Cerbung "Cintaku Bersemi di Desa ~ 02

Hufh, akhrinya sempet juga buat ngedit lanjutannya, Xd. Nah, buat semua temen - temen yang udah ngirim cerpen nya ke aku, kita sama sama belajar EYD bareng yuks. Ilmu standar aja yang kita pake. Untuk nama tempat, awalan kalimat serta nama Orang kita pake huruf besar aja ya?. Sama satu lagi, please donk. Kalau nulis cerpen sebisa mungkin bahasanya jangan di singkat ya?. Ya itung itung biar saia nggak terlalu banyakan ngedit and cerpennya bisa langsung di posting. Oke?..

Baiklah, kebanyakan bacod sepertinya. Yuks mending kita langsung baca. Berikut lanjutan cerbung Cinta ku bersemi di Desa bagian II karya dari Ida. Dan untuk yang pengen ikutan Cerpennya nangkring di blog ini juga bisa ikutan kok. Silahkan kirim ke Ananerya17@gmail.com . Tapi tentu saja setelah melalui proses pengeditan versi saia dan antri. ^_^


Cintaku Bersemi di Desa

Untuk part sebelumnya silahkan cek disini.

Sambil menghirup udara dalam dalam dan merasakan segarnya udara perdesaan Dinda terus melangkah. Matanya mengatap kesekeliling. Getaran di sakunya menginterupsi aktifitas Dinda. Segera di keluarkannya hadphond dan menemukan sms dari Doni. Tangannya secara lincah memencet tombol sana sini. Menyiapkan balasan untuk sahabatnnya. Namun karna ke asyik sms sama Doni, Dinda nggak sengaja nabrak cewek yang keliatan baru pulang dari sekolah.

“ Eh cewek kampung, kalo jalan tu mata dipake. Buta ya loe!.”

Untuk sejenak Dinda melongo. Busyet, ia langsung di bentak begitu.

“Eh mbak, mana ada orang jalan pake mata. Diaman-mana juga orang jalan itu pake mata. Gimana sih?” balas Dinda sini.

“ Ih, udah salah malah nyolot. Bukannya minta maaf kek. Dasar cewek kampong, udik banget” cewek itu makin yolot

“HELLO….. LOE JUGA CEWEK KAMPUNG. KALO LOE CEWEK KOTA NGAPAIN LOE DI KAMPUNG. DASAR CEWK BLO’ON,DODOL, SINTING, GILA, MIRING LAGI!!!” seru Dinda nggak kalah heboh. “Dan satu lagi. CATET ya, gue bukan cewek kampung” sambung Dinda lagi.

“ Loe?!” Cewek itu terlihat kehabisan kata – kata sambil tangannya menunjuk lurus ke arah wajah Dinda.

“Nggk usah nunjuk-nunjuk deh loe. Di kira tangan loe bagus apa?” gerut Dinda sambil menyingkirkan tangan cewek itu dari mukanya.

Sepertinya acara berantem itu akan terus berlanjut kalau saja tidak secara kebetulan ada yang muncul melerai mereka. Memotong kalimat makian yang akan terlontar dari mulut gadis itu.

“ Eh udah-udah kok malah berantem di jalan si?” kata cewek yang baru muncul itu. Sekilas Dinda melirik seragam yang di kenakan gadis itu. Sepertinya sama seperti yang di kenakan oleh gadis yang berantem di hadapannya.

“Eh miss lemot nggk usah ikut-ikut deh nggk ada urusanya sama loe” kata cewek itu kepada cewek yang menengahi.

“ Busyet, loe nggk bisa ya manggil orang dengan sebutan nama ” kata Dinda makin sebel.

Dan saat melihat tangan yang terayun di hadapnya bukannya gentar Dinda malah maju selangkah. Jelas menantang, membuat tangan itu hanya berhenti di awang – awang.

“Apa? Loe mau nampar gue?” tantang Dinda langsung membuat gadis itu bungkam.

Sepertinya ia tidak menyangka akan reaksi tak gentar dari Dinda.

“Ih, dasar nyebelin. Ngabisin waktu aja gue ngadepin orang kayak loe”.

Selesai berkata gadis itu segera berlalu. Meninggalkan Dinda yang hanya geleng – geleng kepala melihat ulah anehnya.

“Dasar manusia aneh” gumam Dinda lirih sambil matanya terus menatap lurus kearah punggung gadis itu yang terus berlalu.

“Oh iya kenalin gue Dinda” kata Dinda sambil mengulurkan tangan ketika menyadari kalau ia tidak sendirian. Gadis yang berusaha melerai nya tadi ternyata masih berdiri disampingnya.

“Mili” balas gadis yang mengaku bernama Mili itu sambil menyambut uluran tangan Dinda. Tak lupa seulas senyum tersunging di bibirnya.

