Cerpen Cinta Remaja "Cinta dipenghujung harap" ~ 01

Halo All Reader semua. Sepertinya Admin sudah lama tidak mengisi blog kumpulan cerpen ini dengan cerpen karya pribadi. Kebanyakan di sini cerpen kiriman, Termasuk cerpen remaja aku panggil dia angin di postingan sebelumnya. Atau kalau nggak Admin post di blog "Star Night".

Tapi, Gara gara Admin ngambek sama tu blog satu terkait pinguin panda V2, Admin balik lagi kesini deh. Untuk sejenak semua yang ada di sono di abaikan. Gak tau sampai kapan. ha ha ha #Dihajar.

Oke lah, dari pada kebanyakan cerita mending langsung ke cerpen cinta yang satu ini yuks. Judulnya "Cinta di penghujung harap". Abis bingung mau ngarang judul apaan.Jiah.....


Walau berjauhan, kami tau. Kalau hati kami selalu dekat.
Dan saat dia menghilang, aku merasakan kalau dunia ku telah gelap.
Namun kini, Saat dia berada dekatku,
berada dalam jarak pandangku,
kenapa kami justru begitu jauh.


"Hufh, akhirnya selesai juga" Gumam Alexsa sambil merantangkan tangannya. Sekedar meluruskan otot - otot tubuhnya yang terasa pegel karena terlalu lama duduk dihadapan komputer. Menyelesaikan Laporan akhir keuangan bulanan kantornya. Yang memang merupakan tugasnya selaku sang admin.

Setelah selesai meng'save' data -data tersebut kedalam flasdisk nya, Alexsa bangkit berdiri. Tak lupa di matikannya komputer yang telah lebih dari 12 jam non stop menemaninya seharian ini hanya untuk berkutat pada deretan angka yang cukup membuat pusing kepalannya. Disambarnya tas coklat di atas meja sebelum kemudian dengan santai meninggalkan ruangan kerjannya. Sekilas Alexsa menatap kesekeliling. Sepi. Sepertinya para Staff lainnya sudah pulang duluan. Wajar saja si, jam kantor sudah berlalu lebih dari sejam yang lewat.

Tepat di depan kantor Alexsa berdiri. Menanti angkutan umum lewat di hadapan yang akan membawanya kembali kerumah. Lima menit berlalu tapi masih belum ada bis yang lewat. Sesekali Alexsa melirik jam yang melingkar di tangannya. Hampir pukul 6 sore. Bisa di pastikan ia akan tiba malam di rumahnya.

"Teeett teeett teeeett".

Refleks Alexsa menoleh. Sebuah sedan merah berhenti tak jauh darinya. Sebelum pemiliknya turun dari dalam mobil, Alexsa sudah bisa menebak siapa orangnya. Tanpa sadar ia menghembuskan nafas berat saat matanya mendapati pintu mobil mulai terbuka di hadapannya.

"Mau pulang?"

"Iya pak" Balas Alexsa sambil berusah memasang senyum paksa di bibirnya. Sekedar formalitas untuk menjaga imagenya. Walau bagaimanapun bersikap sopan selalu menjadi prioritas utamanya. Terlebih yang berdiri di hapannya adalah pak Swandy, Kepala Staff marketing di kantornya.

"Jangan panggil saya bapak. Saya jadi merasa cukup tua. Lagi pula ini kan sudah bukan jam kantor" Balas Swandy sambil tersenyum.

Alexsa hanya mengernyit sekilas. Mati - matian menahan diri untuk tidak memutar mata, merasa enek mendengarnya. Baiklah, ia akui kalau seseorang yang berdiri di hadapnnya cukup tampan, Setidak nya itu juga merupakan pendapat hampir seluruh orang - orang di sekelilingnya yang juga mengenalnya. Selain itu, pak Swandy juga orang kaya. Selalu ramah_kalau tidak ingin di bilang genit_ pada semua orang terlebih wanita khususnya. Rekan - rekan Alexsa juga tau kalau Pria itu menyukainya, Ralat menyukai semau wanita cantik sepertinya. Yang mereka semua tidak tau adalah, Alexsa membencinya. Sangat membencinya.

"Tumben jam segini baru mau pulang?" tanya Swandy yang kini berdiri tepat di samping Alexsa.

"Kebetulan tadi ada tugas yang harus di selesaikan" Balas Alexsa sambil tetap berusaha menjaga nada bicaranya.

"Sebentar lagi malam, rasanya tidak aman kalau gadis cantik sepertimu pulang sendirian. Terlebih di dalam bus. Bagaimana jika saya antar saja. Kebetulan juga saya tidak sedang sibuk".

"Terima kasih pak. Tidak perlu repot - repot" Tolak Alexsa. Dalam hati ia mengerutu, Bukannya lebih tidak aman lagi kalau ia pulang bersama pria itu.

"Sama sekali tidak merepotkan. Justru saya akan dengan senang hati melakukannya".

"Oh tidak usah pak. Lagi pula tu bisnya juga sudah datang. Mari...".

Tanpa menunggu balasan, Alexsa segera melesat. Melangkah masuk kedalam bus bersama beberapa penumpang lainnya. Mengabaikan tampang cemberut pak Swandy yang ditinggalkannya.

