Cerpen Remaja Ajari Aku Bahagia ~ 02

oke lanjut ya guys untuk Cerpen Remaja Ajari Aku Bahagia bagian ~ 02. Sory deh agak lamaan soalnya baru sempet. Secara ya kan, wanita kurir (???) jadi ya gini deh. Baiklah dari pada makin penasaran sama ceritanya mendingan kita langsung baja aja yuks. Check this out guys....

Oh iya, biar nyambung sama jalan ceritanya mendingan baca dulu ya bagian sebelumnya yang bisa langsung di cek disini.

Ajari Aku Bahagia

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dan itu artinya sudah waktunya untuk pulang. Akupun bergegas membersihkan diri, rasanya kecemasanku sudah tak bisa di bendung lagi melihat Vera seperti itu.

Terlihat vera yang sudah menunggu di halaman parkir. Dan saat aku menghampirinya ia sedang mengutak - atik handphonenya.

"Hei sayang". Sapaku ramah. Ia hanya menoleh sesaat dan tersenyum. Namun kembali melihat ke arah handphonenya.

"Kenapa HPnya sayang? Rusak ya?". Tanyaku lembut.

"Iya. Dari tadi subuh tiba-tiba saja mati. Padahal udah seminggu ini kan baik-baik saja setelah rusak parah itu." Jawabnya menjelaskan.

"Oh gitu, pantas saja aku telfon sejak pagi tadi nomermu gak aktif. Yasudah nih pake handphone aku dulu saja ya. Biar nanti aku pinjam punya fandi." Ujarku menyarankan. Ia menggelengkan kepalanya dan menoleh padaku.

"Kalau aku pinjam uang ada tidak? Untuk tambahan, aku mau beli yang baru saja yang." Ucapnya kemudian.

"Tunggu sampai akhir bulan ya sayang, biar nanti aku yang beli". Jawabku mencoba tetap tenang. Karena kau tau Vera berwatak keras kepala. Dan benar saja dia hanya diam.

"Sayang kok malah diam?". Lanjutku. Ia menghembuskan nafas jengkel.

"Ada apa tidak uangnya?". Tanyanya dengan nada ketus.

"Ada, tapi untuk keperluan yang lebih penting. Sabar ya". Jawabku masih mencoba untuk tetap tenang.

"Nanti aku bayar kok". Ucapnya lagi kali ini sedikit memaksa.

"Iya pasti aku beliin tapi nanti sayang tunggu sampai..."

"Kalau gak ada yaudah. Bilang aja gak mau bantu. Nanti juga pasti aku bayar". Potongnya langsung, dan kemudian dia melangkah pergi. Aku megejarnya dan mencoba mensejajarkan langkahku dengannya.

"Yasudah kita beli sekarang. Tapi kita ke ATM dulu ya". Ucapku ketika berhasil mengejarnya.

"Gak perlu. Aku bisa cari dengan caraku sendiri". Jawabnya ketus dan terus berjalan. Emosiku mulai tersulut namun tetap aku berusaha untuk sabar.

"Mau pakai cara apa? Sudah ayo aku antar saja". Aku coba menahannya dengan tangannya, tapi di tepis olehnya.

"Mau gimana kek itu urusanku. Sudah sana, aku bisa sendiri gak usah perduliin aku". Lagi - lagi masih dengan nada ketus dan semakin meninggi nada ucapannya. Dan mau tak mau memancing emosiku sampai ke puncaknya.

"Oh oke. Kalau itu yang kamu mau. Silahkan pergi. Di perhatiin kok kayak gitu". Jawabku kesal dan langsung berbalik arah meninggalkannya. Namun setelah sampai di kantor aku mulai kepikiran, mengingat sifat nekatnya yang di luar kendali aku takut terjadi apa-apa padanya. Tanpa fikir panjang aku langsung menghubunginya, namun tak ada jawaban. Akhirnya aku putuskan untuk mengetik pesan singkat padanya.


To; vera lovely

Kamu di mana? Angkat telfonku, kalau tidak aku akan nekat ke rumah kakakmu.