“Ya udah Mili, sori ya gue duluan. Soalnya masih ada keperluan lain. Da Mili” pamit Dinda sambil berlalu.

Setibanya di rumah, sang mama sudah menyambutnya di depan pintu.

“Udah pulang nak?” tanya mama menyapa Dinda

“Iya ma” balas Dinda sambil melangkah masuk. “Oh iya ma, mama tau nggak kalo tadi Dinda ketemu cewek judesnya amit” sambung Dinda yang tanpa di tanya langsung menceritakan kejadian yang baru saja di alaminya.

“ Kok bisa, pasti kamu yang mulai duluan kan nak?” tuduh mama langsung setengah meledek.

“ Hehehe. Sebenernya emang iya sih ma, tadi Dinda asyik sms’an ma temen terus Dinda nabrak deh tu cewek yang sedang berhenti” kata Dinda.

“Terust kamu udah minta maaf sama orang yang kamu tabrak?” mama terlihat penasaran.
Bukannya menjawab Dinda justru cengengesan sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal. “Belom ma” aku nya lirh.

“Kok belum?”

“ Ya habis tu cewek langsung marah-marahin Dinda, masak Dinda diem aja” kata Dinda sebel.

“ Dinda Dinda” mama hanya menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuan anak semata wayang nya. “Sayang kalo kamu salah kamu harus minta maaf walaupun dia marah-marah ngerti” sambung mama.

“ Iya ma Dinda ngerti” kata Dinda menundukkan kepala “Ya udah mandi gih bau tau” kata mama meledek.

“Ye…. Nggak kok” Dinda pasang tampang cemberut. “Nggak salah maksutnya. He he he, ya udah Dinda mandi dulu ya ma” pamitnya.

Setelah selesai mandi Dinda malah celingak celinguk nggak jelas, setelah mondar mandir di dalam rumah, ia melangkah ke bandara dengan mata yang masih jelalatan. Membuat sang mama penasaran akan apa yang terjadi pada anaknya.

“Kamu cari apa toh Din?” tanya mama penasaran.

“Ini lho ma, mama liat nggk hp Dinda” Tanya Dinda cemas.

“Hp….?” Ulang mama dengan kening berkerut heran.

“Iya ma…. Hp Dinda” kata Dinda.

“Ini maksutnya?”

Refleks Dinda menoleh. Heran menatap cowok yang kini berdiri di hadapannya sambil mengacungkan sebuah benda mungil di tangannya. Ni cowok muncul dari mana? Kenapa bisa berada di dalam rumah tanpa di sadarinya?

“Iya. Bener itu” Balas Dinda cepat saat mengenali kalau benda mungil itu benar miliknya yang sedari tadi ia cari.

“Tapi loe siapa, kok loe ada di rumah gue. Terus ni handphon kok bisa ada di tangan loe?” Dinda memberondong dengan pertanyaan yang berkelebat di kepalanya.N kok loe bisa bawa hp gue” Tanya Dinda pada seorang cowk tersebut.

“Kenalin, aku Anto” kata cowok itu sambil mengulurkan tangannya.

Dinda tidak langsung membalas. Keningnya sedikit mengernyit heran. Saat menoleh kearah mama, sang mama hanya tersenyum. Sepertinya sang mama sudah mengenali siapa Anto itu. Membuat Dinda mau tak mau membalas uluran tangannya sambil menyebutkan namanya lirih.

“Dinda."

“Tapi, kok loe bisa ada di sini?” sambung Dinda setelah hening untuk sejenak.

“Aku cari nenek, karna ada urusan sama beliau. Kalau masalah hp kamu, itu aku liat di ruang tamu. Dan karena aku tau kamu sedari tadi terus mondar mandir nggak jelas makanya langsung ku tunjukin” terang Anto karna melihat reaksi Dinda yang sulit untuk di artikan.

“O” Dinda hanya ber’O’ ria mendegarnya. “Itu nenek” sambung dinda sambil telunjuknya terarah ke seseorang yang baru muncul dari dapur. Membuat Anto mau tak mamu mengikuti arah pandangannya.

“Nek di cari oleh Anto ni” ….kata Dinda setelah nenek nya berada di hadapan nya.

“Ada pa nto?” tanya nenek pada Anto

“Ini nek, Anto di suruh ibu buat nyemput nenek” kata Anto.

“ Ya udah kalo gitu. Ayo kita kerumah mu, ibu mu pasti sudah nunggu lama” kata nenek sambil berjalan. Anto pun ngekor di belakang nenek, sedang kan Dinda nggk mau ambil pusing langsung pamitan sama mama.

“ Ma…. Dinda keluar bentar nya” kata Dinda.

