Cerpen I hate you but i love you

Ngak terasa aku sama Gilang udah 2 tahun pacaran , dia yang selama ni melengkapi hari-hari ku dan dia juga melengkapi hati ku. Aku juga punya sahabat namanya Bela, aku udah anggap dia sebagai saudara ku sendiri.

Hari ini aku mau beliin kado buat Gilang karna besok adalah hari jadi aku sama Gilang sekaligus hari ultahnya Gilang. Aku sengaja engak ajak Bela karna dia sibuk ngurusin sepupunya yang lagi sakit. Rencananya aku mau beliin dia kue ultah berbentuk hati dan jam tangan buat ultahnya. Karena aku pernh ngejatuhin jam tangannya dia ke air. Dan rusak.


I hate you but i love you

“Emm.. itu dia kue yang aku cari."

“Mbak, aku mau kue ini 1 ya?”

“Iya, segera.”

“Kue udah dapet, terus aku mau beliin dia jam tangannya kira-kira kayak gimana ya?” gumam ku sendiri.

Tiba -tiba langkah ku terhenti. Jantung ku berdetak kencang. Tepat di depan mata ku sendiri Gilang dan Bela berda di kafe ice cream dan mereka suap-suapan. Kue yang tadi ku pegang langsung jatuh ke tanah. Aku berlari menjauh. Tapi Bela melihat ku dan dia mengejar ku..

“Sya.... Tasya.... aku..... sya....”

Aku terus berlari. Bahkan aku tidak menyadari Gilang yang kini tiba – tiba sudah berdiri di hadapanku.

“Sya, aku… aku…”

“Udah, aku udah tau kok, engak usah kamu jelasin lagi lang..”

“Sya, aku sama Gilang.. cuma.....”

“Cuma apa? Hianatin aku? Menusuk aku dari belakang? Iya?”

“Sya, aku memang pacaran diam – diam sama Gilang beberapa bulan ini. Aku mau jelasin. Tapi.”

"Uudah, aku muak liat kalian. Jangan perlihatkan muka kalian di depan ku lagi!”

“Sya, aku…”

“Tega kamu ngehianatin aku. Emang jahat kalian berdua.”

Air mata ku berjatuhan. Aku menyetir mobil ku dengan kecepatan tinggi. Entah ke arah mana, sampai tau tau aku tiba di pantai. Sekedar untuk menenangkan diri aku sengaja berteriak sekencang – kencangnya.

“Kenapa kamu melakukan ini sama aku Lang?! Kenapa?! Kamu jahat…!!!”

Disaat emosiku yang benar benar melonjak tanpa sadar mata ini menangkap kaleng disamping. Entah dapat pemikiran dari mana langsung saja aku lempar seolah-olah aku melemparkan semua beban hidupku selama ini.

“Awwww. Sial. Siapa ni yang ngelempar kepala aku?!”

“Aduh. Mati aku. Kok aku nggak tau ya disitu ada orang.”

“Ehhh loe. Sini nggak loe. Loe kan yang ngelempar kaleng ini ke gue?”

“Gue? Bukan. Enak aja main tuduh sembarangan” elak ku berusaha membela diri.

“Disini cuma ada loe sama gue doank. Mana mungkin ada orang lain lagi. Lagian loe kan yang dari tadi teriak teriak kayak orang stress.”

Busyet, aku di bilang stress.

“Enak aja. Gue di bilang stress. Loe itu yang stress, main tuduh sembarangan lagi.”

“Nggak usah nyolot. Buruan minta maaf.”

“Nggak mau. Wueek.”

Dan tanpa ba bi bu, aku langsung kabur. Masuk kedalam mobil dan langsung berlalu pulang. Sudah tau suasana hatiku buruk, kenapa masih harus di tambah dengan ketemu orang yang malah memperburuk keadaan. Menyebalkan.

Saat tiba di rumah aku segera menuju kekamar mandi. Hari juga sudah hampir malam. Berharap suasana hatiku bisa lebih baik, ternyata masih sama. Air mata ini kembali menetes mengingat kejadian tadi. Tanpa sadar aku tertidur.

Suara deringan alaram yang memekakan terlinga membuatku terjaga. Mata ini masih terasa berat. Sepertinya efek karena terlalu banyak menangis sebelumnya. Namun saat mata ini melihat jarum yang tertera, rasa mengantuk itu pun langsung sirna. Astaga, mampus. Aku pasti telat.

Cerpen I hate you but i love you


“Untung cuma telat 3 menit,” gumamku saat pertama kali menginjakan kaki di kelas.
“Pagi anak-anak. Kita hari ini kedatangan murid baru pindahan dari Bandung. Silahkan perkenalkan nama kamu.”

“Pagi semuanya. Nama ku gue Rendi. Aku siswa pindahan dari Bandung.”

“Rendi.. kamu silakan duduk sama shila.”

Sekilas aku kembali melirik kearah anak baru itu. Ingatan ku segera bekerja. Aku yakin aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?

“Ketemu lagi kita.”

“Ya?” aku menoleh. Dan saat itu aku langsung yakin. Dia kan cowok nyebelin korban lemparan kaleng kemaren. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini.

Rendy tidak membalas, hanya matanya yang sedikit menyipit kearahku. Tatapan mata permusuhan. Bodo amat. Aku lebih memilih untuk mengabaikannya. Bahkan sampai tiba giliran pulang sekolah.

“Sya, mau pulang bareng nggak.”

Aku menoleh sambil menatapnya sinis. Setelah dengan kurang ajarnya dia merampas pacar aku kini dengan tanpa dosanya, Bela menghampiri.

“Pergi aja deh loe. Jauh jauh dari hidup gue” Aku sama sekali tidak perlu menahan diri untuk menjaga bicara.

Bela tidak menjawab. Kepalanya sedikit mendunduk. Sepertinya merasa sedikit bersalah, tapi aku sama sekali tidak perduli.

“Bela, ayo kita pulang.”

Tanpa menoleh, aku tau itu suara Gilang. Dasar cowok brengsek.

“Sya, gue duluan ya.”

Aku hanya membuang muka, barulah setelah keduanya menghilang aku kembali menangis. Aku baru tau kalau di hianatin itu rasanya sesakit ini.

“Kenapa loe? Iri ya temen loe punya pacar sementara loe nggak?”

Aku menongak, mendapati wajah Rendi langsung menyambutku.

“Diem dech loe kalau engak tau apa-apa soal gue.”

“Dasar aneh” gumam Rendi lirih namun masih mampu ku tangkap.

“Loe yang aneh, rese.”

Selesai berkata aku segera bangkit berdiri. Berlalu tanpa kata lagi. Namun bukannya pulang, langkah kaki ini malah membawaku kearah taman sekolah. Apalagi yang bisa kulakukan disini selain kembali menangis meratapi nasip yang menimpaku.

Dan hal itu tidak hanya terjadi sekali. Sejak aku belum bisa move on dari Gilang dan Bela aku selalu ke taman untuk menangis. Bukan hanya taman sekolah tapi juga taman kota. Dan itu lah yang aku lakukan saat ini.

“Tuhan memang nggak adil” keluh ku disela sela isak tangis.

“Siapa bilang?”

Aku menoleh. Ah lagi – lagi dia. Dengan cepat aku membuang muka sembari berujar. “Mau ngapain lagi si loe Ren?”

“Loe yang ngapain disini perasaan gue udah dari tadi.”

“Loe ngikutin gue ya? Iya kan?” tuduh ku langsung.

“Ngapain juga gue ngikutin elo. Dasar cewek aneh.”

Aku terdiam. Percuma juga menghadapi anak yang satu ini. Sehingga aku memilih mengabaikannya dan menganggap dia tidak ada.

“Sya, loe kenapa nangis. Gue kan tadi cuma bercanda.”

Aku terdiam, tapi air mata ini masih terus menetes.

“Apa karena Gilang dan Bela?”

Aku menoleh kaget. Pertanyaan dari Rendi sama sekali tidak pernah ku duga.
“Nggak usah mengelak. Gue ngerasa kok. Ada yang aneh sama kalian. Gue ngerasa loe benci banget sama mereka.”

“Bukan urusan loe,” ujar ku ketus.

“Memang bukan urusan gue, tapi loe tau nggak si katanya kalau kita cerita tentang masalah kita sama orang lain, beban kita akan berkurang.”

Kali ini aku mendunduk. Sepertinya ucapan Rendi ada benarnya. Dan sebelum aku menyadari apa yang aku lakukan, cerita itu pun meluncur mulus dari mulutku.

Cerpen I hate you but i love you

“Woi, ngelamun aja. Kesambet entar.”

Merasa kaget aku langsung menoleh. Lagi lagi wajah Rendi yang ku temui. Heran juga kenapa beberapa hari ini tu orang selalu berkeliaran di sekitar aku ya. Bahkan saat aku di tepi pantai sendirian begini.

“Eh… Enggak kok” elak ku sambil mencoba tersenyum. Rendi ikut tersenyum. Tanpa kata ia segera duduk di sampingku.

“Loe sering kesini? Atau jangan jangan loe ngikutin gue. Kok kayaknya dimana mana gue selalu ketemu loe terus.”

“Geer banget si. Gue kesini itu mau liat matahari terbenam tau.”

“O” aku hanya beroh ria sambil mengangguk membenarkan.

Untuk sejenak kami berdua terdiam. Suasana senyap yang menyenangkan.

“Bagus ya.”

Keningku sedikit berkerut saat menoleh kearah Rendi. Tapi dia hanya memberi isarat untuk menatap kedepan. Dimana tampak bola keemasan yang mulai kembali balik keperaduannya. Menatap matahari terbenam di tepi pantai benar benar keindahan tersendiri yang tidak pernah aku bayangkan.

“Iya. Bagus banget.”

Tanpa sadar bibir ini tersenyum. Bahkan aku juga tidak menyadari kala tatapan Rendi yang beralih tak berkedip kearahku. Yang aku tau aku merasa damai.


Cerpen I hate you but i love you

“Sya, gue minta maaf. Gue.”

Nggak tau kesambet apa, pagi ini Gilang menemui ku dan tiba tiba mengatakan maaf. Memangnya dia pikir sesederhana itu.

“Please ya. Jangan ganggu hidup gue lagi.” Kataku sebelum kemudian berlalu. Sialnya aku malah kesandung dan jatuh. Ya Tuhan.

“Eh cewek rese udah datang. Kenapa loe nangkep kodok?”

Rendi? Lagi? Astaga. Menambah buruk suadana hati aku saja. Dengan cepat aku berlalu.
Saat isitrahat tanpa sengaja aku melihat Gilang sama Bela lagi mesra-mesraan di samping sekolah. Hatiku sakit banget. Kenapa aku harus ngeliat mereka coba, aku berlari meninggalkan mereka dan menangis di Belakang sekolah.

“Nangis mulu, nggak cape ya?”

“Hei, loe itu hantu ya? Gentayangan dimana mana. Kenapa si gue harus ketemu sama loe terus,” geram ku saat melihat Rendi yang kini ada disamping.

“Jangan salahin gue, salahin loe sendiri kenapa selalu nangis sambil menghampiri gue.”

Merasa kesal aku segera bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Rendi sendirian.

“Eh, Cewek rese. Mau pulang bareng engak? Mumpung gue lagi baik hati ni sama lo.”

“Engak gue bawa mobil sendiri kok.”

“Awas kalo lo ikut gue lagi.”

“Siapa yang ngikutin elo si. Aneh banget.”

Aku terus menyetir. Namun bukannya kerumah gue malah kembali kepantai. Lama aku berdiri disini. Meratapi nasip yang aku alami. Jujur saja aku sama sekali tidak belum bisa melupakan Gilang. Pikiranku benar benar di penuhi dengannya. Bahkan aku sama sekali tidak menyadari kaki ini yang terus melangkah.

“Apa bener ini jalan gue. Kenapa gue yang harus ngalamin ini semua. Cobaan ini terlalu berat. Mereka bohongin gue 2 tahun.”

“Eh cewek rese. Gila loe ya. Loe mau mati.”

Suara itu lagi. Apa aku berhalusinasi. Kenapa sepertinya ada suara Rendi. Dan saat aku menoleh.

“Apaan sih Ren, lepasin gue.”

“Loe gila ya, Loe mau bunuh diri?. Hei, loe masih punya nyokap sama bokap. Loeengak sayang apa sama mereka?!”

“Mereka aja engak sayang sama gue Ketemu aja sebulan sekali. Mereka tuh ngurusin urusan kerjanya masing. Engak mikirin anaknya gimana.”

“Sya, mereka itu kan kerja juga buat loe. Kalo mereka ngak kerja loe ngak mungkin bisa di sekolah elit kayak gitu. Loe jangan mikirin diri sendiri aja donk. Pikirin org yang ada di skitar loe juga. Masih ada orang yang sayang sama loe.”

“Siapa?”

“Gue!”

“Hh…”

“Maksut gue temen…”

“Loe…”

“Lepasin gue ren. Kenapa sih loe?”

