Cerbung Cintaku Bersemi di Desa ~ 01

Cerbung Cintaku bersemi di Desa, Kiriman dari salah satu reader yang ada di blog. Karena ceritanya lumayan panjang jadi admin jadiin berpart aja ya.

Dan untuk Ida Ajha, thanks. Berikut cerpennya dengan beberapa editan seperlunya. Buat yang pengen ikutan cerpennya nangkirng di sini juga bisa ikutan kok, Silahkan kirim langsung ke email Anamerya17@gmail.com.

Akhir kata, Happy reading....!!!.

Hari libur datang itu artinya Dinda harus kerumah mama nya yang ada di desa. Sedangkan Dinda dari SD sampai SMA dia ikut papa sama nenek nya di Jakarta, karena orang tua nya pisah rumah jadi Dinda mau nggk mau harus mau kalo setiap hari libur harus ke desa. Kata papa nya si biar adil.


Cintaku Bersemi di Desa

Oh ya, sampe lupa kenalin dia bernama lengkap DINDA SYAFITRI temennya biasa manggil Dinda. Tapi lain ceritanya kalau Doni yang memangil, Sahabat sekaligus merangkap sebagak kakak yang satu itu akan seenak jidatnya memanggil namanya dengan gelar sesuka hati. Bahkan dia tau kalo hari libur nanti Dinda akan ke rumah mamanya. Karna rutinitas setiap hari libur, kecuali waktu tahun kemaren.

“Syaf,” Merasa namanya dipanggil dan Dinda sudah nebak kalo itu pasti Doni.

“Apa?” jawab nya tanpa menoleh. “Tumben loe nggk ngagetin gue?” sambung Dinda lagi masih tanpa menoleh.

“Cie elah gitu aja ngambek” Doni pasang tampang meledek. “Lagian tumben tu muka kusut. Mendingan stlika dulu deh” sambung nya lagi

“Enak aja, Emang muka gue baju apa main setrika segala” damprat Dinda ketus.

“Lagian loe sih, pagi-pagi muka udah kusut” balas Doni cuek.

“Iya din, tumben tuh muka kusut. Lagi marahan ea ma bokap loe” tebak Indri asal sambil ngekor di belakang Doni

“Nggk kok gue ma bokap baik – baik aja” jawab Dinda santai.

“Oh gue tau pasti bokap loe yuruh loe kerumah nyokap loe kan?” tebak Doni yang langsung di iyakan Dinda dengan menganggukan kepalanya.

“Huahahahaha”.

Tatapan tajam langsung Dinda arahkan kearah makhluk yang dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun yang kini sedang menertawakannya. Tapi emang dasar Doni, di tatap tajam eh malah makin jadi ketawanya. Membuat teman – temannya hanya mampu mengeleng kan kepala melihat ulahnya.

Karna merasa di tatap oleh semua orang yang ada di koridor Doni pun langsung berhenti ketawa karna di lihatin semua siswa dan siswi yang berada di situ.

“Oke kalo gitu, kenapa loe malah cemberut Din, bukannya harusnya malah seneng ya ketemu sama nyokap loe” Tanya Niken sambil berjalan kembali dan di susul oleh anggukan kepala teman yang lainnya.

“Ya kalian coba bayangin aja setiap liburan kesana, emang sih gue juga kangen ma nyokap dan nenek gue tapi kan.”

“Tapi kan…” Kejar Fitri yang dari tadi cuman dengerin.

“Tapi kan nggk harus kesono terus juga kali. Masak tiap liburan gue harus kesana. Kan bosen tau. Lagian nggk ada cowok keren di sana” jawab Dinda yang kali ini berhasil bikin semua temennya kemabali ngakak. Membuat Dinda kembali memberengut sebel. Lagian dimana lucunya coba.

“Eh syaff, Sejak kapan loe bisa nilai cowk ganteng pa enggak?” jawab Doni di sela ketawanya.

Dinda tampak bingung. “Maksud loe”? Tanya balik sambil menghentikan jalan.

“Eh Din. Maksut Doni, sejak kapan loe bisa nilai tu cowok ganteng pa gk” terang Fitri.