“ Apa kalo kamu di Jakarta selalu kelayapan ya din” kata mama yang masih sibuk menjahit.

“Hehehe” sambil berlalu dari rumah.

“Bukannya menjawab malah cengengesan” kata mama sambil menggelengkan pelan kepalanya.
Karena tidak tau mau kemana terlebih juga sudah malam, Dinda lebih memilih duduk di beranda rumahnya sambil nyantai. Matanya menatap kearah langit dimana bintang tampak bertebaran. Hal yang tidak pernah ia lakukan saat di Jakarta. Setelah di pikir – pikir sepertinya itu juga menyenangkan.

“Mbak Dinda” kata seorang cewek yang disamping rumahnya.

Lamunan Dinda buyar. Kepalanya menoleh kesamping.

“Mbak Dinda kok malah di luar ini kan udah malam mbak” kata Mili, sosok yang tadi menyapanya sambil melangkah menghampiri Dinda.

“Eh Mili, gue kirain siapa” kata Dinda tanpa menghiraukan pertanyaan Mili. “Kok loe ada di sin si Mil” sambung Dinda.

“Ya iya donk mbak. Ini kan rumah orang tuaku” terang Mili , Dinda hanya mengangguk-anggukkan kepala

“ Lha mbak ……” sebelum Mili selesai ngomong udah di potong sama Dinda.

“Mil, nggak usah manggil gue mbak napa, kita kan seumuran” potong Dinda risih namun tanpa menoleh karena kini matanya terjurus kearah handphond yang ada di tangannya. Sibuk membalas pesan masuk dari teman temannya yang ada di Jakarta.

“ Lha terust masak manggil Dinda?” tanya Mili yang langsung dib alas anggukan oleh Dinda.

“O ya udah deh kalau gitu” Mili akhirnya ngalah” Tapi Dinda, kok kamu ada di rumah bulek Fika to?” kata Mili penasaran.

“ Bu Fika kan mamaku…. Masak nggak boleh tinggal disini” jawab Dinda santai.

“ Owalah kamu itu anak nya bulek Fika to” jawab cewek yang tiba-tiba muncul.

“ Loe siapa, kok ada di sini” kata Dinda heran.

“Oh iya tadi sore kan kita belom kenalan….. aku Sri” kata cewek itu Dinda hanya menganguk ria.

“ Lha kamu, kok tadi berani Laura?” kata Sri.

“ Laura? Laura siapa?”tanya Dinda.

“ Laura itu lo yang berantem ma kamu tadi sore masak lupa,” sambung Mili.

“ O… cewek songong itu” kata Dinda. “ Lagian kenapa mesti takut emang dia siapa?” kata Dinda yang nggk tertarik atas bicaraan itu.

“Dia itu kembang desa di sini” terang Mili.

“ Ha ha ha” Dinda tak mampu menahan tawanya saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Mili. Membuat dua orang gadis yang ada di hadapannya saling bertatapan heran.

“Oke oke oke” Dinda berusaha menahan tawanya. “Hufh, jadi maksud kalian berdua, dia itu kembang di sini?” tanya Dinda dan hanya di balas anggukan oleh Sri dan Mili.

“Loe serius… dia kembang desa?” kata Dinda nggk percaya dan lagi-lagi di balas anggukan oleh mereka berdua.

“Masak cewek kayak dia jadi kembang desa….., mungkin laki-laki di sini pada buta kaliii” gumama Dinda sambil geleng-geleng nggak percaya.

“Lho kenapa to, dia kan cantik” kata Sri.

“Cantik apaan?” kata Dinda nggak percaya atas apa yang dia denger tadi.

“Lho emang Laura cantik to” sambung Mili menegasakan.

“Cantik dari mananya coba. Secara udah jelas make up selusin di pake semua, jadi yang cantik itu bukan orang nya lebih tepat make up yang iya pake” terang Dinda yang gantian membuat Mili dan Sri tertawa lebar.

“Nah, kalo soal itu sepertinya kamu bener deh Din”.

“iya donk, Dinda” membanggakan diri.

Dan pembicaran mereka terus berlanjut. Barulah setelah teriakan sang mama menginterupsi karena hari juga sudah semakin larut. Bahkan nenek Dinda juga sudah kembali pulang. Dinda menghentikan pembicaraannya. Pamit pada kedua teman barunya untuk masuk kedalam rumah. Menikmati malam pertama di desa itu.

To Be Continue...

Kita lanjut ke part selanjutnya aja ya di Cerbung Cinta ku bersemi Di desa part ~ 03.

Detail cerpen:

Judul : Cintaku bersemi di desa
Penulis : Ida Ajha
Email : Idhaajha16@gmail.com

Dan jangan lupa klik suka untuk fanpage info seputar blog di sini. LovelyStarNight.


EmoticonEmoticon