Setelah duduk diam sementara bus juga sudah mulai melaju barulah Alexsa bisa kembali menghembuskan nafas lega. Astaga, kepalanya kembali terasa berdenyut nyeri. Selain karena ia sudah terlalu lama menghitung deretan angka yang memeras otaknya, situasi tadi juga salah satu alasannya. Ia sudah cukup bingung menghindari makluk yang satu itu. Bukan karena sombong, tapi ia masih cukup waras untuk bisa membedakan mana yang terbaik untuknya. Tampang keren, harta melimpah tapi moral anjok si sama sekali bukan tipenya. Secara sudah menjadi rahasia umum kalau Pak Swandy sering keluar masuk hotel dengan wanita yang berbeda.

Sebenernya itu bukan urusannya, dan Alexsa sendiri sama sekali tidak tertarik untuk mencampurinya. Hanya saja, kenyataan kalau ia adalah target pendekatan pria hidung belang satu itu sudah cukup membuat merinding bulu kuduknya. Apalagi yang harus ia lakukan untuk menghindarinya. Cara kasar jelas mustahil ia lakukan, walau bagaimana pun. Jabatan pak Swandy jelas berada di atasnya.

Tak ingin semakin membuat sakit kepalanya tangan Alexsa terangkat. Melepaskan kacamata yang bertenger di matanya. Yang selalu menemaninya melewati hari - hari di kantornya. Dengan berlahan di masukannya benda itu kedalam kotak yang ia bawa. Selesai menyimpan kembali di dalam tas, tak lupa tangannya menyambar headset putih kesayangannya. Mendengarkan musik sambil bersandar di bus sepertinya lebih menyenangkan. Terlebih jarak yang akan ia tempuh juga lumayan jauh. Tanpa sadar matanya terpejam, walau ingatannya tetap merekam musik yang mengalun di telinganya.


"Siang pak, ini laporan keuangan bulan ini yang bapak minta kemaren" Kata Alexsa kearah pak Sbastian. Atasannya.

"Oh, terima kasih" Balas Pak Sbastian sambil tersenyum. Alexsa ikut membalas senyumnya sebelum kemudian ia pamit. Berniat berbalik keruangannya.

"Oh ya, Hampir saja saya lupa. Ada yang ingin saya katakan padamu".

"Ada apa ya pak?" tanya Alexsa lirih. Mendadak merasa was - was akan kabar yang akan keluar dari mulut atasannya.

"Begini, Silahkan duduk dulu" Tawar pak Sbastian sebelum kemudian kembali melanjutkan ucapannya. Tanpa membantah Alexsa segera menginterupsi saran atasan yang cukup di hormatinya. Selain bertangung jawab, Pria separuh baya itu juga selalu sopan pada siapapun.

"Mulai minggu depan, Kamu tidak perlu lagi menjadi admin di kantor ini".

"Maaf pak?" Tanya Alexsa refleks. Tidak jadi admin lagi. Maksutnya dia di pecat?.

"Oh jangan khawatir. Kamu tidak saya pecat. Justru saya ingin mengangkat kamu jadi sekertaris di kantor ini".

"Saya pak?".

"Iya, kamu saya angkat jadi Sekertaris mengangtikan Linda mulai minggu depan. Karena mulai minggu depan saya tidak akan mengurus kantor ini lagi. Kantor ini akan saya serahkan pada Anak saya yang baru menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. Sementara Linda saya bawa, Karena dia memang sekertaris saya. Kamu saya angkat jadi sekertaris nya karena saya sangat tau kemampuan mu. Jadi kamu bisa mengimbangi anak saya yang baru mau mulai belajar. Kamu tidak keberatan kan?".

Lama Alexsa terdiam sebelum kepalanya mengangguk berlahan. Lagipula ia juga tidak bisa mengatakan tidak. Selain karena ia tidak punya alasan, tawaran pak Sbastian juga cukup bagus untuk di pertimbangkan. Dengan tidak menjadi admin di kator itu, maka ia juga tidak perlu lagi selalu berurusan pada bagian marketing _ Pak Swandy khusunya.

"Bagus, saya cukup bahagia mendengarnya. Kalau gitu kamu boleh pergi sekarang".

"Terima kasih pak, saya permisi dulu" Pamit Alexsa sebelum kemudian benar - benar pergi meninggalkan ruangan seseorang yang sebentar lagi akan menjadi calon mantan atasannya.

Cinta dipenghujung harap

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dengan langkah berlahan Alexsa melangkah menginggalkan ruangan yang sudah menemaninya lebih dari dua tahun ini. Walau sedikit berat namun langkahnya terlihat mantap. Dalam hidup ini, kadang kita juga memang butuh perubahan.

"Good luck yang Alexsa. Semoga saja penganti pak Sbastian lebih baik. Dengar - dengar dia anak satu - satunya. Yang katanya lulusan dari luar negeri. Yah bercermin dari wajah pak Sbastian aja si, Dia aja keliatan cakep. Anaknya pasti mewarisinya donk. Bener nggak?" Kata Astatika saat Alexsa menghampirinya untuk berpamitan.

"Terima kasih" Balas Alexsa seadanya.

Tepat saat ia melangkah melewati pintu pada saat bersamaan Pak Swandy juga melangkah masuk. Raut terkejut jelas tegambar di wajahnya saat mendapati Alexsa yang tampak mengangkat kerdus berisi berkas - berkas kantornya.

"Lho Alexsa, kamu mau kemana?" Tanya Pak Swandy.

"Keluar donk pak. Saya kan sudah tidak bertugas disini lagi?".

"Kamu di pecat?" tambah pak Swandy lagi.

"Tidak. Hanya di pindah tugas kan. Maaf, tapi saya harus Permisi dulu ya pak, sepertinya saya masih harus beres - beres" Sahut Alexsa cepat - cepat memutuskan pembicaraan mereka.

