibu udah gede gini masih nangis si?? Cengeng……”ledek ibu setelah melepaskan pelukannya.
“Ah ibu. Tari nda cengeng tau”elakku sambil cepet – cepet mengusap air mata ku.
“Lalu ni air apa??” Tanya ibu yang menggodaku.
Aku pun tersipu malu atas ledekan beliau,meski sudah lanjut usia,beliau tetap memiliki rasa humor yang tinggi. Akhirnya kami pun tertawa bersama.
I Dream High nan kkumeul kkujyo Hindeul ttaemyeon nan nuneul gamgoKkumi irweojineun geu sunganeul Gyesok tteoollimyeo ireonajyo.
Lagu soundrak dream high pertanda alarm ku berbunyi. Ku gapai alarm cepat-cepat bangun dan langsung kekamar mandi tanpa dikomando.
“Huuh gara-gara semalem nda bisa tidur jadi bangun telat” kataku sambil berdandan di cermin.
“Tari, Ayo turun” kata ibu.
Membuatku makin gugup,setelah siap aku turun,sambil membawa tas ransel yang akan aku bawa kejakarta.
“Maaf Bu, semalan tari nda bisa tidur jadi telat bangun deh” Kataku sambil menyalami tangan ibu,kegiatanku tiap bangun tidur.
“Kamu itu,gimana. Hari ini kan mau perjalanan jauh,ko’ malah nda bisa tidur”kata ibu,sambil mengusap rambutku. Aku hanya nyengir.
” Ayo makan dulu,sebelum kamu berangkat”lanjutnya.
Kami pun makan bersama dalam hening,setelah selesai aku bersiap-siap tuk menuju mobil bersama ibu,dalam mobil tak banyak pembicaraan,ibu hanya menggenggam tanganku erat sambil sesekali memendangku,
“Owh ibu,meski kau bukan ibu kandungku matamu selalu meneduhkanku,aku sangat senang melihat matamu yang penuh kedamaian,mata yang memancarkan rasa sayang yang begitu dalam yang terlihat hanya untukku.tak lma kami sudah sampai distasiun.
“Nanti kalau udah sampai disana kamu kabari ibu ya, jaga kesehatan kamu,maaf ibu nda bisa nganter kamu nyampe Jakarta.” Kata ibu,setelah melepaskan pelukannya. Aku hanya menggangguk lalu menyalami beliau kemudian berjalan memasuki gerbong kereta. Lambat laut kereta berangkat,ku lambaikan tangan kepada ibu.
Dengan berat ku hembuskan napas……….
”Jakarta I am coming…………” gumam ku lirih sambil mengumbar senyum semangat.

Perjalanan cukup jauh,dan melelahkan. akhirnya aku sampai juga distasiun kota Jakarta. Sempat bingung,aku mau ngapain dan harus kemana? Secara ini pertama kalinya aku ke Jakarta. Sekilas aku melihat papan yang bertuliskan namaku dibawa oleh seorang laki-laki paruh baya
Aku pun menghampirinya.
“Neng non lestari?”Tanya bapak itu seakan mengerti aku yang sedang kebingungan.
“Iya bapak ko’ tau nama saya??”jawabku sekaligus bertanya.
“saya pak Supri non,supir pribadi dari mama enon”jawab pak supri. ”saya disuruh nyonya untuk menjemput enon, karena nyonya ada urusan mendadak”Lanjutnya,sambil memberikan sebuah kertas yang berisi surat. ( seperti barang aja harus diberi surat segala).
Namun aku tak percaya begitu saja dengan pak Supri,karena aku memang belum pernah bertemu dengan beliau.
“Huuh aku ini anak mama apa bukan si. Kenapa nama supir mama aja aku nda tau…….huuh menyebalkan”kataku dalam hati sambil mencoba menghubungi mama untuk memastikannya. Telfon pun terhubung dan terdengar suara disebrang.
“Hallo, sayang?? Udah nyampe Jakarta??”kata mama yang langsung nerocos aja
“Udah ma,ko’ mama nda jemput tari,katanya mama sendiri yang mau jemput tari,lha ko’ yang ada pak supri yang njemput tari??? Ini beneran suruhannya mama??”kataku tak kalah nerocos.
“Maaf sayang mama nda bisa njemput karena ada keperluan mendadak makanya mama menyuruh pak supri untuk njemput kamu. Iya bener dia supir mama. Kamu ikut dia ya…….” Kata mama,lalu menutup telfon sambil menggerutu kesal.
”Gimana non udah percaya??”Tanya pak Supri,aku hanya mengangguk dan mengikuti beliau menuju mobil.
Beberapa saat kami hanya terdiam tanpa ada yang membuka percakapan.
“huuh dasar mama, selalu aja nda nepati janji,kemaren bilang mau njemput sekarang mlah ada keperluan. Huuh lebih penting keperluannya apa dari pada nyambut kedatanganku”bisikku dalam hati.
Hahhahahaha tiba – tiba saja aku dikagetkan oleh suara tawa pak Supri sehingga aku sadar kalau aku tak sendirian.
“enon nglamunin siapa?. Ko’ bibirnya muncis – muncis gitu” Tanya pak Supri, aku yang membuatku malu dan risih atas perkataannya.
“Maaf non, bukannya bapak kurang ajar tapi tadi pas bapak liat enon, enon lagi muncis – muncis gitu non lucu banget. Bapak nda bisa nahan tawa jadi keluar deh tawa bapak dengan sendirinya.”lanjut pak Supri disusul dengan cengirannya yang membuatku tersenyum.
“Ea nda apa – apa ko’ pak,”jawabku sambil mnyeringai menutupi muka Malu ku.
Mobil berjalan dengan nyaman,sepertinya pak supri udah berpengalaman soal supir menyupir,(tapi bukan nyupir alias nyupi prirng heheheh ).
“owh ea gimana dengan nenek enon” Tanya pak Supri memulai pembicaraan
“Beliau sehat pak. Bapak mengenal ibu saya??”Jawabku dengan nada bertanya.
” Owh ya kenal donk,dulu bapak yang nganter enon pertama kali ke semarang bareng mama enon,sekarang yang njemput bapak juga,tapi dulu masih anak kecil,sekarang udah gede dan cantik lagi”tambah pak Supri memulai cerita,aku hanya tersenyum simpul malu mendengarnya.
”Owh ea, non pasti udah lupa ma den aldi kakak non,dulu kalian kan masih kecil – kecil,dan belum bertemu lagi kan??aku hanya menganggukkan kepala. Memang sih udah lama sekali aku nda bertemu kak Aldi,ntah berapa tahun aku pun lupa.
” Sekarang den Aldi itu dah gede cakep lagi,dia mirip ma tuan,bahkan saking miripnya dikira mereka kembar.”lanjut Pak Supri,
Angan ku membayangkan muka papa yang ku akui emang tampan, meski aku tinggal sama nenek, tapi mama dan papa jarang ke semarang, bahkan tak setiap lebaran mereka pulang,kak Aldi juga bisa dikatakan nda pernah pergi ke semarang. Alasan mereka sama saja seperti dulu – . sibbuuuuuuuuuuuuuk.
“Lalu enon tu mirip ma sapa ya ?”kata pak supri membuyarkan lamunanku, membuatku penasaran
“Mirip siapa pak” Tanyaku.
“Yang pasti mirip nyonyalah” Jawab pak Supri pada saat mobil berhenti didepan sebuah rumah berlantai dua dengan mempunyai halaman yang lumayan luas dengan ditanami berbagai bunga yang aku yakin ini semua koleksi mama. Emang mama mirip sama ibu.
“Ayo turun non,pasti semua udah menunggu” kata pak supri yang lagi – lagi menyadarkanku dari lamunan. Hem hari ini aku banyak melamun.

