Cerita Pendek Pelangi Dalam Hidupku

Setelah sekian lama menghilang dari dunia percerpenan kali ini admin balik lagi bawa cerpen kiriman dari adek kita @pujastutirahayu. Judul cerpennya Pelangi Dalam Hidupku. Gimana sama cerpennya, langsung di simak aja yuks... Cekidot....


“Baru saja berakhir .. Hujan di sore ini .. Menyisakan keajaiban , kilauan indahnya pelangi .. Bersamamu kuhabiskan waktu , senang bisa mengenal dirimu..rasanya sungguh begitu sempurna .. sayang untuk mengakhirinya .. janganlah berhenti..”


Kunyanyikan sebuah lagu milik Ipang (penyanyi Indonesia) yang mengingatkanku akan semua kenangan di masa kecilku. Kenangan layaknya angin. Di mana peristiwa-peristiwa itu begitu cepat berlalu namun akan tetap ada di setiap waktu dan bisa kurasakan setiap detik. Yunar, Yanti, Dika, Pramana, Sinta, Komang, dan Ketut. Bersama mereka, kulalui masa kecilku dengan penuh suka. Bertahun-tahun menjalin persahabatan bersama, masa-masa yang tak akan pernah kudapatkan kembali saat ini. Perlahan air mata menetes membasahi pipiku, semakin lama semakin deras. Semua peristiwa itu mampu kuingat dengan jelas. Peristiwa-peristiwa yang paling berkesan bersama sahabat-sahabatku.

Cerita Pendek Pelangi Dalam Hidupku


Hari ini, adalah hari pertamaku merasaka keindahan di hari kelahiranku. Aku bangkit dari tempat tidurku tuk menyambut senja. Aku berjalan menuju halamanku dan terlihat sebuah kado tergeletak di depan rumahku. Ibuku yang sedang menyiram tanaman berkata bahwa kado itu pemberian Pramana. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari mengambil kado itu dan membukanya. Terlihatlah tempat pensil berbentuk macan berwarna oranye cerah. “Terimakasih Pramana, terimakasih Yunar.” ucapku dalam hati seraya tersenyum kegirangan. Ini bukan sesuatu yang mewah tapi bagiku ini adalah kado terindah di ulang tahunku yang ke-5 karena ini pemberian sahabatku, Pramana dan Yunar.

Hari-hari berikutnya aku jalani dengan penuh kegembiraan bersama para sahabatku. Setiap minggu, pagi-pagi subuh kami bergitu bersemangat berjalan kaki ke pantai. Ketika tiba disana, hari masih gelap. Jadi hampir selama 1 jam kami hanya duduk di pinggir pantai dan berbincang-bincang. Benar-benar konyol, itulah akibat dari rasa semangat kami yang terlalu berlebihan. Suasana kembali ceria saat sang mentari mulai menampakkan sinarnya. Kami berlarian di pesisir pantai, bermain air hingga pakaian kami basah, bermain pasir, dan bergelantungan di pohon-pohon yang ada di sekitar pantai sambil sesekali tertawa. Hal yang paling seru adalah, jalan yang kami tempuh sepulang dari pantai adalah jalan sawah. Kami harus ekstra hari-hari dan menjaga keseimbangan karena saat itu musim hujan. Walaupun sudah berhati-hati pasti saja ada yang terpeleset di antara kami, bahkan hingga kotor karena terkena lumpur. Setelah itu kami membersihkan diri di sungai bersama-sama sambil bermain air. Tawa bahagia terdengar di tengah-tengah keributan kami. Setelah puas bermain air kami menuju sebuah bale di tengah sawah yang sering kami sebut dengan rangon untuk beristirahat sejenak. Wajar, berjalan di pematang-pematang sawah benar-benar sangat melelahkan. Sambil menikmati hamparan padi di sawah yang begitu hijau yang memberi kesejukan, kami menikmati makanan yang kami beli di pantai sebelumnya. Tapi, pastilah kami tak bisa berlama-lama di sawah. Akhirnya kamipun kembali ke rumah masing-masing.

Jam dindingku telah menunjukan pukul 04.00 WITA. Ini adalah saatnya untuk bermain lagi. Aku, Yanti, Komang, dan Ketut dengan senyum yang mengembang telah berdiri di depan rumah Pramana dan Yunar. Kami memanggil-manggil Pramana dan Yunar bergiliran. Selanjutnya kami memanggil Dika dan juga Sinta. Setelah semua berkumpul kami langsung bermain sepak bola, dan petak umpet. Setelah bosan, kami bersepeda mengelilingi kompleks rumah kami. Permainan itu sangat sederhana, tetapi terasa begitu istimewa bagi kami. Karena bagi kami semua kebersamaan adalah hal terpenting. Itulah kegiatan rutin kami setiap sore.