Mau tak mau pak Swandy mengangguk, sedikit menyingkir karena keberadaannya terlihat mengalangi langkah Alexsa. Tanpa kata lagi Alexsa segera berlalu. Benar - benar merasa cukup malas berada berdekatan dengan makhluk yang satu itu.

Tanpa sadar bibir Alexsa membuat sebuah lengkungan saat matanya mendapati meja barunya yang kini sudah tertata rapi. Semua berkas sudah ia susun, tinggal menunggu calon bos barunya mucul saja.

Tepat saat Alexsa menoleh matanya langsung tertuju kearah pak Stbastian yang baru muncul. Disusul beberapa orang yang mucul di belakangnya, Secara refleks, Alexsa sedikit menundukan kepalanya.Formalitas penghormatan pada atasan.

"Bagaimana Alexsa, sudah seleseai beres - beresnya?" tanya Pak Sbastian sambil tersenyum ramah.

"Sudah pak" kepala Alexsa mengangguk sebagai penegasan.

"Baguslah kalau begitu. Mari silahkan masuk. Saya akan memperkenalkan calon atasanmu yang baru" Kata Pak Sbastian sambil melangkah keruanganya diikuti oleh Alexsa yang tampak mengekor di belakang.

"Sebelum saya mulai, saya ingin sedikit mengobrol dengan mu. Ku harap kau sama sekali tidak keberatan Alexsa".

"Oh, Tentunya sama sekali tidak pak" Sahut Alexsa yang kini duduk tepat di hadapan pak Sbastian.

"Saya tau kamu itu orangnya disiplin dan bisa di percaya, karena itu saya mempercayakan jabatan ini padamu. Tapi saya juga tetap harus minta maaf?".

"Eh, minta maaf untuk apa pak?" Tanya Alexsa mendadak merasa cemas.

"Anak saja justru jam segini belum datang".

"Oh, he" Alexsa sedikit menyegir sambil menghebuskan nafas lega. Ia pikir atasannya itu ingin minta maaf untuk apa. Dan belum sempat mulut Pak Sbastian terbuka untuk berkata lagi, sebuah ketukan pintu sedah terlebih dahulu menginterupsisnya.

"Silahkan masuk" Kata pak Sbastian mempersilahkan. Kemudian ia menoleh kearah Alexsa yang masih menghadap kearahnya sambil mergumam lirih . "Sepertinya itu anak saya".

Lagi - lagi Alexsa hanya mampu bereaksi dengan anggukan. Tanpa sadar jantungnya berdegup lebih kencang. Merasa gugup dengan situasi ini. Berniat untuk berbalik, Alexsa justru malah menundukan wajahnya. Barulah saat pak Sbastian memanggil namanya untuk berkenalan langsung dengan Anaknya yang kini jelas berada di sampingnya Alexsa berani mengangkat wajahnya.

Pernahkah kau merasakan waktu terhenti?. Setidaknya kau berharap waktu akan berhenti. Itu lah yang Alexsa rasakan saat untuk pertama kalinya matanya menatap langsung sepasang mata bening yang berdiri selangkah darinya.

"Christandhika Sbastian, Senang berkenalan dengan mu".

Tangan itu masih terulur di hadapan, tapi Alexsa masih terpaku. Membuat dua pasang mata yang kini berada di dekatnya sama sama mengernyit heran. Tiada reaksi dari wanita itu selain raut kaget yang jelas tergambar.

"Kau baik - baik saja?" tangan yang melambai lambai tepat di didepan wajah segera menyadarkan Alexsa dari keterpakuannya. Setelah terlebih dahulu berdehem Alexsa ikut mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan itu. Tak luput mulutnya bergumam menyebutkan namanya. Membuat kedua orang yang berada diruangan itu tersenyum lega.

"Baiklah, karena kalian berdua sudah muncul, kita bisa memulai sekarang?" tanya Pak Sbastian menginterupsi.

"Siap pa" Sahut Sbastian, Alexsa hanya menganggukan kepalanya.

"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kalau perusahan ini mulai sekarang akan berada di bawah pimpinan kamu Crisitan. Sementara kamu Alexsa, saya telah mempercayakan kamu untuk menjadi skretaris mendampingi nya dalam mengelola perusahan ini. Saya harap kalian bisa berkerja sama dengan baik untuk membuat perusahan ini semakin maju kedepannya. Lagi pula...".

Bla bla bla.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut pak Sbastian terasa bagaikan angin lalu bagi Alexsa. Anganya benar - benar melayang entah kemana. Sekilas ia melirik kesampingnya dimana tampak sosok yang kini sedang mendengarkan dengan seksama ucapan - ucapan ayahnya. Sama sekali tidak menoleh kearahnya. Dan tak bisa di cegah, rasa sakit secara berlahan merambati hati Alexsa. Rasa sakit melebihi rasa sakit yang pernah ia rasakan dulu.

To Be Continue...

Hahahai, Lumayan panjang juga nie cerpen ternyata yak. #ngomong sama monitor.

Tapi ini baru part awalnya, bisa jadi lebih panjang dari cerpen cinta rainbow ater rain, atau malah lebih pendek dari cerpen cinta take my heart. Entah lah, kita liat aja entar. Sejauh mana imagi ini akan menghayal. huwahahha

Cerpen Remaja Aku Panggil Dia Angin

Baiklah sodara sodara, para sahabat n reader semua. Ho ho ho, Admin dapat cerpen kiriman lagi ni. Dari Siti Komariah. Ma kasih ya.