“Jalan loe ini salah sya. Uudah dengerin gue.. sini.”

“Eeehhhh... loe kenapa gendong gue.”

“Abisnya lo ngak denger kata gue sich.”

“Sya.... gue....gue... jujur... gue ngax mau kehilangan loe... gue... sayang sama loe...”

“Iya, gue tau sebagai teman.”

“Bukan gitu. Sebagai lebih dari teman.”

“Maksud loe?” tanya ku bingung.

“Gue suka sama loe semenjak gue pertama kali ngeliat loe ngelemparin gue pakai kaleng itu.”

“Gue kan engak sengaja. Loe sich maen tuduh aja.”

“Jujur, gue saying sama loe, Loe mau nggak jadi pujaan hati gue, maksut gue jadi pendamping hidup gue, jadi pacar gue, jadi….”

“Bebelit banget sich lo ngomong nya,” gerutku. “Tapi gimana ya ren, gue engak mau kehilangan lagi orang yang gue syang.”

“Tapipi sya, gue bukan Gilang. Gue benci kalo loe samain gue kayak Gilang. Gue beda kayak dia. Sumpah, gue bakal jagain loe sama kayak gue jagaain gue sendiri.”

Rendi belutut di hadapan ku sambil megang tangan ku.

“Gue mohon terima gue sya. Gue mohon. Gue sayang sama loe.”

“Sori ren.. gue... ngax bisa...”

“Gitu ya? Gue ngerti kok. Loe masih ngak bisa ngelupain Gilang kan?”

“Gue bakal berusaha ren... buat loe.. Makasih buat selamanya. Udah bikin gue semangat hidup lagi.”

“Apa?”

“Loe ngak budeg kan? Gue mau jadi pacar loe sekaligus jadi pedamping hidup loe.”

“Beneran?. Ah, gue seneng banget Tasya.” Kata Rendi sambil mengandeng tangan ku sembari berlarian di pantai.

Kali ini aku tersenyum. Berharap ini merupakan langkah awal dari hari bahagiaku. Rendi memang bukan Gilang, dan aku berharap di tidak menjadi seperti Gilang. Biarlah Gilang menjadi masa lalu dan Rendi menjadi masa depanku.


_THE END_

Biodata penulis :
Nama: Margareta
email: rolen_qiw@yahoo.com

Cerbung Cintaku Bersemi di Desa ~ 05


Dan setiap hari mereka selalu jalan bersama dan selalu ada kejutan buat Dinda dari boneka, dairy, novel dll dan pda saat yang tidak di inginkan oleh mereka datang yaitu Dinda harus pulang ke Jakarta karna masa liburan sudah habis, tapi pada hari itu tidak semua buram karna mama ikut ke Jakarta, di mana hari itu hari yang menyedihkan sekaligus bahagia entah Dinda harus seneng karna yokap udah nggak marahan lagi sama bokap atau Dinda harus sedih karna dia harus ninggalin cowk yang dia sayang


Cintaku Bersemi di Desa
“Din jangan lupain kita ya” kata Mili, Sri N intan dengan serempak.

“iya “ jawab Dinda sambil meluk sahabat nya

Tapi dia melihat Anto dengan wajah yang sedih tapi di tutupi dengan senyuman

“ Anto ku janji aku akan selalu setia sama kamu” kata Dinda sambil meluk Anto

“ iya din aku percaya kok, ya udah masuk gih jangan nangis ya din kamu kalo nangis tu jelek tau” ledek Anto

“ ihh apan si orang lagi sedih juga” kata Dinda sambil memukul tangan kiri Anto “ yaudah semua aku pamit…., dah” sambung Dinda ber pamitan pada semua sebelum masuk mobil

Setelah agak jauh dari desa Dinda hanya melihat kearah kaca nggak terasa air mata nya berjatuhan

“ cieileh gitu aja kok nangis “ ledek Doni

“ katanya anak papa udah besar kok masih nangis”ledek papa ikut-ikutan

“ apaan si orang nggak nangis juga” elak Dinda

“ terus kalo nggak nangis itu apa yang keluar dari mata basahi pipi”

“ oh ini emmm….. ini tu tadi malam Dinda kurang tidur jadi ngantuk terus keluar deh” sambil memaksakan untuk senyum

“ yaiyalah kurang tidur orang semaleman suntuk nangis teruss gi mana nggak kurang tidur” ledek Doni… Dinda hanya senyum sinis

“ oh tadi malam anak papa nangis toh…, masak masih nangis emang belom puass nangis nya sayang” ledek papa

“ udah udah kalian kok jadi ngeledekin Dinda si” kata mama menengahi

“ iya tau, mending papa konsentrasi yupir deh Dinda mau tidur” jawab tidur dan langsung makai air phone agar nggak denger ledekan dari papa dan Doni lagi
Setelah sampai di rumah emang sengaja nggak pake pesawat karna papa yang yetir katanya biar lama berduaan sama mama

“ din…… bangun nak udah yampek” kata mama membangunkan Dinda

“ huah “ ……….“ masak anak perempuan nguapnya gitu amat” ledek mama “ udah yampek ya ma” Tanya Dinda tanpa menghiraukan pertanyaan mama

“ udah turun yuk” ajak mama……. Dinda hanya mengangguk kan kepala
Tanpa basa basi Dinda langsung ngiprit ke kamar nya

Hari ini adalah hari senin hari dimana melakukan aktifitas lama
Saat di sekolah

“ huayoooo……… pagi pagi udah ngalamun” ledek fitri yang mengagetkan Dinda

“ eh Dinda tu nggak ngalamun” jawab Doni

“terus “ desak Indri karna Doni sengaja berhenti ngomong nya

“ dia tu lagi galau” terang Doni yang sontak buat temen-temen nya kaget

“ udah deh nggak usah lebay…” kata Dinda ketus

“ loe lagi galau.., galau kenapa din” Tanya Indri

Dinda hanya menatap tajam Indri dan berlalu meninggal kan sahabat-sahabat nya kebingungan

Dan bel sekolah berbunyi tapi Dinda bukanya masuk malah bolos ketaman

“ Anto gue kangen ma loe……. Coba aja ada loe disin pasti hidup gue makin bahagia” gumam Dinda

“ yaloe sabar aja din……. Ntar kalo liburan pasti ketemu kok sama Anto” terang Doni yang datang nya tiba-tiba dan di ikuti oleh ke tiga sahabat nya

“ iya din loe sabar aja cuman kurang setahun ini” terang fitri

“ eh menurut loe setahun nggak lama apa…….., lama tau” kata Dinda sinis

“ ya udah mau gimana lagi…… menunggu itu kan jalan satu – satu nya din”terang fitri

“sabar aja” sambung Doni dan temen gue menganggukkan perkataan Doni

“terus kenapa kalian nggak masuk kelas” Tanya Dinda setelah hening beberapa saat

“ ya kita kan nemenin loe…….. loe kan sahabat kita iya nggak guys” terang Indri

“ yup” di balas serempak oleh Doni dan fitri

“ makasih nya…… kalian emang sahabat yang terbaik” kata Dinda sambil meluk ke empat sahabat nya

Seminggu telah berlalu tapi Dinda masih sedih dan malah makin sedih

“ cie elah din kenapa situ muka kusut mulu bosen tau liat nya” kata fitri

“ eh kayak loe nggak pernah aja” jawab Doni tiba-tiba “ din ntar ada kabar gembira buat loe” terang Doni

“ mau kabar dapat uang segambreng juga Dinda nggak bakal urusin tu kabar” kata Indri

“ oh iya loe kan galau karna Anto……., iya kan…. Gue jadi penasaran se tampan sih dia sampe bikin loe klepek – kelepk kayak gini” Tanya fitri

“ pastinya kayak aku donk “ jawab seseorang yang ada di belakang yang sedang di krumuni banyak cewk

“ Anto” gumam Dinda nggak percaya

“ Anto “ gumam fitri N Indri bersamaan sedang kan Doni senyum nggak jelas

“ kamu nggak mau meluk pacar kamu nih din “ terang Anto yang langsung di peluk oleh Dinda dan di balas pelukan oleh Anto

“ kok kamu ada di sini..” Tanya Dinda setelah melepas kan pelukanya “ kamu nggak sekolah “ sambung Dinda

“ aku sekolah kok “ jawab Anto

“ teruss… kok ada di sini?” Tanya bingung Dinda

“ yaiyalah dia kan murid baru di sekolah kita” terang Doni sambil menepuk pundak Dinda

“ kata Doni kamu sering nggak masuk kelas ya din” Tanya Anto Dinda hanya senyum tipis dan nelen ludah sendiri

“ cie elah loe toh yang namanya Anto….. pantes aja Dinda kayak orang gila cowok nya ganteng gitu” ledek fitri

“ Anto……. Kalo udah bosen pacaran sama Dinda sama gue juga boleh kok “ kataNiken
Pletak…… sebuah jitakan mulus kena kepala Niken

“ Dinda sakit tau” kata andri meringis kesakitan “ tu tangan nggak pernah di sekolahinya” sambung Niken

“ mending juga tangan Dinda yang nggak di sekolahin dari pada tu mulut nggak pernah di sekolahin “ terang fitri sewoot

“ iya bener tu, lagian jadi cewek centil banget si” terang Doni

“ yeee biarin gue kan cuman melamar…… kalo dia nya mau gue nggak kan nolak” senyum narsis

“ udah kale orang Dinda nya aja nggak marah masak kalian marah” menengahi

“ din aku kan murid baru disini jadi kamu mau kan antar aku keliling sekolah “ pita Anton

“ ayok……, dengan senang hati” jawab Dinda

Setelah agak jauh dari keramaian

“ din kata Doni kamu sering ngalamun N jarang bergaul sama temen – temen kamu” Tanya Anton

Dinda cuman balas dengan senyuman N anggukan

“ begitu cintanya kamu sama aku……………. Sampe kayak gitu” ledek Anto

“ nah kalo udah tau nggak boleh pergi – pergi dari ku” todopoint

“ siapa sih yang mau pergi orang aku akan selalu disini sama kamu”

“ serius”

“dua riuss malahan” jawab Anto

“ entah udah berapa kale aku bilang ini ke kamu tapi yang jelas aku nggak bakalan bosen kalo aku cinta ma kamu din” menatap Dinda

“ aku juga cinta sama kamu Anton” jawab Dinda malu
END…….

Cerpen Kekasih Untuk Sahabatku ~ 01

Kekasih Untuk Sahabatku _ Cerpen kali ini kiriman dari ihda mufida, yang tentu saja masih merupakan reader di blog ini.

Untuk lanjutan cerbung Cintaku bersemi di desa belum bisa di post part endingnya karena aku belum punya waktu buat ngedit. Jadi kita tampilkan dulu karya ihda mufida, yang emang nggak perlu ku edit lagi. So saran buat yang masih berniat untuk mengirim cerpennya kesini, langsung di atur EYD nya. Jadi nggak kelamaan di draf,

Baiklah, kebanyakan bacod sepertinya?. Yuks mending kita simak bareng - bareng. Cekidots....


Kekasih Untuk Sahabatku

Aku menyandarkan kepalaku di bahu lelaki yang duduk di sampingku ini. Melepas lelah setelah seharian mengelilingi Kota Surabaya.

Pikiranku melayang ke masa 1 tahun yang lalu. Saat itu aku sedang duduk di halte sambil membaca buku, menunggu bus yang akan membawaku pulang ke rumah.Belum lama aku duduk, datang seorang lelaki yang memakai seragam sama denganku.Dia duduk di sebelahku.Aku baru menghabiskan 2 lembar dari buku yang aku baca. Tiba tiba lelaki di sebelahku itu menepuk bahuku. Dia melempar senyum kepadaku,mengajakku berkenalan.Kami mengobrol kesana kemari.Ternyata dia satu angkatan denganku,hanya saja kami berbeda kelas.Sudah 2 tahun aku menuntut ilmu di SMA Cenderawasih, tetapi sepertinya baru hari ini aku mendapati lelaki ini di sekolahku.

“Rama, nggak terasa ya,sebentar lagi kita akan berpisah.Apakah kelak kau akan lupa denganku?” , Kataku yang baru saja tersadar dari lamunan masa laluku.

“Fira sayang,tak mungkin aku melupakanmu,aku masih mencintaimu” , Ujarnya sembari merangkul tubuhku.

“Cinta,coba kamu lihat keluar sana.Hari ini langitnya mendung ya,kamu tau nggak kenapa?” , Katanya lagi dan menunjuk ke luar ruangan.

“Enggak,emang kenapa?”

“Karena langit bersedih jika melihat kita berpisah.Hehehe ”

Dia mulai lagi dengan gombalan gombalannya yang selalu membutaku semakin jatuh hati padanya.Lelaki yang aku temui di halte satu tahun yang lalu itu bernama Rama.Dan Rama itu adalah lelaki yang sekarang duduk di sebelahku,dia adalah kekasihku.

