Cerpen Kekasih untuk sahabatku end

Aku telah memesan tiket kereta api jurusan Surabaya-Yogyakarta. Dua hari lagi aku sudah masuk kuliah, dan hari ini aku akan berangkat ke Jogja meninggalkan kota tercintaku ini.Kulirik jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kiriku,menunjukkan pukul 07.15 WIB. Kereta yang aku tumpamgi akan datang di jam 07.30 WIB. 15 menit lagi aku akan meninggalkan semua yang di Surabaya, termasuk Rama. Dia tidak tau jika hari ini aku berangkat ke Jogja. Karena kami tak pernah lagi berkomunikasi.Aku tersentak kaget ketika seorang bapak bapak menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan. Dia menunjuk kearah kereta, memberitahuku bahwa kereta sudah datang dan dia mengajakku memasuki gerbong.Kulangkahkan kaki memasuki gerbong kereta ini dan mencari tempat duduk yang nyaman.Perlahan, kereta ini mulai melaju meninggalkan stasiun.


Aku sudah sampai di Jogja.Perjalanan yang cukup melelahkan ini membuat seluruh tubuhku terasa pegal pegal.Suasana disini berbeda dengan di kotaku. Udaranya lebih segar. Disini aku akan tinggal bersama bibiku.


Sudah seminggu aku tinggal di Jogja. Aku mulai kerasan, namun tetap saja fikiranku masih melayang kepada masa laluku.Kini kudengar hubungan Rama semakin dekat dengan Dhea.


Suatu ketika Rama dan Dhea akan pergi jalan jalan. Sambil menunggu Rama yang tengah mandi, Dhea membuku buka tumpukan buku yang berada di atas meja Rama. Tangannya terhenti di sebuah buku album yang bertuliskan “Rama Love Fira” . Dhea membuka buka buku itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat semua foto yang berada di dalamnya adalah foto foto Rama bersamaku.

Tiba tiba seseorang menepuk bahu Dhea dari belakang.

“Rama, kamu ngagetin aku aja.” Dhea segera meletakkan buku itu diatas meja.

“kamu tadi lihat album ini ya Dhe?” Tanya Rama dan memegang buku yang baru saja diletakkan oleh Dhea.

“Iya Ram” Jawab Dhea.

“Maafkan aku sayang. Aku tak bisa membuang buku ini. Karena bagaimanapun buku ini adalah kenanganku bersama Fira.”

“Tak apa, Ram. Simpanlah buku itu.”

“kamu nggak marah Dhe?”

“Enggak. Justru aku berterimakasih Karena kamu sudah jujur kepadaku.”

“Trimakasih sayangku” Ucap Rama seraya memeluk tubuh Dhea.

Disini aku merasakan kehidupan yang baru. Mendapat kawan baru. Namun kejadian 3 bulan yang lalu masih sering membuatku bersedih. Aku tak pernah mengira jika perpisahanku akan sepahit ini. Kehilangan dua orang terdekatku. Lelaki yang amat aku cintai, dan juga sahabatku sendiri.

Bukan hanya Rama yang aku rindukan, tapi Dhea juga. Aku rindu ketika bercanda bersama mereka berdua. Aku memang kecewa, sangat sangat kecewa atas perlakuan Rama dan Dhea terhadapku. Tetapi mungkin tak seharusnya aku terus menerus menyimpan rasa benci kepada keduanya. Kebencianku ini yang membuatku semakin sulit untuk melupakan peristiwa menyakitkan itu. Aku teringat dengan pesan Kiai Rais yang ditulis oleh bang Fuadi dalam novelnya yang berjudul “Negeri 5 Menara” . Disitu Beliau berpesan kepada para santrinya “Ikhlaskanlah semua yang terjadi kepadamu, maka hidupmu akan tenang.”