Aku suka sama cara penulisannya. Rapi... Nggak perlu ribet ribet ngedit lagi. ha ha ha.

Oh ya, Buat temen temen yang lain yang mau Cerpennya terpajang di blog ini juga bisa ikutan kok. Caranya cukup gampang. Kirimkan cerpen kalian ke email Anamerya17@gmail.com. Oke?. Di tunggu karya karyanya.



  • Biodata penulis
  • Nama : Siti Komariah
  • Facebook : http://www.facebook.com/gadis.pisces93
  • Email : misspisces93@gmailcom/sitikomariah12@yahoo.co.id
  • Judul cerpen : Aku Panggil Dia “Angin”

Pada tanah nan luas membentang itu, yang diatasnya berdiri beberapa bangunan megah dengan taman disekelilingnya. Aku, yang saat itu diselimuti kegundahan tak hentinya melangkah tanpa arah dan tujuan dengan memusatkan mata pada panah yang tertulis “Fakultas Ilmu Budaya” di atasnya. Aku menghela nafas, kubiarkan kakiku berjalan melewati panah itu. Dencit suara sepatuku yang memantul diatas jalan aspal mulai memecah keheningan, membuat matahari penasaran, lalu mengintip disela rindangan pohon yang berjajar di sekeliling jalan yang ku tapaki.
Universitas tempat dimana ia menimba ilmu sekitar 4 tahun yang lalu itu tampak begitu sepi. Semakin terasa sepi ketika aku sadar beberapa mahasiswa sudah mulai tak terlihat, hanya beberapa orang yang masih bertahan dibalik kesunyian jumat sore pukul 16:21 itu.
“Sudah 21 menit yang lalu, dan dia masih belum datang.”
Aku tak sadar saat mengucapkan kalimat itu sambil melihat jam ditanganku. Hingga nada SMS di Hanphone-ku berbunyi menyadarkanku dari lamunan.
“Maaf, seminarnya belum beres, kakak masih di aula. Banyak yang mengajukan pertanyaan. Kakak harus menjadi pemateri yang baik dengan menjawab semua pertanyaan mereka.”
Aku tertunduk membaca SMS itu, langkahku terhenti hingga kesunyian semakin mencekam, membuat jantungku semakin berdetak kencang tak beraturan. Beberapa saat aku terdiam dalam lamunan, namun kembali berjalan melewati beberapa gedung hingga tiba disebuah taman yang diatasnya berdiri jajaran huruf yang jika dibaca akan terlihat kata Universitas Padjadjaran. Jajaran huruf-huruf itu dibuat dari semen dengan polesan berwarna merah dengan besi besar sebagai penyangganya. Aku mencoba menikmati pemandangan, menahan untuk tidak melirik jam tangan berwarna biru muda yang melingkar di lengan kiriku.
“Semoga waktu berjalan dengan cepat.”
Aku kembali menghela nafas, namun alunannya tetap tidak mampu menenangkan nadiku yang berdenyut tak beraturan. Aku menutup mataku
“Jangan lihat jam Resty, dia pasti datang.”
Kubiarkan udara mengibas rambut panjangku saat hembusannya terdengar dibalik keheningan. Namun hanya beberapa detik setelah itu, keheningan kembali terpecahkan. Kali ini bukan oleh dentingan suara sepatuku, tapi dentingan sepatu lain yang terdengar memantul lebih cepat, kemudian disusul dengan suara lainnya.
“Kakak cari-cari ternyata kamu di sini. Maaf Resty, kakak telat.”
Aku kaget mendengar suara itu, mataku terbuka kemudian aku berbalik kearah dimana sumber suara itu terdengar. Kulihat dihadapanku, sosok berkaca mata itu berdiri tegak dengan kemeja berwarna hitam serta dasi berwarna abu-abu melingkar dilehernya. Sejenak aku tak mengenal sosok yang ada dihadapan aku ini. Yang aku tahu, aku menunggu seseorang yang aku kenal sebagai laki-laki yang selalu berpenampilan sederhana, sangat sederhana hingga orang tidak akan menyangka bahwa ia adalah seorang duta kebudayaan perwakilan jawa barat atau sering disebut pamong budaya.
Ia tersenyum melihatku memperhatikannya penuh makna.
“Kenapa ty? Kakak ganteng ya?.”
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.
“Dasar, mulai lagi deh narsisnya.”
Pada tempat nan luas membentang itu. Kurasakan waktu seakan berhenti sejenak ketika ia tersenyum manis kepadaku dan menatapku penuh makna. Untuk beberapa saat, senyuman manisnya itu membuat fikiranku melayang menelusuri setiap kenangan yang aku lewati bersamanya. Hingga akhirnya, lamunanku terhenti pada sebuah momen yang membuatku ingat akan tujuanku menemuianya kala itu. Senyuman dibibir mungilku sesaat menciut mengingat sosok yang sudah aku kenal selama satu tahun itu hanyalah seorang teman. Teman yang kebaikannya melebihi seorang kekasih hingga membuatku mencintainya. Aku membungkam mengingat hal itu, membuatnya ikut menghentikan senyumnya.
“Kenapa ty?”
“Engga, ada apa kakak meminta Resty menemui kakak disini? Bukannya kakak ke Bandung hanya untuk menjadi pemateri diseminar tentang budaya itu?.”
Seminggu yang lalu. Sempat hatiku dikelumuti kegalauan hingga aku memberanikan diri mempertanyakan arti dari kebaikannya itu, berharap jawabannya adalah karena ia mencintaiku. Namun ia terdiam, hingga tiba-tiba memintaku menemuinya hari itu. Aku sendiri sempat ragu menerima ajakan itu mengingat aku bukan mahasiswi dari kampus yang sama dengannya. Kampus itu memang berada dikota yang sama dengan tempat tinggalku, namun hingga aku menjadi mahasiswa semester empat sekarang, aku tak pernah berkunjung ketempat itu. Tapi mengingat kami jarang bertemu sejak sebulan yang lalu ia direkrut sebagai pamong budaya dan bertugas di Kalimantan, aku memutuskan untuk menerima ajakan itu.
Mendengarku mempertanyakan hal itu, ia tiba-tiba terdiam, membiarkan desauan angin mengisi keheningan yang tak terkendali saat itu. Ia menatapku penuh, membuat aku melemah ketika tersadar bahwa bola mata itu tertuju kepadaku. Aku tertunduk, membuatnya tersenyum hingga akhirnya ia bersedia memecah kebungkaman