Hari ini, Rama bersama Arya pergi ke kantin, teman sekelasnya.Saat membawa sebuah nampan yang berisi 2 gelas minuman,tak sengaja Rama menabrak seorang perempuan.

“Aduh,maaf” , Ucap Rama dan segera menaruh nampan yang dibawanya di atas meja.

“Gak apa apa,aku juga yang salah.Jalan gak lihat lihat.” , Perempuan itu sibuk mengelapi seragamnya yang basah dengan tisu.

Dalam sekejap, mereka berkenalan. Ternyata perempuan itu adalah Dhea. Dia adalah teman sekelasku. Bisa dibilang aku dan Dhea cukup dekat, karena kami sering mengobrol dan sesekali bertukar masalah satu sama lain.

Semenjak Rama mengenal Dhea, kami lebih sering ngobrol bertiga.Aku pun juga menjadi lebih sering menceritakan tentang Rama kepada Dhea.

“Fir. Kok kayaknya temen kamu yang namanya Dhea itu makin deket aja sama Rama,kamu nggak curiga?” Kata Airin, kawan dekatku sejak di SMP.

“Ah,kamu ini bicara apa.Mana mungkin mereka ada apa apa.Dhea kan temen aku” , Ucapku membela Dhea.

Memang terkadang, aku merasa cemburu ketika melihat Rama dan juga Dhea Nampak semakin akrab.Dan sesekali aku merasakan ketidaknyamanan jika Dhea terlalu sering mengikutku saat sedang pergi bersama Rama. Namun aku berusaha menghilangkan kecemburuanku,karena aku tidak mau berfikiran negatif terhadap sahabatku sendiri.

Setelah dipusingkan dengan ujian akhir beberapa waktu lalu,kini aku kembali dipusingkan lagi dengan beberapa tes untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya aku dinyatakan diterima.

Aku sangat gembira, karena akhirnya mimpiku terwujud. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Semua berkat Rama,karena selama ini dia yang selalu mengajariku jika ada mata pelajaran yang aku tak mengerti.Kegembiraan tak hanya berpihak kepadaku,tetapi juga terhadap Rama,dia juga diterima di pergurun tinggi di Bandung.aku tau,memang sejak dulu dia menginginkan bersekolah disana.

Aku yang masih sangat ingin bersama sama dengan Rama, atau memang waktu yang berjalan begitu cepat.Entahlah. Aku tak tau. Yang aku ketahui saat ini, ujian akhir telah usai,dan esok adalah hari perpisahan sekolah.

Malam sebelum hari perpisahan tiba, Rama sengaja mempersiapkan surprise untukku.Dia berharap, aku akan senang menerima pemberiannya.

“Cinta, datang ke taman ya malam ini” , Isi pesan yang dikirim oleh Rama ke ponselku.

Tanpa basa basi, ia segera mengambil sepeda motornya dan bergegas menuju tempat yang telah ia persiapkan.

Sesampainya disana, dia dapati aku tak membalas pesannya.Rama mengirim pesan kepadaku berulang kali, sesekali dia memiscallku. Namun sama sekali tak ada respon dariku.

Mataku terpejam di atas kasur dengan sebuah novel tergeletak di sampingku, dan sebuah ponsel yang layarnya mulai buram berada di genggaman tangan kiriku.Berulang kali layar itu berkedip kedip, tanda ada pesan dan panggilan masuk.Namun aku sama sekali tak menyadari karena ponselku aku silent dan aku telah tertidur pulas.

Sedangkan seorang lelaki dengan jumper berwarna hijau muda yang melindungi tubuhnya dari dinginnya malam sedang menungguku di sebuah kursi panjang berwarna putih, dibawah gemerlapnyua lampu yang mengelilingi taman.

“Cinta, kamu kemana? Aku rindu sama kamu. Aku pengen ketemu kamu malam ini. Aku yakin, kamu pasti datang. Kamu gak akan ninggalin aku sendiri disini. Datanglah cintaku. Aku sayang sama kamu,d an aku tau, kau juga sangat menyayangiku,” Ucap Rama yang masih memegang kotak kado yang telah terbungkus oleh sebuah kertas berwarna biru tua.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam.Hampir 3 jam Rama menungguku. Belum juga ada balasan dariku. Akhirnya,dengan raut muka yang amat sangat kecewa,dia memutuskan untuk pulang. Pulang dengan tangan hampa.

Aku tertidur sebelum pesan dari Rama masuk ke ponselku. Jadi aku sama sekali tak mengetahui jika malam itu dia memintaku untuk menemuinya. Aku baru menegtahui semua pesan Rama ketika aku terbangun di pagi hari. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah.

“Aku minta maaf sayang.aku semalam tertidur sebelum kamu berkirim pesan kepadaku.maafkan aku.” Ucapku ketika menemuinya di sekolah sebelum acara perpisahan dimulai.

“Tak apa Cinta, sudahlah, malam itu sudah berlalu” Dia tak marah padaku,tapi kulihat wajahnya, dia nampak sangat kecewa padaku.

Bebrapa hari ini, aku sering bertengkar dengan Rama. Hanya karena sebuah permasalahan kecil.Mungkin aku yang terlalu sensitif.Tetapi aku merasa dia tak menaruh perhatian lagi kepadaku. Apakah hanya karena malam sebelum perpisahan itu aku tak bisa menemuinya,sehingga membuatnya perlahan menjauh dariku?

Rama pergi ke bioskop, kali ini tak bersamaku. Mungkin dia ingin mendinginkan kepalanya karena pertengkaran kami yang tak kunjung usai. Sebuah tiket untuk menonton film buatan Amerika yang berjudul “Star Trek Into Darkness” yang baru saja dilincurklan beberapa hari yang lalu itu telah berada di genggaman Rama.

Rama segera mengambil tempat duduk di barisan depan,di sebelah kiri seorang perempuan yang mengenakan kaos berwarna merah kecoklatan. Ternyata perempuan itu adalah Dhea. Akhirnya pun mereka nonton bareng.
Tak ada aku, Dhea pun jadi. Mungkin begitu ujar Rama dalam hatinya.Sehabis nonton, mereka jalan seharian tanpa sepengetahuanku.

“Rama, makasih ya sudah mengajakku jalan jalan hari ini.”

Dhea nampaknya sangat gembira dan menikamati kebersamaannya dengan Rama.bahkan dia tak menghiraukan lagi jika lelaki yang sekarang bersamanya adalah kekasih sahabatbnya sendiri.

Aku menengok ke luar jendela.Langit mulai gelap. Namun belum juga kudapati pesan masuk dari Rama. Fikiran negatif mulai muncul satu persatu dari kepalaku. Kebiasaannnya meninggalkanku tanpa pamit ketika kami sedang betengkar.

Aku merasa dia benar benar telah berubah.sikapnya dingin,tak memperhatikanku lagi.Dan kini,dia lebih sering menolak ketika aku mengajaknya untuk bertemu.Dia selalu punya seribu alasan untuk menolak ajakanku.

Apa gerangan yang membuat dia berubah. Apakah telah ada perempuan lain di hatinya. Jika ia,siapakah perempuan itu?

To be continue

Komentar Admin : Perasaan aku aja atau emang ini kisah nyata. Jujur aja, sekilas aku ngerasa ini lebih kepada curhatan dari pada cerpen. Baik melalui pengambaran ataupun kosa kata yang di pakai. Just that…

Biodata penulis :
Judul cerpen : Kekasih untuk Sahabatku
Penulis : ihda mufida
Email : ihdamufida31@gmail.com

Cerpen Pendek The Tuesday’s Rain

The Tuesday’s Rain Cerpen kiriman dari reader yang masuk ke email anamerya17@gmail.com. Ceritanya tentang penantian panjang sebuah kisah cinta masa lalu (???). Bingung yak?. he he he . Soalnya adminnya mau belajar ngimbangin gaya penulis cerpen The Tuesday’s Rain #ditabok.

Gimana ceritanya?. Mending langsung baca bareng aja yuks. Cekidot


The Tuesday’s Rain

Hujan terus mengguyur salah satu sudut Jakarta malam itu. Tepatnya hari itu hari selasa. Selasa yang selalu turun hujan. Petir-petir itu terus menyuarakan suara alam, memecahkan keheningan di saat malam seperti ini. Ara, wanita muda itu bolak-balik melirik jam tangannya, gelisah dan mulai galau. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, waktunya bekerja. Tapi hujan tak kunjung reda. Ia memencet tombol ponselnya lalu mengetik pesan

To : Abang Radith

“ Bang, maaf.. mungkin gw agak telat hari ini.. hujannya deras “

Sekali lagi Ara menatap tetesan hujan yang menderas di hadapannya. Menghela nafas, lalu memperbaiki letak ransel gitarnya. Menunggu.

The Tuesday’s Rain

“ Wine nya lagi “ Seorang pria muda dengan gayanya yang mewakili eksekutif muda sukses zaman sekarang tampak frustasi dengan menggerak-gerakkan pelan gelas wine nya. “ yah, loe tahu mempertahankan kesuksesan di saat seperti ini itu sangat sulit “ pria muda itu mulai meracau tampaknya ia sudah mulai mabuk. Pelayan café wine hanya menatapnya dengan pandangan “kasihan” pada pria muda itu.

I want a little something more
Don’t want the middle or the one before
I don’t desire a complicated past..
I want a love that will last….
I don’t want just a memory, give me forever..
Don’t even think about saying goodbye..
Cuz I jus want one love to be enough
And remain in my heart till I die….


Dentingan gitar dan suara itu sontak membangunkan pria muda itu dari mimpi buruknya barusan, mimpi buruk yang setiap hari mengusiknya, yang selalu membuatnya susah tidur. Ia menatap sekeliling mencoba mencari dimana sumber suara. Tapi tempat itu sudah sepi. Tak ada siapa-siapa, hanya tersisa seorang cleaning service.

“ Heiii… “ Pria itu mencoba memanggil si Cleaning service tersebut.

“ ya Bang ? “ ia mendekat.

“Apa café ini sudah tutup? “ Tanya pria itu.

“ iya Bang, sedari tadi abang dibangunin tetapi Abang engga juga bangun “ jawab CS tersebut.

“ Oh.. hmm.. gw denger tadi ada suara cewe nyanyi dalam tidur gw, gw mau memastikan apa memang ada yang nyanyi tadi ? karena terdengar jelas sekali di telinga gw“ Pria itu merasa heran dengan mimpinya. CS tersebut menggeleng.

“ Saya kurang tahu bang, karena saya datang kalau semua orang sudah pulang “ Jawabnya.

Pria itu beranjak, memberi tips pada CS tersebut lalu berjalan limbung tanpa berkata-kata lagi.

The Tuesday’s Rain

Hari Selasa… dan hujan lagi hari itu. Ara melangkah dengan payung yang di letakkan di tangan kanannya. Hujan di hari selasa. Memori yang tersisa dari perjalanan masa lalunya.

“ Ara… kalau kita besar nanti kamu mau menikah dengan ku? “ anak laki-laki itu menatap dalam mata Ara dan menggenggam erat jari tangannya. Ara tersenyum dan mengangguk. “ Aku janji akan melamarmu di hari Selasa pada saat hujan turun “… anak laki-laki itu tersenyum.

Petir membuyarkan lamunan Ara. Ia menjitak kepalanya sendiri

“ Ara apa loe bodoh??.. itu sudah 10 tahun yang lalu. Dia juga mungkin ga ingat “ Ara merutuk dirinya sendiri. Menghembuskan nafasnya panjang

“ Tezza.. Loe dimana sekarang ? “

The Tuesday’s Rain

“ Bicara tentang hujan di hari selasa.. tiba-tiba jadi teringat tentang cinta monyet gw ketika gw masih SMP.. dan lagu ini gw persembahin buat dia dimana pun dia berada sekarang … “ Ara duduk manis di depan panggung dengan gitar di tangannya. Menarik nafasnya lalu mulai menggerakkan jari-jarinya di atas senar gitar.


If i had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
You i see forever oh so clearly
I might have been in love before
But i've never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They take us where we want to go
Hold me now touch me now
I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much i love you
One thing you can be sure of
I never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much i love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you


Melodi yang dimainkan oleh Ara sungguh berbeda dengan kebanyakan orang. Ia memang mengambil jalur musik Jazz. Terdengar elegan dan sendu.

‘brakk’ sebuah gelas pecah di sudut yang lain. Seorang pria kembali terbangun dari mimpi buruknya. Ia seperti selalu diselamatkan oleh suara jazzy yang sendu itu. Kali ini ia berhasil terbangun, di saat si penyanyi bersuara sendu itu masih di atas panggung kecil di Café tersebut. Ia berjalan limbung mendekati panggung. Pandangannya tampak kabur. Ia hanya ingin memperjelas siapa yang menyanyi di atas panggung itu. Ara yang masih asyik dengan gitarnya sontak terkaget menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya. Membahayakannya.