Pesan itu langsubg terkirim. Meskipun keras kepala tapi Vera takut dengan kakaknya. Amanat yang orang tuanya berikan kepada Kakaknya Vera membuat Kakaknya sangat memantau keadaan Vera. Jadi kalau sampai kakaknya tau dia pergi jauh pasti akan kena marah.

Berkali-kali aku hembuskan nafas untuk menenangkan hati dan fikiranku. Dan tiba-tiba layar handphoneku berkedip tanda pesan masuk. Dan ternyata Vera membalasnya.

To: Bagas honey...

Ngapain kamu nyariin aku? Toh kamu sendiri yang pergi ninggalin aku.

Masih penuh dengan esmosi balasan pesan itu. Dengan cepat langsung ku tekan nomor Vera. Tak lama ia mengangkatnya.

"Kamu di mana?" Tanyaku tanpa basa-basi.

"Ngapain nanya-nanya". Jawabnya ketus.

"Aku bilang kamu di mana?oh atau aku ke rumah kakakmu buat..."

"Aku di Danau Srengseng. Tempat biasa". Jawabnya langsung memotong ucapanku dan langsung mematikan telfonnya dan akupun langsung menuju tempat yang di katakannya.

Tak lama aku menemukannya. Ke dekatkan motor yang ke tumpangi ke hadapannya.

"Buruan naik". Ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Vera hanya diam. "Aku bilang BURUAN NAIK". Lanjutku dengan suara agak meninggi. Ia pun manut dan aku langsung membawa motor itu melaju dengan kecepatan tinggi.

To Be continue...

Biodata Penulis

Cerpen Remaja "Ajari Aku Bahagia" ~ 01

Guys, sudah lama admin nggak update disini. Berhubung udah com, Star night yang ganti nama jadi blog anamerya.com khusus admin jadikan blog pribadi. Nah, so untuk cerpen kiriman dari reader admin posting disini. Untuk kali ini cerpen remaja Ajari aku bahagia karya Rachma para walii. Ceritanya bagus, ada romantisnya gitu. Penasaran? Mendingan langsung baca aja ya guys. Check this out...

Ajari aku bahagia
Ajari aku bahagia

"Bagas, kok malah ngelamun? Berarti dari tadi kamu gak dengerin aku ngomong ya?" Suara itu menyadarkanku dari lamunan.

Namaku Bagas Septiano, aku anak keempat dari Empat saudara. Aku memang anak terakhir atau bisa di bilang dengan anak Bungsu. Namun, bukan berarti aku selalu dimanja. Tapi justru sebaliknya, aku lah yang menanggung semua hidup keluargaku. Ayah meninggal saat umurku 7 tahun, dan setelahnya Ibu merantau ke Negara orang. Ketiga saudaraku entah kemana. Mereka berpencar mencari sesuap nasi untuk menyambng hidup, dan sampai saat ini pun aku tidak tahu keberadaan mereka. Hidupku semakin tak terarah, dan ketika usiaku menginjak dewasa dan Lulus dari SMA aku memutuskan untuk Merantau ke kota Jakarta. Menjauh dari sanak saudar Ibu dan Ayah yang memang sejak dulu enggan mengurusiku. Jika aku ingat kepedihan itu masih terasa hingga saat ini.

" Tuh kan ngelamun lagi ". Ujarnya dengan nada kesal. Ku toleh wajahnya yang di tekuk, mungkin kesal karena aku tak mendengarkan ucapannya.

Namanya Vera Santika. Aku menjalin hubungan dengannya sudah menginjak 6 bulan. Aku bekerja sebagai Mekanik di salah satu Dealer mitsubishi di jakarta, dan dia bekerja sebagai Waittres di tempt yang sama denganku. Entah kenapa, hanya padanya aku mampu menyembuhkan luka yang dulu selalu menganga dan membuka hatiku dari rasa sakit. Seolah aku selalu mendapat angin sejuk ketika bersamanya.

"Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun, dan sering tak mendengarkanku. Ada apa sebenarnya? Kamu ada masalah?" Tanyanya lembut dan menatapku. Aku tak bisa menceritakan apapun padanya, aku tak ingin membebani fikirannya. Ku tatap matanya yang teduh dan tersenyum.