“Kita ngobrolnya ditaman dekat rektor aja yuk.”
Dengan anggukan kecil, aku menjawab ajakannya yang kemudian berjalan dihadapanku. Kami melewati beberapa gedung, membuatnya dengan semangat mempekenalkan satu persatu gedung itu hingga akhirnya kami tiba ditempat yang ia maksud. Taman yang letaknya sekitar 30 meter dari gedung rektor itu terlihat begitu sunyi. Kami duduk ditengah kursi berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari besi dengan mulut yang tertutup, membuat kupu-kupu yang hinggap diatas bunga kecil menjadi saksi saat kebungkaman itu kembali terjadi hingga ia kembali memecahkannya.
“Resty.”
Aku menatapnya perlahan saat suara itu berdengung ditelingaku.
“Apa?.”
Ia kembali terdiam, menatapku penuh makna.
“Kakak seneng banget kenal Resty. Jujur, Resty sosok yang ideal buat kakak, tapi kakak ga mau menghambat apa yang menjadi cita-cita Resty.”
Semula aku tenggelam dalam tatapan penuh makna itu. Namun semua begitu biasa ketika kalimat itu ia katakan dengan suara yang melemah.
“Maksudnya apa ka? Resty ga ngerti.”
Ia terlihat kebingungan mendengarku mempertanyakan hal itu dengan memasang wajah penuh tanda tanya. Sesaat ia berpaling dari tatapanku
“Ty, jalan Resty masih panjang.”
“Maksud kakak apa sih? Kakak seakan ingin menjelaskan sesuatu namun semua yang kakak ucapkan justru menimbulkan pertanyaan yang baru buat Resty.”
Aku tak sadar dengan apa yang aku ucapkan. Yang aku tahu, hatiku bergejolak tak menentu saat itu. Semakin tak menentu mendengar ucapannya yang kembali membingungkanku. Sesaat, laki-laki yang aku harapkan akan mengucapkan kata cinta kepadaku itu membuatku kesal dan tak terkendali melihatnya kembali membungkam.
“Langsung aja deh pada intinya ka, ga usah bertele-tele.”
Rasanya aku tak pecaya dapat mengeluarkan kekesalanku saat itu, membuatnya kembali memusatkan bola matanya kepadaku hingga dapat ku lihat laki-laki pemilik nama Kamal Pratama itu mulai kembali menggerakkan bibirnya.
“Ty, dalam hati kakak tersimpan suatu harapan yang suci. Namun keluh rasanya bagi kakak untuk mengucapkan itu. Kakak takut, keinginan yang suci itu dapat merusak cita-cita Resty.”
Sejenak ia terdiam setelah mengatakan itu, menundukkan kepala namun kembali berkata
“Ty, kakak udah dewasa. Bukan hubungan atas nama pacaran lagi yang kakak cari, kakak menginginkan hal yang lebih skaral dari itu.”
Aku terdiam mendengar kalimat yang membuat jantungku tak lagi berdegup menggebu. Tak pernah aku bayangkan bahwa kalimat itulah yang akan ia ucapkan.
“Jadi maksud kakak ...”
Sulit rasanya untukku berucap kata kala itu. Membuatnya kembali meneruskan ketika ia sadar mulutku terbata.
“Ty, kakak tahu banyak yang menikah disaat kuliah. Tapi itu akan membuat Resty harus membagi fikiran antara menjadi ibu rumah tangga dan menjadi seorang mahasiswi. Sedang kakak tahu, Resty memiliki cita-cita yang tinggi, dan kakak ga mau menghambat itu.”
Aku tertunduk mendengar kalimat itu, membuat tanganku tiba-tiba menampung beberapa butiran air yang menggenang diatasnya. Aku tak kuasa menahan butiran air yang menggenang pada bola mataku yang hitam, membuatnya khawatir lalu mengangkat kepalaku lembut dengan tangan kanannya. Ia tersenyum, lalu menghapus perlahan butiran air yang mengalir pada pipiku.
“Ty, kakak ga peduli status kita apa. Yang penting, kakak pingin liat Resty sukses, hingga suatu saat nanti, Resty datang menemui kakak dengan impian yang sudah Resty genggam.”
Perlahan ia melepaskan tangannya setelah meyakini air mata itu tak lagi berdiam dipipiku. ia meletakkan kembali tangannya diatas kakinya lalu kembali meneruskan
“Ty, anggap saja kakak angin, tak perlu Resty ingat, tapi cukup Resty rasakan.”
Ia menghela nafas dan kembali melanjutkan.
Angin itu terkadang sering terlupakan. Tapi ga pa-pa, yang penting, Resty bisa merasakan kehadirannya setiap saat. Kita mungkin sulit untuk bertemu, tapi percayalah, kehadiran kakak akan ada dalam diri Resty.”
Kata-kata itu membuatku dapat memahami hingga akhirnya keluar dari kebungkaman
“”Jika kakak adalah angin, maka Resty adalah daun kering yang akan terus mengikuti kearah mana angin berhembus.”
Sejenak taman yang mulai dihiasi oleh senja itu kembali hening oleh kata-kataku. Mambuat ia terdiam, hingga tiba-tiba bunyi suara handphonenya memecah keheningan. Ia terlihat gugup menerima telpon itu, aku tak tahu mengapa, ia hanya berkata
“Iya pak, saya akan langsung terbang ke Kalimantan sekarang.”
Ia menutup telponnya, kemudian menatapku penuh sesal. Aku mencoba mengerti dan menyuruhnya segera berangkat tanpa menghiraukanku. Satu tahun ia harus menjalankan tugasnya, selama itu pula rinduku tak kan tersampaikan. Aku menghela nafas mengingat tak ada kata cinta yang ia sisipkan dalam setiap penjelasannya. Sesaat aku termenung hingga aku tak sadar seorang anak kecil tiba-tiba menghampiriku dengan daun kering yang terselip pada jarinya
“Ini dari kakak-kakak yang barusan pergi pake mobil. Katanya, ini dari angin.”
Aku tersenyum mendengar celoteh anak kecil itu. Setelah mengucapkan terima kasih, ku biarkan anak kecil itu pergi tanpa melihatnya lagi. Aku hanya terfokus pada daun kering yang ternyata terdapat tulisan dari sepidol berwarna hitam diatasnya. Dengan tenang aku membaca tulisan itu,
“I love you … From Angin.”
End..