‘Braaakkkkk’ hal yang ditakutkannya pun terjadinya. Belum sempat menghindar pria itu menubruknya. Gitarnya terjatuh, dan kini posisi pria tersebut ada di atasnya. ‘ Sial ‘ rutuknya. Belum sempat mendorong pria itu agar menjauh. Pria itu muntah di pakaiannya. ‘ Sial Sial ‘ rutuknya sekali lagi.

The Tuesday’s Rain

“ Hei.. loe tinggal dimana? “ Ara menyentuhkan satu jarinya pada pipi pria itu. Café sudah tutup tapi ia tak tega meninggalkan pria itu. Seperti ada sesuatu yang membuatnya harus tinggal. Ara mengambil gitarnya dan mulai memetiknya. Memainkan sebuah melodi dengan sangat-sangat sendu. Seraya memandangi pria yang sedang tertidur di hadapannya. Tampak familiar, tapi dia lupa pernah bertemu dimana.

Mata pria itu terbuka sedikit demi sedikit. Na Yong menghentikan melodinya.

“ Loe sudah bangun? “ Tanya Ara.

Pria itu masih setengah sadar dan berusaha untuk kembali ke dunia nyata.

“ gw dimana? “ Pria itu dingin.

“ Loe? Di Café “ jawab Ara.

“ gw masih pusing.. hmmm loe yang nyanyi tadi? “ Pria itu bertanya dengan wajah yang sangat-sangat kaku.

Ara mengangguk, dan tersenyum kecil “ loe aneh.. deketin gw trus loe nubruk gw.. loe pikir badan loe itu sekecil apa “ Sindir Ara.

Pria itu tersenyum sinis. Ara menatap pria itu heran.

“ Loe ga merasa bersalah ke gw? “ Tanya Ara.

Pria itu hanya menatapnya, ia juga seperti familiar dengan wanita muda di hadapannya itu, tapi ia lupa pernah bertemu dimana.

“ Thanks… “ ucapnya dingin, berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar.

“ Heiiii.. “ Ara berseru pada Pria itu tapi tak ada jawaban.

Menghembuskan nafasnya kesal “Pria aneh!!!” umpatnya.

^ SREEK ^ Ara sedikit terkejut, sepertinya ia menendang sesuatu. Sebuah dompet. Milik pria itu. Ara berlari ke pintu keluar. Terlambat pria itu sudah melaju dengan mobil sportnya. Ara kembali ke dalam Café, lalu duduk di Sofa. Memberanikan diri membuka dompet pria itu.

“Dompetnya tebal juga” Gumam Ara. Tampak sebuah foto terpajang di bagian depan dompet tersebut. Foto keluarga pria itu. ‘Ternyata ia sayang keluarga juga’ pikir Ara. Dompet hitam itu penuh sekali ada beberapa golden card dan platinum card. Pria yang kaya rupanya. Ara tertarik untuk melihat bagian lainnya. Sampai akhirnya ia tertegun pada satu bagian yang terdapat satu foto yang membuatnya terkejut. Itu fotonya 10 tahun yang lalu yang sedang asyik makan es krim, dan seorang anak laki-laki seumurannya yang sedang membaca buku di sampingnya. Ara ingat sekali bagaimana, dimana dan kapan foto itu diambil. Juga dengan siapa. Ara segera membongkar semua isi dompet itu. Mencoba mencari kepastian. Ia menemukan sebuah kartu identitas. Membacanya. “ Aditya Mortezza “. Lemah sudah genggamannya hingga dompet dan isinya jatuh ke lantai, Ara menyenderkan dirinya di ujung meja di belakangnya. Jantungnya berdegup dengan kencang.

The Tuesday’s Rain

Selasa.. Hujan lagi.. Ara menatap dengan teliti tetesan hujan di hadapannya. Teringat-ingat lagi kejadian selasa yang lalu. Akhirnya ia bertemu lagi dengan Tezzanya. Pria yang ditunggunya selama 10 tahun. Pria yang janji akan melamarnya pada saat hujan di hari selasa.

The Tuesday’s Rain

“ Mau minum? gw yang traktir “ Ara duduk di sebelah Pria yang bernama Tezza itu. Tezza menoleh padanya, tampak heran. “ Wine nya 2 “ Ara mengisyaratkan pada Pelayan Café. Tezza masih memperhatikan wanita di sampingnya. Ara tersenyum padanya dan Tezza tetap tak membalas, ia kembali meneguk wine nya. “ sudah 10 tahun ya, loe pasti ga ingat gw “ Ara menatap Tezza. Pernyataan Tezza membuatnya penasaran, hingga ia berbalik menatap Ara. “ aku Aranandita, ini dompet loe “ sahut Ara tanpa basa-basi dan menyerahkan dompet itu pada Tezza. Tezza berpikir sejenak seraya menatap dompetnya lalu beralih pada Ara. Aranandita, Sepertinya nama itu tak asing lagi di telinganya.

“ Gw Aranandita, nama loe? “

Tiba-tiba ingatan 10 tahun yang lalu itu memenuhi pikiran Ara. “ Aranandita? Ara? “ Tezza mengulangi berkali-kali tak percaya. Ara mengangguk.

Seketika Tezza memeluknya.. tangisnya pecah di antara hingar-bingar Café.. “Aku kangen...” Ara tak menyangka respon Tezza sebegininya. Ia menghela nafasnya, lalu menyambut pelukan Tezza, ia juga sangat rindu pria yang memeluknya ini.

The Tuesday’s Rain

“ Maaf sudah membuatmu menunggu selama 10 tahun “ Tezza membuka pembicaraan.

Ara memperhatikan pria itu dengan serius. Tak menyangka pria nya ini begitu keren dan tampannya sekarang.

“ Hidupku selalu dipenuhi oleh mimpi buruk sejak 5 tahun yang lalu. Ayah dan ibuku meninggal dalam kecelakaan pesawat saat perjalanan pulang ke Jakarta dari California. Aku lah pewaris satu-satunya perusahaan ayahku.. sejak saat itu hidupku penuh dengan mimpi buruk “ cerita Tezza singkat, tatapan matanya itu tampak menderita sekali.

“ jadi karena itu kamu suka minum-minum sekarang? “ Tanya Ara.

Tezza mengangguk, lalu tersenyum. “ tapi setelah bertemu denganmu lagi.. Sepertinya mimpi burukku akan hilang perlahan lahan.. Aku merindukanmu Ara “ Tatapan mata itu dalam sekali menatap Ara.

Ara mendekatkan wajahnya ke wajah Tezza. Lalu menatapnya detail. “ Aku senang pacarku ini masih ingat denganku, masih sama seperti dia 10 tahun yang lalu, bad boy, dan perasaannya itu…. masih sama terhadapku.. I Love u “ Ucap Ara lalu bibirnya mengecup sejenak bibir Tezza.

Tezza tersenyum. “ aku mencarimu.. dan kau sudah pindah.. aku pikir aku tak akan pernah bertemu kau lagi.. ternyata lagumu, suara indahmu, dan petikan gitar sendumu yang membawaku ke tempat ini.. Love u too “

Tezza memeluk Ara. “ Mau kah kau menikah dengan ku… wanita ku? “…

Hujan di hari Selasa.. ternyata dia menepatinya…

-FIN -

Comentar admin : Suka sama gaya bahasa yang digunakan. Kosa katanya bukan 'kalimat sederhana' soalnya. Sekilas aku mikirnya, pasti udah sering nulis. Tapi cuma pendapat ya, aslinya nggak tau.

Cuma kalau boleh ngsih kritikan, skip skip jangan kebanyakan donk, jadi rada bingung bacanya. Over All, ceritanya bagus, berakhir happy ending Dan aku suka...

Cerbung Cintaku Bersemi di Desa ~ 04

Cinta ku Bersemi di Desa _ part ~ 04. Udah pada nggak sabar pastinya ya kan buat nyari tau kelanjutan kisah cintanya Dinda. Itu lho, yang terjebak di antara Anto sama Doni. he he he...

Oke lah, dari pada terus penasaran kayaknya lebih baik langsung lanjut baca aja deh. Ya nggak?. Sekedar info, Next adalah the last part. Happy reading.....

Eh, hampir aja lupa. Cebung Cintaku Bersemi di Desa adalah cerpen kiriman dari reader. Sekedar mengingatkan, buat yang pengen cerpennya nangkring di sini juga boleh kok. Caranya gampang tinggal kirim aja ke Anamerya17@gmail.com . Di tunggu karya nya ya...


cinta ku bersemi di desa

Namanya juga jatuh, pasti sakit. Lain ceritanya jika jatuh cinta. Apa lagi kalau jatuh cinta karena terjatuh. Baiklah, kalimatnya cukup belibet sepertinya. Intinya sejak kejadian Dinda yang jatuh akibat terserempet motor kemaren, ternyata mampu mendekatkan hubungan antara ia dan Anto.

“Din kita mau jalan kemana nih?” Tanya Anto.

“E...” Dinda tidak langsung menjawab.“Gimana kalo kita ke pantai?"

“Ogah ah” tolak Anto.

“Lho kenapa?”

“Masak kita ke pantai jalan kaki, jauh tau.”

“Loe tu cowok pa cewek si?"

“Ya cowok lah.”

“Cowok jadi-jadian maksud loe huahahahaha” ledek Dinda.

Sedangkan yang di ledek hanya menatap Dinda dengan intens

“Eh… loe kenapa si, gue tau gue cantik tapi nggak usah liat nya kayak gtu…. Gue jadi takut."

“Ciah….. siapa juga yang liatin kamu” elak Anto.

“Eh…. Orang buta juga tahu kalii kalo loe tadi liatin gue, emang nya gue begok apa bisa loe kibullin” Dinda tampak sewot.

“Baru tahu kamu kalo kamu itu emang begok”

“Enak aja”

Dan jitakan pun mendarat di kepala Anto.

“Aduh… sakit tau” gerut Anto sambil mengusap – usap kepala karna terasa berdenyut-denyut.

“Makanya...” belom selesai Dinda ngomong udah di potong sama Laura yang entah sejak kapan ada di sebelah kiri tangan Anto.

“Anto, Kok kamu malah sering jalan berdua sama dia sih” kata Laura manja.

Dinda pun memajukan mulut dua centi ketika melihat Laura menggandeng tangan Anto.

“Laura apaan si malu tau di liatin orang” kata Anto sambil mencoba melepaskan diri dari Laura.

“Eh Laura…. Loe tu punya muka nggak si” Kata Dinda yang tak mampu menahan diri melihat ulah kegenitan Laura di hadapannya.

“Punya, emang loe nggak liat, oh iya gue lupa loe kan buta mana bisa liat” balas Laura sinis.

“Eh siapa yang buta perasaan loe deh yang buta, masak orang buta teriak buta nggak malu loe” Dinda nggak kalah sinis.

“Eh yang buta tu loe.”

“Nah tu loe nyadar kalo yang buta tu loe.”

“Ihh loe tu ya yebellin banget jadi cewek” tangan Laura sudah terangkat, namun kali ini Anto ternyata lebih cekat menahannya.

“Laura loe tu bisa nggak si nggak usah pake kekerasan kalo berantem."

“Anto kok loe malah belain dia si.”

“Emang kenapa kalo Anto belain gue, masalah buat loe” kata Dinda.

“Awas ya loe” berlalu meninggalkan Dinda dan Anto karna kepergian Laura Anto N Dinda malah tertawa nggak jelas.

“Ya udah mending kita pulang saja…… dari pada ketemu sama Laura ntar malah ribut lagi” memegang tangan Dinda biar mengikuti nya, Dinda hanya mengangguk ria.

Tak perlu berjam-jam buat sampai rumah karna tadi belum terlalu jauh

“Ya udah din sudah yampe kalo gitu loe kedalem gi”

“Loe serius pengen gue kedalem?”

“Ya iayalah masak loe mau kerumah gue.”

“Ya bukan gitu maksud gue.”

“Terust?”

“Tangan gue masih loe pegang juga” jawab Dinda sambil memandangi tangan mereka.

“Oh.Iya…. Maaf” Anto tampak salah tingkah

“Yaa udah kalo gtu gue kedalem dulu nya da Anto” kata Dinda pamitan,Anto hanya mengangguk

“Baru pulang din” kata seorang cowok yang sangat familiar di telinganya.

“DONI” raut kaget Jelas terpancar di wajah Dinda.

“Yup ni gue Doni” jawab Doni sambil melangkah menghampiri Dinda.

“Kok bisa?? Terust loe kesini bareng siapa??”

“ Doni kesini ikut papa” kata seorang cowok yang sangat iya rindukan . Sejenak Dinda masih menelaah apa ini beneran atau cuma mimpi.

“Itu papa kamu, katanya dia kangen sama anak nya” kata mama yang baru muncul dari dapur.

“Tunggu-tunggu maksud nya apa?? Dinda di sini kan baru satu minggu lebih dua hari???”
Doni hanya angkat bahu N papa nya malah senyum-senyum nggak jelas.