“ Gue makin nggk ngerti”? Tanya Dinda sambil melihat satu persatu sahabatnya.

“Maksud Fitri, loe kan nggk pernah muji cowok dan loe malah sering nolak orang yang paling tampan di sekolah” terang Doni.

“ Betul” sambung yang lain koor.

“ Lah, itu nyata kan? Emang mereka nggk ada yang ganteng juga. Semua standart” jawab Dinda santai.

“ Loe bener masih waras kan din?” Tanya Indri sambil megang jidad Dinda.

“ Apaan si” Dinda menepis tangan Indri. “Bukan ‘masih’ tapi emang selalu wars” sambung Dinda menegaskan.

“Loe serius masih waras” jawab Sesil yang berhenti karna sudah sampai di kelas, melihat reaksi Dinda yang menatap tajam kearahnya dengan cepat ia meralat “ Enggak…., maksud gue yang nembak loe kemarin kan Vinno kakak kelas kita and loe tau kan banyak cewek yang ngantri buat jadi pacar dia, bukanya kemaren loe terima malah di tolak mentah-mentah” terang Sesil mengungkapkan pendapatnya.

“Termasuk loe maksutnya?” bukannya menjawab Dinda malah balik menyerang sambil senyum sinis kearah Sesil, yang emang ngefans berat sama tuh kakak kelas.

Dan sebelum Sesil sempat membalas bel sekolah sudah lebih dahulu menginterupsinya.

*** CINTA KU BERSEMI DI DI DESA ***

Kring kirng kring.

Jam werker yang berbunyi nyaring menyadarkan Dinda dari tidur panjangnnya. Setelah terlebih dahulu mengeliat guna meluruskan otot otot tubuhnya yang terasa kaku, Dinda beranjak bangun dan segera menuju kamar mandi. Hari ini ia akan berangkat menuju kekampung halaman mamanya.

“Dinda, Dinda…” dari nada suara nya Dinda sudah tau kalo yang manggil adalah suara neneknya.

“Iya nek” jawab Dinda setengah berteriak.

“Makan dulu nak nanti kamu kan perjalanan jauh masak nggak makan ntar kalo pingsan di jalan gi mana” Jawab nenek di ruang tengah.

“Iya nek, tadi Dinda beresin kamar dulu” jawab Dinda sambil menuruni tangga. Senyuman manis tersungging di bibirnya. Segera ia melangkah menuju kearah meja makan di mana nenek sudah menantinya.

Seuasai makan Dinda pamitan sama nenek nya sebelum iya pergi.

“Nek, jaga diri baik-baik ya… selama Dinda pergi” sambil mencium tangan nenek sebelum papanya membunyikan klakson.

“Cepat Dinda udah telat nih…. Udah besar juga masih nangis” ledek papa.

“ Ih papa” gerut Dinda cemberut.

“Udah. Buruan masuk” kata papa sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya.

Tanpa nunggu balasan dari sang nenek Dinda langsung menuju mobil karna papa nya udah protes.

“Dah nenek “ melambaikan tangan kepada nenek sebelum mobil yang iya tumpangi benar-benar melaju ke bandara. Selama perjalanan suasana di mobil benar-benar hening tidak seperti biasa nya.

“Tumben anak papa diem biasanya nyrocos kayak bebek” papa membuka pembicaraan sambil setengah meledek.

Mendengar suara yang terlontar oleh papanya menyadarkan Dinda dari lamunannya.

“Ehh, Enggak kok pa, lagian masak anak sendiri di miripin sama unggas…..Bebek lagi” bantah Dinda memprotes.

“Iya anak papa yang paling cantik, eh udah sampai ni sayang. Buruan masuk ntar ketinggalan pesawat lagi” sambung papa setelah tiba di bandara.

“ Iya, makasih pa….. papa jaga kesehatan ya jangan lupa makan, jangan sering tidur terlalu larut malam. Dan jangan” sebelum Dinda melanjutkan ucapanya udah di potong duluan sama papa nya.

“Lupa buat bayar lstrik iya kan?”.

Dinda nyengir tak bersalah. “ ih papa tau aja deh…. Hehehehe”

“Ya sudah. Masuk sana” kata papa memperingatkan.