"Gak ada apa - apa kok sayang". Ucapku berbohong tapi tetap berusaha untuk terlihat tenang. Vera memang tipekal orang yang tidak mudah percaya. Ia memutar bola matanya seolah sedang berfikir, terdiam sejenak dan menatapku lekat.

"Kamu yakin sayang tidak ada apa-apa?" Tanyanya sekali lagi kali ini penuh penekanan. Aku masih berusaha untuk tetap tenang, di tatap sedekat itu olehnya jelas saja tak'kan mampu untukku berbohong. Namun tak urung aku menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia kembali terdiam dan memegang kedua pipiku dengan lembut.

"Tapi ingat ya, kalau kamu ada masalah kamu harus cerita sama aku. Sekecil apapun masalah itu". Tegasnya namun dengan nada lembut.

"Pasti sayang. Yasudah, ini sudah malam sebaikanya kita pulang saja ya". Ajakku. Vera pun mengangguk dan kamipun pulang.

***

Aku berjalan dalam keheningan malam. Sunyi, itu yang kurasa dikala aku sendiri. Kehadiran Vera memang sangat berarti, ia tak hanya mencerahkan hari-hariku tapi juga selalu membuat aku tersenyum. Tiba-tiba benda mungil yang ku simpan di saku celanaku bergetar. Bergegas ku ambil dan kulihat. Seolah seperti sebuah ikatan batin, baru saja aku memikirkannya dia menelfon. Segera ku angkat telfonnya.

"Hallo sayang. Kamu sudah di mana? Pulang ke kontrakanmu di Bintaro atau kembali ke Kantor? terus bagaimana dengan kak Fandi? Dia sudah pulang belum?" Tanyanya tanpa sabar. Lagi-lagi aku dibuat tersenyum olehnya.

Aku menghela nafas sejenak. Aku sendiri bingung akan ke mana. Kontrakanku di Bintaro Jakarta selatan sangat jauh dari tempatku berdiri sekarang. Untuk naik angkutan umum sepertinya tidak mungkin. Karena tidak satupun yang melewati jalur ke sana. Biasanya aku ikut fandi, Aku melirik pada arloji yang melingkar di tanganku. "Sepertinya ia sudah pulang". Gumamku dalam batin.

"Sayang, kamu masih di sana kan?". Ucapan vera langsung menyadarkanku.

"Eh iya sayang. Aku tidur di kantor saja sayang. Kayanya kak fandinya juga udah pulang". Jawabku dengan cepat. Aku tak mau vera berfikir macam-macam. Terdengar hembusan nafas berat darinya.

"Maafin aku ya Bagas. Aku selalu membuatmh susah" ucapnya lirih. "Gak boleh ngomong gitu sayang. Kamu itu gak pernah nyusahin aku, justru kamu itu selalu buat aku bahagia"jawabku lembut

"Tapi kan..."

"Udah ah jangan di fkirin lagi ya, aku gak apa-apa kok. Mending sekarang kamu makan gih kan dari tadi belum makan apa-apa". Potongku cepat.

"Iya. Sayang juga makan yah. Kalau nanti sudah sampai kantor kabari ya".

"Siap bu komandan". Balasku sedikit menggoda.

"Ih apaan sih, lebai tau". Ujarnya tak suka. Aku hanya terkekeh.

"Ya udah sampai ketemu besok sayang. Good night. Love you"ucapku lembut.

"Love you too sayang". Balas vera dan mengakhiri telfonnya. Akupun kembali melanjutkan perjalanan ke Kantor.

***

"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau..."

Segera aku tekan tombol akhiri. Sudah kali kelima aku menghubunginya tapi nomernya masih saja tidak aktif. "Kemana dia sebenarnya?" Gumamku dalam batin.

Kulirik jam yang bertengger manis di dinding kamarku, pukul 07.15 WIB. Akupun bergegas untuk berangkat ke kantor. Biarlah urusan vera nanti sore aku selesaikan. Dan sesampainya di kantor ku lirik vera yang sedang sibuk membersihkan area kerjanya. Hanya saja membuatku bingung. Kenapa raut wajahnya terlihat murung? Ada apa sama dia? Ah semoga saja tidak ada apa-apa. Dan akupun mulai fokus bekerja.

To Be Continue

Detail Cerpen