So sweet...

Cerpen Kehidupan Matahari belum terbenam

Oke, sodara - sodara. Lagi - lagi admin cipta karya cerpen dapat cerpen kiriman dari reader nya ni. Ceritanya lumayan asik. Menghibur juga. Nggak melulu tentang cerpen remaja bikinan admin. he he he.

Cerpen matahari belum terbenam merupakan karya dari Andi Chindiel Reader sekali gus temen dunia maya Admin.

N buat kalian kalian semua yang mau cerpen nya nangkring di blog ini juga bisa ikutan kok. Caranya cukup gampang. Tinggal kirimkan karya kalian ke email anamerya17@gmail.com. Begitu cerpen admin terima akan langsung admin balas. So cek lagi emailnya ya.

Akhir kata, Happy reading...


Terduduk lelah di bawah rindang pohon beringin,sambil menahan luka kaki akibat benturan yang di alaminya saat bermain sepak bola bersama teman-teman sebayanya.

Dialah Mansur putra bungsu dari keluarga sudrajat,bapak Mansur adalah seorang pensiunan tentara nasional republik Indonesia.sambil menahan sakit kakinya itu terlintas sebuah kepiluan dalam hatinya karna mansur tidak bisa melanjutkan pendidikan bersama teman-temanya,Mansur yang saat ini berusia genap 15 tahun mengisi keseharianya dengan bermain,bermain dan bermain.keterbatasan biaya hidup orang tuanya yang mengharuskanya untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA).

Iya…lagi-lagi uanglah yang menjadi kendala utama seseorang yang ingin bisa menggapai cita-citanya,bak membentur tembok besar yang menghalangi langkah untuk mencapai sebuah tujuan.mungkin apa yang di alami Mansur ini teramat miris mengingat perjuangan orang tuanya yang tak pernah lelah mengucurkan keringat demi melawan penindasan yang dilakukan bangsa lain terhadap tanah air tercinta di masa dulu.

Orang tua Mansur sebenarnya tidak tega melihat Mansur yang selalu menatap cemburu ketika melihat teman-temanya berlalu dengan mengenakan seragam putih abu-abu,terlihat sekali wajah penuh pengharapan terlukis jelas di mata Mansur.mansur memahami bahwa orang tuanya yang sudah renta dan di serbu berbagai macam penyakit tidak akan mungkin sanggup membiayai pendidikanya hanya dengan mengandalkan pensiunanya yang tidak seberapa.

Dalam kegundahanya Mansur tersadar dia tidak boleh terdiam terbawa arus kehidupan yang di alaminya sekarang. Dalam bisikan hati,Mansur harus segera mengayuhkan dayung sekuat tenaga menuju tepi sebelum terjun lebih dalam lagidi pekatnya keterpurukan.

Mansur selalu ingat nasihat ibunya “nak,,, jangan pernah menyalahkan takdir yang tuhan berikan kepada kita dengan keterbatasan yang kamu miliki jadikan itu sebuah cambuk agar kamu dapat segera berlari untuk meraih semua yang kamu inginkan”.Setiap kali mengingat pesan itu jiwa Mansur selalu bergejolak dan ingin segera melakukan perubaha.

Saat itu hari senin,Mansur terbangun,,,dia berkedip-kedip memandang ke arah jam dinding yang terpampang lurus di hadapanya,ternyata jam masih menunjukan pukul 05:10,Mansur segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan segera melakukan kewajibanya sebagai seorang muslim.setelah selesai melakukan shalat Mansur terdiam diteras depan rumahnya sambil mendengar merdunya kicauan burung ocehan peliharaanya.dalam diam Mansur berfikir

“kegiatan berguna apa yah yang harus aku lakukan?”.akhirnya Mansur memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah sambil meikmati sejuknya udara pagi,di jalan Mansur bertemu beberapa temanya yang hendak berangkat menuju sekolahnya salah satunya yaitu Agung,Agung adalah teman terdekat Mansur. “mao kemana lw sur” Agung menyapa,,,

“jalan-jalan gung nyari yang nggak ada di rumah” hahaha…Agung tertawa mendengar jawaban Mansur

“yaudah sur gua kesekolah dulu ya,,dah siang neh”… “ok dah” jawab Mansur.

