Cerpen Kekasih Untuk Sahabatku ~ 02

Hari yang sangat membosankan.Membiarkan diriku hanya berdiam diri di rumah.Akupun memutuskan keluar dengan mengajak Dhea ke toko buku.

Aku menelusuri setiap nuku yang tertata di rak rak buku kumpulan novel.Aku mencari novel ketiga dari trilogi “negeri 5 Menara” yang baru saja diterbitkan beberapa minggu lalu.

“Jujurlah sayang,aku tak mengapa, biar semua jelas tak berbeda..” , Tiba tiba aku mendengar sepenggal lirik lagu milik band Repvblik.Ternyata itu nada telepon dari ponselnya Dhea.

“Bentar ya, aku jawab telfon dulu.” Ucap Dhea dan menjauh dariku.

Setahuku Dhea memang sangat menyukai lagu Repvblik itu, sampai sampai dia menggunakannnya sebagai nada dering.


Kekasih untuk sahabatku

“Ngapain sih telfon!” Dhea berbisik. Seperti takut jika aku mendengar pembicaraannya.

kamu Dimana?” , Tanya suara itu.

“aku lagi di toko buku sama pacar kamu.”

“yaudah,aku kesana sekarang ya” ucap suara itu lagi.

Belum sempat Dhea menjawab, Rama telah menutup panggilannya.

“Telfon dari siapa, Dhe?” , Tanyaku menghampirinya.

“Eng…enggak dari siapa siapa” Jawabnya segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. “itu tadi temen, katanmya ntar sore mau maen ke rumah” ucapnya terlihat gugup, seperti ada yang ia sembunyikan.

Aku sengaja mengajak Dhea ke toko buku bukan hanya umtuk mememaniku membeli buku,tetapi aku juga ingin mengutarakan masalahku tentang pertengkaranku dengan Rama.

Baru sekitar 15 menitan kami mengobrol, Tiba tiba Rama datang menghampri kami.

“Fira,Dhea, kebetulan kita betemu disini.” Katanya

Aku rasa ini bukan sebuah kebetulan, sepertinya Rama telah mengetahui jika hari ini aku berada di toko buku bersama Dhea.

Aku mendapati banyak keganjilan, tadi ketika Dhea nampak gugup ketika aku bertanya siapa orang yang menelfonnya.Dan tiba tiba Rama datang menemuiku dan Dhea di toko buku,padahal setahuku dia jarang sekali pergi ke toko buku. Kecuali jika aku yang mengajaknya. Kulihat juga raut wajah Dhea yang terlihat kaget ketika Rama datang menemui kami.

Aku meminta izin kepada Rama dan Dhea untuk kembali memilih milih buku dan membiarkan mereka berdua duduk di tempat baca buku yang disewakan.Aku bukan ingin memilih buku, hanya saja ingin mencari tau sebenarnya ada hubungan apa antara Rama dan Dhea.

“Ngapain sih pake kesini segala” Ucap Dhea dengan raut mukanya yang kesal.
“kamu jangan marah gitu dong. Aku tuh Cuma kangen aja sama kamu” Ucap Rama dengan mudahnya mengatakn kangen kepada perempuan lain
“Tadi Fira bilang sama aku,katanya sekarang kamu jarang perhatiin dia”

“Iya, aku capek.Fira tu kerjaannya ngomel ngomel mulu. Daripada ngedengerin omelannya yang nggak jelas itu, mending berduaan sama kamu kayak gini,Dhe” Kata Rama memegang tangan Dhea

Di bali deretan rak rak buku, aku tak mendengar percakapan merka, tetapi aku melihat dengan jelas ketika lelaki yang masih berstatus sebagai pacar aku berpegangan tangan dengan perempuan lain , dan itu adalah sahabatku sendiri.

Pertengkaran yang selama ini terjadi antara aku dan Rama adalah karena sejak beberapa bulan yang lalu aku telah mencurigai kedekatan Rama dan Dhea.Tetapi Rama selalu meyakinkanku, jika dia hanya mencintaiku dan selalu mengatakn bahwa Dhea tak mungkin mencintainya. Hal itu yang selalu membuatku menghilangkam kecurigaanku terhadap Dhea. Teapi melihat kejadian barusan, kecurigaan itu kembali menghantuiku.