Bagaikan proses menyublimnya kapur barus, tak terasa kalau semakin hari kapur barus itu semakin mengecil. Sama seperti persahabatan, tak terasa bahwa jalinan persahabatan kami semakin lama semakin erat. Bahkan tahun demi tahun telah kami lewati. Begitu banyak peristiwa-peristiwa mengesankan yang melekat dalam diri ini. Segalanya tentang aku, mereka, dan petualangan kami. Hingga aku sadar, bahwa aku benar-benar menyayangi mereka semua.

Terlepas dari kegiatan rutin kami, kami punya permainan baru. Bermain layangan menurut kami juga merupakan hal yang seru dan menggembirakan. Jadi kami serempak membeli layangan dan menghiasnya sesuai selera. Setelah menghias barulah kami menerbangkan layangan kami. Layangan kami masing-masing terlihat sangat lucu, berpadu dengan cerahnya warna langit saat itu, biru cerah. Secerah wajah kami yang memancarkan kebahagiaan. Bermain layangan menjadi kegiatan rutin kami selanjutnya, karena kebetulan saat itu adalah liburan kenaikan kelas. Jadi ada banyak sekali waktu bagi kami untuk bermain layang-layang. Namun waktu senggang itu tak hanya kami gunakan untuk bermain laying-layang. Kami juga menonton film horror, bermain ke pantai, sungai, dan sawah, dan bermain masak-masakkan. Banyak juga hal konyol yang kami lakukan selama liburan. Kami membuat topeng dari kertas, lalu memakainya dan berkeliling kompleks menari-nari dan bernyanyi di depan rumah tetangga-tetangga kami. Bukan hanya itu, kami juga menyamar seperti barong dengan menggunakan selimut sebagai pakaiannya dan topeng barong asli yang aku punya. Kami bernyanyi menirukan music pengiring barong dan membawa daun kelapa sebagai bendera untuk dikibar-kibarkan. Apalagi di saat kami menganggap diri kami sebagai power ranger dan memukul tembok terdekat seakan tembok itu adalah monster yang akan mengalahkan kami. Berteriak seakan monster itu mulai menguasai diri kami. Itu memang sangat konyol, namun kekonyolan kami mampu membuat kami gembira.

Pagi ini hari yang membosankan bagi kami. Kami bosan bermain layangan, bosan bermain sepak bola, bosan menari topeng juga mengarak barong. Kami hanya duduk termenung di rangon. Di tambah lagi dengan suasana yang tidak begitu menyenangkan, karena di sekeliling kami tidak ada lagi hamparan padi yang menghijau. Melainkan ladang sawah yang baru saja dibajak. Berlumpur, dan berwarna coklat. Sangat sesuai dengan hati kami yang tak begitu gembira. Tiba-tiba saja sebuah ide konyol kembali terlintas dalam pikiranku.

Aku : “Eh! Aku punya ide bagus lo..”

Pramana : “Apa? Main masak-masakan lagi? Bosen.”

Komang : “Iya, kalo mau nonton film horror juga udah nggak ada uang.”

Ketut : “Ahh.. jangan film horror. Aku enggak berani.”

Sinta : “Alah..penakut!”

Dika : “Atau .. mau maen bola api?”

Yanti : “Aduh..jangan deh. Nyari bahaya aja maen bola api. Lagipula masih siang, enggak ada seru-serunya main bola api.”

Tutik : “Bukan, gimana kalo kita lomba lari di pematang sawah yang berlumpur?”

Yunar : “Yakin??” dengan ekspresi yang agak terkejut.

Yanti : “Hahhh?? Nggak, nggak, apaan tuh. Jorok banget.”

Pramana : “Wah! Seru tuh. Yuk mulainya dari pematang pertama di sebelah sana. Nggak ada yang boleh nolak, kalo nolak harus nraktir kita setelah ini.” Jawab Pramana yang terlihat sangat antusias.

Yanti : “Aduh..iya deh.” Balas Yanti yang akhirnya mengalah.

Sebenarnya kegiatan ini sangat menjijikkan. Kami harus berlarian di pematang sawah yang berlumpur. Cepat sekali kami merasakan lelah, karena sulit berlari di atas tanah yang berlumpur. Apalagi banyak binatang-binatang seperti kodok, cacing, lintah, dan masih banyak lagi. Tapi kami tidak peduli. Walaupun akhirnya kami kotor, bau, dan lelah, ini lebih baik dibandingkan kami hanya duduk termenung dan tak bermain samasekali. Ini adalah pengalaman pertamaku berlarian di atas sawah yang berlumpur.