“Papa…. Nggak ngajak Dinda untuk pulang sekarang kan??”

“Kamu tenang aja sayang….. papa cuman mau jenguk mama sama nenek kamu kok” terang papa dan nggak tau kenapa Dinda yang mendengar nya jadi lega.

“Syukur deh kalo gtu” kata Dinda sambil mengeluarkan nafas lega.

“Ya udah din sana mandi bau tau” kata Doni meledek.

“ emang baru tau loe” kata Dinda ketus papa N mamanya hanya menggeleng

Setelah mandi Dinda ngajak Doni jalan-jalan katanya dia ingin melihat pandangan sorte hari karna setiap Dinda smsn sma Doni dia selalu bilang pemandangan disini kalo sore sangat indahN karna itu Doni penasaran, nggak jauh mereka jalan Dinda melihat Anto lagi jalan-jalan juga

“ANTO” kata Dinda ….. karna Anto merasa kalo namanya di panggil ia menoleh.

“Eh Dinda” melihat Doni ” dia”

“Oh… dia Doni, sahabat sekaligus kakak buat gue” terang Dinda.

“Doni” mengulurkan tangan.

“Anto” menyambut tangan Doni

“Oh iya nto loe yang ngajak dia jalan-jalan aja ya” memecah kan keheninga.

“Yau dah kalo gitu, mending loe pulang cuci tangan cuci kaki plus cuci mata” ledek Doni

Pletak sebuah jitakan mulus di kepala Doni.

“Aww skit dodol” Doni mengusap kepala.

“Bodo’" balas Dinda cuek. “Eh don katanya loe penasaran sama yang namanya Laura” kata Dinda tiba-tiba.

“He’eh…. Emang orang nya mana” kata Doni celingukan.

“Itu “ kata Dinda sambil menunjuk kearah Laura.

“Itu kembang desa di sini” Doni nggak percaya “ Anto… emang bener tu cewek kembang desa disini” kata Doni yang menunjuk kea rah Laura

“Iya.. dia kembang desa di sini, emang kenapa loe naksir sama dia” kata Anto yang behasil membuat Doni ngakak nggk berhenti - henti.

“Loe yakin dia kembang desa di sini” kata Doni di sela-sela ketawa nya
Dan di balas anggukan mantap oleh Anto.

“Gila… pada buta apa” kata Dino di sela tawanya.

“Maksut nya” Anto masih nngak ngerti.

“Eh gue nggak habis fikir orang-orang disin pada rabun kale ya” kata Doni, tapi Anto malah makin nggak ngerti apa yang di maksut Doni.

“Maksutnya kok aku makin nggak ngerti”.

“Gini-gini, dia itu kan jelek masak kembang desa sih, ya gayanya si ok lah tapi make up nya huahahaha”.

Sebelum Doni selesai ngomong udah ketawa duluan sedangkan Dinda udah dari tadi ilang nggak tau ke mana.

“O“ Anto hanya ber O ria.

“Yaudah deh tadi kan loe di amanti oleh Dinda buat ngajak gue jalan-jalan?”

“Oh iya, ayok”

“Kita mau kemana” Tanya Doni

“Ya jalan-jalan aja, kalo kamu mau kita ke tempat yang sering di kunjungi Dinda, gimana” ajak Anto.

“Boleh” Doni tampak mengiyakan.

Tak butuh waktu lama buat mereka ke sana, dan disana sudah ada Dinda yang sedang asyik mendengarkan lagu dan memejamkan matanya.

“Huayoooo” Doni langsung mengagetkan Dinda “Katanya loe ada urusan kok disini” Tanya Doni tanpa memperdulikan reaksi dari Dinda.

“Eh dodol, Loe mau bunuh gue” geram Dinda saat sudah bisa mengatasi jantung nya.

“Yeee emangnya loe punya penyakit jantung? Lagian loe kan masih muda” jawab Doni dengan tampang soo cool andalanya .

Pleetak sebuah jitakan mulus ke kepala Doni dua kali dan itu juga berhasil membuat Anto tertawa nagakak

“Makanya itu kan gue belom tua jadi gue belom siap” balas Dinda santai.

“Eh dodol sakit tau……, lagian loe lagi ngetawain emang ada yang lucu” kta Doni terdengar ketus.

“Maaf-maaf , ya habis kamu masak bisa kena dua kali…. Orang keledai aja nggak yampe dua kali ” kata Anto di sela-sela ketawa.

Doni hanya menatap tajam ke Anto

“Eh din loe kenapa sih, apa loe nggak suka gue kesini” kata Doni .

Dinda hanya menggeleng kepalanya pelan .

“Terust kalo nggak napa tuh muka kusut” Doni masih heran.

“Gue nggak kenapa-kenapa, lagian loe jadi cowok kepo”.

“Eh udah hamper hujan ni, apa kalian mau hujan-hujanan” kata Anto saat melihat langit mendung.

“Mending kalian pulang duluan deh” jawab Dinda sambil memasang airphone ya lagi.

“Nggak ada, pulang” kata Doni sambil megang tangan Dinda biar dia ngikut.

Setelah sampai di rumah Dinda hanya bengong melihat hujan turun.

“Din loe kenapa si” kata Doni hawatir.

“Loe pernah nggak rasa takut kehilangan” kata Dinda dan hanya di balas anggukan oleh Doni.

“Terusst loe pernah nggak ngerasa marah pada seseorang karna dia deketin orang lain” sambung Dinda.

“Ya pernah lah” jawab Doni “Ngomong-ngomong kok loe tumben nanya kayak gtu” Tanya Doni curiga.

“Gue nggak tau don, tiba-tiba aja perasaan takut kehilangan Anto hinggap di kepala gue” Dinda tak bersemangat.

Doni hanya mengangguk-angguk “Itu namanya loe jatuh cinta” kata Doni

“Loe bener mungkin saat ini gue sedang jatuh cinta."

“Udahlah din, lagian kan masih satu minngu kurang….., loe manfatin sebaik-baik nya ok” kali ini Doni berusaha menasehati.

“Ok don, loe emang T-O-P B-G-T deh hehehe."

“Iya donk, Doni” balas Doni memebanggakan dirinya.

“Pantang di puji “ gantian Dinda yang meledek.

Dan di susul ketawa bersamaan.

“Gue tidur duluan ya don” pamit Dinda.

“Iya…. Yang yenyak, jangan lupa mimpiin Anto ok din."

“Sialan loe” gerut Dinda mencibir sinis.

Pagi harinya, tidak seperti biasanya, Dinda sengaja merubah penampilannya. Membiarkan rambutnya tergerai dengan bando merah di kepalanya. Membuat nya terlihat imut, bahkan begitu melihat Doni langsung memberikan komentarnya.

“Ckckckck mau kemana sih..cantik bener gue boleh nggak ngelamar jadi penjaga hati” ledek Doni

Dinda tidak membalas, tapi tatapan tajam yan ia lemparkan sudah lebih dari cukup mengantikannya.

“Don udah lah jangan di ledekin terus ntar nangis lagi” ledek papa.

“Ih Dinda udah gede tau masa’ nangis” elak Dinda.

“Udah udah, kalian ini,” mama menengahi

Dinda hanya tersenyum

“Ya udah ma, pa, don, Dinda pamit nya” pamit Dinda.

Setelah berjalan mereka hanya diem nggak seperti biasanya yang di kelilingi oleh pecandaan.

Sesampainya di tempat tujuan.

“Eh din kalo boleh jujur hari ini kamu cantik banget” kata Anto membuyarkan keheningan
Dinda hanya tersenyum simpul.

“Din, Aku boleh ngomong nggak sama kamu?” tanya Anto terbata-bata.

“Boleh, ngomong aja”.

“Din……. Aku……aku…… aku.... suka …..sama …kamu” kata Anto.

Dan Dinda hanya menunduk dan tersenyum sebelum ia menghadap Anto.

“Gimana din, Kamu mau nggak jadi pacarku? Aku tahu sebentar lagi kamu akan pulang tapiii…., stidak nya aku bisa miliki mu jadi pacarku bukan jadi sahabat ku….. “ terang Anto.

“Iya nto aku mau kok jadi pacar mu” kata Dinda masih dengan menunduk.

“Kamu serius din” kata Anto memastikan.

“Iya” jawab Dinda tegas dan yakin “ tapi Anto masa’ kita putus saat aku pulang ke Jakarta si” sambung Dinda.

“Ya mau gi mana" jawab Anto kurang semangat “Udahlah din yang terpenting selama kamu disini aku akan selalu ada di dekat mu N saat liburan nanti kan kita bisa ketemu lagi” sambung nya.

“Anto pasti nanti aku akan kangen sama kamu” kata Dinda, tak tersa air mata yang kini mengalir dengan sendirinya .

“Jangan nangis donk din, kita kan baru jadian masak nangis-nangisan sih din” kata Anto yang mengusap air mata di pipi nya Dinda.

“I LOVE YOU DIN.”

“LOVE YOU TOO ANTO.”

“Nah gitu donk senyum kan keliatan lebih cantik” goda Anto.

“Apaan si” kata Dinda malu.

“Din kamu tau nggak kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu” Tanya Anto.

“Nggak” kata Dinda sambil menatap Anto yang kini sedang menatap nya.

“Karna kamu adalah orang yang bisa bikin seneng, yaman,N selalu ketawa, makasih ya din” kata Anto sambil mencium kening Dinda.

“Din misalkan nanti kamu ke Jakarta jangan lupakan aku ya walaupun kita nggak bisa smsn maupun telponan kan kamu tau sendiri kalo disini signal nya kan susah” terang Anto dan Dinda hanya mengangguk.

“Tapi kamu juga jangan ngelupain aku ya nto” kata Dinda.

“Pasti din aku janji” menunjukkan kelingking sebagai tanda janji.

“Anto misalkan ada cewek yang lebih dari aku apa kamu akan ngelupain aku”.

“Nggak din, mau ada 1000 orang baik kayak apa juga aku akan selalu setia sama kamu din” jawab Anto simpel namun terdengar tegas.

“Maakasih nto aku percaya sama kamu” kata Dinda sambil memeluk Anto.

To Be continue..

Detail cerpen :

Judul cerpen : Cintaku bersemi di desa
Penulis : Ida Ajha
Email : idhaajha16@gmail.com

Seikit komentar untuk penulisnya. Ya ela, ini cerpen apa kumpulan dialog si?. Masa dari awala sampe akhir percakapan semua. Hadeeeee

Biar makin banyak yang baca, sekiranya bermanfaat silahkan di share ya....

Cerita Pendek "Cinta Sejatiku"

Masih cerpen kiriman dari reader. Kurny love, thanks ya atas kiriman cerpennya and ayo terus nulis.... ^_^ Buat yang lain bisa ikutan. Tinggal kirim ke Anamerya17@gmail.com

Info untuk yang ikutan ngirim, sory ya kalau rada lamaan untuk di post. Soalnya aku juga harus membagi waktu sama jam kerja di tambah cerpen yang masuk juga banyak and harus admin baca satu satu dengan pengeditan seperlunya.

Baiklah, nggak usah kebanyakan bacod, mending langsung baca yuk berikut Cerita pendek Cinta Sejatiku.


Cinta Sejatiku

Pagi itu pagi yang cerah bagiku karna hari itu adalah hari pertama aku menjalani MOS di SMA, namun kecerahan itu hilang seketika ketika aku menyadari bahwa hari sudah menjelang siang. Dengan langkah buru-buru aku membenahi rambutku sambil sesekali memakan sarapan pagiku. Setelah itu aku keluar untuk segera berangkat ke sekolah. Sesampainya disekolah keberuntungan masih berpihak padaku.

Tanpa kusadari tali sepatuku belum ku tali sehingga ketika aku berlari buru-buru aku tersandung dan jatuh,sontak semua yg ada disitu tertawa terbahak-bahak. Aku hanya tertunduk malu dan berusaha berdiri. Seorang senior bernama Nicky datang menolongku.

“Nggak papa dek.?” tanya Nicky.

Lalu aku berdiri dan memandang kak Nicky yang berniat menolongku. Wuihh, cakep banget.

“Eeng.enggak kak” jawab ku salting. Habisnya kakak senior yg satu ini cakepnya nggak ketulungan.lebay deh.

“Kayaknya tangan kamu lecet” ucap kak Nicky.aku melihat ke siku tanganku dan ternyata memang lecet.

“Nggak usah kak. Acaranya udah mau mulai nanti aku dihukum lagi” tolak ku. Sebenernya sih mau banget. Apalagi yg ngobatin kamu.

“Kamu jangan paksa’in luka kamu.nanti infeksi lagi” paksa kak Nicky.

“Si kakak maksa banget sih. Kayak pengen deket-deket sama aku aja” ucapku dengan tak sadar.sehingga kak Nicky terbelalak.

“Maksud kamu apa?” tanya kak Nicky mendengar perkataanku.

“Ehh itu kak. Aku mau ke UKS.” Aduh, kenapa jadi salting gini sih,.?!