“Dhea memang sahabatmu, sama sepertiku.Tapi apa yang tidak mungkin di dunia ini, meskipun itu sahabatmu sendiri. Mendingan kamu Tanya langsung aja kepada keduanya. Agar kamu mendapatkan kepastian yang jelas” kata Airin memberi saran kepadaku.

Airin ada benarnya juga. Lebih baik aku menanyakan hal ini kepada Rama dan Dhea secara langsung.

Aku merencanakn sesuatu.Mengajak Rama dan juga Dhea menemuiku di sebuah taman.Dengan sedikit berbasa basi, sebelum akhirnya aku mengutarakn sebuah pertanyaan kepada Dhea.

“mungkin tak semestinya aku menaynyakan hal ini. Mungkin juga akan menyinggung perasaanmu jika jawaban dari pertanyaanku ini tidak seperti yang aku fikirkan.Aku menanyakannya padamu, hanya untuk meinta kepastian. Dan aku harap kau akan menjawab dengan sejujur jujurnya.”

“Insya Allah,Fir. Aku akan menjawabnya dengan jujur” Dhea menatapku serius.

“Dhea, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Rama, dan ada hubungan apa diantara kalian?’

Dhea terdiam sejenak, mungkin sedikit kaget dengan pertanyaanku. Aku menunggu jawaban darinya, apapun jawaban itu, akan aku dengarkan.

“maafkan aku, Fira. Aku mencintai Rama. Tapi sungguh, tak ada hubungan lebih diantara kami kecuali teman. Aku tau kamu pasti sakit mendengarnya.Namun inilah kenyataannya, aku mencintai kekasihmu.”

Seperti tertusuk ribuan jarum yang menembus dadaku ketika aku mendengar jawaban dari Dhea. Jawaban yang amat sangat jujur bagiku.Ternyata, dugaanku selama ini benar, Dhea mencintai Rama, kekasihku. Aku menghela nafas, mencoba menguatkan hatiku, karena aku harus menemui Rama. Aku meminta Dhea untuk menungguku, sebelum akhirnya aku menemui Rama yang tak cukup jauh dari tempatku bertemu dengan Dhea.

“Maaf,jika telah membuatmu menunggu” Ucapku yang kini telah berdiri di belakang Rama.

“Fira” katanya berbalik arah mengahadapku. “tak apa, aku belum lama menunggumu. Ada apa kau memintaku untuk datang kesini?”

“Jika aku bertanya padamu, apakah kau akan menjawabnya dengan jujur?” Aku menatap matanya dengan serius.

“Pasti, aku akan menjawabnya dengan jujur” Ujarnya dengan mantap.

“baiklah. Pertikaian yang terjadi diantara kita selama ini adalah karena aku menaruh kecurigaan terhadapmu. Siapa yang sebenarnya ada di dalam hatimu, aku… atau Dhea?

“Apa maksdumu bertanya seperti itu padaku ?”

“Aku mengetahui semuanya.Aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku, bukan untuk bertanya apa maksudku menanyakan hal ini.

Suasana berubah menjadi hening. Hanya terdengar suara angina yang berlalu.Lelaki yang berdiri di hadapanku ini masih tertunduk. Mungkin mencari jawaban dari pertanyaanku ini.Menunggunya menjawab pertanyaan yang telah aku lontarkan, seperti aku merasakan waktu telah berhenti berputar.

“Maafkan aku, Fira.Aku memilih Dhea “ Rama memegang kedua tanganku dan menciumnya. Meneteskan sebutir kristal suci di punggung tangan kananku.

Satu tetes, dua tetes air mata mengalir di pipiku.Tak menyangka jika Rama akan mengatakan hal sepahit ini di hadapanku. Aku juga tak mengerti, jika dia memilih Dhea, apa maksud airmatanya yang jatuh di punggung tangan kananku ini.

Tangannya yang semula menggengam tanganku, kuubah menjadi aku yang mengenggam tangannya dan menariknya mengampiri Dhea yang masih menungguku.