Liburan kenaikan kelas telah berakhir dan ditutup dengan kegiatan yang sangat menyenangkan. Berlarian di pematang sawah yang berlumpur. Aku selalu tersenyum sendiri setiap kali mengingat kejadian itu. Berkat liburan yang menyenangkan, aku jadi bersemangat untuk kembali bersekolah dan kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Semenjak hari itu juga kami mulai mengumpulkan uang untuk merayakan tahun baru. Kami semua berharap kami bisa merayakan tahun baru dengan meriah dan menyenangkan.

Bulan demi bulan berlalu. Uang yang terkumpul pun sudah banyak. Kini tibalah saatnya kami mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk merayakan tahun baru. Dua hari sebelum perayaan tahun baru, kami sudah mempersiapkan segalanya. Membeli kaset untuk meramaikan suasana, membuat poster bertuliskan “So Yuk Funky” yang menjadi nama kelompok kami, menghias rumah Pramana yang menjadi tempat perayaan tahun baru, memesan makanan, dan membeli cemilan, membeli kembang api, topi, dan terompet. Sejak pulang sekolah hingga senja kami mempersiapkan segalanya di rumah Pramana dan Yunar. Diselingi dengan makan siang bersama, membuat rujak, dan karaoke persiapan itu tidak terasa membosankan walaupun kami merasa sangat lelah. Tapi semua demi keceriaan kami di malam tahun baru.

Malam yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Tepat jam 08.00 WITA kami memulai acara makan-makan diiringi dengan kaset ST 12 yang telah kami beli sebelumnya. Dihiasi lilin-lilin kecil yang membuat suasananya terasa begitu hangat. Sekitar pukul 09.30 WITA kami menyalakan kembang api sambil meniup terompet. Setiap kembang api yang menyala pasti diiriingi oleh teriakan kami semua. Perayaan tahun baru itu berakhir sekitar pukul 10.30, karena kami belum cukup umur untuk merayakan tahun baru hingga larut malam. Meskipun hanya sebentar tapi aku benar-benar merasakan kebersamaan di antara kita. Bagitulah perayaan tahun baru yang rutin kami lakukan setiap tahunnya. Segalanya terasa sangat indah bersama mereka. Karena begitu banyak peristiwa yang telah kami lewati, aku memang benar-benar menyayangi mereka.

***

Lamunanku terhenti oleh rintik-rintik hujan yang perlahan turun. Meski air mataku sudah tak mengalir lagi, tapi kesedihan masih kurasakan di sanubariku yang paling dalam. Kini semua tak seperti dulu lagi, kami bukanlah kelompok yang sering melakukan hal konyol. “So Yuk Funky”? sekalipun tak pernah terucap dari bibir kami. Tapi sekarang kami semua adalah orang-orang yang perlahan telah beranjak dewasa dan mulai mengerti akan arti kehidupan yang sebenarnya. Kesibukan di sekolah, dan urusan yang jauh berbeda menyebabkan tak ada lagi waktu yang tersisa untuk berkumpul bersama lagi. Bahkan kami pun jarang mengobrol, karena semakin kami beranjak dewasa semakin besar pula kecanggungan yang kami rasakan. Aku benar-benar merindukan mereka semua. Merindukan semua kekonyolan kami dahulu, aku rindu gelak tawa mereka semua yang terdengar begitu membahagiakan, dan aku pun rindu raut wajah mereka yang memancarkan kebahagiaan dan ketulusan. Kebersamaan kami takkan pernah aku lupakan, sekalipun hingga akhir hayatku. Mereka adalah pelangi dalam hidupku, yang memberi warna yang berbeda-beda untuk menghiasi kehidupanku di dunia ini. Layaknya pelangi yang akan tampak setelah hujan, akan ada berbagai macam warna menghiasi langit yang biru. Sama halnya seperti mereka, mereka memiliki karakter yang berbeda yang mewarnai hidupku yang awalnya kelam. Meskipun sekarang kami tak seakrab dulu lagi, aku yakin mereka juga takkan pernah lupa akan kenangan-kenangan indah “So Yuk Funky”. Sama sepertiku, sampai kapanpun mereka akan tetap menjadi pelangi dalam hidupku, dan aku akan selalu mencintai pelangiku.

End

Penulis : Pujastuti Rahayu (SMA N 1 Singaraja | 16 tahun)
@pujastutirahayu

2 komentar

wahhh ceritanya bagus nih...

Nice. Silahkan mampir jika berkenan; aliasastory.blogspot.com ~cerpen Home, sekedar recommend :)


EmoticonEmoticon