***
Aku berjalan perlahan menuju rumah tersebut. Mengedarkan pandanganku kesekeliling halaman yang penuh dengan tanaman hias milik mama, yangtertata rapi dan indah.” Apa ini rumah mamaku? begitu nyaman meski tak terlalu besar namunaku bisa merasakan rasa nyman saat berada disini.” Gumamku dalam hati.
Tiba – tiba saja pak Supri mengagetkanku dengan menggiringku untuk mengetuk pintu,sebelum ku ketuk pintu,tiba- tiba pintu itu terbuka,berdirilah seorang wanita yang masih keliatan muda dan cantik meski sudah memiliki 2 anak yang beranjak dewasa.
“Alhamdulillah,kamu akhirnya sampai juga,tari”Kata wanita tersebut sambil melepas pelukanku.
Iya dia mamaku, mama yang menitipkanku kepada nenek, mama yang selalu mengingkari janjinya namun aku selalu bisa memaafkannya,mama yang masih cantik meski udah punya anak 2 yang beranjak dewasa.
“Aduh sayang mama kangen banget sama kamu.”lanjutnya sambil memegang pundakku.”ayo masuk sekarang kamu udah gede dan cantik,sekarang kita nggak akan terpisah lagi.”katanya sambil menyuruhku duduk disofa sedangkan aku hanya tersenyum.
“Eh princess papa udah datang,gimana perjalanan hari ini nak”kata seorang laki – laki yang tak bisa dibilang muda lagi,namun masih memiliki wajah yang tampan dan aura kewibawaan.
“Duuh sekarang princess kecil papa udah gede gini,tambah cantik juga.”lanjutnya sambil melepas pelukannya,aku hanya bisa terdiam dan tersipu malu,mendengar perkataan papa dan mama.
”Owh jadi ini, adikku yang dulu sering aku pukuli??”kata seseorang yang berada ditangga kini berjalan ke arahku. Wajahnya tampan,memiliki kharismatik yang kuat,tubuh yang ideal sehingga membuatku tertegun dan aku yakin dia pasti banyak cewek yang naksir.
“hem jadi nyesel dulu sering mukulin”lanjutnya yang sekarang udah ada dihadapanku sambil siap melayangkan tinjunya. Dengan sigap ku siap menampisnya. Tak sia – sia aku belajar bela diri. Tapi bukan pukulan yang ku dapatkan namun pelukan,dia memelukku membuat jantungku berdebar kaget.
”Heheheheh,tadi Cuma bercanda dek,”katanya sambil melepaskanku.
“Aldi kamu itu, kasian tarinya” kata mama.
Kak Aldi hanya tersenyum, ya dia adalah kakaku…….. aku hanya tertegun dan tersenyum.


EmoticonEmoticon