“mengapa kalian tidak jujur dari awal? Mengapa harus menunggu aku yang bertanya terlebih dahulu kepada kalian? Mengapa menyembunyikan perasaan kalian di belakangku? Rama, aku tak tau kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga kau meninggalkanku dengan cara seperti ini. Mencintai sahabatku sendiri. Dan kamu Dhea, mengapa menutupi kebusukanmu dengan memeperlihatkan semua kebaikanmu terhadapku. Sahabat macam apa yang tega menusuk sahabatnya sendiri. Mencintai orang yang telah dimiliki sahabatnya. Kalian kemanakan akal dan pikiran kalian? Memang hubungan kalian tak lebih dari sebatas teman, tapi perasaan saling suka yang terdapat pada diri kalian membuat kalian menciptakan kemesraan di belakangku, yang tak pernah aku ketahui sampai detik ini.”

Aku tak mampu membendung air mata ini dan berlari sejauh mungkin dari hadapan mereka berdua yang telah mengkhianatiku.

“Maafkan aku,Fir. Aku memang memilih Dhea. Namun mengapa aku juga merasa begitu kehilanganmu , Fira” Ujar rama dalam hatinya, yang masih melirik ke arahku yang berlari semakin menjauh dari tempatnya dan Dhea berdiri.

Suda 1 bulan aku tak pernah bertemu dengan Rama maupun Dhea. Bahkan aku sempat mengurung diri beberapa hari di kamar karena frustasi berat. Aku benar benar belum bisa menerima kenyataan ini. Berkali kali Rama datang ke rumahku,tapi aku tak pernah menemuinya. Berkali kali pula dia mengajakku bertemu di luar. Tapi aku selalu mengabaikannya.

“Bukan maksud menduakanmu..aku tak ingin mendustai hati..aku juga mencintaimu..ku menjauh hanya unutk berfikir….” Lirik lagu “Robinhood” itu telah berulang ulang kali berbunyi. aku sama sekali tak menghiraukannya. Namun terus menerus mendengarnya juga membuatku kesal, akhirnya aku ambil juga ponsel yang telah berulang kali menerima panggilan masuk itu. Jika sebelumnya aku membiarkan atau merejectnya, kali ini aku menjawabnya. Suara Rama di seberang sana terus membujukku, mengajakku bertemu. Aku pun terpaksa menuruti permintaannya kali ini.

“Aku bingung sama kamu, sudah memilih Dhea tetapi masih saja mencariku. Apa maumu? Apakah kamu belim puas menyakitiku?” Kataku menggerutu di depan Rama.

“Fira , aku Cuma kangen sama kamu.” Rama memegang tanganku, wajahnya tak terlihat salah menyebut kata “kangen” di depanku.

“Ngapain kangen sama aku” jawabku ketus dan melepaskan tanganku dari pegangannya.

“Cinta, kamu ingat nggak malam perpisahan itu.Ketika aku mengajakmu bertemu di tempat ini, namun Tuhan tak mempertemukan kita. Saat itu aku ingin memberikan buku ini kepadamu. Kamu pernah bilang bahwa kamu sangat menginginkan buku ini. Aku sengaja membelikannnya untukmu” , Rama menyodorkan buku bersampul hijau itu di hadapanku.

Aku melirik buku itu.ya, aku dulu memang sangat ingin memilikinya. Buku karya Keiko Nagita yang dialih bahasakan oleh Vita Erniyati ini berjudul “Fuko and The Ghosts - Ghost Train”. Buku ini mengisahkan seorang gadis bernama Fuko yang setia kepada kekasih hantunya yang bernama Kazuo. Meski kini Kazuo telah meninggal dan menjadi hantu, Fuko tetap mencintainya. Dia tak peduli jika berhubungan dengan makhluk berbeda alam itu sangat

berbahaya.Fuko tetap berpegang teguh pada kesetiannya mencintai Kazuo.Aku sangat salut pada Fuko. Namun aku dan Rama tak seperti Fuko dan Kazuo.Kami tak mampu menjaga kesetiaaan. Semua karena rama.Dia yang yang berpaling pergi meninggalkanku.

“Aku sudah membacanya, sebaiknya kau berikan saja pada Dhea” Ucapku menyodorkan bukuitu kembali kepada Rama.

“Tapi…..” “maaf, sepertinya aku harus pergi” ucapku yang memotong perkataan Rama dan segera beranjak dari tempat duduk , mengabaikan panggilan Rama.

Biodata penulis :
Judul cerpen : Kekasih untuk Sahabatku
Penulis : ihda mufida
Email : ihdamufida31@gmail.com

1 komentar:


EmoticonEmoticon