“Ya udah ayo, nanti kakak izin ke pengurus OSIS lainnya.”

@UKS.

“Kok kamu bisa lupa tali sepatu kamu sih?!” tanya kak Nicky.

“Kakak ngeledek deh.”

“Nggak kalik, kakak cuma nanya,”

“Tapi ‘kan bikin aku malu.”

“Ya udah deh kalo’ kamu malu kakak nggak maksa, nama kamu siapa?”

“Namaku Gita kak, kakak siap?”pura-pura nggak tau padahal tau.

“Masa’ kamu nggak tau siapa kakak?! Nama kakak Nicky.”

“Emt, kak Nicky. Kapan ngobatin tangan aku?”

“Oh iya sampe’ lupa. Maaf ya” kak Nicky mengobati tangan aku. Aduh seneng banget bisa di obatin kak Nicky yg superrr gantenngg !

“Sekarang gimana?” tanya kak Nicky.

“Sama aja sih kak,” jawabku.

“Jujur banget sih kamu. Jangan jujur-jujur donk. Bikin nyesel aja.”

“Maaf deh kak.”

Aurora sahabatku datang.

“Cie. Gita. . Berduaan sama kak Nicky nggak ajak-ajak,” ledeknya

“Kalo gue ngajak lo kesini berarti bukan berduaan, tapi ber-tigaan” jawabku sedikit meladeni Aurora. Ganggu orang aja.

“Jangan marah donk git, gue kesini ‘kan disuruh sama kakak kelas buat nemenin lo.”

“Nemenin gue?!. Tapi kan…” Kak Nicky memotong kata-kataku.

“Sekarang ‘kan udah ada temen kamu, jadi kakak balik ke aula dulu ya. Nanti pas istirahat kakak kesini lagi buat nengok kamu,” pamit kak Nicky lalu pergi. Uuh, nggak ada yg ganteng lagi deh,

“Ngapain sih lo kesini? Ganggu aja.” omelku.

“Ya sorry. Gue nggak tau kalo disini udah ada kak Nicky. Gue kan Cuma disuruh kak Nima, pacarnya kak Nicky.”jawab Aurora.

“Kak Nicky udah punya cewek.?!”

“Kayaknya sih gitu. Soalnya kak Nima kelihatan marah gitu waktu tau kak Nicky di UKS sama loe. Kenapa? jealous?”

“Jealous?? Ya nggak lah. Udahlah nggak usah ngomongin dia, mendingan lo beli’in gue minum aja. Haus nih.”

“Jahat lu. Sahabat sendiri di gitu’in.”

Habisnya elo, udah tau aku jealous masih aja nanya pake bilang-bilang lagi kalo’ kak nima itu ceweknya kak Nicky. Ngomong-ngomong kak nima itu kaya’ gimana ya sampe’-sampe’ kak Nicky mau pacaran sama kak nima.?!Perlu dicari tau nih.

“Malah diem,” omel Aurora.

Aku hanya terseyum.Tak terasa jam istirahat tiba dan kak Nicky menepati janjinya untuk menjengukku. Setelah saat itu aku dan kak Nicky jadi deket dan juga Aurora yang sekarang mulai deket sama Bowo’ cowok yg sudah dia taksir sejak lama. Suatu hari aku berangkat bersama Aurora dan kita saling bercerita tentang kedekatan kita dengan cowok yg kita taksir.

“Gimana kabar lo sama kak Nicky.?”Tanya Aurora dengan penasaran.

“Ya gitu deh. Makin akrab dan makin deket, ya kaya’ setiap hari kontek-kontekan. Kalo lo apa kabar sama bowo’.?”

“Karna saran dari lo dulu. Gue bisa deket sama Bowo’ malahan kita sering jalan bareng, makasih ya. Gue nggak tau gimana hubungan gue sama Bowo’ kalo’ lo nggak ngasih saran ke gue.”

“Biasa aja kalik. Gue bakal bantu apa ‘pun yang gue bisa because you my best friend forever.”

“So sweet. Tapi kaya’nya bakal so sweet banget kalo’ Bowo bilang ke gue because you my everything.”

Bowo datang menghampiri Aurora.

“Because you my everything.” ucap Bowo dengan gembira. Aurora menengok ke arah Bowo dengan muka merah.

“Ciee, Aurora.” ledekku sedikit ngiri. Mau donk ada yang bilang gitu ke gue.

“Apa’an sih git. Bowo ‘kan Cuma bercanda,” ucap Aurora.

“Gue serius kalik. Kamu mau bantu aku nggak.?”sergah Bowo.

“Bantu apa.??”

“Mau nggak jadi my girlfriend?”

“Whaatt.?!!!! Lo pasti bercanda ‘kan? Nggak mungkin lo nembak gue.”

“Gue serius. Tapi kalo’ lo nggak mau juga nggak papa.”

“MAU. Mau banget.”

Akhirnya mereka jadian juga. Kapan ya aku bisa jadian sama kak Nicky?
Dua bulan kemudian kak Nicky datang kerumahku tiba-tiba dengan keadaan yang sangat nggak biasa. Dia seperti orang yg sedang mendapat masalah. Aku ikut prihatin mendengar curhat-an kak Nicky. Dia bilang kak Nima pacarnya minta putus karna dia tau kalo’ kak Nicky mulai deket sama aku. Dan kak Nicky minta bantuan aku untuk menjauhi kak Nicky karna kak Nicky sangat sayang sama kak Nima.

Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaan kak Nicky demi kebahagiaan dia. Meskipun aku tau aku sangat menyanyangi dia,
Tapi aku yakin tuhan telah menunjukkan takdirku. Dan tuhan telah menyimpan seorang pangeran untukku. Sekalipun aku masih sayang kak Nicky, dari semua ini aku bisa mengambil kesimpulan bahwa kak Nicky bukan cinta sejatiku.

End.

Biodata penulis :
Judul : Cinta Sejatiku
Penulis : Kurny Love
Email : kurni_love@yahoo.com

Cerbung Cintaku bersemi di Desa ~ 03

Cintaku bersemi di Desa Part 3. Masih cerpen karya Ida yang di kirim ke email admin @ Anamerya17@gmail.com. Gimana sih kelanjutan cerita antara Dinda and cinta di desanya?. Yuks, mending kita simak langsung bareng bareng. Oke?...

Oh ya, sekedar info, untuk part selanjutnya bisa di klik di sini : Cerbung Cintaku bersemi di Desa part ~ 02.

Happy reading....!!


Cintaku bersemi di Desa

Setelah bangun tidur Dinda langsung ngiprit ke kamar mandi. Setelah berpenampilan rapi ia pamit pada mama dan neneknya untuk kembali berkeliling di desanya. Tapi emang lagi beruntung dia ketemu Sri, Mili dan temen mereka, karna mereka juga ingin jalan – jalan. Jadi Dinda bareng sama mereka, sepanjang perjalan mereka selalu bercanda sampai akhir nya Dinda di srempet oleh motor dan pengendara nya adalah LAURA. Cewek yang kemaren berantem sama Dinda.

“Aduhhh….. kasian sakit ya?” kata Laura meledek.

“Eh kalo bawa motor mata nya di pake donk. Jangan taroh dengkul” geram Dinda sewot sambil bangkit berdiri.

“Iya nih Laura. Bukan minta maaf malah ngeledek” kata Intan membela Dinda yang mringis kesakitan

“Eh denger nya, dia kemaren kan belum minta maaf” kata Laura.

“Ok. Karna kemaren gue salah, gue minta maaf,” kata Dinda yang masih mringis kesakitan.

“Ah, segampang itu minta maaf” kata Laura sinis.

“La terus gue harus gi mana coba” kata Dinda yang masih menahan diri untuk sabar.

“loe harus sujud dan cium kaki gue. Deal kan” kata Laura.

"Wah, ni orang. Beneran sarap ni kayaknya" gumam Dinda sambil mengeleng kepala tak percaya namun masih tetap mencoba menahan emosinya.

“ Eh, Laura kamu jangan sok donk jadi orang, kalo dia minta maaf ea kamu harus maafin” bela Anto yang baru datang

“Lho kok kamu malah belaiin dia sih nto” jawab Laura manja.

“Orang dia bener, lagian kamu tu juga harus minta maaf sama dia kamu nggak liat dia kesakitan gara-gara kamu sempret."

“Tapi kan….”

Sebelum Laura selesai ngomong, Anto sudah terlebih dahulu angkat bicara.

“Din sini luka nya aku obtain” kata Anto sambil mapah Dinda.

“Sakit din” sambung Anto setelah tiba di pinggir air.

“Lumayan perih si” aku Dinda jujur.“ makasih ya nto” sambung Dinda.

“Makasih? Makasih untuk apa?” kata Anto.

“Ya untuk semua” kata Dinda.

"O“ Anto mengangguk paham.

"bulat” kata Dinda.

“He?” kata Anto nggk ngerti.

“ ya O kan bulat bukan kotak gi mana si” kata Dinda sambil tersenyum.

“Ada” kata Anto.

“Ha” kata semua yang ada di situ.

“Mana ada kotak” gumam Sri.

“Huahahaha” bukanya ngejawab Anto malah ketawa.

“Loe nggak papa kan nto” kata Dinda sambil megang jidad Anto.

“Apaan sih din nggak kok”kata Anto.

“Nah terus kenapa ketawa kalo nggak kesambet coba” Tanya Dinda polos.

“Tadi aku ketawa tu karna muka kamu kalo kaget lucu” kato Anto masih ketawa.

“Cie-cie” kata yang lain kecuali Laura yang langsung ngacir pergi entah kemana sedang kan Dinda cemberut karna di ketawain.

“Selesai” kata Anto setelah hening beberapa saat.

“Makasih ea nto” kata Dinda mencoba berdiri.

“Sini ku bantu” kata Anto mengulurkan tangan, sedangkan yang lainya hanya diem nggak percaya atas apa yang mereka liat.

“Kamu aku antar pulang ya, kan kaki mu masih sakit” kata Anto sambil memapah Dinda dan Dinda hanya mengangguk.

“Aduhh” kata Dinda kesakitan karna lukanya cukup parah.

“Kenapa” Tanya Anto.

“Sakit” sambung Anto karna melihat Dinda kesakitan.

“Ya udah aku gendong nya “kata Anto.

“Nggak usah… makasih, tp gue nggak mau ngrepotin loe” jawab Dinda.

“Kamu nggak ngrepotin kok” terang Anto yang langsung menggendong Dinda.

“Anto turunin gue malu tau."

“Kenapa harus malu?” Tanya Anto.

“Ya malu lah, mereka semua liat nya ke kita” terang Dinda memanyunkan bibir.

“Ehh….. kalo kamu aku turunin yang ada luka mu makin parah tau” terang Anto.

“Ye lah tu.”

“Nggak usah sok Malaysia kaliii din orang kita di Indonesia juga”

Tak menunggu berapa lama Anto udah sampai di rumah Dinda.

“Din…… kok rumah kamu sepiii?” Tanya Anto pada Dinda.

“Meneketehek” jawab Dinda ngasal.

“Yaelah di Tanya baik-baik juga malah jawabanya kayak gtu” sok ngambek.

“Gue mana tau, orang kita aja baru yampe loe nanya ke gue….. lha terus gue nanya siapa” terang Dinda yang ikut-ikutan sok ngambek.

“Mmmm aku pulang dulu ya din” pamit Anto dan hanya di balas anggukan oleh Dinda.

“Makasih ya nto” kata Dinda

“Iya sama-sama, ati-ati di rumah sendirian”

“Kenapa?” Dinda tampak penasaran.

“Biasanya kalo anak cewek sendirian di rumah ... " Anto sengaja mengantungkan ucapannya.

“Kenapa” kejar Dinda.

“Biasanya ada wewegombel."

“Seriusan?” Dinda tampak tak percaya walau raut ketakutan jelas tergambar di wajahnya.

“Huahahaha” ketawa Anto makin meledak saat melihat Dinda celingak celinguk nggak jelas.

“Ohhh jadi loe tadi cuman ngerjain gue” gerut Dinda ngambek setelah tau kalo dia cuman di kerjain.

“Yaiyalah, mana ada wewe gombel siang bolong kayak gini” terang Anto di sela ketawa nya. “Ya udah din aku pulang dah” pamit Anto pada Dinda.

“Ati-ati kalo jatuh bangun sendiri“ balas Dinda setengah meledek.

“Anto… Anto ternyeta loe asyik juga ya” gumam Dinda setelah Anto hilang dari pandangan.

“Ya udah deh mending gue istirahat ke kamar aja deh, lagian mama pasti ada di kebun” gumam Dinda.

To be continue

Detail cerpen:

Judul : Cintaku bersemi di desa
Penulis : Ida Ajha
Email : Idhaajha16@gmail.com

Dan jangan lupa klik suka untuk fanpage info seputar blog di sini. LovelyStarNight.