Mungkin ini saatnya aku mengamalkan pesan itu. Mengikhlaskan Rama dan Dhea bersama, maka dengan begitu, kesedihanku akan berkurang dan aku akan tenang dalam menapaki masa depanku nantinya.

“Dan semenjak ada dia..kamu bukan kamu..yang seperti dulu..tiada lagi kisah indah..dan kini kusendiri….” Alunan lagu itu mengagetkanku. Aku mencari sumber suaranya. Ternyata berasal dari dalam saku jaketku. Aku baru ingat, itu adalah nada panggilan ponselku yang baru saja aku ubah beberapa hari yang lalu.

Telfon dari Airin.Dia mengajakku mengikuti Reuni SMA yang akan diadakan minggu depan. Kebetulan di kampusku ada libur 3 hari. Jadi aku bisa pulang ke Surabaya dan menghadiri acara reuni alumni itu.

Akhirnya aku telah sampai kembali di kota kelahiranku. Aku tak sabar untuk pulang dan bertemu ayah,bunda, serta kedua adikku. Di tengah tengah keramaian orang yang berlalu lalang di stasiun, tiba tiba ada seseorang dengan mengenakan jaket hitam tebal mencekal tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Rama, hampir saja aku tak mengenalinya.ya Tuhan, aku sangat merindukannya. Aku tak percaya jika dia orang yang aku jumpai pertama kali sepulang dari Jogja.ternyata dia juga baru pulang dari bandung.Rama mengajakku mengobrol sebentar sebelum kami berdua pulang ke rumah masing masing. Dia mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya.

“Masih ingatkah kamu dengan album ini?” Rama memperlihatkan album itu kepadaku.

“sebelum aku berangkat ke Bandung. Dhea membuka album ini, dan kamu tau, ia tak memarahiku. Justru menyuruhku untuk tetap menyimpannya”

“Serius kamu?” Tanyaku tak percaya

“Aku serius” jawab Rama meyakinkanku

Bagaimana bisa Dhea tidak marah melihat album ini. Padahal semua foto di dalamnya adalah foto fotoku bersama Rama.

“Mengapa kamu masih menyimpannya?”

“Karena Aku tak ingin menghapus kenangan kita. Meskipun kini kita sudah tak lagi bersama”

“Dhea memang tidak marah kepadamu.tetapi sesungguhnya hatinya juga perih melihat foto kita bersama. Jangan kau ulangi lagi hal ini. Dan jaga Dhea baik baik”

“Aku akan jaga sahabatmu, Cinta” Kata Rama memeluk tubuhku erat erat. Dia menyebutku lagi “cinta” , aku sangat rindu dengan sebutan itu. Mungkin ini terkahir kalinya dia memelukku dan memanggilku “cinta” .

Dhea memang telah mengkhianatiku. Namun setidaknya dia masih punya hati. Membiarkan kekasihnya menyimpan kenangannya di masa lalunya. Begitu pula Rama, meski kini aku sudah tak lagi bersamanya, tetapi dia tetap ingin menyimpan kenangannya bersamaku. Mungkin inilah yang banyak orang sebut dengan “cinta segitiga”. Betapa beruntungnya kamu, Rama. Menjadi orang pertama di hati dua orang perempuan, Aku dan Dhea.

Hari reuni akbar itu tiba. Aku tak sabar melepas rindu dengan kawan kawan lamaku. Tampak dari kejauhan aku lihat beberapa anak perempuan sedang berlari menghampiriku. Ternyata mereka adalah Airin dan beberapa kawanku yang lain. Aku peluk tubuh Airin erat erat, aku sangat merindukannya. Satu persatu aku salami kawan kawanku yang lain. Sesekali terselip canda diantara kami.

Tak jauh dari tempatku, kulihat Dhea sedang memandang ke arahku. Namun dia membuang mukanya ke arah lain ketika aku berganti memandangnya. Aku menghamprinya, memisahkan dari kerumunan kawan kawanku yang lain.

