Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela Ending

Akhirnya setelah sekian lama cerpen cinta ketika cinta harus rela sampe juga pada bagian ending. ha ha ha

Masih pada penasaran kan gimana sama endingnya?. Bentar lagi tu pertanyaan bakal terjawab deh. Lagian penulis kayaknya kerjannya lelet banget yak. Masa setelah sekian lama baru kini bisa bikin endingnnya. Ck ck ck...

Oke deh, over all selamat membaca aja deh.


“Jadi kalian janjiannya di taman kota Tar” Kata Anya yang tak penasaran saat ku ceritakan rencana ketemuanku dengan Vandi,
“Loe mau ngajak kita bertiga nggak” Tanya Tia dan Tiwi berbarengan, ku tatap kedua sahabatku ini, aku sedikit ragu untuk mengajak mereka namun aku juga nda berani bertemu dengan Vandi sendirian.
“Gimana ya? Aku bingung mau ngajak kalian apa nda?” Jawabku hati – hati .
“Ko’ gitu? Harusnya loe ngajak kita donk biar kita bias njagain loe, kalau ada apa – apa sama loe gimana? Kalau loe diculik dan dibawa kabur sama Vandi gimana” Timpal Tia,
“Huuus, loe ini masa temen sendiri didoa’in gitu sih,” Kata Anya,
“Ea maaf, habisnya di tv – tv kan banyak tu berita tentang anak gadis dibawa kabur sama temen chatingnya” Kata Tia.
“Ni anak ya, bener – bener suka bikin takut orang aja” Kata Tiwi yang sangat ingin memukul saudara kembarannya itu.
“Udah – udah Tia bener juga, aku juga takut kalau ketemuan dengan Vandi sendirian, ya udah kalian boleh ikut tapi nda boleh ganggu ya” Kataku dan dijawab “Ok” dengan serempak oleh mereka bertiga.


Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela Ending


Setelah membereskan buku – buku aku bersiap pulang, aku berjalan menuju gerbang sendirian karena mereka memilih untuk pulang duluan.
Tiba – tiba ada mobil yang berhenti didepanku saat aku sedang menunggu Kak Aldi untuk menjemput.
“Kak Andre? Anya udah pulang kak” Kataku saat tau bahwa orang yang membawa mobil itu adalah Kak Andre.
“Aku kesini buat njemput kamu ko’, ayo masuk” Kata Kak Andre, yang menyuruhku untuk masuk mobil.
Tak berniat mengecewakan Kak Andre, aku pun mengikuti ajakan Kak Andre untuk ikut dengannya.
“Kita mau pergi kemana Kak?” Tanyaku setelah duduk di jok mobilnya.
“Nanti kamu juga tau, jangan khawatir soal Aldi tadi aku udah bilang sama dia aku yang akan njemput kamu” Kata Kak Andre saat aku akan membuka mulut untuk bertanya. Seperti biasa dia memang bias menebak apa yang ada dipikiranku ini.
Mobil berjalan dengan pelan, aku tak tau kemana Kak Andre akan membawaku. Di dalam mobil tak ada satu pun pembicaraan yang terjadi. Kak Andre hanya diam dan focus menyetir, sedangkan aku meski penasaran dengan tujuannya namun tak ada sepatah kata pun dariku yang terucap.
Mobil berhenti di sebuah rumah makan Kak Andre turun dan aku pun mengikutinya dengan penasaran.
“Kamu pasti laper kan?” Tanya Kak Andre, aku hanya mengangguk saja.
“Kenapa bengong ayo masuk” Lanjutnya. Tanpa berpikir panjang aku mengikutinya.
“Kak Andre suka kesini?” Tanyaku saat masih menunggu pesanan dating.
“Iya, sering kesini sama Anya” Jawabnya
“Kenapa tadi nda ajak Anya sekalian kak?” Tanyaku namun orang yang ditanya bukannya menjawab malah tersenyum saja.
“Oiya, soal pertanyaanku pada waktu itu! Apakah kamu udah bias menjawabnya?” Tanya Kak Andre dengan memandangku penuh harap
Aku memandangnya dengan heran “Pertanyaan? Perasaan Kak Andre nda pernah bertanya padaku?” Jawabku sambil berpikir, Kak Andre memandangku dengan kecewa
“Astaga! Mungkin pas waktu itu, ajakan dia nanya aku mau jadi pacarnya apa nda? Kenapa aku bias lupa” Kataku dalam hati dan tak berani memandangnya lagi.
“Maafin aku Kak, aku tadi sedikit lupa” Kataku dengan hati – hati dan masih tak berani memandangnya.
“Bukannya kamu sering lupa?” Jawabnya dan aku mendongak untuk memandangnya.
“Ya udah kalau kamu lupa, aku pertegas lagi! Aku suka kamu, kamu mau jadi pacar aku?” Katanya tanpa memalingkan pandangannya padaku dan tiba – tiba menggenggam tanganku, membuatku berdebar – debar dan sangat berdebar – debar .
Beberapa detik kemudian aku tersadar dan teringat Vandi aku nda mungkin mengkhianatinya, tanpa sadar aku menarik tanganku dari genggaman Kak Andre yang membuatnya kebingungan dan salah tingkah.
“Maaf Kak, aku nda bisa” Kataku tak ingin memandangnya.
“Kenapa? Apa kamu sudah mempunyai pacar?” Tanya Kak Andre yang memandangku, namun aku tetap tak bisa memandangnya.
“Tapi kata Aldi kau belum punya pacar?” Lanjutnya yang kini berhasil membuatku mendongak memandangnya. Namun aku tak bias berkata apa – apa untuk saat ini.
“Ya udah kalau kamu nggak mau jawab, ayo makan pesanannya udah dating” Kata Kak Andre yang menyuruhku makan karena memang pesanannya sudah datang.

Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela Ending
 
Sesampainya di rumah ku baringkan badan di atas kasur, “Hem Kak Andre ada – ada aja masa dia suka sama aku?” gumamku pada boneka kesayanganku.
“Tapi keliatannya dia serius, sebenarnya sih aku juga suka sama dia. Udah ganteng, kalem, pinter, dan nda playboy lagi nda kaya temen Kak Aldi yang lain”
“Tapi kalau aku menerima cintanya gimana sama Vandi?”
“Apalagi besok kita mau ketemuan, masa iya aku harus mengkhianati cintanya?
“Apa iya Vandi juga setia kaya aku ya? Atau mungkin dia seperti yang Anya katakan dia hanya akan menyakitiku saja”
“Kenapa aku jadi bingung kaya gini? Aaach pusing – pusing” Kataku sambil mengguncang – guncangkan si teddy boneka beruangku.
Daripada pusing dengan pikiranku sendiri, ku ambil laptop dan bersiap untuk berchating ria bersama Vandi.
“Hai Bird, masih ngapain?” Kataku memulai email kepadanya.
“Hai juga Bear, dari tadi aku nungguin ko’ baru nongol?” Balas Vandi. Aku pun melihat pesan – pesan yang dikirim Vandi sebelumnya, dia memang mengirimkan beberapa pesan membuatku tak enak karena telah membuatnya menunggu.
“Ya maaf Bird, aku tadi ada urusan sebentar jadi pulang agak telat deh, kamu udah makan?” Tanyaku kepada Vandi
“Udah ko’ Bear, gimana besok? Mau ada acara apa di rumah?” Jawab Vandi
“Nda ada, aku nda pengen dirayain ko’ bahkan aku juga ragu apakah keluarga disini tau kalau besok adalah hari ulang tahunku” Balas ku ke Vandi. Iya memang ada sedikit keraguan apakah semua keluargaku yang ada disini tau bahwa besok adalah ulang tahunku.
“Kalau mereka tak mengingatnya kan masih ada aku yang kan selalu mengingatnya” balas Vandi yang membuatku tersenyum.

Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela Ending

Ku bersihkan kamarku yang berantakan akibat ulah kelurgaku semalam. Tepat jam 12 malam mereka membuat kejutan kecil, yang sebelumnya sudah direncanakan dengan ditambah lagi dengan kedatangan ibu dari semarang yang sengaja disembunyikan oleh papa dan mama.
“Waduh, anak gadis ibu nda turun – turun” Kata Ibu yang ada di pintu kamarku
“Eh Ibu, ayo masuk Tari masih mberesin sisa kemarin” Kataku kepada Ibu.
“Nda usah, Ibu Cuma mau nyampein kalau kamu udah ditunggu di meja makan, ayo cepetan turun!” Perintah Ibu
“Baik bu, bentar lagi Tari turun” Kataku, lalu Ibu pun melangkahkan kaki meninggalkan kamarku.
Setelah ku rasa kamarku rapi, aku pun turun menusul ibu. Hari ini mama sengaja memasak nasi kuning buat syukuan ulang tahunku, meski tak ada rencana pembuatan party namun temen – temenku datang ke rumah bersama temen – temen dari Kak Aldi, sehingga suasana menjadi rame.
“Jam berapa Loe ketemuan sama Vandi Tar?” Tanya Anya saat kami sedang duduk di halaman belakang rumah.
“Jam 4 Nya” Jawabku singkat pada saat bersamaan mataku berpapasan sama Kak Andre, aku hanya bias tersenyum saja melihatnya.
“Owh gitu, di taman kota kan? Ok ntar kita antar loe kesana, sekalian gue penasaran sama yang namanya Vandi kaya apa sih orangnya” Kata Anya.
“Setuju” Kata si kembar menimpali. Aku hanya bias geleng – geleng kepala saja.

Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela Ending

Kini tiba saatnya buat aku ketemu dengan Vandi. Dengan hati berdebar – debar, ternyata keberadaan ketiga sahabatku tak bisa membuatku tenang.
“Kamu dimana Bird?” Kukirim email kepada Vandi yang entah sudah ke berapa kali karena belum ada satu pun balesan darinya.
“Duuh yang namanya Vandi tu kaya apa sih, dia udah balas belum Tar?” Tanya Anya yang membuatku semakin tak tenang.
“Loe sih, kenapa nggak minta fotonya dulu jadi kita bisa mengenalinya, kalau gini kan repot” Kata Tiwi menimpali.
“Gimana kalau dia udah bapak – bapak, terus orangnya jelek dan berwajah mupeng lagi” Tia tak mau kalah menimpali.
“Huus kamu jangan ngaco donk! aku yakin dia seumuran Kak Aldi, mengenai fotonya aku sering minta tapi tak pernah dikasih olehnya” Jawabku yang membuat mereka diem.
Tiba – tiba hpku berbunyi yang menandakan ada chat masuk, kulihat ternyata dari Vandi.
“Bear bisakah kamu pergi ke sebuah kafe yang deket taman? Aku menunggumu disana tapi tolong kau sendirian jangan membawa temanmu” balasan dari Vandi, membuat hatiku berdegub kencang
“Kenapa dia bisa tau kalau aku membawa temen – temenku? Apa dia tadi melihatku?” begitu banyak pertanyaan yang terlintas saat membaca pesan dari Vandi.
Karena penasaran aku pun pergi kesebuah kafe yang dimaksud dalam pesan Vandi, mudah saja menemukan kafe itu karena memang cuma ada satu kafe di taman ini. Tanpa memperdulikan pertanyaan dari Anya dan lainnya aku terus berjalan dengan hati yang berdebar dan takut sekaligus ada sedikit marah.
“Kalau benar dia udah ngeliat aku, kenapa dia nda nyamperin aku langsung sih? Kenapa harus berpindah tempat segala dan kenapa harus berdua saja” Kataku menggerutu saat ku buka pintu kafe ke mencari – cari Vandi
“Tari” terdengnar teriakan yang memanggilku,
“Kak Andre? Kenapa Kakak ada disini” Tanyaku setelah menghampirinya.
Namun tak sepatah kata pun yang terucap darinya, aku menengok dan ternyata Kak Andre tidak sendirian dia bersama Kak Aldi. Yang membuatku semakin bingung kenapa sikap Kak Aldi, dia seakan tak ingin berada disini dan yang paling membuatku kaget adalah boneka yang ada ditangan Kak Aldi. Boneka burung berwarna biru yang sangat aku kenal dan tak slah lagi ketika Kak Aldi berbicara.
“Duduk Bear atau Tari” Katanya tanpa memandangnku sama sekali.
Tanpa sadar aku sudah duduk di kursi bahkan aku tak inget sejak kapan aku sudah duduk disitu, “Jaa dii, kakak adalah Bird atau Vandi” kataku sambil terbata – bata, tiba – tiba aku merasakan sesak yang teramat sangat, seluruh badan pun lemas tak mampu ku gerakkan.
“Bagaimana mungkin orang yang selama 3 tahun ini aku cinta, yang selalu mendengar semua curahan hatiku, yang selalu ingin aku lihat dan selalu memberikan ketenangan dalam hatiku adalah kakaku sendiri? Dan aku mencintai kakakku sendiri?” ingin rasanya aku teriakan semua kata – kata itu, namun tak ada satupun kata yang keluar dariku.
Tak ada yang memulai berbicara semua diam dengan pikiran masing – masing sedang Kak Andre aku pun tak tau sejak kapan dia pergi meninggalkan kami berdua.
Aku dan Kak Aldi hanya saling pandang tanpa bisa berbicara apapun.
“Jelasin sama Tari kak apa semua ini benar?” Tanyaku setelah kurasa terlalu lama kami berdiam.
“Aku juga nggak nyangka Tar, kenapa bisa seperti ini orang yang sangat aku rindukan, orang yang selama ini aku nantikan ternyata selalu ada disampingku selalu ada di rumahku. Dan orang yang sangat aku cintai selama ini tak bisa ku miliki karena dia adalah adikku sendiri aku tak tau harus bagaimana Tar” Kata Kak Aldi sambil menunduk dan sangat tergambar jelas dari wajahnya raut kekecewaan dan kebingungan yang mendalam.
Aku hanya bisa terdiam dan bingung mau menjawab apa. Tak sadar tiba – tiba air mataku mengalir dengan sendirinya.
“Mungkin lebih baik kita saling melupakan dan seakan tak pernah saling mengenal nama Bear dan Bird anggap saja tak ada” Kata Kak Aldi dan pada saat ku mendengarnya ku tak tau seberapa banyak air mata yang kutumpahkan di pipi ini.

Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela Ending

Kenyataan bahwa orang yang selama ini aku cintai adalah kakak kandungku sendiri, membuatku seperti tak ingin ada di dunia ini.
“Ya Tuhan, dunia ini begitu luas namun kenapa Kau hadirkan cintaku hanya untuknya, untuk orang yang tak akan mungkin aku miliki karena hubungan darah” Bisikku dalam hati.
“Kakak udah putusin, kakak akan pergi ke Amerika untuk kuliah disana dan agar bisa melupakanmu dan kakak juga berharap kau bisa melupakan kakak” Kata Kak Aldi.
“Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita kak” Kataku menatap mata Kak Aldi
Sudah 2 minggu hari pertemuan itu berlalu meski aku menerima keputusan Kak Aldi untuk saling melupakan namun tak semudah itu melakukannya, aku belum bisa melupakan Vandi, begitupun Kak Aldi tak bisa melupakan Vaniz.
Dan akhirnya Kak Aldi menerima tawaran ayah untuk kuliah di Amerika, meski tadinya dia menolak namun akhirnya Kak Aldi menerimanya.
Hari ini adalah hari keberangkatan Kak Aldi ke Amerika. Semua orang sudah berkumpul di Bandara untuk mengantarnya.
“Kamu Hati – hati disana, jaga kesehatan kamu dan juga belajar yang rajin kami semua mendoakan kamu disini” Kata Ibu setelah memelik Kak Aldi, Kak Aldi memeluk mereka satu persatu.
“Jaga diri kamu baik – baik ya Tar, aku sayang kamu” Kata Kak Aldi dalam pelukannya.
Aku merasakan betapa besar rasa sayangnya terhadapku, namun aku tak tau perasaan dari seorang kakak atau seorang kekasih. Aku tak bisa menjawabnya hanya dengan kata – kata aku hanya mengangguk saja tanpa terasa aku meneteskan air mata.
“Eheem, Aldi ayo pesawatmu segera take off tu” Kata Papa membujuk Kak Aldi untuk melepas pelukannya. Dia pun menurut dan berjalan meninggalkanku.
Ingin rasanya aku berteriak jangan pergi, ingin rasanya aku mencegah ia pergi untuk tetap bersamaku disini, namun lagi – lagi tak ada suara yang keluar dari mulutku tak ada tindakan yang aku berbuat. Yang ada hanya aku berdiri terpatung melihat dia pergi dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Cintaku kini telah pergi, meninggalkanku sendiri disini. Entah sampai kapan dia kembali atau mungkin tak akan kembali dan tergantikan oleh cinta yang lain, entah lah” Bisikku dalam hati.
“Meski cintaku ini tak akan bisa ku miliki aku akan rela untuk melepasnya, dan aku juga nda akan berhenti disini saja. Aku akan tetap bangkit dan melangkah untuk menggapai cita dan cintaku dan aku yakin masih begitu banyak cinta didunia ini yang masih bisa aku raih” Tiba – tiba sedikit senyum terlukis dibibirku.
“Selamat jalan Kakak, selamat jalan Vandi dan selamat jalan cintaku” Gumamanku saat akan meninggalkan Bandara dan bergabung bersama teman – temanku.
End....

Ma kasih ya Novi atas karyanya. Semangat terus buat nulis ya dek. Di jamin deh, makin lama nulis pasti karyanya makin bagus. Amin...

Biodata penulis :

Judul : Cerpen Ketika Cinta Harus Rela
Penulis : Novi
Facebook :DevilOpi DhiM-dHim

3 komentar

Keren dan bisa menginspirasi cerbung saya.
Two thumbs up!

Slalu sk sm org2 yg bs nulis apalagi sampe selesai. Salut. Karena perjuangannya pst panjang. hehehe. Salam knl, n kalo ga keberatan bs mampir jg ke blog ku aboutanggie.blogspot.com. Thank u :)

Slalu sk sm org2 yg bs nulis apalagi sampe selesai. Salut. Karena perjuangannya pst panjang. hehehe. Salam knl, n kalo ga keberatan bs mampir jg ke blog ku aboutanggie.blogspot.com. Thank u :)


EmoticonEmoticon