Cerbung "Cintaku Bersemi di Desa ~ 02

Hufh, akhrinya sempet juga buat ngedit lanjutannya, Xd. Nah, buat semua temen - temen yang udah ngirim cerpen nya ke aku, kita sama sama belajar EYD bareng yuks. Ilmu standar aja yang kita pake. Untuk nama tempat, awalan kalimat serta nama Orang kita pake huruf besar aja ya?. Sama satu lagi, please donk. Kalau nulis cerpen sebisa mungkin bahasanya jangan di singkat ya?. Ya itung itung biar saia nggak terlalu banyakan ngedit and cerpennya bisa langsung di posting. Oke?..

Baiklah, kebanyakan bacod sepertinya. Yuks mending kita langsung baca. Berikut lanjutan cerbung Cinta ku bersemi di Desa bagian II karya dari Ida. Dan untuk yang pengen ikutan Cerpennya nangkring di blog ini juga bisa ikutan kok. Silahkan kirim ke Ananerya17@gmail.com . Tapi tentu saja setelah melalui proses pengeditan versi saia dan antri. ^_^


Cintaku Bersemi di Desa

Untuk part sebelumnya silahkan cek disini.

Sambil menghirup udara dalam dalam dan merasakan segarnya udara perdesaan Dinda terus melangkah. Matanya mengatap kesekeliling. Getaran di sakunya menginterupsi aktifitas Dinda. Segera di keluarkannya hadphond dan menemukan sms dari Doni. Tangannya secara lincah memencet tombol sana sini. Menyiapkan balasan untuk sahabatnnya. Namun karna ke asyik sms sama Doni, Dinda nggak sengaja nabrak cewek yang keliatan baru pulang dari sekolah.

“ Eh cewek kampung, kalo jalan tu mata dipake. Buta ya loe!.”

Untuk sejenak Dinda melongo. Busyet, ia langsung di bentak begitu.

“Eh mbak, mana ada orang jalan pake mata. Diaman-mana juga orang jalan itu pake mata. Gimana sih?” balas Dinda sini.

“ Ih, udah salah malah nyolot. Bukannya minta maaf kek. Dasar cewek kampong, udik banget” cewek itu makin yolot

“HELLO….. LOE JUGA CEWEK KAMPUNG. KALO LOE CEWEK KOTA NGAPAIN LOE DI KAMPUNG. DASAR CEWK BLO’ON,DODOL, SINTING, GILA, MIRING LAGI!!!” seru Dinda nggak kalah heboh. “Dan satu lagi. CATET ya, gue bukan cewek kampung” sambung Dinda lagi.

“ Loe?!” Cewek itu terlihat kehabisan kata – kata sambil tangannya menunjuk lurus ke arah wajah Dinda.

“Nggk usah nunjuk-nunjuk deh loe. Di kira tangan loe bagus apa?” gerut Dinda sambil menyingkirkan tangan cewek itu dari mukanya.

Sepertinya acara berantem itu akan terus berlanjut kalau saja tidak secara kebetulan ada yang muncul melerai mereka. Memotong kalimat makian yang akan terlontar dari mulut gadis itu.

“ Eh udah-udah kok malah berantem di jalan si?” kata cewek yang baru muncul itu. Sekilas Dinda melirik seragam yang di kenakan gadis itu. Sepertinya sama seperti yang di kenakan oleh gadis yang berantem di hadapannya.

“Eh miss lemot nggk usah ikut-ikut deh nggk ada urusanya sama loe” kata cewek itu kepada cewek yang menengahi.

“ Busyet, loe nggk bisa ya manggil orang dengan sebutan nama ” kata Dinda makin sebel.

Dan saat melihat tangan yang terayun di hadapnya bukannya gentar Dinda malah maju selangkah. Jelas menantang, membuat tangan itu hanya berhenti di awang – awang.

“Apa? Loe mau nampar gue?” tantang Dinda langsung membuat gadis itu bungkam.

Sepertinya ia tidak menyangka akan reaksi tak gentar dari Dinda.

“Ih, dasar nyebelin. Ngabisin waktu aja gue ngadepin orang kayak loe”.

Selesai berkata gadis itu segera berlalu. Meninggalkan Dinda yang hanya geleng – geleng kepala melihat ulah anehnya.

“Dasar manusia aneh” gumam Dinda lirih sambil matanya terus menatap lurus kearah punggung gadis itu yang terus berlalu.

“Oh iya kenalin gue Dinda” kata Dinda sambil mengulurkan tangan ketika menyadari kalau ia tidak sendirian. Gadis yang berusaha melerai nya tadi ternyata masih berdiri disampingnya.

“Mili” balas gadis yang mengaku bernama Mili itu sambil menyambut uluran tangan Dinda. Tak lupa seulas senyum tersunging di bibirnya.

“Ya udah Mili, sori ya gue duluan. Soalnya masih ada keperluan lain. Da Mili” pamit Dinda sambil berlalu.

Setibanya di rumah, sang mama sudah menyambutnya di depan pintu.

“Udah pulang nak?” tanya mama menyapa Dinda

“Iya ma” balas Dinda sambil melangkah masuk. “Oh iya ma, mama tau nggak kalo tadi Dinda ketemu cewek judesnya amit” sambung Dinda yang tanpa di tanya langsung menceritakan kejadian yang baru saja di alaminya.

“ Kok bisa, pasti kamu yang mulai duluan kan nak?” tuduh mama langsung setengah meledek.

“ Hehehe. Sebenernya emang iya sih ma, tadi Dinda asyik sms’an ma temen terus Dinda nabrak deh tu cewek yang sedang berhenti” kata Dinda.

“Terust kamu udah minta maaf sama orang yang kamu tabrak?” mama terlihat penasaran.
Bukannya menjawab Dinda justru cengengesan sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal. “Belom ma” aku nya lirh.

“Kok belum?”

“ Ya habis tu cewek langsung marah-marahin Dinda, masak Dinda diem aja” kata Dinda sebel.

“ Dinda Dinda” mama hanya menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuan anak semata wayang nya. “Sayang kalo kamu salah kamu harus minta maaf walaupun dia marah-marah ngerti” sambung mama.

“ Iya ma Dinda ngerti” kata Dinda menundukkan kepala “Ya udah mandi gih bau tau” kata mama meledek.

“Ye…. Nggak kok” Dinda pasang tampang cemberut. “Nggak salah maksutnya. He he he, ya udah Dinda mandi dulu ya ma” pamitnya.

Setelah selesai mandi Dinda malah celingak celinguk nggak jelas, setelah mondar mandir di dalam rumah, ia melangkah ke bandara dengan mata yang masih jelalatan. Membuat sang mama penasaran akan apa yang terjadi pada anaknya.

“Kamu cari apa toh Din?” tanya mama penasaran.

“Ini lho ma, mama liat nggk hp Dinda” Tanya Dinda cemas.

“Hp….?” Ulang mama dengan kening berkerut heran.

“Iya ma…. Hp Dinda” kata Dinda.

“Ini maksutnya?”

Refleks Dinda menoleh. Heran menatap cowok yang kini berdiri di hadapannya sambil mengacungkan sebuah benda mungil di tangannya. Ni cowok muncul dari mana? Kenapa bisa berada di dalam rumah tanpa di sadarinya?

“Iya. Bener itu” Balas Dinda cepat saat mengenali kalau benda mungil itu benar miliknya yang sedari tadi ia cari.

“Tapi loe siapa, kok loe ada di rumah gue. Terus ni handphon kok bisa ada di tangan loe?” Dinda memberondong dengan pertanyaan yang berkelebat di kepalanya.N kok loe bisa bawa hp gue” Tanya Dinda pada seorang cowk tersebut.

“Kenalin, aku Anto” kata cowok itu sambil mengulurkan tangannya.

Dinda tidak langsung membalas. Keningnya sedikit mengernyit heran. Saat menoleh kearah mama, sang mama hanya tersenyum. Sepertinya sang mama sudah mengenali siapa Anto itu. Membuat Dinda mau tak mau membalas uluran tangannya sambil menyebutkan namanya lirih.

“Dinda."

“Tapi, kok loe bisa ada di sini?” sambung Dinda setelah hening untuk sejenak.

“Aku cari nenek, karna ada urusan sama beliau. Kalau masalah hp kamu, itu aku liat di ruang tamu. Dan karena aku tau kamu sedari tadi terus mondar mandir nggak jelas makanya langsung ku tunjukin” terang Anto karna melihat reaksi Dinda yang sulit untuk di artikan.

“O” Dinda hanya ber’O’ ria mendegarnya. “Itu nenek” sambung dinda sambil telunjuknya terarah ke seseorang yang baru muncul dari dapur. Membuat Anto mau tak mamu mengikuti arah pandangannya.

“Nek di cari oleh Anto ni” ….kata Dinda setelah nenek nya berada di hadapan nya.

“Ada pa nto?” tanya nenek pada Anto

“Ini nek, Anto di suruh ibu buat nyemput nenek” kata Anto.

“ Ya udah kalo gitu. Ayo kita kerumah mu, ibu mu pasti sudah nunggu lama” kata nenek sambil berjalan. Anto pun ngekor di belakang nenek, sedang kan Dinda nggk mau ambil pusing langsung pamitan sama mama.

“ Ma…. Dinda keluar bentar nya” kata Dinda.

“ Apa kalo kamu di Jakarta selalu kelayapan ya din” kata mama yang masih sibuk menjahit.

“Hehehe” sambil berlalu dari rumah.

“Bukannya menjawab malah cengengesan” kata mama sambil menggelengkan pelan kepalanya.
Karena tidak tau mau kemana terlebih juga sudah malam, Dinda lebih memilih duduk di beranda rumahnya sambil nyantai. Matanya menatap kearah langit dimana bintang tampak bertebaran. Hal yang tidak pernah ia lakukan saat di Jakarta. Setelah di pikir – pikir sepertinya itu juga menyenangkan.

“Mbak Dinda” kata seorang cewek yang disamping rumahnya.

Lamunan Dinda buyar. Kepalanya menoleh kesamping.

“Mbak Dinda kok malah di luar ini kan udah malam mbak” kata Mili, sosok yang tadi menyapanya sambil melangkah menghampiri Dinda.

“Eh Mili, gue kirain siapa” kata Dinda tanpa menghiraukan pertanyaan Mili. “Kok loe ada di sin si Mil” sambung Dinda.

“Ya iya donk mbak. Ini kan rumah orang tuaku” terang Mili , Dinda hanya mengangguk-anggukkan kepala

“ Lha mbak ……” sebelum Mili selesai ngomong udah di potong sama Dinda.

“Mil, nggak usah manggil gue mbak napa, kita kan seumuran” potong Dinda risih namun tanpa menoleh karena kini matanya terjurus kearah handphond yang ada di tangannya. Sibuk membalas pesan masuk dari teman temannya yang ada di Jakarta.

“ Lha terust masak manggil Dinda?” tanya Mili yang langsung dib alas anggukan oleh Dinda.

“O ya udah deh kalau gitu” Mili akhirnya ngalah” Tapi Dinda, kok kamu ada di rumah bulek Fika to?” kata Mili penasaran.

“ Bu Fika kan mamaku…. Masak nggak boleh tinggal disini” jawab Dinda santai.

“ Owalah kamu itu anak nya bulek Fika to” jawab cewek yang tiba-tiba muncul.

“ Loe siapa, kok ada di sini” kata Dinda heran.

“Oh iya tadi sore kan kita belom kenalan….. aku Sri” kata cewek itu Dinda hanya menganguk ria.

“ Lha kamu, kok tadi berani Laura?” kata Sri.

“ Laura? Laura siapa?”tanya Dinda.

“ Laura itu lo yang berantem ma kamu tadi sore masak lupa,” sambung Mili.

“ O… cewek songong itu” kata Dinda. “ Lagian kenapa mesti takut emang dia siapa?” kata Dinda yang nggk tertarik atas bicaraan itu.

“Dia itu kembang desa di sini” terang Mili.

“ Ha ha ha” Dinda tak mampu menahan tawanya saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Mili. Membuat dua orang gadis yang ada di hadapannya saling bertatapan heran.

“Oke oke oke” Dinda berusaha menahan tawanya. “Hufh, jadi maksud kalian berdua, dia itu kembang di sini?” tanya Dinda dan hanya di balas anggukan oleh Sri dan Mili.

“Loe serius… dia kembang desa?” kata Dinda nggk percaya dan lagi-lagi di balas anggukan oleh mereka berdua.

“Masak cewek kayak dia jadi kembang desa….., mungkin laki-laki di sini pada buta kaliii” gumama Dinda sambil geleng-geleng nggak percaya.

“Lho kenapa to, dia kan cantik” kata Sri.

“Cantik apaan?” kata Dinda nggak percaya atas apa yang dia denger tadi.

“Lho emang Laura cantik to” sambung Mili menegasakan.

“Cantik dari mananya coba. Secara udah jelas make up selusin di pake semua, jadi yang cantik itu bukan orang nya lebih tepat make up yang iya pake” terang Dinda yang gantian membuat Mili dan Sri tertawa lebar.