Saat Mansur berjalan di tepi jalan raya tanpa di sadari dari arah belakang muncul sebuah mobil box yang bermuatan sepatu-sepatu bermerk mendekat dengan kecepatan yang cukup tinggi,tanpa sempat mengjhindar Mansur tersambar mobil box tersebut Mansur pun jatuh tersungkur,muatan mobil box itu berhamburan keluar dan kaki kiri Mansur terjepit di antara trotoar dan bemper mobil box itu.mansur terkaget,dengan rasa sakit yang begitu menggelegar Mansur berteriak astaghfirullahhala’dziim sekeras-kerasnya dan sebanyak-banyaknya.mansur berharap kejadian ini hanyalah sebuah mimpi,namun inilah takdir tuhan siapapun tidak bisa menghindar dari apa yang telah tuhan rencanakan untuk kita.

Supir mobil box itu dengan segera melarikan diri dengan penuh kepanikan tanpa memperdulikan kondisi korban yang di tabraknya.tak lama berselang warga mulai banyak berdatangan dan dengan segera membawa Mansur yang tak tersadarkan diri kerumah sakit terdekat,Mansur pun masuk UGD dan segera mendapatkan penanganan dari Dokter rumah sakit tersebut.keluarga Mansur yang mendapat kabar memilukan itu kaget mendengar Mansur mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di Rumah Sakit.dengan segera orang tua Mansur mendatangi rumah sakit tersebut untuk melihat keadaan Mansur.bapaknya Mansur menanyakan kondisi Mansur kepada Dokter yang menanganinya

“bagaimana dok,,keadaan anak saya” Tanya bapaknya Mansur dengan wajah penuh kekhawatiran.

“jadi begini pak,,,tulang kaki kiri putra bapak mengalami keremukan di bagian tungkainya, jadi harus segera di amputasi agar tidak membusuk dan terinfeksi”. Mendengar keterangan Dokter bapak Mansur terkaget dengan mata melotot seakan tidak percaya musibah yang sedang di alami oleh putranya. Akhirnya dengan rasa terpaksa orang tua Mansur mengijinkan sang Dokter mengamputasi kaki Mansur. Sudah seminggu Mansur terbaring tak tersadarkan diri di atas putihnya ranjang rumah sakit. Waktu itu jam 01:00 dini hari jari-jari tangan Mansur bergerak perlahan di susul dengan kedipan mata yang tersilaukan oleh cahaya lampu. Keluarga Mansur yang saat itu sedang tertidur di ruang perawatan tempat Mansur di rawat tidak mengetahui tanda-tanda Mansur akan siuman dari koma yang di alaminya.

Mansurpun akhirnya tersadar, bingung dan agak lupa dengan apa yang terjadi di hari, itu dengan banyaknya lilitan selang yang melintang di sekujur tubuh, Mansur segera tersadar bahwa dia mengalami kecelakaan. Mansur merasa pegal-pegal di seluruh anggota tubuhnya karna memang sudah seminggu dia tidak menggerakan tubuhnya,Mansur belum menyadari bahwa kaki kirinya telah di amputasi. Saat Mansur ingin beranjak dari tempat tidurnya alangkah terkejutnya Mansur melihat kaki kirinya yang sudah tidak utuh lagi. Mansur menangis meronta-ronta tak terkendali, spontan orang tua Mansur yang sedang tertidurpun terkaget dan segera meredam aksi Mansur. Ditengah rengekanya itu Mansur menanyakan kepada orang tuanya.

“apa yang sebenarnya terjadi dengan kaki Mansur Bu,,,? ”. Ibu mansurpun ikut menangis dan menjelaskan secara perlahan kepada Mansur

“ yang sabar ya nak,,,kaki kiri kamu harus di amputasi karena kalau tidak, bisa menjadi busuk dan inveksi”dalam pelukan ibunya Mansur terus menangis. Setelah beberapa lama kemudian mansurpun mulai menerima kenyataan pahit itu.

1 bulan pasca kejadian memilukan itu. Mansur jadi jarang bicara dan hampir tidak pernah keluar dari rumahnya. Seiring berjalanya waktu dan banyaknya masukan-masukan dari teman-teman yang mengunjunginya untuk memotivasi Mansur agar tidak terbelenggu. Mansur tersadar bahwa tuhan punya rencana lain di balik semua ini. Akhirnya Mansur mulai memberanikan diri keluar rumah dan berkumpul dengan teman-teman sekitar rumahnya.

Ada seorang tetangga yang menawarkan pekerjaan kepada Mansur dia adalah Bp.H.Komar, beliau menawarkan pekerjaan kepada Mansur untuk menjaga toko sembako yang dimilikinya, dengan segera Mansur menyatakan kesediaanya untuk bekerja.