“ Siap pa” kata Dinda sambil angkat tangan keatas ala hormat…. “Assalamualaikum”sambung Dinda sebelum kemudian papanya menutup pintu mopil.
Begitu turun dari pesawat, dengan ringan Dinda terus melangkah. Matanya melirik kesana kemari mencari taksi guna mengantarnya kerumah nyokap yang lumayan jauh dari bandara.

"Mau kemana neng” Tanya pak supir taksi yang berhenti tepat di harapannya.

“Ke kudus pak”.

“Ke desa mana?” Tanya pak Supir lagi.

“Ke Wono suco pak” jawab Dinda.

Setelah negosiasi selesai, Dinda langsung melangkah masuk kedalam Takxi. Selang beberapa menit akhirnya ia tiba di rumah yang sederhana tapi sejuk karna rumah nya di pegunungan jadi walaupun siang tidak terasa gerah. Setelah memandangi suasana desa di sana dia pun mengetuk pintu rumah mamanya.

“ Tok… tok.. tok Asssalamualaikum…..”

“Waalaikum salam…..” kata orang separuh baya itu dan ngeliati muka Dinda tiap lekuk ya.

“ ma….. ini Dinda” kata Dinda tanpa menunggu babibu orang tersebut langsung meluk anak semata wayang nya yang sangat ia rindukan….

“ Akhirnya kamu datang nak,” kata orang itu setelah melepaskan pelukanya “ mama kira kamu nggk datang” sambungnya lagi.

“Nggak kok ma, Dinda pasti dating. Dinda juga kangen sama mama” jawab Dinda sambil celingak celinguk. “ma nenek mana kok Dinda nggak liat” sambung Dinda sambil melihat mata mamanya.

“”Oh nenek ada, dia sedang ke pasar” sambung mamanya Dinda sambil menggandeng tangan anaknya untuk masuk kerumah.

Setelah berbicara pada mamanya Dinda langsung ke kamar nya untuk istirahat karna tubuhnya benar-benar terasa lelah. Sepertinya jet lag. Dan tak perlu menunggu lama matanya langsung terpejam.

“Din bangun udah sore nak” kata mama membangunkan Dinda.

“ Eh mama” kata Dinda yang masih merasa ngantuk.

Oalah cucu nenek baru bangun toh, pye ndok po kesel tenan, sek sampe turu mu suwi tenan(1)” kata nenek di belakang pintu.

Dinda hanya membalas dengan anggukan N senyuman “ Nenek udah pulang?” tanya Dinda sambil mengulurkan tangan sekaligus mencium tangan neneknya.

“ Udah toh. Inikan udah sore, masak nenek di pasar terust” kata nenek.

“ HA…… udah sore?” Dinda melirik jam yang ada didinding. Benar saja, jarum sudah menunjukan hampir pukul 05:00. Astaga, ia melupakan solat Zuhurnya.

Mama dan nenek hanya tersenyum ketika melihat Dinda langsung bangkit berdiri dan ngambil handuk untuk mandi. Jika ia cepat sepertinya Asar masih sempat ia kejar.

“Piye ndok udah segar?” sapa nenek ketika melihat dinda sudah rapi.

“ Lha kamu mau kemana to nak kok sudah rapi” sambung mama sebelum Dinda sempat menjawab ucapan neneknya.

“Iya nek, Seger. Oh ini ma. Dinda mau jalan-jalan. Kangen sama desa sini ma” sambung Dinda sambil beranjak ke kursi untuk mengikat tali sepatunya.

“ Ya sudah ma, nek, Dinda pergi duluan ya. Assalamualaikum” pamit sebelum kemudian berlalu.

To Be continue :

Judul Cerita : Cintaku Bersemi di Desa
Penulis : Ida Ajha
Email : Idhaajha16@gmail.com

Jangan lupa klik like fanpage kami untuk informasi seputar blog di sini. LovelyStarNight.

Catatan kaki :
Oalah, cucu nenek baru bangun?. Gimana nak, Cape sekali ya sampai sampai tidurmu lama sekali?


EmoticonEmoticon