“Nah, kalo soal itu sepertinya kamu bener deh Din”.

“iya donk, Dinda” membanggakan diri.

Dan pembicaran mereka terus berlanjut. Barulah setelah teriakan sang mama menginterupsi karena hari juga sudah semakin larut. Bahkan nenek Dinda juga sudah kembali pulang. Dinda menghentikan pembicaraannya. Pamit pada kedua teman barunya untuk masuk kedalam rumah. Menikmati malam pertama di desa itu.

To Be Continue...

Kita lanjut ke part selanjutnya aja ya di Cerbung Cinta ku bersemi Di desa part ~ 03.

Detail cerpen:

Judul : Cintaku bersemi di desa
Penulis : Ida Ajha
Email : Idhaajha16@gmail.com

Dan jangan lupa klik suka untuk fanpage info seputar blog di sini. LovelyStarNight.

Cerbung Cintaku Bersemi di Desa ~ 01

Cerbung Cintaku bersemi di Desa, Kiriman dari salah satu reader yang ada di blog. Karena ceritanya lumayan panjang jadi admin jadiin berpart aja ya.

Dan untuk Ida Ajha, thanks. Berikut cerpennya dengan beberapa editan seperlunya. Buat yang pengen ikutan cerpennya nangkirng di sini juga bisa ikutan kok, Silahkan kirim langsung ke email Anamerya17@gmail.com.

Akhir kata, Happy reading....!!!.

Hari libur datang itu artinya Dinda harus kerumah mama nya yang ada di desa. Sedangkan Dinda dari SD sampai SMA dia ikut papa sama nenek nya di Jakarta, karena orang tua nya pisah rumah jadi Dinda mau nggk mau harus mau kalo setiap hari libur harus ke desa. Kata papa nya si biar adil.


Cintaku Bersemi di Desa

Oh ya, sampe lupa kenalin dia bernama lengkap DINDA SYAFITRI temennya biasa manggil Dinda. Tapi lain ceritanya kalau Doni yang memangil, Sahabat sekaligus merangkap sebagak kakak yang satu itu akan seenak jidatnya memanggil namanya dengan gelar sesuka hati. Bahkan dia tau kalo hari libur nanti Dinda akan ke rumah mamanya. Karna rutinitas setiap hari libur, kecuali waktu tahun kemaren.

“Syaf,” Merasa namanya dipanggil dan Dinda sudah nebak kalo itu pasti Doni.

“Apa?” jawab nya tanpa menoleh. “Tumben loe nggk ngagetin gue?” sambung Dinda lagi masih tanpa menoleh.

“Cie elah gitu aja ngambek” Doni pasang tampang meledek. “Lagian tumben tu muka kusut. Mendingan stlika dulu deh” sambung nya lagi

“Enak aja, Emang muka gue baju apa main setrika segala” damprat Dinda ketus.

“Lagian loe sih, pagi-pagi muka udah kusut” balas Doni cuek.

“Iya din, tumben tuh muka kusut. Lagi marahan ea ma bokap loe” tebak Indri asal sambil ngekor di belakang Doni

“Nggk kok gue ma bokap baik – baik aja” jawab Dinda santai.

“Oh gue tau pasti bokap loe yuruh loe kerumah nyokap loe kan?” tebak Doni yang langsung di iyakan Dinda dengan menganggukan kepalanya.

“Huahahahaha”.

Tatapan tajam langsung Dinda arahkan kearah makhluk yang dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun yang kini sedang menertawakannya. Tapi emang dasar Doni, di tatap tajam eh malah makin jadi ketawanya. Membuat teman – temannya hanya mampu mengeleng kan kepala melihat ulahnya.

Karna merasa di tatap oleh semua orang yang ada di koridor Doni pun langsung berhenti ketawa karna di lihatin semua siswa dan siswi yang berada di situ.

“Oke kalo gitu, kenapa loe malah cemberut Din, bukannya harusnya malah seneng ya ketemu sama nyokap loe” Tanya Niken sambil berjalan kembali dan di susul oleh anggukan kepala teman yang lainnya.

“Ya kalian coba bayangin aja setiap liburan kesana, emang sih gue juga kangen ma nyokap dan nenek gue tapi kan.”

“Tapi kan…” Kejar Fitri yang dari tadi cuman dengerin.

“Tapi kan nggk harus kesono terus juga kali. Masak tiap liburan gue harus kesana. Kan bosen tau. Lagian nggk ada cowok keren di sana” jawab Dinda yang kali ini berhasil bikin semua temennya kemabali ngakak. Membuat Dinda kembali memberengut sebel. Lagian dimana lucunya coba.

“Eh syaff, Sejak kapan loe bisa nilai cowk ganteng pa enggak?” jawab Doni di sela ketawanya.

Dinda tampak bingung. “Maksud loe”? Tanya balik sambil menghentikan jalan.

“Eh Din. Maksut Doni, sejak kapan loe bisa nilai tu cowok ganteng pa gk” terang Fitri.

“ Gue makin nggk ngerti”? Tanya Dinda sambil melihat satu persatu sahabatnya.

“Maksud Fitri, loe kan nggk pernah muji cowok dan loe malah sering nolak orang yang paling tampan di sekolah” terang Doni.

“ Betul” sambung yang lain koor.

“ Lah, itu nyata kan? Emang mereka nggk ada yang ganteng juga. Semua standart” jawab Dinda santai.

“ Loe bener masih waras kan din?” Tanya Indri sambil megang jidad Dinda.

“ Apaan si” Dinda menepis tangan Indri. “Bukan ‘masih’ tapi emang selalu wars” sambung Dinda menegaskan.

“Loe serius masih waras” jawab Sesil yang berhenti karna sudah sampai di kelas, melihat reaksi Dinda yang menatap tajam kearahnya dengan cepat ia meralat “ Enggak…., maksud gue yang nembak loe kemarin kan Vinno kakak kelas kita and loe tau kan banyak cewek yang ngantri buat jadi pacar dia, bukanya kemaren loe terima malah di tolak mentah-mentah” terang Sesil mengungkapkan pendapatnya.

“Termasuk loe maksutnya?” bukannya menjawab Dinda malah balik menyerang sambil senyum sinis kearah Sesil, yang emang ngefans berat sama tuh kakak kelas.

Dan sebelum Sesil sempat membalas bel sekolah sudah lebih dahulu menginterupsinya.

*** CINTA KU BERSEMI DI DI DESA ***

Kring kirng kring.

Jam werker yang berbunyi nyaring menyadarkan Dinda dari tidur panjangnnya. Setelah terlebih dahulu mengeliat guna meluruskan otot otot tubuhnya yang terasa kaku, Dinda beranjak bangun dan segera menuju kamar mandi. Hari ini ia akan berangkat menuju kekampung halaman mamanya.

“Dinda, Dinda…” dari nada suara nya Dinda sudah tau kalo yang manggil adalah suara neneknya.

“Iya nek” jawab Dinda setengah berteriak.

“Makan dulu nak nanti kamu kan perjalanan jauh masak nggak makan ntar kalo pingsan di jalan gi mana” Jawab nenek di ruang tengah.

“Iya nek, tadi Dinda beresin kamar dulu” jawab Dinda sambil menuruni tangga. Senyuman manis tersungging di bibirnya. Segera ia melangkah menuju kearah meja makan di mana nenek sudah menantinya.

Seuasai makan Dinda pamitan sama nenek nya sebelum iya pergi.

“Nek, jaga diri baik-baik ya… selama Dinda pergi” sambil mencium tangan nenek sebelum papanya membunyikan klakson.

“Cepat Dinda udah telat nih…. Udah besar juga masih nangis” ledek papa.

“ Ih papa” gerut Dinda cemberut.

“Udah. Buruan masuk” kata papa sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya.

Tanpa nunggu balasan dari sang nenek Dinda langsung menuju mobil karna papa nya udah protes.

“Dah nenek “ melambaikan tangan kepada nenek sebelum mobil yang iya tumpangi benar-benar melaju ke bandara. Selama perjalanan suasana di mobil benar-benar hening tidak seperti biasa nya.

“Tumben anak papa diem biasanya nyrocos kayak bebek” papa membuka pembicaraan sambil setengah meledek.

Mendengar suara yang terlontar oleh papanya menyadarkan Dinda dari lamunannya.

“Ehh, Enggak kok pa, lagian masak anak sendiri di miripin sama unggas…..Bebek lagi” bantah Dinda memprotes.

“Iya anak papa yang paling cantik, eh udah sampai ni sayang. Buruan masuk ntar ketinggalan pesawat lagi” sambung papa setelah tiba di bandara.

“ Iya, makasih pa….. papa jaga kesehatan ya jangan lupa makan, jangan sering tidur terlalu larut malam. Dan jangan” sebelum Dinda melanjutkan ucapanya udah di potong duluan sama papa nya.

“Lupa buat bayar lstrik iya kan?”.

Dinda nyengir tak bersalah. “ ih papa tau aja deh…. Hehehehe”

“Ya sudah. Masuk sana” kata papa memperingatkan.

“ Siap pa” kata Dinda sambil angkat tangan keatas ala hormat…. “Assalamualaikum”sambung Dinda sebelum kemudian papanya menutup pintu mopil.
Begitu turun dari pesawat, dengan ringan Dinda terus melangkah. Matanya melirik kesana kemari mencari taksi guna mengantarnya kerumah nyokap yang lumayan jauh dari bandara.

"Mau kemana neng” Tanya pak supir taksi yang berhenti tepat di harapannya.

“Ke kudus pak”.

“Ke desa mana?” Tanya pak Supir lagi.

“Ke Wono suco pak” jawab Dinda.

Setelah negosiasi selesai, Dinda langsung melangkah masuk kedalam Takxi. Selang beberapa menit akhirnya ia tiba di rumah yang sederhana tapi sejuk karna rumah nya di pegunungan jadi walaupun siang tidak terasa gerah. Setelah memandangi suasana desa di sana dia pun mengetuk pintu rumah mamanya.

“ Tok… tok.. tok Asssalamualaikum…..”

“Waalaikum salam…..” kata orang separuh baya itu dan ngeliati muka Dinda tiap lekuk ya.

“ ma….. ini Dinda” kata Dinda tanpa menunggu babibu orang tersebut langsung meluk anak semata wayang nya yang sangat ia rindukan….

“ Akhirnya kamu datang nak,” kata orang itu setelah melepaskan pelukanya “ mama kira kamu nggk datang” sambungnya lagi.

“Nggak kok ma, Dinda pasti dating. Dinda juga kangen sama mama” jawab Dinda sambil celingak celinguk. “ma nenek mana kok Dinda nggak liat” sambung Dinda sambil melihat mata mamanya.

“”Oh nenek ada, dia sedang ke pasar” sambung mamanya Dinda sambil menggandeng tangan anaknya untuk masuk kerumah.

Setelah berbicara pada mamanya Dinda langsung ke kamar nya untuk istirahat karna tubuhnya benar-benar terasa lelah. Sepertinya jet lag. Dan tak perlu menunggu lama matanya langsung terpejam.

“Din bangun udah sore nak” kata mama membangunkan Dinda.

“ Eh mama” kata Dinda yang masih merasa ngantuk.

Oalah cucu nenek baru bangun toh, pye ndok po kesel tenan, sek sampe turu mu suwi tenan(1)” kata nenek di belakang pintu.

Dinda hanya membalas dengan anggukan N senyuman “ Nenek udah pulang?” tanya Dinda sambil mengulurkan tangan sekaligus mencium tangan neneknya.

“ Udah toh. Inikan udah sore, masak nenek di pasar terust” kata nenek.

“ HA…… udah sore?” Dinda melirik jam yang ada didinding. Benar saja, jarum sudah menunjukan hampir pukul 05:00. Astaga, ia melupakan solat Zuhurnya.

Mama dan nenek hanya tersenyum ketika melihat Dinda langsung bangkit berdiri dan ngambil handuk untuk mandi. Jika ia cepat sepertinya Asar masih sempat ia kejar.

“Piye ndok udah segar?” sapa nenek ketika melihat dinda sudah rapi.

“ Lha kamu mau kemana to nak kok sudah rapi” sambung mama sebelum Dinda sempat menjawab ucapan neneknya.

“Iya nek, Seger. Oh ini ma. Dinda mau jalan-jalan. Kangen sama desa sini ma” sambung Dinda sambil beranjak ke kursi untuk mengikat tali sepatunya.

“ Ya sudah ma, nek, Dinda pergi duluan ya. Assalamualaikum” pamit sebelum kemudian berlalu.

To Be continue :

Judul Cerita : Cintaku Bersemi di Desa
Penulis : Ida Ajha
Email : Idhaajha16@gmail.com

Jangan lupa klik like fanpage kami untuk informasi seputar blog di sini. LovelyStarNight.

Catatan kaki :
Oalah, cucu nenek baru bangun?. Gimana nak, Cape sekali ya sampai sampai tidurmu lama sekali?