3 bulan sudah Mansur bekerja, Dari hari-kehari batin Mansur selalu di selimuti kejenuhan. Hati Mansur berkata “ Dari pada aku selalu melamun mungkin akan lebih menenangkan kalau aku menuangkan suasana hati dan imajinasiku di atas sebuah kertas. Mansur memang hobi menggambar, dengan segera Mansur membeli peralatan untuk melukis, setelah Mansur mendapatkan peralatan yang dibutuhkanya Mansur mulai memikirkan apa yang hendak di gambarnya, sambil menunggu pelanggan datang Mansur terus mencari objek menarik apa yang hendak ia gambar. Ada seorang anak kecil yang menangis sambil memegang boneka beruang kecil. Mansur mendapat ide untuk menggambar anak tersebut, dan mulailah jemari Mansur menari di atas kanvas putih. Setelah beberapa jam berlalu hasilnya sudah mulai terlihat dan akhirnya pun selesai. Namun Mansur kurang puas dari hasil lukisanya itu. Mansur menanyakan pendapat teman-temanya tentang lukisan pertamanya yang baru di selesaikanya itu. Ternyata Mansur mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan. Mansur tidak putus asa dia selalu berusaha dan mencoba, berharap suatu saat nanti lukisanya menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi.

Hari berlalu minggu pun berganti bulan,keseharian Mansur yang bekerja sebagai pelayan toko selalu di nikmati dan di syukurinya. Mansur mulai akrab dan berteman baik dengan kuas dan cat air yang selalu menemani kesendirianya. Hasil lukisan Mansur kini mulai banyak mengalami peningkatan. Agung teman akrab Mansur selalu memuji setiap lukisan yang dibuat oleh Mansur dan agung pun meminta Mansur untuk melukis dirinya, dengan senang hati Mansur menyanggupi permintaan itu. “ oh iya gung kebetulan besok gua dikasih libur sama pak Haji”, “oooh,,, yaudah gung besok gua ke rumah lo deh”,jawab agung dengan perasaan senang. “ok deh besok gua tunggu di rumah jam 9an yah”.

Hari yang di tunggu agung telah tiba, jam telah menunjukan pukul 09:00, dengan segera agung bergegas menuju rumah Mansur. Setibanya di rumah Mansur, agung disambut dengan senyuman oleh tuan rumah. Tanpa basa-basi Mansur segera mengeluarkan peralatan lukisanya dan agung terduduk diam menjadi objek lukis Mansur. Perlahan cat air mulai membanjiri kanvas, agung dengan penasaran menanti hasil ayunan kuas Mansur.setelah hampir 2 jam berlalu akhirnya selesai juga. Ternyata hasilnya cukup memuaskan. Agung tidak menyangka bahwa hasilnya bisa sampai seperti itu, agung pun memuji Mansur “ wihhh…machooo sur,,,jadi rada gantengan gua di lukis sama lw”,

“ ah bisa aja lw” dengan wajah yang tersipu malu Mansur menanggapi sanjungan agung.

Sejak saat itu agung memberanikan diri untuk mempromosikan keahlian Mansur sebagai seorang pelukis kepada orang-orang yang dikenalnya, tentu saja dengan persetujuan dari Mansur, kebetulan putri pertama Bapak H.Komar menikah, pak Haji yang mengetahui keahlian Mansur dalam melukis memintanya untuk melukis pasangan pengantin yang tidak lain adalah putrinya dan menantunya. Untuk di jadikan sebagai kenang-kenangan. Mendengar permintaan Pak Haji Mansur merasa tersanjung dan sudah pasti Mansur tidak akan menolak permintaan tersebut. Ini pertama kalinya Mansur melukis pasangan pengantin, awalnya Mansur agak gerogi takut hasilnya tidak memuaskan, namun akhirnya Mansur dapat menyelesaikanya dan hasilnya lumayan memuaskan. Dan pasangan pengantin itu juga merasa terpuaskan dengan hasil lukisan Mansur. Mansurpun mendapatkan imbalan yang cukup unuk membuatnya tergiur dan ingin terjun lebih dalam lagi masuk ke dalam dunia seni lukis. itu menjadi uang pertama yang diperolehnya dari hasil melukis.

Tawaran memakai jasa Mansur untuk melukis foto keluarga, melukis pasangan pengantin baru, muda-mudi yang sedang kasmaran mulai banyak berdatangan. Mansur sangat mensyukuri karunia yang di berikan Allah SWT atas keahlianya itu. Pundi-pundi rupiahpun mulai banyak mengalir kesakunya, tapi Mansur mempercayakan kepada orang tuanya untuk memegang uang hasil kerja kerasnya. Orang tua Mansur begitu bangga melihat kegigihan anaknya itu, dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna itu Mansur tetap berjuang keras untuk membahagiakan orang tuanya dan merubah masa depanya menjadi lebih baik lagi.

2 tahun berlalu, dengan pengalaman dan keyakinanya serta didukung oleh teman-teman sesama seniman Mansur memberanikan diri untuk membuka Pameran Lukisan di Galeri Nasional Jakarta. Masyarakat merespon positif pameran yang di gelar oleh Mansur, hasilnya pameran itu meraih sukses karena banyak lukisanya yang terjual dan nama Mansur mulai melambung di dunia seni lukis Tanah Air.

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas pencapaian yang berhasil Mansur raih.

Di usia Mansur yang menginjak 22 tahun. Mansur sudah memiliki segalanya dan bisa membahagiakan orang tua dan saudara-saudaranya. Dengan tekad, keyakinan dan usaha yang Mansur jalani hal yang tak mungkin bisa saja menjadi mungkin.

Biodata penulis :
  •  Nama : Andi Chindiel
  • Facebook :  Andi Chindiel
  • Judul  asli : Matahari Belum Tenggelam