“Dhea, maafin aku ya..” , kataku sambil mengulurkan tangan kearah Dhea. “Aku egois, tak bisa mengerti perasaan sahabatku, tak mampu menahan amarahku. Aku sudah mengikhlaskanmu dengan Rama.” Aku lempar senyum ke arahnya, dengan hati yang sebenarnya masih terasa berat mengikhlaskan mereka berdua.

“Aku juga minta maaf.” Dhea menoleh kearahku “Maaf Karena aku telah menjadi orang ketiga di hubungan kalian.”

“Sudahlah.lupakan hal itu”Aku tak menyangka jika ia menyadari bahwa dia telah menjadi orang ketiga di hubungan kami. “namanya juga manusia,tempatnya salah dan lupa.Anggap saja angin lalu”
“Makasih Fir. Aku kangen banget sama kamu” katanya dan langsung merangkul tubuhku.
“aku juga merindukanmu” Berada dalam pelukannya aku merasakan sesuatu yang pernah hilang dari hidupku telah kembali. Ya.. sahabatku…kehilanganmu memang lebih menyakitkan daripada kehilangan kekasih yang aku cintai. Tak sadar aku meneteskan air mata.
Beberapa kawanku melihat adegan kami berpelukan. Begitu juga Rama. Dia menepuk bahuku dan juga Dhea, menyadarkan kami dari pelukan ini.
Rama menatapku dan memegang kedua bahuku. “Maafkan aku juga, Fira. Karena telah membuatmu terluka” Ucapnya dan mendekatkan tangan kanannya ke pipiku, berusaha menghapus air mataku, namun aku menahan pergelangan tangannya dengan tangan kiriku
“jangan kau sentuh air mata ini. Aku bisa menghapusnya sendiri. Lebih baik kau hapus air mata kekasihmu itu” kataku diantara isak tangisku.
Aku melepas pergelangan tangannya, mengambil tangan kirinya yang masih mendarat di bahuku dan menariknya, menyatukannnya dengan tangan kanan Dhea.
“Dhea,sayangi Rama melebihi rasa sayang yang pernah aku berikan kepadanya.” Ucapku menatap Dhea dan berganti menata ke arah Rama “Lupakan tentang kita Rama, sekarang, Dhea adalah kekasihmu.Dia yang menyayangimu.” Aku mengelap sebagian air mataku. “Jaga hati kalian masing masing.Percayalah, jika kalian bahagia. Aku juga bahagia” Aku melempar senyum kepada keduanya. Namun air mata ini justru semakin deras membasahi pipiku.

Perlahan, aku menjauh dari mereka berdua. Mendekat ke arah Airin dan Arya.
“Fir,kamu ini aneh ya. Ingin orang yang kamu sayangi bahagia, tetapi dengan cara menyakiti dirimu sendiri” Arya menggeleng geleng keheranan.
“Iya Fir, aku salut sama kamu” Sahut Airin

Aku hanya tersenyum kea rah Arya dan Airin dan mengabaikan perkataan mereka. Pandanganku masih tertuju kepada dua orang yang aku sayangi, yang kini telah bersatu. Rama Dan Dhea. Tenanglah wahai kamu pujaan hatiku, langit tak akan mendung lagi melihat kita berpisah. Karena dia tau, aku telah merelakanmu dengan pilihan hatimu.

Tuhan punya alasan mengapa memisahkan aku dengan Rama. Dan mengapa Tuhan memisahkan dengan cara yang amat menyakitkan seperti ini.Memang inilah yang terbaik untukku. Aku telah menemukan banyak hikmah di balik semua peristiwa ini.

3 komentar

Bagus juga min...:)
Like (y)

mampir sini jg ya, tetap berkarya :)
http://dhylan-cahya.blogspot.com/

wow terharu saya kerent ceritanya pa lagi sampe dibuat film hmmmp

wah berakhir juga ceritanya. tidak sia-sia membacanya sampai abis


EmoticonEmoticon